Title: Mermaid

Summary: Psyche sama sekali tidak sepolos yang orang-orang kira. Jangan remehkan dia.

Pairing: Roppi/Tsuki~! :D

Rate: T, nanti ngungsi ke M, mungkin.

Disclaimer: durarara! masih tetap bukan punyaku. Aku berencana untuk merubah fakta itu di masa depan nanti.


"Bagaimana, Izaya?" tanya sebuah suara ketika dia berjalan menuju karang.

"Ya… Roppi sudah mengambilnya dari Viscount sialan itu, setidaknya," jawabnya sambil duduk di sebuah lengkungan pada karang besar itu. Kakinya terendam dalam air laut yang dingin.

"Syukurlah…"

Izaya menatap sosok dalam air yang dari tadi berbicara padanya. "Kau tidak terlihat senang."

"Tidak. Aku senang dia bisa lepas dari jeratan Viscount itu. Hanya saja, aku tetap merasa aku tidak boleh bertemu dengannya," balas sosok itu.

Izaya terkekeh pelan. "Hapus saja peraturan bodoh yang kau buat sendiri itu. Tidak ada yang menyalahkanmu atas hal yang terjadi ini."

"Tapi tetap saja semua ini salah…" kalimat itu tidak selesai terucap karena Izaya mengangkat dagunya dan mencium lembut bibirnya.

Kedua mata merah itu menatap mata sosok dalam air itu dengan lembut. "Kau bisa cepat tua kalau terus-terusan stress seperti ini."

Terdengar kecipak air ketika sosok itu menenggelamkan dirinya ke dalam air. Lampu dari kapal yang sedang berpatroli malam menyorot ke arah mereka. Bisa bahaya kalau dia terlihat.

Sementara pemuda berambut hitam bernama Izaya, anak sulung keluarga Orihara, itu hanya melambaikan tangannya ke arah kapal patroli itu, tanda mengatakan, "Selamat bekerja."

Sesaat setelah itu, kapal itu pergi dan meninggalkan Izaya dalam sunyi, sampai ketika sosok itu muncul lagi. Tangan Izaya meraih rambut pirang sosok tersebut dan memainkannya sedikit. "Kau tidak mau naik ke darat menemaniku?" pintanya halus. Sebuah anggukan pertanda jawaban 'baiklah, aku akan naik' dia dapatkan sebagai balasannya.

Beberapa saat kemudian, di sampingnya, duduk pemuda berambut pirang dengan mata karamel yang indah dengan ekor yang panjang berada di tempat yang seharusnya merupakan tempat sepasang kaki. "Puas?"

Izaya mengangguk lalu menarik pemuda disampingnya untuk menciumnya lagi, kali ini dengan lebih liar. Berat tubuhnya dia manfaatkan untuk mendorong pemuda pirang itu sampai berbaring di atas batu karang, sementara pemuda pirang itu menggeliatkan dan melilitkan ekornya yang bersisik putih diselingi sisik topaz ke tubuh pemuda di atasnya.

Cahaya bulan menerangi mereka lagi ketika akhirnya awan kecil yang tadi menutupinya pergi. Sisik itu terlihat mengkilap seperti mutiara, dan kulit basah si pirang juga terlihat berkilau, menambah kesan cantik pada dirinya.

Sambil membelai lembut pipi si pirang, Izaya berbisik, "Kau cantik sekali malam ini, Shizu-chan."


Ayah, tanganmu selalu dingin dan nyaman. Ayo, gandeng tanganku lagi dan ajak aku berjalan-jalan di sekeliling pantai. Aku merasa aku akan menemukan sesuatu yang hebat hari ini.

Ayah? Kenapa kau menangis? Ah, mungkin kau teringat pada ibu? Ayah, jangan memasang wajah seperti itu. Jangan memaksakan dirimu untuk tersenyum kalau kau ingin menangis. Sini, ayah, biar kupeluk dirimu. Kali ini biarkan aku yang membuatmu nyaman.

