Kotoba wa Iranai (No words are needed)

© Cannabis G

a YunjaeYun Ho x Jae Joong's fanfiction

Don't like? GO AWAY from ma note! Now!

.

Genre : Romance,

Rated : T

.

.

"…" speaks.

'…' minds.

.

.

.

WARNING!

Membaca dapat menyebabkan kebosanan, serangan kantuk, terpengaruh virus dan gangguan pada syaraf otak dan janin *?*

Sekian dan terima kasih.

...

...

Kedua kelopak mata itu terbuka, menampakkan iris kembar berwarna cokelat yang dimiliki kedua kelopaknya. Detik berikutnya kelopak itu kembali menutup. Rupa-rupanya sang pemilik belum terbiasa akan cahaya matahari yang menyeruak masuk melalui gorden jendela 一yang menjulang dari lantai hingga langit-langit一 yang terletak tepat didepan tempat tidur yang ia tempati. Kedua kelopak mata itu kembali terbuka, lalu tertutup, terbuka, tertutup kembali一mengerjap.

Yunho membuka kedua kelopak matanya kembali setelah beberapa kerjapan, seingatnya jendela kamarnya tidak sebesar itu. Ah, ya! Ini memang bukan kamarnya, tetapi kamar milik pemuda yang kemarin sore telah resmi menjadi Roommate-nya. Ia bangkit dan duduk diatas ranjang, melirik kesebelah kanan dan mendapati kasur disebelahnya yang tadi malam ditempati Jaejoong, kosong.

Bicara soal semalam, untung saja ia bisa menahan dirinya. Bayangkan saja! Jaejoong tidur sambil memeluknya erat, membuat ia tidak bisa berpikir jernih dan menghabiskan waktu tiga jam dengan memandangi langit-langit kamar seraya merutuki kejadian yang menimpanya sejak pertama kali ia menjejakkan kaki di apartemen ini. Tidak sepenuhnya buruk, sebenarnya. Untungnya setelah tiga jam yang bisa membuatnya terkena serangan jantung, Jaejoong melepaskan pelukan pada tubuhnya dan beralih tidur dengan membelakangi dirinya.

Tok tok tok

Ketukan kecil mengalihkan perhatiannya, pintu kayu itu terbuka diiringi oleh kepala Jaejoong yang menyembul kedalam.

"Kau sudah bangun rupanya," ujar Jaejoong dan berjalan menyingkap gorden一membuat semakin banyak sinar matahari masuk kedalam kamar. Yunho kembali memejamkan matanya begitu sinar itu mencapai tempatnya.

Tarikan kecil dilengan kirinya membuat ia membuka mata kembali. Mendapati bahwa yang menarik lengannya adalah Jaejoong, ia balas tersenyum pada Jaejoong yang memberikannya senyum lembut.

"Ayo mandi, bukankah hari ini kita akan membeli kasur untukmu?" ujar Jaejoong pada Yunho yang kini tengah menguap lebar.

Yunho mengangguk mengiyakan, "aku tahu, Hyung. Aku tahu," ia menjawab dengan nada yang terdengar sedikit malas. Dihapusnya air mata yang berkumpul disudut matanya sebelum akhirnya beranjak dari atas tempat tidur一menuju tas ranselnya yang semalam diletakkan diatas sofa tunggal berwarna merah yang ada didalam kamar Jaejoong.

"Barang-barangmu sedikit sekali," Yunho terlonjak mendengar suara Jaejoong一apa lagi ketika ia mendapati jarak pipinya dengan pipi Jaejoong hanya sekitar satu kepalan tinju. Semburat tipis berwarna merah muda perlahan merambati pipi Yunho begitu ia bisa mencium parfum Jaejoong, ditambah dengan dada Jaejoong yang menempel pada punggungnya一Jaejoong membungkuk kearahnya, jika kalian belum paham.

"Harusnya kau membawa lebih banyak lagi," Jaejoong kembali berujar. Nafas hangatnya menerpa tangan Yunho yang memegang sebuah kaus putih一sebuah desiran halus pun menyapa dada Yunho detik itu juga.

"Ba-barang-barangku yang lain akan tiba disini secepatnya, mungkin sebentar lagi." ucap Yunho sedikit tergagap. Ia bisa merasakan Jaejoong mengangguk paham, detik berikutnya sebuah tangan mengacak-acak rambut hitam miliknya一yang membuat helaian-helaian berwarna hitam itu lebih kusut dari saat ia bangun. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Jaejoong.

"Nah, nah... Ayo mandi, kau sudah tahu dimana kamar mandi, bukan?" tanya Jaejoong riang. Ia keluar kamar begitu mendengar Yunho menggumamkan letak kamar mandi apartemennya.

[ W ]

Jaejoong duduk dimeja makan sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja makan yang terbuat dari kaca itu. Hampir satu jam, yeah, satu jam! Sejak pemuda yang lebih muda 4 tahun darinya itu di kamar mandi, dan sampai sekarang, pemuda itu, belum keluar dari sana.

Telinganya bisa mendengar suara shower dari dalam sana. Samar-samar, ia juga mendengar seseorang bernyanyi. Siapa lagi kalau bukan Yunho yang belum keluar dari sana sedari tadi. Perhatiannya teralih dengan ringtone ponsel 一menandakan ia mendapatkan sebuah panggilan一 yang sengaja ia letakkan diatas meja, Jaejoong tersenyum lebar begitu melihat siapa yang meneleponnya.

