Kerajaan Dorminotory adalah kerajaan terkuat dimasanya. Namun enam belas tahun yang lalu kerajaan tersebut lenyap tanpa bekas. Kerajaan dengan makhluk yang memiliki kekuatan magis dan inteligensi tertinggi itu hilang dalam peta kerajaan dunia lain. Bahkan putri tunggal yang merupakan kunci menghilangnya kerajaan tersebut hingga kini masih belum ditemukan. Entah masih hidup atau telah meninggalkan dunia ini.
My Angel
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pair:
ItaIno slight SaiIno
Rated: T
Genre:
Romance Fantasy
Warning:
sedikit OOC maybe, AU, Typo, Gaje,
alur sedikit cepat, EYD yang cukup berantakan
Don't Like Don't Read
"Aku tidak akan pernah merasakan dingin, selama kau masih terus menatapku, Itachi."
.
Ino berdiri di sebuah pemakaman umun, ditangannya terdapat sebuket bunga untuk seseorang yang akan dikunjunginya hari ini. Diletakkannya buket bunga itu di atas salah satu nisan milik seseorang yang dikenalnya. Milik kekasihnya yang telah pulang seminggu yang lalu.
Ino lalu berjongkok di salah satu makam milik keluarga Uchiha itu, tangannya mengatup dan matanya terpejam.
"Sai, maaf baru bisa mengunjungimu… entah kenapa rasanya saat ini aku begitu merindukanmu… apa kau baik-baik saja di sana? Aku akan terus berjuang di sini Sai…tolong doakan aku dari sana ya."
Ino tak merasakan jika ada seseorang yang kini berdiri tak jauh tempatnya. Seorang pemuda yang mungkin lebih tua darinya. Pemuda itu memandang Ino dengan tatapan penuh kerinduan. Matanya tak pernah lepas dari gadis yang kini tengan khusuk berdoa di salah satu makam yang juga milik keluarganya.
Ino lalu membuka matanya pelan, dan berdiri. Menyapukan sedikit roknya yang terkena debu akibat hembusan angin. Saat berbalik, mata aquamarinenya terkejut mendapatkan seseorang yang tengah berdiri tak jauh darinya. Seorang pemuda yang juga membawa sebuket bunga ditangan kirinya. Mata sekelam milik pemuda itu masih saja memandang Ino lekat, bertabrkan dengan aquamarine Ino yang serasa tertelan kedalamnya. Kenapa rasanya rindu sekali? Apa aku pernah mengenalnya? Siapa dirimu?
"Ah.. maaf, apa kau baik-baik saja ?"
Suara pemuda itu yang beralun merdu membangunkan Ino dalam lamunan sesaatnya. Tersadar akan keadaanya Ino bergegas menjawab pertanyaan sang pemuda cepat. "Ah… tak apa-apa, aku baik-baik saja. Apa anda mau berkunjung juga?"
"Ya.. sepupuku yang meninggal seminggu yang lalu namun aku baru sekarang aku bisa mengunjunginya." Pemuda itu lalu berjalan melewati Ino kakinya berhenti di sebuah makam yang baru saja dikunjungi Ino. Dan berdoa dihadapan makam tersebut.
'Apa dia keluarganya Sai? Bukankah Sai hanya tinggal sendiri di jepang?'
"Kau… mengenal Sai?" tanya Ino saat pemuda tersebut berdiri dan menghampirinya.
"Aku sepupunya… Uchiha Itachi… bisa ku tahu siapa dirimu…? Dan kenapa kau ada di makam Sai?"
"Aku Yamanaka Ino, dan … aku kekasihnya Sai, Uchiha-san." Raut wajah Ino menjadi sendu saat mengatakan kata-katanya, serasa ada lubang kosong dihatinya.
"Itachi. Kau bisa memanggilku Itachi," pinta Itachi pada Ino yang hanya dibalas gelengan pelan Ino. "Gomen, Uchiha-san… aku tak pernah memanggil laki-laki lain dengan nama kecilnya kecuali kekasihku, hontouni gomenasai."
"Nandemonai… aku mengerti I— Yamanaka-san."
"Arigatou… maaf aku buru-buru, sampai jumpa lagi Uciha-san." Ino menunduk sebentar kemudian berlalu pergi, tak menyadari segores rasa kecewa yang kini tertoreh di hati Itachi.
"Terbalik ya, padahal dulu kau yang berusaha keras agar aku mau memanggil namamu, Ino."
.
.
