Introduction
Aku adalah Kim Jaejoong, tiga puluh tahun. Dua bulan lalu aku dipromosikan menjadi manajer di sebuah perusahaan multinasional. Hidupku begitu sempurna. Aku sangat menikmatinya.
Perjalanan karirku masih panjang. Aku harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan promosi berikutnya. Apa kalian pikir aku sudah cukup puas dengan posisiku saat ini? Tidak, tentu saja tidak. Aku tidak akan berhenti hanya sampai tingkat manajer. Setidaknya targetku adalah menjadi salah seorang dalam jajaran eksekutif di perusahaan ini.
.
.
.
"Jae Sayang, kapan kau akan mengenalkan kekasihmu kepada kami?" Tak ada angin atau hujan, tiba-tiba ibuku melontarkan pertanyaan tersebut saat aku makan malam bersama kedua orang tuaku di rumah. Aku sangat jarang makan malam bersama keluarga di rumah karena aku hampir selalu bekerja sampai larut malam.
Mengapa tiba-tiba nasi yang kumakan terasa sangat keras, sehingga menjadi sulit untuk kutelan? Aku meneguk segelas air sebelum akhirnya aku menjawab pertanyaan ibuku. "Aku tidak mempunyai kekasih, Bu. Aku tak punya waktu untuk memikirkan hal itu."
"Jae, usiamu sudah tiga puluh tahun. Sudah saatnya kau memikirkan masa depanmu," timpal ayahku.
"Aku sudah memikirkan semuanya, Ayah. Kalian tenang saja. Semuanya sudah kurencanakan dengan baik," kataku antusias.
Kedua orang tuaku saling pandang. "Bukan itu maksud kami. Kapan kau akan berkeluarga?"
Aku menatap mereka dengan serius. "Aku sama sekali tidak memikirkannya. Hal itu tidak ada dalam rencanaku."
"Jae, kau adalah anak kami satu-satunya. Kepada siapa lagi kami akan mengharapkan keturunan?" ujar ibuku tak kalah serius.
Hal ini membuatku tertekan. Aku tak ingin menikah, apalagi mempunyai anak. Itu akan menghambat karirku. Aku tidak bisa seratus persen fokus pada pekerjaanku jika aku menikah dan mempunyai anak.
"Kau masih bisa berkarir, meskipun kau sudah berkeluarga." Ayahku seakan-akan bisa membaca pikiranku. Ia sangat tahu tabiatku. Ia paham benar bahwa anak tunggalnya ini sangat ambisius.
"Kau tidak perlu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga jika kau sibuk. Kau bisa merekrut asisten rumah tangga," tambah ibuku. Tampaknya kedua orang tuaku sudah menyiapkan amunisi untuk menyerang dan menyudutkanku.
Aku tak mau mengalah. "Memangnya siapa yang mau menikah denganku, Bu? Aku tak memiliki apa pun yang bisa membuat pria tertarik untuk memperistriku."
"Kau sangat cantik, Sayang." Ibuku tersenyum penuh kemenangan. "Wanita bodoh mana pun, asalkan cantik, bisa membuat pria tergoda, apalagi dirimu yang sangat cerdas."
"Pria akan lebih memilih wanita bodoh daripada wanita yang pintar. Mereka mempunyai ego. Mereka ingin lebih mudah membodohi wanita mereka, bukan sebaliknya." Aku masih tak mau menyerah.
"Apa kau juga berpikir demikian tentang ayahmu ini?" Sepertinya ayah merasa tersinggung. "Tidak semua pria seperti yang kau pikirkan."
Aku melahap buah sebagai pencuci mulut. "Ya, memang tidak semua, tetapi kebanyakan."
Ibuku hanya geleng-geleng kepala. "Jika kau tidak mau mencarinya sendiri, kami akan mencarikan suami untukmu."
"Ayah dan ibu tidak perlu repot-repot," kataku santai sambil kembali melahap buah.
"Kami tidak merasa repot. Untukmu apa pun akan kami lakukan," tambah ibuku. "Beberapa teman ibu mempunyai putra yang belum menikah."
"Ayah juga bisa bertanya kepada teman-teman ayah," tambah ayahku. Mereka terlihat sangat optimis.
Aku mulai merasa tidak nyaman. Kedua orang tuaku bersikap berlebihan. "Sudahlah, ayah dan ibu, aku tak ingin menikah. Mengapa kalian memaksaku?"
"Menikah tidaklah seburuk yang kau bayangkan, Jae. Kau tidak tahu karena kau belum pernah mengalaminya." Kini ibuku berbicara seakan-akan ia adalah seorang ahli dalam hal pernikahan.