"Halo, Paman!" sapanya riang pada sang penelepon.

"Eh? Paman? Halo?" Jaejoong mengerutkan alisnya begitu tidak mendapat respon dari penelepon yang dipanggilnya Paman itu.

[ Jangan berteriak seperti itu, bisa-bisa besok kau mendapat undangan pemakaman, Jaejoongie. ]

"Haiish, Paman tidak terlalu tua hingga bisa terkena serangan jantung mendadak karena sapaan ceriaku kok." Ucap Jaejoong terkekeh sambil mengibas-ngibaskan sebelah tangannya yang bebas didepan wajahnya, "biar kutebak! Paman pasti mengkhawatirkan Yunho, benar bukan?"

[ Heh, siapa bilang aku khawatir pada anak bodoh itu. ] Yanghyun mendengus diseberang sana.

"Bohong, Paman pasti mengkhawatirkannya~" Jaejoong mengeluarkan cengiran jahilnya, sudah lama ia tidak menggoda teman Ayahnya satu ini. Terakhir mereka bertemu satu tahun lalu saat ia berkunjung ke kantor Ayahnya.

[ Tidak. ]

"Paman bohong."

[ Aku bilang tidak, Joongie. ]

"Joongie tidak percaya tuh," Jaejoong terseyum senang mendengar sang Paman berujar dengan beberapa penekanan ditiap suku kata, ia bisa mendengar Yanghyun mendengus sebelum akhirnya kembali berujar一yang sukses meruntuhkan senyum dibibirnya.

[ Pesanan tasmu dibatalkan. ]

"Gyaaah! Paman curang!" Jaejoong berteriak histeris, kalau begini caranya, ia tidak akan menggoda Pamannya itu. Bagaimana pun juga dia memang mengincar tas itu dari saat ia melihat rancangannya disebuah majalah, terlebih tas itu hanya diproduksi dan dijual sebanyak 50 buah di Tokyo.

[ Kau yang membuatnya jadi begitu. ]

Jaejoong mendengus, "cih, aku benci Paman. Sekarang katakan kenapa Paman meneleponku, jangan katakan kalau Paman rindu padaku." Ia berujar sinis, bibirnya memberengut sebal.

[ Kalau benar, kenapa? ]

"Paman!"

[ Hahaha, Paman mu ini hanya ingin bertanya apa barang-barang bocah nakal itu sudah sampai atau belum di apartemenmu. ]

"Tuh kan, Paman khawatir padanya. Kenapa tidak langsung bertanya dia sedang apa sekarang, eoh?" Jeda sejenak, Jaejoong melihat jam yang merekat erat pada dinding, "baru sampai sekitar 15 menit lalu."

[ Lebih cepat dari perkiraan rupanya. Baiklah, baiklah, apa yang dilakukan Yunho kecilku sekarang? ]

Jaejoong melirik kearah pintu kamar mandi yang terletak disebelah dapur, "dia belum keluar dari kamar mandi sejak sejam yang lalu." Ucapnya malas-malasan, "kenapa malah tertawa, huh?" tanyanya saat mendengar Yanghyun tertawa.

[ Biasakan dirimu dengan hal itu. Dia sering mengadakan konser kecil di kamar mandi. ]

"Ya, ya, ya. Masakanku jadi dingin karena konsernya itu," dengus Jaejoong.

[ Kami akan take-off sebentar lagi, Bibimu titip salam untukmu dan Yunho. Tolong jaga bocah nakal itu untuk kami, oke? ]

"Cepatnya~ Salam juga untuk Bibi. Tanpa Paman katakan juga akan kujaga, apa lagi dia seusia dengan adikku." Jeda sejenak, "jangan lupa tas ku ya!"

一pip. Dan sambungan pun terputus. Tepat setelahnya pintu kamar mandi terbuka, diikuti dengan Yunho yang keluar sambil mengeringkan helai rambut hitamnya.

"Yunnie, kau membuat masakanku dingin karena konser yang kau lakukan didalam sana." Yunho berhenti mengeringkan rambutnya dan mendongak menatap Jaejoong yang bertopang dagu diatas meja dengan beberapa masakan yang terlihat menggiurkan.

Yunho menaiki dua anak tangga yang membatasi ruang tamu dengan meja makan dan dapur, ia menarik kursi disebelah kiri Jaejoong dan duduk disana. "Maaf, Hyung. Kebiasaan dari kecil, susah dihilangkan."

"Aku tahu, tadi Paman Yanghyun mengatakannya padaku. Ah, ya! Barang-barangmu sudah sampai waktu kau di kamar mandi tadi." Jaejoong beranjak dari duduknya, ia mengambil beberapa piring makanan dan membawanya kearah dapur. "Tunggu disini sebentar, aku akan memanaskannya untukmu."

[ W ]

Yunho dan Jaejoong berjalan keluar stasiun一bergabung dengan pejalan kaki lainnya. Mereka sekarang ada di pusat perbelanjaan kota seoul yang penuh dengan pejalan kaki yang memang ingin berbelanja atau hanya sekedar berjalan-jalan melepas penat saja.

