EX

.

.

I.

. .

.

.

"In.. Jongin"

Jongin tergagap ketika mendengar suara baritone itu memanggil namanya beberapa kali.

"Kok melamun sih?"

Ah.. Tadi itu dia cuma membayangkam pergi ke pesta pernikahan keponakannya Mr Choi bersama pria dewasa itu. Memang sih bukan yang pertama bagi dirinya menghadiri pesta pernikahan. Tapi kan selama ini dia selalu pergi sendirian, tidak pernah tuh ditemani seorang pacar, kekasih, atau apalah itu istilahnya.

"A..ano"

Mr Choi tersenyum simpul. Asli, wajahnya tampan sekali. Dua dimple nya yang, aduh Tuhan... Sama sekali gak nahan itu membuat pipi Jongin merona malu.

"Apa?"

Ia menarik napas pelan, mencoba untuk menormalkan degub jantungnya. "Aku harus menjaga si kembar besok malam"

Bos ganteng itu menaikan satu alisnya. Mencoba untuk melihat kebohongan di mata Jongin. Tapi hasilnya nihil! Ditambah Jongin yang bilang kalau hari ini ibunya pergi ke Busan untuk menghadiri acara keluarga. Tentu saja ditemani Taehyung, mana tega Jongin membiarkan ibunya pergi sendirian ke Busan.

"Lalu anak-anak?" Siwon bertanya, nadanya terdengar khawatir.

"Aku menitipkan mereka di penitipan anak" jawab Jongin, seadanya.

"Kita bisa mengajak mereka" lelaki itu seolah mendapat ide.

Jongin membulatkan kedua matanya. Berpikir.. Berpikir.. Dia harus membuat sebuah alasan supaya Siwon tidak jadi mengajak dirinya pergi ke pesta itu.

"Kau tidak berencana untuk menolak ajakan bosmu inikan, Jongin?"

Hehehe... Jongin tersenyum manis*salah tingkah.

"A.. Akan ku pikirkan"

.

.

.

.

Kyungsoo terkekeh geli mendengar cerita Jongin setelah namja manis itu keluar dari ruangan pak bos.

Wajahnya terlihat lesu dan sesekali Jongin akan menggerutu dengan kata-kata tidak jelas Namun tersirat kekesalan Pada nada Bicaranya.

"Ayolah Jongin" Irene noona menepuk punggungnya pelan. "Kapan lagi"

Beberapa rekannya juga ikut tertawa. Padahal harusnya Jongin merasa bangga bisa ditaksir bos seganteng Choi Siwon. Tapi kenyataannya, Jongin malah merasa risih.

"Lagipula bos kan ganteng" Kyungsoo mencoba untuk menghibur. Ya, terlepas dari status bujang lapuk, Siwon kan tetap kece. Apa lagi yang kurang? Tampang cakep, harta juga melimpah..

.

.

Pukul 6 sore..

Jongin musti menjemput si kembar yang sedang dititipkan di daycare house selama ia bekerja.

Dia berharap-harap cemas, semoga saja kedua putranya itu tidak membuat ulah. Ya, duo tuyul itu memang agak nakal dan cerewet. Mungkin karena sudah memasuki usia 4 tahun, dan sedang memasuki tahap transformasi dari balita ke usia bocah. Yah, lagi aktif-aktif nya lah pokoknya.

"Kim Jongin?"

Jongin yang baru memasuki area daycare house itu menoleh. Mendapati sosok jangkung berkulit pucat sedang menatap dirinya seolah tidak percaya.

"Eh?"

Pria itu cukup tinggi, dan dibalut stelan kerja para eksekutif muda yang terkesan modist Namun masih terlihat elegant.

Tanpa disangka pria itu membungkuk hormat dengan senyuman tipis di wajahnya. Lalu menjabat tangan Jongin sebentar tanpa memikirkan Jongin yang malah blank seperti orang dungu.

"Kau masih ingat aku kan?"

