"Maukah kau..."
Naruto menaikkan sebelah alisnya saat melihat ekspresi malu-malunya Hinata. Naruto tak memercayai ini! Seorang Hyuuga Hinata tengah gugup.
"Maukah kau memotretku?" Tanya Hinata dengan muka memerah yang malu-malu.
.
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat momen kemarin. Momen dimana untuk pertama kalinya ia melihat sisi manis Hyuuga Hinata walaupun hanyalah akting belaka. Setidaknya Naruto sudah mengetahui gambaran bagaimana jika Hinata memiliki sifat malu-malu.
"Padahal aku baru saja hampir jatuh cinta saat melihat ekspresi manisnya" batin Naruto.
Naruto sekarang berada didalam kelasnya, 1-1. Kelas telah diisi oleh siswa-siswi. Mereka hanya tinggal menunggu kedatangan guru mereka.
"Ohayou!" Sapa seisi kelas ketika keberadaannya mulai disadari saat ia berdiri di ambang pintu kelas.
"Ohayou!" Balas Naruto dengan senyum tipisnya lalu melangkah masuk berniat menduduki bangkunya.
Wajah manis Hinata kembali terbayang membuat muka Naruto memanas. Naruto pun menelungkupkan kepalanya ke meja agar dapat menyembunyikan muka memerahnya.
"Sial!" Gumam Naruto seakan ia mulai terobsesi dengan wajah cantik Hinata dipadu dengan malu-malunya.
Sekilas Naruto terlihat seperti stalker maupun psikopat. Ia mulai menyukai sifat malu-malu Hyuuga Hinata yang sering teringat olehnya walaupun hanya sekali lihat.
"Suatu saat akan kubuat kau seperti itu dengan bersungguh-sungguh, Hyuuga Hinata-senpai" batin Naruto dengan raut wajah kesal yang tercetak jelas di wajahnya.
.
.
KAZEHIRO TATSUYA
PRESENT
Title :
I Got You!
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
Created By :
Kazehiro Tatsuya
Pair :
Naruto X Hinata
Warning :
Segala ide cerita, latar, dialog, narasi, sifat, sikap, dan settingan lainnya murni ide Author sendiri. Jika ada kesamaan dengan fanfic Author lain, maka hanya sebuah kebetulan. Mohon dimengerti
.
My First Romance Fic, Gajeness, OOC, OC figuran, AU, Typo, EBI gak jelas, alur kecepetan (karena ane gak bisa bikin lebih detail), bahasa ancur (mungkin), bikin sakit mata, masalah lainnya, dan terpenting DLDR
Rated :
M
Genre :
Romance, Drama, Humour (maybe), dan Hurt/Comfort
.
.
*Cklek*
.
Hinata menaikkan sebelah alisnya saat selembar foto terjatuh setelah ia membuka lokernya. Ketika foto tersebut tergeletak di lantai dalam keadaan terbalik, Hinata pun merasa penasaran dengan foto tersebut.
"Foto apa ini?" Batin Hinata dan memungut foto itu.
Hinata tersenyum tipis saat foto tadi ternyata adalah potretan dirinya di pagi hari pertama ia sekolah dimana untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Naruto. Saat itu pemuda itu sedang berusaha memotret seekor kupu-kupu langka.
"Ohayou, Hinata!" Sapa seorang gadis bersurai merah jambu, Sakura. Sahabatnya yang satu klub dengannya.
"Ohayou, Hinata!" Sapa gadis satu laginya yang bernama Ino.
"Ohayou, Sakura, Ino" balas Hinata dengan senyum manisnya.
"Ohayou!" Sapa seorang gadis pirang yang selalu membawa sebuah kipas kecil di tangannya.
"Ohayou, Temari-senpai" balas Hinata, Sakura, dan Ino.
Sakura, Temari dan Ino pun mendapati selembar foto di tangan sahabat indigonya. Dengan hanya melihatnya saja Sakura, Temari dan Ino langsung tahu.
"Bukankah itu dipotret oleh Naruto-kun?" Tanya Ino penasaran. Ino langsung tahu itu adalah hasil potretan Naruto karena Ino tahu siapa yang selalu membawa kamera ke sekolah.
"Iya. Dia tanpa sengaja memotretku. Karena merasa bersalah, ia memberikan hasilnya kepadaku sebagai permintaan maaf" jawab Hinata berbohong.
Tentu saja bukan itu alasan Naruto memberikan foto tersebut kepada Hinata. Alasan Naruto adalah...
"Hinata, siapa tahu ada pesan dibalik fotomu itu" kata Ino.
Hinata yang merasa penasaran atas ucapan Ino pun melakukan hal seperti yang dikatakan Ino, yaitu membalikkan kertas foto tersebut.
Hinata, Ino, Sakura, dan Temari langsung sweatdrop disaat membaca pesan tertulis di balik foto tersebut.
.
[Itu fotomu saat kau menganggu target potretku, Hyuuga-senpai]
.
"Wow...ternyata Naruto-kun benar-benar meminta maaf" kata Sakura dengan nada kagum dibuat-buat seolah mengejek Hinata.
"Urusai" kata Hinata dan menutup pintu lokernya dengan sedikit kesal sehingga menimbulkan suara yang cukup menganggu.
"Jadi kau menyukainya?" Tanya Sakura langsung mendapatkan delikan tajam Hinata.
"Kau benar. Kau orangnya sangat setia untuk Otsutsuki-san" kata Sakura memperbaiki ucapannya.
Temari hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sakura yang sangat sering menjahili Hinata. Sebagai sosok tertua di kelompoknya bersama Hinata membuat Temari dijadikan sebagai sosok pembela keadilan diantara mereka berempat.
Hyuuga Hinata, Kelas 2-1. Ketua Dewan Kedisiplinan di Konoha High School. Hinata merupakan seorang penyanyi sekaligus penari terkenal dan juga menggeluti dunia modeling. Sebenarnya ia juga sangat pintar akting. Tapi entah kenapa, ia tidak tertarik terjun ke dunia akting. Status Hinata yang sebagai artis serba bisa membuatnya banyak dikenal masyarakat Jepang. Kecantikan dan bakatnya membuat Hinata digila-gilai. Dengan catatan, jangan terlalu berharap dan pikirkan sifat Hinata yang terkesan angkuh. Hinata terlahir dari klan bangsawan Jepang sehingga ia menyandang istilah 'darah biru'. Ayahnya bekerja sebagai pemilik sekaligus CEO Hyuuga Entertainment sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga namun pernah bekerja sebagai guru tari.
