balasan review:

little girl: ah, benarkah sehebat itu? makasih, btw. oke, makasih udah review! :D

semua reviev yang log-in sudah saya balas lewat PM. enjoy!


Sudah berapa permintaanmu yang terkabul ketika memohon kepada bintang jatuh?

Apakah sebanyak jumlah taburan bintang di angkasa?

Bagaimana bila semuanya—semua permintaanmu—menjadi kenyataan dengan hanya menjentikkan jarimu?


./.\.

Reach Many Wishes as the Number of the Stars

[—two, I want to hear that you're love me.]

pairing: Hiruma Y. / Suzuna T.

Eyeshield 21 belongs with Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata

Reach Many Wishes as the Number of the Stars © Depapepe

warning: OOCness, misstypo(s), short, bukan songfic—lagunya instrumental kok, kumpulan drabble atau one-shoot—jadi diantara chapter satu dengan chapter lainnya tidak ada hubungannya, fluff gagal?, future AU, etc—just wait and see.

summary: Sudah berapa permintaanmu yang terkabul ketika memohon kepada bintang jatuh? Apakah sebanyak jumlah taburan bintang di angkasa? Bagaimana bila semuanya—semua permintaanmu—menjadi kenyataan dengan hanya menjentikkan jarimu? — HirumaSuzuna

genre: romance

.

don't like? don't read!

RnR, please?

.

S T A R T !

.

[ —apa menurutmu Kak Yo tidak bisa romantis, Sena? ]

.


Gadis beriris azure itu menatap langit dengan hening. Bukan, bukannya ia kapok bertingkah seperti kemarin, hanya saja ia ingin menikmati pesona bintang dengan tenang.

Surai dark blue miliknya tertiup angin dengan tenang. Beberapa kali jemarinya yang lentik bermain-main diantara tirai hitam bermanik yang berkilauan itu, bagaikan mencoba mengambil salah satu manik berkilauan itu agar mau mengabulkan permintaannya.

Dia tahu, dia seperti anak kecil—masih saja percaya tentang permintaan yang akan terkabul bila memohon kepada bintang jatuh, tapi … entah mengapa ia tidak mau berhenti berharap, dan terus melakukannya. Tentu saja ia dengan berusaha melakukan keinginannya.

"… hm." Gadis itu tersenyum tipis, dan mengeratkan jaket hitamnya rapat. Dingin, ya, malam ini malam yang benar-benar dingin.

Sebuah bintang kembali jatuh ketika ia tengah menatap langit malam. Dengan spontan, ia memohon di dalam hatinya, semoga ia mau bilang kepadaku bila ia mencintaiku, dan tersenyum geli dengan permintaannya sendiri.

Si setan berambut kuning itu melihat gadis mungil itu dari sofa mahalnya sembari meletuskan balon permen karetnya beberapa kali. Yah, dia tidak akan mau mengakuinya, ya, setan mana mau mengaku? Benar, bukan?

Ya, kan?

Hiruma beberapa kali mengelap riffle AK-47 miliknya dengan sesekali melirik gadis beriris azure itu. Dia terkadang heran dengan gadis yang satu itu, kenapa ia selalu terlihat ceria seperti tidak pernah terjadi apa-apa? Apa dia—Hiruma segera menggeleleng, tidak, ia sama denganku. Sama-sama tidak ingin semua orang mengerti apa yang sedang dialami dan perasaan kami.

"Oi, Cheer Sialan."

Cheer Sialan—Suzuna—segera memalingkan kepalanya dari pesona bintang dan menatap Hiruma. "Ya, Kak Yo?"

Hiruma bangun dari sofa dan mendekat gadis mungil itu, ikut melihat bintang di angkasa. Ia terhenyak sejenak dengan pesona bintang sebelum meneruskan ucapannya. "Kenapa kau suka sekali melihat bintang di balkon apartemen sialanku ini, sih?"

Gadis itu hanya tertawa kecil. Yah, merasa lucu saja mendengar setan itu berbicara dengan nada terheran-heran—tidak datar seperti biasanya.

"Apa Kak Yo tidak bisa melihat sendiri?" Suzuna memainkan kembali jemarinya yang lentik diantara langit-langit. Ia tersenyum tipis, dan kembali melanjutkan, "Bintang-bintang terlihat indah bila kulihat dari sini, ya, apalagi …." Sontak, pipi Suzuna sedikit memerah. "… pemiliknya."

Hiruma menautkan alisnya.

Wajah Suzuna merah padam. Ia pun membuang muka, menghindari pandangan Hiruma yang seakan mencemoohnya.

Hiruma hanya menggeleleng pelan. Ia mengacak-acak rambut gadis itu pelan dan kembali membuat balon dengan permen karet less sugar rasa mint miliknya.

"Che, dasar." Hiruma menatap langit malam dengan tangan kekarnya mengalungi leher Suzuna. Dia tidak berkata lagi. Ia, dan Suzuna hanya menatap langit dengan tenggelam di alam pikiran mereka masing-masing.

Suzuna berpikir; kenapa Kak Yo tidak mau dengan Kak Mamo, ya? Bukannya ia lebih cantik, lebih pintar, lebih bisa diandalkan? Kenapa memilihku?

Sedangkan Hiruma berpikir; Che, gadis ini benar-benar merepotkan.

—entah kenapa pikiran mereka berdua serasa berbeda.

