180 Degrees
Summary: Ran berusaha bangkit dari kondisinya saat teman masa kecilnya, Kuroba Kaito, tewas dalam kecelakaan. Baru saja ia membulatkan tekad untuk menjadi tegar, seorang murid pindahan datang ke sekolahnya. Wajah murid itu persis dengan Kaito. Namun.. / Warning: author amatir. RnR please!
Disclaimer: Aoyama Gosho
Warning: author amatiran, OOC, OC, kadang OOT, cerita nggak jelas, maybe too much typo, summary nggak nyambung.
Fic ini memang milik Author, tapi chara tetap milik Aoyama Gosho. BAHKAN KID JUGA TETEP PUNYA AOYAMA GOSHO! #galau #okeabaikan
Happy reading!
Author's Playing (?): CHE.R.R.Y. – YUI (bener gak nulisnya kayak gini? ==) Saya ngetik fic ini pake lagu ini.. meski nggak nyambung. Muahahahaha... #AsakoEror #skiptothenextparagraph
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Asako Fuji with proudly presents..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
180 DEGREES
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bel pulang sudah berbunyi. Dengan wajah tanpa ekspresi Ran mengambil tasnya dan langsung meninggalkan kelas. Padahal, biasanya ia akan menunggui Sonoko untuk pulang bersama. Kini, ia tidak mempedulikan hal-hal macam itu lagi.
Baru ia berjalan sekitar lima menit, hujan turun perlahan.
"Yappai, aku lupa bawa payung hari ini...," desah Ran sambil berlari-lari kecil ke tempat teduh. Semuanya berjalan salah. Dari tadi pagi, saat ia dan Sonoko pergi ke toko dan bertengkar dengan orang-orang yang lewat... lalu sekarang, lupa membawa payung. Benar-benar kacau.
Makin lama, hujan pun turun makin lebat. Entah sudah berapa lama Ran menunggu di bawah atap sebuah mini market, hujan terus turun tanpa peduli dengan masalah orang-orang sepertinya. Ia sudah tidak tahan lagi. Sekarang sudah jam setengah lima sore. Kalau ia tidak pulang sekarang, ia takkan sempat untuk menyiapkan makan malam.
Cplak! Cplak!
Ada suara langkah kaki di belakangnya. Ran pun menoleh.
"Mouri-san..?"
"Kudo-kun?"
Ternyata itu memang Kudo. Ran menatap Kudo dengan tatapan heran. "Kenapa kau ada di sini?"
"Aku lupa bawa payung."
"Aku lupa bawa payung," ulang Ran datar. "Itu tidak menjawab pertanyaanku."
Kudo mengangkat sebelah alisnya. "Betulkah?"
"Ya. Aku bertanya kenapa kau ada di sini, bukan kenapa kau dalam keadaan basah seperti ini."
"Itu menjawabnya, tahu. Aku tidak bawa payung, jadi ikut berteduh di sini."
"Terserah deh."
Ran sangat malas berdebat kali ini, jadi ia membiarkan Kudo memenangkan perseteruan. Tiba-tiba Kudo mengalihkan pembicaraan.
"Maafkan aku karena sudah menyinggung Kuroba tadi siang," ucapnya pelan. "Aku tidak bermaksud untuk membuatmu mengingat hal-hal yang tidak ingin kau ingat."
"Tidak masalah," balas Ran dengan nada datar. "Aku sudah terbiasa, sejak kematiannya seminggu yang lalu."
Kemudian kembali hening.
"Kalau boleh tahu.. sebenarnya apa yang terjadi dengannya?" tanya Kudo hati-hati. Ran menatapnya lagi, ekspresi datar menghilang dari wajahnya, tergantikan dengan ekspresi terkejut.
"Kenapa kau ingin tahu soal itu?"
"Yah, karena.." Kudo balas menatap Ran. "Aku melihat kejadian tadi pagi. Ketika ada dua orang pemuda yang sedang diteriaki olehmu, dan kau menyebut-nyebut nama Kaito sambil menangis..."
Blussh!
Sontak seluruh wajah Ran memerah. "Etto... Aku hanya marah karena mereka membicarakan hal yang tidak-tidak tentang Kaito, itu saja."
"Betul kan apa kataku?" tanya Kudo dengan nada datar namun kilat kemenangan tampak di matanya. "Kau pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Kuroba."
Ran mengalihkan pandangan dari Kudo ke genangan air hujan yang berada tepat di depannya. Rintikan hujan yang menjatuhi genangan air itu menghancurkan bayangan wajah Kudo, membuatnya sekilas—dan sekali lagi—mirip persis dengan Kaito. Ran menggelengkan kepalanya lalu bayangan itu buyar.
"Hal itu... kecelakaan Kaito itu... terjadi karenaku."
"Karenamu?" Kudo kebingungan. "Apa maksudmu?"
Ran kembali menatap Kudo, namun kali ini air mata menggenangi matanya.
"Karenaku, Kudo-kun."
