I KNOW I LOVE YOU, BUT I LIE.

.

"Ternyata seleramu jadi seperti ini ya, Uchiha."

Tanpa aku sadari dia yang seperti merasa terhina dengan ucapanku, aku mengerang, aku seperti bisa merasakan dia akan membuatku tergila-gila nanti.

.

.

Terima kasih untuk reader tercinta haha;

uzuHyuuga; maaf kalau mungkin memang kurang dirasa feelnya hoho.. dan ini untuk kalian, Cherryma; ini udh next :* hanyuuu; haha kita lihat saja yaa, suket alang alang; siapa ya haha sasu bukan playboy hanya doyan cwe wkwkkwk, tafis; ini udh next loohhh, hanazono yuri; yappp, ; haha asal jangan kau shannaro aku aja :D Hinatahh; iya ini pertama dan semoga tidak mengecewakan, HinataHh; bayangkan dan apresiasikan? Lohh? Hahaha loliiku; aku juga greget ama kamu hahah, Sieg2013; aku akan jadikan flamers sebagai pendukung terselubung hahhaa trima kasih dan dukung terus yaa :* name rina; ini udh aku lanjutt Ara-ayp; apa yaaaa, DrynAltera; ah haloo :* datang lagi ya.. niatnya sih ingin mencongkel keyboard tapi ini bukan hakku hahha terimakasih sudah dukung Ending diakhir yaa :P

ALL SILENT READERS

.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

I Know I love You, but I lie Watanabe Niko

Pairing: Uchiha Sasuke x Haruno Sakura

Rate: M

Genre: Romance, drama

WARNING:

AU, OOC, TYPO, EYD berantakan dan segala kekurangan lainnya

Aku tidak menerima material apapun dari pembuatan fict ini, hanya menyalurkan hobby dan kuharap kalian menghargaiku.

.

.

Summary:

Dia membuat duniaku berantakan, dia yang meminta cinta, dan aku yang membuang cinta. Hingga pada sebuah kebencian dan membuatku seolah mengemis akan perasaan yang selalu menghantuiku.

Dia terlampau menggoda.

.

.

Kini Konoha benar-benar diguyur hujan yang hebat, rintiknya bagai tirai yang membuatku tentram, karena aku menyukai hujan, karena aku menyukai emosiku yang meluap dan mengalir dengan rintikan yang menetes itu. Aku menatap keluar melalui jendela kamarku, tetesan embun menghiasi kaca itu, kujulurkan tangan rampingku untuk sekedar menyentuhnya. Merasakan perasaan yang aku rindukan dan mengalir ke dalam tubuhku.

Dingin.

Aku menyenderkan tubuhku pada sisi kanan sofa, kupejamkan mata hijau emeraldku lalu menghela nafas ringan, mengatur napasku dan memoriku yang seakan berantakan.

Apa aku menyesali perbuatanku pada si Uchiha itu? Entah. Dan itu terlalu ambigu untukku, entah kenapa aku malah merasa dia telah menyeretku pada dunianya, aku bahkan dulu sama sekali tidak tertarik bahkan untuk sekedar menatap wajah dosen yang digilai wanita-wanita di luar sana. Dia terlalu sederhana di mataku, ya ampun... aku bahkan tidak mengetahui lelaki yang seperti apa yang spesial di mataku. Yang aku tahu sekarang, aku tidak tertarik dengan makhluk bergender lelaki.

Aura dingin di luar benar-benar mendominasi kamarku, biasanya aku akan berteriak pada Sasori, kakak lelakiku jika hujan datang dan mengajaknya untuk menikmati hujan tapi sekarang jangankan tertawa di bawah sana, untuk berjalanpun rasanya aku sangat malas. Ah rasanya aku merindukan sosok lelaki sersurai merah itu.

Tok tok tok.

Aku membuka mataku, lalu kulirik daun pintu, barusan seperti ada yang mengetuk tapi siapa? Atau mungkin hanya khayalanku saja, tapi ketukan itu kembali terdengar, aku menarik selimut yang aku gunakan hingga menutupi seluruh tubuhku dan berteriak "Masuk."

"Saki."

Ah suara ini, aku mengenalnya, suara yang aku rindukan. Buru-buru aku menyibak selimutku dan menatap lelaki berwajah baby face itu, baru saja aku memikirkannnya dan kini dia hadir di depanku.

