Preview:

Eren baru mengetahui sakit yang ia derita setelah stadium akhir tumornya. Padahal tak terlalu tampak banyak keanehan dalam keseharian Eren. Vonis dokter menyatakan Eren hanya akan bertahan sampai 1 bulan ke depan. Sebelum hal itu terjadi, Rivaille mengambil inisiatif untuk membahagiakan Eren…

"Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menjagamu hingga ajal menjemputmu. Aku berjanji demi apapun, semua waktuku hanyalah ada untuk bersamamu."


Permintaan Terakhirku…
(Chapter 2)

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

Aoyama Akiyoru

Rate T

Angst/Hurt/Comfort

AU, Typo, semi-OOC, Rivaille POV, RivaillexEren, invalid data


9 Maret, 2014 : 03.00 PM

Matahari bersinar cerah sebelum kembali ke peraduannya. Burung berkicau ria menanti datang sang dewi purnama. Angin bermain-main dengan tanaman di depan rumahku. Seakan-akan mereka mengejekku karena aku dan Eren takkan dapat lagi bersenang-senang melawan kerasnya dunia ini.

Namun aku akan membuktikan pada mereka, cemoohan tersebut pasti akan mereka tarik kembali.

Aku langsung menyelesaikan administrasi karena Eren sangat ingin kembali ke rumah.

Dengan pakaian lengkap sama saat seperti saat kemarin ia pergi ke supermarket, kami pulang menuju rumahku yang berjarak beberapa kilometer dari rumah sakit itu dengan naik taksi.

"Eren, sebenarnya apa yang kau rahasiakan padaku? Benarkah hal itu baru kau ketahui tadi? Mengapa kau merahasiakannya?" rentetan tanyaku mengawali percakapan dengan Eren, yang baru saja tenang dari tangisannya beberapa jam sebelumnya.

"Sebenarnya aku sudah mengalami mimisan selama beberapa kali di rumah. Namun aku takut mengganggumu yang sedang bekerja, sehingga kurahasiakan sampai saat ini. Aku juga merasa beberapa kali pingsan di kamarku. Dan aku tersadar beberapa jam kemudian."

Setidaknya sedikit pertanyaan yang sedari tadi dihujani Dr. Erwin sebelum pulang kepadaku sudah terjawab.

"Apakah pasien mengalami gejala-gejala sering tak sadarkan diri dan sering mimisan?"

"Entahlah, dok. Ia tak pernah menceritakannya padaku. Gejala-gejala tersebut baru terlihat sejak awal bulan ini. Ia tampak sehat sebelumnya."

"Apakah pasien juga sering mengeluhkan sakit kepala yang sangat hebat? Atau muntah cairan putih bening?"

"Akupun tak mengetahuinya, dok. Selama ini aku sibuk dengan pekerjaanku, sehingga tak banyak yang kuketahui dari Eren. Baru kemarin aku meluangkan waktuku untuk bersamanya pergi ke supermarket, dan inilah yang paling parah."

"…"

"Apakah sudah tak ada cara lain untuk menyembuhkan Eren? Tolonglah, Dokter Erwin…"

"Maafkan saya, tuan Rivaille. Sayapun sudah angkat tangan dalam penanganan kasus Eren. Ingin sekali kurekomendasikan kepadamu kemoterapi, namun hal itu akan sia-sia. Biasanya kemoterapi baru akan memberinya efek jika sisa waktu yang dimiliki pasien di atas 6 bulan, namun dalam kasus ini hanyalah 1 bulan. Sekali lagi aku minta maaf, karena tak dapat berbuat banyak lagi…"

Sesampainya di rumah, aku langsung membawa Eren menuju kamar dan menyuruhnya langsung tidur setelah mandi air hangat dan makan makanan yang kubuatkan. Eren terlihat sangat berbeda dengan ekspresinya di rumah sakit sebelum aku membentaknya. Kali ini ia hanya mengatakan "Iya, Sir" atas semua yang kusuruh dengan wajah yang mencemaskan.

Kurang lebih pukul 5.30 sore, Eren baru tertidur di kasurnya. Diam-diam aku mengambil buku diary-nya yang diletakkan di dalam laci sebelah kasur.

