Aaah, Yura gak nyadar ternyata banyak juga yang nge-review. Oke, oke … sebenernya Yura mau ngerahasiain sampe kalian semua tahu. Yura Jawab dulu pertanyaan dari kalian deh. Sebelumnya, Yura minta maaf karena nge update nya telat. Soalnya flashdisk kakak Yura sampe ilang-ilang segala. Ribet jadinya. (curhat mode on)

Aaah, Yura jadi ngerasa kalau fanfic ini tambah error. ditambah Yura ga tau apa itu AU atau Canon *plak*. Ada yang mau ngasih tahu ga?

n : I .. Iya .. Gomen kalo lambat _ _" Udah update nih.

Merry-chan : Sebenernya dua-duanya. Gaara emang udah jadi Kazekage. Ini ceritanya Gaara itu langsung jadi Kazekage waktu umur 15 tahun. Gomenasai kalo ceritanya gak mudengin bagi Merry-chan. Sementara Sasuke yang mantan buronan, berhasil dibawa sama Naruto seminggu sebelum masuk sekolah itu.

Myane : Cuman Sasuke sama Hinata yang murid baru. Sasuke karena mantan buronan, sementara Hinata karena pindah sekolah ke SMU Konoha kelas 3. Sebenarnya mereka itu angkatan SD semua. Tapi mencar semua sewaktu SMP. Jadi sewaktu SMU kelas XII, mereka balik lagi di kelas yang sama. Begitu … Oh ya, sekolah SMU Konoha itu sekolah khusus ninja. Jadi bukan tentang pelajaran kayak kelas 3 SMU biasa. ^_^

sasuhina-caem : maksudnya itu SMU Konoha tentang ninja gitu looo.. hehe.

Ranata-san : Hehe, kayaknya Yura udah jawab. Lihat di atas ya Ranata-san ^_^. Arigatou buat pujiannya.

Reverie Metherlence : Oke!

fishy : Baca yang di atas ya. Aku emang sengaja kok ngegabungin SMU, Ninja, Nuke nin, dan juga kepindahan Hinata serta masuknya Sasuke di SMU kelas 3 (karena mantan Nuke nin). Penjelasan selanjutnya, nantikan di chapter berikutnya ya.

Bubble : Hehehe, gomen ya. Buat yang perkenalan, sengaja Yura buat seperti itu. Di awal kan sudah ada penjelasan kalau kelas mereka acak, tanpa memperdulikan nilai. Jadi, mereka pas bareng di kelas XII-II. Pada kelas XI, mereka itu pisah. Jadi perkenalan Naruto sama Sakura itu memang sengaja Yura buat. Begitu, hehehe…

SuHi-18 : Yura juga bingung kok. hehehe ... habisnya, Yura ga tau apa itu AU, Canon, atau semi Canon _ _"


Your Chance to Walks Together

Disclaimer : Gak bisa bikin disclaimer (pundung)

Pair : Hinata H & Sasuke U

Summary : Hatinya kian lama kian teriris dengan rapi. Hinata hanya bisa bersama seseorang. Yang bisa mendengarkannya. Naruto? Tentu saja tidak mungkin. Gaara? Apalagi! Lalu siapa?

Warning : Gak nge-review, Gak boleh baca. Yang gak kuat jangan dilanjutin, tapi tetep review ya. Cerita garing, ngeloyor sana sini, gak jelas, dan warning-warning berbahaya lainnya.

Wanted : (?) Yuira Alura, Gigan KN, Elsa K, Alfiani GP, Alfiana GP, dan temen-temenku di zekolah yang menyemangati Yura. Juga para pembaca dan para reviewvers (?) yang udah me review dan membaca cerita sederhana Yura.


Hinata masih mendengarkan penjelasan Kakashi Sensei. Hari ini memang tak diadakan latihan seperti biasa atau misi. Tapi cukup membuat Hinata menghela napas karena hari ini dia jadi bisa bebas. Hei, itu artinya, dia bisa mencoba meminta Naruto untuk berjalan-jalan dengannya! Tidak salah untuk dicoba bagi Hinata.