"Ya.. Oh Sehun" jawab Jongin. 'Mantan pacar'

Pria bernama Sehun itu terkekeh mendengarnya. Dia bilang Jongin terlihat sangat manis dengan blazer coklat muda yang membalut tubuh ramping. Apalagi syal yang melingkar di leher Jongin.. Aigoo, menambah kesan cute saja.

"Bagaimana kabarmu? Sudah lumayan lama kita tidak bertemu"

Jongin masih terpaku. Alih-alih menjawab, dia hanya menatap Sehun dalam diamnya. Apanya yang lumayan? Nyatanya mereka sudah 10 tahun tidak bertemu sejak Sehun yang memutuskan pergi ke London dan meneruskan sekolahnya di sana.

"Masih sama" Jongin berkata pelan.

'Masih sama seperti saat pertama kali kau pergi meninggalkanku tanpa pesan Ataupun kabar Mengenai kelanjutan hubungan ini'

Sehun hendak berkata lebih banyak lagi. Tetapi suara cempreng anak-anak menghentikan niatnya. Matanya yang sempit itu membulat sempurna ketika mendapati dua orang anak kecil berlari ke arah Jongin dan memeluk erat pinggang rampingnya itu.

Jangan lupakan saat dua anak itu memanggil Jongin dengan sebutan mommy. Yang membuat Sehun paham betul siapa kedua anak manis ini dalam hidup Jongin.

"mereka-"

"Anak-anakku"

Oh.. Sehun menggaruk tengkuknya kikuk.

"Selamat malam, Twinny eommonim"

Seorang yeoja di usia kepala empat itu datang dan menyapa Jongin dengan sangat ramah.

Dia nyonya Song. Salah satu Suster pengasuh di tempat ini. Yeoja itu sangat ramah, dan menurut cerita si kembar, Nyonya Song selalu memberikan mereka biskuit rasa kacang yang enak saat mereka dititipkan di sana.

Nyonya Song membungkuk hormat ke arah Sehun dan Jongin secara bergantian. Dia mulai menceritakan tingkah kedua anak kembarnya yang menggemaskan dan menyerahkan buku gambar milik Baekhyun yang ketinggalan di arena bermain.

.

.

.

*Di dalam taxi*

"Mommy.. Mommy"

Jongin yang semula blank tersadar ketika suara cempreng Baekhyun memanggilnya seraya menghentak pelan lengan kanannya.

"Ada apa, sayang?" tanyanya.

Dia perlu melakukan sesuatu agar otaknya kembali normal. Pertemuan tadi membuat dirinya mau tak mau kepikiran akan hal yang sebenarnya sudah lama terlupa dalam hidupnya.

"Mommy kok melamun sih?" Jongdae kecil menatap ibunya penuh tanya.

Melihat keluguan di wajah kedua anaknya yang masih kecil-keci, membuat Jongin tertawa pelan. Ia mencubit pelan pipi Jongdae menandakan jika ia benar-benar gemas pada balita manis itu.

"Mommy memikirkan apa?" kali ini Baekhyun yang bertanya.

"Mommy tidak melamun, sayang" katanya. "Mommy hanya memikirkan belanjaan apa yang harus kita beli nanti"

Kedua balita itu ber oh pelan. Lalu kembali larut dalam kegiatan masing-masing. Baekhyun yang sedang sibuk menggambar, dan Jongdae yang sibuk bermain dengan mobil-mobilannya.

Jongin menarik napas pelan. Meski ia mencoba melupakan wajah Sehun. Tapi otaknya seperti kaset rusak yang terus-terusan membayangkan sosok jangkung itu.

Padahal sudah lama sekali mereka berpisah. Dan selama ini, Jongin pun merasa baik-baik saja tanpa kehadiran cowok itu. Dia bahkan tidak perlu merasa tertekan saat tahu keberadaan Sehun untuk pertama dan terakhir kalinya.