Yunho menggerutu pelan, ia bisa merasakan beberapa pasang mata menatap lapar kearah mereka一kearah Jaejoong tepatnya. Tidak masalah jika yang menatap adalah perempuan, tetapi berbeda jika yang menatap pemuda berumur 19 tahun disebelahnya 一yang mengenakan kaus putih panjang berleher rendah dengan jeans putih yang melekat erat dikaki panjangnya dan sebuah sneaker berwarna hitam yang senada dengan kupluk yang dipakainya一 adalah laki-laki. Che! Apa mereka tidak bisa melihat kalau sosok yang mereka pandang dengan mata lapar itu adalah laki-laki? Tak cukup kah leher kaus yang hampir mengekspos dada itu?

Yunho merapat pada Jaejoong dan berbisik, "Hyung, kau terus diperhatikan sedari tadi." Ia mengarahkan telunjuknya pada beberapa laki-laki yang menatap Jaejoong.

Jaejoong menghentikan senandung yang didendangkannya sedari tadi, "lalu?"

"Hyung tidak merasa terganggu?"

Jaejoong tertawa kecil, "selama mereka tidak menganggu, tidak masalah."

"Santai sekali ya," komentar Yunho sambil menaikkan sebelah alisnya一mengejek.

"Kau akan merasakan hal yang sama jika menjadiku, Yunnie."

Keduanya terus mengobrol sambil sesekali melihat sekeliling apakah ada toko yang menjual kasur. Sesekali Jaejoong tertawa saat Yunho bercerita tentang tingkah laku teman sekolahnya yang tidak pernah tidak mengejar perempuan barang sehari pun.

"Hei, Non! Nona cantik yang mengenakan kaus putih disana~ Mau membeli kalung ini? Aku berani bertaruh kalung ini akan cocok melekat dikulit lehermu yang indah itu."

Sebuah suara dengan nada menggoda bercampur iseng berhasil menginterupsi obrolan keduanya.

[ W ]

"Hei, Non! Nona cantik yang mengenakan kaus putih disana~ Mau membeli kalung ini? Aku berani bertaruh kalung ini akan cocok melekat dikulit lehermu yang indah itu."

Sebuah suara dengan nada menggoda bercampur iseng berhasil menginterupsi obrolan keduanya.

'Yang ini malah berani menggoda,' Yunho menggerutu dibenaknya. Mata sipitnya memandang kearah dimana asal suara iseng itu berada, Jaejoong pun ikut memandang kearah yang sama.

Retinanya menangkap seorang berjaket hitam dengan bulu-bulu yang menghiasi kedua pergelangan tangan, bagian bawah jaket dan tudung jaket yang berwarna kuning. Untuk kedua kalinya dalam dua hari ini ia tidak bisa membedakan jenis kelamin seseorang. Wajah orang didepannya 一yang tengah tersenyum kearah mereka一 terlihat cantik untuk ukuran laki-laki. Pandangan Yunho turun kebawah, oh, oke, dia laki-laki. Mengacu dengan kaus jaring-jaring yang dikenakannya. Didepan laki-laki 一ia terlihat masih muda, sebutan pemuda lebih cocok, mungkin?一 itu terbentang sebuah kain hitam dengan berbagai aksesoris tersusun rapi diatasnya.

Hanya orang yang tengah menawari jualannya toh, Yunho mendengus. Ia kira salah satu dari orang-orang yang menatap lapar Jaejoong. Yunho menggerakkan kakinya一berniat meninggalkan tempat itu, "kita pergi, Hyung." Ajaknya pada Jaejoong.

Dan sayangnya, ajakkannya itu tidak diindahkan oleh Jaejoong. Pemuda itu malah berjalan kearah sang penjual 一yang masih tersenyum pada mereka一, Yunho mengerutkan alisnya dan memutuskan berjalan mengikuti Jaejoong. Bisa dilihatnya Hyungnya itu berjongkok didepan pemuda yang mengenakan jaket dengan aksen bulu-bulu itu.

Jaejoong berjongkok dan mendekatkan dirinya pada sosok dihadapannya, ia memegang tangan sang pemuda yang memegang sebuah kalung. Bibirnya membentuk sebuah senyuman sebelum berujar, "tentu kau berani bertaruh. Karena kau membuatnya memang untuk diberikan padaku, Ji."

Pemuda yang dipanggil Jaejoong 'Ji' itu tergelak, "tentu saja. Aku membuatnya hanya pas untuk kau kenakan seorang, eh, Jaejoongie~" ia mendekatkan dirinya pada Jaejoong.

Jaejoong pun kembali mendekatkan diri, hingga kini hidung keduanya saling bersentuhan. "Tumben kau berjualan pagi begini, kau tidak kuliah?"

Ji urung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jaejoong karena sebuah tepukan dibahu kirinya dan sebuah suara yang terdengar sedikit jengkel.

Yunho menepuk bahu Jaejoong dan bahu pemuda yang dipanggil Ji itu, ia juga menarik bahu keduanya untuk menjauh. "Yak, cukup sampai disini!" Yunho berseru, ia memandang kearah Jaejoong yang kini juga tengah memandangnya, "tidakkah Hyung ingin menjelaskan sesuatu padaku, huh?" ujarnya dengan nada sedikit jengkel. Ia benar-benar tidak terima dirinya diabaikan sementara dua pemuda didepannya ini melakukan adegan lovey-dovey.

Jaejoong menegakkan dirinya kembali, diikuti oleh Yunho dan Ji. Ia tersenyum pada Ji sambil mengarahkan tunjuknya pada Yunho. "Kenalkan, ini Yunho, Jung Yunho. Mulai kemarin dia tinggal bersamaku."