Ino terduduk di atas sebuah tempat tidur bercorak bunga sakura. Terlihat berbagai barang yang bercorak sama di kamar ini. Tentu saja ini bukanlah kamar milik Ino yang lebih menyukai warna ungu dibandingkan pink lembut untuk dindingnya.
"Aku tak tahu kalau kau akan mengunjungiku, Ino?" tanya Sakura yang masuk ke kamar membawa makanan dan minuman untuk disantap bersama sahabatnya.
"… Aku baru saja mengunjungi Sai, Sakura… dan aku bertemu seseorang."
"Siapa?"
"Seorang pemuda yang kelihatannya lebih tua dariku… entahlah mungkin hanya perasaanku saja tapi aku merasakan perasaan rindu entah kenapa saat melihat bola matanya. Kau tahu? Oniks yang begitu lembut saat memandangku."
"Kau… jatuh cinta lagi?" tanya Sakura seraya memberikan jus yang dibawanya tadi. Jus dingin rasa semangka.
'Ah..ha..ha.. kau bercanda Sakura? Mungkin karena warna matanya mirip Sai, makanya aku merasakan hal begitu. Kau sendiri juga tahu bagaimana perasaanku bukan," ujar Ino kemudian meminum jusnya, udara yang panas membuatnya haus dan segera membuat jus ditangannya kosong.
"Aku hanya berkomentar saja, yah siapa tahu bukan. Cinta itu tak akan pernah bisa ditebak Ino, lagi pula tak ada salahnya kan untuk kau membuka hatimu lagi?"
"Kurasa… belum saatnya… kau tahu Sakura rasanya masih begitu sulit membagi hatimu dengan perasaan begini."
"Mungkin, aku juga tak memaksamu Ino, aku hanya bisa berdoa untuk semua kebaikanmu," ujar Sakura tersenyum.
"Terima kasih Sakura… ada yang lebih penting, kenapa sampai sekarang kau masih belum mau pacaran? Padahal kurasa banyak laki-laki yang menembakmu bukan?" Kali ini jus Sakura yang jadi sasaran Ino, ternyata dirinya masih merasa haus.
"Jangan mengalihkan pembicaraan dan menghabiskan jusku Ino, kalau kurang ambil sendiri di bawah."
"He..he.. malas. Jawab saja pertanyaanku Sakura, apa susahnya."
"… Baiklah, kau pasti akan merecokiku sampai puas bukan kalau tidak kujawab dengan benar?" Ino hanya tertawa saja mendengar perkataan Sakura. "Mereka semua kekanakan."
"Maksudmu?"
"Aku menginginkan pacar yang dewasa Ino, kau tahu bukan kebanyakan dari mereka terlalu kekanakan bagiku."
"Kau mencari om-om begitu?" canda Ino.
"Tentu saja tidak, baka. Aku hanya menginginkan setidaknya seorang pria yang umurnya tak terlalu berbeda dariku, namun bersikap dewasa dan bijaksana, kau tahu bukan sifatku yang kadang meledak-ledak dan aku berharap dia dapat meredamnya, yah setidaknya menenangkanku.
"Hmmnn… begitu, nanti kubantu."
"Sudah bukan, jangan tanyakan lagi pertanyaan yang sama. Dan aku tak butuh biro jodoh dadakanmu Ino.
"Aku kan hanya ingin mencoba membantu sahabatku yang tetap menjomblo sejak enam belas tahun hidupnya."
"Jangan menyindirku lagi, Ino. Aku bukan nona barbie yang punya banyak kenalan pria kau tahu.
"Hey, jangan berbalik menyindirku, Sakura. Itu karena aku yang mudah bergaul. Walau dikelilingin banyak pria hatiku hanya satu, kau tahu bukan? Dan aku dengan suka rela membagi mereka untukmu Sakura."
"Ha..ha.. maaf saja ya tapi aku masih bisa mencari sendiri.
"Baiklah, nona keras kepala."
"Terima kasih atas perhatiannya nona barbie."
"Ha..ha.." Kedua gadis itu kemudian tertawa ringan. Bercengkrama seperti biasanya saat mereka berdua bertemu. Dan ini bisa menghabiskan banyak waktu, tak terasa matahari mulai terbenam di ufuk barat sana. Ino berpamitan pulang pada Sakura. Sebenarnya Sakura menawarinya untuk menginap malam ini, namun Ino menolaknya karena ingin tidur di apartemennya saja. Lagi pula menikmati malam di apartemennya bukan hal yang buruk walau hanya sendiri.
Ino berjalan sendiri menuju apartemennya yang berjarak cukup jauh dari rumah Sakura. Biasanya bisa ditempuh melalui waktu setengah jam perjalanan.
