Your trouble is my trouble
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuIno slight ItaIno
Rate : T
Summary : Pada saat Sasuke ingin membalas perasaan Ino, namun disaat itulah
rintangan lain menghadang. Dikarenakan yang satu hilang ingatan dan yang
satunya lagi berusaha lari dari kematian. Bagaimanakah keduanya dapat
bersatu sementara masing-masing punya masalah sendiri?
Seperti biasa, balas review dulu.
Yang pertama dari…
zielavienaz96 : Makasih karena sudah suka :D
Kemudian…
Azurradeva : Udah dilanjut, kan?
Runa BluGreeYama : Untuk pertanyaan menyangkut Ino-chan belum bisa dijawab. Ikutin aja alur ceritanya, ya? Untuk Sasuke bisa dilihat dibawah.
Twinkletwinkle Litle Star : Udah dilanjutkan, Star-chan? #bolehpanggilgitukan?
SasuIno : Terima kasih atas kritiknya. Untuk cinta segitiga? Bagaimana, ya?#Plak# cerita sendirisajatidaktahu.
Aku ucapkan terima kasih untuk semua yang udah baca dan review ceritaku tak terkecuali untuk silent reader sekalian.
Langsung saja, cekidot.
?!
Flashback
'Ada apa denganku? Dei-nii, tolong aku! TANGANKU TAK BISA BERGERAK!' Jerit Ino dalam hati.
End of flasback
CKLEK
Seseorang baru saja masuk.
Praang…
"Kenapa denganmu, un?" Deidara menatap cangkir yang pecah itu dan remote tv yang juga pecah tak jauh dari si cangkir.
"Tadi…" Ino menggantungkan perkataannya.
"Ah, tidak ada apa-apa kok Dei-nii. Cuma karena tanganku licin. Kenapa Nii-san balik lagi?" Ino berusaha memasang lagi remote tv itu.
Deidara sempat melihat Ino yang melamun kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kau yakin tidak apa-apa?" ucap Deidara sambil berjalan ke arah dapur.
"Tidak apa-apa, cuma hal biasa." Ino menekan tombol off pada remote tv itu namun tidak berfungsi. Gadis ini memang tidak berbakat dalam bidang teknisi. Ino pun mematikan tv dari tombol yang ada disamping tv.
"Cepatlah bersihkan pecahan cangkir itu, un! Biar sekalian aku mengantarmu ke kampus. Imouto-chan!" Deidara menghampiri Ino dengan membawa parsel buah-buahan.
"Apa kau yang memakannya, un?" tanya Deidara sambil menunjukkan parsel berisi buah dalam keadaan plastik sudah terbuka kepada Ino.
"Iya, kenapa? Memang untuk dimakan, kan?" Ino membuang pecahan cangkir itu ke tempat sampah yang ada di dapur.
"Sebenarnya untuk menjenguk orang sakit, un. Tapi tak apalah." Deidara mengembalikan lagi parsel itu ke tempat semula.
"Ya sudah, ayo berangkat un!" Deidara mengambil kunci mobilnya.
"Tunggu sebentar!" Ino buru-buru mengeringkan telapak tangannya kemudian mengambil ponsel serta tas selempangnya lalu mengunci pintu.
?!
'Selamat pagi untuk semua listeners Scaato FM. Tak bosan-bosan Karin ingatkan untuk selalu awali harimu dengan senyuman. Karena hei, kemarin ya kemarin dan sekarang ya sekarang. Dan untuk membuat hari kalian lebih baik, Karin akan menemani kalian sampai jam 10 nanti. Untuk mengawali hari ini, Karin akan berikan satu buah lagu berjudul 'Zombie' meskipun gak nyambung dengan perkataan Karin tadi, ya. Tapi inilah Karin, jadi selama dua jam ke depan kalian terjebak bersama Karin. Hahaha... baiklah langsung saja, cek it out!' Suara radio mengisi keheningan di dalam mobil sejak awal.
"Dia cepat sekali move on, un." Deidara memperbesar volume radio.
Tapi, perkataan tadi tak ditanggapi sedikit pun oleh gadis disebelah Deidara ini.
Tak seperti biasanya, hari ini gadis blonde yang terkenal cerewet ini hanya diam saja.
Ino terlihat melamun menatap jalanan sambil memutar-mutar handphonenya, tak menyadari kakaknya yang sudah menatapnya dua kali namun diacuhkan.