Ayah, dia siapa? Kenapa dia mirip sekali denganku? Apa dia kakakku? Ah, kau heran kenapa aku bisa beranggapan seperti itu? Karena dia mirip denganku, dengan ibu, dan terlihat sedikit lebih tua dariku. Ah, ya. Dia juga mengingatkanku pada Delic-nii-san dan Tsugaru-nii-san.

Tapi kenapa dia memiliki ekor? Ah, apa mungkin dia duyung yang keluar dari buku dongeng yang selalu kaubacakan untukku ketika aku akan tidur?

Ayah? Kenapa kau terlihat ketakutan?

Ayah? Ayah! Kemana mereka membawamu? Jangan! Jangan pergi!

Ayah! Jangan biarkan pisau itu menusuk jantungmu!

Kenapa? Jangan! Kumohon! Jangan tarik aku ke dalam laut! Hei! Tolong jawab aku! Siapa kau? Tolong! Aku tidak bisa bernafas dalam air!

"Maaf, Tsukishima. Aku harus melepaskan mantra ayah."

Apa? Aku tidak mengerti! Kenapa kakiku sekarang menjadi ekor? Kenapa aku sekarang bisa bernafas?

"Tsukishima, ayah menyembunyikan fakta bahwa kau sebenarnya duyung, seperti diriku."

Bohong!

"Dia membuat agar kakimu tidak menjadi ekor seperti milikku jika terkena air. Kumohon, jangan membenci diriku karena membuatmu seperti ini."

Jangan…

"Tolong jangan membenciku yang telah merampas semuanya darimu."

Jangan…

"Aku kakakmu. Dan namaku adalah Shizuo."


Tsukishima terbangun seketika. Dia tidak berada dalam air. Dia berada di tempat tidur Roppi, dan Roppi memeluknya dengan erat, membuatnya merasa aman. Sama seperti pelukan kakaknya. Dan tiba-tiba saja sebuah isakan kabur dari mulutnya dan membangunkan Roppi.

Tidak. Dia tidak boleh meneteskan airmata. Maka dia menahan airmatanya sebisanya. Dan berhasil. Dia tidak harus menangis, karena ada Roppi yang akan melindungi dirinya di sini, sama dengan bagaimana pelukan pemuda bermata merah itu melindunginya dari menangis malam ini.

Tsukishima menggenggam erat kaos hitam Roppi di bagian punggungnya. Dia tidak ingin menangis, dan tidak perlu menangis. Maka dia mengandalkan Roppi untuk menjaganya dari tangisan.

Sesaat kemudian, desakan aneh di matanya berhenti dan tidak ada lagi airmata yang memaksa keluar. Dia tetap merasa nyaman berada dalam pelukan Roppi.

Dan saat itu juga, dia teringat akan pelukan kakaknya yang selalu melindunginnya dari tangisan ketika dia teringat ayahnya.

Dia sadar, dia benar-benar merindukan kakaknya.


"PRAANG!" terdengar bunyi piring-piring keramik pecah berantakan.

"Apa-apan dia? Aku memancingnnya melihat duyung itu untuk melihat jika dia tahu sesuatu tentang makhluk satu itu!" teriak marah Viscount Louvre pagi itu setelah puas menyapu bersih mejanya dari piring-piring dan cangkir-cangkir keramik yang mahal. "Tapi aku malah kehilangan duyung itu dan dia benar-benar tahu bagaimana caranya menutup mulut!"

"Tuan, tenanglah sedikit," di sampingnya, Reeve, sang butler, mencoba untuk meredam amarah tuannya.

"Bagaimana aku bisa tenang, hah?" bentaknya sambil menampar pipi butler kepercayaannya itu dan baru sadar akan hal yang baru saja dia lakukan ketika butlernya memegang pipinya yang terasa sakit. "R-Reeve… maaf…" bisiknya pelan sambil memegang pipi butlernya.

Reeve hanya diam, sambil menggenggam tangan tuannya, berusaha meyakinkan Viscount itu dia tidak apa-apa.