Hinata melirik ke arah Naruto. Kelihatannya Naruto masih sibuk berbincang pelan dengan Kiba dan tak memperhatikan penjelasan dari Kakashi Sensei. Lalu Hinata memandang ke arah Sakura. Sakura tampak tenang dan terlihat seperti sedang menulis sesuatu di buku catatannya. Saat Hinata mau melirik melihat Ino, dia berhenti di tengah jalan sebelum sampai targetnya. Sasuke? Dia dengan seriusnya masih mendengarkan Kakashi Sensei walau sebenarnya penjelasan itu menurut Hinata lebih mirip penjelasan yang membosankan. Yeah, tentang aliran chakra, titik-titik syaraf dalam tubuh, mempercepat membuka segel jurus, dan lain sebagainya.

Sudah satu setengah jam Kakashi Sensei menjelaskan itu semua. Tapi sepertinya dia belum capek. Ya ya ya, menurut Hinata, Kakashi Sensei bisa tak capek karena dari tadi Kakashi Sensei juga menjelaskan sambil membaca buku kesukaannya.


After School Day, 13.30 PM, Class XII-II...

"Na-Naruto," panggil Hinata. Naruto menengok. "Ya, Hinata?"

"Nanti sore ada waktu tidak?" tanya Hinata yang mencoba menghilangkan kebiasaan gugupnya. Naruto mengangguk. "Ada kok." Hinata sedikit menyunggingkan senyuman di bibirnya. "K-Kalau b-begitu, aku ingin m-mengajakmu ja-jalan-jalan," ucap Hinata sambil menunduk. Naruto berpikir sejenak sampai dia akhirnya menjawab, "Tentu. Baiklah. Bagaimana kalau pukul 3 sore?" Hinata hanya mengangguk dan cepat-cepat pergi keluar kelas. Di pintu kelas, sebenarnya Hinata berpapasan dengan Sakura. Tapi karena saking senangnya, Hinata hanya lewat tanpa memperdulikan Sakura.

"Hihihi, akhirnya aku bisa berjalan berdua dengan Naruto. Pada saat itulah aku akan menyatakan cintaku padanya," gumam Hinata senang. Dia menuruni tangga dan menyusuri setiap koridor sekolah. Tak terlalu ramai karena Hinata memang keluar dari kelas belakangan sehingga hanya beberapa murid yang berlalu lalang karena mengikuti latihan tambahan di sekolah.

"HINATAAA!"

'gadis menyebalkan itu lagi', gerutu Hinata dalam hati. Seseorang menghampirinya. Hinata pura-pura cuek dengan tetap berjalan santai di koridor sekolah. Gadis yang tadi memanggil namanya hanya mengikuti Hinata di sampingnya.

"Hinata ..." panggilnya lagi. Hinata cuek dan pura-pura tak mendengar ocehan gadis itu.

"Ayolah Hinata. Aku benar-benar serius mau bicara denganmu," rengek gadis itu. Hinata berpikir sejenak, sambil terus berjalan pelan.

"Apa?" tanya Hinata singkat. Gadis itu tersenyum. "Apa kau ada waktu nanti?"

"Te-tentu. Memangnya ke-kenapa?" tanya Hinata lagi.

"Aku ingin kau ikut jalan-jalan dengan Naruto. Dia bilang akan jalan-jalan pukul 3 sore. Mau ikut tidak?" tanya Sakura.

Hinata sedikit membelalakkan matanya. Setelah sadar, Hinata langsung memejamkan matanya karena tak tahan. Sakura benar-benar tak mengerti perasaanku!

Hinata menghela napas pelan. Lalu berusaha menatap Sakura tanpa ada beban. "B-benarkah?"

Sakura mengangguk dengan semangat. "Iya. Naruto mengajakku. Yaah, karena Kiba juga diajak, jadinya aku mengajakmu. Gak papa kan?"

