Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuSaku

Warning : OOC, Typo, DLDR, AU, dan lain-lain

.

Suddenly Supernatural

.

Sasuke menatap keluar jendela rumah sakit tempat ia dirawat seminggu belakangan ini. Keadaannya sudah membaik. Ia sudah dapat berjalan dengan baik walaupun masih butuh bantuan tongkat penyangga untuk menumpu berat badannya. Iris sekelamnya menatap satu-satunya pohon sakura tua yang tumbuh di tengah-tengah taman rumah sakit. Merah muda. Mengingatkannya pada seseorang yang memiliki nama yang sama dengan bunga Sakura.

Kepalanya menoleh ke belakang menatap seseorang yang telah ia kenali. Seseorang yang berumur lebih tua diatasnya. Itachi Uchiha. Kakaknya. Laki-laki itu mengenakan atasan kemeja bewarna biru dongker panjang yang bagian lengannya dilipat sesiku, dipadukan dengan celana berbahan jeans yang membuat penampilannya menjadi modis. Sasuke menatapnya sekilas lalu kembali menata pohon Sakura yang sedang menggugurkan kelopaknya.

"Sudah siap?" tanya Itachi mendekati ranjang Sasuke yang terdapat koper berisi pakaian yang Sasuke kenakan selagi ia di rumah sakit.

"Hn,"

Itachi menganggukan kepalanya, lalu saat ia ingin membawa koper itu, tiba-tiba ia menghentikan langhaknya dan meletakkan koper hitam itu di samping pintu. "Ah ada yang aku lupakan." Ucapnya. "Aku akan mengunjungi adik temanku yang kebetulan dirawat di rumah sakit ini, apa kau mau mengunjunginya juga?" tanyanya kemudian.

Sasuke menggelengkan kepalanya, "Aku tunggu," ucapnya. Itachi menganggukan kepalanya mengerti. Kaki adik semata wayangnya itu sedang tidak beres, pasti sangat sulit berjalan dengan menggunakan penyangga. Ia memaklumi dan keluar dari dalam kamar Sasuke.

Sekepergian Itachi, Sasuke menghela napas. Merasa bosan, ia meraih handphone yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya. Membuka aplikasi kamere handphone, lalu mengarahkannya kepada pohon sakura yang terasa menarik perhatiannya. Ia memfokuskan gambarnya lalu mengambil gambar beberapa kali untuk dijadikan koleksi dalam folder fotonya.

Sasuke membuka galeri. Gambar pertama terdapat gambar empat orang anak-anak yang mengenakan seragam sekolah menengah pertama dengan latar belakang gedung sekolah mereka. Dirinya berada di samping ujung kanan foto menatap kamera dengan wajah datarnya, lalu disampingnya terdapat Karin yang sedang menggelayut pada tangan kirinya, disamping Karin terdapat Naruto yang mengalungkan tangannya pada leher Karin, lalu di ujung paling kiri terdapa Itachi yang tersenyum tipis memandang kamera. Foto itu diambil saat penerimaan siswa baru di sekolahnya dulu, sedangkan Itachi sudah mau lulus.

Ia menggeser kembali koleksi foto dalam galeri fotonya. Hingga terdapat foto bunga sakura yang beberapa menit yang lalu ia ambil. Saat menggeser yang ke tigakalinya, ia tersentak kala ia menemukan atau melihat seseorang yang duduk di salah satu ranting bunga Sakura yang tebal. Seorang gadis dengan surai merah muda, yang melihat kesamping kanan. Sasuke mengerutkan alisnya bingung, sejak kapan terdapat gadis itu dalam gambar yang ia ambil? Ia membalikkan gambar yang ia ambil kembali ke gambar sebelumnya, dua foto pertama yang ia ambil tidak terdapat gadis itu. Bagaimana bisa di foto ke tiga terdapat gadis itu? Bagaimana cara dia naik ke atas pohon? Sasuke ingat betul ia memfoto tidak dalam waktu yang cukup lama.

Ia menggeser kembali foto keempat, masih dengan foto yang sama. Ia tersentak. Foto ke empat tidak terdapat foto Sakura didalamnya. Bagaimana ini bisa terjadi?

Tanpa sadar bibirnya mengucapkan sebuah nama, nama seseorang yang berada dalam fotonya tadi. "Sakura?"

"Ya?"

Sasuke tersentak kaget kala terdapat suara yang ia kenali menyahutnya dari samping kanan. Ia menolehkan kepalanya, lalu menatap Sakura dengan pandangan bingung. "Mengapa kau ada disini?" Sasuke menggeser posisi duduknya. Gadis itu duduk bersila diatas kasur rumah sakit seraya menatapnya polos.