Yunho mengangguk kecil, "halo," sapanya.

"Dan Yunho, ini GD. G-Dragon tepatnya, salah satu temanku di Universitas."

GD tersenyum dan mengulurkan tangannya, ia berujar riang, "G-Dragon, salam kenal, Yunho~"

Yunho menyambut uluran tangan GD dan menjabatnya, "salam kenal, Hyung."

"Aku tidak tahu kalau kau sudah punya pacar, Joongie." G-Dragon menoleh dan menyeringai kearah Jaejoong, "daun muda, eh?"

"Aku tidak bilang dia pacarku. Dan, bukannya kau yang suka daun muda?" ucap Jaejoong dengan nada mengejek yang kental pada kalimat terakhir. Alisnya berkerut melihat tangan G-Dragon dan Yunho yang masih berjabat. Ia berjalan kearah keduanya dan melepaskan jabatan itu 一entah kenapa dirinya tidak suka melihat hal itu一, "mau sampai kapan kalian akan saling berjabat?" katanya ketus.

G-Dragon kembali tergelak, ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, "maaf, maaf. Aku tidak akan merebut dia darimu kok!"

Jaejoong memutar matanya bosan, Yunho hanya memandangi keduanya dengan tatapan, uhm, sedikit kecewa? Saat Jaejoong berkata mentah-mentah bahwa ia bukan pacarnya, dan kenyataannya adalah benar.

"Jadi," G-Dragon kembali bersuara, "kalian akan kencan dima一oke, maaf, peace! Kalian mau kemana?" ia segera mengganti kalimatnya saat mendapat pelototan dari Jaejoong.

Jaejoong menghela nafas, "toko kasur. Kami akan membeli kasur untuk Yunho."

"Heee, jadi kalian akan pisah ranjang!" Pemuda didepannya membulatkan mata 一pura-pura一 terkejut.

Plak

"Hentikan imajinasi bodohmu itu, Ji!" Jaejoong menggeplak kepala G-Dragon, mencoba menjernihkan pikiran sahabatnya itu.

"Phuuun~ Jaejoongie memang susah diajak bercanda," G-Dragon memajukan bibirnya sebal. Detik berikutnya, ekspresi sebal itu kembali berubah menjadi ekspresi yang penuh dengan kecerian musim panas khas miliknya, "kalau toko kasur, kau bisa menemukannya diujung belokkan sana."

"Aku sudah tahu, kau pikir aku tidak pernah kesini."

"Aissh, ketusnyaa~"

"Salahmu," ucap Jaejoong datar.

Yunho yang sedari tadi diam hanya bisa mengangkat alisnya melihat interaksi kedua pemuda cantik dihadapannya. Kalau boleh jujur, ia menikmatinya. Apa lagi saat pemuda berjaket bulu-bulu itu menggoda Jaejoong.

Ia bertanya tanpa suara saat Jaejoong berbalik memandangnya. Seolah mengerti, ia melangkahkan kakinya dari sana menuju arah yang ditunjuk oleh G-Dragon.

Setelah Yunho cukup jauh darinya, Jaejoong menumpukan kedua tangannya pada bahu G-Dragon, ia mengambil nafas cukup banyak lalu menghembuskannya perlahan. "Kumohon," ujarnya dengan lirih dan mengangkat kepalanya yang semula tertunduk lalu memandang wajah sahabat karibnya, "jangan berkata seperti itu lagi didepan Yunho. Kau membuatku tidak bisa mempertahankan ekspresi datarku!"

BLUSH

Wajah cantik itu sekarang dihiasi oleh semburat berwarna merah muda. Membuat pemuda didepannya kembali tergelak dan mendapat geplakan penuh kasih sayang dari seorang Kim Jaejoong.

Kwon Jiyong 一nama asli G-Dragon, jika anda ingin tahu, tentu.一 bukannya meringis sakit seperti sebelumnya, ia malah menambah intensitas tawanya, membuat ia dan Jaejoong menjadi pusat perhatian detik itu juga.

"Hahaha, oh! Oh..ke!" Oh, ia sulit untuk berbicara, tangannya bergerak memegang perutnya yang kram karena banyak tertawa. "Jadi, ehem! Dia si Pangeran kecil itu, eh?" tanyanya dan mengusap air mata yang menumpuk dimata kirinya.

"Pa-Pangeran apa?" Jaejoong bertanya gagap, seingatnya, ia tidak pernah bercerita tentang hal kecil dimasa lalunya itu pada siapapun kecuali Ibunya.

"Oh, ayolah~ Pangeran kecil itu, Pangeran yang kau katakan menyelamatkanmu dari... Dari... Dari kecoak raksasa一BUAHAHAHAHAHA! Kecoak! Kecoak raksasa! Hahahaha," Jiyong kembali tertawa saat mengatakan salah satu binatang berwarna kecokelatan yang selalu berkeliaran ditempat-tempat kotor itu. Demi pantat montoknya Junsu 一salah satu sahabat Jaejoong di jurusan musik一 ! Temannya yang selalu berkata bahwa ia adalah laki-laki sejati itu takut kecoak. KECOAK! Oh, tidak. Jika terus begini, kotak tertawanya akan rusak seperti halnya tokoh gurita yang ada difilm yang selalu ia tonton tiap petang dan ia tidak akan bisa tertawa lagi. "Kau mengatakannya saat pesta kemenangan kita membantai berandalan dari sekolah menengah barat dan kau MABUK, kalau kau mau tahu," tambahnya, detik berikutnya ia kembali tertawa.