Memang tidak ada kata perpisahan saat hubungan mereka berakhir. Waktu itu Jongin menganggap hubungan mereka Hanya seperti cinta menuju kedewasaan. Meski tidak ia pungkiri jika ia merasa sakit hati saat tahu kekasihnya pergi begitu saja tanpa pamit.

Namun rasa sakitnya tidak bertahan lama. Karena Jongin berpikir, ia perlu belajar lebih giat lagi supaya naik ke kelas tiga dan meraih gelar juara. Ia menuangkan rasa sakitnya dalam kesibukannya belajar dan belajar hingga akhirnya ia bisa lulus sekolah dan diterima di Universitas ternama.

Sampai pada akhirnya ia tahu jika Oh Sehun musti pergi dan menetap di luar negeri bersama keluarganya di sana. Itu pun juga setelah 2 tahun Sehun pergi meninggalkan dirinya tanpa kabar.

Dan hal yang membuat Jongin merasa kesal adalah, beberapa teman sekolahnya yang juga menjadi teman satu universitas-nya saja tahu kemana Sehun pergi selama ini. Sementara dirinya yang notabene kekasihnya Sehun saja tidak pernah tahu. Sangat tidak adil!

'Mungkin dia punya alasan untuk tidak memberitahu dirimu, Jongin' begitulah kata Nana. Mantan pacar Sehun di kelas satu SMA yang juga menjadi teman satu jurusan Jongin di Universitas.

Mungkin dia punya alasan. Namun untuk sekarang, alasan apapun yang Sehun katakan juga tidak akan ada artinya lagi.

Jongin sudah terlanjur mati rasa sekarang. Kalau pun dibilang masih ada rasa juga tidak. Dibilang sakit hati saja juga tidak ada ngilu-ngilunya.

.

.

"Kau terlalu mencintai dirinya, tapi di satu sisi kau juga membenci" kata Kyungsoo, setelah Jongin mengakhiri sesi curhatnya.

"Lalu perasaan apa yang tepat untuk mewakilkan hatiku ini, soo?"

Raut wajahnya seperti berpikir dengan jari telunjuk di dagu. Terdengar hmm dari bibir Kyungsoo. Nampaknya dia memang serius kali ini.

"Tidak tahu.. Tapi memangnya dia seganteng apa sih sampai membuat dirimu seperti ini?"

Sehun yang dulu memang tidak setampan saat ini. Tapi untuk seorang anak SMA 10 tahun yang lalu, tubuh kurus dan jangkungnya itu sudah bisa membuat para cewek bersorak girang meneriaki namanya.

"Kalau dibilang tampan sih masih Tampan pak Bos" Tukasnya.

Kyungsoo menyipitkan kedua matanya. Ekpresi yang akan terlihat ketika ia sedang memikirkan sesuatu yang sulit dicerna otak pintarnya.

"Kalau tidak tampan seharusnya kau bisa move on"

Nah kan.. Malah disangka gagal move on. Padahal kan Jongin cuma merasa aneh. Kenapa sih sejak pertemuannya dengan Oh Sehun (mantan pacarnya) dia malah merasa ada sesuatu yang kosong dalam hidupnya?

Padahal sudah lama sekali mereka berpisah. Dan Jongin pun juga sudah merasa nyaman dengan kesendiriannya ini. Tapi ya bukan berarti dia ingin melajang terus.

"Bukan gagal move on, soo" Sahut Jongin.

"Lalu apa?"

Jongin merebahkan kepalanya di atas meja kantor. Dibandingkan menyelesaikan laporan hariannya. Dia malah sibuk memikirkan seseorang yang belum tentu Orang yang dia pikirkan itu juga memikirkan dirinya. Kasihan sekali kan?

