Rabu pagi yang tenang. Tsunayoshi merasa ia baru saja bangun dari tidurnya yang panjang. Saat ia terbangun ia menyadari bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri. Ia tahu sekali ini adalah kamar Dino. Ia melihat ke arah jam weker yang bertengger dekat ranjang. Masih pukul setengah tujuh pagi. Ia baru ingat, sepulang sekolah kemarin ia langsung tertidur di sofa. Sepertinya Dino yang memindahkannya kemari. Ia langsung beranjak dari ranjang dan pergi ke lantai bawah.
Di bawah sangat sepi, ia tidak tahu Dino di mana. Yang jelas Dino belum membuat sarapan. Akhirnya Tsunayoshi mendapati kakaknya masih tertidur di sofa ruang tengah. Perlahan ia membangunkan sang kakak yang ternyata direspon cukup cepat.
"Tsuna..? Kau sudah bangun..?", tanya Dino agak setengah sadar.
"Ya. Sudah jam setengah tujuh.", ucap Tsunayoshi.
"Oh..? Maaf aku terlambat bangun. Aku harus segera membuat sarapan. Kau mandi sana.", Dino merubah posisi berbaringnya menjadi duduk, lalu beranjak menuju dapur.
Tsunayoshi melaksanakan suruhan kakaknya, ia menuju kamar mandi. Sambil membasuh tubuhnya, ia berpikir kenapa ia bisa terbangun di kamar Dino. Ah, ia baru ingat sekarang. Ia selalu meninggalkan kamar pribadinya dalam keadaan terkunci. Ia sangat tidak suka jika ada orang lain yang masuk ke kamarnya sembarangan. Dan Dino sangat mengerti itu.
Setelah mandi dan berseragam, ia menuju ke ruang makan yang hebatnya sudah ada dua porsi sarapan di meja makan. Terkadang Tsunayoshi cukup penasaran dari mana Dino belajar masak secepat ini. Tanpa menunggu lagi, Tsunayoshi langsung menempatkan diri di meja makan dan menyantap sarapan diikuti Dino yang baru saja menyelesaikan masalahnya di dapur.
"Kau yakin sudah tidak apa-apa?", tanya Dino di sela-sela kegiatan sarap-menyarapnya.
"Um.. aku tidak apa-apa kok.", Tsunayoshi mengangguk.
"Jangan lupa membawa obatmu. Sebaiknya kau tidak usah latihan dulu hari ini."
"Iya, aku mengerti."
Selesai menyantap sarapan, Tsunayoshi segera mengenakan sepatunya, lalu pamit pada Dino dan meninggalkan rumah untuk sekolah. Lagi-lagi saat ia keluar dari gerbang rumahnya, Gokudera kebetulan sekali melewati rumahnya dan mengajaknya berjalan ke sekolah bersama.
"Tsuna, kau sudah baikan?", tanya Gokudera di tengah perjalanan.
"Aku tidak apa-apa. Tidak usah khawatir.", jawab Tsunayoshi.
.
.
.
Di sekolah seperti biasa Tsunayoshi melakukan kegiatan belajar. Mendengarkan penjelasan guru yang terkadang terpantul oleh gendang telinganya sehingga ia tak bisa menangkap penjelasan sang guru.
Saat jam makan siang, Tsunayoshi menyantap bekalnya di atap sekolah. Tidak lupa sambil diam-diam mengintip remaja raven yang dengan setianya kepada atap sekolah dan tertidur di sana. Sekarang Tsunayoshi mulai berpikir, kapan ia akan menghentikan menstalknya? Bagaimana pula ia ingin melupakan si raven itu bila menyapanya saja belum pernah?
Akhirnya Tsunayoshi kembali ke alam sadarnya saat Gokudera yang sedaritadi bersamanya melambaikan tangannya di depan wajah Tsunayoshi sambil memanggil namanya. Tsunayoshi melanjutkan kegiatan makannya yang tadi sempat terhenti.
.
.
.
