Chapter 2 update! Terima kasih yang sudah me-review cerita saya#teriakhisteris#spechless. jika readers sulit untuk membayangkan karakter OC, readers bisa liat di foto profil saya.

Replay review:

Gemini otaku-chan

Arigatou sudah mau me-review fanfic saya#cium#uhuk#histerissendiri. Untuk chapter kali ini ceritanya cukuppanjang dan semoga tidak mengecewakan#shy.

Terimankasih atas masukannya. Kritiknya sangat bermanfat bagi saya. Saya akan menulis chapter fanfict ini dengan lebih baik lagi!

Enjoy reading!

KARAKTER MASIH HAK CIPTA DARI FUJIMAKI TADOTOSHI-SAN

EYD BERANTAKAN, CERITA YANG MASIH ABSURD, MUKKUN YANG OOC#PLAK

DON'T LIKE DON'T READ

Suasana makan malam keluarga Akashi begitu tenang. Ny. Akashi memandangi kedua anaknya dan memulai pembicaraan,"Bagaimana dengan sekolah kalian hari ini? Baik-baik saja, bukan?"

"Semua berjalan lancar,karena aku absolut" jawab Seijurou.

"Bagaimana denganmu Luce?" tanya Ny. Akashi. Luce menghentikan suapannya.

"Not bad. Seperti murid baru kebanyakan, menjadi bahan perbincangan seluruh murid di kelas. Sekolahnya sangat bagus, fasilitasnya juga. Walau cafetaria nya begitu ramai dan riuh, aku tidak terlalu suka."

"Ibu akan buatkan bento untukmu besok. Apa Sei juga mau?"

"Arigataou oba-san." Seijurou mengalihkan tatapannya kepada Luce. "Tadi aku melihatmu di sekolah. Dan sepertinya aku perlu mengajari cara memakai seragam dengan benar." Luce menaikkan sebekah alisnya. mengajarkan cara memakai seragam? Memangnya usianya lima tahun?

"Maaf jika cara berpakaianku merusak penglihatanmu. Dan, tidak terimakasih. Aku bisa mengenakan pakaianku sendiri. Di sekolahku dulu tidak mengenakan seragam seperti di Jepang. Jadi aku belum terbiasa."

"Itu tidak bisa dijadikan alasan. Aku tidak ingin melihatmu berpakaian seperti tadi siang. Kenakanlah seragam seperti semestinya besok. Aku adalah ketua OSIS di sekolah jangan mempermalukanku dan keluarga Akashi. Satu hal, perintahku adalah absolut."

Luce menghela nafasnya. Satu hal yang ia tahu tentang kakak tirinya itu. Ia sangat suka memerintah.

Luce duduk tenang di kursinya. Ia merogoh kantong blazernya, mengambil ponselnya. Ia membuka file video. Di video itu terlihat dirinya. Berada diatas panggung, mengenakan dress putih panjang. Jemarinya menari-nari di tuts piano. Dulu saat Luce masih di Amerika, dia selalu mengikuti sebuah pentas musik. Luce adalah seorang pemusik sejati. Ia mengenal musik sejak usia dua tahun dari mendiang ayahnya. Ia juga sering berduet dengan sang ayah. Tapi sejak kematian ayahnya saat ia masih berusia sepuluh tahun, Luce tidak pernah menyentuh alat musik apapun.

Tiba-tiba seluruh gadis didalam kelasnya berteriak histeris sambil memandang keluar jendela yang menghadap persis ke gerbang sekolah. Kagami Taiga, teman sekelasnya yang duduk tepat disebelahnya berjalan melewati gerbang sekolah. Beberapa menit kemudian Seijurou dengan seorang laki-laki jangkung mengekor melewati gerbang. Para gadis semakin berteriak histeris dan mulai bergosip tentang mereka. Kagami Taiga, anak pemilik restoran Jepang termewah dan telah membuka cabang diberbagai negara, bahkan Eropa dan AS.

"Kagami-san sangat keren. Dia sangat tampan dan pandai memasak. Bukankah itu hebat?"

"Murasaki-san juga keren. Kudengar, cake buatannya sangat enak. Usaha toko kue keluarganya juga tidak kalah sukses dengan restoran Kagami-san." Luce memandangi 'objek' yang di jadikan bahan pembicaraan. Ia melihat kakak tirinya yang berjalan angkuh memasuki gedung sekolah. Tiba-tiba, Murasaki mendongakkan kepalanya ke atas. Tanpa sengaja menatap jendela tempat Luce duduk. Tatapan mereka bertemu sesaat. Namun Luce segera memutuskan kontak diantara mereka.