Hinata tersenyum di balik kebohongannya. "Akan kuusahakan, mengingat nanti setelah pulang sekolah, aku ada acara," jawab Hinata, dengan kebohongan. Hinata tak mempunyai acara. Dia hanya berkata seperti itu agar saat ia tak kuat untuk berangkat jalan-jalan, Sakura sudah mengerti alasan logis yang masuk akal, mengapa Hinata tak berangkat saat itu.

"Oke," sambar Sakura, buru-buru pergi. Setelah itu, Hinata berhenti, menunggu Sakura benar-benar tak terlihat lagi. Baru kemudian dia melangkah lagi menuju gerbang sekolah.

"Sepertinya, Nii san belum sampai," gumamnya pelan sambil membuang napas.

"Menunggu siapa?"

Hinata kaget dan refleks langsung menengok ke belakang. "Sasuke?"

Sasuke memasang senyum tipisnya. Senyum yang hanya bisa terlihat bila Hinata benar-benar memperhatikan wajah Sasuke. Senyum yang jarang sekali dikeluarkan Sasuke bila bersama orang asing. Hei, Hinata kan bukan orang asing!

"Aku- Aku menunggu Nii san," jawab Hinata.

Sasuke mengerutkan dahi. Hinata baru tersadar apa yang barusan dikatakannya. "M-ma-maksudku Neji-sama. Dia sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri," lanjut Hinata, memecah seribu pertanyaan Sasuke. Sasuke hanya ber oh pelan.

"Ya sudah. Oh, aku mau bertanya sesuatu padamu. Apakah Sakura mengajakmu?" tanya Sasuke yang terlihat mulai serius. Hinata gelagapan. Dia hanya bisa mengangguk pelan, lalu menundukkan kepala.

"Sudah kukira akan seperti itu. Bila tak kuat, jangan paksakan dirimu untuk mengikuti permintaannya," saran Sasuke sembari berlalu. Hinata melirik Sasuke. "Sasuke, terima kasih."

Samar-samar, terlihat sebuah mobil yang menuju ke arah SMU Konoha. Tak salah lagi, sudah dipastikan mobil itu adalah mobil milik Neji. Setelah mobil itu benar-benar berhenti tepat di depan Hinata, ia menghampiri mobil itu dan langsung masuk ke dalamnya. Dia duduk di samping Neji.

"Bagaimana rasanya bersekolah di sini?" tanya Neji. Hinata memasang senyum simpulnya. "Menyenangkan. Aku bertemu teman-teman seangkatan SD." Neji balas tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Kurasa kamu akan betah sekolah di sini."

Di dalam hati, sebenarnya Hinata menggerutu, Iya kalau tidak ada Sakura. Kemudian, mobil hitam milik Neji pun berjalan menyusuri gang-gang yang cukup lebar tuk dilewati oleh mobil miliknya. Hari ini, cukup berbasa basi dengan berbagai macam sifat orang yang pada akhirnya akan membuat Hinata (tidak) ter-ke-si-ma.

Hinata, lupa? Oh yeah, itulah yang ada di benak Hinata sekarang. Dia hampir saja melupakan bahwa sekitar satu jam 10 menit lagi, dia akan berjalan-jalan bersama dua lelaki dan satu gadis berambut pink. Tapi, Hinata cuek. Mungkin tidak datang pada jalan-jalan itu akan membuat hatiku tenang kembali. Sasuke benar juga. Aku tak bisa menerima bila aku melihat Naruto bersama Sakura. Entahlah apa yang sedang ada di pikiranku ini. Cemburu? Masa sih? tanya Hinata dalam hati. Neji tak terlalu memperhatikannya karena wajah Hinata tampak polos, padahal sebenarnya sedang melamun.

Akhirnya mereka sampai juga di rumah. Hinata cepat-cepat masuk ke dalamnya. "Aku pulang!" serunya. Lalu tanpa memperdulikan apa pun, Hinata langsung masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya.