"Aku tuh cuma merasa seperti, kok aku harus memikirkan dia lagi sih" Jongin berkata. Mencoba untuk menjelaskan. "Padahal tuh kalau dibilang masih ada rasa sepertinya tidak"

Rekan kerjanya itu melirik jam di dinding. sudah menunjukan pukul 4 sore, dimana seharusnya dia sudah bersiap-siap untuk pulang ke apartemennya.

"Lidah itu tidak bertulang, Jongin" Kyungsoo berkata perlahan. Pelan, namun masih bisa di dengar oleh Jongin.

Namja mungil itu merapikan meja kerjanya dan tidak lupa men-shut down komputer di mejanya.

Ia berjalan ke arah Jongin hanya untuk menepuk bahu namja itu dan berkata, "Tapi hati tidak akan pernah bisa berbohong"

Deg...

Jongin langsung terdiam.

Tiba-tiba saja kenangan yang pernah ia alami bersama Oh Sehun 10 tahun yang lalu itu kembali terputar di kepalanya. Ia mencoba untuk menghentikan pikiran-pikiran gilanya itu.

Namun nihil! Seolah otaknya pun mengkhianati dirinya untuk bersikap normal.

"Minseok hyung menjemputku di bawah. Aku duluan ya" pamit Kyungsoo.

.

.

.

Choi Siwon mengiriminya pesan seperti ini..

From : Pak Bos

Jongin, aku akan menjemputmu besok malam. Jadi ku harap, kalian bersedia datang menemaniku datang ke pesta.

Wah.. Kalau sudah seperti ini malah semakin sulit untuk ditolak.

Sebenarnya sih juga tidak akan berimbas pada karirnya. Tapi kan Jongin tidak enak saja kalau menolak permintaan bosnya.

Apalagi Siwon sudah berterus dan terang memintanya datang. Lagipula, apa salahnya sih datang? Toh, Siwon bersedia mengantar jemput. Keluar uang sepeser pun juga tidak.

Jongin meletakan ponselnya di atas meja. Ia menoleh hanya untuk memastikan kedua putranya tetap tenang bermain di sekelilingnya.

Ia mengabaikan televisi yang menyala dan menayangkan acara kartun favorit kedua anaknya. Sesekali Jongdae maupun Baekhyun akan mengoceh lucu hanya untuk bertanya atau mengomentari gambar masing-masing.

Duo tuyul itu sedang asyik menggambar di atas karpet bulu tebal yang sengaja di gelar di ruang keluarga untuk bersantai. Kedua putranya itu terlihat tenang dan serius dengan pekerjaannya masing-masing. Biasanya jika ada Taehyung, pemuda nakal itu pasti akan mengusili kedua keponakan lucunya itu sampai menangis.

"Sayang" Jongin memanggil keduanya dengan nada lembut.

"Ada apa, mommy?" - - Jongdae

Baekhyun dan Jongdae menoleh. Bahkan Jongdae beranjak dari posisinya dan mendekati ibu mereka yang tengah duduk di sofa hanya untuk mendapatkan pelukan hangatnya.

Jongin mencubit hidung mungil Jongdae dan membawa balita itu ke atas pangkuannya.

Baekhyun ikut berdiri dan mendekat. Tapi hanya duduk di samping sang ibu. Balita itu tidak merasa iri, melainkan mengangkat tangan kanan Jongin untuk melingkar di bahu mungilnya.

"Kalian tahu paman Choi kan?"

Kedua balita itu mengangguk pelan. Jongin terkekeh dan memberi kecupan kecil di pipi keduanya.

"Paman Choi yang membelikan duckpie" celoteh Jongdae dengan nada ceria.

"Memangnya kenapa, mommy?" Baekhyun bertanya dengan wajah polosnya.

Sang ibu mengulum senyuman. "besok malam dia akan kemari untuk menjemput kita"

"Menjemput?" beo Baekhyun.

"Apa itu artinya kita akan pergi bersama?" - - Jongdae.

"Ya" kata Jongin. "Apa kalian mau?"