Pukul empat sore, kegiatan belajar pun selesai. Tsunayoshi segera merapikan bukunya dan berjalan keluar kelas. Sampai suara memanggilnya mengehentikan langkahnya,
"Tsuna, kau tidak latihan hari ini?", Tsunayoshi mendapati sumber suara berasal dari Gokudera.
"Maaf hari ini aku tidak latihan dulu, bisa kau bilangkan kepada kapten?", mintanya dengan ramah kepada Gokudera.
"Tentu saja. Boleh aku mengantarmu pulang?"
"Bukannya kau harus latihan?"
"Aku.. hanya ingin mengantarmu saja. Takut-takut kejadian seperti kemarin.."
"Boleh saja, jika kau tidak merasa dibebani olehku."
"Tentu saja tidak."
Akhirnya mereka berdua jalan berdampingan menuju kediaman Sawada. Tsunayoshi benar-benar curiga dengan tingkah teman barunya ini. Ia hampir saja berpikir kalau Gokudera sedang menaksirnya. Tapi itu tidak mungkin. Perempuan saja tak ada yang tertarik dengannya, apalagi laki-laki? Ia selalu ingin menanyakan hal itu tapi.. lebih baik ia positif thinking dulu.
Sampai di depan kediaman Sawada,
"Kau tidak apa-apa kalau ditinggal, kan?", tanya Gokudera agak ragu, sepertinya ia mengharap jawaban Tsunayoshi yang agak gila seperti minta ditemani mungkin.
"Tentu tidak apa-apa, Gokudera-kun. Terima kasih sudah mau mengantarku.", jawab Tsunayoshi yang sepertinya tidak sesuai dengan keinginan Gokudera.
"Baiklah. Kalau begitu aku pamit dulu. Ja.", Gokudera melambaikan tangannya sambil berjalan kembali ke sekolah.
"Ja, Gokudera-kun.", Tsunayoshi juga membalas lambaian tangan Gokudera.
Saat hendak memasuki rumah, Tsunayoshi baru ingat bahwa di rumah tak ada orang. Dino tentu saja pergi melatih klub aikido di sekolahnya. Untungnya Dino tak lupa meletakkan kunci di tempat persembunyian seperti biasa.
Sampai di dalam, ia segera menuju kamar pribadinya. Betapa rindunya ia dengan kamar ini. Padahal baru satu hari saja ia tidak tidur di sini. Perhatiannya teralihkan oleh lukisan yang baru saja ia selesaikan dua hari yang lalu. Ia lupa menutupi lukisan itu dengan kain putih. Ia menghampiri lukisan itu dan memandangnya dalam-dalam. Ia jadi teringat kejadian kemarin di ruang klub aikido.
Di dalam ruangan itu, dengan iseng Dino mencium pipi si raven yang sangat amat ia kagumi. Tampaknya si raven juga tak keberatan dengan kelakuan Dino. Tanpa sadar Tsunayoshi mengalirkan air matanya dan membasahi pipinya. Sadar pipinya yang membasah, Tsunayoshi menyentuh pipinya yang basah. 'Aku baru saja menangis?', batinnya.
.
.
.
Pukul setengah tujuh malam.
"Tadaima..", ucap Dino
"Okaeri.. baru selesai?", tanya Tsunayoshi sambil menuruni anak tangga.
"Ya, begitulah. Aku bawa makanan, ayo makan.",Dino membawa makanannya ke ruang makan dan menyajikannya.
Kalau Dino sibuk melatih begini, ia jadi tak sempat membuat makan malam. Jadi terpaksa membeli makanan di luar. Tak lama kemudian, dua orang kakak adik itu segera menyantap makan malamnya selagi hangat.
Menyadari wajah Tsunayoshi yang agak pucat,
"Tsuna, kau habis kumat lagi?", tanya Dino di sela-sela kegiatan makan malamnya.
"Tidak kok.."
"Wajahmu terlihat lelah. Kau yakin tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa.. aku hanya habis bangun tidur tadi."