Haruno Sakura, kelas 2-1 alias sekelas dengan Hinata. Ia tidak punya jabatan di sekolah elit ini. Hanya saja kualitas suara dapat disetarakan dengan Hinata namun tariannya yang terbilang profesional itu masih berada dibawah Hinata. Ia merupakan spesialis nada tinggi. Saat ini Sakura tidak ingin terjun ke dunia entertainment dunia. Ia belum siap memasuki kehidupan selebritas. Dirinya sekarang hanyalah sebatas penyanyi di Konoha High School. Kedua orang tuanya sama-sama bekerja sebagai Notaris.
Yamanaka Ino, kelas 2-3. Seorang gadis yang terlahir di keluarga kaya namun kekayaan keluarganya masih berada dibawah nama Hyuuga. Walaupun begitu, ia adalah putrinya orang nomor 1 di Konoha High School. Ya, dia adalah putrinya Yamanaka Inoichi, kepala sekolah Konoha High School. Sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Suaranya sangat merdu dan spesialis nada rendah. Namun, Ino masih amatiran dalam hal menari. Karena itulah Ino ikut masuk ke dalam klub koreografi. Ada yang menarik atau mungkin aneh di sifatnya Ino, yaitu ia selalu positive thinking mengenai suatu hal.
Dan terakhir. Sabaku Temari, kelas 3-4 berarti ia adalah siswi tertua diantara 4 gadis ini. Ia merupakan kakaknya Gaara dan adik sepupunya Kankurou. Temari merupakan spesialis rapper dan dancer. Tariannya setara dengan Hinata. Bedanya, Hinata lebih mengatasnamakan keindahan dan gerakan seksi sedangkan Temari tariannya lebih terkesan tomboy. Tidak ada yang spesial dari seorang Temari. Ayahnya pun hanyalah seorang wiraswasta dan ibunya bekerja sebagai pegawai administrasi di kantor pemerintahan.
Keempat gadis cantik itu tergabung ke dalam The Real Sexy Girls atau biasanya disingkat T-rex Girls agar lebih singkat dalam penyebutannya. 'T' singkatan dari 'The', 'R' singkatan dari 'Real', 'Ex' singkatan dari 'Sexy' dan dilanjutkan dengan kata 'Girls' sebagai penanda bahwa mereka berempat adalah perempuan.
T-rex Girls merupakan sebuah girlband bentukan klub koreografi dimana T-rex Girls adalah andalannya klub koreografi dalam berindustri. Jika klub jurnalis memiliki koran dan juga bisa menyebarluaskan lewat KHS Social Media, maka klub koreografi ada jasa yang akan disebarluaskannya melalui konser resmi maupun dadakan. Ketuanya sendiri adalah Hyuuga Hinata.
"Hinata...Hinata..." Panggil Ino sambil menarik-narik ujung blazer hitamnya Hinata.
"Apa?" Tanya Hinata.
Tanpa mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan Hinata, Ino hanya menunjuk ke kiri mereka dengan ekspresi muka terkejut.
"Memangnya apa?" Tanya Hinata lalu menoleh ke kiri dimana Ino menunjukkan arahnya.
Mata Hinata pun terbelalak saat mendapati sosok pria bersurai putih dengan senyuman terpatri di wajahnya. Beberapa detik kemudian, Hinata pun tersenyum dan berlari menghampiri pria tersebut.
"Toneri-kun!" Kata Hinata dan memeluk tubuh kekar pria tampan yang bernama Toneri itu.
"Hinata-chan" gumam Toneri membalas pelukan Hinata.
"Aku merindukanmu" kata Hinata saat ia menyandarkan kepalanya di dada Toneri.
"Aku juga merindukanmu" balas Toneri.
.
*Ckrek!*
.
Hinata dan Toneri langsung melepaskan pelukannya saat sebuah suara kamera mengintrupsi mereka. Hinata pun merasa geram saat mendapati Naruto yang ternyata telah memotret mereka.
"Berterimakasihlah kepadaku, Hyuuga-senpai" kata Naruto dengan seringaiannya.
Hinata mengerti maksud seringaiannya itu. Naruto sepertinya baru saja menggagalkan momen romantis mereka untuk membalas perbuatan yang telah ia lakukan saat menggagalkan usaha Naruto untuk memotret seekor kupu-kupu.
"Terimakasih. Bisa kuminta hasilnya?" Tanya Toneri dengan senyum ramah di wajahnya.
"Tentu saja. Akan kuberikan besok secara gratis" jawab Naruto antusias lalu menghampiri Toneri dan Hinata yang sudah tidak berpelukan lagi.
"Aku Namikaze Naruto. Salam kenal" kata Naruto dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.
"Otsutsuki Toneri. CEO Konoha Foundation. Aku kekasihnya Hinata. Salam kenal, Naruto" balas Toneri membalas jabat tangan Naruto dengan ramahnya.
"Hehehehe..." Mereka pun sama-sama tertawa seolah mengakrabkan diri.
CEO Konoha Foundation? Berarti Konoha Foundation adalah miliknya klan Otsutsuki. Jika Konoha Foundation adalah milik Otsutsuki, maka Konoha High School juga milik Otsutsuki. Berarti Naruto sekarang ini tengah berbincang dengan pemilik yayasan sekolahnya.
Hinata mulai kesal saat dirinya sudah tidak disadari keberadaannya. Apalagi ketika Naruto dan Toneri sudah berbincang ringan.
.
*Teng...Nong...Neng...*
.
Hinata langsung pergi begitu saja meninggalkan Toneri dan Naruto disaat bel pertanda jam pelajaran pertama telah berbunyi.
"Maaf, Naruto. Aku harus pergi" kata Toneri lalu pergi begitu saja meninggalkan Naruto. Toneri sedikit berlari untuk mengejar Hinata.
"Hinata-chan!" Panggil Toneri berusaha mengejar Hinata yang terlihat kesal.
"Bwahahahaha" Naruto tertawa saat melihat kejadian itu. Ia berhasil membuat Hinata jengkel setengah mati.
Naruto memeriksa hasil fotonya tadi di kameranya. Hasilnya cukup bagus. Hinata terlihat bahagia dalam pelukan pria yang bernama Toneri itu.
"Dia sangat cantik" kata Naruto dengan senyum di wajahnya.
"Tapi sayangnya sudah ada yang punya" gumam Naruto malah terdengar seperti mengalami kekecewaan.