'Kenapa denganku tadi, ya? Apa itu cuma khayalanku saja? Tapi seperti nyata.' Ucap Ino dalam hati kemudian melihat tangannya yang masih memutar-mutar ponsel.
"Kalau ada masalah sebaiknya kau ceritakan padaku, un. Jangan kau pendam sendiri. Kau yang sekarang seperti bukan kau yang biasanya. Kalau saja tou-san melihatnya, aku akan habis dimarahi karena dikira tidak bisa menjagamu." Ujar Deidara.
"E-eh?" Ino tersentak dari lamunannya.
"N-Nii-san, a-aku rindu tou-san." Lirih Ino.
Ino terpaksa tidak mengatakan apa yang sebenarnya sudah mengusik pikirannya. Dia tak ingin itu semakin menambah pikiran kakaknya. Tapi perkataan Deidara tadi membuatnya teringat lagi dengan ayahnya. Ayahnya, menambah hal lain yang mengusik pikirannya. Bukan karena ayahnya telah pergi dengan perempuan lain, atau dapat dikatakan selingkuh. Ayahnya termasuk tipe suami yang setia. Setia karena meskipun istrinya sudah meninggal sejak Ino berumur 5 tahun, ayahnya tak pernah ingin menggantikan sosok istrinya dengan orang lain. Istrinya selamanya akan tetap menyandang status tersebut dan tetap ada di hati Inoichi, Ino dan Deidara. Tak ada yang bisa menggantikannya. Berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi Ino dan Deidara. Itulah prinsip Yamanaka Inoichi. Ino dan Deidara sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu karena mereka juga sependapat dengan ayah mereka.
Semenjak 6 bulan yang lalu, ayah mereka juga ikut pergi meninggalkan Deidara dan Ino menyusul istrinya.
Itu terjadi pada saat ada pesanan bunga dalam jumlah besar dari luar negeri. Saat itu, tak satu pun pegawai toko bunga yang dapat mengantarkannya. Inoichi bisa saja menyuruh Ino ataupun Deidara untuk mengantarkannya. Tapi Inoichi tidak ingin mengganggu kedua anaknya apalagi saat itu Deidara sudah mulai bekerja dan Ino sedang kuliah. Akhirnya dia sendirilah yang menangani. Tapi diluar dugaan, ayahnya tak pernah kembali seperti janji yang diucapkan Inoichi sebelum berangkat.
Flashback
"Ayah? Bunga-bunga itu mau diantar kemana?" Ino bertanya pada Inoichi yang sedang menyusun banyak sekali karangan bunga.
"Mau diantar ke Belanda, Hime." Kata Inoichi sambil memberikan senyuman pada anak bungsunya itu.
"Kenapa tidak Iruka-san saja yang mengantarkan?" tanya Ino polos.
"Apa kau tidak ingat kalau istrinya akan melahirkan?" Inoichi meletakkan karangan bunga terakhir kemudian ikut duduk di sofa dengan Ino.
"Apakah akan lama, ayah?"
"Tidak. Hanya 4 hari saja. Selama 4 hari itu, kau boleh menutup toko ini jika tidak sempat menjaganya." Inoichi mengelus rambut Ino.
?!
"Ayah pergi dulu, ya?" Inoichi pamit pada kedua anaknya.
"Ayah akan kembali, kan?" Ino menatap ayahnya dengan mata berbinar.
"Ada apa denganmu, Hime? Tentu saja ayah akan pulang." Inoichi menatap lembut anak bungsunya itu.
Deidara pun membantu memasukkan barang-barang ayahnya.
"Ayah! Usahakan pulangnya dipercepat!" teriak Ino sambil melambaikan tangan pada ayahnya yang kini sudah berada di dalam taksi.
"Ayah usahakan. Jaga diri kalian selama ayah pergi." Ucap Inoichi membuka kaca pintu taksi.
?!
Ino menyalakan tv setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya.
'Sebuah pesawat jatuh akibat terperangkap kabut di Belanda, kemarin malam. Akibat kejadian tersebut, pesawat Bo*b*ard*er 200 itu menabrak tebing dan menewaskan seluruh penumpang yang berjumlah 31 orang. Saat ini…'
"AYAAAH!" gadis blonde itu menjerit.