"Huffh, seakan hari ini akan berlangsung selama 1 abad penuh," katanya, mengusap peluh di pelipisnya. Padahal kamarnya sudah disejukkan dengan AC yang bertengger rapi di dinding. Hinata tak peduli. Cuek saja dia langsung merebahkan dirinya di kasur dan membenamkan diri. "Aku sepertinya tertarik dengan Sasuke," gumamnya. Dia mengacak-acak rambut indigonya setelah sadar apa yang ia katakan tadi. "Tidak, tidak. Aku tak mungkin menyukainya!" jerit Hinata pelan. Jeritannya terdengar lebih pelan lagi karena sebelumnya ia telah menutup mukanya dengan bantal. Jangan sampai Otou san atau Okaa san mendengar jeritannya karena beberapa saat setelah itu, Hinata akan mendapat ceramah panjang lebar yang tak ada habisnya dan perlu beberapa tahun tuk menyelesaikan ceramah itu. Neji? Tak perlu khawatir dengan kakak Hinata yang ini. Neji memang memperhatikan Hinata. Tapi dia tak terlalu mencampuri urusan Hinata.

Ponselnya berbunyi. Dia menggerakkan tangan kanannya dan meraba ranjangnya berusaha mencari asal dari bunyi itu. Grep! Hinata berhasil memegangnya dan langsung membaca sms yang masuk. Keningnya berkerut. Kiba? Jarang sekali dia meng-smsku ...

Ya, ya, ya. Sebelumnya Hinata memang sudah mendapatkan beberapa nomor telepon dari teman sekelasnya. Termasuk Kiba dan Naruto. Tanpa basa-basi, Hinata membuka sms itu dan membacanya.

Hinata, gomen karena aku memintamu. Bisakah kamu bilang ke Naruto bahwa aku tak bisa datang? Aku tak menyangka bahwa ada les tambahan yang diharuskan oleh ibuku. Sekali lagi, gomennasai ...

'Hah? Ini akan menjadi lebih buruk tanpa ada Kiba. Thanks for that mail. I'm so dead now ...' batin Hinata jengkel. Entahlah kenapa kata-kata itu bisa ada di benak Hinata. Tak biasanya. Dia kali ini benar-benar jengkel. Jengkel dengan Kiba, jengkel dengan Sakura. Jengkel semuanya! Kecuali sifat Sasuke yang misterius. Oh oh oh, mulai lagi pikiran Hinata tentang sifat Sasuke. Pikiran tentang Sasuke terkadang memang langsung muncul di pikiran Hinata begitu saja. Hm ... Who knows?

Hinata baru tersadar bahwa dia belum membalas sms dari Kiba. Dia menekan tombol di ponselnya secara perlahan.

Maaf Kiba-kun. Bukannya aku ingin menolak. Tapi sepertinya aku juga tak bisa datang... G-gomen ...

Hinata dengan sedihnya meletakkan ponselnya kembali. Tapi baru beberapa saat, satu sms masuk lagi.

Oh, arigatou untuk waktunya.

Hinata menghela napas. 'Maaf, Kiba-kun.' Dia kembali meletakkan ponselnya di sembarang tempat dan langsung terlelap. Jam setengah tiga sore? Itu bukanlah masalah bagi Hinata karena dia sudah sering melakukan hal itu. Biasanya akan terbangun pukul lima sore dan akan langsung mandi.

Drrrrrtttt ... dddrrrttt ... ponselnya kembali bergetar diselingi bunyi dari ponselnya. Dengan berat hati, masih dalam setengah sadar, dan mata masih terpejam, Hinata meraba-raba ranjangnya, menemukan ponselnya dan menekan tombol hijau.

"Moshi moshi," sapanya dengan berat.

"Lihatlah ekspresimu. Sungguh menyedihkan. Di mana adikku?" tanya seseorang di seberang sana.

"Nii san pikir Hinata siapa?" tanya Hinata yang sudah mulai tersenyum, lalu mengucek matanya dengan tangan kiri.