Keduanya mengangguk serentak sambil bersorak. Siapa yang bisa menolak? Paman Choi selalu memberikan hadiah yang bagus saat bertemu dengan mereka.

"Tapi kalian tidak boleh nakal" Jongin menasihati.

Kedua balita manis itu mengerjapkan matanya polos. Nakal? Eng.. Tentu saja tidak!

"Mommy, apa nanti duckpie boleh ikut?" tanya Jongdae kecil.

Duckpie adalah boneka bebek berwarna kuning dengan moncong orange. Pemberian dari Siwon saat namja itu pergi ke Kanada. Masing-masing dari keponakan Jongin mendapatkan satu. Baekhyun kecil bahkan mendapatkan boneka angry bird sebagai oleh-olehnya.

Jongin menganggukan kepalanya. "Asal Daeie tidak nakal dan tidak cengeng saat kita di sana"

. .

.

.

"Hun.."

Untuk ketiga kalinya Kyuhyun memanggil nama sang adik.

Alih-alih menyahut, Sehun malah melamun seolah tidak fokus dengan obrolan mereka beberapa menit yang lalu.

"Oi" Dengan sengaja Kyuhyun menepuk pundak sang adik.

"Aish" Sehun meringis pelan.

Tepukan Kyuhyun sama sekali tidak bisa dikatakan pelan. Makanya Sehun meringis sambil menatap tajam ke arah sang kakak.

"Kau dengar tidak sih?"

"Eoh?"

Kyuhyun mendengus kesal. Tadi dia bicara panjang lebar. Akan tetapi Sehun yang melamun itu sama sekali tidak mendengar ucapannya. Wajar saja kan kalau sekarang Kyuhyun jengkel.

"Kolega bisnis ayah akan mengadakan pesta pernikahan anaknya. Kau harus datang!"

"Aku?"

"Kita semua akan datang" kata Kyuhyun perlahan. "Karena kau yang jarang sekali hadir, makanya aku musti mengatakan ini padamu"

Sehun mengangguk, padahal dalam hati dia agak kesal. Meski sebenarnya ada baiknya juga Ayahnya memaksa dirinya Untuk pergi ke acara-acara formal. Diantara dirinya dan Kyuhyun. Kyuhyun lebih sering datang menemani ayah dan ibunya pergi ke acara formal.

"Oh iya" Kyuhyun berkata. Nampaknya dia ingin menambahkan lagi.

Sehun menaikan satu alisnya. Menanti kalimat-kalimat yang akan meluncur dari bibir si sulung.

"Kemarin kata Nyonya Song kau datang ke daycare. Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Kyuhyun.

Rasa penasaran sang kakak itu wajar. Karena Sehun ini paling jarang pergi ke daycare house milik ibu mereka hanya untuk sekedar menilik.

"Aku diminta ibu untuk menjemputnya di sana" Sehun berkata, mencoba untuk menjelaskan niat kedatangannya ke sana.

"Tapi saat tiba di sana, ibu malah tidak ada" Tukasnya.

Wajah Sehun berubah kesal saat ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat ibunya me nelpon dan memintanya untuk menjemput. Tapi ketika Sehun sudah tiba, ibunya malah pergi bersama teman-teman Sosialitanya untuk berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Dasar shopaholic, pikirnya.

"Aku bahkan meninggalkan pekerjaanku demi ibu" Gumam Sehun.

Kyuhyun tertawa kecil mendengarnya. "Namanya juga Ibu rumah tangga" katanya.

"Nanti saat kau punya istri juga begitu kok" ia berkata lagi.

Sehun memasang ekpresi horror. Jangan sampai calon istrinya nanti jadi gila belanja seperti ibunya yang cantik itu.

Tapi bicara soal calon istri. Entah kenapa Sehun malah kepikiran Jongin. Meski cuma sebatas masa lalu, Eksistensi Jongin di otak Sehun itu seperti Angin. Tidak terlihat, tapi bisa ia rasakan sampai ke relung jiwanya.

