Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo. Rated M untuk konten dewasa secara tidak langsung. Maybe, Change for genre.
Pairing: Many pairing Yaoi: PrusCan, USUK, NetherIndo, SpaMano, GerIta Etc.
Summary: Coklat berbeda dengan merah. Tanah berbeda dengan api. Begitu pula kita, menusia berbeda dengan iblis...
.
.
.
Coklat berbeda dengan merah. Tanah berbeda dengan api. Begitu pula kita, manusia berbeda dengan iblis. Manusia tidak sama dengan iblis. Dari segi apapun. Baik dari wujud raga yang fana atau tidak maupun akan dunia yang tempat mereka bernaung.
Satu persamaan pasti. Mereka memiliki emosi. Memiliki kegelapan dalam hati. Yang tersimpan dengki.
Apa daya bila mahluk api yang terkutuk ini mencintai kaum sang Adam.
Yang sudah jelas dibenci kaum iblis.
.
.
Merah darah yang terlapisi hitam. Membelah bulat sempurna langit malam menjadi dua. Dikala gaung malam berdendang. Bulu gagak perlahan jatuh ketanah. Yang berasal dari kepak sayap hitam. Tertempel lekat pada punggungnya. Sungging seringai tersayat. Pada seulas wajah tampan. Yang serupa seperti manusia. Sama seperti yang tengah diperhatikannya.
Buai wajah polos terselimut mimpi. Yang terlelap dalam lantun suci. Berselimut hangat dalam dingin. Bocah kecil yang belum ternodai. Oleh apapun didunia ini. Suci tak terkotori. Putih tak terhitami. Target yang sempurna. Bagi dia sang iblis.
Merah darah yang terlapisi hitam. Kini tengah mengembangkan kelam sayapnya. Mencipta desir angin menyayat. Bagi mereka yang disekelilingnya. Dirinya menjauh terbang. Dalam kelamnya malam. Mengembalikan bulat langit kembali sempurna. Diiringi lantun masa depan. Yang mengalun lembut ditelinga.
.
.
Fate Line
(...Bisakah kita melewatinya... Garis tipis sejengkal yang begitu tebal? Bisakah kita mengubah... apa yang sudah digariskan?...)
.
Original Story by Rin
Disclaimer © Hidekaz Himaruya
Hurt/Comfort, Supranatural, Romance, Poetry
Rated M
.
Prolog
.
'Lagi-lagi.'
Ketuk pada kaca. Beradu terdengar. Kelam abu menggantung senada dengan abu dibalik kaca. Jemarinya meraba. Sentuh pada uap dingin yang mengembun pada bening yang merefleksikan samar dirinya. Kilat guntur beradu terdengar. Membelah langit dengan cahayanya. Menghantam bumi dengan kuatnya. Memekakkan telinga yang mendengarnya.
Hujan.
Langit menangis dengan derasnya. Membawa berkah bagi kehidupan dibawah naungan. Namun, indah petang yang tertutup kelam. Membuatnya berpikir hujan itu menyebalkan. Karena mungkin mereka akan datang. Dihari gelap dimana lembab menjadi tempat.
Mereka?
Siapa?
Menjelaskan pun percuma. Karena yang dikatakannya tergantung kepercayaan masing-masing orang. Karena manusia hanya mempercayai apa yang mereka lihat. Yang mereka dengar. Yang mereka rasakan. Karena 'mereka' tidak tampak dimata mereka yang tertutup awan dengki dalam hati. Hanya dapat dilihat segelintir orang yang memiliki kemampuan. Yang diberi karunia lebih. Yang diberi kepercayaan untuk mengetahui dunia selain dunia ini.
Dirinya adalah salah satu dari segelintir orang tersebut.
Terkadang dia berpikir sebenarnya kemampuan ini hanya merepotkan dirinya saja.
Tap.
Tapak langkah diayunkan. Bergaung dalam sepi lorong panjang. Dimana ia kembali beranjak melangkah. Jubah putihnya berkibar panjang. Terhenti langkah seketika. Dihadapan sebuah ruang. Yang ia yakin pasiennya ada disana.
Klek.
Ketika daun pintu terbuka. Iris abu miliknya menangkap sebuah ruang putih menjadi dominan. Dimana seorang pria menjadi satu-satunya objek semata. Menyembunyikan wajah tampan yang sayu. Tertekuk dalam ringkuk. Dalam sedih yang menderu. Keputusasaan akan dunia.