"Maaf… jangan pergi… jangan tinggalkan aku… kumohon…" isak pelan Viscount Louvre. Dia takut butlernya ini akan meninggalkannya seperti hampir semua orang. Rasa sakit akibat goresan pecahan keramik di tangannya tidak terasa sama sekali.

Butlernya yang berambut hitam hanya melepas tangan sang Viscount yang terluka dari pipinya dan mencium lembut luka itu. "Tidak apa-apa, tuan. Aku tidak akan pergi."

"Benar? Kau tidak akan pergi seperti yang lain?"

"Ya."

"Katakan kau mencintaiku."

"Aku mencintaimu, tuan."

"Lebih sungguh-sungguh…"

Reeve memandang mata tuannya dalam-dalam, lalu dengan tegas tapi lembut, dia mengatakan, "Aku mencintaimu, Raphael."


Izaya masih membolak-balik halaman demi halaman dokumen yang dikumpulkannya dari beberapa tahun lalu. "Hm… Louvre Raphael. Ibunya keturunan Jepang, ayahnya Prancis-Britain. Umur 25 tahun, oh, lebih tua dariku. Kedua orang tuanya mati dalam kecelakaan, dia tinggal sendirian hanya dengan butler-nya, Reeve. Ah, jauh sekali dari Ikebukuro rumahnya… hm… apalagi dari Shinjuku. Apa sebaiknya aku benar-benar tinggal di vilaku ini saja, ya?"

Psyche bingung mendengar kakaknya yang dari tadi bergumam tidak jelas. Kopi hitam pahit buatannya dari tadi belum tersentuh sama sekali oleh Izaya, dan Psyche merasa agak sedih kalau sudah begitu. "Iza-nii, minum dulu kopimu," pintanya dengan mata yang berkaca-kaca, senjata terampuhnya untuk membuat orang lain melakukan apa yang dia minta.

Izaya menatap Psyche sebentar sebelum akhirnya meyeruput kopinya. "Psyche, kau main di laut sana. Lihat siapa tahu Shizu-chan sedang berjemur di karang, dan tolong awasi agar tidak ada yang melihatnya," pinta Izaya pada adik kesayangannya.

Psyche hanya memanyunkan bibirnya sebentar dan berdiri dari sofa. "Iza-nii, apa tidak sebaiknya kita pindah ke sini saja dengan Roppi? Kita seret Hibiya juga, dengan begitu, kita bisa mengawasi Shizuo-chan bersama-sama."

Melihat adiknya, Izaya tersenyum. "Shizu-chan tidak mau bertemu dengan adiknya."

"Eh? Kenapa? Padahal dia benar-benar menyayangi adiknya itu kan?"

Masih tersenyum, hanya saja kali ini senyumannya agak miris, Izaya menjawab, "Ya, dia merasa adiknya harus mendapat masalah ini adalah salahnya."

Psyche tidak senang mendengar itu. "Dia salah sekali tentang itu. Bukan salahnya kalau dia—" belum selesai Psyche berbicara, Izaya sudah menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

"Sst… jangan dibesar-besarkan lagi masalah ini, ya? Shizu-chan sudah cukup menderita kehilangan ketiga adiknya. Jangan ingatkan dia tentang hal ini. Janji?"

Masih dengan mulut tertutup oleh tangan Izaya, Psyche mengangguk. Dan dia benar-benar akan menepati janji itu agar kakaknya dan Shizuo yang dicintai kakaknya tidak sedih.


Roppi terbangun oleh alunan merdu suara yang belum pernah dia dengar sebelumnya pagi itu sebelum matahari benar-benar terbit. Di sampingnya, Tsukishima tidak lagi tertidur. Maka, Roppi berjalan ke arah lotengnya, tempat dari mana suara itu berasal. Dan di sana, Tsukishima sedang melantunkan nada-nada yang asing namun indah dengan kata-kata yang asing juga bagi telinganya.

"Tsukishima?"