"Tapi itu tidak masalah. Jika ia mempunyai kekasih, maka sainganku hanyalah Toneri saja" kata Naruto dengan cengiran semangatnya.
Naruto kembali menyimpan kameranya ke dalam tas dikarenakan bel sudah berbunyi sedaritadi. Naruto juga tidak lupa menutup sleting yang menjadi aksesnya untuk membuka tas.
.
-_I Got You!_-
.
Jam telah menunjukkan waktu istirahat membuat seluruh murid berhamburan keluar dari ruang kelasnya. Ada yang menuju kantin dan ada pula yang tinggal didalam kelas karena membawa bekal dari rumah.
Tapi tidak dengan Naruto. Ia lebih memilih mengambil kameranya dan berjalan keluar kelas. Ia berniat 'berburu' sekarang juga karena ia menginginkan 'saku tambahan'.
"Kau mau kemana, Naruto?" Tanya Kiba sambil membuka kotak makanannya.
"Mencari foto" jawab Naruto
Naruto pun keluar dari kelasnya. Naruto terkejut saat menemukan sosok Hyuuga Hinata bersama ketiga sahabatnya yang bernama Sakura, Ino, dan Temari tengah berdiri di depan kelasnya. Apalagi Hinata menatap Naruto dengan tajam seolah akan menelan pemuda itu.
.
*Ckrek!*
.
*Ckrek!*
.
Naruto malah memotret Hinata, Sakura, Ino, dan Temari secara bersamaan lalu bergantian ketika Hinata memperlihatkan wajah angkuhnya.
"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Hinata dingin karena ia baru saja dipotret oleh Naruto. Hal ini membuat alis Hinata berkedut-kedut. Sungguh, Hinata tetap mempertahankan wajah angkuhnya disaat ia menahan rasa perih yang menyerang matanya ketika flash kamera Naruto berkedip sesaat namun memberikan efek perih karena mereka terlalu dekat dengan kamera.
"Iseng, mungkin" jawab Naruto dengan santainya. Naruto mengalungkan kameranya.
"Mungkin Naruto-kun akan memberikan hasilnya kepada kita nantinya, Hinata" kata Ino dengan kebiasaan positive thinking-nya
"Kau ingin mencari siapa, senpai?" Tanya Naruto karena sedaritadi Hinata hanya menatapnya dengan tajam.
Hinata hanya diam saja saat ditanyai. Naruto pun mengalihkan perhatiannya ke ketiga sahabat Hinata yang sedaritadi senyum-senyum sendiri menatapnya.
"Hinata terlalu malu untuk mengatakannya. Ia mencarimu" jawab Sakura dengan muka memerah dikedua pipinya. Sepertinya Sakura bersemu saat berhadapan dengan sosok Naruto.
"Kau?" Ulang Naruto sambil menunjuk Sakura karena Naruto saat ini hanya pura-pura tidak mengerti agar menjadi candaan.
"Maksudku kau yang dicari oleh Hinata" jawab Sakura.
"Aku?" Ulang Naruto sok polos.
"Benar" jawab Hinata.
"Kenapa?"
"..."
Hinata kembali diam ketika ditanyai kembali. Naruto pun semakin menanyakan hal yang sama ke Hinata dengan seringai di wajahnya.
"Jadi ada perlu apa kau mencariku, senpai?" Tanya Naruto.
"..."
"Jadi ada perlu apa kau mencariku, senpai?" Ulang Naruto.
"..."
"Kenapa kau mencariku, senpai?" Tanya Naruto semakin menjadi dengan sudut bibir yang mulai terangkat. Sepertinya ia menikmati menjahili Hinata saat mendapati semu merah tipis di wajah Hinata.
"..."
"Kenapa mencariku, Hyuu-ga-sen-pai?" Tanya Naruto dengan senyum menawannya.
"Hei Hinata, jawablah!" Kata Temari. Malahan Temari tidak sabar lagi Hinata mengatakan hal sebenarnya ke Naruto.
"Sabarlah, Temari-senpai. Mungkin Hinata sedang memikirkan tutur kata yang harus dikeluarkannya" kata Ino menenangkan Temari dengan sifat 'always positive thinking'-nya.
"..."
"Merindukanku, hm?" Tanya Naruto yang kepedean.
"..."
Oke, sekarang kesabaran Naruto, Sakura dan Temari sudah berada di puncaknya. Ternyata Hinata terlalu gengsi untuk mengatakannya ke Naruto. Yang kesal tidak hanya mereka bertiga. Hal ini berlaku juga untuk Ino.
"Kami ingin meminta bantuanmu" ujar Temari.
"Ha? Bantuan? Bantuan apa?" Tanya Naruto.
"Sudah kubantu, bukan? Silahkan kau lanjutkan" kata Temari dengan kesalnya tepat di telinga Hinata.
"Hai'! Hai'!" Jawab Hinata kesal lalu melangkahkan kakinya menghampiri Naruto.
"Hm?" Gumam Naruto saat tubuh mungil sebahunya itu sudah berdiri di depannya. Naruto sedikit menengadah agar dapat menatap Hinata sedangkan Hinata sedikit mendongak.
"Aku..." Gumam Hinata dengan raut wajah malu-malunya yang kembali menghinoptis Naruto.
"Aku ingin berkerjasama denganmu, Namikaze" ujar Hinata sambil membuang muka dengan muka memerah.
Naruto memandang Hinata dengan mata membulat kagum dan mulut yang mengembang tak percaya. Ia kembali melihat ekspresi malu-malu seorang Hyuuga Hinata.
"Baiklah" jawab Naruto dengan senyum di wajahnya.
"Bagus kalau begitu" kata Hinata lalu sedetik kemudian berhasil membuat Naruto ternganga untuk kedua kalinya.
"Aktingku bagus, teman-teman?" Tanya Hinata dengan ibu jari yang mengacung.
Sedangkan ketiga teman Hinata yang dimaksud hanya memperlihatkan senyum canggung dengan keringat dingin perlahan menetes di pelipis mereka saat mendapati apa yang diakui oleh Hinata.
"Dasar tsundere" gumam Temari.
"Apa salahnya jika kau tidak mengatakan bahwa itu semua hanyalah akting, Hinata" gumam Sakura.
"Te-tenanglah teman-teman. Mungkin Hinata me-"
"Diam" potong Sakura sebelum Ino menyelesaikan ungkapan positive thinking-nya.
Alis mata Naruto berkedut-kedut. Sepertinya ia sudah terjebak akting Hinata untuk kedua kalinya. Naruto pun melipat kedua tangannya didepan dada lalu membuang muka.