"Sepertinya kau mulai kelelahan dengan kegiatan klub sepak bola. Kau yakin tidak ingin berhenti saja?"
"Aku tidak selemah itu. Tenang saja aku tidak akan apa-apa."
"Kalau begitu, hari jumat kita check up ya?"
Tsunayoshi hanya mengangguk tanda setuju.
Setelah makan, tumben-tumbennya Tsunayoshi membantu sang kakak merapikan piring-piring kotor mereka. Lain kali ia berbakti kepada sang kakak yang notabene adalah anggota keluarga satu-satunya yang ia miliki.
Setelah beres-beres, Tsunayoshi kembali ke kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolah. Tumben sekali juga ia mengerjakan tugas dengan ikhlas. Ingat tugas hari ini adalah tugas pelajaran sejarah, guru sejarahnya cukup tegas, bisa-bisa tugasnya menjadi tiada akhir jika ia tidak mengerjakan yang sekarang. Dan hebatnya, ia mengerjakan tugas hingga larut malam, sampai-sampai ia ketiduran di meja belajar.
.
.
.
Pukul lima pagi, Tsunayoshi sudah terbangun dari tidurnya di meja belajar. Ia agak terkejut mendapati dirinya tertidur di meja belajar. Ia segera beranjak dari kursinya dan merenggangkan tubuhnya. Lalu ia pergi mandi, meskipun dingin.
Apa Tsunayoshi sedang ngelindur? Tidak, ia benar-benar sudah sadar. Setiap hari kamis, klub sepak bola latihan pagi. Jadi Tsunayoshi harus bangun sepagi ini. Setelah mandi dan berseragam, ia hendak pamit. Tapi ia baru ingat, pasti Dino masih terlelap dengan tenangnya.
Tsunayoshi mengetuk pintu kamar Dino,
"Dino-kun..?", panggilnya.
Kenapa ia memanggil Dino seperti itu? Ia itu suka mengikuti tingkah ibunya, seperti memanggil nama orang dengan memberi akhiran –kun.
Untungnya Dino segera terbangun dan membuka pintu kamarnya, "Ada apa, Tsuna? Eh?", Dino terdiam melihat Tsunayoshi sudah memakai seragam.
"Aku ada latihan pagi ini."
"Oh iya, aku lupa. Aku belum membuatkanmu sarapan dan bekal!", Dino langsung terjaga seutuhnya.
"Tidak apa. Aku bisa sarapan di sekolah kok."
"Ya sudahlah kalau begitu. Hati-hati ya."
"Um.. aku berangkat. Ja."
Tsunayoshi segera menuruni anak tangga dan memakai sepatu, lalu segera keluar rumah menuju sekolah. Dan tumben sekali Gokudera tak muncul tiba-tiba. Tsunayoshi agak bingung sih, tapi di sisi lain ia juga lega.
.
.
.
Sampai di sekolah, ia segera menuju ruang ganti untuk mengganti seragamnya dengan baju olahraga. Setelah mengganti pakaian, Tsunayoshi dikejutkan dengan seseorang yang baru saja masuk ke ruang ganti. Dan seseorang itu adalah Gokudera. Ia tampak sudah memakai baju olahraga.
"Tsuna, kau baru datang?", tanyanya.
"Um.. kau sudah datang daritadi?"
"Ya.. begitulah. Cepat ke lapangan latihan sudah mau dimulai."
"Um.."
Setelah membereskan pakaiannya, Tsunayoshi segera berlari ke lapangan untuk bergabung mengikuti latihan hingga pukul tujuh pagi.
Usai latihan, Tsunayoshi segera mengganti baju olahraganya dengan seragam. Akhirnya ia mulai merasakan lapar yang amat sangat perih. Ia berusaha menahan, namun tak berhasil. Gokudera menyadari perubahan raut wajah Tsunayoshi yang sangat lesu.
"Tsuna, kau tidak apa-apa? Sepertinya kau kelelahan."
"Tidak apa-apa kok, Gokudera-kun."
"Jangan-jangan kau belum sarapan ya?"