Ia menggelengkan kepala-berusaha mengeyahkan Jongin dari pikirannya. Karena Sehun pikir, tidak ada gunanya mengingat masa lalu. Jongin itu hanya masa lalu, terlepas dari indahnya kenangan yang pernah mereka lalui bersama. Lagipula Jongin juga sudah menikah.

"Kau ini kenapa?" Kyuhyun kembali bertanya.

Melihat gelagat aneh adiknya, dia jadi semakin penasaran. Ada apa sih dengan adiknya yang tampan ini?

"Tidak apa-apa" Sehun menyahut cepat. Dan berdalih jika dia sedang memikirkan siapa yang hendak ia bawa ke pesta nanti.

Kyuhyun terkekeh. Sehun memang masih single. Tapi dia sendiri tahu, kalau adiknya yang tampan itu punya banyak teman wanita meskipun adiknya bukan sosok playboy.

"Waktu ulang tahun nenek 2 bulan lalu kau mengajak Nana. Sekarang ajak saja Seungmi, biar adil" usul Kyuhyun.

Sehun ber-oh pelan. Padahal bullsht saja dia bilang begitu. Kenyataannya dia hanya mencoba untuk tidak memperlihatkan tampang bapernya saat memikirkan sang mantan.

Mungkin saja Sehun masih ada rasa... Yah, mungkin saja...

.

.

.

II

.

.

.

Pesta pernikahan yang sangat meriah. Jongin bahkan nyaris minder saat tahu ke tempat inilah dirinya dibawa oleh Tuan Choi.

Tangannya menggandeng tangan mungil Baekhyun yang tampaknya juga takjub dengan ruangan indoor yang disulap seperti ruangan-ruangan di istana.

"Besar sekali" gumam Baekhyun.

Jongin melirik putra sulungnya itu dan memberikan senyum manis ke arahnya.

"Makanya Baekie harus pegang tangan mommy supaya tidak hilang" Tukasnya.

Baekhyun mengangguk kecil. Sementara saudara kembarnya sedang di gendong paman Choi yang berjalan gagah di samping sang mommy. Persis sekali keluarga kecil... Rawrr..

"Paman.. Paman" Jongdae kecil menepuk pelan pipi Siwon.

Namja dewasa itu terkekeh dibuatnya. "Ada apa, Dae?"

"Es Krim" Jongdae menunjuk ke arah stand tak jauh dari posisi mereka.

"Paman, Baekie juga mau"

Baekhyun memegang ujung jas formal namja itu. Matanya seperti puppy yang sangat menggemaskan bukan main.

"Kita belum bisa ke sana karena acaranya belum dimulai, sayang" kata Siwon. Mencoba bersikap seperti seorang ayah pada putra-putranya.

"Yah:("

Kedua bocah itu tampak kecewa. Tapi tidak lama, karena Siwon segera memboyong rombongan kecilnya itu ke arah sekumpulan keluarga besar Choi yang tampaknya sedang berbincang-bincang.

Dapat Jongin lihat betapa banyak yeoja-yeoja Choi itu memuji atasannya. Tampan dan mapan di usia muda memang akan membuat siapapun berdecak kagum.

"Lalu Apakah ini kekasihmu? Aigoo, kalian cocok sekali" Kata seorang yeoja paruh baya. Entah berapa usianya karena Jongin juga tidak mau menebak-nebak.

Tuan Choi tampak malu-malu. Namun dengan segera ia menampik dan menjelaskan, jika Jongin adalah teman kerjanya yang sengaja ia ajak ke pesta ini.

Soal anak-anak, nampaknya mereka hanya memuji Si Kembar sangatlah lucu tanpa ada niat untuk bertanya lebih jelas lagi. Maklum saja, sebagian besar keluarga Tuan Choi ini tinggal di Luar Negeri. Jadi tidak ada pemikiran kolot soal pernikahan dan tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan.

.

.