Sasori melambaikan tangannya dan tersenyum menggoda padaku, aku pun segera melempar selimut yang sejak tadi kukenakan di tubuhku, membiarkannya tergolek pasrah di lantai dan segera kularikan kaki jenjangku. Dia terhentak kaget, aku tahu itu dengan caranya memundurkan kaki yang berbalut celana jeans itu.

"Nii-chan."

Aku memeluknya dan dia tersenyum lalu mengelus surai merah muda milikku, lama sekali dia pergi untuk menempuh kuliahnya di Suna. Setelah 5 tahun meninggalkanku kini dia pulang dan tanpa mengabariku terlebih dahulu, well aku jengkel sekaligus senang.

Kupererat pelukanku pada kakak satu-satunya yang aku miliki setelah kepergian kedua orangtuaku. Dan dia menjitak kepalaku pelan "A-aw!" dia terkekeh.

"Begitu rindunya kau padaku Saki?" tanyanya. Dia melempar senyum yang semakin menggoda padaku. Wajahnya semakin dewasa dan aku yakin banyak wanita yang tergoda di luar sana. Tapi hingga detik ini Sasori tidak pernah mengenalkan seorang gadispun padaku. Mungkin dia terlalu mencintaiku, adiknya. Aku tersenyum bodoh.

"Ya. Sangat dan kau kenapa tidak mengabariku terlebih dahulu? Kau jahat Sasori." Aku memukul lengannya dan dia tertawa renyah lalu mencubit pipi kananku.

"Aku ingin membuat kejutan untuk adik bodohku ini haha... kau sama sekali tidak berubah Saki. Dan berhenti memanggilku Sasori, barusan kau memanggilku dengan Nii-chan dan memelukku dengan erat begitu."

Aku mendengus dan melengos "Untuk apa memanggil kekasihku dengan sebutan Nii-chan." Sedetik kemudian aku mengerang mendengar ucapanku sendiri, sejak dulu saat aku merajuk karena dia terlalu dekat dengan seorang gadis, Sasori selalu berkata bahwa dia kekasihku jadi aku tidak perlu cemburu, aku terkekeh mengingat kejadian bodoh itu.

"Kau masih menganggapnya begitu? Ternyata sudah besarpun kau masih bodoh ya Saki."

Aku segera melempar bantal yang berada di sampingku dan dia menangkapnya seraya tertawa, ini membuatku jengkel! Benar-benar, dasar Sasori sialan!

"Berhenti meledekku bodoh!"

"Oh baiklah Nona, aku mengerti." Dia berhenti tertawa tapi dia tetap tersenyum aneh menatap iris emeraldku, aku mengutuk kata yang dengan bodoh meluncur indah itu. Kemudian dia menatap pada sesuatu di ponselku, aku pun mengikuti arah pandangnya, ada 1 e-mail dari lelaki yang menguras otakku, dia─

"Kau mengenal Uchiha itu?" Sasori menatap jengah pada nama Uchiha Sasuke yang tertera dengan manis di layar touchscrenku. Aku menatapnya, diam dan datar sampai dia menaikkan satu alisnya, aku menghela nafas. Sepertinya ada nada sinis pada ucapan Sasori.

"Dia dosenku. Tidak lebih, kenapa?" ujarku dan kulihat iris mata Sasori menatapku seolah mencari entah apa itu, dan aku membalas tatapannya karena aku memang tidak berbohong atau menyembunyikan apapun. Dia menghela nafas dan melempar pandangannya pada rintik hujan di luar.

"Tidak apa-apa. Jauhi dia."

Satu kalimat yang seolah menjadi perintah mutlak untukku dan dia beranjak meninggalkan kamarku serta aura aneh yang menguar.

Aku tidak pernah tahu, apa yang sebenarnya terjadi diantara Sasori dan Sasuke.

.

.

.

Dia. Lelaki berambut model spike itu melempar beberapa lembar kertas di mejaku, aku manatapnya malas, kulayangkan tatapan bertanya dan dia menatapku datar, hei. Kemana wajah manismu bagai malaikat itu?

"Tugasmu, kemarin kau membolos mata kuliahku." Aku mengerti dan segera meraih kertas itu namun saat aku hendak menariknya dia memegang ujung dari kertas itu dan menatapku.