"Karena kau memanggilku. Mungkin." Ucapnya menggedikan bahunya.

"Bagaimana cara kau bisa ada disini?"

"Entah. Tiba-tiba aku ada disini." Ucapnya santai.

Tepat saat Sakura menurunkan tubuhnya, pintu kamar dibuka oleh seseorang. Dua orang dengan warna rambut yan berbeda masuk, seorang diantaranya Itachi –kakaknya- dan seorang lagi bersurai merah darah yang ia tidak ketahui namanya, tetapi ia pernah melihatnya di pigura foto yang diletakkan Itachi di meja dalam kamarmya dengan keterangan Akatsuki.

"Sasuke perkenalkan, dia teman satu kampusku. Sasori."

"Sasori ini adikku yang nakal, Sasuke." Sasuke mendengus mendengarnya.

Sasori mengulurkan tanyannya dan disambut dengan tangan Sasuke, lalu menyebutkan nama mereka masing-masing. Sasori tersenyum hangat pada Sasuke yang dibalas dengan wajah datar bersahabat (?) oleh Sasuke. Sasori mengarahkan pandangannya pada bunga sakura yang berguguran di balik jendela kaca kamar Sasuke, sepintas tatapannya sempat meredup kala ia mengingat sesuatu. "Mouchan," gumamnya pelan.

Sasuke memandang Sasori, lalu memandang Sakura yang berada di depan pintu seraya memandang Sasori dengan alis berkerut. Jika dilihat sekilas, wajah mereka berdua terlihat mirip satu sama lain, hanya warna mata dan warna rambut mereka yang membedakan. Sakura menatapnya balik seraya menyengir memperlihatkan gigi rapih putihnya. Sasuke mendengus melihatnya, siapa sih dia? Batinnya mempertanyakan keberadaannya.

Sasori menatap Sasuke seraya tersenyum tipis, terlihat tulus walau sinar matanya sedikit meredup. "Seandainya adikku membuka matanya sepertimu Sasuke," ucapnya kemudian. Itachi menepuk pundak Sasori mencoba menenangkan.

Sasuke menatap Itachi dengan pandangan datarnya seperti biasa, tetapi sorot matanya menyiratkan keprihatinannya. "Semoga adikmu cepat sembuh," ucapnya kemudian.

Sasori tersenyum menganggukan kepalanya. Itachi berjalan kearah koper yang terletak disamping Sakura, lalu menarik bagian gagangnya yang terletak dibagian atas koper. "Kau bisa berjalan sendiri atau perlu kubantu?" tanyanya menatap Sasuke.

Sasuke meraih penyangga yang terletak disamping meja, lalu meletakkannya di tangan kanannya. "Aku bisa sendiri." ucapnya seraya berdiri. Ia berjalan mengikuti Itachi yang membuka pintu kamar dan keluar melewati Sakura, Sasori mengikuti dari belakang Sasuke. Saat berada di depan pintu, Sasuke melupakan jam tangannya yang terletak di dalam laci rumah sakit. Ia berbalik dan menatap Sasori yang menatapnya dengan pandangan bertanya.

"Ada apa?"

"Jam tanganku tertinggal, duluan saja." Ucapnya seraya melewati Sasori.

"Baiklah," lalu keluar ruangan.

Sasuke membuka laci yang terletak disamping tempat tidur, lalu meraih jam tangan silver yang terdapat bercak darah yang sudah bewarna kecoklatan. Mungkin keluarganya tidak mengetahui terdapat jam tangan dalam laci itu sehingga belum sempat dibersihkan. Sasuke berjalan kearah kamar mandi guna mencuci jam tangannya agar dapat ia pergunakan kembali, walaupun kaca jam tangan tersebut sedikit retak dibagian ujuang, mungkin setelah ia pulih ia akan mengganti kaca jam tangan tersebut.

"Sasuke," Sasuke menolehkan kepalnya pada Sakura setelah memasang jam tangan itu di tangan kanannya.

Sasuke menatap Sakura, lalu berjalan kearah gadis itu. "Kau masih disini?" tanyanya kemudian. "Kau tidak pulang?" lanjutnya.

Sakura mengangguk, lalu menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Kurasa aku masih betah disini." Ucapnya terkekeh. "Selamat pulang kerumah Sasuke, mungkin lain waktu aku akan berkunjung ke rumahmu." Ucapnya melanjutkan.