End of flashback
Ino benar-benar tak menyangka bahwa saat itu adalah hari terakhirnya bertemu ayahnya. Jadilah ia sekarang hanya tinggal berdua dengan Deidara. Untuk menghidupi kehidupan sehari-hari mereka, Deidara bekerja sebagai penyiar radio dan mau tidak mau Ino harus dapat menyiasati waktu antara untuk kuliah dan menjaga toko.
"Kau kenapa, un? Un!" panggil Deidara menyadarkan Ino dari lamunan panjangnya untuk kedua kalinya.
"Aku masih kepikiran ayah, nii-san." Ino menatap sendu jalanan di depannya.
"Aku juga kadang-kadang merindukan ayah, un. Tapi kita tidak boleh terus berlarut-larut dalam kesedihan, un. Aku yakin jika kau seperti itu, ayah tidak akan tenang di sana."
"Apakah salah satu caranya dengan melupakan tou-san?" tanya Ino sambil memain-mainkan ujung kemejanya.
"Jangan dilupakan! Biarkan itu menjadi sebuah kenangan. Ambil dari kenangan itu hal-hal yang menyenangkan saja. Jangan diambil yang sedihnya." Deidara tersenyum pada Ino kemudian mengelus-elus rambut adiknya itu.
"Um…" Ino mengangguk dengan semangat.
"Oh iya! Nii-san bilang mau menjenguk orang sakit. Siapa yang sakit nii-san?" Gadis blonde itu bertanya dengan antusias.
"Teman sewaktu SMA, un. Makanya kau tidak usah menungguku untuk makan malam. Soalnya aku langsung pergi begitu pulang kerja." Deidara menghentikan mobilnya di depan Tokyo International University.
"Baiklah, sampai jumpa." Ino melambaikan tangan lalu segera masuk.
?!
At Tokyo Hospital.
"Apakah dia sudah sadar, Itachi?" wanita yang sudah memasuki usia 50-an itu langsung menanyai Itachi begitu terbangun.
"Sudah, kaa-san. Tapi aku menyuruhnya istirahat lagi. Apa perlu kubangunkan?" Itachi hendak membangunkan Sasuke.
"Tidak usah. Biarkan saja dia istirahat dulu." Mikoto menghampiri putra bungsunya. Tangan wanita itu terulur untuk mengelusnya. Mengelus surai berwarna gelap milik putranya.
"Apakah Sasuke sudah sadar?" Fugaku bangun dari tidurnya lalu mendudukkan dirinya di sofa.
"Sudah, tapi dia tidur lagi." Mikoto tersenyum lembut pada Sasuke.
"Tou-san, ap…"
"Ugh…" Sasuke menggerakkan sebelah tangannya. Kemudian mata onyx itu perlahan-lahan mulai terbuka.
"Sasuke…kau sudah bangun? Kaa-san senang sekali melihatnya." Mikoto masih mempertahankan senyumannya.
"Kau…" ujar Sasuke menggantungkan perkataannya dengan telunjuk mengarah lurus pada Mikoto. Pemuda bersurai raven ini terlihat berusaha mengumpulkan sisa-sisa ingatannya.
Sedangkan Mikoto dan Fugaku harap-harap cemas menanti jawaban putra bungsunya.
"Ibumu," Jawab Itachi dengan wajah datar.
"Sepertinya begitu. Dan kalau tidak salah, kau itu… kakakku dan itu… adalah ayahku. Benarkan?" Sasuke menatap Fugaku dan Itachi bergantian.
"Hn. Bukankah hari ini seharusnya kaa-san dan tou-san pergi bekerja?" Itachi duduk di sebelah Fugaku.
Fugaku dan Mikoto terlihat saling bertatapan sejenak kemudian mengarahkan pandangannya pada Sasuke.
"Tak perlu khawatirkan dia. Kaa-san dan tou-san pergi saja bekerja. Biar aku yang menjaganya." Itachi menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Benar kata Itachi. Lagipula kita ada rapat dan pertemuan dengan clien. Tidak mungkin itu kita tinggalkan." Fugaku pun terlihat merapikan dasi lalu mengambil jasnya.
"Baiklah. Kami tinggal dulu ya, Sasuke. Jaga dia Itachi." Mikoto pun mengambil tasnya.
Lalu kedua orang itu pun meninggalkan ruangan itu.
?!
Krieet…
Suara decitan pintu memecahkan keheningan yang tercipta di ruangan itu. Terlihat dua orang suster dimana salah satunya berambut hitam sebahu membawa nampan berisi makanan dan satunya berambut ungu gelap membawa semacam catatan kesehatan pasien sepertinya.