"A—apa?" tanya Kudo tidak percaya. Ran mengelap air matanya, kemudian nada suaranya kembali datar.
"Dulu, kami sering bertengkar, mempersoalkan tingkah lakunya—Kaito—yang hampir selalu membuntutiku ke manapun aku pergi," tutur Ran. "Kalau aku pulang sekolah, ia memaksakan diri menemaniku pulang ke rumah. Kalau aku terpaksa menginap di sekolah karena latihan karate, ia pasti memaksa ikut.
"Lama-lama aku menjadi muak." Ran tersenyum sedih sambil menatap rintik-rintik hujan. "Suatu hari, ketika aku pulang dari rumah Sonoko sehabis mengerjakan tugas bersama, aku menyadari kalau aku masih dibuntutinya. Aku pun menjebaknya.
"Aku berkata kepadanya, kalau aku benci dibuntuti dan dijaga terus menerus sejak kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu. Kaito menolak berhenti membuntutiku. Ia berkata kalau ada sesuatu yang membuatnya tak bisa berhenti menjagaku. Aku mendesaknya untuk membeberkan kepadaku hal apa itu. Namun lagi-lagi Kaito menolak. Aku menjadi marah, dan memaksanya meninggalkanku untuk pulang sendiri. Aku pun mengambil jalan yang berbeda dari yang biasa kuambil untuk pulang ke rumah untuk menghindari diikuti oleh Kaito."
Kudo mulai bertanya-tanya stalker macam apa Kaito itu.
Ran melanjutkan tanpa memperhatikan kalau hujan sebenarnya turun makin deras dan hampir membasahi seluruh tasnya. "Aku pun berjalan sendiri pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, aku melihat seorang kakek tua butuh bantuan. Aku menanyakan apa yang bisa kubantu, dan kakek tua itu menjawab kalau ia butuh bantuan untuk berjalan menuju gedung telantar yang baru kulewati sebelumnya. Lalu, aku mengalungkan tangannya ke bahuku dan berusaha membantunya berjalan. Tiba-tiba suara Kaito mengagetkanku. Ternyata dia masih membuntutiku.
"Aku kembali marah dan mendesak Kaito untuk berhenti membuntutiku. Ia sama sekali tidak mengacuhkan nada bicaraku, namun ia malah menawarkan diri untuk menggantikan diriku membantu kakek tua itu agar aku bisa cepat pulang." Menarik napas dalam, dengan gelisah Ran mulai mencabik-cabik sapu tangan yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya. "Walau heran, aku tetap mengizinkannya. Kaito pun mengalungkan lengan sang kakek di bahunya, dan—oh, aku tidak tahu apa yang terjadi."
"Apa maksudmu?" tanya Kudo tertarik.
Ran mendongakkan kepalanya, menatap Kudo dengan heran. "Apa kau tidak melihatnya? Kau belum melihat, apa kesalahanku sebenarnya?"
"Tidak, aku belum melihatnya," sahut Kudo datar sambil membiarkan tetes-tetes air hujan jatuh ke telapak tangannya. "Apa sebenarnya yang—?"
"Tunggu dulu. Aku belum selesai bercerita."
...
Sekarang, Kudo berusaha menahan emosinya akan gadis satu ini. Tadi siapa SIH yang bertanya duluan kepadanya, sampai ia harus menyela cerita panjang itu?
"Baik, akan kulanjutkan," kata Ran sambil tersenyum kecil melihat ekspresi Kudo. "Setelah membantu kakek itu berjalan selama beberapa waktu, tiba-tiba ekspresi Kaito berubah. Ia langsung menatap lurus ke depan seakan kaget dan berteriak kepadaku, menyuruhku lari karena itu jebakan. Aku panik dan kaget. Sang kakek memasukkan tangan kanannya ke saku dan mengeluarkan pistol.
"Kaito mendorong sang kakek lalu mencoba mengambil pistolnya. Aku hanya terdiam ketika ia meneriakkan sesuatu kepadaku—kalau tak salah, ia meneriakkan sesuatu soal lari dan panggil polisi. Aku butuh waktu beberapa menit untuk menyadari kalau Kaito sedang dalam bahaya dan aku harus membantunya. Aku pun berlari menjauh, dan sang kakek sepertinya mencoba menembakku atau apa, karena aku mendengar teriakan Kaito lagi dan bunyi letusan pistol.
"Aku menjadi jauh lebih panik karena itu. Pilihanku ada dua: berlari lebih cepat ke kantor polisi yang jaraknya masih lima puluh meter lagi dari sana atau membantu Kaito agar bisa lolos. Sebelum sempat memutuskan, aku mendengar letusan pistol kedua, namun kali ini berbeda. Letusan pertama, suara Kaitolah yang terdengar pertama kali lalu letusan pistol. Letusan kali ini, pistollah yang terdengar duluan, setelah itu suara Kaito. Aku pun menjadi sadar. Kaito-lah yang tertembak. Dan kakek itu... aku sempat bertatapan mata dengannya lagi dengan kengerian, namun dia pergi! Pergi begitu saja, aku bahkan tidak sanggup untuk mengejarnya!"