Sasuke menganggukan kepalnya, lalu berjalan melewati Sakura yang berdiri diambang pintu menatap Sasuke yang melewatinya seraya tersenyum. Sasuke melewati Sakura tanpa melirik maupun menatap gadis musim semi tersebut, saat beberapa langkah, ia menolehkan tubuhnya untuk mengatakan sesuatu.

Gadis itu tidak disana.

Itachi menunggu di depan pintu keluar, dilihatnya Sasuke yang jalan tertatih-tatih dan menjadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit terutama gadis muda. Sasuke berdiri di depan Itachi, lalu Itachi menggeser koper yang ia pegang. "Aku akan mengambil mobil dulu, Sasori akan ikut pulang bersama kita, tetapi dia mengunjungi adiknya terlebih dahulu. Kau tunggulah disini," Ucapnya lalu pergi meninggalkan Sasuke.

Sasori menatap wajah pucat adiknya yang terbaring dengan peralatan medis yang terpasang di tubuh Sakura. Disamping kiri gadis itu terdapat monitor yang menayangkan gerakan detak jantung yang lemah. Napasnya teratur, wajahnya damai tanpa beban, tetapi matanya tertutup menyembunyikan bola mata besar emerald adiknya.

Sasori menggenggam tangan dingin itu yang tidak terdapat impus, menatapnya dalam lau menciumnya dengan memejamkan matanya. Setetes air matanya jatuh. Setelahnya ia meletakkan tangan itu kembali ke atas perut adiknya, masih menggenggamnya, lalu menundukan kepalanya mencium keningnya. "Cepat sembuh mouchan, oniichan selalu mencintaimu." Ucapnya lalu meninggalkan Sakura dalam tidurnya.

Sasori berjalan menghampiri Sasuke yang berdiri di depan pintu rumah sakit, lalu menepuk pundaknya. "Itachi kemana?" tanyanya.

Sasuke menolehkan kepalanya, "Mengambil mobil." Ucapnya. Sasori menganggukan kepalanya mengerti. Mobil hitam berhenti di depan keduanya, terlihat Itachi yang membuka kaca mobilnya menatap Sasuke dan Sasori. Itachi membuka bagasi mobilnya, dengan inisiatif Sasori meraih koper yang ada di samping Sasuke dan memasukannya dalam bagasi. Sasuke berjalan ke arah samping kemudi, lalu masuk dalam mobil setelah dibukakan oleh Itachi dari dalam mobil.

Setelah Sasuke menurup pintu mobilnya, Sasori membuka pintu penumpang, lalu duduk di belakang Itachi. Mobil itupun pergi meninggalkan rumah sakit. Sasuke menatap bunga sakura yang terlihat dari jendela kamar rawatnya. Disamping pohon itu terdapat sebuah tempat untuk anak-anak bermain dengan pasir pantai dibawahnya. Onyxnya melihat Sakura yang sedang bermain dengan tiga anak kecil yang sedang membuat istana dari pasir pantai tersebut. Tanpa sadar, kedua ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan tipis.

Itachi melirik Sasuke dengan kening yang dikerutkan, "Ada apa Sasuke?" Ucapnya tanpa menghilangkan fokusnya bekendara.

Sasuke diam.

Sasori mengerutkan alisnya.

"Kuperhatikan kau meliat kearah bunga sakura itu terus eh?" Itachi membayar parkir mobilnya.

"Hn,"

Sasori memandang bunga Sakura yang dibicarakan, ia melihat tiga orag anak kecil yang bermain membuat istana dari pasir pantai yang disediakan oleh pihak rumah sakit sebagai sarana bermain anak-anak, disana juga terdapat ayunan, jungkat-jungkit, dan perosotan. Kelopak sakura terbawa angin menghampiri anak-anak yang bermain, sehingga pasir pantai bertabur bunga sakura. Ia menatap anak-anak itu dalam diam, sekelabat surai merah muda menghampiri pandangannya. Ia berkedip. Tetapi hanya kelopak bunga sakura terlihat.

Sasori menghela napas berat.

Hening.

"Bagaimana keadaan adikmu Sasori?" Itachi memecahkan keheningan, menatap Sasori dari kaca.

Sasori menghela napas berat, "Masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya."

Itachi menganggukan kepalanya.

"Seandainya aku tahu bahwa dia akan mengelami kecelakaan, lebih baik aku memaksanya untuk ikut denganku ke Suna." Ucapnya menyesal.