Malam sudah mulai naik, namun bulan purnama yang kini sedang bersinar tak membuat jalan pulang Ino gelap. Kakinya berjalan ringan sembari sesekali bersenandung riang. Tapi tiba-tiba Ino menghentikan langkahnya. Dirinya merasakan ada seseorang yang mengikutinya, Ino pun menolehkan kepalanya ke belakang, namun tak ada seorang pun di sana. Jalanan yang dilaluinya sepi tanpa seorang pun kecuali dirinya.
"Berikan tubuhmu putri."
"Kyaaaaaa!" Ino berteriak kencang saat dirasakannya ada yang berbisik pelan ditelinganya. Saat pandangannya beralih, di sana. Seorang tidak itu tidak bisa dikatakan orang karena kakinya tidak menapak tanah. Roh jahat yang ingin mencelakakannya.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" Ino terus berlari menjauhi roh jahat yang terus saja mengejarnya. Tanpa melihat kemana arahnya melangkah hingga tak disadarinya kakinya melangkah masuk ke dalam taman kecil tak jauh dari apartemennya. Hanya saja karena panik Ino malah berlari berlawanan arah dari apartemennya.
"Hentikan jangan menggangguku! Kyaaa…!" Ino terjatuh ke tanah akibat kakinya yang mulai kelelahan berlari.
"Menyerahlah putri dan bergabunglah dengan kami."
"Tidaaaak! Dan aku bukan seorang putri … pergiii!" Ino memeluk kedua kakinya erat. Dia benar-benar pasrah kali ini saat dilihatnya roh tersebut ingin mendekatinya.
"Wahai roh jahat, tidurlah."Pyash. Tiba-tiba roh tersebut menghilang dan digantikan dengan seorang laki-laki yang berdiri dihadapan Ino menggegam sebuah manekin boneka kecil yang mirip dengan roh barusan.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada Ino yang masih gemetaran memeluk tubuhnya sendiri.
"Sai…?" Mata Ino membesar saat melihat seorang anak laki-laki yang perawakannya milik Sai. Namun cahaya bulan yang tadi tersembunyi menampilkan sosok sebenarnya dari orang sudah menolongnya. Rambut raven? Model yang aneh, belum pernah Ino melihatnya, dan juga ekpresi datar yang berada di wajah itu. Dia bukan Sai, Sainya yang selalu tersenyum padanya bukan ekpresi dingin begini.
"Ti—dak, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku." Ino menyambut tangan yang terulur padanya, membantunya berdiri. Jantung berdebar kencang saat tangan yang berwarna putih itu bersentuhan dengan kulitnya.
"Hn.. hati-hati lah pulang." Anak laki-laki yang kelihatannya seumurannya pun mulai beranjak pergi.
Hey…!" teriak Ino keras. "Siapa namamu? Aku Yamanaka Ino."
"Sasuke."
"Arigatou, Sasuke… sampai jumpa lagi," teriak Ino yang entah didengar atau tidak oleh Sasuke yang terus berjalan setelah mengatakan namanya. Sepertinya Ino baru langsung melupakan kejadian aneh yang menimpanya. Seraya berdendang riang Ino berjalan pulang kembali ke apartemennya.
.
.
"Itachi-nii curang! Kau juga curang Teme! Akukan juga ingin menolong Ino-chan," teriak pemuda pirang berambut jabrik kepada dua orang lainnya.
"Sudahlah, Dobe kau berisik."
"Tenanglah, Naruto. Kita tak mungkin bertiga langsung muncul dihadapan Ino, yang ada malah dia akan ketakutan.
"Tapi... akukan juga mau ketemu Ino-chan, Itachi-nii."
"Dobe cengeng."
"Jangan memancingku, Teme. Aku sedang malas bertengkar denganmu."
"Hn…"
"Besok kita akan menyusup ke sekolah Ino, dan memastikannya jadi kau pasti bisa bertemu dengannya, Naruto."
"Apa benar Ino target kita nii-san? Dia bahkan tak menyadari siapa dirinya?"
"Kita lihat saja nanti, Sasuke. Nii-san rasa ada yang sesuatu yang menghalanginya."
"Ne, Itachi-nii, apa kita juga akan memburu para roh yang berkeliaran di Tokyo? Dan bagaimana kalau Ino-chan hanya manusia biasa."
"Tentu saja Dobe, itulah tugas inti kita sebagai "Angel" kalau Ino hanya manusia biasa, dia tidak ada hubungannya dengan kita, lagi pula kita belum mengetahui pasti identitas Ino yang sebenarnya bukan?"