"Sumimasen," ucap kedua suster itu berbarengan.
Kedua suster itu sempat terdiam beberapa detik.
Salah seorang suster terlihat memberi pergerakan kepada yang satunya seperti menandakan untuk segera menutup pintu ruangan yang masih terbuka.
Lalu kedua suster itu langsung mengambil arah berlawanan seperti menandakan bagiannya.
"Ini sarapan untuk anda. Setelah itu jangan lupa obatnya diminum, ya?" suster dengan rambut hitam sebahu itu sengaja berbicara dengan nada menggoda pada Sasuke karena sepertinya sudah menemukan bagiannya.
Sedangkan yang satunya lagi meneliti keadaan Sasuke. Karena merasa bagiannya diganggu, suster berambut hitam itu itu mendelikkan mata pada rekan sekerjanya untuk segera menjauh.
Suster berambut ungu gelap itu pun segera melancarkan aksinya dengan cara duduk manis di sebelah Itachi hendak memberi tahu kondisi pasien.
"Dibandingkan yang kemarin, seper…"
"Tinggalkan saja di situ." Itachi memejamkan matanya sejenak.
"…" Melihat tak ada respon, Itachi menyahut lagi.
"Anda bisa membuat dua catatan, kan? Sekarang pergilah!" Itachi juga melirik suster yang di dekat Sasuke, secara langsung seperti mengatakan kalau ucapannya juga ditujukan pada suster satunya lagi.
Suster berambut ungu gelap itu pun dengan cepat membuat salinan yang lain, meletakkannya di meja depan Itachi lalu segera bangkit berdiri.
"Kalau begitu kami permisi dulu."
"Jangan lupa dimakan obatnya, ya." Ujar suster berambut hitam itu tak lupa mengedipkan sebelah matanya pada Sasuke sebelum benar-benar keluar.
Ruangan itu kembali sunyi lagi.
Sasuke memakan sarapannya dalam diam sedangkan Itachi terlihat sedang bergumul dengan pikirannya.
'Tak bisakah setidaknya kaa-san bersikap adil padaku? Selalu saja dia yang lebih diperhatikan. Tak bisakah setidaknya kaa-san seperti tou-san yang memberi perhatian sama pada kedua anaknya? Hah…' ucap Itachi dalam hati sambil memandang langit-langit kamar rumah sakit.
'Kali ini kubiarkan kau mendapat perhatian lebih dari kaa-san. Tapi tidak dari'nya'. Kheh… kuucapkan selamat menjalani hidup di dunia ciptaanku.' batin Itachi lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"…"
"Moshi-moshi. Maaf saya sedang bicara dengan siapa, ya?" balasan dari orang yang tengah dihubunginya.
"Itachi Uchiha. Aku ingin bertemu denganmu. Nanti sore jam 6 di belakang rumah sakit Tokyo Hospital. Aku mengenakan kemeja berwarna abu-abu serta celana hitam. Datang saja dan jangan banyak tanya. Kujamin kau tidak akan menyesal."
Tit…
Itachi langsung memutuskan percakapan via teleponnya.
"Aniki!" panggil Sasuke setelah yakin Itachi sudah selesai bertelepon.
"Hm? Ada apa?" Itachi memalingkan wajahnya menghadap Sasuke dengan senyum terukir di wajahnya yang bisa dipastikan dapat membuat luluh hati setiap wanita yang melihatnya.
"Bisa ceritakan lebih banyak tentangku?" Sasuke berucap dengan datar.
Itachi menyeringai, "Tentu saja. Akan kuceritakan."
?!
"Baiklah, untuk semua teenagers sekalian. Karena jam sudah menunjukkan pukul 12. Berarti saatnya untuk Yama-Dei undur diri. Jangan lupa untuk terus dengarkan Like A Boom Time yang tentunya masih dengan Dei di Scaato FM atau frekuensi 106,5 setiap senin sampai jumat jam 10 pagi sampai jam 12 siang. Sebelumnya sebagai penutup, Dei akan memberikan satu lagu berjudul 'The gift of a friend – Demi Lovato'. Cek it out dan salam ledakan! Boom…" Deidara mengakhiri siarannya hari ini.
'Sometimes you think you'll be fine by yourself
'cause a dream is a wish that you make all alone
It's easy to feel like you don't need help'
"Hari ini melelahkan sekali, un!" Deidara pun langsung beranjak dari tempatnya.