"Apa aku harus mencobanya dahulu agar aku tahu bahwa itu buruk?" balasku. "Aku tidak mau merusak kehidupanku yang sudah cukup sempurna."
Ibuku menatapku semakin serius. "Apa kau melihat orang tuamu ini tidak bahagia dengan pernikahan kami? Oh, kami sangat bahagia, apalagi setelah kau lahir ke dunia. Kebahagiaan kami semakin bertambah. Kebahagiaan kami akan bertambah lagi saat melihatmu menikah."
"Tentu saja ibu bahagia karena ibu sangat menyukai peran ibu sebagai ibu rumah tangga. Aku tidak seperti ibu. Aku adalah seorang wanita karir yang mempunyai cita-cita yang tinggi." Aku berbicara sedikit kasar kepada ibuku. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu. Maafkan aku, Bu! Kalian berdua membuatku tertekan.
Ibuku sama sekali tidak marah oleh ucapanku. Ia tetap gigih untuk membujukku. "Bukankah sudah kami katakan bahwa kau tidak perlu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga jika kau tidak mau?"
"Kami akan mencarikanmu pria yang tidak keberatan mempunyai istri yang bekerja." Ayahku tampak berpikir.
Aku beralih menatap ayahku. "Kalau begitu, ayah cari saja pria pengangguran dan pemalas. Ia pasti akan senang sekali istrinya menafkahi dirinya," sindirku.
Ayahku tidak menggubris kata-kataku. "Apa ada lagi kriteria lain yang kau inginkan selain mengizinkanmu untuk bekerja?"
"Oh, ya tentu saja." Aku memutar bola mataku. "Tolong carikan yang tinggi dan tampan seperti... Siapa itu, leader TVXQ?"
"Baiklah, kami akan carikan seperti yang kau minta." Sepertinya ayahku menanggapi serius ucapanku, padahal aku hanya bercanda. Aku bahkan tidak tahu siapa leader TVXQ. Aku hanya ingin membuat mereka kesulitan. "Apa tidak sekalian saja kau minta leader TVXQ yang asli?"
.
.
.
Orang tuaku tidak main-main. Dalam waktu kurang dari sebulan mereka mengatakan bahwa mereka sudah menemukan pria yang cocok untukku. Kupikir mereka tidak akan pernah menemukannya, pria yang seperti leader TVXQ.
"Kami sudah mencarikan seperti yang kau minta. Sekarang kau tidak boleh mencari-cari alasan lagi untuk tidak mau menemuinya. Setidaknya kau harus menghargai usaha kami." Ibuku mengeluh mengenai betapa sulitnya ia menemukan pria itu.
"Jika tidak mirip dengan leader TVXQ, aku tidak mau," kataku angkuh. Aku sangat percaya diri. Tidak mungkin orang tuaku secepat itu menemukan yang benar-benar mirip.
Ibuku sudah ingin berteriak, tetapi ia tampak menahan emosinya. "Ya, tidak mungkin seratus persen mirip, tetapi kami sudah mengusahakan yang semirip mungkin."
Aku ingin menggoda ibuku. Aku menatapnya dengan raut wajah yang pura-pura polos. "Apa kalian menyuruhnya untuk operasi plastik?"
Ibuku benar-benar berteriak sekarang. "Apa kau gila? Mengapa kami harus melakukan hal itu?"
Aku tertawa. Aku senang menggoda ibuku.
.
.
.
Aku tercengang mendengar cerita bagaimana perjuangan kedua orang tuaku mencari pria yang sesuai dengan keinginanku. Entah itu benar atau mereka terlalu mendramatisasinya, yang pasti mereka membuatku terkesan. Mereka sampai mencari foto leader TVXQ itu di internet dan bertanya kepada semua kenalan mereka apakah ada pria yang mirip dengan orang itu. Beruntungnya mereka, salah satu teman ayahku memiliki anak yang yang katanya mirip dengan leader TVXQ itu.
Aku tidak bisa menghindar lagi. Mau tak mau aku harus menemui pria itu. Aku akan menemuinya di sebuah kafe sore ini. Aku berencana untuk mencari-cari kekurangannya dan langsung menggunakannya untuk menolaknya saat itu juga. Rencana yang sempurna, bukan? Hahaha!
Ibuku memberikan alamat kafe tempat kami akan bertemu. Ia tidak memberikan informasi tambahan lain karena aku pasti akan dengan mudah mengenali pria itu. Ibuku benar-benar mengira bahwa aku adalah penggemar TVXQ.
Sampailah aku di alamat yang diberitahukan ibuku. Aku mengenakan gaun selutut berwarna merah muda. Aku mengenakan tas dan sepatu berwarna coklat muda. Rambut hitam panjangku kubuat agak bergelombang. Walaupun aku berniat untuk menggagalkan acara perjodohan ini, aku tetap harus terlihat cantik.