Oniks itu kian menyebalkan semakin harinya, bukan aku merindukan tatapan manisnya, tapi bisakah dia bersikap biasa saja tanpa harus memandang sengit kearahku?

"Apa lagi?" aku menghela nafas lelah dia tersenyum, senyum yang kelewat menawan untuk ukuran dosen, aku mendengus.

"Selesaikan satu jam mendatang dan bawa ke ruanganku."

"Ta─"

"Di sini aku yang dosen dan kau hanya seorang Mahasiswi." Skak! Dia mengucapkan itu lalu terkekeh dan meninggalkan meja kuliahku dengan santai, aku menahan emosi yang benar-benar berada di ujung tenggorokanku untuk meneriakkinya, dia kelewat menyebalkan, hanya karena dia seorang dosen lantas dia fikir aku akan menuruti semua perintahnya?

Aku tidak akan seperti itu, hei Uchiha. Kau sepertinya belum mengenal siapa Haruno.

.

.

.

"Sakura, aku juga tidak masuk di jam kuliah Uchiha kemarin, bagaimana kalau kita kerjakan bersama?" Ino mendekatiku, dan mencomot kentang goreng yang tersaji di depanku. Aku heran, dari mana dia tahu aku berada di kafe saat ini dan kembali membolos mata kuliah Uchiha itu?

"Terus kenapa kau ada di sini?" aku menatapnya dan kembali menyesap jus strawberry yang biasa aku pesan di kafe ini. Dia nyengir dan menatap bodoh padaku.

"Lagi tanggung, shopping hahaha." Aku menggelengkan kepalaku dan menyuruhnya duduk, daripada dia berdiri dan menyomot makananku begitu, well ini kafe bukan dirumah nona Yamanaka.

"Belanja apa tadi?"

Ino menunjukkan paper bag padaku. Aku mengangkat bahu dan kembali pada makananku dia kemudian menyentuh bahuku pelan, aku menatapnya kemudian dia meringis

"Kurasa hubunganmu dengan dosen itu semakin buruk Saki?"

"Bahkan tidak pernah baik." Jawabku datar dan kembali memutar bola mataku lalu mencibir dan dia hanya mengangkat bahunya.

"Kufikir kau tertarik dengannya." Ujar Ino dan aku mendengus, well, aku memang tertarik padanya Ino tapi kutekankan aku hanya ingin mencari kembali jawaban itu dari hatiku.

"Dia terlalu silau bagiku."

"Kau tidak pandai mengelak." Dan aku tertawa sungguh tidak akan habis jika berdebat dengannya, lalu kulihat Ino sedang memperhatikan sesuatu di belakangku dan aku menatapnya dia menggerakkan kepalanya seolah menyuruhku untuk berbalik dan melihat ada apa gerangan di sana.

Aku menoleh, di sana terlihat Naruto dan Hinata sedang jalan berdua aku mendengus geli dan kembali menatap iris mata Ino, "Mereka sudah bukan hal aneh."

Dan Ino tekekeh lalu tangannya terjulur padaku dan membuatku menolehkan kembali kepalaku, sungguh aku mengumpat perbuatannya dan kini tatapanku kembali pada pasangan paling romantis seantreo Konoha, tapi sekali lagi aku menyipitkan mataku, di sana terlihat seseorang dengan rambut spike sedang tersenyum pada seorang gadis aku mencibir dalam hati, untuk apa Ino memperlihatkan ini padaku?

"Dan, apa maksud perlakuanmu?" aku menarik lengan Ino dan menatapnya intens dia tertawa dan mengedikkan bahunya.

"Hanya ingin menguji apa kau sebenarnya masih menyukainya atau tidak."

"Dan aku tidak pernah menyukainya Pig!" aku menghentaknya kasar, rasanya aku sedang berbicara pada manusia yang sangat keras kepala, bukannya meminta maaf atau apalah dia malah semakin tertawa menjadi. Aku berdecak kesal lalu meraih tasku dan meninggalkannya.

"Berhenti membohongi dirimu Sakii!" teriak Ino sebelum aku keluar dari kafe itu dan aku tidak akan pernah menggubrisnya sama sekali

.

.

.