Sisa-sisa jam di hari ini kuhabiskan untuk menyimpulkan apa saja yang paling ia inginkan. Hanya satu yang ada dipikiranku saat ini: MEMBAHAGIAKAN EREN SEBELUM TUHAN MEMANGGILNYA KEMBALI. Aku tak peduli jika aku terpaksa cuti dari kantorku selama 1 bulan, ataupun menghabiskan semua tabunganku, yang penting Eren dapat bahagia sebelum ia menutup mata untuk selamanya.

Kesukaan dan keinginan Eren:

1. Mengunjungi taman yang dipenuhi bunga matahari

2. Dilukis di kanvas bersama Rivaille

3. Menaiki bianglala bersama Rivaille

4. Menaiki carousel bersama Rivaille

5. Memberi kado yang tak terlupakan saat ulangtahun Rivaille

6. Mengunjungi taman saat musim gugur (?)

7. Menyambut turunnya salju pertama di musim dingin (?)

8. Menonton pertunjukan kembang api di perayaan malam tahun baru (?)

Itulah rangkuman yang ia dapatkan setelah membaca seluruh curahan hati Eren sampai pukul 8 malam. Bingung menghampiriku ketika membaca 3 poin terakhir yang paling ingin dirasakan Eren.

Karena merasa kehabisan akal, ia mengajak keempat teman sekantornya yang kemarin mengantar Eren ke rumah sakit untuk membantuku mencarikan ide.

"Hoo… ternyata permintaan Eren cukup sulit juga, Rivaille. Tapi tenang saja, kami akan membantumu melakukan semua hal tersebut", perkataan Petra sungguh membuatku tak dapat menampilkan ekspresi datarku pada mereka. Bahkan aku hampir meneteskan air mata ketika mereka benar-benar ingin membantuku. Hanya kata "terima kasih" yang tercipta dari bibirku karena terlalu senang bercampur sedih di keadaanku saat itu.

Untuk mempersiapkan ketujuh permintaan terakhir Eren, aku sampai-sampai cuti dari pekerjaanku. Aku sengaja menutupi semua persiapanku pada Eren, agar semua yang telah kusiapkan menjadi memori terakhirnya yang paling indah. Eren yang mengetahui aku cuti karena suatu alasan menegurku.

"Rivaille, mengapa kau menjagaku sampai kau rela cuti? Aku bisa sendirian kok di rumah…"

"Aku tak dapat menjamin hal tersebut, lebih baik aku yang menjagamu. Daripada aku menyuruh orang lain untuk menjagamu kan?"

Seperti biasa, hanya kata "Baiklah" yang keluar dari mulut Eren.

Persiapan itu kulakukan kurang lebih 2 minggu. Kebanyakan aku lakukan di rumah lewat media internet, agar Eren tak curiga padaku. Keempat temanku yang lebih banyak mengerjakan tugas di lapangan.

Persiapan selama 2 minggu yang kulakukan ternyata berdampak pula dengan tubuhku. Tepat 1 hari sebelum hari yang ditentukan, demam menghampiriku. Aku sengaja menyembunyikan sakit ini dari semua orang. Ternyata berhasil, Eren yang menjadi sasaran utamaku terlihat benar-benar percaya padaku. Namun lain halnya dengan keempat temanku.

"Hei, Rivaille. Lebih baik kita batalkan saja rencana ini,"rujuk Auruo melihat keadaanku

"iya, Rivaille, tubuhmu seakan menolak semuanya. Lebih baik berikan hal-hal sederhana yang membuat Eren takkan menghilangkan memori tersebut,"kata-kata Erd memihak pada Auruo.

Tidak! Aku tidak mau semua persiapanku dan teman-temanku sia-sia. Pokoknya ini harus berhasil.

28 Maret 2014, hari penentuanku apakah nantinya seluruh persiapanku menjadi memori terakhir Eren yang terindah, atau tidak.

"Rivaille, kemana kau mau mengajakku?" tanya Eren ketika aku menyuruhnya untuk berpakaian pergi.

"Ke tempat yang kau inginkan", senyumku pada Eren untuk menutupi betapa tegangnya aku akan jalannya hari ini.