Duyung pirang itu langsung berhenti menyanyi dan langsung menyelam kembali ke dasar akuarium. Matanya menatap Roppi, dan terlihat semburat merah di kedua pipinya.

"Menyanyi terus saja. Suaramu indah," pinta Roppi sambil tersenyum memandang Tsukishima di dasar akuarium. Mendengar itu, Tsukishima langsung salah tingkah. Dia berenang agak sempoyongan dan menabrak dinding akuarium. Roppi tertawa kecil melihatnya. "Ayolah, biarkan aku mendengar suaramu lagi?"

Sambil memegang keningnya yang agak sakit, Tsukishima mangalihkan matanya dari Roppi di hadapannya sembari mengangguk, malu. Dia kembali berenang ke permukaan air dan menarik nafas dalam-dalam, melepaskan nafasnya itu dalam sebuah lantunan nada yang indah.

Roppi hanya bisa sedikit merasa sayang, kenapa Tsukishima tidak mau berbicara dengan suaranya yang indah itu.


Pada akhirnya, Psyche malah berjalan-jalan menyusuri pantai setelah Shizuo meyakinkan dia bahwa duyung itu akan baik-baik saja tanpa diawasi.

Sambil bertelanjang kaki menyusuri pantai, Psyche mulai berpikir. Tidak seharusnya Shizuo menghindari adiknya, yang namanya tidak diketahui Psyche. Ah, dia lama-lama malah ikut kepikiran tentang cerita Shizuo juga.

Shizuo selalu bercerita padanya, kalau dia sedang menemani duyung pirang itu ketika Izaya sedang tidak ada, tentang sebuah kerajaan di bawah laut. Lalu, putri dari kerajaan itu, seorang putri duyung yang teramat cantik, jatuh cinta pada seorang manusia, padahal hal itu adalah tabu bagi kaum mereka. Tapi duyung itu tidak peduli dan malah menolong si manusia ketika si manusia tenggelam.

Manusia itu juga jatuh cinta pada si duyung dan tidak peduli kalau dia harus melanggar tabu di dunia manapun. Dan mereka menikah, memiliki anak.

Tapi mereka tidak hidup bahagia selamanya seperti tipikal dongeng-dongeng yang biasa Psyche baca ketika dia kecil. Mereka berdua harus berpisah karena terlalu bahaya jika mereka bersama. Ada orang-orang jahat yang menginginkan si duyung.

Anak mereka yang tertua mereka bebaskan ke laut karena ekornya tidak pernah berubah menjadi kaki walaupun ketika dia di darat kecuali saat tidak ada bulan. Anak kedua dan ketiga mereka dibawa sang ibu ke tempat yang jauh, tapi bukan lautan. Anak keempat mereka dibawa oleh sang ayah, yang telah diajari cara untuk mencegah kaki anaknya berubah menjadi ekor ketika terkena air oleh si ibu.

Dan sampai akhirnya, mereka terpisah, tidak pernah bertemu lagi. Mungkin mereka akan bertemu suatu saat nanti, keempat saudara itu setidaknya, ketika mereka berubah menjadi buih di lautan saat mereka mati nanti.

Karena para duyung, secantik apapun mereka, hanyalah anak-anak laut. Mereka hanyalah cangkang kosong tanpa jiwa, yang menunggu ada makhluk bernama manusia yang mau mencintai mereka sepenuhnya, atau setidaknya cukup mencintai mereka untuk membagi jiwanya agar mereka tidak harus menghilang menjadi buih semata.

Itulah cerita yang selalu dia dengar dari Shizuo. Dan Psyche, entah senaif apapun orang melihatnya, tidak dan tidak pernah sebodoh atau sepolos yang orang-orang sangka. Dia tahu cerita itu adalah cerita tentang Shizuo. Dia tahu Shizuo merasa bersalah atas kehilangan ketiga adiknya.

Dia tahu sebanyak itu, setidaknya.

Dia juga tahu dalam cerita itu, ada bagian yang tidak terceritakan oleh Shizuo. Bagian yang mungkin Shizuo harapkan untuk bisa terhapus saja dari ingatannya.


