Prev Chapter.

.

Baekhyun menyalakan mesin mobilnya, menelusuri jalan untuk mencari tempat yang menjual teh hijau. Kesedihannya terobati sejenak ketika ia mendapat segelas teh hijau, mendapat bonus teh bubuk untuk ia seduh di rumah dengan gratis karena pemilik kedai melihat matanya bengkak dengan hidung memerah dan sisa lelehan air mata yang mengering di wajahnya, jangan lupakan perut besarnya yang tak lagi dapat ditutupi dengan pakaian apapun.

"Ya, sir. Saya akan mengatur ulang jadwal anda untuk pertemuan anda dengan Choi Yunha."

.

.

"Ya, sir. Saya akan mengatur ulang jadwal anda untuk pertemuan anda dengan Choi Yunha."

Suara itu mencuri perhatiannya, memang sangat jarang berinteraksi. Namun tahun-tahun menjadi pendamping Chanyeol ia cukup mengenal si pemilik suara.

Suho, sekretaris pribadi Chanyeol. Tak mungkin ia memiliki atasan selain Chanyeol, bukan? Ia terlalu sibuk dan gajinya sangat cukup untuk mencari pekerjaan kedua. Maka Baekhyun menyimpulkan sekretaris suaminya itu sedang berbicara pada Chanyeol.

"Ahahah, maaf aku tak akan terlalu formal, Chanyeol ah" Suho terkikik karena sepertinya mendapat teguran.

Tebakannya benar, suaminya yang sedang tersambung di telepon. Meremat hatinya karena nyatanya suaminya memiliki pemegang hati yang lain selain dirinya, memang belum jelas kebenarannya. Namun ini suatu jawaban secara tak langsung atas pertanyaannya mengenai alasan dibalik sikap Chanyeol kini.

Ingin dirinya menertawai kenyataan yang seharusnya ia sadari sejak kemarin-kemarin. Ia tak cukup berguna selama menjadi bagian dari Chanyeol, mereka memang megikat janji suci di altar, membuat suatu kesepakatan untuk saling terbuka sejak awal pernikahan dan berjanji untuk mendampingi tumbuh kembang anak mereka dengan baik.

Ia turun dari mobil, melupakan teh hijau yang ia inginkan. Berjalan gontai menuju apartemennya, meringis ketika bayinya menendang namun tersenyum kemudian. Langkahnya berhenti, Chanyeol ada beberapa langkah di depannya ketika ia keluar dari lift.

"Baek, Jiwon-"

"Di rumah ibuku." Jawab Baekhyun cepat, ia mendahului Chanyeol dan masuk begitu saja. Helaan nafas berat terdengar begitu jelas, seperti meredam amarah dan mencoba bersabar. Seharusnya Baekhyun yang melakukan itu, sudah sangat cukup bersabar selama ini mendapat perlakuan dingin suaminya yang bahkan ia tak tahu apa kesalahannya, ditambah sebuah jawaban baru yang ia dengar tadi, suaminya memiliki cinta yang lain.

Niat menitipkan Jiwon di rumah ibunya karena ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Chanyeol mengapung begitu saja, toh ia sudah tahu apa yang menjadi masalah rumah tangga mereka.

"Aku tak masak, sedang tak ingin. Beli saja diluar jika lapar." Ketus Baekhyun, ia melepas jaketnya dan menyalakan televisi, duduk diam di sofa.

Chanyeol diam di tempatnya, melepas dasi yang terasa mencekiknya dan duduk di samping Baekhyun dengan segera. Tangannya merengkuh bahu yang tampak rapuh itu, pandangannya teralih pada perut besar Baekhyun yang selalu ia sakiti sejak awal ia berada disana, hingga sekarang pun ia tak pernah memperhatikan bagaimana kondisi jabang bayinya itu. Menyesal, ia merasakannya hingga sesak menghambat nafasnya.

"Tak perlu menyesal jika semenit kemudian kau kembali acuh" sindir Baekhyun seraya menggeser tubuhnya menjauh.

Ya, ia akan menyesal ketika ia ada di sekitaran Baekhyun. Lalu terbuai oleh cinta yang baru ketika ia keluar rumah.

"Maafkan aku."