"Bagaimana perasaanmu Willem?" tanya pria kebangsaan Asian lembut pada pemuda Eropa yang menjadi pasiennya.
Ah, ada.
"Tidak bagaimana-bagaimana?"
Perlahan mendengar keluh kesah. Selang waktu menata peralatan untuk memeriksa sang Pria. Kala waktu beberapa pil disodorkan padanya.
"Maksudmu? Kenapa terdengar pesimis begitu?"
Dia disana.
"Tak perlu melembut padaku begitu Nesia. Cepat katakan berapa lama lagi waktuku?"
Memeluknya dari belakang.
Mengucap kata bagai hipnotis yang menyusupi hati.
"Bicara apa kamu? Tentu saja kamu akan sembuh."
"Haha..." tawa kecil yang menggelitik. "Mati pun tidak masalah. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak mau sendiri."
Satu lagi, kegelapan hati yang termakan hasut.
"Kau tidak boleh bicara begitu. Kemana semangatmu dulu waktu kau disini pertama kali?"
"..." tanpa jawab akan tanya. Dirinya menatap pada dia yang tak disadari oleh sang Pria.
"Kau tidak sendiri Will, aku akan bersamamu. Membantumu."
Sirat abu menatap menantang.
Pada 'dia' yang tertawa dibelakang.
Berusaha menjerumuskan yang tersayang kedalam lubang hitam untuk bersatu menjadi kaumnya.
.
.
Rintik hujan yang berturun deras telah terhenti. Terganti malam berpadu rembulan. Lyla yang manis memandang jauh. Dari balik pembatas bening yang menghalangi dibalik singkap tirai yang menutupi. Berbalut sehelai kain putih. Menutupi tubuh tak bercela yang telah terkotori. Oleh kepuasan nafsu batin. Terdiam dalam hening. Membisu berdiri meniti. Tanpa bergerak sesenti. Sampai terasa eksitensi lain.
Tangan kekar itu terulur, pada dia yang membisu. Memeluk dalam rengkuh. Hangat tubuh yang tak tertutup.
"Matt..." bisiknya pada dirinya yang pasrah terlena dalam rengkuh. Angin malam yang menusuk. Berhembus masuk menyibak kain putih. Hingga berkibar lembut teralun bisu. Lyla violet yang sayu. Menatap Ruby dengan seulas senyum. Yang manis terukir halus. "...Gil..."
Menghapus jarak terbentang. Dalam sebuah sentuh panas. Dalam waktu yang tak sebentar. Terhanyut dalam kepuasan. Terlena dalam hasrat. Tenggelam dalam kebebasan. Membuatnya tak peduli apapun lagi. Dalam ruang gelap dimana rembulan menyusup bersinar. Dimana semilir malam mengalunkan nada. Mengiringi mereka yang bersatu dalam kesatuan. Tulus dari lubuk hati terdalam.
Dimana hati yang tulus itu tengah dipermainkan mereka.
Lepas dari semuanya. Seringai dan senyum saling menyapa. Betatap dalam perpaduan warna. Yang serupa namun tak sama. Tangan mungil itu terulur terangkat. Memeluk kekar bahu polos yang memeluknya. Memberi hangat yang sama. Dengan apa yang dirasakannya. Dalam rengkuh hangat memabukkan, bisik cinta mengalun ditelinga. Bersamaan hembus nafas yang membuatnya merona.
"Ich liebe dich."
Mahluk yang selalu menghasut manusia agar tenggelam dalam jurang kegelapan bernama kekecewaan.
.
.
Lembar putih terbalik kembali. Menampakkan kalimat lain. Yang tergores tinta tulis. Zamrud itu kembali memicing. Merasa lelah meyerang kembali. Dengus pasrah yang terhembus. Membuatnya menutup buku. Tak kuat melanjutkan kembali kegiatannya. Berputar Zamrud menatapi. Sekeliling yang telah sunyi. Yang terpecah sebuah bunyi. oleh sebuah ketuk kecil. Menatap pintu yang terketuk. Keluar sebuah suara yang mengizinkan masuk. "Masuklah."
Klek.
Pintu yang telah terbuka. Menampakkan sesosok pria. Dimana safir menghias tampan wajah. Yang merenggut menatapnya. "Kau belum tidur?" tanyanya.