"Aku membatalkan janjiku" ujar Naruto.
"Hee? Yakin, Namikaze?" Tanya Hinata dengan pandangan angkuh menatap Naruto. Hinata memundurkan badannya sebanyak 2 langkah menghampiri sahabat-sahabatnya.
"Apa kau yakin membatalkan kesepakatannya? Kudengar lelaki sejati tidak pernah menarik kata-katanya" kata Hinata dengan nada pura-pura kecewa hanya untuk memancing Naruto.
Naruto memandang kesal ke Hinata seiring decihannya. Gadis ini memang penuh kelicikan. Dirinya seperti orang bodoh karena sudah terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Naruto melangkahkan kakinya menghampiri Hinata dengan seringai tipis di wajahnya. Sakura, Ino, dan Temari pun dibuat menjauhi Hinata dan Naruto dalam beberapa langkah mundur.
"Teman-teman?" Panggil Hinata kepada ketiga temannya sambil berjalan mundur saat Naruto berjalan mendekat. Entah kenapa ia merasa takut saat Naruto mendekatinya dengan ekspresi seperti itu.
.
*Tap*
.
Hinata bersandar di dinding saat tangan kanan Naruto berhasil mengunci dan menyudutkannya ke dinding. Naruto menelusuri manik mutiara milik Hinata dengan manik birunya. Hinata masih mempertahankan wajah angkunya dan turut menatap Naruto dengan tajam.
Sakura, Ino, dan Temari dibuat tak percaya atas apa yang dilakukan oleh Naruto. Seorang Namikaze Naruto yang dikenal playboy ternyata berhasil membuat Hinata tak berkutik seperti sekarang?!
"Baiklah, senpai. Aku tak akan menarik kata-kataku seperti kemauanmu" ujar Naruto membuat sudut bibir Hinata naik keatas walaupun sedikit.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" Tanya Naruto masih mempertahankan posisinya.
"Datanglah ke ruangan klub koreografi sepulang sekolah nanti. Aku akan menjelaskannya disana" jawab Hinata datar dan tidak terpengaruh dengan sorot mata Naruto yang tajam.
"Hm. Baiklah" kata Naruto lalu melepaskan kurungannya. Sekarang ia sudah berdiri seperti biasa.
.
*Teng...Teng...Teng...*
.
Naruto menutup matanya menahan kesal dengan kepalan tangan saat mendengar suara memuakkan tersebut. Sedangkan Hinata menyeringai dan untuk ketiga sahabatnya, mereka dibuat sweatdrop.
"Selamat menikmati waktu istirahatmu yang berharga, Namikaze" kata Hinata lalu berlalu pergi bersama ketiga sahabatnya.
"Menikmati apanya? Kalian sudah menahanku dan sekarang jam istirahat sudah habis!" Teriak Naruto kesal membuat seisi koridor menatapnya. Ia tidak menyangka bahwa negosiasinya bisa menembus setengah jam.
.
.
*Teng...Teng...Teng...*
.
"Berdiri!" Seru ketua kelas 1-1, Namikaze Naruto.
Seperti yang dikatakan oleh Naruto. Seluruh pelajar yang tergabung ke dalam kelas 1-1 yang ia pimpin sudah berdiri di tempat masing-masing.
"Arigatou Gozaimasu, Asuma-sensei!" Kata seisi kelas sambil membungkuk untuk menghormati sang guru brewok didepan mereka.
Asuma pun tersenyum lalu mengemasi barang-barangnya. Setelah selesai, Asuma pun pamit keluar kelas.
"Huffft..."
Naruto menghela nafas berat lalu terduduk di bangkunya sendiri akibat goncangan beruntun tanpa ampun yang berasal dari perutnya.
"Aku lapar" gumam Naruto dengan muka lesu sambil memegangi perutnya. Karena begitu laparnya, ia tidak kuat hanya untuk sekedar berdiri. Naruto pun memilih menelungkupkan wajahnya ke meja belajar.
Apa Naruto harus menyalahkan Hinata atas semua ini? Tentu saja! Gara-gara gadis itu Naruto tidak sempat makan dan memulai berburu foto. Andai saja ia sewaktu itu mengundurkan waktu pertemuannya dengan girlband andalan klub koreografi itu, maka nasib seperti ini tidak akan menimpa perut malangnya.
"Hoi" panggil seseorang mengintrupsi Naruto.
Naruto pun menoleh dan mendapati kedua sahabatnya sudah duduk didepannya. Kiba menyengir lebar dengan sebuah kantong kresek digenggaman tangannya.
"Lapar?" Tanya Kiba
"Hai'..." Jawab Naruto tak bersemangat dan berusaha menggapai kantong kresek dalam genggaman Kiba.
"Eits! Tahan dulu" kata Sasuke menahan pergelangan tangan Sasuke.
"Berikan aku 1 roti gandum saja" pinta Naruto.
"Tenang dulu. Kami akan memberikan semuanya jika kau mau menjawab pertanyaan kami" ujar Sasuke.
"Baiklah. Apa pertanyaanmu?" Tanya Naruto yang sepakat dengan Sasuke dan Kiba.
"Apa yang kau bicarakan dengan T-rex Girls?" Tanya Sasuke
"Apa? Mereka dinosaurus?" Pertanyaan polos Naruto sukses diberikan jitakan oleh Sasuke.
"Mereka girlband, Naruto. Namanya T-rex Girls" ujar Kiba dengan bangganya. Ternyata Kiba tidak terlalu mempermasalahkan kejadian kemarin.
"Jadi, apa yang kalian bicarakan?" Ulang Sasuke.
"Tidak ada yang istimewa. Mereka hanya ingin berkerjasama denganku" jawab Naruto.
Naruto pun menjelaskan pembicaraannya dengan T-rex Girls secara rangkum. Naruto hanya menjelaskan salahsatu poin dimana ia sepakat akan menemui Hinata dan kawan-kawan didalam ruangan klub koreografi.
"Souka..." Gumam Sasuke mengerti.
"Hai'...silahkan menikmati" kata Kiba dan meletakkan sekantong makanan yang telah di janjikan ke meja belajar Naruto.
"Arigatou" kata Naruto lalu menghabiskan 10 roti gandum berbeda selai secara bergantian.
"Kami duluan ke ruangan klub. Kau menyusul saja setelah dari ruangan klub koreografi. Jaa ne" pamit Kiba dan pergi bersamaan dengan Sasuke.