Kafe yang kudatangi ini sudah penuh oleh pengunjung. Tidak ada lagi meja kosong, berarti pria itu sudah datang. Aku melihat ada beberapa orang pria yang duduk sendirian. Di antara mereka siapa yang sedang menungguku? Aku tak mempunyai petunjuk seperti apa pria itu atau pakaian apa yang ia pakai. Aku terpaksa harus mencari foto leader TVXQ di internet. Mataku terbelalak melihat pria yang sedang duduk di sudut ruangan, benar-benar mirip dengan foto yang kutemukan di internet. Bagaimana bisa orang tuaku menemukan pria yang sangat mirip dengan seorang selebriti?
Aku berjalan menghampiri pria itu. "Jung Yunho?"
Pria itu berdiri dan kemudian membungkukkan badannya. "Ya, saya adalah Jung Yunho. Salam kenal, Nn. Jaejoong!"
Aku tercengang melihat sikapnya kepadaku. "Kau tidak perlu bersikap seperti itu kepadaku. Salam kenal!"
Ia mempersilakan aku duduk. Ia terus tersenyum kepadaku. Ia tampan juga, bahkan sangat tampan. "Aku harus menghormatimu karena aku lebih muda."
Apa? Lebih muda? Mengapa orang tuaku mencarikan pria yang lebih muda untukku? Ah, itu karena aku tidak menyebutkan kriteria usia. Ini bagus sekali. Aku bisa menggunakan hal ini untuk menolaknya. "Maaf, aku tidak tahu bahwa kau lebih muda dariku."
Ia terus saja tersenyum kepadaku. Lama-lama aku menjadi tidak nyaman untuk melihat wajahnya. Ia terlalu tampan.
Ia adalah pria yang ramah dan pandai mengajak orang berbicara. Aku yang sejak awal malas berbicara apa pun dengannya bisa terbawa suasana juga. Aku cukup nyaman berbicara dengannya. Hanya satu hal yang membuatku terganggu, senyumannya.
"Yunho-sshi, apa kau sudah diberi tahu bahwa aku tetap ingin bekerja setelah menikah?" Aku tidak boleh melupakan niat awalku. "Maaf, aku berbicara langsung pada intinya, tetapi ini sangat penting dan aku sangat serius."
Ia terlihat gugup, tetapi ia tetap tersenyum. "Ya, aku sudah diberi tahu mengenai hal itu dan aku tidak merasa keberatan."
Aku menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-kataku. "Bukan hanya itu, aku juga ingin privasiku dihormati. Aku tidak ingin urusan pribadiku dicampuri. Seandainya kita benar-benar menikah nanti, aku tidak ingin kita mencampuri urusan masing-masing. Aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan, begitu pun dirimu. Kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan."
Dari raut wajahnya, ia sepertinya terkejut oleh perkataanku, tetapi ia tetap bisa mengendalikan dirinya.
"Aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya." Aku tersenyum dalam hati. Aku yakin ia pasti akan mundur. "Pikirkanlah dengan baik! Ini menyangkut masa depan kita. Jika perlu, kita bisa membuat perjanjian pranikah untuk mengatur segalanya." Aku tahu bahwa aku sangat jahat, membicarakan hal ini pada pertemuan pertama kami. Lebih cepat kuhabisi dia, lebih baik.
.
.
.
Aku sedikit menyesali perkataanku. Apakah perkataanku telah melukainya? Ia adalah seorang pria. Ia harus kuat. Apakah aku terlalu sadis? Entahlah, aku tak pernah sekejam ini kepada siapa pun. Kuharap ia sadar bahwa aku bukanlah wanita yang baik untuknya. Pria baik sepertinya pasti akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku. Mengapa aku memikirkannya?
"Bagaimana kencan pertamamu dengannya?" Ibu tampak sangat bersemangat.
"Membosankan, ia adalah pria yang sangat membosankan," kataku. Aku tidak boleh mengatakan hal yang baik tentangnya.
"Bukan ia yang membosankan, pasti kau yang tidak berminat membicarakan hal lain selain pekerjaan." Ibu benar-benar mengenal diriku. Ia duduk di tepi tempat tidurku. "Dengar Jae, Sayang!" Ia membelai rambutku. "Kau harus menurunkan sedikit egomu. Kau harus belajar untuk mengalah. Kau sendiri tahu bahwa ego seorang pria lebih tinggi. Jangan kau tantang dengan egomu yang tinggi juga!"
Aku menatap ibuku dengan serius. "Apakah harus selalu wanita yang mengalah? Bukankah ini tidak adil?"