Tsunayoshi segera tersentak. Agak terkejut Gokudera bisa mengetahuinya.
"Kebetulan aku bawa sarapan, kita bisa berbagi."
"Apa.. tidak apa-apa..?", tanya Tsunayoshi malu-malu.
"Tenang saja, aku bawa banyak kok."
"Terima kasih, Gokudera-kun."
Akhirnya mereka memakan sarapan berdua di kelas. Kebetulan kelas masih sepi. Kali ini, Tsunayoshi merasa hubungannya dengan Gokudera semakin dekat. Dan ia merasakan bahwa Gokudera sangat menikmati waktu bersamanya.
Pukul delapan pagi, bel masuk berbunyi. Semua murid segera menduduki tempatnya masing-masing dan melaksanakan kegiatan belajar. Tsunayoshi yang tadinya sedikit mengantuk, terpaksa harus terus terjaga karena pelajaran pertama adalah matematika. Ia harus memahami mata pelajaran ini, karena bila nilainya tidak tuntas, mengikuti pelajaran tambahan matematika itu hanya membuatnya depresi.
.
.
.
Jam makan siang tiba, Tsunayoshi sadar bahwa ia tidak membawa bekal hari ini. Tapi ia juga malas ke kantin karena penuh. Dia memutuskan untuk pergi ke atap untuk membaca buku.
Sesampainya di atap, ia sangat senang melihat si raven yang teridur pulas. Ditambah lagi sepertinya Gokudera tidak mengikutinya. Timing yang hebat. Ia bisa membaca buku dengan tenang ditemani tiupan angin dan pemandangan si raven yang mengagumkan. Oh tak lupa ia mengabadikan pemandangannya dengan menggambarnya di sketch booknya.
Saking seriusnya ia menggambar, intuisinya lagi-lagi tak berjalan. Ia tak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah menghampirinya. Akhirnya ia tersadar dari imajinasinya saat sebuah bayangan menutupi cahaya matahari yang menjadi penerangannya. Ragu-ragu Tsunayoshi mendongakkan kepalanya untuk melihat si pemilik bayangan itu,
"Hi..Hibari-kun..?", ucapnya gugup.
Didapatinya seorang remaja yang sepertinya kakak kelasnya. Bersurai hitam legam dan beriris blue metal. Orang yang diam-diam ia stalk saat ini. Yang diketahui bernama Hibari, lengkapnya Hibari Kyoya.
"Sedang apa kau di sini, Tsunayoshi?", tanyanya.
"Aku..", ia langsung menutup sketch booknya, agar Hibari tak dapat melihat apa yang digambarnya. "Aku sedang membaca buku, apa aku mengganggumu?", ia segera mengambil buku bacaan yang sedaritadi ia kesampingkan.
"Tidak terlalu sih."
"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang.", Tsunayoshi segera berdiri dan hendak meninggalkan atap.
"Aku bilang tidak, kan?"
Tsunayoshi langsung menghentikan langkahnya dan menoleh lagi kepada Hibari yang sekarang membelakanginya.
"Jadi, selama ini kau adalah penyebab perasaan aneh ini. Perasaan di mana aku selalu di temani."
Tsunayoshi hanya menatap penuh harap ke arah punggung itu, tapi ia berusaha tetap tenang.
"Apa ada yang salah denganku?", tanya Hibari yang sekarang sudah menghadap Tsunayoshi.
"Itu.. maaf aku sudah berlaku tidak sopan.", Tsunayoshi membungkukkan badannya tanda maaf.
"Apa kau sedang memperhatikanku?", tanya Hibari yang didengar Tsunayoshi mengandung keraguan.
Tsunayoshi tersentak dan membetulkan posisi tubuhnya. Ia menatap Hibari dalam diam.
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin mengetahui tentang dirimu. Aku kagum padamu. Karena kau adalah anak paling genius di sekolah ini. Dan kau sudah banyak mendapat penghargaan. Membuatku ingin mengetahui tentang mu lebih jauh.", ucap Tsunayoshi tanpa ragu. Yang sebenarnya memiliki makna 'Aku menyukaimu'.