Tangannya merambat pada pinggang yang ini berisi itu, dagunya bertumpu pada pundak sempit yang terasa kaku itu. Tangannya mengelus perut yang ia membesar itu. Hidungnya mengendus aroma stroberi pada ceruk leher Baekhyun, namun perlakuan itu kini tak lagi membuat lenguhan kecil dan cicitan lucu. Ia sendiri kaget dengan kakunya Baekhyun kali ini, ia memutar tubuh kaku itu, menatap netra yang masih enggan balas menatap.

"Sayang," Chanyeol membelai pipinya, mendekatkan wajahnya untuk lebih dekat pada Baekhyun berniat untuk sekedar menyatukan kening mereka.

"Jangan lakukan ini jika kau melakukan hal yang sama pada yang lain." Lirih Baekhyun seraya mengalihkan wajahnya. Chanyeol tak bodoh bahwa Baekhyun mungkin sudah tahu perihal Yunha.

Ia menyesal, namun hatinya tetap terbagi. Baekhyun adalah bagian besar dalam hidupnya, sebagian kecilnya adalah Yunha yang mungkin nantinya akan membesar melebihi posisi Baekhyun dalam hatinya. Ia menolak bayangYunha ketika berhadapan dengan Baekhyun, tak tega untuk melihat air mata keluar sia sia hanya untuk menangisi lelaki sepertinya.

"Aku akan menyelesaikan semuanya, kuharap kau bersabar." Tutur Chanyeol pelan, Baekhyun terkekeh kecil mendengarnya.

"Ya, aku aka sangat bersabar bahkan jika kau memilih wanita itu. Jangan ambil Jiwon dariku jika kita berpisah."

"Siapa yang mengatakan kita akan berpisah, eo?"

"Hanya jika, Yeol. Aku tak megatakan kita akan berpisah." Baekhyun terlihat jengah, Chanyeol benar-benar tak mengatakan penyangkalan atau sebuah pembelaan baginya, setidaknya kalimat yang menjanjikan bahwa dirinya akan selalu disisinya. Chanyeol seolah mengiyakan perselingkuhannya tanpa beban.

"Baek, aku mencintaimu-"

"Yeol, dengarkkan aku. Aku juga mencintaimu, sangat. Hingga kapanpun akan seperti itu sekalipun kau memiliki cinta yang lain, jangan katakan kau mencintaiku jika kau akan mengatakannya juga pada wanita itu. Aku tak mau berbagi, kau tahu itu."

"Aku tidak berada dalam posisi yang dapat memilih saat ini, kumohon mengertilah." Chanyeol memeluknya, tak merasakan kehangatan seperti sebelum-sebelumnya, hanya sebuah pelukan agar dirinya tak pergi kemanapun dan membicarakan ini hingga selesai.

"Buat aku mengerti dengan penjelasanmu, katakan dengan jujur. Kita sepakat untuk saling teerbuka sejak awal, bukan?"

Drrrttt… drrtttt…

Getaran ponsel memberikan jeda, membuat Baekhyun lepas dari pelukan yang sejujurnya ia rindukan walau rasanya tak lagi sama. Sungguh menyedihkan, dirinya menunduk dengan air mata berjatuhan. Ia menggenggam tangan besar yang kini terasa asing baginya agar si pemilik tak pergi kemanapun, ia harus tahu apa yang Chanyeol bicarakan.

Namun Chanyeol melepaskan genggamannya, pelan namun menyakitkan. Terasa seperti elusan, namun menghantam dirinya untuk lebih sadar diri bahwa dia bukan lagi yang harus Chanyeol teguhkan sekarang.

"Appa, berikan aku waktu. Yunha harus membiasakan diri dengan keadaan seperti ini."

Samar-samar percakapannya ia dengar di sela isakan, batu kesakitan yang besar menimpanya lagi dengan lebih keras tanpa ampunan. Bagaimana ia mendengar ayah mertuanya ikut andil dalam perselingkuhan suaminya ini.