"Kau selalu mengatakan hal yang sama setiap harinya. Apa bedanya?" Kakuzu meneguk segelas air dan mengelap mulut menggunakan lengan bajunya dengan kasar dan langsung mengambil alih posisi Deidara.
"Aku hanya merasa kalau hari ini selalu lebih berat dari hari kemarin. Tapi mau bagaimana lagi?" Deidara membereskan barang-barangnya.
"Tuntutan pekerjaan." Balas Kakuzu.
'But it's harder to walk on your own
You'll change inside when you realize'
"Hoy, aku titip salam padanya. Kau ingin menjenguknya, kan?" Sahut Kakuzu lagi.
"Jangan hanya salam saja, un. Bawaanmu padanya saja tidak ada." Deidara pun meneguk segelas air juga.
"Keuangan menipis. Bilang padanya kapan-kapan saja. Dia pasti mengerti. Lagipula kau sama saja, kan?" Kakuzu masih sempat memainkan ponselnya.
'The world comes life and everything's alright
From beginning to end when you have a friend by your side
That helps you to find the beauty you are
When you open your heart and believe in the gift of a friend'
"Baiklah, un." Deidara mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu segera meninggalkan tempat kerjanya.
?!
At Tokyo University
Perkuliahan akhirnya selesai juga.
Tapi gadis blonde itu belum juga terlihat meninggalkan kampusnya. Ino malah terlihat duduk di bangku taman kampus. Kelihatannya gadis itu menunggu seseorang untuk mengantarnya. Berterimakasihlah pada Naruto karenanya sekarang dia harus pulang dengan orang lain karena biasanya Ino selalu pulang bersama dengan Sakura. Itupun jika sudah selesai aksi petak umpet antara Sakura dan Naruto . Tapi siapa sangka yang seorang Naruto atau lebih tepatnya benalu bagi Sakura dapat menaklukkan hati inangnya. Julukan baru itu bukan diciptakan gadis ini tapi si gadis pinky. Dan, mengapa sekarang gadis blonde ini tidak lagi memanggil Naruto dengan sebutan 'Duren'? Hah, sudahlah. Tak baik menghina orang lain apalagi jika kau ingin mendapat bogem mentah dari Sakura.
"Lama sekali, sih." Ino menghela nafas.
Gadis blonde ini juga harus berterima kasih pada siapapun itu yang membuat Deidara tak dapat menjemputnya. Sepertinya Ino akan mendapat hukuman dari tuhan karena menyalahkan orang sakit. Lebih tepatnya sudah mendapat hukuman. Ya, hukumannya sekarang adalah dia mau tidak mau harus menerima ajakan dari Sabaku no Gaara untuk pulang bersama. Siapa yang tidak mau menolak jemputan gratis. Tapi yang membuat Ino sejak tadi gelisah adalah gadis blonde ini tak bisa membayangkan bagaimana nanti suasana canggung dan tegang akan menyelimuti dirinya sendiri.
'Apa aku langsung pulang saja, ya?' batin Ino.
Tapi diurungkannya niatnya mengingat siapa orang yang saat ini akan dipermainkannya jika itu dilakukannya.
Ino pun memutuskan tetap menunggu Gaara dan berhenti bermain-main dengan pikirannya. Gadis itu memejamkan matanya sejenak. Menikmati angin semilir yang membelai wajahnya.
"Ehm…" Suara seseorang membuat gadis ini membuka matanya.
"Eng, sudah selesai?" Dan benar saja, baru saja Gaara mengucapkan sepatah kata namun sudah membuat Ino diliputi kecanggungan. Mungkin karena tampangnya yang terlihat menyeramkan.
Ino pun beranjak dari spot ternyamannya. Namun baru tiga langkah gadis itu berjalan, Ino kehilangan keseimbangan. Dan dapat dipastikan ia akan memberi ciuman gratis pada tanah.
Bruu...
Kenapa dia belum mencium tanah? Seharusnyakan sudah.
…k?
Ino pun membuka matanya satu persatu. Dan betapa kagetnya ia sekarang, menyadari saat ini ia sedang dipeluk erat oleh seorang Gaara.
Ino mengerjap-erjapkan matanya berulang kali. Setelah seluruh kesadarannya terkumpul, barulah gadis blonde ini melepaskan diri dan buru-buru mengucapkan terimakasih.
"A-arigatou, Gaara-kun." Balas Ino malu. Sepertinya kegagapan Hinata sudah menular padanya.