Ran menangis tanpa suara; air mata mengalir deras di pipinya. Kudo tertegun lalu bertanya, "Tunggu. Bukankah menurut rumor... Kuroba meninggal karena kecelakaan mobil?"
"Aku dan kepolisian diminta menyembunyikan kebenaran ini oleh ibu Kaito, Chikage-san," isak Ran sambil menyeka air matanya. "Dan—oh, seandainya dari awal aku tidak berusaha menghindari Kaito... seandainya bahkan aku tidak pergi ke rumah Sonoko waktu itu..."
"Sudahlah," tukas Kudo sembari mengambil saputangannya dan menyeka air mata Ran yang lagi-lagi mengalir. "Lupakan kejadian itu, oke? Sekarang, cobalah untuk memandang hal-hal baru—"
"Aku takkan pernah bisa melupakannya!" sergah Ran sambil menepis tangan Kudo dan menyeka air matanya sendiri. "Sampai hari ini, aku bahkan masih mengingat wajah dan tato aneh yang ada di tangan kiri kakek itu, yang masih sempat kulihat sebelum kakek tersebut pergi..."
Mata Kudo melebar keheranan. "Tato? Tato seperti apa?"
"Tato seperti ular-ular bersilangan, saling membelit..," jawab Ran. "Dan salah satu ular berada di paling atas, matanya kemerahan. Sedangkan ular lainnya berada di bawah, matanya hitam..."
Jantung Kudo serasa berhenti berdetak.
Tiba-tiba Kudo mencengkram kedua bahu Ran dengan kedua tangannya dan bertanya dengan ekspresi yang tidak terduga, "Coba kauingat, apa Kuroba meneriakkan nama penjahat itu? Ingatlah!"
Ran terkejut melihat antusiasme Kudo yang tinggi. "A—aku yakin aku mendengar sesuatu," jawab Ran gugup. "Kupikir... semacam su-nee-ku..."
Kudo melepas cengkramannya dari bahu Ran dan menatap kosong ke depan. Apa yang diharapkan sekaligus ditakutinya untuk didengar, ternyata diucapkan juga. Ran menatap Kudo dengan cemas, takut dengan reaksi Kudo yang sama sekali tak terduga.
"Kudo-kun? Ada apa?" tanya Ran pelan. Kudo tidak mengacuhkannya.
"Mouri-san, ada yang ingin kutanyakan kepadamu," kata Kudo pada akhirnya. "Nama kedua orang tuamu... apakah Mouri Kogoro dan Kisaki Eri?"
"Ya..," jawab Ran ragu-ragu. "Walau Kisaki Eri adalah nama gadis ibuku..."
Kudo menutup kedua matanya dan tersenyum; mengejutkan Ran. Sekali lagi.
"Kalau begitu, akulah Penjaga-mu sekarang, Mouri-sama."
.
.
.
.
.
- To Be Continued –
Konbanwa minna-san... Aku kembali~ XD
Fic ini... pada awalnya aku nggak ada rencana bikin Kudo jadi semenyebalkan itu XD (?) tapi entah dipengaruhi oleh apa, jadinya seperti ini.
Dan segala macam penundaan update, salahkan imouto yang ngajak ribut dan mendesak untuk meng-update fic yang SasuFemNaru dulu =_= *kasih death glare ke imouto*
Balas-balas review dulu ah... X3
rinaELF: sip, saya sudah lanjutkan :D Selamat dibaca...
Ghina cii kudou uzumaki: akan saya usahakan... tapi serius loh dari dulu saya nggak jago bikin yang ceritanya pendek-pendek -.-v
Chiaki 'Sha' Akera: MAKASIH BANYAK SENPAI SARAN-SARANNYA! *menangis terharu* T_T
MSN1412: Kai-chan saya bikin tewas? Fu fu fu... *smirk* Typonya yang mana aja? Jelasin dong x33 DAN BERHENTI PANGGIL SAYA AKAI! *frustrasi*
Kuroba Sora: gomen ne... ini wujud kegalauan saya T_T Updated :D
Deidei Rinnepero13: bisa berhenti panggil saya Akai nggak senpai? =_= Insya Allah desktop—err—deskrip bakal saya tambahin kalo dapet ide #sekalilagidigamparsaya. Updated :D
Oke. Karena ripiunya sedikit, jadi gampang kan balasinnya~ XD *entah kenapa seneng*
Oiya, kalau masih ada typo, tolong kasih tau! Dan yang reviewnya ada unsur nimpuk saya pake Akai, tolong hentikan atau saya akan menunda update selama sehari (?) ^_^ (lihatlah ini, Dei-senpai dan kak Dita! W(OAOW))
Sippo deh..
Review please~ Nggak tolak fav juga xDDDD #kepedean