Kini jengkel benar-benar menguasai hatiku, melepas penat aku bergegas menuju kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhku dengan air dingin agar emosiku meluap, ditengah kegiatanku sempat-sempatnya scene tadi mampir di pikiranku, wajahnya yang tersenyum juga gadis itu yang menanggapi dengan pukulan kecil yang dia daratkan pada Sasuke, ya Tuhan... apa yang membuatku emosi? Ucapan Ino atau─Sasuke?

Aku menghentak kakiku dan memukul kasar shower yang mengeluarkan air dengan deras itu, ingin rasanya aku berteriak dan menjambak rambut Sasuke.

Setelah kurasa cukup dengan semua emosi yang aku luapkan aku menuju jendela, tentu saja dengan piama yang melekat di tubuhku, di sana aku menatap langit yang terlihat menggelap, kuhembuskan nafas sekali lagi, Sasori pergi lagi, dan tidak ada yang bisa menghiburku saat ini. Sampai tiba-tiba dering ponsel menyapa telingaku, tanpa melihat nama yang tertera aku mengangkatnya karena kufikir pasti Sasori yang menelponku.

"Kau sudah tidur?" dan aku salah menebak, suara itu bagai meruntuhkan dinding kesabaranku aku melangkahkan kakiku menuju kasur dan merebahkan tubuhku, mengatur nafas aku kembali menatap langit-langit.

"Aku mengangkat telponmu dan kurasa kau tahu jawabannya."

Dia terkekeh "Jangan terlalu sinis, bisa-bisa kau menyukaiku."

"Berhenti besar kepala." Ujarku mendengus, iris emeraldku terpejam. Aku tahu aku akan kembali membohongi perasaanku, tapi akan kubuat dia benar-benar menyukaiku, bukan hanya sekedar menggilaiku.

"Aku merindukanmu." Kalimat itu terdengar lembut dan membuat hatiku tercelos seketika lalu aku menatap namanya yang tertera di layar ponselku, ya. Ini bukan kebohongan, dia berkata merindukanmu Sakura, kini kau senangkan? Aku tersenyum kecut menyadari pola pikirku.

"Dan aku tidak. Puas? Bisa matikan panggilanmu ini?" aku meringis mendengar ucapan yang keluar dari mulutku sendiri, dan kudengar dia menghela napas lagi, aku tahu, dia kembali berusaha untuk bersabar

"Tunggu aku, aku akan hadir kembali bukan sebagai dosenmu. Melainkan lelaki yang siap untuk melamarmu." Tegas dan ya Tuhan...! apa ini hanya permainanmu? Aku merasa ragaku menari dengan perasaan yang teramat senang karena ucapannya namun lagi-lagi logika yang mengambil alih fikiranku.

"Omong Kosong."

TUUTT TUUUTTT

Aku menatap layar ponsel dengan panggilan yang terputus, sial! Dia membuatku geram. Apa sebenarnya arti ucapannya itu, aku mengerang dan kembali melampiaskannya dengan meremas erat boneka teddy bear pemberian ayahku dulu.

.

.

.

Pagi ini tampak lebih ramai dari biasanya, entahlah aku tidak mengetahuinya dan aku berjalan pelan ke arah kursi yang biasa aku tempati, manik emeraldku kini tertuju pada papan dan mendapati tulisan besar-besar di sana.

Uchiha-sensei BERHENTI dan dia tidak akan mengajar lagi.

Aku membelalakan mataku dan menoleh pada Ino yang terlihat tersenyum rahasia padaku, aku merutuk pada responku yang terlihat berlebihan, oke jangan bahas itu lagi.

"Jadi?" dia tersenyum jenaka padaku lalu kulempar buku yang baru saja kukeluarkan dari tasku padanya, dia terkekeh dan berhasil menghindarinya.

"Tidak ada yang perlu diributkan, oke?"

"Ta-tapi Sakura, kau tidak menyesal dia kini pindah mengajar? Apa kau tidak akan rindu dengannya," cicit Hinata dan aku menepuk jidatku, astaga! Hinata bahkan ikut-ikutan dengan Ino. Aku meringis dan kembali meraih tasku, sudah tidak ada mood untuk melanjutkan jam mata kuliah aku beralih ke atap dan merebahkan tubuhku di sana. Hingga kantuk merebut kesadaranku.