Hibari tersenyum kecil. Ia berjalan mendekati Tsunayoshi dan membuat Tsunayoshi gugup, namun Tsunayoshi masih mempertahankan sifat tenangnya.
"Kau ingin sepertiku juga? Tanyakan apa saja padaku, aku akan menjawabnya."
"Su-sungguh..?", kegugupan Tsunayoshi mulai bisa terbaca oleh Hibari.
"Ya.", ucap Hibari sambil tersenyum kecil.
Mereka duduk berdampingan di atap. Di temani angin yang bertiup gembira, Tsunayoshi melontarkan berbagai macam pertanyaan kepada Hibari bak wartawan. Tentunya di respon sangat baik oleh Hibari.
Hibari menceritakan perjalanan pendidikannya. Di mulai dari sekolah dasar, dulu ia sekolah di sekolah dasar paling terkenal di prefektu Shiga. Lalu saat SMP sekarang ini, ia pindah ke Namimori dan bersekolah di Namichuu. Tapi ia tak memberitahu mengapa ia pindah. Ia juga tak bilang kenapa ia memilih Namichuu sebagai tempat sekolah masa SMP nya. Hibari juga membagi pengalamannya saat ia melakukan pertukaran pelajar ke Jerman tahun lalu, tepatnya saat ia kelas dua SMP.
Lalu ia juga memberitahukan rencananya setelah lulus dari Namichuu. Ia berniat akan pergi ke Tokyo dan bersekolah di sekolah cukup terkenal juga, tepatnya di distrik Nakano. Tsunayoshi tak bisa menyembunyikan ekspresi kagumnya pada Hibari.
Mereka berbincang cukup lama, sampai bel istirahat usai mengehentikan perbincangan mereka. Baru kali ini Tsunayoshi merasa jam istirahat selama ini.
Saat Tsunayoshi hendak meninggalkan atap, lagi-lagi Hibari menghentikan langkahnya.
"Boleh aku pinjam ponselmu?", mintanya pada Tsunayoshi.
"Um..", Tsunayoshi mengambil ponselnya dari saku celananya dan memberikannya pada Hibari.
Hibari tampak mengetikkan sesuatu di ponsel Tsunayoshi. Satu menit kemudian, Hibari memperlihatkan kontaknya yang sudah tersave di ponsel Tsunayoshi.
"Tanyakan apa saja jika ada masalah.", ucapnya.
"Terima kasih, Hibari-kun. Aku permisi dulu."
Tsunayoshi segera meninggalkan Hibari dan kembali ke kelasnya sebelum ia terlambat masuk saat pelajaran berikutnya. Tsunayoshi benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia tampak selalu ceria setelah itu.
.
.
.
Pukul empat sore, kegiatan belajar berakhir. Karena tadi pagi ia sudah latihan sepak bola, maka sore ini tak ada latihan lagi. Seperti biasanya belakangan ini, ia pulang bersama Gokudera.
Sampai di rumah, ia disambut oleh Dino. Tumben sekali Dino sudah pulang. Tentu saja hari ini ia tak ada jadwal melatih. Tsunayoshi segera menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya. Lalu ia mengeluarkan sketch booknya dan memerhatikan gambar yang baru saja ia gambar. Ia merasa ini gambar sketsa terbaik yang pernah ia buat.
Pukul tujuh malam.
"Tsuna, waktunya makan malam!", teriak Dino dari lantai bawah.
Tsunayoshi yang sedaritadi sibuk menyempurnakan gambar sketsanya, langsung segera menuju ruang makan untuk menyantap makan malam. Setelah makan malam, Tsunayoshi segera kembali ke kamarnya dan melanjutkan menyempurnakan gambar sketsanya.
.
.
.