Jiyong menutup mulutnya dengan kedua tangannya, meski pun tawanya tidak teredam sempurna. Tetapi dibatinnya ia tertawa lebih keras lagi.

Jaejoong memberengutkan bibirnya, selalu begini, kalau dirinya sudah begitu mabuk. Ia tanpa sadar akan membeberkan rahasianya, melangkahkan kakinya dari sana dengan jengkel. "Lebih baik aku pergi dari pada terus ditertawakan olehmu dan menjadi pusat perhatian."

Jiyong menghentikkan tawanya dan berujar histeris, "hyaaah! Jangan pergi! Oke, aku berhenti tertawa. Tapi tunggu aku sebentar," ia langsung berbalik dan membereskan dagangannya. Setelah menyampirkan tas ranselnya dipundak, ia langsung menarik tangan Jaejoong dan beranjak dari sana, "nah, sekarang ayo kita pergi."

"Kita?" Maksudmu, kau dan aku? Memangnya kau mau kemana?" Jaejoong mengerutkan alisnya dan membiarkan tubuhnya diseret oleh Jiyong.

"Yap! Kau dan aku." Jawab Jiyong riang, ia semakin mempercepat langkahnya begitu melihat Yunho yang tengah menunggu dibelokkan yang tadi ia tunjuk. "Aku mau main ke apartemenmu, dan kau harus mengizinkannya."

"Heh, memangnya selama ini kau selalu meminta izin padaku sebelum kesana? Kau kan selalu muncul tiba-tiba didepan pintu apartemenku apa pun kondisinya," cibir Jaejoong. Ia menggamit lengan Yunho begitu posisi mereka tidak jauh lagi, "ayo." Sayangnya ia tidak melihat cengiran Jiyong, juga sebuah semburat merah tipis yang menghiasi pipi Yunho.

Ragu, Yunho mengikuti langkah kedua pemuda itu dan berjalan memasuki toko yang menjadi tempat tujuan mereka. Didalamnya mereka disambut oleh wanita si penjaga toko.

"Selamat siang," sapanya ramah. Detik berikutnya wanita itu seperti menyadari sesuatu dan kembali tersenyum一kali ini intensitasnya sedikit berbeda. Dan pada detik berikutnya lagi, kata-kata yang dilontarkan oleh sang penjaga toko itu membuahkan sebuah tawa menggelegar dan semburat berwarna merah muda 一bisakah ini dikatakan merah?一 menghiasi duapasang pipi err, dua wajah?

"GYAHAHAHAHAHAHAHA," Jiyong 一yang telah melepaskan genggamannya pada Jaejoong一 langsung tertawa terbahak-bahak begitu kedua telinganya yang tertutup oleh rambut panjangnya mendengar kata-kata yang diucapkan si penjaga toko.

Sedangkan wajah Yunho dan Jaejoong berubah menjadi merah padam mendengarnya. Jaejoong pun segera melepaskan genggamannya meski pun dengan enggan. Ia yakin, pasti genggaman tangannya itulah yang membuat si penjaga toko berkata seperti itu.

"Silahkan kesebelah sini, kasur disebelah sini khusus didesain untuk pasangan, terlebih pasangan muda yang baru menikah seperti kalian ."

__YUNJAE™ Kotoba wa Iranai__

"Puah, kuharap kotak tertawaku tidak rusak karena terus menerus tertawa dari tadi." Jiyong mengelus-ngelus perutnya, ia mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi panjang milik Universitasnya.

Yunho mengikuti Jiyong dan duduk disebelah pemuda itu, "segitu lucunya kah untukmu, Hyung? Itu malah membuatku malu," tanya Yunho.

Jiyong menoleh pada Yunho, ia berdecak dan menggoyang-goyangkan telunjuknya didepan wajah Yunho, "ckckck, bukan itu一"

"Selamat siang, GD-sshi."
Kalimatnya terpotong oleh sebuah sapaan yang dilontarkan seorang perempuan yang mengenakan baju terusan berwarna biru. Jiyong membalas sapaan itu dengan tersenyum manis, dan perempuan itu berlalu dengan pipi yang bersemu merah.

"Wow, kau mengenal perempuan yang cantik rupa-rupanya, Hyung." Ujar Yunho.

"Aku tidak mengenalnya kok," Jiyong menopang dagunya, "aaah~ kenapa Jaejoong lama sekali. Bukannya dia cuma mengambil partitur lagunya~"

"Lho? Bukannya Hyung mengenalnya? Makanya Hyung membalas sapaannya dengan tersenyum, bukan?" Yunho mengerutkan alisnya dan bersandar pada sandaran bangku dibelakangnya一menikmati belaian angin pada rambutnya.

"Itu refleks kok, karena setiap ke kampus banyak yang menyapaku meski pun secara pribadi aku tidak mengenal mereka."

"Berarti hari ini aku berkenalan dengan orang terkenal nih," ucap Yunho sambil terkekeh.

"Bang! Kau benar!" Jiyong menirukan bunyi pistol dan membentuk jarinya seperti pistol. Membuat pemuda itu tertawa geli.