Itachi menatap Sasori prihatin. Ia tahu apa yang dirasakan oleh sahabat merahnya itu, karena ia juga merasakan saat ia diberi kabar bahwa Sasuke kecelakaan. Hanya saja ia lebh bersyukur karena Sasuke hanya mengalami keretakkan tulang di bagian kaki dan dapat pulih kembali seperti sedia kala. Tidak seperti adik sahabatnya yang hingga saat ini terbaring koma.

"Apa kecelakaan itu benar-benar parah?" Itachi ingin merutuki kebodohannya. Tentu saja ia tahu pasti sangat parah jika korbannya mengalami koma dan belum bangun hingga saat ini.

Sasori menatap jalanan kota Konoha yang ramai lancar dengan kosong, "Jantung." Diam. "Selain kecelakaan itu, dia menderita kelainan jantung karena ia terlahir prematur saat usianya 6 bulan. Tubuhnya sangat kecil dan lemah, aku melihatnya dari foto yang diberikan oleh ayah." Lanjtnya. "Dia adalah wanita yang sangat aku sayangi setelah ibu, dia adikku yang terbaik, dia selalu tersenyum walaupun aku tahu hidupnya tidak seindah senyumannya." Ucapnya lagi.

Sasuke diam. Tetapi menyimak dengan baik apa yang dikatakan sahabat dari kakaknya.

"Kau tidak pernah cerita sebelunya sasori." Itachi kaget dengan penjelasan sahabatnya itu. Ia beberapa kali bertemu dengan Sakura, gadis ceria yang selalu memeluk Sasori ketika laki-laki itu kembali ke rumah.

Sasori diam menghiraukan perkataan Itachi, lalu memejamkan matanya. "Jika dalam waktu dekat ini pihak rumah sakit belum mendapatkan pendonor yang tepat untuk Sakura," jeda. "Dia tidak akan berada di sampingku lagi." Lanjutnya berat.

Itachi hampir menabrak mobil dihadapannya jika ia tidak mengendalikan laju mobilnya lagi, terkejut mendengar kabar itu. Sasuke menatap kakanya yang mencoba tenang. Ia tidak terlalu mengerti apa yang mereka berdua bahas, ia tidak mengenal adik Sasori itu siapa.

"Apa pihak rumah sakit belum mendapatkan pendonor?"

Sasori menggelengkan kepalanya, Itachi melihatnya dari kaca. "Aku mengajukan diriku sebagai pendonor." Itachi tersentak, hampir menabrak mobil dihadapannya lagi.

"Hari-hati Itachi!" Sasuke menatap kakaknya khawatir, walaupun tidak ditunjukan dengan ekspresi wajahnya. Dia tidak mau masuk rumah sakit lagi.

Sasori menatap Itachi, menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Sasuke.

"Maafkan aku." Ucapnya kemudian.

"Bukankan pendonor jantung itu tidak bisa dilakukan untuk orang yang sehat?" Sasuke bertanya. Itachi dan Sasori menatapnya. Sasuke mengalihkan pandangannya kesamping, menatap kendaraan. "Aku hanya mengemukakan apa yang aku tahu," lanjutnya.

Itachi dan Sasori menganggukan kepalanya paham. Benar apa yang dikatakan Sasuke. Pendonor organ dalam jantung memang tidak bisa dilakukan oleh orang yang sehat, biasanya pendonor akan mendonorkan organnya apabila mereka memiliki penyaki parah atau keadaan tertentu yang membuat mereka kehilangan kesempatan untuk hidup.

"Kau benar, oleh karena itu keluargaku tidak menyetujuinya dan dokter pasti tidak akan melakukannya," ucapnya.

Itachi mengangguk menegerti, menyetujui apa yang dilakukan orang tua Sasori dan kebijakan dokter tersebut. "Jika aku jadi keluargamu, tentu aku juga akan melarangmu." Ucapnya kemudian.

"Jika kau berada dalam posisiku apa yang akan kau lakukan?"

Hening.

Sasuke melirik Itachi yang tenang menyetir, tetapi ia tahu jika kakaknya itu berpikir. Sedikit banyak Sasuke penasaran apa yang akan Itachi jawab. Jika yang dalam posisi koma di rumah sakit saat ini Sasuke dan memerlukan pendonor jantung. Itachi berpikir keras dalam diamnya, jika Itachi yang berada dalam posisi Sasori, mungkin ia akan melakukan hal yang sama.

"Tentu aku akan melakukan hal yang sama denganmu Sasori" ucapnya singkat.

Sasuke tersentak. Sasori tersenyum.