Naruto pun menghabiskan seluruh roti selainya yang berjumlah 10 bungkus itu. Setelah acara makannya selesai, Naruto pun bersiap-siap mengunjungi klub koreografi seperti yang telah dijanjikan.
.
Naruto memandangi sebuah pintu dengan sebuah papan nama bertuliskan 'Klub Koreografi'. Naruto terlebih dahulu melonggarkan dasinya sambil menatap papan nama tersebut.
"He? Kenapa aku harus bersiap-siap dulu?" Batin Naruto merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Naruto pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulai mengenggam gagang pintu tersebut. Tetapi 3 detik kemudian ia kembali menjauhkan tangannya. Naruto baru ingat bahwa ia hanyalah tamu bagi klub tersebut. Naruto pun memilih mengetuk pintu terlebih dahulu.
.
*Tok! Tok! Tok!*
.
*Ckrek*
.
Terbukalah pintu tersebut oleh seorang gadis bersurai merah yang dikenal Naruto sebagai saudara sepupunya. Seketika suara musik agak keras langsung menyerang gendang telinga Naruto. Ruangan kedap suara milik Konoha High School sungguh luar biasa karena dapat meredam sekecil mungkin suara memekakkan telinga.
"Sara? Kau bergabung dengan klub ini?" Tanya Naruto.
"Hm! Aku dipilih menjadi manajernya T-rex Girls, Naruto-kun" jawab Sara lalu membukakan pintu lebar-lebar untuk Naruto membuat suara nyaring tersebut juga turut membesar.
"Permisi" kata Naruto lalu melangkah masuk.
Perlahan Naruto mulai terbiasa dengan musik EDM yang diputar dalam ruangan ini. Mata Naruto melirik sekumpulan 4 gadis yang tengah menari meliuk-liukkan badannya seirama dentuman musik yang diputar. Naruto akui tarian mereka sungguh mempesona, apalagi ada Hinata yang sangat mahir menari. Tapi entah kenapa, Naruto tidak tertarik.
Naruto pun memilih duduk diatas sofa merah yang ada didalam ruangan. Meletakkan tasnya lalu mengeluarkan kamera DSLR kesayangannya.
"Naruto-kun, aku mau kau memotret mereka" pinta sepupu merahnya itu.
"Ha? Kenapa?" Tanya Naruto yang pada saat itu baru saja menyetel kameranya.
"Sudah potret saja. Anggap kalau sepupumu ini memintamu melakukan itu" jawab Sara lalu menarik pergelangan tangan Naruto.
"Tunggu!" Teriak Naruto namun dapat dikalahkan oleh suara musik.
Sara pun menuntun Naruto agar mau berdiri didepan T-rex Girls yang tengah menari sambil bernyanyi untuk melatih koreo mereka. Naruto menggaruk kepalanya yang terasa gatal. Seluruh mata tertuju padanya. Mulai dari setiap murid yang tergabung ke dalam anggota klub koreografi yang berjumlah 16 orang dan sosok Hinata, Sakura, Ino, dan Temari juga turut menatapnya walaupun sibuk menari dan menyanyi.
Naruto mau tak mau dibuat mengalah. Mendapatkan tatapan penuh harap dari setiap gadis disekitarnya membuat Naruto tidak tega. Lupakan masalah tatapan 6 murid laki-laki yang tidak ada pengaruhnya bagi Naruto sama sekali.
"Baiklah" kata Naruto lalu mengangkat kameranya lalu tak lama kemudian Sara datang menghampirinya.
Naruto memulai pemotretannya. Ia terlebih dahulu dibisikkan oleh Sara agar memotret keempat gadis itu secara bersamaan. Naruto pun menurut dan...
.
*Ckrek*
.
...Memotret mereka sekaligus sebanyak 3x potretan. Setelah itu Sara meminta Naruto agar memotret mereka satu per satu. Naruto pun menyetujuinya.
Disaat Naruto mulai menfokuskan kameranya ke Hinata, entah kenapa jantungnya menjadi berdebar-debar. Melihat wajah cantik Hinata, melihat leher Hinata yang dibasahi oleh keringat sungguh membuatnya tergoda.
"Hei lama sekali! Apa yang kau terawang?" Marah Sara karena di bagian Hinata, Naruto lama sekali memotretnya.
"Hahaha gomen" kata Naruto.
.
*Ckrek*
.
Hinata diam-diam tersenyum tipis melihat tingkah Naruto yang menurutnya tergoda oleh dirinya.
Beberapa detik kemudian, akhirnya sesi latihan T-rex Girls telah selesai. Mereka pun diberi waktu istirahat oleh pelatih tari mereka sekaligus guru kesenian mereka, Kurenai-sensei.
"Kerja bagus, minna-san. Blablabla" begitulah ceramah Kurenai yang dapat didengar oleh Naruto.
Naruto hanya memandangi T-rex Girl yang sedang diceramahi dari jauh. Tiba-tiba saja Naruto merasakan ujung blazernya tengah ditarik-tarik.
"Ada apa, Sara?" Tanya Naruto menoleh ke arah Sara.
"Kemarilah" jawab Sara lalu menghampiri Kurenai yang sedang ceramah. Naruto pun mengikutinya.
.
*Tap...Tap...Tap...*
.
"Ho...Namikaze-kun sudah datang. Hinata, kuserahkan kepadamu. Sensei akan melatih mereka dulu" kata Kurenai lalu pergi untuk mengajari murid kelas 1 dan menyerahkan 'bisnis' klub koreografi kepada ketua klub, Hyuuga Hinata.
"Hai', Kurenai-sensei" jawab Hinata.
Setelah kepergian Kurenai, Hinata pun mengisyaratkan kepada Naruto agar ia turut duduk namun duduk didepan mereka berempat. Naruto pun menurut.
"Jadi, ada keperluan apa kalian denganku?" Tanya Naruto.
"Naruto, kami dari klub koreografi ingin berkerjasama denganmu" jawab Hinata.
"Kerjasama? Kalau begitu, bukan kepadaku kau memintanya, Hyuuga-senpai. Tetapi kepada tim pemasaran. Aku sudah bergabung dengan klub jurnalis" kata Naruto dengan ekspresi bangganya yang entah dikarenakan apa.
"Maksudmu klub sebelah?" Tanya Ino sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah ruangan samping dimana klub jurnalis berada.
"Benar" jawab Naruto.
