Chapter 2

Thanks for the reviews~:D

"Hei, ayo bangun." Panggil Ivan.

Hening. Tiba-tiba, Alfred berbalik. Kakinya mendarat di wajah Ivan yang sedang berdiri di pinggir tempat tidur dengan sukses. Hidung Ivan menghirup aroma jempol kaki Alfred yang sama sekali tidak menyenangkan. Sekali lagi saudara-saudara, tidak menyenangkan.

"5 menit lagi...grook,"

"Alfred kirkland, bangun sekarang juga atau aku harus mematahkan kakimu yang bau ini, da," kata Ivan dengan nada mengancam. Ia mencengkram kaki Alfred dan menyingkirkan kaki itu dari wajahnya. Alfred langsung terduduk dan memandang Ivan dengan mengantuk.

"'Da 'pa?"

Alfred mengucek-ngucek mata dengan malas dan menguap. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menyadari ada aroma kopi dan siluet Ivan yang sedang duduk di pinggir tempat tidurnya.

Alfred melompat bangun saking terkejutnya.

"Sedang apa kau di tempat tidurku!" Jerit Alfred.

"Da?" Gumam Ivan polos, setengah bingung dengan reaksi pemuda yang super berlebihan ini.

"K-k-kau...sudahlah," Alfred mengecek seragamnya yang ia pakai tidur kemarin, kalau-kalau ada kancing yang terbuka atau apa. Tapi ternyata tidak. Alfred menghela nafas lega.

Ivan memperhatikan gerak-gerik Alfred yang terbaca jelas dan tersenyum kecil,"Kau pikir aku akan berbuat apa padamu?"

Wajah Alfred menjadi merah merona. Ia mencubit pipi Ivan dengan sebelah tangan dan menerima cubitan keras di pipinya sebagai balasan.

"Ouw!" Alfred menepis tangan Ivan dan mengusap pipinya yang memerah. Ivan melakukan hal yang sama, memelototi Alfred.

Ivan melempar handuk putih ke kepala Alfred. Ia bangkit dari tempat tidur Alfred dan berjalan ke tempat tidurnya sendiri, mengambil dan memakai syal yang digantung di bed-post nya.

"Cepat bangun dan mandi. Ada acara pembukaan pagi ini,"

"Huaaahm," Alfred menyembunyikan kuapan dengan tangan kirinya. Si kepala sekolah mesum itu tak henti-hentinya mengoceh dari tadi-membosankan. Ia merasakan ada tangan yang memukul bagian belakang kepalanya. Ia menoleh dan melotot kepada orang berambut abu-abu yang dari tadi mengikutinya.

"Apaan sih! Kenapa kau baris disini? Bukannya barisan ini untuk anak baru?"

Ivan menarik tangannya dari belakang kepala Alfred dan tersenyum.

"Dengarkan saja apa kata Francis,"

Alfred kembali menengok ke arah kepsek mesum dan mendengarkan untuk yang pertama kalinya sejak awal pidato panjang itu.

"...untuk mengawasi setiap detil perkembangan murid-murid baru dan meningkatkan perkembangan positif tersebut dalam rangka memperbagus kualitas sekolah ini, setiap murid kelas dua akan menjadi tutor, atau pendamping, bagi masing-masing murid kelas satu. Karena itulah kami telah menyeleksi tingkat kemampuan murid-murid baru dan mencocokkan dengan tingkat kemampuan murid kelas dua serta membagi jumlah murid kelas satu dan dua ke beberapa kelompok. Dan setiap kamar di asrama dibagi atas satu orang murid kelas dua yang menjadi tutor dan satu orang murid kelas satu. Hal ini dilakukan untuk pendekatan murid baru terhadap tutornya agar program sekolah berjalan dengan lancar."

Alfred menatap Ivan dengan ekspresi shock dan horror, sementara Ivan menatapnya kembali dengan ekspresi kemenangan.

"Ja-ja-jadi...tutorku..."

"Mohon bantuannya, adik kelas,"

"Tolong, aku ingin tukar tutor! Dengan siapa saja boleh, tapi tolong jangan dengan... Dengan Ivan braginsky!"

Alfred kembali memohon sambil menggaruk lantai bak gadis kembang perawan di telenovela. Bedanya, ia bukan gadis kembang perawan, dan ia sedang berada di kantor administrasi bersama Arthur dan si kepsek mesum.

"Bloody git! Jangan cari masalah! Tahun ajaran resmi baru saja dimulai!"