Chanyeol adalah seorang yang memprioritaskannya, mencintainya dan melakukan segala cara agar dirinya terhindar dari kesedihan. Ayah Chanyeol, Papa Park adalah orang yang selalu ada dan memberikan fasilitas terbaik untuknya, bersama dengan Chanyeol ia adalah seorang ayah yang lembut dan menjaga perasaanya. Bahkan beliau rela memenuhi keinginan ngidam Baekhyun ketika Chanyeol di luar kota saat ia hamil Jiwon dulu.

Ia kira apa yang mereka lakukan hanya kedok, begitu jahat dibalik kebaikan yang sejak dulu mereka beri. Semua yang disembunyikan akan terungkap pada akhirnya, tak ada keburukan yang tersimpan rapi dalam perlindungan rahasia.

"Baekhyunee, dengarkan aku-"

"Tidak, aku akan memberi pertanyaan bagimu" Ia terdengar seperti mantap dengan hatinya, bersiap untuk mengalami sakit hati yang membuncah dan menggerogoti pertahanannya hingga habis.

"Baiklah. Duduk, sayang. Aku tahu Baby Wo berat"

"Apa kau bersedia bertahan untuk Jiwon? Setidaknya bersikap seperti tak ada masalah dihadapannya dan melakukan rutinitasmu dengan Jiwon seperti biasa."

"Tentu, aku akan tetap menjadi ayah bagi Jiwon dan suami bagimu."

"Tidak, hanya ayah. Kau sudah melanggar beberapa sejak beberapa bulan kebelakang, terlebih peranmu sebagai suamiku." Tolak Baekhyun.

"Maafkan aku, aku-"

"Jangan katakan apapun dan hanya jawab pertanyaaku setelah itu kembali ke kantormu." Potong Baekhyun cepat.

"Jam kerjaku selesai. Aku akan bersamamu sisa hari ini."

"Tidak, kau memiliki pertemuan dengan Yunha." Kalimat Baekhyun menohok Chanyeol dengan telak, ia tak tahu jika Baekhyun tahu sejauh itu. Pasti sangat sakit, ia seharusnya mendapat yang lebih menyiksa dari ini.

"Da-dari mana kau tahu?" gugup Chanyeol,

"Tak penting dari mana, dan apa ayahmu terlibat dalam perselingkuhan ini?"

"Tidak, tidak. Aku tak berselingkuh, aku tak memiliki hubungan apapun dengannya, Baek. Dengarkan aku-"

"Aku hanya memberimu pertanyaan, bukan telinga untuk mendengar pembelaanmu. Kau boleh saja tak memiliki hubungan dengan wanita itu, tapi kau tak bisa berbohong bahwa separuh hatimu tak lagi milikku."

"Shit, Baek! Dengarkan aku! Ayahku memaksa dirinya untuk bersamaku, meminta ku untuk menceraikanmu dan menikah dengannya karena orang tua Yunha adalah pemilik perusahaan yang sama besarnya. Itu akan menjadi hal yang luar biasa jika kami bergabung, namun ayahku menjadikanku untuk pembebasan dana yang mungkin harus dibayarkan karena kerjasama itu dengan pernikahan. Yunha dan aku sama-sama memiliki anak, bedanya ia tak bersuami. Jadi- Akh! Ini hanya bisnis." Jelas Chanyeol penuh amarah, nadanya terdengar begitu nyaring dan kesal. Bahkan ia menjambak rambutnya sendiri hingga teracak tak berbentuk.

"KATAKAN DENGAN LANTANG BAHWA ITU BISNIS, BAJINGAN! NYATANYA KAU JATUH PADA WANITA ITU!" bentak Baekhyun merasa emosinya dipancing, Chanyeol menggeleng pelan. Setengah berniat menolak, namun sulit.

"YA. DIA WANITA YANG DIAM, MERASA BERSALAH PADAMU NAMUN TAK PUNYA MUKA UNTUK KEMARI MEMINTA SEBUAH PENGAMPUNAN. Hatinya begitu lembut dan perasa, Baek. Aku tak dapat menykitinya. Cukup dengan paksaan ayahnya menekannya setiap hari, dia butuh seorang untuk sandarannya." Nadanya menurun seiring dengan berakhirnya kalimat itu. Baekhyun tak dapat lagi menahan isakannya, kalimat lembut Chanyeol ketika menjelaskan bagaimana selingkuhannya itu menamparnya dengan keras.