Jumat pagi yang tenang. Hari ini Tsunayoshi izin tidak sekolah untuk check up. Ia bangun seperti biasa, pukul tujuh pagi. Setelah membereskan tempat tidurnya ia segera mandi. Kebetulan selesai ia mandi sarapan sudah selesai dibuat oleh Dino. Akhirnya mereka menyantap sarapan bersama.
Sekitar pukul delapan, Dino dan Tsunayoshi sudah meninggalkan rumah hendak pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, ternyata jadwal check up pukul sembilan pagi. Dengan sabar mereka berdua menunggu pukul Sembilan tiba.
Pukul sembilan, sudah masuk waktu check up. Dino hendak menemaninya masuk ke ruang check up tapi Tsunayoshi mencegahnya karena ia bukan anak kecil lagi. Dino menurut dan menunggunya di luar ruang check up.
Setelah proses check up,
"Sawada-kun, apa anda merasa sehat?", tanya sang Dokter yang terdengar tidak enak.
"Tentu saja. Aku ini hanya punya penyakit asma.", ucap Tsunayoshi setenang-tenangnya.
"Dari hasil check up hari ini memang kau dalam keadaan sangat baik."
Tsunayoshi tahu bahwa Dokter ini akan melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
"Maaf aku harus memberi kabar buruk padamu,mulai saat ini hingga seterusnya.. kau telah mengidap penyakit berbahaya…"
"Eh?", Tsunayoshi hanya terdiam mendengar pernyataan sang dokter.
.
.
.
Pukul dua belas siang, Dino dan Tsunayoshi sudah kembali ke rumahnya. Kebetulan mereka keluar tadi, mereka memutuskan makan siang di luar. Rasanya Tsunayoshi bosan sekali ada di rumah seperti ini. Jumat siang ini ia habiskan dengan menonton film yang sealakadarnya.
"Tsuna, bagaimana keadaanmu kata dokter?", tanya Dino yang memposisikan dirinya duduk di samping Tsunayoshi di sofa.
"Tidak apa-apa. Aku ini hanya terkena asma biasa.", jawabnya dengan sangat tenang.
"Syukurlah..", ucap Dino lega mendengar pernyataan dari adiknya.
Akhirnya Dino jadi mengikuti Tsunayoshi, menonton film sealakadarnya.
Pukul empat sore.
"Tsuna, aku pergi melatih dulu ya.", ucap Dino yang sudah siap dengan tasnya.
"Eh? Sekarang?"
"Tentu saja. Aku sudah membuat makan malam, ada di kulkas. Kau bisa menghangatkannya sendiri, kan?"
"Tentu saja."
"Baiklah. Aku berangkat."
Setelah memakai sepatu, Dino langsung membuka pintu keluar. Dan ia cukup terkejut melihat salah satu muridnya sudah berdiri di depan pintu gerbang.
"Tsuna, sepertinya kau kedatangan tamu."
Yang dipanggilpun segera menuju pintu dan ia melihat Gokudera sudah berdiri di depan pintu gerbang.
"Gokudera-kun, ada apa?", tanya Tsunayoshi sambil menghampiri Gokudera.
"Maaf aku datang tiba-tiba. Habisnya kau tidak masuk tadi, aku kira kau sakit."
"Aku tidak sakit aku baik-baik saja kok."
"Gokudera, kau tidak latihan?", tanya Dino sambil menuju pintu gerbang.
"Maaf pelatih, aku tidak latihan dulu untuk hari ini."
"Baiklah. Aku berangkat.", Dino segera berjalan menuju Namichuu.
"Nah, kau ingin masuk, Gokudera-kun?", tanya Tsunayoshi.
"Jika itu tidak merepotkanmu."
"Tidak kok."
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah bersama. Tsunayoshi mempersilahkan Gokudera duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Tsunayoshi segera membuatkan minum untuk Gokudera dan mengeluarkan beberapa cemilan. Setelah menyajikan suguhan, ia duduk di samping Gokudera. Sepertinya Gokudera agak gugup.
"Jadi, ada apa kau kemari?", tanya Tsunayoshi.