"Tuan Choi" seorang pria paruh baya tersenyum ramah seraya menyalami namja tampan itu.

Jongin hanya memperhatikan saja tanpa protes. Ia memaklumi kondisi dan situasi orang-orang di sekitarnya saat melihat seorang Choi Siwon. Sesekali ia akan ikut bersalaman ketika rekan bisnis laki-laki 36 tahun itu ikut bersalaman dengannya.

"Makannya yang benar, Baekhyun-ah" bisik Jongin, seraya mengelap pipi gembil putranya dengan sapu tangan.

Si kembar sedang makan es krim. Sementara Siwon menanggapi beberapa rekan kerjanya yang mendatangi meja mereka.

Ia nerasa tidak enak pada Jongin dan kedua anaknya. Padahal dia yang memaksa Jongin untuk ikut. Dia juga yang mengabaikan namja manis itu.

...

"Sepertinya kita salah pilih meja" Celoteh Siwon.

Jongin menoleh dan menatap sang bos penuh tanya.

"Memangnya kenapa, hyung?"

PS : Siwon memang meminta Jongin supaya memanggilnya Hyung sebelum mereka tiba di tempat ini.

"Mereka berdatangan dan bersalaman denganku. Padahal pengantin ada di sana" kata Siwon, seraya menunjuk ke arah panggung.

Jongin terkekeh pelan. Wajahnya sangat manis sehingga membuat Tuan Choi menyentuh pipinya.

Lantas Jongin terkejut ketika mendapati tangan besar itu berada tepat di pipinya.

"H.. Hyung"

"Ada nyamuk di pipimu" kata Siwon, berbohong pastinya.

Jongin membulatkan kedua matanya. Tanpa merasa aneh dengan ucapan sang bos.

"Di tempat semewah ini ada nyamuk" lelaki itu berkata lagi.

"Mengecewakan sekali. Seharusnya mereka mengadakan pembersihan seperti vogging misalnya"

Siwon tertawa mendengarnya. "Kau ini lucu sekali ya, Jongin"

"Mwo?"

"Nyamuk jaman sekarang itu sangat pintar, Jongin" Kata Siwon perlahan. "Tidak peduli bersih maupun kotor kalau mereka betah berada di sana mereka akan tetap di sana Sampai beranak pinak"

.

.

.

III.

Sehun menatap keduanya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Apa ya? Mungkin dia mengira kedua orang itu adalah sepasang suami istri yang sudah dikaruniai dua orang anak laki-laki yang menggemaskan.

"pergi ke pesta bersama keluarga adalah moment yang paling istimewa kan, Sehun-ssi" Namja dewasa itu berkata diselingi senyum di wajahnya.

Sehun mengangguk sambil tersenyum. Seolah dia membenarkan kata-kata dari Kolega bisnisnya itu.

"Anda sangat beruntung, Tuan" Pujinya. Diam-diam melirik Sosok manis di samping Choi Siwon yang hanya menunduk dan berusaha fokus dengan kedua bocah itu.

Siwon terkekeh. Beberapa orang yang tidak tahu pasti akan menganggap dirinya dan Jongin adalah suami istri dengan dua orang anak. Tapi kenyataannya bukan begitu. Meski sebenarnya ia menaruh harapan besar untuk menjadi sosok pendamping bagi seorang Kim Jongin.

Sementara Jongin, dia tidak tahu harus bagaimana selain bersikap formal dengan melempar senyum ramah ke arah Sehun. Berpura-pura tidak kenal dengan sosok yang pernah menjadi masa lalu itu memang sangat sulit.

Jongin sangat bersyukur ketika pembicaraan kedua namja itu berganti menjadi pembicaraan tentang saham-saham perusahaan dan pekerjaan mereka yang sepertinya akan ada hari dimana mereka akan Sangat sibuk sekali.

...

Adiknya adalah orang yang tak banyak bicara. Kyuhyun pun tahu hal itu. Tapi bersikap benar-benar pendiam adalah hal yang sangat asing menurut namja 32 tahun itu.