"Bukan begitu. Jika di antara kalian berdua tidak ada yang mau mengalah, masalah tidak akan bisa diselesaikan," jawab ibu. "Kita tidak bisa mengharapkan pria untuk mengalah."
"Bagaimana jika aku yang benar?" tanyaku lagi. "Apakah aku harus tetap mengalah juga?"
"Jika kau yakin bahwa kaulah yang benar, berarti kau harus bisa meyakinkannya dengan cara yang lembut. Jangan menantangnya dengan kekerasan!" Ibuku berdiri dan beranjak dari kamarku, meninggalkanku terpaku kebingungan.
Aku terus memikirkan ucapan ibuku. Ternyata menjadi seorang istri itu rumit sekali. Ah, mengapa aku harus pusing memikirkannya? Aku tidak benar-benar akan menikah.
.
.
.
Tiga minggu sudah berlalu sejak pertemuan pertamaku dengannya. Tidak ada kabar apa pun darinya, padahal kami sudah bertukar nomor ponsel. Tentu saja aku tidak akan menghubunginya. Hahaha! Ia pasti sudah menyerah. Pria mana pun pasti akan mundur jika aku mengajukan syarat-syarat semacam itu.
Di hari Minggu yang cerah aku berkutat dengan pekerjaanku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu jika aku ingin mendapatkan promosi lebih cepat. Apa yang bisa kukerjakan sekarang, aku kerjakan sekarang juga.
"Jae, ia datang!" Ibuku tiba-tiba menerobos masuk kamarku, membuat kaget saja.
"Siapa yang datang, sehingga ibu menjadi panik seperti itu?" tanyaku tenang.
"Pria itu, Jung Yunho. Cepatlah ganti pakaianmu dan berdandan! Ia sekarang sedang mengobrol dengan ayahmu di ruang tamu. Jangan membuatnya lama menunggu!" Ibuku keluar lagi dari kamarku secepat kilat.
Apa? Jung Yunho ada di sini? Untuk apa ia datang kemari?
.
.
.
Ia datang sendirian ke rumahku. Mungkin ia tahu alamat rumahku dari ayahnya karena ayah kami berteman. Ia ingin berbicara serius denganku. "Nn. Jaejoong, maaf selama ini aku tidak menghubungimu, tidak memberi kabar apa pun." Ia terlihat sangat gugup.
Aku menunjukkan wajah angkuhku. Bagaimana pun aku lebih tua darinya. Ia harus menghormatiku. "Itu tidak masalah. Aku juga tidak menunggu kabar darimu." Aku menambahkan sedikit senyuman di bibirku. Aku tidak akan menghabisinya dengan sekali hantam, santai saja.
"Lama sekali aku memikirkan apa yang kau katakan terakhir kali." Ia terlihat pemalu, atau mungkin takut? "Setelah cukup lama berpikir, aku sampai pada sebuah keputusan bahwa aku tidak keberatan dengan syarat yang kau berikan."
Aku terdiam sejenak. Bukan ini yang kuharapkan. Apa pria itu sudah tidak waras? Untuk apa menikah jika semuanya dibatasi? "Apa kau serius, Yunho-sshi?"
Ia mengangguk mantap. Tak lupa ia tersenyum. "Aku sangat yakin. Aku ingin menjalaninya dengan serius bersamamu."
Aku bingung. Ini di luar dugaan. Apa yang harus kulakukan? Aku terlalu percaya diri bahwa ia akan menyerah karena syarat yang kuajukan. Tidak mungkin sekarang aku menolaknya dengan alasan bahwa aku tidak menyukainya, karena ia lebih muda, karena ia membosankan, atau hal lainnya. Aku bisa mencari-cari alasan lainnya untuk menyatakan ketidaksukaanku kepadanya, bahkan alasan konyol sekali pun, karena ia terlalu mirip dengan leader TVXQ. Namun, semua alasan itu tidak ada gunanya lagi sekarang. Alasan-alasan seperti itu hanya bisa digunakan sebelum aku mengatakan syarat-syarat yang kuinginkan. "Baiklah jika itu keputusanmu. Sekarang kita bisa lanjut membicarakannya secara detil dan membuat kesepakatan." Aku berniat melakukan hal yang lebih sadis lagi, membuat aturan mengenai hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Tentu saja kami tidak bisa membicarakan hal ini di rumah orang tuaku. Kami berpamitan kepada orang tuaku untuk pergi ke luar. Betapa bahagianya orang tuaku melihat kami pergi berdua.
Kami memesan ruangan khusus di sebuah restoran. Kami tidak ingin diskusi kami diganggu.
"Yunho-sshi, kau ingin makan apa? Aku yang akan mentraktir?" Aku melihat-lihat buku menu.