"Tsukishima, kau di atas?" Roppi memanggil si pirang yang tidak dia lihat lagi semenjak dia tinggalkan di loteng setelah puas mendengar nyanyian Tsukishima.

Seperti biasa, tidak ada jawaban, dan Roppi merasa bodoh mengira dia akan dapat jawaban.

"Hey, kau dimana? Ketuk sesuatu atau jatuhkan apa saja supaya aku tahu kau dimana," panggil Roppi lebih kencang lagi.

Masih tetap tidak ada tanggapan.

Mungkin dia memang harus mencari keliling rumahnya, ya?

Maka dibukanya satu-persatu pintu yang ada di rumahnya. Mulai dari pintu loteng, pintu basement, pintu lemari baju yang bisa memuat sedikitnya empat orang dewasa pemberian kakaknya, pintu… pintu apa saja yang dia curigai sebagai tempat 'tersesatnya' Tsukishima. Tapi dia masih belum bisa menemukan duyung pirang itu.

Dia agak panik ketika pikiran-pikiran buruk memenuhi kepalanya. Mungkin ketika tadi dia meninggalkan Tsukishima, ada yang menyusup ke rumahnya dan menculik duyung itu dan dia tidak tahu karena Tsukishima memang tidak bisa berteriak.

"Ah! Tidak, tidak, tidak. Tenang, pikirkan baik-baik… dimana lagi tempat yang belum kuperiksa?"

Dan dia teringat dia belum memeriksa gudang kecil di bawah tangganya ketika dia mendengar sebuah suara benda jatuh dari ruang di bawah tangga itu.

"Jangan bilang…"

Roppi cepat-cepat membuka gudang kecil yang pengap karena kurang udara itu, dan benar saja, Tsukishima ada di dalamnya, terbaring lemas kekurangan udara, tapi masih sedikit sadar. Mata yang setengah tertutup itu memandang Roppi dengan lemah.

"Astaga, apa yang kau lakukan disini?" Roppi segera menarik Tsukishima keluar.

Tsukishima yang masih lemas memperlihatkan sesuatu yang dia pegang di tangannya. Seekor katak. Katak kecil berukuran tidak lebih dari dua sentimeter berwarna hijau kehitaman.

"Kau mengejar katak ini sampai ke dalam sana?"

Anggukan.

"Karena lucu?"

Anggukan lagi.

"Lalu kau terkunci di dalam situ? Apa kau tidak tahu pintu itu bisa terkunci sendiri dan kau bisa saja terkunci disitu sampai mati lemas?"

Sama. Anggukan lagi, desertai dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Kau ini… kau tahu seberapa khawatirnya aku?"

Anggukan kecil.

"Tidak. Kau tidak mungkin tahu. Sudahlah, aku lapar dan sepertinya kau juga. Perutmu bergemuruh dari tadi."

Wajah Tsukishima memerah. Lalu dia teringat kataknya. Roppi mengetahui hal ini. "Bebaskan dia. Atau kalau kau ingin main dengannya sebentar, masukkan ke dalam akuariummu. Tapi ingat untuk melepasnya nanti. Binatang kebanyakan tidak suka dikurung."

Anggukan senang. Tsukishima langsung berdiri dan berlari dengan agak limbung karena masih agak lemas dan hampir terjatuh ketika manaiki tangga, tapi sebuah senyum agak kekanakan terpatri jelas di wajahnya. Tanpa sadar, kedua sudut bibir Roppi juga ikut terangkat. Lagi.


Menu makan malam hari itu adalah daging asap saus mentega dengan salad sayur berupa irisan kol, tomat, mentimun, dan disirami minyak salad, creamy mashed potatoes sebagai pengganti nasi untuk asupan karbohidrat, dan strawberry mille feuille with chocolate sauce untuk pencuci mulut, yang menurut Roppi adalah masakan paling mudah yang pernah dia buat. Dan ternyata, Tsukishima cukup pintar menggunakan pisau untuk mengiris bahan-bahan dengan sangat baik, dan rapi. Roppi baru tahu hal ini waktu tadi pagi memasakan makanan untuk Tsukishima yang lemas karena hampir mati kehabisan nafas di gudang.

