I Wanna Back Home Chapter 2
Oke minna ^0^ Chapter 2 update
Warning : gangguan asma kronis
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
I Wanna Back Home © Beyb Haraka
Pairing : SasuSaku
Genre : Romance/Hurt/Comfort
.
.
.
I Wanna Back Home Chapter 2
.
.
Sudah terhitung 20 menit Sakura tak kunjung datang untuk menghampiri Sasuke yang sedang bergulung – gulung frustasi diatas ranjang king size empuk, tepatnya didalam kamar mereka, pria tampan yang tampak tak peduli dan terkesan cuek itu sebenarnya sedang gelisah memikirkan keadaan sang istri, tapi keegoisan dan harga dirinya yang terlalu besar membuat Sasuke enggan untuk memperbaiki hubungan pernikahannya yang sedang tidak pada kondisi baik.
'semua ini salahnya, bukan salahku, aku hanya korban' pikir Sasuke.
" Arrgghhhhh… bodoh! Kenapa jadi begini ?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri, ia bingung, ia kesal, disatu sisi ia ingin sekali mengakhiri semua ini, tapi disisi lain ia juga terlalu enggan untuk memulainya duluan, karna baginya semua ini adalah salah Sakura, bukan salahnya.
Cklek..
Bunyi pintu yang terbuka itu seketika membuyarkan lamunan Sasuke, ia sadar siapa yang datang ke dalam kamarnya, dan cepat – cepat pria berambut raven itupun segera memalingkan wajahnya untuk menghindari kontak langsung dengan seseorang yang masuk ke dalam kamarnya itu.
Wanita cantik berbadan dua yang sedang menutup kembali pintu kamarnya, dengan wajah yang pucat dan tubuh yang lesu ia berjalan untuk menghampiri ranjangnya, ranjang kesayangannya, dimana tempat itu menjadi saksi bisu antara dirinya dan Sasuke saat memadu cinta menyatukan jiwa dan raga untuk membuat sebuah kehidupan baru yang kini sedang tumbuh didalam rahimnya.
Sakura yang layu dan memaksakan senyumannya pada sang suami yang tak menatapnya itu kemudian berbaring disamping Sasuke.
Ia melakukan hal yang sama seperti apa yang Sasuke lakukan, yaitu sama – sama membelakangi tubuh antara satu sama lain.
Sasuke yang merasakan itu semua hanya mendengus frustasi sembari merapatkan kedua matanya erat – erat, ingin sekali agar ia segera tertidur seperti malam – malam sebelumnya, supaya ia bisa melupakan semua kejadian yang sudah membuat tekanan darahnya meninggi malam ini.
'kau harus kuat Sakura' batin istrinya dengan airmata yang kembali mengalir dengan begitu mudahnya.
.
.
.
.
***I Wanna Back Home***
.
.
.
.
.
Sasuke Pov
.
.
Pagi ini masih sama dengan pagi – pagi yang sebelumnya, hening, memuakkan, menyebalkan dan menyesakkan bagiku. Ingin sekali aku segera pergi dari rumah ini. Tak menatap wajah sok polos dan menyedihkannya lagi. Dan tak mendengarkan suara isakannya lagi.
Ya ! Tentu saja aku sudah sangat bosan dengan semua itu.
Bodoh sekali aku.
Istriku sendiri lebih mengidamkan pria lain, memaksa mencium, mencubit, memeluk dan menyuapi pria lain bahkan tinggal bersama pria lain selama seminggu.
'Sasuke-kun ini semua demi bayimu, apa kau mau dia ileran nantinya karna tak dituruti permintaanya?' katanya.
Demi bayiku ?, hey… apa kalian pernah mendengar istilah itu ?
Semua itu terdengar seperti sebuah omong kosong.
Aku cemburu.
Aku benci.
Aku muak.
Dan aku ingin memberinya sedikit pelajaran.
Setidaknya sampai ia sadar dan tak pernah lagi membicarakan tentang Sasori didepanku.