"Tidak, Nn. Jaejoong. Akulah yang harus mentraktirmu, bukan sebaliknya." Ia berkata dengan sangat lembut dan tentu saja ia tersenyum.
Jika aku jahat, aku bisa saja memesan semua makanan yang ada dalam daftar menu dan membuatnya bangkrut. Akan tetapi, aku tidak sejahat itu. Aku tidak akan melakukan hal serendah itu. Aku tahu bagaimana sulitnya bekerja mencari uang, apalagi gajinya pasti lebih rendah dariku. Meskipun aku berniat 'membantainya' saat ini, aku masih punya hati. Ia juga masih punya harga diri. Ia tidak mau ditraktir oleh wanita.
Aku memutuskan untuk memesan makanan yang cukup murah, tetapi bukan yang paling murah. Ia akan curiga jika aku memesan yang paling murah. Ia pasti akan berpikir bahwa aku melakukannya dengan sengaja dan berpikir bahwa aku merendahkannya karena penghasilannya lebih rendah.
Diskusi kami cukup alot. Kedua belah pihak harus setuju dengan aturan-aturan yang akan diberlakukan. Ternyata ia cukup keras kepala juga.
Aku teringat akan pesan ibuku bahwa aku harus belajar untuk mengalah. Masalah tidak akan selesai jika kedua belah pihak mempertahankan kekeraskepalaannya. Tidak, aku tak ingin mengalah. Perjanjian yang kami buat tidak boleh merugikanku. Aku harus menang. Aku tidak boleh lunak menghadapinya. "Yunho-sshi, jika kau tidak menyetujui hal itu, kita hentikan saja sampai di sini. Tidak akan ada pernikahan. Hubungan kita tidak akan berjalan dengan baik."
Ia langsung membisu. Sepertinya aku menang.
Aku mengambil tasku. "Jika tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, aku pergi."
"Tunggu!" Ia menggenggam pergelangan tanganku dengan erat. "Aku setuju."
Aku mendapatkan kemenangan besar. Aku bisa mengendalikan semuanya.
Senyuman manis di wajahnya pudar. Ia tampak tertekan, tetapi pada akhirnya ia menyetujui semua permintaanku. Mengapa ia tidak menyerah saja?
Perasaanku sedikit tidak enak. Apakah aku sudah melewati batas? Aku merasa sedikit bersalah, tetapi aku tak bisa menarik semuanya kembali.
.
.
.
Aku sudah membuat kesepakatan dengannya. Itu membuatku harus menikah dengannya. Aku menyesal. Mengapa aku tidak langsung menolaknya saja dengan alasan apa pun? Mengapa aku justru mengajukan syarat-syarat itu? Aku sama sekali tak menyangka ia akan menerima syarat-syarat itu.
Kedua orang tuaku tampak sangat bahagia karena aku akan menikah. Jika sudah begini, aku tak tega untuk menyakiti mereka. Aku tak bisa membatalkan pernikahanku dengannya.
Aku bingung. Apa yang harus kulakukan nanti setelah menikah? Tentu saja aku harus melaksanakan semua kewajibanku sebagai istrinya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa aku akan menjadi seorang istri.
Daripada aku bingung tanpa ada ujungnya, aku memutuskan untuk bertanya kepada ibuku. "Bu, ajari aku apa saja yang harus kulakukan setelah menikah nanti!"
Ibuku terlihat sangat senang. Ia mengajariku banyak hal, terutama bagaimana aku harus bersikap kepada suamiku. "Meskipun kau tidak memasak, kau harus memastikan ia makan dengan baik, gizinya terjamin." Ia bahkan mengajariku menyusun menu makanan dengan memperhatikan kandungan nutrisinya. Ternyata merepotkan juga. "Meskipun kau tidak mencuci pakaiannya, kau harus memastikan bahwa pakaiannya dicuci bersih dan ia memakai pakaian yang nyaman. Semua itu cukup mudah dan tidak terlalu menyita banyak waktumu, bukan?" Apanya yang mudah? Berbicara memang mudah.
.
.
.
Hari pernikahanku akhirnya tiba juga. Aku tak bisa mundur lagi. Aku pun sudah memutuskan untuk menjalaninya. Aku tidak perlu mengkhawatirkan karirku karena ia tidak berhak untuk menghambat karirku. Selama ia tidak melanggar perjanjian kami, aku akan bersikap baik kepadanya. Tidak ada salahnya aku berbuat baik kepadanya. Tidak ada salahnya aku membuatnya senang.
Ia berpakaian serba putih pada pernikahan kami. Ia terlihat semakin tampan saja. Aku meleleh melihat senyumannya. Beruntungnya aku mendapatkan suami yang tampan.
.
.
.