Sadar bahwa dirinya terasa lebih buruk dari wanita itu, lebih menyedihkan dari lawannya. Ia yang merasakan kesakitan namun ia juga yang tak mendapat sepetah katapun penenang yang dapat menjadikannya lebih baik.

Perutnya terasa melilit, bayinya mungkin menendang begitu sering mencoba menenangkan ibunya. Tak berniat melanjutkan percakapan, ia pergi ke kamarnya dan mengunci pintu. Perut yang sedari tadi ia topang terasa makin sakit saja.

Tubuhnya ia baringkan di ranjang dengan posisi miring, mengelus perut yang berontak itu mencoba untuk meredakan sakitnya. Ketukan pintu semakin membuatnya muak, berteriak menyuruh suaminya pergi dari sana dan menemui wanita jalang yang diam itu dengan segera.

Chanyeol tak putus asa, ia terus mengetuk dan mengetuk hingga tak lagi mendapat respon. Yang di dalam kini meringkuk memeluk tubuhnya yang berkeringat dingin dan rasa sakit yang makin menjadi. Ia bertahan disana hingga malam menjelang. Terisak sakit masih dalam memeluk perutnya.

Bergumam maaf nyatanya tak merubah apapun, perutnya terasa makin sakit seakan bayinya begitu marah pada kedua orang tuanya yang tak sekalipun memperhatikannya dengan baik. Baekhyun meringkuk di bathup, rasa lapar tak dihiraukan seolah itu bukan sesuatu yang penting.

"Baekhyun, kumohon. Jangan seperti ini." Chanyeol terdengar putus asa, ia bersandar pada pintu kamar mandi, bahunya sakit bukan kepalang. Mendobrak pintu kamarnya adalah sebuah perjuangan yang luar biasa, hampir mematahkan bahunya dan memberi memar yang banyak.

Chanyeol menghubungi pihak apartemen dan memintanya untuk membuka pintu kamar mandi, menemukan Baekhyun yang tertidur di bathup adalah hal buruk. Ia berterimakasih pada petugas apartemen dan membiarkan mereka keluar tanpa niat mengantarnya hingga pintu utama.

"Maafkan aku, aku menyakitimu terlalu banyak." Lirih Chanyeol, memperhatikan bagaimana wajah yang terlihat tenang itu ketika tidur. Lelehan air mata yang mengering ia lap dengan pelan tak ingin membangunkan Baekhyun dalam tidurnya.

.

.

.

Pagi hari dirinya bangun dengan ribut, langkahnya bergerak cepat menyapu semua ruangan mencari keberadaan Baekhyun. Ini pukul tujuh, masih terlalu pagi untuk bepergian dengan perut besar.

Rumah ibu mertuanya adalah tujuannya, benar Baekhyun disana. Tapi ia pergi bersama Jiwon dan kedua orang tuanya enah kemana, mereka tak memberitahu alasannya pada pelayan manapun. Ponselnya seolah tak berguna ketika keluarga Byun tak mengangkat panggilannya.

Tak peduli pelayan menatapnya kasihan, ia meremat rambutnya dan menatap ponselnya penuh harap. Rasanya ia ingin menangis memanggil Baekhyun, berharap pendamping hidupnya itu menghampirinya dan menenangkan dirinya. Tapi itu hanya sebuah harapan, dirinya terlalu jahat untuk menerima kebaikan Baekhyun yang sudah ia rajam dengan rasa sakit setiap harinya.

"Tu-tuan, mungkin Tuan Byun mengantar Baekhyun ke rumah sakit." Salah satu pelayan menghampirinya dengan gugup. Chanyeol mengangkat wajahnya dan menatap penuh harap.

"Apa yang terjadi pada Baekhyun?" tanya Chanyeol panik.

"Euum, Tuan Baekhyun kemari dengan taxi dan mengeluh sakit. Mereka terlihat panik, membawa Jiwon yang bahkan masih tidur-"

"Terimakasih banyak, aku pamit."

Chanyeol berbalik dengan cepat, masuk ke mobilnya dan melesat cepat membelah jalanan. Sampai di rumah sakit, ia menghubungi ayah Baekhyun seraya menyisir UGD dengan cepat.