Sepertinya untuk urusan ini, dia serahkan saja pada Tsukishima yang cukup tahu diri untuk membantunya memasak, tidak seperti Psyche yang hanya tahu jadi. Atau Izaya yang malah mennganggunya di dapur, atau Hibiya yang terus-terusan menyuruhnya ini dan itu setiap kali dia memasak.

"Tsukishima, kau teruskan itu. Aku ke atas dulu," ujar Roppi, teringat bahwa dia harus mengestok ulang lemari P3K di dapurnya kalau-kalau dia melakukan kecerobohan, atau kalau-kalau dia ingin mengiris pergelangan tangannya lagi. Hanya kalau-kalau saja.

Lagipula, lemari P3K di kamarnya sudah terlalu penuh dengan berbagai macam obat anti-depressant yang Psyche belikan untuknya, atau botol-botol obat disinfektan yang dibelikan Izaya untuk mengobati luka-luka irisan di pergelangan tangannya, atau alkohol yang diberika Hibiya sebagai hadiah ulang tahun, kalau-kalau dia ingin membuat lukanya tambah perih.

Tunggu, kenapa lemari P3K-nya isinya barang-barang tidak normal semua?

Ketika kembali dari kamarnya, Roppi melihat Tsukishima tidak lagi sedang mengirisi bahan-bahan makanan. Si pirang itu hanya berjongkok di dekat wastafel, entah sedang apa. "Tsukishima? Kau kenapa?"

Tsukishima berbalik mendengar namanya dipaggil dan menggelengkan kepalanya berkali-kali, maksudnya, "Tidak, tidak, tidak. Tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja dan aku tidak baru saja mengiris jariku dengan pisau, kok."

"Ah, jarimu teriris pisau? Cepat perlihatkan," perintahnya sambil menarik tangan Tsukishima.

Darah merah mengalir dengan cukup deras untuk ukuran luka iris. Roppi cepat-cepat membuka keran dan menyirami jari Tsukishima dengan air. Selaput tipis muncul diantara Tsukishima ketika tangannnya berada di aliran air dan menghilang lagi ketika Roppi mematikan keran.

"Lain kali kalau terjadi sesuatu padamu, panggil aku. Kau tidak bisa selamanya menungguku untuk menemukan dirimu," ujar Roppi sambil kemudian menghisap dan menjilati luka itu. Ya, ibunya dulu selalu bilang kalau luka akan cepat sembuh kalau dijilat.

Anggukan.

"Ayo, coba panggil namaku," perintah Roppi sambil berjongkok di hadapan Tsukishima dan mendekatkan wajahnya pada wajah si duyung itu. Dia tahu, sebanyak apapun Tsukishima mengangguk, dia tetap tidak akan melaksanakannya kalau tidak dipaksa.

Tsukishima memalingkan wajahnya yang memerah. Bagaimanapun juga… memanggil nama orang di hadapannya, orang yang dia…

"Ayo, coba."

"…n…"

"Ulang lagi."

"…an…"

Roppi tidak boleh kehilangan kesabaran. Walaupun suara Tsukishima begitu kecil dan halus, tidak lantang seperti ketika dia menyanyi tapi sama halusnya, ini sudah merupakan sebuah langkah besar dan Roppi tidak ingin mundur begitu saja.

"Iya, sebut namaku. Panggil aku, apapun. 'Hachimenroppi', 'Roppi', 'Tuan Penggerutu'. Apapun yang kau mau. Panggil aku."

"Ro…an…"

"Lebih keras, kumohon?"

Tsukishima makin menciut dalam posisinya yang sekarang bukan berjongkok lagi melainkan duduk di lantai, bersandar pada pintu lemari di bawah wastafel, dengan kedua kaki tertekuk menempel ke badannya, tangan yang masih digenggam oleh Roppi dan dengan kedua lengan Roppi di masing-masing sisinya.