"Yang dikatakan Sasuke benar Naruto, Tugas inti kita tidak akan pernah berubah. Kalau dia punya sayap berarti dia juga salah satu bagian dari kita. Namun jika ternyata dia bagian dari mereka kita harus memusnahkannya."
.
Manusia menyebut kita utusan langit, dan tugas kita membawa makhluk dunia yang berbeda kembali kedunianya karena kita Para Angel.
.
"Apa yang nii-san lakukan?" tanya Sasuke saat melihat Itachi yang tengah melamun di atap gedung.
"Tidak ada, Sasuke bisa kau bersama Naruto, menjaga sebentar. Nii-san ada urusan." Tanpa mendengar jawaban dari Sasuke Itachi beranjak terbang kelangit menuju ke suatu tempat.
'Kenapa tak jujur saja, kalau nii-san khawatir padanya bukan?' Sasuke hanya melihat sendu ke arah Itachi yang terbang tinggi ke langit dengan sepasang sayap hitam yang senada dengan malam, sayap yang berbeda dengan dirinya. Sasuke tahu kalau semua ini terasa sulit untuk kakak lelakinya itu, yah semoga saja Ino bukanlah bagian dari mereka. "Semoga kau beruntung kali ini, nii-san."
Itachi lalu berhenti pada sebuah kamar yang terletak di lantai tiga belas, sebuah kamar apartemen milik seorang gadis berambut pirang. Seorang gadis bernama Yamanaka Ino.
Ino tengah terlelap pulas dalam tidurnya, tanpa mengetahui kalau Itachi telah memasuki kamarnya dan kini duduk di tepi ranjang miliknya. Itachi Uchiha, salah satu 'Angel' itu tengah duduk memandangi wajah Ino yang terlelap. Wajahnya menatap penuh kasih terhadap Ino yang tak terusik akan belaian lembut di wajahnya.
"Maafkan aku, Hime… mungkin ini akan jadi lebih sulit untukmu, tapi aku akan selalu bersamamu, melihatmu, memandangmu… dan menjagamu… walau itu mungkin hanya dari jauh… oyasumi." Itachi mencium kening Ino pelan tak ingin membangunkan Ino dari tidurnya. Itachi kemudian berdiri dan melangkah menuju balkon yang kini tak tertutup itu, tangannya membentuk sebuah segel dan merapalkan sebuah kata entah apa itu. "Semoga dengan ini mereka tidak bisa mendekatimu, Hime." Dan Itachi pun menghilang di tengah deru angin yang kini mulai memasuki kamar dengan bebas.
.
A/N:
Mizu tahu ini sudah terlalu lama untuk update, tapi gomen Mizu ada kesibukan yang gak bisa diitinggalkan, semoga chap kali ini gak terlalu pendek minna. Itachinya udah Mizu munculin tapi sepertinya masih belum ada hint ItaIno-nya ya
Mizu balas review dulu yak, hehe… gak sempat balas lewat PM satu-satu nich:
To Sukie 'Suu' Foxie:
Arigatou Sukie-san atas reviewnya yang benar-benar sangat membantu, hontouni arigatou dan salam kenal dari Mizu. Mizu memang gak ngecek lagi saat sudah di update jadi gak tahu kalau garis pembatasnya menghilang. Semoga chap kali ini Mizu bisa lebih baik. Thaxs dah baca dan review fict Mizu^^
To Yamanaka Chika
Arigatou Chika-san, salam kenal^^ terima kasih dah baca dan review fict Mizu. Gomen Mizu gak bisa update kilat. Semoga chapter kali ini bisa menjawab rasa penasaran Chika-san^^
To vaneela
Arigatou udah mampir dan review fict Mizu, he..he.. kita lihat adja nanti apa Ino seorang putri raja atau tidak y^^
.
.
Arigatou juga buat yang udah baca fict Mizu tapi gak review^^#emang ada?
Sampai jumpa di chap selanjutnya ya, yang entah kapan lagi di update… tapi akan Mizu usahakan sesuai jadwalnya minna-san… Sebelumnya Mizu ingin ucapkan "Happy New Year 2012" semoga di tahun 2012 nanti Mizu bisa lebih baik dan juga Minna-san sekalian, amin.
Ada kritik dan saran atau konkrit? Silahkan kirimkan ke kotak review di bawah.
Jaa
Salam manis
Sabaku 'Mizu' Akumu
Ps: Ada yang tahu bahasa jepangnya Tuan Putri? Namun dalam kata yang paling tinggi dan hormat beserta embel-embel dibelakangnya? Yang Mizu tahu cuma Hime..thx