Pelajaran fisika hari ini tidak menarik perhatian Murasaki. Fikirannya dipenuhi wajah gadis itu lagi. Pagi ini saja, gadis itu sudah membuat dirinya uring-uringnan dan membuatnya seperti di atas awan. Pagi hari saat ia baru memasuki perkarangan sekolah, tanpa sengaja ia mendongak dan mendapati gadis yang menyerupai porselen itu di dekat jendela. Tatapan mereka sempat bertemu dan membuat jantungnya berdetak takteratur. Dia sangat ingin berpapasan dengan gadis itu lagi, namun tanpa adegan 'tabrakan' seperti sebelumnya.

Luce berjalan menyusuri koridor seperti biasanya. Ia berencana untuk ke perpustakaan untuk meminjam buku sejarah dan sastra harus mengejar beberapa mata pelajaran yang tertinggal karena perlajaran tersebut tidak ia pelajari samasekali di AS dulu. Terutama sastra Jepang. Luce menyusuri setiap rak buku, memilih buku yang akan dipelajarinya. Sebuah meja yang terletak di dekat jendela menjadi pilihannya untuk dijadikan tempat ia membaca.

Matanya menyusuri setiap kalimat dalam buku. Ia begitu tenggelam dalam bacaannya hingga tidak menyadari seseorang duduk dihadapannya.

"Kau suka dengan sastra Jepang?"suara bariton khas laki-laki menggema ditelinganya. Ia melihat kesumber suara tersebut dan mendapati anak laki-laki berambut baby blue dan wajah yang kawai#uhuk di depannya. Luce tersentak saat menyadari anak laki-laki itu sudah berada dihadapannya.

"Aku hanya ingin mengejar pelajaran yang tertinggal."Jawab Luce singkat setelah berusaha menguasai keterkejutannya.

"Kau murid baru? Namaku Kuroko Tetsuya. Yoroshiku. Jika kau perlu bantuan tentang sastra dan sejarah, kau bisa meminta bantuanku. Aku salahsatu pengurus perpustakaan."

Manik mata Luce membulat sempurna mendengar pernyataan Kuroko. Ia tersenyum untuk pertama kalinya sejak kedatangannya ke Jepang.

"Benarkah?Aku tertolong kalau begitu. Aku kesulitan mempelajari sastra dan sejarah Jepang dalam waktu singkat. Mohon bantuannya, Kuroko-san." Bel tanda pelajaran berikutnya berdenting. Luce segera merapikan buku-bukunya dan bergegas meninggalkan perpustakaan.

"Ano, siapa namamu?"tanya Kuroko saat Luce mencapai pintu perpustakaan.

"Panggil saja Luce." gadis itu melambaikan tangannya dan kemudian pintu perpustakaan tertutup diiringi derap langka Luce yang semakin menjauh.

"Arigatou Kuroko-san. Aku tidak bisa membayangkan jika tidak bertemu denganmu. Aku benar-benar tertolong." Luce menyusuri koridor bersama dengan Kuroko-san.

"Tidak masalah. Aku juga senang kau sangat cepat belajar. Aku yakin kau bisa segera menyusul ketertinggalanmu, Rune-san." Luce tersedak choco milknya saat mendengar Kuroko menyebutkan namanya. "Ada apa Rune-san? Daijoubu?"

Luce mengangguk. "Maaf, aku hanya terkejut dengan caramu menyebutkan namaku."

"Begitukah? Lidah orang Jepang memang berbeda dengan lidah orang asing sepertimu." Ujar Kuroko datar tanpa merasa tersinggung.

"Kau benar. Ibuku juga orang Jepang, namun dia sangat fasih menyebutkan namaku. Mungkin karena dia sudah lama tinggal di luar negeri."

"Ruche-san, kalau boleh tahu, kenapa kau pindah ke Jepang?"

Luce menerawang sejenak, "Ibuku ingin melupakan kesedihannya karena karena kematian ayahku. Akupun juga begitu. Bukan hanya karena itu saja, ia juga kembali ke Jepang karena dia menikah lagi dengan pria asal Jepang. Karena itulah aku disini."

"Gomennasai. Seharusnya aku tidak menanyakannya."ujar Kuroko dengan raut wajah menyesal. Luce membalasnya dengan senyuman tipis.

"Daijoubu. Lagipula, terlalu lama larut dalam kesedihan atas kepergian seseorang yang kita cintai itu tidak baik, bukan?"

"Hoi Kuroko!" Luce dan Kuroko reflek melihat kesumber suara dan mendapati Kagami memandangi mereka.

"Kau? Bukankah si murid baru itu? Kau kenal dengannya Kuroko?" tanya Kagami yang terlihat terkejut karena pertama kalinya melihat Kuroko bersama seorang gadis.