"Jadi ini adikku ya? Kok tadi suaranya kayak teroris ..." sambut Neji yang mulai melancarkan senyum badungnya. Baru kali ini ia berniat menjahili adik tersayangnya.

"Baka Nii san!" umpat Hinata pelan. Sepertinya cukup pelan sehingga tak dapat didengar oleh kakak terbaiknya itu.

"Ada apa meneleponku jam ... eumm -empat- tidak, jam lima sore ini?" tanya Hinata, langsung to the point, sambil mencoba membuka mata untuk melihat ke arah jam tangannya.

"Kau tahu aku akan menjalankan misi. Dan ... aku minta, tolong jaga dirimu baik-baik," suara Neji melemah dan melembut. Hinata tersenyum mendengar perkataan kakaknya.

"Iya, Nii san. Hinata akan jaga diri baik-baik. Semoga misinya lancar sehingga Nii san bisa menelepon Hinata lagi. Kalau tidak, Hinata akan adukan pada Okaa san," ancam Hinata sambil tersenyum menyeringai. Tapi tak terlalu karena dia masih bisa menahan sifat dan rasa hormatnya.

"Iya, Hinata ..." jawab Neji yang sepertinya sudah tahu bahwa ancaman Hinata itu adalah sebagai bentuk kasih sayang padanya.

Klik. Suara telepon ditutup. Bukan Hinata yang menutupnya, tetapi Neji. Memang sering seperti itu, Hinata tak pernah menutup telepon, tak pernah menelepon Neji (kecuali untuk urusan yang cukup penting), tetapi justru sebaliknya.

Hinata terdiam sejenak, memperhatikan setiap butir-butir air hujan yang mengenai jendela kamarnya. Hujan turun di sebagian daerah Jepang. Membasahi segalanya yang tak terlindungi atap bangunan. Bahkan, sampai bisa menembus rerimbunan dedaunan pohon. Orang bilang, hujan itu membawa ketenangan. Paling tidak, Hinata percaya bahwa hujan itu memang magis. Bisa menciptakan pelangi. Entah, Hinata memang sering menatap hujan bila merasa sendiri. Dan ... Hujan yang selalu menemaninya.

Aah, teringatlah Hinata pada kejadian dua tahun lalu, saat dia diajak kakaknya berjalan-jalan setelah hujan, menghirup udara yang berbeda dari biasanya. Udara paling bersih, sebersih air di saat tak ternodai. Kira-kira seperti itulah pandangan Hinata terhadap aroma udara setelah hujan berhenti.

Dia jadi teringat insiden pukul tiga pagi -ups- sore tadi. Apakah mungkin Naruto berjalan-jalan bersama Sakura? BERDUAAN di kota Tokyo? Huffh, padahal Desa Konoha sudah cukup luas untuk berjalan-jalan. Tapi kenapa harus sampai ke kota? (Desa Konoha berada di Kota Tokyo, untuk cerita ini) Itulah yang membuat Hinata tampak histeris dan bingung ingin berbuat apa. Segalanya yang ia lakukan seperti punah di pundaknya. Berjuta-juta pertanyaan terus memupuki lubang kesendirian Hinata. Dia hanya sendiri. Tidak, masih ada hujan dan segenap hatinya. Dan ... hei! Ada Sasuke bukan? Hinata tersenyum. 'Lelaki misterius', hanya itulah yang ada di benaknya sekarang. Ia tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan besok. Mengajak Naruto untuk berjalan-jalan lagi? Hinata jamin tak akan berhasil untuk yang kedua kalinya. Dia ingat bahwa Sakura pasti akan merengek minta ikut bila Sakura tahu. Dan ... jadilah jalan-jalan itu rusak parah terkena berton-ton banteng yang menyeruduk Hinata ke kandang neraka -kesendirian-. Berbicara blak-blakan di depan Naruto dan yang lainnya? Tidak, itu bukan cara Hinata. Hinata tak seperti itu. Hinata pemalu sehingga menjadikan dirinya special dengan sifatnya itu. Sopan, lemah, lembut, sifat-sifat baiknya yang tak terlepaskan dari seorang Hinata. Tapi mengalami kepedihan hidup karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

Dddrrttttt ... drrrtttt ... ponselnya kembali bergetar dengan bunyinya yang khas. Hinata mengambil ponselnya kembali dengan berat hati, karena harus memecah konsentrasinya dalam kurung buka melihat tetes-tetes air di jendela dalam kurung tutup. Hinata membaca sms yang masuk. 'Hah? Sakura? Dari mana dia tahu nomorku?'