Jiyong tersenyum, lalu ia berdiri dari duduknya dan merentangkan kedua tangannya, "ayo susul, Joongie. Aku bosan menunggu," ajaknya. Ia melangkah pergi dari situ tanpa melihat Yunho mengikutinya atau tidak.

Sepanjang perjalanan, banyak mahasiswa atau pun mahasiswi baik yang tingkatannya sama atau tidak, menyapa pemuda nyentrik yang berjalan didepannya dan dibalas dengan senyum atau sapaan balik一hanya untuk yang pemuda berjaket bulu-bulu itu kenal. Yunho menghentikan langkahnya saat Jiyong berhenti melangkah. Ia mengarahkan pandangannya pada apa yang membuat Jiyong berhenti tiba-tiba, alisnya berkerut melihat pemandangan yang ada didepan sana. Jaejoong yang tengah berdiri dikelilingi oleh tiga pemuda yang bisa ditebak sebagai kakak tingkatnya.

"Hyaaaah, mereka lagi. Belum menyerah ternyata," gumaman Jiyong membuahkan tatapan Yunho dan juga sebuah pertanyaan tanpa suara dari pemuda itu.

"Pemuda yang memakai kaus biru itu selalu berksikeras mangajak Jaejoong beradu akting dengannya, pemuda yang disebelahnya 一yang memegang kamera一 ingin Jaejoong menjadi model pemotretannya dan terakhir, dia kakak tingkatku dikelas tari, berniat memasukkan Jaejoong kedalam kelas kami karena melihat Jaejoong menarikan tarian yang harusnya hanya bisa dilakukan oleh anak semester tiga." Jelas Jiyong dengan ekspresi bodan, beda halnya dengan Yunho yang terlihat sedikit, err, takjub?

'Hei, jangan katakan Jaejoong Hyung itu serba bisa dan sempurna,' batin Yunho.

__YUNJAE™ Kotoba wa Iranai__

"Oh, akhirnyaaa~ Apartemen Jaejoongieee~" Jiyong langsung merangsek masuk begitu Jaejoong membuka pintu apartemennya, sama sekali tidak terbesit niat membantu mengangkat kasur 一yang ternyata sudah sampai一 kedalam. Ia berjalan masuk seolah apartemen itu adalah apartemen miliknya dan menghempaskan tubuhnya yang terbalut kaus jaring-jaring 一ia telah melepaskan jaketnya dan melemparnya sembarangan一pada sofa berwarna pink lembut milik Jaejoong, meraih remot televisi dan menyalakannya. Selama beberapa menit ia duduk disana dan menonton, sebelum akhirnya beranjak dari sana dan berjalan kearah pintu yang terletak dibelakang sofa.

"Jaejoongie, kau punya makanan kecil tidak?" Tanyanya pada Jaejoong yang kini terlihat memasukkan semua boneka kedalam kardus besar didalam sana.

Jaejoong mendongak, "ada strawberry shortcake dikulkas, kau bisa mengambilnya." Setelah mengatakannya ia kembali sibuk membereskan barang-barang yang merupakan pemberian. Sebagian akan ia berikan pada anak-anak di panti yang selalu ia kunjungi tiap minggu dan sebagian akan disusunnya di kamar depan yang merupakan tempat bersantainya一tempat ia bercumbu dengan melodi dan nada-nada indah yang ia sukai. Studio pribadi sepertinya lebih tepat.

Saat strawberry shortcake itu tinggal setengah lingkaran, Jaejoong dan Yunho keluar dari kamar itu. Jiyong yang duduk dilantai mendongak, "selesai?" tanyanya. Jaejoong mengangguk mengiyakan.

Pemuda cantik itu melirik pada jam dinding, sebentar lagi akan memasuki jam makan malam. "Tsk, kita melewatkan makan siang. Tunggu disini, aku akan memasakkan makan malam untuk kalian. Kau belum akan pulang bukan, Ji?" tanyanya pada Jiyong yang kembali memakan cake buatannya.

Jiyong menyatukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf 'O' yang menandakan ia setuju karena sekarang mulutnya sibuk mengunyah. Dan Jaejoong pun berlalu dari sana.

Jiyong menelan cake yang telah dikunyahnya, ia mengarahkan garpu kecil ditangannya pada Yunho. "Jadi," mulainya, "bagaimana pendapatmu mengenai Jaejoongie, Yunho-yah?"

"Aku baru bertemu dengannya kemarin, tapi menurutku Jaejoong hyung itu baik. Selain itu dia cantik dan pintar memasak," jawab Yunho seadanya.

Jiyong mengangguk paham, ia menyodorkan sepotong strawberry shortcake yang langsung diterima oleh Yunho. Melihat Yunho yang asyik mengunyah, sebuah ide iseng terlintas dikepalanya.

"Jaejoongie memang baik," ia pun memulai rencana iseng-iseng dan mungkin berhadiah (?) miliknya. Yunho yang masih sibuk mengunyah hanya mengangguk mengiyakan.

"Dia juga lembut."

Anggukkan lagi.

"Cantik."

Lagi.

"Masakannya enak."

Lagi.

"Jadi, apa kau menyukainya?"

Satu kali lagi.

"Atau kau malah mencintainya?"

Dan lagi.

"..."

"..."