"Apa maksudmu?" Sasuke menyahut ketus. "Jika aku jadi adiknya dan tahu bahwa kakakku mendonorkan jantungnya untukku setelah aku bangun, tentu aku akan sangat kecewa." Lanjutnya.

Sasori menatap Sasuke dalam diam, tidak meyetujui pendapat Sasuke. "Mengapa kau kecewa? Kau tahu bahwa itu aku lakukan demi keselamatan adikku!" lanjutnya penuh penekanan.

Sasuke mendengus, "Kau bilang bahwa adikmu memiliki penyakit jantung, dan kau bilang bahwa dia selalu tersenyum ceria. Pasti dia menyembunyikan rasa sakitnya dari orang-orang yang ia sayangi, tentu ia tidak mau membuat orang-orang disekitarnya khawatir. Akan sangat kecewa bila ketika dia bangun dan mengetahui bahwa kau tak ada, untuk apa selama ini bertahan?"

Itachi diam. Tidak menyangkan Sasuke akan berbicara sepanjang itu. Tetapi diam-diam dia menyetujui ucapan Sasuke.

Sasori terdiam.

Hening.

Sakura menatap Konohamaru yang tersenyum kearahnya tanpa beban, kepalanya tertutup dengan topi bergambar bola dibagian tengah. Anak itu bermain dengan ketiga temannya, ia juga ikut bermain membuat sebuah istana dari pasir pantai disana. Ketiga anak itu berusia sekitar enam tahun.

Sebelumya ia sudah menyelidiki Konohamaru, karena ia sudah mengenal anakitu sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah sakit ini. Konohamaru adalah salah satu pasien rawat jalan di rumah sakit konoha, tempat ia berada sekarang. Anak laki-laki berusia enam tahun yang memiliki penyakit kelainan hati yang masih bertahan dan segera membutuhkan pendonor hati yang cocok untuk anak itu.

"Sakura oneechan!" ucapnya seraya menyengir menunjukan giginya yang tumbang dua dibagian depan seraya menunjuk istana pasir buatannya. "Punya Konohamaru bagus tidak?" ucapnya semangat.

Sakura mendekat, lalu tersenyum seraya menunjukkan kedua jempol tangannya keatas. "Bagus sekali Konohamaru," ucapnya lalu menepuk kepala Konohamaru yang tertutup oleh topinya.

"Aku membuat istana yang bagus untuk Sakura oneechan..." ucapnya masih menyengir.

Sakura duduk bersimpuh di depan istana pasir yang dibuat oleh Konohamaru, lalu meraih ranting yang terdapat pada pasir itu. Ia menusukkan ranting itu pada dua daun Sakura yang berguguran, sehingga membentuk sebuah bendera bewarna merah muda. Lalu menancapkan ranting itu dibagian istana milih Konohamaru.

"Istanan ini milik kita berdua," ucapnya kemudian.

Konohamaru tersenyum senang, lalu mencari ranting dan kelopak Sakura yang ada disekitarnya, melakukan apa yang Sakura lakukan tadi. Dan menancapkan di sisi bangunan istana pasir yang lain. "Milik Sakura oneechan dan Konohamaru.."

Sakura tertawa menanggapinya.

Konohamaru juga tertawa.

Dua orang temannya menatap Konohamaru heran.

Sakura kembali menepuk kepala Konohamaru, "Sakura oneechan pergi dulu ya, nanti neechan akan kembali." Ucapnya.

Konohamaru menganggukan kepalanya lalu mencium pipi Sakura secara tiba-tiba. Sakura terkekeh kala Konohmaru menundukan kepalanya malu. Setelahnya ia betdiri dan melambaikan tangannya kearah Konohamaru yang dibalas dengan lambaian tangan hingga Sakura menghilang persimpangan.

Kedua temannya menghampiri Konohamaru yang masih melambaikan tangannya. "Konohamaru?"

"Ya?" Konohamaru menolehkan kepalanya kebelakang, lalu tersenyum menatap kedua temannya yang menatapnya bingung.

"Kau berbicara dengan siapa?"

.

~TBC~

.

Sebenrnya chapter ini udah pernah di publish cuma keapus, jadinya musti di upload lahi haftt...

Makasihh yang udah baca dannungguin yahhh..

Makasih buatt...

Jessica d'little angel : makasih reviewnya yaa...

: syudahhh

cherryl : makasih reviewnya yahh...

RAR : oyaa? Kurang tau kalo ada yang sama jalan ceritanya.. semoga aja ngga yahh

Salam,

Fiyui-chan