Untuk selamanya…
.
.
Prankkkk…
.
.
"Hhh.. makanan ini lagi" desisku kesal sembari membanting mangkuk yang berisi dengan ramen instan buatan Sakura ke dasar lantai. Ramen itu masih panas, tapi aku tak peduli, aku bosan memakan itu setiap pagi, aku punya istri yang jago masak. Tapi semenjak usia kandungannya semakin bertambah, ia jadi semakin malas. Mungkin!
"Sasuke-kun..hks, gomen ne… maaf… maaf…, hks , biar aku masakkan lagi untukmu" tawarnya dengan tubuh yang selalu bergetar tiap kali berhadapan denganku yang sedang marah. Dan kembali, aku membuatnya kembali menangis, membuatku semakin muak melihat itu semua…
Kami… aku tak tega… tapi aku juga tak bisa mengalah karna ini semua bukan salahku.
.
"Ck, tidak usah. Aku sudah tidak lapar lagi, nafsu makanku sudah hilang" bentakku padanya yang masih terisak, kulihat ia sedang berusaha berjongkok untuk membersihkan pecahan – pecahan mangkuk yang tadi ku banting ke dasar lantai. Aku ingin membantunya. Apa? Membantu?, tapi… harga diriku terlalu tinggi.
'Itu panas Sakura, tanganmu bisa melepuh' ingin sekali aku berkata seperti itu padanya, tapi kenapa… bibirku terasa kelu untuk mengatakan itu semua. Aku terlalu munafik, ya! Aku memang munafik.
"Sudahlah biarkan saja!" perintahku, kufikir dia tak akan peduli, tapi aku salah, ternyata dia menuruti apa kataku. Istri yang penurut. Apa yang kubilang barusan ?
.
" Tapi kau harus makan Sasuke-kun" ucapnya sembari berusaha berdiri sekuat tenaga. Hhh … sungguh aku sangat tidak tega, tapi… apa boleh buat.
"Jangan sok peduli padaku, aku akan makan diluar saja" jawabku sambil memakai jas hitam yang tadi kutaruh diatas kursi makan.
"Aku memang peduli pada Sasuke-kun karena kau adalah suamiku" serunya dengan tatapan yang penuh harap kepadaku.
"Heh peduli ? kau bilang peduli ? kau yakin kau peduli padaku? Peduli pada perasaanku ?, kau bahkan tak pernah mengerti dengan apa yang aku rasakan" dan hampir, hampir saja aku melayangkan satu tamparan keras yang akan aku daratkan dipipi mulusnya. Emosiku sedang memuncah, aku murka bila mengingat itu semua, aku teringat lagi,Oh Shit! Kenapa kenangan pahit yang menyakitkan itu muncul lagi.
"Sasu-" gumamnya dengan suara yang parau, matanya sudah menutup rapat karna tak sanggup merasakan betapa sakitnya tamparan yang urung kulakukan padanya. Tubuh ringkihnya bergetar hebat, airmatanya terus mengalir dan perlahan mata Emerald yang sendu itu sedikit demi sedikit terbuka menatap kearahku.
" E' Maaf!" Oh tidak aku minta maaf?
"Apa salahku Sasuke-kun…hks, apa dosaku? Kenapa kau begitu sangat kejam terhadapku? Kenapa kau berubah hks hks…" Tanyanya dengan terisak.
"Aku pergi dulu" pamitku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Sasuke…"
"dan malam ini aku lembur lagi" imbuhku, lalu segera pergi meninggalkannya yang masih terisak setelah meraih tas jinjingku yang berada diatas kursi makan.
.
.
End Sasuke Pov
.
.
.
.
.
.
.
.
.
HARUNO HOUSPITAL 09.00 A.m
.
.
"Huft… sudah jam berapa ini ? kenapa kepala rumah sakitnya malah belum datang – datang sih ?, dasar Forehead" keluh Ino saat berada diloby rumah sakit sembari memandangi jam tangannya berkali – kali.