"Halo?" suara berat ayah Baekhyun terdengar membuat satu helaan nafas lega disela terengahnya.

"Hh, Abeoji. Baekhyun-"

"Chanyeol ah, aku tak tahu masalah kalian. Kemarilah, kami ada di ruang operasi lantai tiga. Belok kanan dari lift."

Chanyeol mengucap banyak terimakasih dan segera berlari ke lift menuju tempat yang disebutkan ayah Baekhyun. Dia mengetuk kakinya tak sabar menungu pintu lift terbuka, sial baginya ketika akan keluar seorang lansia dengan kursi roda menghalangi jalannya. Ia segera keluar setelahnya, belok kanan dan disanalah terlihat Jiwon dan kakek neneknya.

"Appa!" seru Jiwon, wajahnya merah dan tampak lelah. Ia menyayangkan kejadian ini, anak sulungnya harus ikut terseret.

"Appa, museowo" lirih Jiwon, mengangkat tangannya untuk Chanyeol gendong. Ayahnya itu dengan senang hati membawanya dalam gendongan, tangan kecilnya memeluk leher sang ayah dan menyembunyikan wajahnya disana.

"Maafkan Appa, baby" ujar Chanyeol, mengecup perpotongan leher Jiwon yang masih menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.

"Apa Baekhyun baik?" tanya Chanyeol khawatir, menatap kedua orang tua Baekhyun penuh harap.

"Dia melahirkan hari ini, sedang di operasi" jawab Nyonya Byun pelan, raut kesedihan tercetak jelas di wajahnya. Chanyeol mengerut, merutuki dirinya yang bahkan tak tahu kapan Baekhyun akan melahirkan.

"A-apa ini sudah-"

"Premature" potong ayah Baekhyun dengan cepat, nadanya terdengar kecewa. Bahkan tatapan ayah Baekhyun tak dapat dikatakan 'damai'. Chanyeol harus menerima kebencian ini, tak seharusnya ayah Baekhyun menahan kebencian padanya, ia sudah menyakiti anaknya terlalu menumpuk hingga mungkin dirinyalah yang menyebabkan ini.

Entah sudah berapa jam, namun ini terasa bertahun-tahun lamanya. Tangisan nyaring bayi terdengar hingga keluar, menarik kesadaran Chanyeol yang sudah separuh membuat Jiwon ikut terbangun di pangkuannya. Ayah dan ibu Baekhyun tersenyum begitu lebar, memanjatkan doa agar keduanya baik-baik saja.

"Tuan Byun baik-baik saja, dia masih tertidur karena obat bius. Bayinya juga terlahir sehat, namun kami masih harus melakukan beberapa pemeriksaan fisik karena terlahir satu bulan sebelum waktunya."

Dokter menjelaskan dengan tenang namun tersirat sebuah penyesalan, tak tega untuk menyampaikan. Chanyeol diam mematung di tempatnya, membiarkan pertanyaan-pertanyaan polos terucap tanpa mendapatkan jawaban.

Kelegaan yang benar membebaskan mereka dari sesak belum didapat, masih harus menunggu mungkin hingga sebulan, menantikan kabar baik dari si bayi yang baru saja lahir.

Jiwon tak seharusnya disini, jadi orang tua Baekhyun pulang membawa Jiwon untuk beristirahat menyisakan dirinya yang menunggu mata kecil itu terbuka, meninggalkan alam bawah sadarnya. Chanyeol menggenggam erat tangan yang tak tertusuk jarum infus, mengecupnya berkali-kali hingga ia jatuh tertidur di samping ranjang Baekhyun dengan posisi duduk.

.

.

.

Mata sipit itu terbuka tepat setelah Chanyeol keluar dari kamar mandi, handuk yang ia pakai untuk mengusak rambutnya yang basah jatuh begitu saja, tangannya menggapai pipi Baekhyun, menyentuh kulit sehalus bayi itu dengan haru.

"Kau bangun, baby. Apa ada yang terasa sakit?" tanya Chanyeol lembut, matanya berkaca begitu terharu hanya dengan Baekhyun yang membuka matanya.