"Rop…an…"

'Sabar, Roppi, kau harus sabar.'

Sambil menelan ludahnya, Tsukishima mengumpulkan segenap keberanian untuk menyebutkan nama itu, kata yang paling ingin dia ucapkan sekarang. "Roppi…san…"

"Eh?"

"Roppi-san…"

Entah berapa tahun telah berlalu sejak terakhir kali Roppi bisa tersenyum selebar ini.


End of Chapter 2


Terima kasih sebelumnya pada Shinju Ageha, Narin kimi chan, Freir, dan Zimmy untuk ripiunya di chappie pertama. Terima kasih sekali *bows down*. Sama buat Freir dan Narin kimi chan lagi untuk ripiunya di fic saia yang ada di M section sana. Juga, terima kasih untuk para silent reader-san semuanya.

Nah, sekarang, off to my curcol (sejak kapan 'curcol' masuk ke perkosakataan bahasa Inggris?). Yosh! Chapter 2 dan otak saia sukses nge-hang~!

Apalagi gara-gara flame ga tau diri yang nyamperin fic saia di M-rated section. Cih, beneran deh, saia ga abis pikir ama yang namanya flamers. Okay, orang boleh berpendapat, negara kita ini menganut ideologi Pancasila dan bentuk pemerintahanya Demokrasi. Tapi, mikir dong, orang bikin fic sebanyak 300 kata juga udah perjuangan, apalagi bikin fic M-rated sebanyak berapa-ribu-kata-saia-udah-lupa dengan bahasa Indonesia yang, notabene, agak susah digunakan. Itu udah bener-bener perjuangan bagi gw, okay? Tolong dong, please deh ah, itu tuh udah jelas-jelas disitu tertulis 'Izuo' alias Izaya yang jadi seme, Shizuo yang jadi uke, dan pasti Shizuo uke itu agak 'lembek', susah tahu bikin yang ga kayak gitu juga!

Kan udah ada pepatah yang turun-temurun di ; don't like don't read, ga suka, jangan baca. Bagian mana yang tidak kalian para flamers mengerti? Kasih tahu gw, dan gw bakal dengan senang hati menjelaskan! Kritikan, wah, itu hadiah bagi kami para author karena bisa membangun cerita kami lebih baik lagi. Pujian, itu juga hadiah karena berarti cerita kami cukup atau malah sangat memuaskan bagi readers. Tapi flame? Ada gunanya selain menghina author, yang udah susah payah kuras keringat darah untuk bikin cerita, gitu? Ada gunanya?

Nggak! Nggak ada sama sekali! Itu hanya bikin author sakit hati! Dan coba tebak apa lagi yang paling gw benci dari kalian para flamers?

Sejauh ini, para flamers yang saia lihat itu paling banter punya account, tapi ga punya cerita. Dan kebanyakan juga anonim. Apa kalian segitu pecundangnya untuk bikin cerita? Karena takut bales di-flame? Makannya, jangan nge-flame dari awal juga! Okey, silahkan flame kalo kalian bisa bikin cerita yang jauh lebih perfect dari cerita yang kalian flame! Buktikan kalau kalian bukan nge-flame karena pengen tapi karena kalian emang bisa bikin yang jauh lebih baik! Tapi buktinya sampe sekarang, yang gw lihat juga para flamers itu sama sekali ga bisa bikin cerita! Gonggongannya aja yang keras, tapi giginya ompong! Sama sekali ga sakit!

Okay, itu uneg-uneg saia. Maaf, kalo malah jadi menuh-menuhin chap ini. Saia sebel banget abisnya.

Well, saia kembali ke ritual saia lagi. Minta ripiunya~! :D

(Dan bukan flame, ingat itu, flamers! Kritik berguna bagi author, tapi flame… well, berguna juga, untuk membakar para flamers! Tolong bedakan kritik dan flame.)