"Kalau begitu aku bisa saja memintanya ke Neji-nii. Untuk apa aku memintanya ke Naruto kalau ujung-ujungnya akan berurusan dengan klub jurnalis?" Bisik Hinata kepada Temari karena merasa usahanya membujuk Naruto tidak ada gunanya.
"Aku pun juga begitu kalau aku tahu ujung-ujungnya akan berurusan dengan jurnalis, Hinata. Kau tahu? Adikku adalah partnernya kakak sepupumu!" Bisik Temari membicarakan Gaara.
"Sebentar, aku akan memanggil Neji-senpai dan Gaara" kata Naruto dan mengeluarkan ponselnya.
Padahal, niat Hinata berkerjasama dengan Naruto adalah untuk memotret sesi latihan mereka dan akan diposting sebagai iklan yang akan ditempel di mading raksasa milik Konoha High School sekaligus mereka akan membuat pembukuan anggota klub koreografi. Tentu saja mereka juga akan berurusan dengan klub jurnalis.
.
.
.
"Jadi, bisnis seperti apa yang kalian tawarkan?" Tanya Neji selaku tim pemasaran bersama Gaara.
"Nii-san, kami sebentar lagi akan mengadakan konser besar-besaran di panggung yang ada di KHS Convention Hall. Jadi kami ingin menyebarluaskan iklan mengenai konser kami agar cepat diketahui. Maka dari itu kami ingin kalian dari klub jurnalis untuk memasangkan iklan kami di koran kalian sekaligus membantu kami dalam pembuatan tiket. Bagaimana?" Tawar Hinata.
Naruto manggut-manggut mengerti bisnis yang ditawarkan klub koreografi. Jika menggunakan KHS Convention Hall sebagai tempatnya, maka dapat dipastikan bahwa T-rex Girls akan mengadakan konser besar-besaran. Mungkin harga 1 tiket setara dengan 5 kupon!
Masalah kupon yang dimaksud, kupon sebagai alat ukur keuangan klub di Konoha High School. Mereka berbisnis bukan menggunakan uang sungguhan. Tetapi menggunakan kupon khusus berstempelkan Dewan Kedisplinan dan koperasi Konoha High School. Dengan kupon tersebut mereka dapat membeli barang-barang baru untuk klub mereka.
Kupon dibagikan kepada setiap murid Konoha High School sebanyak 5 kupon setiap minggunya. Kupon sendiri bisa ditabung sehingga murid-murid tidak perlu menghabiskan kelima kupon dalam seminggu.
"Apa hanya sekedar itu tawaran bisnisnya?" Tanya Gaara yang merasa kurang puas.
"Hmmmm..." Gumam Hinata lalu memejamkan matanya karena ia sedang menimbang-nimbang.
"Ada" jawab Hinata setelah mendapatkan ide.
"Kami ingin kalian membukukan kegiatan kami selama seminggu penuh sebelum konser yang akan diadakan 2 minggu lagi. Bagaimana?" Tanya Hinata membuat Naruto menganga.
"Apa? Kau mempersibuk diriku, Hinata-senpai?!" Tanya Naruto tak terima.
Membukukan kegiatan tentu saja termasuk foto-foto yang akan melengkapi buku kegiatan tersebut. Jika berhubungan dengan foto, maka Naruto lah orang yang tepat.
"Setuju" jawab Neji lalu mengulurkan tangannya.
Dengan senyum manisnya, Hinata pun membalas jabatan tangan sang kakak sepupu.
"Hai'" kata Gaara sambil menyodorkan sebuah map berisikan formulir bisnis.
"Tanda tangan disini" kata Gaara lalu memberikan pena kepada Hinata.
Hinata pun menanda-tangani kertas formulir tersebut karena kesepakatan mereka. Naruto yang tampak gelisah langsung mengusap keringat di wajahnya dengan telapak tangan dengan kasar.
"Hm...baiklah jika itu maumu, Hinata-senpai. Kau tak akan menyesal karena sudah berurusan denganku" kata Naruto dengan sanyum menawannya yang sebenarnya ia tujukan untuk memperingati Hinata.
"Hn. Mohon bantuannya" kata Hinata lalu berbalik pergi.
Naruto memandangi tubuh ramping Hinata. Gadis itu memiliki lekuk tubuh yang indah. Apalagi bokong Hinata yang tampak kencang.
"Apa yang kau lihat, teme!" Teriak Neji marah lalu...
.
*Bugh!*
.
...Meninju pipi kiri Naruto karena saking kesalnya.
.
"Ughh...sakitnya" gumam Naruto sambil mengusap pipi kirinya yang terasa lebam akibat pukulan Neji.
Naruto pun menghidupkan air westafel yang ada di toilet lalu menyirami mukanya. Setelah membasahi muka, Naruto pun menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Konnichiwa" panggil seseorang menyapa Naruto.
Naruto pun menoleh ke arah pintu toilet dan mendapati seorang pria berusia 22 tahun bersurai putih tengah berdiri menyandar di ambang pintu. Dia adalah Otsutsuki Toneri.
"Toneri-sama" kata Naruto lalu membungkuk hormat yang malah membuat Toneri tertawa.
.
.
.
.
Naruto dan Toneri berjalan dengan santainya di salahsatu koridor yang ada di Konoha High School. Naruto sama sekali tidak merasa canggung bila berhadapan dengan Toneri yang notabene-nya adalah pemilik Konoha Foundation.
Berbeda dengan siswa-siswi lainnya, mereka semua membungkuk hormat ketika sosok Toneri berlalu di depan mereka.
Naruto dan Toneri jalan beriringan bukannya tidak ada tujuan. Toneri baru saja meminta bantuan Naruto untuk membawakan semua arsip yang ada di kantornya untuk segera dibawa ke kantor kepala sekolah.
"Jadi Naruto. Bagaimana hubunganmu dengan Hinata?" Tanya Toneri yang malah membuat Naruto gelagapan.
"A-apa maksudmu, Toneri-sama? Aku sama sekali tidak-"
"Hahahaha...kau lucu sekali. Hubungan dengan seseorang tidak hanya berpacaran, bukan?" Kata Toneri memotong ucapan Naruto.
"Souka..." Gumam Naruto.
Naruto berfikir. Apa yang harus ia jawab? Hubungan? Apa hubungannya dengan Hinata bisa dikatakan sebagai teman atau tidak?
"Aku rasa kami berteman, Toneri-sama?" Jawab Naruto tampak ragu dengan muka menoleh ke Toneri yang berjalan disampingnya.
"Berteman? Hm..bagus sekali" kata Toneri dengan senyum hangatnya yang sulit diartikan.