Gadis pirang yang kini sudah menyandang status sebagai seorang Nyonya Sabaku itu merupakan sahabat karib Sakura dari kecil, profesinya memang tak jauh beda dari Sakura, ia adalah seorang asisten dokter sedangkan Sakura adalah seorang dokter. Hanya setingkat lebih rendah dari profesi sahabat pinkynya tersebut.
"Nah…itu dia yang dinanti – nanti akhirnya datang juga, Eh Forehead !" seru Ino dengan lantang, tak tinggal diam ia segera berjalan cepat menghampiri Sakura yang terlihat baru masuk kedalam rumah sakit.
"Pig ?" gumam Sakura tak mengerti saat Ino hampir tiba didepannya.
"Heh ! kenapa kau baru datang bu kepala ?, ya aku tahu mentang – mentang ini memang rumah sakit milik keluargamu, tapi kau juga harus profesional kan Forehead, eh?" seketika raut wajah Ino yang sebelumnya terlihat kesal sekarang malah berganti menjadi khawatir karna melihat mata Sakura yang tiba – tiba berair.
" Maaf!" ucap Sakura sambil menundukkan wajahnya yang sudah basah oleh airmata.
"Ah… For- em maksudku Sakura jangan menangis ya… aku minta maaf, ya tuhan… aku lupa jika kau sedang hamil 6 bulan, oh tidak! Begitu bodohnya aku, sudah ya… cup cup cup" ungkap Ino yang terlihat salah tingkah sembari berusaha menenangkan Sakura yang semakin terisak, iapun mencoba untuk menepuk – nepuk bahu Sakura dengan pelan.
".."
"Kau kenapa Sakura… hey coba lihat aku, ada apa?" Tanya Ino yang semakin khawatir, ia jadi bingung sekarang, apa yang terjadi dengan sahabat yang sangat ia sayangi ini, tak biasanya Sakura menangis hingga sesenggukan seperti ini.
"Pig…aku…" ucap Sakura sambil terisak saat menatap wajah Ino.
"Sssttt… sudah – sudah, jangan menangis lagi ya" Inopun memeluk Sakura dengan lembut.
"Sasu- ..hks..hks dia hks hks!" gumam Sakura dengan isakan yang semakin menjadi, ia bahkan tak peduli dengan pandangan orang – orang yang sedari tadi berlalu lalang disekitarnya dan Ino.
"Oke, ssstt…. kita bicara diruanganmu saja ya, ayo!" ajak Ino ketika ia mengelus lembut punggung Sakura yang masih terisak.
".." Sakurapun mengangguk tanda ia setuju, dan kedua wanita cantik itupun segera berjalan menuju ruangan Sakura.
.
.
.
***I Wanna Back Home***
.
.
.
Dua orang wanita itu terlihat begitu serius saat membicarakan tentang sesuatu hal, entah tentang hal apa, wanita yang berambut pirang itu terlihat begitu sangat tegas, sedangkan wanita berambut pink itu malah terlihat begitu sangat rapuh dan tak berdaya. Ruangan minimalis dengan perabotan – perabotan ellit seperti ruang kantor itu menjadi tempat untuk media komunikasi mereka yang terkesan pribadi dan rahasia.
.
"Apa kau bilang, tidak apa – apa ? apa maksudmu tidak apa – apa ? Hey Foreheadku sayang, apa kau tidak sadar sudah diperlakukan semena – mena oleh suami Uchiha-mu itu ha ? kau masih bilang tak apa – apa ? Oh Kami, aku sungguh tidak habis fikir dengan sikap suamimu yang brengsek itu, dasar Uchiha baka, Cih" seru Ino dengan penuh luapan emosi yang sudah tak bisa dikontrol lagi, ia tak terima bila sahabatnya diperlakukan semena – mena oleh Sasuke, apalagi Sakura adalah istrinya sendiri, sahabat mana yang rela bila sahabatnya disakiti oleh suaminya sendiri tanpa sebab yang pasti.