Pertanyaan itu hanya dijawab oleh semilir angin dari jendela yang sengaja dibuka, Baekhyun menekan tombol darurat di atas kepalanya lalu memejamkan matanya. Chanyeol menelan pil kekecewaan atas respon Baekhyun, namun ia harus ingat bahwa Baekhyun lebih sakit dari ini.

Dokter datang bersama antek-anteknya, Baekhyun membuka matanya membiarkan mereka memeriksa tubuhnya dan memberi beberapa ceramah mengenai kondisinya.

"Bayiku?" tanya Baekhyun lirih, suster tersenyum dan mengatakan bayinya menjalani perawatan khusus karena terlahir sebelum waktunya. Memberi pengertian pada Baekhyun dan pamit pergi setelahnya.

"Baekhyunee, jangan khawatir sayang, baby pasti kuat. Apa kau sudah memikirkan nama untuk baby Wo kita?" tanya Chanyeol seraya menghampiri Baekhyun, menyentuh rambutnya dan mengelusnya dengan sayang.

Lagi, pertanyaan itu tak mendapat respon apapun dari yang ditanya. Baekhyun menarik selimutnya hingga dada lalu memejamkan matanya, tidur lebih baik daripada ia harus berinteraksi dengan Chanyeol.

.

.

"Papa! Ooops, papa tidur ahjumma. Ssstttt"

Entah berapa lama ia tidur, suara Jiwon yang nyaring menariknya dari dunia mimpi. Ia menoleh ke arah pintu, menemukan Jiwon bersama seorang wanita dengan pakaian rapi dan Hyuktae, ah benar Hyuktae dan ibunya, Baekhyun ingat itu. Si kecil penjahat yang membuat Jiwon pindah sekolah.

"Jiwonie~" panggil Baekhyun serak, Jiwon menghampirinya dengan semangat dan mencium pipinya setelah naik ke ranjangnya dengan susah payah.

"Apa Papa sakit?" tanya Jiwon, wajah memelasnya begitu imut dengan bibir pink mengerucut.

"Tidak, sayang. Adik bayi sudah lahir, papa perlu bantuan dokter di rumah sakit untuk mengeluarkan adik bayi." Jelas Baekhyun pelan, Jiwon masih merenggut lucu membuat Baekhyun tak tahan untuk mencium pipi berisi itu.

"Apa Jiwonie juga membuat papa seperti ini saat Jiwonie lahir?" tanya Jiwon polos, Baekhyun mengangguk dengan senyum.

"Maafkan Jiwonie, Papa. Jiwonie akan memilih untuk tidak keluar dari perut jika membuat Papa tidur di rumah sakit. Hyuktae bilang dokter menusuk tangan Papa dengan jarum dan tidak melepasnya." Tutur polos itu membuat Baekhyun merutuk tak suka dengan kalimat terakhir yang Jiwon ucapkan, walaupun itu kebenaran tapi tetap saja, anak kecil jahat itu selalu meracuni pikiran anaknya yang positif.

"Eum, Baekhyun ssi. Aku membawakanmu-"

"Yunha?" suara lain menimpa, Chanyeol datang dengan sekantung makanan dan minuman yang ia beli di luar.

Keduanya tampak berbinar bersitatap satu sama lain dalam beberapa detik sebelum Chanyeol berdehem.

Inikah kenyataanya?

Ibu dari anak yang telah menekan Jiwon setiap harinya hingga ia ketakutan dan gelisah setiap berangkat sekolah, adalah cinta kedua suaminya.

.

.

.

.

.

Ini selesai dalam sehari, lebih pendek dari chapter sebelumnya.

Belum ada penjelasan yang jelas dari Chanyeol, kan? Mungkin chapter depan?

.

Boleh minta saran nama tokoh novelku?

*planningnya novelnya ber genre fantasy. Sekarang sudah setengah jadi. Aku akan merombak namanya, karena dirasa kurang 'srek' sama nama yang sekarang.

Rencananya aku akan memberikan satu novelku pada pembaca yang aktif, rajin follow, fav and comment. *commentnya gak cuma satu dua kata, ya. ^^

*wk, hanya satu y

Ps. REKOMENDASIINNYA LEWAT DM, YA^^. (Instagram ada di bio)