"Aku ingin mendapat penjelasan dari perkataanmu barusan." Hiruma angkat bicara dengan semakin mempersempit jarak mereka. Ia menunduk sedikit, dan mendekatkan wajahnya dengan Suzuna. "Brengsek, kau benar-benar membuatku terjebak."

Rona pipi di wajah gadis itu semakin memerah. Ia menunduk sementara, tidak sanggup melihat paras tegas pemuda yang berada di hadapannya saat ini.

"Jawab, atau …." Pemuda itu semakin mendekat dengan kedua hidung mereka saling bersentuhan. "Kau tahu apa maksudku kan, Brengsek?"

Suzuna mengangguk pelan. Ia menengadahkan kepalanya, dan menjawab dengan tegas. "Penjelasanku adalah: aku ingin mendengar bila Kak Yo mencintaiku!"

Hiruma terhenyak sejenak. Beberapa saat kemudian, ia tertawa keras dengan jemari kurusnya memegang perutnya yang datar. Beberapa air mata keluar dari ujung matanya, merasa bahwa yang diucapkan Suzuna barusan seperti sebuah lelucon lucu.

"KEKEKE! Ka-kau bilang apa barusan? KEKEKE, ITU MUSTAHIL CHEER SIALAN!" Hiruma merespon—menertawai, mungkin—dengan heboh. Wajah Suzuna memerah. Bukan, bukan memerah karena malu, tapi karena marah.

Suzuna segera membentak Hiruma, dan membuang mukanya dengan pipi menggelembung di bagian kanan. Ia tidak perduli bagaimana respon setan itu. Ha! Itu yang dibutuhkan, Nona! Setan itu memang pantas diberi perhitungan!

Hiruma mulai menghentikan tawanya dengan perlahan. Ia membersihkan air matanya dengan kasar, dan menatap gadis itu dengan poker face-nya seperti biasa. See? Dia sudah kebal dengan marahmu, Bung!

"Tch, sudah kubilang berhenti bersikap menjijikkan seperti itu!" Hiruma kembali menyeret gadis itu ke ruang apartemennya, dan menyeretnya duduk di sebelahnya. Gadis itu tidak perduli, ya, bukannya ia seorang gadis-manja-yang-ingin-dimanja, tetapi gadis-yang-marah-karena-merasa-dicemooh-kekasihnya-sendiri.

See? You're such an Idiot, Hi-ru-ma.

Suzuna tidak merespon. Ia hanya menatap kosong di depannya dengan pipinya masih membentuk seperti tadi, menggelembung.

Hiruma menghela nafas. Ia mengacak-acak rambut gadis itu dan merangkulkan tangannya di leher Suzuna. Perlahan, ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, dan menghela nafas sekali lagi.

"Cih, kau terlalu banyak maunya." Hiruma tidak bergerak sedikit pun, masih memeluk gadis itu. "Aku tidak bisa bilang kata-kata sialan seperti itu, Brengsek. Bukannya aku tidak mencin—pokoknya seperti itu kepadamu, cuma … sialan, kau benar-benar membuatku pusing!"

Gadis itu perlahan luruh pertahanannya. Wajahnya mulai mencair, dan mulai tersenyum tipis. Dia membalas pelukan setan itu, dan berbisik di telinganya, "Benar-benar ciri khas Kak Yo, ya?"

Hiruma hanya mengumpat, "Berisik kau, Cheer Sialan."

Dia tersenyum tipis. Ia melepas pelukan setan itu, dan berbicara, "Kalau begitu, bagaimana kalau memanggil nama kecilku?"

Hiruma kembali membeku. Dia menatap dengan wajah sedikit shock—yang tertutup poker face miliknya—dan … tidak bisa menjawab.

"Tidak bisa?" Suzuna berubah kecewa. "Sayang sekali."

Hiruma berdehem sejenak sebelum mulai angkat bicara, "Kau serius, Cheer Sia—"

Suzuna segera memotongnya, "Kau sedang berbicara dengan siapa, Kak Yo?"

Hiruma menggaruk rambutnya kasar, frustasi. Si Brengsek ini terlalu banyak maunya! Cih ….

Suzuna tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya. Ha. Itu perhitungan yang sangat baik, Nona.

Hiruma mulai angkat bicara, "Su-Suzuna."

Suzuna menopang telinganya dengan tangannya, dan mendekatkannya ke Hiruma. "Maaf?"

"Su-Suzuna."

"Apaaa?"

"Suzuna! Argh! Suzuna, Suzuna, Suzuna! Puas kau, hah?" Suara Hiruma meninggi. Tidak, ia tidak suka dipaksa seperti ini! Menyebalkan!

Suzuna menyeringai, "YA~! Sangat puas!"

Hiruma hanya menggeleleng pelan sebelum mendorong Suzuna di sofa mahalnya. Dia menahan tangan Suzuna agar dia tidak bisa kabur kemana-mana.

"Ka-Kak Yo?"

Hiruma menyeringai licik. Ia mencium leher Suzuna, dan mulai membuka kancing baju Suzuna. "Ini hukuman karena sudah membuatku kelimpungan! Siap-siap saja, Su-zu-na-chan~"

Wajah Suzuna mulai memerah dengan pekat. Dengan beberapa kali mendesah, ia mulai angkat bicara,

"Dasar Setan Mesum!"


.

mind to review?

.


‹‹‹previous:: next›››