" hks, hks, mungkin ini salahku yang kurang mampu untuk mengerti dengan apa yang ia inginkan Pig, aku tak peka" ungkap Sakura yang masih agak sesenggukan.
"Kau sungguh bodoh Forehead, dengar! Ini semua bukan salahmu, ini salah Sasuke, dia memang sangat kejam sekali padamu, padahal kau sedang mengandung anak pertama kalian, apalagi sekarang usia kandunganmu sudah menginjak usia 6 bulan, lihat tubuhmu, kau kurus sekali, kau terlihat kurang sehat baka Forehead…" keluh Ino sembari kembali memeluk Sakura, ia sungguh prihatin dengan kondisi tubuh sahabatnya yang semakin kurus itu, padahal ia sedang mengandung, tapi seolah begitu tak peduli dengan kondisi tubuh dan bayinnya.
Parahnya lagi, Sakura adalah seorang dokter dan kepala rumah sakit Haruno, tak seharusnya seorang dokter bisa mengacuhkan kesehatan tubuhnya hanya demi tekanan batin ataupun emosi sesaat.
.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Sakura setelah Ino melepaskan pelukannya.
"Hmmm.. buat dia menyesal, buat dia merasa sangat bersalah karena sudah berani menyakiti istrinya sendiri" jawab Ino dengan senyuman kecilnya.
"Caranya?"
"Besok pagi kau harus bilang padanya jika selama dua hari kau tidak bisa pulang karena harus menyelesaikan tugas – tugas dirumah sakit" tutur Ino.
"Itu artinya aku akan menginap disini?" delik Sakura.
"Ya, tapi tenang saja, kak Shizune akan menemanimu, lakukan ini Sakura, ku mohon, agar suamimu itu bisa menyadari kesalahannya, dua hari dirumah sakit pasti akan membuatmu merasa lebih tenang, lagipula kau memang harus sedikit mendapatkan sejumlah perawatan" tukas Ino, senyum lembutnyapun semakin ia lebarkan ketika menatap Sakura.
"Baiklah, aku akan mencobanya" angguk Sakura meski ada sedikit rasa keraguan yang melanda hatinya.
"Bagus Sakura!" ungkap Ino mengakhiri seluruh rangkaian pembicaraanya dengan Sakura.
.
.
.
***I Wanna Back Home***
.
.
.
Cepat sekali malam menjelang, dan meskipun begitu, Konoha masih tetap saja terlihat tampak indah dan menyejukkan. Malah semakin ramai oleh mobil – mobil dan kendaraan lainnya yang terlihat berlalu lalang melintasi jalan raya.
Seperti saat ini, bungsu Uchiha itu terlihat begitu sangat serius saat mengendarai Lamborghini LP560-4 E-Gear Spyder kesayangannya menuju Uchiha Mantion. Ya.. meskipun tak dapat dikatan sangat serius karena ia masih selalu saja memikirkan istrinya yang mungkin kini sedang kelelahan menunggunya dirumah, keegoisan dan harga diri tinggi itu masih tetap menduduki tingkat yang paling tinggi didalam hatinya.
Dan yang membuatnya semakin kefikiran saat ini adalah karena ia sudah sampai didepan mansionnya, dadanya terasa sesak tiap kali menatap rumah megah nan mewah yang sudah ia tempati hampir 1 tahun bersama istrinya itu. Entah rasa kesal, muak atau bahkan rasa bersalah selalu saja timbul dalam 26 hari belakangan ini setiap ia menatap rumah itu, sakit dan juga senang, ia bingung bila harus mengungkapkannya seperti apa.
.
"Tadaima..!" seru Sasuke seperti biasa ketika ia memasuki rumahnya.
".." namun tak ada jawaban.
"Tadaima..!" serunya kembali dengan nada yang lebih ditinggikan lagi.