Hinata, kamu tahu tidak? Naruto mengajakku pergi berkencan! Kyaaa! Aku seneng banget. Kira-kira, baju apa yang cocok kupakai? Ini aku, Sakura.

Hinata menjawab dengan asal-asalan.

Pakai saja baju pink ninjamu. Naruto menyukai baju itu.

Hinata kembali berpikir. 'kenapa sekarang dia bilang berkencan? Bukannya hanya jalan-jalan biasa? Uuuh, menyebalkan sekali! Jalan-jalan itu kan sebenarnya ideku! Kenapa sekarang aku merasa tersingkirkan?'

Beberapa menit kemudian ...

Benarkah? Uwaaa! Arigatou, Hinata-chaan. Dan ... kira-kira aku harus memakai lips balm atau biasa saja? Polos begitu?

Hinata menggerutu terus. Dia menekan tombol di ponselnya keras-keras.

Polos saja. Naruto tak suka yang berlebihan.

Kali ini Hinata terdiam, merenungi jawaban smsnya untuk Sakura. Tebakanku benar tidak ya? Apa benar kalau Naruto tak suka yang berlebihan? Batinnya bingung. Tapi, ah sudahlah. Hinata tak perlu memikirkan itu. Bukankah Sakura yang membutuhkan hal itu? Kenapa jadi Hinata yang pusing berpikir?

Hinata membaca sms yang masuk lagi.

Lalu aku harus membawa hadiah apa untuknya?

Hinata hilang kesabaran, melihat temannya terus menanyakan tentang Naruto. Sakura pasti tahu kalau Hinata mengerti semua tentang Naruto. Tapi tidak semuanya. Sekarang, Hinata lah yang justru merenung kembali, mengingat kesalahannya bahwa dia salah telah mencintai Naruto kalau tak mengerti semuanya tentang Naruto. Tapi kemudian Hinata berpikir lagi. Tak terlalu mengetahui Naruto juga tidak apa-apa, hehe, dia menyengir.

Lalu Hinata kembali berpikir, Kenapa sih harus ada teknologi modern di zaman ninja? Siapa yang menemukan teknologi? Oh, Kami-sama, setidaknya jauhkan aku dari sms Sakura. Atau paling tidak, biarkan waktu berlalu tanpa teknologi yang bernama ponsel ninja. Huffhh.

Hinata tak membalasnya. Bukannya karena apa. Tapi dia hemat dalam pulsa. Dan sekarang, bukan karena hal itu dia tak membalas sms Sakura. Tapi karena ... pulsanya sedang habis dan meminta merengek-rengek serta meraung-raung tak karuan, sementara Hinata hanya membiarkan hal itu.

Cepat-cepat Hinata masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air sesegar kalbu. Dan akhirnya tersenyum sendiri menyadari semuanya. Aah, Hinata ...

Ddrrttt ... Drrrtttt ... suara ponselnya lagi. Tapi kali ini bukan dari Sakura. Siapa?

TBC (To Be Continued)


Hooo ... ada yang mau nebak siapa sebenarnya yang meng-sms atau menelpon Hinata? Oke, yang penting tetep review ya. Makin banyak review, makin cepet Yura update selanjutnya (untuk pengecualian kalau ternyata Yura memang lagi dapat masalah sama kakak Yura) Terima segalanya kecuali flame karena Yura menganggap flame itu sebuah hinaan dan cercaan tanpa koreksi.

Review!

II

II

V