"Sepertinya ada yang aneh. Apa ada sesuatu, Toneri-sama?" Tanya Naruto.
"..."
Toneri hanya diam memandang lurus ke depan. Naruto yang menyadari omongannya sudah kelewat bataspun jadi gelagapan.
"Bu-bukan maksudku untuk mencampurinya. Maaf" kata Naruto menyesal.
"Hahahaha...tidak apa-apa, Naruto. Aku hanya bangga saja" ujar Toneri.
"Bangga?" Ulang Naruto.
"Ya. Baru sekali ini aku mendengar bahwa Hinata mempunyai teman laki-laki. Bahkan kami pun dekat hanya karena aku mengenal Hinata semenjak ia berusia 2 tahun" jawab Toneri dengan senyumnya saat mengingat awal pertemuannya dengan Hinata.
"Baru pertama kali? Apa ada sesuatu hal yang membuatnya seperti itu, Toneri-sama?" Tanya Naruto penasaran.
"..."
Toneri kembali terdiam membuat Naruto tidak enak hati. Saat baru menarik nafas untuk berkata, Toneri kembali memotong dialog Naruto.
"Entahlah, Naruto. Bahkan aku sendiri yang merupakan kekasihnya tetap tidak ia beritahu kenapa ia tidak bergaul dengan laki-laki" jawab Toneri.
"Apa karena trauma?" Tanya Naruto.
"Entahlah" jawab Toneri.
Suasana kembali hening. Naruto pun kembali merasa tidak enak hati. Naruto langsung berhenti dan membungkuk meminta maaf.
"Maaf aku lupa diri, Toneri-sama!" Kata Naruto.
Toneri pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Naruto. Toneri hanya tersenyum tipis akan kesopanan Naruto.
"Sudahlah. Kau tidak perlu seperti itu. Bersikap biasa saja" kata Toneri.
Naruto sudah kembali menegakkan badannya dan menghampiri Toneri.
"Tapi, Toneri-sama...-"
"Dan jangan panggil aku 'Toneri-sama'" potong Toneri dengan penekanan di namanya yang membuat Naruto mau tak mau menuruti perkataan Toneri.
"Hai', Toneri-san?" Balas Naruto ragu.
"Terkesan formal, tapi...tak apalah" jawab Toneri.
.
.
.
"Hahahahaha! Ternyata kau orangnya humoris juga, Naruto. Sudah lama aku tidak menemukan orang sehumoris dirimu! Hahahaha!" Ujar Toneri saat mereka sudah berada didalam ruangan Toneri.
"Hahahaha! Tidak perlu menyanjungku, Toneri-san"
Suasana diantara mereka akhirnya mencair. Perlahan diantara Naruto dan Toneri sudah membangun sebuah hubungan keakraban dimana Naruto tidak merasa canggung lagi. Itulah kelebihan seorang Namikaze Naruto. Ia dengan mudah dapat mengakrabkan diri dengan orang asing.
"Tak kusangka anda berkepribadian hangat, Toneri-san" ujar Naruto.
"Karena itulah ada istilah 'jangan menilai buku dari sampulnya', Naruto-kun" balas Toneri.
"Hahaha...anda benar. Aku harap suatu hari ini aku bisa membantumu mengenai apa yang tidak bisa kau lakukan, Toneri-san" ujar Naruto.
"Hm! Terimakasih, Naruto. Akan kutunggu saat itu tiba" kata Toneri yang baru saja meletakkan arsip terakhir diantara tumpukan arsip itu.
"Hanya ini arsipnya. Tolong antarkan ke meja Inoichi-san" ujar Toneri
"Oke" jawab Naruto dengan cengirannya lalu pamit undur diri.
.
*Cklek*
.
Naruto akhirnya sudah berada di luar ruangan kerja Toneri dengan setumpukan arsip-arsip yang harus ditanda-tangani oleh ayahnya Ino.
Naruto melangkahkan kakinya dengan senyum mengembang di wajahnya. Ternyata seorang atasan seperti Toneri memiliki kepribadian yang hangat. Toneri pun juga sudah termasuk orang yang akrab dengannya. Naruto berharap pada suatu hari nanti ia dapat membantu Toneri mengenai apa yang tidak bisa dilakukan oleh pria bersurai putih itu.
"Kira-kira apa yang tidak bisa dilakukan oleh Toneri-san?" Gumam Naruto.
.
Suasana malam hari pukul 22.12 tidak membuat seorang gadis bernama Hyuuga Hinata merasa takut. Ia dengan sendirinya duduk di halte bus umum karena sedang menunggu kedatangan bus selanjutnya.
Hinata baru saja menyelesaikan latihan ekstranya di sekolah untuk mempersiapkan konser akbar T-rex Girls yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi.
Hinata menatap ponsel pintarnya. Sudah 3x ia menghubungi kekasihnya namun tidak ada dijawab karena kesibukan yang dialami sang kekasih.
"Lama" gumam Hinata. Karena sedaritadi bus tidak kunjung datang.
"Hyuuga-senpai?"
Hinata pun menoleh ke samping dan menemukan seorang pemuda bersurai hijau berkacamata. Hinata tidak mengenal pemuda itu. Tapi ketika mendengar bahwa pemuda itu memanggilnya 'senpai', maka kemungkinan dia adalah salahsatu siswa Konoha High School.
"Siapa kau? Aku tak mengenalmu. Pergilah" usir Hinata.
"Kejamnya. Tidak perlu seperti itu, senpai. Aku akan menemanimu sampai bus datang" katanya lalu duduk disebelah Hinata. Terlalu dekat hingga kulit lengan mereka bersentuhan.
"Hei beri jarak!" Kata Hinata merasa risih dan menjauh ke sudut bangku.
Bukannya berhenti, pemuda itu malah makin mendekati Hinata dengan terus menggesekkan bokongnya dengan bangku untuk menghampiri Hinata.
"Kenapa kau mendekat?! Pergilah!" Kata Hinata berniat mendorong si pemuda namun...
.
*Tap!*
.
Tenggorokan Hinata langsung tercekat saat pergelangan tangannya dicengkram paksa oleh pemuda tersebut. Hinata makin ketakutan saat si pemuda menunjukkan seringai mesumnya.
"Sayang sekali jalanan terlihat sepi. Bukankah begitu, Hinata-chan?" Katanya lalu semakin mendekat ke Hinata.
"Menyingkirlah!" Teriak Hinata lalu berniat menampar si pemuda.
.
*Tap!*
.