"Hn,"
Menyadari kalau Ino sudah ditinggal Gaara beberapa langkah, gadis blonde itu dengan cepat segera menyusul.
?!
"Ng… r-rumahku di s-situ." Ino menunjuk sebuah rumah yang didominasi warna putih dan hijau.
"Sudah tahu. Akukan sudah pernah mengantarmu sebelumnya." Gaara berucap datar dan langsung menghentikan mobilnya.
"Ah, iya, k-kau benar. Kalau begitu s-sampai jumpa dan terimakasih atas tumpangannya." Ino membungkkukkan badannya.
Setelah Gaara benar-benar pergi, barulah Ino meruntuki dirinya sendiri yang terlihat bodoh di depan Gaara. Gadis blonde itu memukul-mukul dahinya dengan buku berulang-ulang.
"Dasar bodoh! I*di*t! Bisa-bisanya pula aku gagap di depannya. Bodoh! Ah, sudahlah." runtuk Ino.
Gadis blonde itu pun mengunci pagar kemudian masuk ke rumah.
?!
Ino segera menaiki tangga menuju kamarnya. Menggantung tas selempang dan langsung masuk ke kamar mandi.
Ino mandi ditemani musik yang diputar dari ponselnya. Memang itu kebiasaan gadis blonde satu ini. Ino bersenandung dengan mata terpejam mengikuti lagu yang diputarnya sampai nada dering pertanda panggilan masuk terdengar.
Ino membuka matanya untuk melihat siapa yang menelponnya.
Dengan tangan yang masih licin karena belum bersih dari sabun, Ino memencet tombol hijau dengan tetap membiarkan ponselnya di tempatnya.
"Moshi-moshi." Ucap Ino sembari dengan cepat membersihkan tubuhnya dan mengambil ponselnya.
"Ino-pig!" pekik Sakura dari seberang sana. Berkat teriakannya yang tiba-tiba itu, membuat Ino menjauhkan ponselnya dari telinganya jika tak ingin gendang telinganya pecah.
"Apa?" Ino pun membalut tubuhnya dengan handuk dan segera keluar.
"Si baka itu menyatakan cintanya padaku lagi." Sakura berucap dengan semangat.
"Tak perlu heran." Jawab Ino enteng.
"Aku tau itu biasa, tapi bukan itu saja yang mau kuberitahu. Kau tahu pig?" ucapan Sakura langsung dipotong Ino.
"Tidak, aku tidak tahu. Namanya belum kau beri tahu." Ucap Ino sembari memakai pakaiannya dengan handphone diapit diantara bahu dan telinganya.
"Dengar, ya. Tadi si baka itu menyatakan cintanya padaku di taman. Lalu saat sudah sampai di rumahku, coba tebak!"
"Dia berteriak 'Aishiteru, Sakura' dengan volume suara yang besar?" ujar Ino dengan alis sebelah terangkat berusaha mengikuti permainan Sakura.
"Bukan, dia berlutut di hadapanku lalu… MENCIUM TANGANKU, PIG!" Sakura berteriak kegirangan. Karena teriakannya yang tiba-tiba itu hampir saja membuat ponsel Ino akan kembali ke alamnya jika dengan tidak segera ditangkap.
"Biasa saja, Forehead!" balas Ino tak kalah besar lalu menghempaskan badannya ke tempat tidur empuknya.
"Kau tak tahu betapa senangnya aku, pig? Aku diperlakukan seperti tuan putri."
Dan begitulah hari ini diakhiri dengan Ino yang mau tidak mau harus mendengarkan curhat Sakura.
?!
Seorang pemuda dengan rambut diikat rendah terlihat sedang menunggu seseorang di bawah pohon Sakura. Kemudian tak jauh dari situ, seorang gadis bermata lavender terlihat menghampiri pemuda itu.
"Kau Itachi Uchiha?" tanya gadis itu.
"Hn,"
"Ada apa?"
"Aku ada pekerjaan untukmu."
-To Be Continued-
Selesai juga chapter ini.
Dan, saya ingin tahu bagaimana pendapat reader tentang penggambaran pertemanan Ino dan Sakura. Silahkan menuliskannya di kotak review.
Karena fict ini masih jauh dari kata sempurna, maka saya mengharapkan kritik, saran, dan… apalah asal jangan flame menyangkut pair.
Jaa…
NB : hiatus dulu, ya.