Setelah melaksanakan resepsi yang cukup melelahkan, ia membawaku ke rumah baru kami. Kami membayar uang muka dan cicilannya berdua. Ini bukanlah rumahnya atau rumahku, tetapi rumah kami berdua.
Aku tidak ingin pernikahan menghambat pekerjaanku, sehingga aku tidak mengambil cuti untuk pergi berbulan madu. Keesokan harinya aku akan langsung masuk kerja.
"Sekarang sudah pukul sepuluh malam dan besok pagi kita harus pergi bekerja." Suami baruku itu memandangi jam dinding di kamar kami. "Kita tidak punya banyak waktu."
Aku mengerti apa yang ia pikirkan. "Kita lakukan dengan cepat saja agar kita masih punya waktu untuk tidur."
Ia menoleh ke arahku. Tatapannya membuatku merinding, seolah-olah ia akan menerkamku.
Aku menjadi salah tingkah. Aku merasa gugup. Ini wajar karena ini adalah malam pertamaku. Aku tak menyangkal bahwa aku merasa bersemangat dan penasaran seperti apa rasanya.
Ia menerkamku tanpa ragu-ragu. Ia tidak ingin membuang-buang waktu. Ia sangat terburu-buru. Dengan cepat ia menanggalkan pakaianku tanpa menyisakan apa pun.
Aku malu. Aku tak pernah tampil bugil di hadapan seorang pria. Rasanya aneh. Aku tak berani menatapnya.
Sepertinya ini adalah yang pertama juga baginya. Wajahnya memerah, mungkin ia juga malu melihatku tanpa busana.
Aku tak bisa berpikir dengan jernih saat ia mulai menyentuhku, meraba-raba tubuhku. Rasanya enak sekali disentuh olehnya. Ia masih melakukan pemanasan.
"Apa kau sudah siap, Sayang?" Ia berbisik di telingaku.
Aku tak bisa lagi menunggu. Aku sudah tak sabar. Aku ingin segera tahu bagaimana rasanya.
"Aku masuk sekarang ya?" Ia memberitahuku.
"Tunggu!" Kesadaranku tiba-tiba kembali. Aku mendorong tubuhnya menjauh dariku.
"Ada apa?" Ia tampak kebingungan.
Aku mengambil sesuatu yang sudah kupersiapkan. "Pakai ini terlebih dahulu!" Aku memberinya kotak kecil berisi kondom. "Untuk sementara kau pakai itu saja. Jika ada waktu luang aku akan pergi ke dokter untuk memasang alat kontrasepsi."
Ia menatap kotak kondom yang kuberikan dengan tatapan tak percaya. Beberapa saat kemudian ia baru mengenakannya. Sepertinya moodnya rusak.
Aku merasa bersalah karena telah merusak moodnya, tetapi ini harus dilakukan. Aku tak ingin hamil dalam waktu dekat.
Aku mencoba memperbaiki moodnya yang rusak. Aku membantunya memakai kondom. Aku juga mulai menggodanya. Aku bukanlah seorang wanita yang suka menggoda pria, tetapi ia adalah suamiku. Apa salahnya aku menggoda tiruan leader TVXQ ini? Aku sendiri tak percaya bahwa saat ini aku sedang menggoda seorang pria. Aku telanjang dan membuka kakiku lebar-lebar, benar-benar tak tahu malu. Kapan lagi aku bisa melakukan hal tak tahu malu begini tanpa perasaan menyesal dan bersalah?
Ia mulai kembali tersenyum. Moodnya sudah kembali. Ia menarikku ke dalam pelukannya dan menciumku dengan ganasnya.
.
.
.
Pada akhirnya kami tidak tidur semalaman. Niat awal kami memang hanya bermain sebentar, tetapi ternyata itu tidak cukup. Kami berdua lupa waktu. Tiba-tiba saja sudah pagi.
Aku membuatkan kopi untuk suamiku, untukku juga. Aku menanyakan kopi seperti yang ia suka. Ternyata seleranya berbeda denganku. Ia menyukai kopi dengan banyak krim dan tidak terlalu pekat, sedangkan aku menyukai kopi kental yang tidak terlalu manis. Selain kopi, aku juga memanggang roti untuk sarapan.
Saat sarapan ia mulai nakal. Tangan nakalnya menelusup ke dalam rokku dan menggulung stoking yang kukenakan.
"Apa yang kau lakukan?" Aku menyingkirkan tangannya. "Aku harus pergi ke kantor. Kau jangan membuat penampilanku berantakan."
Ia tampak terkejut oleh sikapku. Ia tidak menyangka bahwa aku akan menolaknya.