Setelah semuanya selesai, aku mengajak Eren naik taksi menuju tempat berkumpulnya para Leonardo Da Vinci jalanan. Kuakui, aku perfeksionis dengan semua hasil karya seni, namun aku ingin mengacungkan jempol pada hasil cipta karya orang-orang ini.

"Ah, ketemu", kataku lega setelah menemukan orang yang direkomendasikan Petra.

"Darimana kau tahu kemana aku ingin pergi? Kau membaca buku harianku?" tanya Eren yang membuatku hampir salah tingkah.

"Eren, seseorang pasti mengetahui apa yang diinginkan oleh pasangannya, begitu pulalah denganku. Ya, mungkin hanyalah feeling…" jawabku untuk memastikan Eren.

.

.

.

"Lukisan ini sangat bagus, sangat mirip dengan wajah kita" puji Eren pada lukisan yang baru saja selesai aku urus dengan senang.

"Apakah kau menyukainya?"

"Ya, aku amat menyukainya. Eh, Rivaille, apakah kita akan pergi lagi?" tanya eren tak serius, dapat kutangkap karena senyum yang mulai merekah aneh seperti mengejekku.

"Ya, ikut saja denganku…" jawabku membuat Eren terkejut.

"Kau serius?"

Perjalanan sungguh melelahkan. Kami sampai di sana kurang lebih pukul 4 sore. Eren benar-benar ingin mengetahui ke manakah ia dibawa.

"Ya, Eren. Sekarang kau sudah dapat melihatnya" ucapku setelah sampai di tempat yang kumaksud.

"Rivaille! Terima kasih sekali, kau mau mengajakku ke taman ini!" perkataan Eren menunjukkan bahwa ia amat senang dapat sampai di tempat ini.

Bunga-bunga matahari memang adalah kesukaan Eren. Padang rumput yang diselimuti bunga kuning ini memberikan suasana nyaman baginya.

Tak kami sangka, kami sampai di tempat itu ketika matahari ingin tenggelam.

"Rivaille, tempat ini sungguh indah. Akankah kita menikmati hal ini bersama lagi?"

"Eren, jangan mengatakan hal tersebut. Kau belum mau mati kan?"

"Hei, aku ini manusia. Tolong pergunakanlah 'meninggal' setidaknya", protes Eren.

Senyumku tak dapat tertahan ketika sebuah protes keluar dari mulut Eren dengan suara yang mirip anak kecil.

Matahari mulai berkeliling ke sudut dunia lainnya. Siluet terbenam masih menyelimuti cakrawala. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya. Tanpa sadar Eren telah tertidur dengan kepala terpangku di pahaku.

"Eren, janganlah pergi dahulu. Masih banyak yang ingin kuperlihatkan kepadamu" kukecup kening Eren sambil membelai rambutnya.

Setelah itu kami pulang untuk beristirahat.

29 Maret 2014.

Terik matahari pagi membangunkanku. Eren masih belum bangun dari tidurnya ketika kuperiksa kamarnya. Nafasnya saat tidur sangat tenang, seperti anak bayi yang sedang tertidur nyenyak.

Kupikir ini adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan ideku.

Ting tong

Bel rumah berbunyi. Keempat temanku datang dengan peralatan-peralatannya.

"Kalian siap?"

"Iya, tentu…"

.

.

.

"Eren, ayo bangun. Ada yang ingin kutunjukkan padamu."

"Hoam… Baiklah, Sir" suara Eren yang baru bangun sungguh lucu di telingaku.

Aku membawanya ke ruang keluarga yang langsung terhubung dengan taman sebelah rumah. Di sana teman-temanku sudah bersiap memberi kejutan pada Eren.

"Baiklah, sesuai dengan yang kau inginkan, Eren"

Tamanku sudah dihias mereka seperti sedang musim dingin. Beberapa detik setelah aku berbicara, Gunther dan Erd mulai menjatuhkan salju buatan kami. Suasana amat terasa seperti sedang musim salju.

"Rivaille, bagaimana caramu melakukan hal ini?" tanya Eren yang tak dapat menyembunyikan kesenangannya dan keharuannya. Hampir saja ia meneteskan air mata saat memelukku.