.

.

.

Aku tersenyum kala melihat seseorang yang menungguku di depan gerbang kampus, senyum yang dalam sehari ini tidak aku lihat, ya Tuhan... aku merindukannya.

" Pulang denganku?" tanya dia menawarkan tentu aku mengangguk dengan mantap dan meraih tangannya yang terjulur padaku lalu kami memasuki mobil BMW milik Sasuke, di jalan dia hanya terdiam. Begitu pun aku.

Kami bagai sibuk dengan pikiran kami sendiri hingga tiba-tiba aku merasakan laju mobil yang terhenti, aku menatap Sasuke, namun lelaki itu tetap memandang kedepan. Aku menunggu karena kau tahu dia ingin mengucapkan sesuatu, hingga dia menoleh dan manik oniks itu menatapku lekat.

"Aku mencintaimu."

Beban di hatiku bagai runtuh hanya dengan kata itu, aku merasakan hangat yang menjalari tubuhku hingga aku tidak dapat menahan senyum yang ada di wajahku, aku melirik ke bawah menghindari tatapan matanya yang memberikan kenyamanan padaku, dan tangannya terjulur mengelus pipiku pelan membuatku harus menatapnya. Dia tersenyum

Dan sangat lembut.

Kami-sama... terima kasih telah memberikan dia untukku, lalu aku merasakan dia yang semakin mendekat kearahku juga tanpa perlawanan dariku dia mencuri satu ciuman dariku lalu tersenyum.

Aku merasa pipiku memanas dan dengan sekali sentakan aku menarik kerah bajunya, mata kami bertubrukan dan dia kembali memejamkan mata dan memiringkan kepalanya. Ya. Dia kembali menciumku, ciuman yang penuh kerinduan di setiap lumatannya, seolah setelah ini kami tidak akan bertemu lagi.

"Ra─SAKURA BANGUUNN!"

Aku terlonjak kaget dan menahan keningku yang terasa pening akibat teriakan yang menyapa gendang telingaku, "Shitt!" umpatku, aku bermimpi dan membuatku seolah ingin selalu hidup di dalamnya aargghh! apa yang aku pikirkan. Kujambak helaian merah mudaku hingga sebuah tangan menahanku.

"Gaara."

"Kenapa kau tidur di sini?" tanya Gaara dan membantuku untuk duduk kemudian bersandar di sebelahku, aku menghela nafas, akan sangat lucu bukan jika aku menceritakan pada Gaara?

"Aku lelah hanya itu."

"Sasori menunggumu, cepat turun."

Aku melebarkan bola mataku mendengar nama itu keluar dari mulut Gaara, perasaan kemarin Sasori ijin padaku untuk kembali ke Suna dan kini dia menjemputku. Aku tertawa lebar dan segera menyambar tas lalu meninggalkan atap beserta Gaara.

.

.

.

"Jadi ada hubungan apa kau dengan adikku?"

Sayup-sayup aku mendengar suara yang familiar di telingaku, kakiku berhenti berlari dan kini berjalan dengan lambat aku menggenggam erat tasku dan kembali melangkah hingga suara yang beberapa menit lalu hadir di mimpiku kini menyapa gendang telingaku,

"Apa urusanmu?"

Aku kembali terdiam, aku tersenyum dalam hati. Benar kata Ino kalau aku tidak boleh membohongi perasaanku sendiri, setelahnya aku akan jujur membalas perasaannya. Toh sekarang dia bukan dosenku lagi. Aku terkikik geli dan mendekati mereka sampai aku mendengar ucapan Sasori─

"Kau yang membunuh orangtua kami."

DEG!

Aku tersentak dan kembali memundurkan langkahku, iris hijauku bergetar hebat, apa yang sebenarnya diucapkan Sasori? Pembunuh? Sasuke? Aku terkekeh dan kembali terdiam lalu menunduk.

Ini kah alasanmu mendekatiku Sasuke?

.

.

To be continue

.

.

Owalaaaa... sudah TBC lagi hoho... maaf jika chapter ini mengecewakan, but thanks yang sudah mem-fav atau mem-foll aku berterima kasih sangat, dan untuk silet reader aku berharap kalian ajdi reader aktif karena review kalian adalah semangatku

MIND TO REVIEW?

Watanabe Niko