Aku harus bersikap tegas. Jika aku membiarkannya, kami akan berakhir telanjang di ruang makan atau mungkin pindah ke atas sofa atau karpet di ruang keluarga, atau mungkin ke kamar. Itu tak boleh terjadi. Aku harus pergi bekerja, meskipun aku tak memungkiri bahwa aku juga masih ingin bermain-main dengannya, yang semalam belum cukup.
.
.
.
Aku merasa hubunganku dengannya terasa canggung. Ia seperti menjaga jarak denganku. Ia bersikap sangat hati-hati kepadaku. Ia hanya berani berbuat macam-macam saat berada di dalam kamar. Saat menonton televisi berdua saja kami duduk berjauhan. Suamiku itu aneh sekali. Apa harus aku yang mendekatinya terlebih dahulu? Aku tidak mau. Aku malu. Seharusnya ia yang mendekatiku. Ayo Sayang, mendekatlah kepadaku dan peluk aku dengan mesra! Ah, andai saja ia bisa membaca pikiranku.
Sikapnya terus seperti itu selama berbulan-bulan, padahal kami sudah cukup lama menikah. Awalnya aku berpikir ia masih merasa canggung karena kami baru menikah. Akan tetapi, ini sudah berbulan-bulan. Seharusnya ia tidak bersikap canggung lagi. Mungkin itu memang sifatnya. Mungkin suamiku itu memang bukan pria yang romantis. Sayang sekali, padahal ia sangat tampan. Aku senang memandangi wajahnya, apalagi jika ia tersenyum. Jika ia sudah tersenyum, rasanya aku ingin melompat ke pelukannya.
"Mengapa kau tersenyum-senyum sendiri?" Ia memandangku keheranan.
Aku menjadi salah tingkah. Aku sedang membayangkan dirinya.
"Wajahmu merah. Apa kau sakit?" Ia memegang keningku. "Tidak demam."
Ya, ampun! Memalukan sekali. Mengapa wajahku harus memerah? "Ah, tidak. Aku hanya kepanasan."
Ia segera membuka lemari es dan membawakanku sebotol air dingin. "Ini minumlah!"
Jantungku berdetak kencang. Aku sama sekali tidak mengharapkan perhatian darinya, mengingat ia adalah pria yang dingin dan tak romantis. Aku senang oleh perhatiannya ini. Baginya mungkin ini hanyalah hal kecil, tetapi bagiku sangat berarti. Mungkin sebenarnya ia adalah pria yang perhatian, tetapi ia tidak pandai menunjukkannya.
.
.
.
Aku harus membuat laporan pertengahan tahun. Aku akan sangat sibuk dalam beberapa minggu ke depan. Sepertinya aku juga harus menggunakan hari liburku di akhir pekan untuk bekerja.
"Sayang, aku mendapatkan tiket konser TVXQ. Aku harus bersaing dengan jutaan penggemar untuk mendapatkannya. Bagaimana jika kita menonton konser? Bukankah kau adalah penggemar mereka?" Suamiku itu mengajakku menonton konser pada saat yang tidak tepat, di saat aku sedang banyak pekerjaan.
"Maaf Yunho, aku sedang banyak pekerjaan!" Aku tampak sangat berantakan. Aku belum mandi juga belum sarapan. Makanan di meja makan pasti sudah dingin. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari layar laptopku.
Suamiku pasti kecewa karena aku menolak ajakannya, apalagi ia sudah berjuang keras untuk mendapatkan tiket tersebut. Kudengar sangat sulit untuk mendapatkan tiket konser TVXQ. Tiketnya akan habis terjual hanya dalam waktu beberapa detik. Maafkan aku, Sayang! Jika laporanku sudah selesai, aku tidak akan menolakmu lagi.
.
.
.
Akhirnya laporanku selesai juga. Aku merasa lega. Aku merasa bersalah kepada Yunho karena aku menelantarkannya selama beberapa minggu. Kini aku sudah terbebas dari laporan pertengahan tahun. Aku bisa menghabiskan akhir pekanku bersamanya.
Aku mengharapkan ia mengajakku pergi berkencan. Aku tak peduli pergi ke mana pun, pergi menonton konser atau menonton pertandingan sepak bola di stadion, aku tak keberatan asalkan kami bisa menghabiskan waktu bersama, bahkan jika hanya di rumah, bercinta seharian.
Apa yang kuharapkan tidak terjadi. Ia tidak menghiraukanku. Ia lebih memilih untuk memotong rumput di taman kecil di depan rumah kami, menguras akuarium, mencuci mobil, dan semacamnya. Aku merasa kecewa dan sedih. Ia tidak peka. Kira-kira kapan TVXQ akan mengadakan konser lagi? Mungkin ia akan mengajakku menonton konser lagi.