"Kau sendiri?" balik ia bertanya. Membuat sebuah langkah mendekat, terduduk dihadapannya. "Matt, belum pulang."
"Dia sudah memberitahu akan menginap 'kan?"
"Aku tetap khawatir."
Khawatir akan sesuatu. Membuat buruk prasangka menusuk.
Secangkir teh hangat. Tertelan dalam teguk hingga habis seketika. Kala selesai bunyi berdentang. Dirinya kembali angkat bicara. Pada dia yang mengkhwatirkan belahan jiwanya. Yang tengah berpergi merantau sesaat. Meninggalkan mereka berdua dalam sebuah kediaman yang mereka tempati bersama.
"Tidak perlu khawatir begitu. Jangan terlalu mengekangnya."
Dalam kata yang menenangkan. Tersimpan dusta didalamnya.
"Toh, besok dia juga pulang."
Dalam kata manis yang tak lebih dari kebohongan belaka.
"Tenang saja."
Agar kita tak menyadari, bahwa mereka tengah berusaha menjatuhkan kita.
.
.
Bergelung dalam sekain selimut. Yang memeluknya hangat. Tanpa berusaha terlelap. Dirinya kembali mengerjapkan mata. "Vee~." Khas kata yang terucap. Membuat diri yang disampingnya terbangun dalam satu sentak.
"Kenapa Feli?" tanyanya. Pada Amber manis dalam pengihatannya.
"Vee~, Ludwig. Malam ini menyeramkan."
Keluh yang teralun. Pada diri yang terkejut takut. Yang terrengkuh dalam peluk. Erat pada tubuh kecil yang gemetar. Semakin kuat ia lakukan. Sambil membisik ucap lembut. Mengalun tenang dari safir yang tertutup.
"Tidak ada apa-apa Feli. Itu hanya perasaanmu."
Hati yang polos, dapat merasakan.
Mereka yang mengawasi dalam diam.
Dibalik gelap sambil tertawa nista.
"Tidurlah. Aku akan memelukmu agar kau merasa aman."
Melihat kebodohan manusia.
.
.
"Gezz."
Maki kasar yang terucap. Dari wajah manis bermulut pedas. Yang terduduk dikala gelap. Dimana malam semakin meninggi diluar. Tak bisa menutup mata hingga sekarang. Membuatnya mengeluh sendirian. Karena sang terkasih telah terlelap dalam buai manja.
"Dia malah tidur."
Ingin ia mengamuk memaki diri yang tertidur lelap. Namun, tak sampai hati ia melakukannya. Menangkap segurat lelah yang tersirat. Pada wajah kecoklatan yang selalu tertawa ceria. Dihadapan semua orang yang bertemu dengannya.
Membohongi hati juga orang lain. Tak lebih dari seperti musuh dalam selimut.
"Tomato bastard..."
Bisik lirih yang teralun. Membuatnya terkejut terpaku. Mendapati dirinya telah terrengkuh. Dalam tarik yang membuatnya terjatuh. Hingga merah yang tabu tertunjuk. Emerald yang berkilat licik. Membuat bergidik hati. Yang menatapnya penuh kasih.
"Ada apa Lovi~?"
Tanya yang teralun lembut. Membuatnya berpikir semua yang telah terjadi palsu. Tak pernah sekalipun dirinya berpikir. Emerald yang merengkuh menatapnya benci.
"Temani aku, Bastard." Merah merona yang terlukis manis. Membuatnya terkikik kecil. Karena bibir yang selalu membohongi hati.
"Tentu saja Lovi."
Dalam hening yang mengalun. Kedua insan tengah bersatu. Dalam hangat yang memeluk. Diantara mereka yang berpeluk.
Bodoh. Bodoh. Bodoh.
Itulah yang dipikirkan mereka.
Pada kita yang mudah dibohongi.
Yang tak kunjung sadar akan dosa yang membumbung tinggi.
.
.
.
TBC
.
.
A/N: Chapter ini masih seperti prolog cerita jadi maklum kalau pendek. Bagi para reviewers kali ini saya tidak membalas review. Karena besok mungkin neraka akan berkunjung. Doakan ketabahan hati saya dan teman-teman saya menghadapi hari esok.
Saya berharap anda puas dengan cerita ini. Sekian
REVIEW?