".." dan tetap tak ada jawaban.
"Sial!" umpatnya kesal, ia heran, tak biasanya istrinya itu absen untuk selalu menungguinya pulang, semuanya terlihat hening, kosong dan hampa.
"Cih!" umpatnya sekali lagi ketika melihat meja makan yang kosong dan hanya terdapat setengah gelas susu untuk ibu hamil. Mungkin milik istrinya. apa ia akan meminum susu itu? Oh ayolah, yang benar saja, tidak mungkin sekali kan Sasu?
.
Dengan gontai dan raut wajah yang kesal akhirnya Sasukepun memutuskan untuk naik keatas menuju kamarnya yang selalu ia rindukan, yah… meskipun dengan perut kosong karena kenyataannya ia memang belum makan malam, tapi tak apalah, mungkin dengan tidur akan membuatnya lupa dengan rasa lapar itu sampai hari esok menjelang.
.
.
Cklekkk…
.
Wushhhhhh
.
.
Sasuke terbelalak ketika mendapati seorang wanita cantik dengan terusan ketat berwarna pink selutut yang tak berlengan, tubuhnya memang kurus, tapi perutnya membuncit menandakan jika ia sedang hamil, rambutnya tergerai kemana – mana hingga sedikit menutupi wajah ayunya yang sedang terlelap dengan begitu damai, wanita itu seperti istrinya. Hm.. itu memang istrinya yang sedang tidur diatas ranjang mereka berdua.
"heh dasar!" gumam Sasuke lega sambil menyeringai kecil, ia tutup kembali pintu kamarnya, dan segera berjalan mendekati sang istri yang sudah terlelap itu.
Sebelum ia menaiki ranjang king sizenya itu, Sasuke terlebih dahulu mengganti pakaian kantornya dengan piama berwarna deep blue yang sudah tergantung rapih diruangan kostumnya, ruangan mewah didalam kamarnya yang menyimpan banyak sekali baju – baju formal maupun non-formal miliknya. Tak hanya 1 ruangan kostum, bahkan 2 ruangan kostum, tentu saja yang satunya lagi adalah milik Sakura, istrinya.
.
Setelah selesai mengganti bajunya, Sasukepun berjalan untuk menuju ranjang kesayangannya, perlahan namun pasti langkah tegapnya itupun segera tiba didepan ranjang yang sedari tadi menunggunya dengan setia, dengan pelan pria tampan itupun segera naik dan merebahkan dirinya diatas ranjang, tepat disebelah istrinya yang sudah tidur, ia harus hati – hati dalam melakukan pergerakkan, karena ia takut jika istrinya terbangun.
.
'kenapa kau lakukan itu Sakura, kenapa?' tanyanya dalam hati ketika membelai pipi istrinya yang kebetulan posisi mereka sedang berhadap – hadapan.
.
Mata onyxnya menelusuri wajah ayu yang sedang terlelap itu dengan perasaan yang masih rumit, kembali ia teringat akan kejadian 26 hari yang lalu, kejadian yang membuatnya cemburu setengah mati, muak, benci, kesal, marah dan sakit. Tapi tak dapat dipungkiri jika ada sebersit rasa bersalah dan menyesal ketika ia perhatikan dengan jelas perut buncit istrinya beserta tubuh yang semakin kurus itu, ia merasa seperti suami yang tak berguna, suami kejam yang pantas untuk dienyahkan, tapi jika ia enyah, bagaimana nasib istri dan anaknya selanjutnya? Mereka pasti akan lebih semakin menderita jika ia tak ada.
.
"maafkan Ayah nak!" gumam Sasuke pelan ketika ditatap dan dielusnya perut buncit Sakura dengan lembut, ia berharap semoga semua ini cepat berlalu. Mungkin!
.
Mungkin akan sangat cepat berlalu bila keegoisan dan harga diri yang tinggi itu tak membelenggu didalam otak geniusmu Uchiha Sasuke!