"Eh? Sebelumnya aku minta maaf aku datang tiba-tiba dan tidak membawa apapun untukmu. Aku hanya ingin meminjamkan catatanku."
"Memangnya ada catatan penting?"
"Ya. Tadi ada pelajaran matematika. Aku rasa kau akan membutuhkannya."
Tsunayoshi baru ingat bahwa hari ini ada pelajaran matematika. Benar ia sangat membutuhkan catatan Gokudera.
"Oh iya, kau kenapa tidak masuk hari ini? Padahal kau baik-baik saja.", tanya Gokudera.
"Aku pergi check up."
"Check up? Memangnya kau sakit apa?"
"Aku hanya memeriksakan asmaku. Dan itu hanya asma biasa."
"Syukurlah kau tidak apa-apa.", Gokudera tersenyum lega.
Cukup lama Gokudera bertamu ke rumah Tsunayoshi. Tak lupa Gokudera menceritakan kejadian di sekolah. Hingga percakapan mereka berakhir pada sesuatu yang lebih privasi.
"Tsuna, boleh aku tanya sesuatu?", tanya Gokudera agak ragu plus malu.
"Tanya apa?"
"Menurutmu.. apa percintaan sesama gender dilarang?"
Tsunayoshi sempat terdiam sebentar. "Menurutku tidak, itu kan hak asasi manusia."
"Jadi.. apa aku.."
Tsunayoshi hanya menatap Gokudera bingung. Yang ditatap pun tambah gugup.
"Apa.. aku boleh menyukaimu?"
Tsunayoshi sedikit memperlihatkan ekspresi terkejutnya. "Maaf.. tapi aku juga sedang menyukai orang lain."
"Be-begitu ya..", Gokudera jadi agak salah tingkah.
"Tapi, aku berterima kasih padamu, Gokudera-kun."
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Terima kasih kau sudah mau menyukaiku." Tsunayoshi tersenyum pada Gokudera.
Pipi Gokudera memanas dan ia segera membuang muka, menolak berkontak mata dengan Tsunayoshi.
"Ada apa, Gokudera-kun?"
"Ti-tidak ada apa-apa. Aku hanya senang bisa mengatakannya."
Pukul tujuh malam, Gokudera memutuskan untuk pulang. Setelah pamit dengan Tsunayoshi, ia segera menghilang dari balik pintu. Setelah melirik jam, Tsunayoshi bingung kenapa Dino belum pulang juga tidak seperti biasanya.
Untuk menghilangkan kebosanan, Tsunayoshi berniat mengirim pesan kepada Hibari. Ia ingin bertanya sesuatu yang sedikit privasi kepadanya. Tiba-tiba saja suara pintu terbuka mengejutkannya.
"Tadaima..", ucap Dino begitu semangatnya.
"Okaeri. Kau habis dari mana?"
Belum pertanyaan Tsunayoshi dijawab, Dino sudah berlari ke arah Tsunayoshi dan memeluk erat adiknya itu.
"Di-Dino-kun.. aku tidak bisa nafas…", ucap Tsunayoshi dengan nafas yang tersengal karena Dino memeluknya sangat erat.
"Maaf!", Dino segera melepaskan pelukannya. "Hari ini aku sangat senang Tsunayoshi!"
"Senang karena apa?"
"Aku sudah jadian dengan Kyoya!", teriak Dino dengan gembiranya.
Tsunayoshi hanya melebarkan iris karamelnya. Ia tak percaya. Ia harap Dino hanya sedang berangan-angan. Tsunayoshi langsung mengurungkan niatnya untuk menulis pesan kepada Hibari. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tetap tenang.
"Benarkah? Selamat ya."
.
.
.
To be continued.
Akhirnya bisa update secepet mungkin!
Aku langsung joged2 saat chapter ini selesai.
Terima kasih untuk yang sudah follow dan fav. Semoga ceritanya akan membekas di hati kalian.
Maaf bila ada kegajean yang terkandung di akhir *bow*
Abis baca, jangan lupa review ya ;)
Sampaia bertemu di chapter berikutnya.
Ja~