"Mari, masih ada yang ingin kuperlihatkan padamu. Ajakku ke halaman belakang.

Petra dan Auruo sudah meriset halaman belakang yang seharusnya bertanaman segar dan bernuansa musim semi, dengan tanaman-tanaman khas musim gugur, sampai-sampai mereka membeli pohon mapple buatan yang amat menggambarkan musim gugur.

Mereka juga telah bersiap di atap, dan mulai menjatuhkan daun-daunan khas musim gugur yang telah aku dan mereka buat selama masa persiapan.

"Rivaille…" titik air mata Eren bertambah deras. Eren sangat terharu dengan apa yang telah kami siapkan. Pelukan Eren bertambah erat kepadaku. Aku menganggapnya sebagai bentuk terima kasihnya padaku.

Ternyata aku salah.

Setelah pelukan Eren bertambah erat, tiba-tiba tenaganya menurun drastis. Eren kembali jatuh tersungkur di lantai.

"EREN!"

Teriakanku mengagetkan teman-temanku. Mereka langsung menghampiriku.

"Ada apa, Rivaille?"

"Eren? Apa kau baik-baik saja?"

"Ayo kita bawa lagi ke rumah sakit untuk diperiksa!"

"Baik, pakai saja mobilku!"

Setelah itu kami langsung pergi.

(di rumah sakit)

"Keadaannya bertambah buruk. Kelihatannya tubuhnya sudah mulai melemah drastis", jelas Dr. Erwin kepadaku dan teman-temanku di ruangannya.

"Apakah ia masih bisa bertahan 1 hari lagi, dokter? Besok adalah hari ulang tahunnya…" ucap Gunther cemas.

"Ya, aku juga tak mengetahuinya. Kalaupun bisa, kemungkinan itu adalah hari terakhir baginya…"

Teman-temanku mulai membungkukan kepalanya. Mereka turut merasakan apa yang kurasakan.

"Maafkan aku, teman-teman, selama ini sudah merepotkan kalian…"

"Tak apa, Rivaille. Ini semua demi Eren…", Petra yang paling tak kuasa menahan tangisnya.

"Baiklah, besok adalah hari terakhir kita. Kita harus berusaha sebisa mungkin, agar Eren dapat mengenang semua tentang Rivaille dan dunia ini…" ucap Erd yang berusaha tersenyum untuk menghibur yang lain.

.

.

.

.

.

Minggu, 30 Maret 2014

Hari yang cerah. Eh, ini adalah hari terakhir Eren. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menyenangkan Eren. Kalau bisa, topeng datar ini juga ingin kubuang, khusus hari ini.

Ting tong

Bel rumahku kembali berbunyi seperti kemarin pagi. Bahkan orang yang menekannya juga sama seperti kemarin.

"Rivaille, apakah kami boleh ikut menghabiskan hari ini bersama Eren pula?" Petra mewakili mereka berempat.

"Tentu saja" jawabku terharu.

"Hoam… Selamat pagi semua, eh? Kok ada kalian?" Eren terkejut melihat ruang tamu yang biasanya kosong, sekarang terisi oleh empat orang yang ia kenal.

"Pagi Eren"

"Bagaimana keadaanmu pagi ini?"

"Apa kau merasa sakit?"

"Bagaimana, nyenyakkah tidurmu tadi?"

Semua yang hadir antusias menanyakan bagaimana keadaan Eren. Setelah itu, mereka mempersilahkan Eren yang tak enak hati karena belum mandi pergi. Mimik mukanya membuat yang lain tersenyum padanya.

.

.

.

Ternyata, hadir pula teman-teman kuliah Eren. Mereka yang kukenal antara lain: Jean, Connie, Mikasa, Armin, Berthold, Reiner, Sasha, Christa, Ymir, Annie. Beberapa orang lainnya tak kukenal, tapi yang jelas mereka adalah teman terdekat Eren.

Hari ini, kami berpesta ria akan ulang tahun Eren yang ke-23 tahun. Semuanya telah membawa kado. Sasha, Christa, Annie dan Mikasa telah membelikannya sebuah kue Tart untuk Eren.