"Hey, mengapa kau diam saja?" tanyanya.

Ibu dan ayah yang berada di jok paling tengah menoleh. Anak keduanya ini memang agak aneh setelah mendatangi acara pernikahan kolega bisnis keluarga mereka.

"Dia jarang bepergian ke pesta. Mungkin saja masih agak kaku" Celoteh sang ayah.

"Masa sih?" Kyuhyun ragu. "Pergi ke bar saja tidak begitu"

"Pengecualian untuk yang itu" sahut sang ibu.

Keluarganya tertawa. Apalagi kakak sulungnya yang selalu senang melihat adiknya tersiksa seperti itu. Dasar!

"Bukan begitu" Sehun menyahut. "Aku hanya tidak percaya jika Minho baru saja melepas lajang. Rasanya baru kemarin kami saling berebut mainan" katanya.

Ayah dan ibu saling berpandangan. "Itu artinya dia sudah dewasa" tukas sang ibu.

"Makanya cepat cari istri! Dan susul teman mainmu itu" sindir Kyuhyun.

"Daripada menyindir lebih baik berkaca saja dulu" balasnya.

Jleb.. Kyuhyun langsung terdiam mendengar balasan sang adik. Sehun kalau sudah bicara paling bisa membuat hati orang mewek begini.

Ibu dan ayahnya tertawa. Sepanjang perjalanan itu diisi dengan sindiran ayah dan ibunya yang meminta agar kedua putranya itu segera menikah. Ada-ada saja kan.

Namun sebenarnya, jauh di lubuk hati Sehun. Ada sesuatu yang membuatnya merasa jika ia perlu memikirkan seseorang. Seseorang tak terduga, yang pernah mengisi hari-harinya beberapa tahun silam.

Oh Sehun tidak bisa membohongi perasaanya sendiri. Walau sebenarnya ia mencoba untuk menampik. Nyatanya pertemuan keduanya kali ini benar-benar mampu membuat dirinya yakin, jika mantan pacarnya itu sudah menikah dan memiliki seorang pria yang lebih dari kata cukup untuk dijadikan suami.

50% dirinya merasa lega, 50% pula dirinya merasa tidak rela.

Dia pikir dengan kepergian dirinya ke London untuk tinggal beberapa waktu dan menempuh pendidikan terbaik di sana. Bisa menunjukan pada Jongin jika dirinya layak untuk namja manis itu.

Tapi jika dia menilai Dirinya layak untuk Kim Jongin. Nyatanya di luar sana masih ada yang jauh lebih layak lagi dibandingkan dirinya.

"mengapa kau tersenyum?" Tanya Kyuhyun. Merinding sekali melihat adiknya yang tiba-tiba saja tersenyum dalam keheningan.

Ibu dan ayah kembali menoleh ke belakang. Apa lagi sih? Pikir mereka.

"Tidak.. Tidak ada"sahutnya."Aku hanya memikirkan kelucuan Vivi di rumah"

"Konyol" gunam Kyuhyun.

Alasan mengapa ia tersenyum mungkin terdengar sepele. Tapi alasan sesugguhnya ia tersenyum adalah, kenangan akan masa lalunya yang manis bersama Kim Jongin.

Tapi kalau ingat dengan siapa Jongin bersanding rasanya sakit juga. Ah, namanya juga kehidupan. Pohon saja bercabang-cabang, apalagi drama kehidupannya. Cukup pelik memang.

.

.

.

End For this Chapter

.

.

A/N :

Hey.. Sorry ya.. Update mungkin agak lama. Karena beberapa waktu ini aku sama sekali gak bisa log in ke akun ini. Dan soal Alurnya sendiri sih, ya paling cuma cerita tentang orang yg ketemu mantan aja sih. Yaudah gitu doang. Gak usah dibuat ribet, capek bikin alurnya*lol