.
"Oyasuminasai hime" ucap Sasuke pelan sembari mengecup pipi Sakura dan kemudian menyibakkan bedcover untuk menyelimuti tubuhnya dan istrinya.
.
.
.
***I Wanna Back Home***
.
.
.
Hening memasuki ruang makan, dimana disitu terdapat dua orang suami istri yang duduk berjauhan sedang menikmati sarapan paginya, dan roti bakar beserta segelas susu hangat segar menjadi menu utama sarapan pagi ini.
"Hari ini aku lembur lagi" sambil memotong – motong roti bakarnya, Sasuke mengawali pembicaraan yang sungguh tak ingin didengar oleh sang istri.
"Aku tahu!" jawab Sakura datar.
"aku sudah membacanya didaftar agenda harianmu" imbuhnya masih dalam keadaan yang sama, meski jelas terlihat jika ia sedang mati – matian menahan airmata.
Sasuke yang melihat perubahan sikap Sakurapun hanya terdiam terpana sembari menghentikan aktivitas memotongnya. tentu saja ia sangat heran, karena baru kali ini ia melihat Sakura sedingin ini.
"hn, tidak apa kok! Iya, tidak apa – apa" imbuh kembali Sakura, namun kali ini dengan pertahanan yang sudah tak mampu ia bangun lagi, bentengnya sudah tak kuat menahan gejolak airmata yang sedari tadi terus tertahan dipelupuk matanya. Isakan itupun akhirnya kembali terdengar memilukan.
"Sudahlah Sakura jangan menangis terus, tidak ada gunanya" tutur Sasuke tajam.
"Tidak, aku tidak menangis, untuk apa aku menangis ? kalau begitu kau pergi saja, hari ini aku juga sedang ada tugas selama dua hari dirumah sakit" jawab Sakura sambil cepat – cepat menyeka airmatanya.
"Apa?" delik Sasuke tak percaya.
"banyak sekali dokumen yang harus ku tanda tangani jadi aku harus pergi" tambah Sakura.
"Tapi kenapa mendadak? Kau kan sedang hamil, apa belum ambil cuti panjang" Tanya Sasuke mulai gelisah dan terkejut.
"daripada aku berdiam diri dirumah, aku tidak mau menjadi wanita hamil yang manja, aku mau bekerja selagi kumampu, dan aku tidak mau menyusahkanmu" Sakurapun beranjak dari tempat makannya, berjalan meninggalkan Sasuke yang masih mematung setelah mendengarkan pernyataanya barusan, iapun tak lupa untuk mengambil tas jinjing dan jas putih yang sedari tadi sudah terdapat diatas sofa.
"aku pamit, jaga dirimu baik – baik selama aku tak ada dua hari kedepan, aku janji akan segera pulang jika semua tugas – tugasku sudah selesai" dan Sakurapun beranjak pergi, pergi dengan terpaksa, terpaksa melakukan semua ini agar Sasuke berubah menjadi Sasuke yang dulu lagi, meskipun berat, Sakura memang tetap harus melakukan semua ini demi kebaikan Sasuke.
"Hhhh dua hari itu lama sekali Sakura" dengus Sasuke kesal, entah kenapa ia tak dapat mencegah Sakura pergi begitu saja, semua persendiannya seperti mati rasa, sulit sekali untuk digerakkan.
.
Yang hanya dapat ia lakukan sekarang hanyalah menyesal, menyesal, dan menyesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
.
.
Yess! Chapter 2 udah update kilat nih readers, gimana ceritanya beyb makin jelek ato makin keren *ngarep*, sebelumnya wd CH1 yg udah reviews beyb ngucapin aligatou it so big banget wad kalian… beyb bales sama do'a aja yahh… hohohoneng. Udah ah pegel ngemeng epe ae!
Reviews-nya tolong yahhhhh readers… hahahah salam kepo dari si imut beyb haraka mmuach ! \^O^/