Lagi-lagi Hinata dibuat tidak berkutik ketika tangannya yang satu lagi berhasil dicengkram oleh dia. Si pemuda berkacamata ini pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.
"Aku hanya ingin merasakan bibir ranummu itu, Hinata-chan. Setelah ini aku akan melepaskanmu" ujarnya yang semakin membuat Hinata ketakutan.
"Lepaskan aku.." Cicit Hinata dengan air mata yang sudah menggenang lalu menundukkan kepalanya agar menjauhkan bibir sucinya dari jangkauan bibir kotor si pemuda.
.
*Set*
.
Tiba-tiba saja kerah kaos yang dipakai si kacamata dicengkram oleh sebuah tangan kekar membuat perhatian si kacamata dan Hinata jadi teralihkan.
"Namikaze?" Gumam Hinata masih dengan mata berkaca-kaca.
"Cih! Ternyata seorang playboy rendahan telah mengangguku" kata si pemuda kacamata dengan remehnya.
Naruto menatap tajam pemuda bersurai hijau itu lalu mengangkat pemuda itu tinggi-tinggi dengan otot tangannya sehingga cengkraman si kacamata pada kedua tangan Hinata jadi terlepas.
"Si-siapa kau sebenarnya?!" Tanya si kacamata ketakutan saat Naruto mengangkatnya tinggi-tinggi hanya dengan menggunakan otot tangan.
"..."
Naruto hanya diam tidak menjawab pertanyaannya. Tetapi tatapan tajam dari Naruto berhasil membuatnya tak berkutik.
"Pernah dengar berita 5 siswa berandalan terkenal dari Yuma High School masuk rumah sakit karena babak belur dan hampir sekarat?" Tanya Naruto datar.
Pertanyaan Naruto dengan nada datar sukses membuat pemuda itu terbelalak kaget. Seketika perasaan cemas menggerogoti hatinya.
"Jangan-jangan..." Gumam pemuda tersebut.
"Benar. Akulah pelakunya. Dan waktu aku diintrogasi oleh polisi, mereka menyatakan bahwa aku hanya melakukan tindakan membela diri" ujar Naruto dingin.
"..."
"..."
"Maafkan aku! Ampun!" Katanya ketakutan.
Naruto pun langsung melepaskan cengkramannya otomatis membuat si pemuda kacamata terjatuh. Ia pun langsung lari terbirit-birit meninggalkan Naruto dan Hinata.
Naruto menatap kepergian pemuda penganggu itu. Naruto pun menghela nafas lalu kembali mengangkat sebuah kantong kresek berisikan bahan makanan. Seketika ia kembali teringat bahwa ada Hinata didekatnya.
"Dengan sikap angkuh dan mulut kejammu yang seperti itu, aku tidak heran akan ada orang yang mencelakaimu, senpai" gumam Naruto datar namun dapat didengar oleh Hinata karena jarak mereka yang cukup kental.
"Yo, Hinata-senpai. Konbanwa" sapa Naruto kembali menghangat lalu memutar badannya menghadap Hinata yang sudah duduk normal entah sejak kapan.
Hinata hanya diam membuat sapaan semangat dari Naruto menjadi garing. Naruto pun mengulurkan tangannya didepan Hinata.
"Apa?" Tanya Hinata ketus.
"Ayo kuantar pulang" jawab Naruto dengan baik hatinya yang tiba-tiba kambuh untuk Hinata.
"Tidak. Aku akan naik bus saja" tolak Hinata mentah-mentah membuat Naruto mengepalkan tangannya yang ia ulur tadi karena tidak disambut oleh Hinata.
"Hoo...souka. Baiklah kalau kau mau menunggu sampai besok pagi" kata Naruto lalu melangkah menjauh.
Apa? Pagi besok? Dengan kata lain bahwa halte ini sudah tutup dan bus tidak akan datang lagi kecuali besok pagi di jam kerja. Hinata akhirnya menyadari itu. Hanya saja, penantiannya selama ini jadi sia-sia.
"Tunggu" cegah Hinata sebelum Naruto benar-benar pergi dari pandangannya. Naruto pun menyeringai tipis tanpa diketahui oleh Hinata.
"Baiklah. Tolong antarkan aku. Berterimakasihlah" kata Hinata.
"Haa?!" Naruto menoleh ke Hinata. Hinata hanya diam mempertahankan keangkuhannya.
.
.
*Tap...Tap...Tap...*
.
Sepasang manusia berbeda gender sedang berjalan di malam hari. Hinata harus bersedia merasa kelelahan tambahan karena ia harus berjalan setengah jam untuk sampai di flat yang ia tinggali sendirian.
"Souka...jadi kedua orangtuamu ada di Kyoto menjalankan bisnis? Dengan keras kepala kau ingin tinggal di Tokyo dan menyewa sebuah flat mewah agar bisa hidup mandiri" ulang Naruto.
"Ternyata kau gadis yang tangguh juga, Hinata-senpai" puji Naruto.
Hinata hanya diam menanggapi perkataan Naruto seperti biasanya. Rasa lelah yang menyerangnya mampu membuat ia membisu.
"Naruto, alamat flatku adalah xxxx kamar nomor 306. Mohon bantuannya" kata Hinata lalu...
.
*Bruk*
.
Terjatuh pingsan. Syukur Naruto sempat menangkap tubuh mungil Hinata sebelum tubuh tersebut mencium jalanan trotoar.
"Dasar" gumam Naruto.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
AUTHOR NOTE :
Waaah...Terimakasih, minna-san T-T
Saya sangat merasa tersanjung karena banyak yang suka sama cerita saya yang satu ini :v
Kira-kira, bagaimana dan kapan ya Hinata bisa suka sama Naruto atau Naruto suka sama Hinata :v
Bwahahaha! Tunggu saja kelanjutannya
.
.
.
.
Special Thanks To :
.
Lady vampureblood, Aokiji951 (Guest), endahs442, Rina Chan (Guest), tsukihime4869, Baenah231 (Guest), Rikudou Pein 007, Aika747, Hikari-chan dattebayo, afika chia, Namikaze632, uchihasenjuuzumakinaruto, Baby-Damn, Namikaze Lucius, lawliet95 (Guest), Darknees Light Emperor, .7, Ndul-chan Namikaze, RiuChan28, SM (Guest), ccherrytomato, Dj-Lightz, meganeko-chan24, saputraluc000, Indigo-chan, Ahliebcaesar341, NamikazeLee, Aruto-kun.
.
.
.
.
.
KAZEHIRO TATSUYA