"Kami kenal di perpustakaan kemarin. Aku membantunya untuk mengajarinya pelajaran sastra dan sejarah Jepang, dia sekelas dengan Kagami-san, bukan?" Kagami hanya mengangguk sekilas dan kemudian terdengar suara bel tanda pelajaran berikutnya akan dimulai.

"Bel sudah berbunyi, jadi aku akan ke kelas. Jaa Kuroko-san,Kagami-san" Luce tersenyum dan berjalan meninggal Kuroko dan Kagami.

"Aku juga akan kembali ke kelas. Apa Kagami-san ju.. Kagami-san? daijoubu ka?" tanya Kuroko saat mendapati Kagami hanya diam terpaku di depannya.

Kagami tersentak,"Daijoubu. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Mukamu memerah. Apa Kagami-san demam?"

Luce duduk sendiri di cafetaria. Ia memesan udon dan ocha. Saat Luce sedang mencerna makananya tiba-tiba...

"Apa Rune-san selalu sendirian?" Luce tersentak hingga menjatuhkan sumpitnya ke lantai. Kuroko dengan wajahnya yang datar sambil menyesap vanilla shake kesukaannya.

"Apa kau mempelajari ilmu sihir menghilang atau semacamnya Kuroko-san? Sejak kapan kau ada disini?"

"Aku sudah disini sebelum Rune-san duduk." Luce bingung dan kaget. Bagaimana bisa ia tidak menyadari kberadaan Kuroko sejak duduk disini? Luce benar-benar tidak merasakan aura keberadaan laki-laki berambut baby blue ini.

"Kau si murid baru. Kenapa ekspresimu seperti itu?" tanya Kagami yang langsung menempati kursi didepannya. Luce hanya membalasnya dengan gelengan kepala.

"Kagami-san kenapa lama sekali?"tanya Kuroko tiba-tiba

"Arghhh Kuroko! Sejak kapan kau ada disini?!" teriak Kagami frustasi

"Sejak tadi. Kau saja yang tidak tahu." Kagami nyaris saja akan melemparkan nampan makanannya ke arah Kuroko namun terhenti saat suara tawa terdengar didepannya.

"Kalian benar-benar akrab. Di sekolahku dulu, aku tidak pernah memiliki teman seperti kalian. Sepertinya aku sangat beruntung bisa bertemu kalian." Luce tersenyum sangat cantik sehingga menimbulkan reaksi jantung yang berdentum keras pada Kagami.

Mereka berbincang-bincang dengan selingan senyuman Luce saat Kagami mulai kesal dengan tingkah Kuroko. Mereka tidak menyadari, bahwa sejak tadi seseorang sedang memperhatikan mereka. Perlahan, orang tersebut berjalan mendekati mereka.

"Sepertinya, kau sudah memiliki teman baru Rune." seketika suasana menjadi hening didalam cafetaria. Sebuah kejadian langka jika seorang Akashi Seijurou menyapa seseorang hanya untuk sekedar basa-basi seperti sekarang

"Akashi"sapa Kuroko

Luce tersenyum dan mengangguk, "Begitulah. Sekolah ini tidak begitu buruk. Aku juga sudah mulai nyaman berada disini."

"Benarkah. Bagus jika begitu. Aku lihat, seragammu juga sudah memenuhi peraturan sekolah. Kau harus mempertahankannya."ultimatum Akashi Seijurou

"Aka-chinn~" panggil seseorang dari belakangnya. "Mengapa kau pergi begi..." Murasaki terpaku. Reaksi itu muncul lagi di dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Gadis itu. Sudah berada tepat di depan matanya.

"Hoi..hoi.. Kau kenal dengan Akashi, murid baru?" tanya Kagmi

"Apa kau kenal gadis ini Aka-chin?" tanya Murasaki dengan penasaran. Akashi hanya diam menatap lekat gadis itu. Murid-murid didalam cafetaria tidak memiliki keberanian untuk menatap langsung ke arah mereka. Tapi para murid tetap melebarkan telinga mereka untuk mendengar percakapan mereka berlima.

" Tenang saja, mulai sekarang aku akan menuruti peraturan yang sudah ada disini, onni-san." seketika cafetaria menjadi sangat saaaangat hening. Kuroko berhenti menyesap vanilla milkshakenya, Kagami hanya diam terpaku, dan Murasakibara membulatkan matanya mendengar Luce melontarkan kata 'onni-san' kepada si absolut Akashi Seijurou.

1 menit

2 menit

3 menit

"APA?! KAKAK?!" teriak semua orang yang ada didalam cafetaria tersebut, minus Luce,Seijurou,Murasakibara.

TBC

Bagaimana? Makin gaje?absurd? Walapun masih banyak kekurangan disana-sini dari fanfict saya harap maklum. Namun, saya harap, para readers masih berkenan untuk meninggalkan reviewnya untuk saya di chap 2 ini. Jaa~