Aku membuka internet di ponselku untuk mencari kabar mengenai konser TVXQ berikutnya. Sial! Leader TVXQ yang mirip suamiku itu memulai wajib militer beberapa hari yang lalu. Itu artinya mereka baru akan melangsungkan konser paling cepat dua tahun lagi. Aku sedih. Yunho tak akan mengajakku menonton konser lagi.
.
.
.
Setiap akhir pekan ia akan melakukan hal yang serupa. Kapan ia akan mengajakku untuk berkencan? Sepertinya aku harus berhenti berharap. Aku tidak bisa mengharapkan hal itu darinya. Lebih baik aku juga bekerja saja daripada mengisi akhir pekanku dengan menggerutu karena suamiku tidak romantis.
Hal ini akhirnya menjadi kebiasaan kami di akhir pekan. Kami melakukan kegiatan masing-masing. Tidak ada waktu untuk berduaan.
Apakah aku terlihat menyedihkan? Tidak, aku tidak ingin berpikir demikian. Aku bahagia. Setidaknya aku memiliki seseorang di sampingku. Saat aku sedih, aku akan berkeluh-kesah kepadanya. Aku tak berharap ia dapat membantuku menyelesaikan masalahku. Cukup dengan ia mendengarkanku, aku akan merasa lebih baik. Kebutuhan seksualku juga terpenuhi dengan baik. Kami tidak memiliki masalah dengan hal itu. Suamiku itu juga menaati perjanjian pranikah kami. Ia tidak pernah mencampuri urusan pekerjaanku. Ia juga setia, padahal dalam perjanjian pranikah kami ada hal yang akan sangat merugikan diriku, yaitu aku tak boleh melarangnya untuk berselingkuh. Sejauh ini ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia berselingkuh. Ia selalu pulang tepat waktu, justru aku yang sering pulang terlambat. Ia juga selalu meminta izinku jika ia akan pergi ke luar. Meskipun sikapnya dingin, ia adalah pria yang sangat setia. Aku sangat memercayainya. Aku akan merasa sangat sedih dan sakit hati jika suatu hari nanti ia berselingkuh dengan wanita lain. Ah, aku tidak ingin memikirkannya. Saat ini aku hanya ingin memikirkan kebahagiaanku bersamanya. Semoga pernikahan kami terus bertahan sampai maut memisahkan kami.
.
.
.
Ini hanyalah pendahuluan atau pengenalan masalah. Pendahuluan seharusnya diberikan di awal, tetapi ini saya berikan setelah ceritanya karena ternyata banyak yang penasaran dengan sudut pandang Jaejoong, sehingga saya merasa perlu untuk memberikan pengenalan masalah dari sudut pandang Jaejoong.
Justfey: kabar baik. Beberapa bulan ini saya banyak pekerjaan, sehingga tidak sempat untuk menulis cerita. Terima kasih sudah membaca.
Guest: terima kasih sudah membaca.
Bintang: terima kasih.
Iii: terima kasih sudah membaca.
Saaa: saya beri pendahuluan saja. Jika ada kesempatan, mungkin bisa saya tambah epilog sangat singkat.
Anakyunjae: tidak sepenuhnya kembali. Mungkin saya hanya akan menulis cerita sesekali saja jika sempat. Masalahnya sudah selesai. Jadi, ceritanya sudah selesai.
Guest: tidak ada kelanjutan ceritanya karena masalahnya sudah selesai.
Pepepe: ff Yunjae sudah tergusur oleh artis-artis baru.
Cho Minseo: sekarang saya hanya menulis adegan M seperlunya, sesuai kebutuhan cerita, karena isinya begitu-begitu saja. Hahaha!
Tanski: semoga pendahuluan yang saya beri belakangan ini cukup bisa menjawab rasa penasaranmu.
Reka: terima kasih. Tidak ada sekuel. Ceritanya sudah selesai.
Tha626: jika ada sekuel, mau menceritakan apa? Saya tidak ada ide.
My yunjaechun: ternyata bisa membuat dag dig dug juga, padahal saya rasa ceritanya datar dan saya tidak percaya diri saat mempostingnya.
Bornjjeje: saya sedang ingin lari dari kenyataan, sehingga saya iseng-iseng menulis cerita ini.
: saya sudah kehilangan 'rasa' untuk menulis. Mungkin karena terlalu lama hiatus. Saya tidak tahu kapan bisa menulis cerita baru lagi. Kalau pun saya menulis lagi, jangan terlalu banyak berharap bahwa hasilnya akan bagus.
Jeka: hahaha!
Rly: ya tentu saja tidak jadi. Jae sudah melepaskan pekerjaannya. Kasihan kalau tetap cerai juga.
PhantomYi: sudah terlalu lama tidak menulis. Saya sudah kaku lagi.