Eren kembali terharu dan mengalirkan air matanya tanpa henti.

Eren, kami di sini ada untukmu. Jangan pernah merasa sendirian. Biarlah hari ini kita menghabiskan waktu bersama dengan canda tawa ria, sama seperti dahulu

"Terima kasih, semuanya. Kalian mau datang menjengukku. Ya, aku tahu, hari ini adalah hari terakhirku menurut Dr. Erwin…"

Belum selesai kalimat yang Eren sampaikan, beberapa perempuan yang hadir mulai menangis. Eh, darimana Eren tahu hari ini hari terakhirnya?

"Tanpa sengaja aku mendengar perkataan Dr. Erwin dengan Rivaille dan teman-temannya. Aku merasa senang sekali berada di antara kalian…" kalimat itu terasa mengambang. Eren kembali menangis…

"Eren, lebih baik kita pergi untuk merayakan ulang tahunmu, dan untuk mengisi memori terakhir tentang kita semua" ajak Jean, Berthold, Reiner, dan yang lainnya, karena yang perempuan masih sibuk bersedih hati.

"Ya, hari ini aku berencana untuk mengajak Eren ke taman Bermain festival akhir bulan di pusat kota. Apa kalian mau ikut?" ajakku pada yang lainnya.

.

.

.

(di festival akhir bulan, kira-kira pukul 4 sore)

Semuanya ikut ke taman bermain. Semua keinginan Eren mungkin dapat terpenuhi hari ini, bahkan lebih dari cukup. Semua teman baiknya juga ikut ambil bagian mengisi keinginan terakhir Eren. Semua merasa senang, termasuk juga diriku.

"Rivaille" sapa Eren sambil makan permen kapas.

"Ada apa, Eren?"

"Aku sangat ingin sekali menaiki bianglala dan carousel bersamamu. Maukah kau…"

"Baiklah, ide yang bagus. Ayo kita pergi " jawabku cepat sebelum pertanyaan Eren selesai.

Canda tawa, suka duka, pahit manis semua kejadian hari ini kami lewati. Khusus diriku, aku dapat melihat senyum tulus dan gembira yang amat terasa dari Eren saat menaiki carousel dan bianglala, hanya berdua. Ingin sekali hari itu tak pernah berakhir…

Semua kegiatan kami, kami akhiri dengan menonton pertunjukan kembang api. Karena Eren yang menginginkan, aku membawa Eren ke tempat yang sedikit terpencil, hanya untuk kami berdua menonton pertunjukannya.

"Eren, maafkan aku karena tak dapat menjagamu hingga tahun baru nanti, tapi kita tetap akan bersama-sama menonton pertunjukan kembang api kan?" tanyaku yang mungkin akan terdengar sedikit manja.

"Tak apa, Rivaille. Hanya satu pertanyaanku: kau benar-benar membaca buku harianku ya? Semua yang kau lakukan untukku amat sangat sesuai dengan apa yang aku inginkan dan aku tuliskan di buku harian…"

"Baiklah, aku mengaku. Aku terpaksa melakukan hal itu untuk membuatmu senang di hari-hari terakhirmu… aku sungguh menyesal…" rasa bersalah mulai muncul padaku.

"Tak apa, Rivaille, toh aku juga takkan bisa membacanya lagi…"

Duar… duar… duar…

Pertunjukan kembang api sudah dimulai. Eren sangat bahagia dapat melihatnya hanya denganku.

.

.

.

"Eren"

"Iya?"

"Maukah kau menjadi pasanganku selama-lamanya, meski maut memisahkan kita nanti?"

Aku berlutut di depan Eren, dengan latar belakang pertunjukan kembang api yang masih berlangsung, sambil mengeluarkan kotak berlapis beludru yang sudah kupersiapkan.

"Rivaille…", Eren kembali terharu kepadaku. Air matanya mengalir kembali.

"Iya, Rivaille", Jawab Eren atas lamaranku saat itu.

.

.

.

Kami langsung saja berciuman setelah Eren menjawab lamaranku.

"Eren, berjanjilah padaku. Jikalau kau pergi, tunggu aku di sana. Oke?"