"Oh, begitu rupanya~"

"Kutunggu traktirannya ya~" ujar Jiyong lalu melompat turun dari sofa dan melesat menuju dapur begitu hidungnya menangkap bau harum masakan Jaejoong. Ah, jangan lupakan cengiran jahil dan juga kikik tawa yang tertahan dari kedua belah bibirnya.

Sementara disofa, Yunho yang telah menyadari apa yang dilakukannya melotot kaget, ia menoleh cepat kearah Jiyong yang telah berjalan meninggalkan ruangan ini.

"AH! GD Hyung, ma-maksudku一hukh, uhuk... Uhuk," dan ia pun dengan sukses tersedak一ia lupa bahwa ia belum menelahan kunyahannya.

__YUNJAE™ Kotoba wa Iranai__

"Kau akan menginap atau pulang, Ji?" Tanya Jaejoong sembari mengeringkan rambut Jiyong yang duduk dilantai bersender sofa yang ia duduki. Mereka sudah berteman semenjak masih menjajak bangku sekolah menengah, keduanya sangat dekat dan sudah terlihat seperti saudara. Terlebih, Jaejoong sudah menganggap Jiyong sebagai adiknya sendiri. Dan kegiatan seperti itu sudah rutin terjadi.

Jiyong mendongak dan memberengut sebal, "kau mengusirku?"

Jaejoong beralih menyisir helai-helai cokelat milik Jiyong sebelum menjawab, "aku hanya merasa Seunghyun akan khawatir tidak mendapatimu di tempat kau biasa berjualan. Dan kau tidak memberitahunya bahwa kelasmu hari ini dibubarkan."

"Memang itu mau ku," dengus Jiyong.

"Jangan katakan ada masalah baru lagi," Jaejoong mengalihkan pandangannya pada Yunho yang telah selesai membersihkan diri, "cepat keringkan rambutmu! Kau bisa masuk angin karenanya, ini sudah pukul 08.45, Yunnie." Serunya begitu melihat rambut Yunho yang masih basah.

"Tubuhku kuat kok, Hyung." Jawab Yunho seraya tersenyum bangga.

Dahi Jaejoong berkerut, tidak ada satu pun orang yang boleh masuk angin di apartemennya. "Haissh! Ganti bajumu sana, dan cepat kemari!"

Yunho pun memasuki kamarnya seraya menggerutu pelan, tubuhnya ini kuat, ia tidak akan pernah terkena penyakit murahan seperti itu.

"Wajahnya tidak banyak berubah ya," celetuk Jiyong tiba-tiba. Membuat Jaejoong menoleh padanya.

"Apanya?"

"Wajahnya, Joongie. Aku langsung mengetahui bahwa dia Pangeran kecilmu saat melihat wajahnya一well, mata mungkin lebih tepat." Jelas Jiyong.

"Kau benar," ucap Jaejoong setuju. Ia kembali memainkan rambut pemuda dibawahnya, "jadi, bisa katakan ada masalah apa lagi antara kau dan Seunghyun?" Ia kembali pada topik awal.

"Tanyakan pada motor kesayangannya," Jiyong menjawab malas-malasan.

"Lagi? Kau cemburu dengan mesin itu lagi?"

"Tsk, mari bertukar tempat dan kau pasti tahu bagaimana perasaanku! Dia menghabiskan waktu dengan motor itu LEBIH dari waktu saat bersamaku!"

Jaejoong tertawa kecil mendengar alasan yang dilontarkan Jiyong, ia melirik pada ponsel Jiyong yang tergeletak diatas meja. Sebelum akhirnya menepuk puncak kepala Jiyong dan berujar, "dia benar-benar mengkhawatirkanmu, sana angkat teleponnya."

Jiyong segera menyambar ponselnya, benar apa yang dikatakan Jaejoong, Seunghyun meneleponnya. Cepat ia mengangkat panggilan itu, dan menyalak garang pada sang penelepon. Membuat Jaejoong tertawa terbahak, dasar. Lama ia mengamati Jiyong membuatnya terhibur saat melihat ekspresi Jiyong yang berubah-ubah seiring dengan apa yang diucapkan oleh Seunghyun diseberang sana.

"Apa katanya?" Tanyanya saat Jiyong memutuskan panggilan itu.

"Dia akan menjemputku, katanya hitung sampai sepuluh detik dan ia akan segera sampai disini. Mana mungkin bisa, mustahil." Jawab Jiyong yang diakhirnya diikuti sebuah dengusan.

"Tidak juga, dia itu mahir bermotor. Tidak menutup kemungkinan ia bisa sampai dalam sepulu一tuh, dia sudah sampai~" Jaejoong segera mengganti kalimatnya begitu ia mendengar suara deru mesin motor. Apartemennya berada dilantai tiga, dan tidak seperti apartemen dengan ruangan yang begitu luas lainnya. Apartemen Jaejoong terdiri atas lima lantai yang tersusun layaknya apartemen biasa yang hanya terdapat satu kamar tidur dengan dapur dan ruang tamu yang menyatu. Sederhana diluar tetapi mewah didalam adalah konsep yang dijunjung oleh sang arsitektur.

Jiyong yang juga mendengar suara deru mesin itu segera berlari ke beranda dan melongok kebawah. Dan benar saja, ia bisa melihat sebuah figur tegap yang sangat dikenalnya duduk diatas motor. Ia pun kembali kedalam dan menyambar jaket bulunya serta ransel lalu berlari keluar setelah sebelumnya berpamitan pada Jaejoong yang kembali tertawa melihat tingkah sahabat nyentriknya satu itu. Tepat setelah bunyi pintu depan tertutup, pintu kamar Yunho terbuka dan keluarlah Yunho yang hanya mengenakan kaus berwarna hitam dan boxer yang senada, jangan lupa dengan rambutnya yang masih basah.