"Mon cher, jangan bicara begitu. Pasti ada alasannya kenapa Alfred minta ganti tutor. Ya, kan?" Kata Francis sambil sedikit (ah, hanya sedikit kok) meraba tubuh Arthur.

Alfred menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak ingin menceritakan alasan ketidaksukaannya terhadap Ivan secara terang-terangan. Entah kenapa, rasanya tak nyaman.

"Hmm? Alfred?" Arthur menuntut jawaban sambil berkutat dengan tangan Francis yang masih membandel di tubuhnya sedari tadi.

"Ah..aku...eh..." Alfred bingung sendiri.

"Sepertinya tidak ada alasan yang penting kan? Kalau begitu kau tak perlu pindah kamar atau ganti tutor," Kata Arthur tegas sambil menatap adik angkatnya.

"Tapi...!" Suara Alfred terinterupsi dengan teriakan Arthur.

"KODOK, JANGAN SENTUH PANTATKU!"

Ivan sedang berbaring diatas tempat tidurnya dengan wajah menatap tembok ketika Alfred kembali.

"Sudah menemukan tutor baru yang sesuai dengan seleramu, da? Mau pindah ke kamar yang lebih nyaman?" Tanya Ivan dingin ketika Alfred memasuki kamar. Alfred mengernyitkan dahi atas reaksi Ivan.

"Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba kau seperti itu?" Tanya Alfred, berjalan mendekati tempat tidur Ivan dan duduk di sampingnya. Ivan bergeser menjauhi Alfred.

"Da? Memang aku seperti ini kan? Ivan yang aneh, Ivan yang menyebalkan. Tak ada yang mau berteman denganku. Tak ada yang betah sekamar denganku sejauh ini. Wajar saja jika kau mau pergi,"

Mendadak Alfred merasakan gelombang rasa kasihan kepada pemuda yang terbaring di sampingnya. Ia menepuk pundak Ivan, mencoba menghiburnya.

"Aku tidak pindah kamar kok. Maaf kalau aku menyinggung perasaanmu," Kata Alfred pelan, mengakui bahwa ia memang agak tidak sopan. Tidak ada yang tidak tersinggung jika dijauhi orang lain hari pertama mereka bertemu.

Ivan membalikkan badan dan menatap wajah Alfred, seolah mempelajari wajahnya. Mata violetnya memandang mata biru Alfred dengan tajam dan Alfred merasakan jantungnya berdebar dua kali lebih cepat daripada yang biasanya. Ivan tak melepaskan matanya dari mata Alfred dan mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Alfred sambil menggumamkan, "Spasibo, Alfred,"

Pipi Alfred yang dipegang oleh Ivan menjadi merah, dan Alfred merasakan pipinya menjadi panas. Ia memegang tangan Ivan yang dingin (dan besar), menyingkirkan tangan itu.

"Bahasa apa itu?" Tanya Alfred, berusaha memecah suasana aneh yang ia rasakan di ruangan ini. Sejak kapan ruangan ini jadi lebih panas?

"Bahasa Rusia, da. Aku, adik dan kakakku lahir di Rusia,"

"Ah! Berarti kau komunis!"

"Nyet."

"Monyet?"

"'Nyet' artinya tidak. Aku bukan komunis,"

"Ah. Komunis atau bukan, aku tetap tidak mengerti bahasa Rusia. Maksudku, walaupun keren, tapi Rusia tidak sekeren negara para superhero sepertiku, Amerika," kata Alfred bangga.

"Kolkolkol. Bukannya orang-orang Amerika itu kebanyakan bodoh sepertimu?"

"Hei! Aku tidak bodoh tahu, dasar commie!"

"Da. Aku tahu kau terlalu pintar, dorogoy," Sahut Ivan sambil mengacak rambut Alfred, menarik satu rambut yang menonjol keatas.

"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, dasar menyebalkan!" Kata Alfred.

Aura hitam Ivan yang biasanya tersimpan langsung keluar,"Menyebalkan ya?"

"Iya-gyaaaa!"

Apa pun yang dilakukan Ivan kepada Alfred di siang hari yang tenang itu masih menjadi misteri. Dan selalu akan jadi misteri.

-TBC-

Hehe..saya mau promosi nih.

Bagi author-author, daftar yuk ke .com. Tempat menulis juga. Bedanya disana nggak se-detail fanfiction. Kita membuat tag sendiri berdasarkan cerita kita. Daripada saya ribet jelasin, mendingan langsung liat aja :) ok?

Bagi yang baru mau menulis juga dipersilahkan. Malah diwajibkan!

Bye! Review selalu :D