"Iya, tenang saja. Aku akan selalu menunggumu."

Eren menyandarkan kepalanya pada pundakku, dan kepalaku di atas kepalanya. Sambil duduk di bangku taman, hanya berdua, serasa dunia milik berdua.

Suasana sudah mulai sepi kembali.

"Eren, pertunjukan sudah selesai, mari kita kembali", ajakku pada Eren untuk kembali ke rombongan."

Hening. Tiada jawaban.

"Eren?"

Masih kosong. Hampa.

Aku langsung menatap menatap Eren dan mendengar detak jantungnya. Ternyata ia sudah pergi…

.

.

.

"Hei kalian berdua, kemana saja?"

"Pertunjukannya sudah selesai, lho."

"Eren tertidur ya?"

Sakit sekali rasanya mendengar kata-kata senang dari semua orang karena belum mengetahui apa yang sudah terjadi…

"E-eren… sudah t-tiada…"

Hening sejenak melanda kami semua

"EREN!" semua terkejut mendengar pernyataanku dan langsung memeriksa keadaan Eren dengan tangisan dan kesenduan hati.

Eren pergi meninggalkan sejuta kebahagiaan yang sudah dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Kali ini, kami pulang membawa kesedihan yang mendalam…

.

.

.

Rest In Peace

Eren Jaeger

30 Maret 1991 – 30 Maret 2014

Our beloved Friend & Family

.

.

.

Eren?

Apakah kau bisa mendengarku?

Bagaimana keadaanmu di sana?

Bahagiakah engkau?

Terima kasih karena telah menjadi pelengkap hidupku.

Terima kasih pula karena kau telah hadir dalam hidup semua orang di sini.

Bagi kami, kau adalah orang yang paling kami sayangi.

Memang hidupmu bisa dibilang baru seumur jagung,

Namun kehadiranmu sungguh menyadarkan arti hidup bagi semua orang.

Tetaplah menungguku di sana, Eren…

…FIN…


A/N:

Akhirnya cerita ini kelar juga, hehehe. Bagaimana tanggapannya? Cerita di chapter 2 agak sulit dicerna ya? Saya akui, standart kata-katanya udah nggak setara lagi sama yang chapter 1(?).

Seperti di penjelasan awal, gejala tumor otak yang saya ketik ini nggak tahu bener apa nggak. Termasuk juga yang kemoterapi. Cuman ngarang doang /glepak. Kan secara logika, kalau orang udah tinggal 1 bulan dikemoterapi mau buat apa? Efeknya nggak terlalu keluar kan? #ditamparduakaki

Kalo ide cerita, masih sama dengan yang "Buku Harian Nayla" di bagian awal. Kalo di bagian kejutan buat Eren:

# ide salju dan daun mapple berjatuhan dari langit (gambaran musim salju & musim gugur) itu dari oh ternyata yang pas episode apa gitu, lupa. Pokoknya si tokoh utama sakit keras, pengen lihat salju. Kakak-kakaknya bikin kejutan dengan membuat salju buatan dekat jendela kamar INAP si tokoh utama. Akhirnya si tokoh utama meninggal dengan bahagia.

# ide festival akhir bulan itu dari pengalaman pribadi. Waktu dulu saya tinggal di Tangerang, tiap berapa lama ada pasar malam.

# ide carousel itu dari hadiah yang saya kasih ke seseorang

# ide bianglala saya dapet karena saya ingin mengulang kembali kenangan saya naik bianglala dulu… hehehe

# taman bunga matahari, hmm… nggak tau deh kalo itu dari mana. Tapi kalau bunga matahari, itu salah satu bunga yang disukai seseorang yang saya kasih carousel mini tadi.

Kesimpulannya, cerita ini sedikit curhatan dari hidup saya sendiri, hehehe #modusdetected

Mohon maaf kalau cerita di chapter 2 nggak nyambung, soalnya udah nggak ngerti mau gimana lagi ngerangkai kata-katanya supaya bisa ditangkap dengan mudah.

Minta pendapatnya ya, para senpai sekalian…

Makasih pada mau baca, follow maupun favorite-in

Ketemu lagi di cerita selanjutnya…

Aoyama Akiyoru