"Lho, GD Hyung kemana, Hyung?" Tanyanya saat tidak mendapati sosok yang baru ia kenal hari ini di ruangan itu.

Jaejoong berjalan kearah beranda, "barusan pulang. Pacarnya datang menjemput," Ujarnya pada Yunho yang kini juga berjalan kearah beranda dan melongok kebawah. Tidak lama kemudian terlihat jaket hitam berhiaskan bulu milik Jiyong yang menghampiri sebuah sosok berjaket kulit putih yang duduk diatas motor besar.

Jaejoong berbalik dan mulai kembali berjalan kedalam, "ayo kemari, aku akan mengeringkan rambutmu." Ajaknya pada Yunho yang masih melihat kebawah.

Yunho hanya diam dan detik berikutnya ia terkejut saat melihat Jiyong dan sosok yang duduk diatas motor itu berciuman dengan panas. Mulutnya menganga, bukankah tadi Jaejoong mengatakan pemuda nyentrik yang suka cengar-cengir itu dijemput oleh pacarnya? Tapi, tapi, ia yakin sekali bahwasahnya sosok yang berada diatas motor itu seorang pemuda. Tidak mungkin jika pacarnya seorang gadis tomboy, merujuk pada tubuh tegap yang dilihatnya.

"Yunnie! Kau akan benar-benar masuk angin jika terus berdiri disana dengan rambut basah!" Seruan Jaejoong mengalihkannya, setelah melihat kedua sosok dibawah sana sudah tidak ada lagi, ia berjalan masuk kedalam dan duduk dilantai saat Jaejoong menyuruhnya duduk disana. Ia masih bingung dan sedikit, err, merasa apa yang dilihatnya hanyalah sekedar imajinasinya saja.

"Hyung, boleh aku bertanya?" Tanyanya pada Jaejoong yang tengah mengeringkan rambutnya.

"Hm?"

"GD Hyung..."

"Ya?"

"Euh, tidak jadi." Yunho mengurungkan niatnya yang ingin bertanya atas apa yang dilihatnya tadi.

Jaejoong hanya bisa menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar kalimat yang dilontarkan pemuda yang duduk dibawahnya, "putar tubuhmu menghadapku." Perintahnya pada Yunho yang langsung pemuda itu turuti.

Jaejoong kembali mengeringkan rambut Yunho dengan telaten membuat sang empunya menutup kedua mata sipit itu一menikmati sentuhan jemari Jaejoong pada rambutnya. Jaejoong meneliti wajah dihadapannya dan seakan terlena oleh lekuk-lekuk itu, tanpa sadar ia, mendekatkan wajahnya sendiri.

Pandangannya turun kebawah, kearah bibir berbentuk hati milik Yunho yang terlihat begitu menggoda untuk dikecup. Dan ia semakin mendekatkan wajahnya一lebih tepat jika dikatakan mendekatkan bibirnya pada bibir Yunho. Sedikit lagi, dan kedua bibir itu akan saling menempel tetapi seolah teringat oleh sesuatu. Jaejoong dengan cepat menjauhkan wajahnya dari wajah Yunho. Semburat merah pun menghiasi kedua belah pipinya. Batinnya pun berteriak gusar.

'Tidak boleh, Kim Jaejoong. Kau itu bukan apa-apanya!'

[ To be Continued ]

A.N : Pernah di-post di fb saya beberapa bulan yang lalu, Prince Minkyu. Sekarang menjadi tahun lalu, ya? :D

...

::balesan untuk yg ga login::

Trililililili : Wah, makasih.. Maaf ya, ga cepat.. masih mau baca kan yah? Wkwkwk xD

Himawari Ezuki : Ga kok, Appa-nya aja yang mesum *dicakarberuang* Kalau itu mah rahasia perusahaan~

Nony : Itu bakalan terjawab chapter depan hehehe.. Tunggu yaa :D

doki doki : Namanya juga Jung Jaejoong, kelakuan e ga jelas *duaaaakkk* mahasiswa atau musisi? Adik Jaejoong? Itu masih rahasia huahahahahahah xD

shimmax : Annyeong~ wah, wah, yadongnya langsung kumat.. Dosa dong sayanya bikin yadong kumat xD

L R L : Iyeee, udah lanjut kok! I lop yuu pull, sini saya cium ( ◦˘ з˘(◦'ںˉ◦) *kumat* wkwkwk Aduh, jadi malu.. ini FF jelek kok..

Jaejoongholic : Udah lanjut kok.. makasih ya :D

Mina yunjae : Iya, lanjut~~ Semangat Yunjae!

Maaf sedikit lama, karena, jujur, saya sempat lupa untuk mengupdate ini hahahaha *duaaak* Terimakasih kepada Anda yang telah bersedia me-review, fav, follow, dan Hey! Silent Reader disanaaaa~~ Aku mencintaimuC:

:: Judul diambil dari Album Heart, mind and soul track 02一dengan judul yang sama, Kotoba wa Iranai (No words are needed)

0609prince
Cannabis G, April and Mei 2012.