"Sehun?"

Kyungsoo terkesiap mendengar seseorang memanggil nama Sehun sementara si pemilik nama menoleh gerakan takut-takut—membuat respon saraf motoriknya bekerja jauh lebih lambat dibanding biasanya.

Kim Jongin. Berdiri di bingkai pintu. Raut wajah menunjukkan bahwa ia mendengar semua cerita yang telah dituturkan adik sepupunya kepada Kyungsoo. Bibir dengan garis yang jelas gemetar—ingin mengucap sesuatu tapi juga tidak ingin. Giginya gemeretak. Rasanya ia seperti baru minum banyak sekali kopi hingga perutnya terasa kembung. Jongin seperti ingin membantah, menjelaskan bahwa semua yang dikatakan Sehun itu tidak benar. Tapi, sia-sia.

Kyungsoo menatapnya dengan mata berair. Entah karena pengaruh panas atau memang gadis itu ingin menangis.

Sial.

Bukan tindakan gentle memang. Tapi, Jongin sudah berperang dengan harga dirinya sebagai lelaki yang melihat wanita menangis. Jongin menang. Harga diri kalah. Jadilah Jongin keluar dari area pertandingan—kamar Kyungsoo.

"Hyung! Sial. Apa yang dipikirkannya?!" Sehun segera beranjak untuk menyusul Jongin—tapi tangannya ditahan oleh Kyungsoo.

"Noon—"

"Biarkan saja dia, Sehun."

Kyungsoo sudah benar-benar menangis sekarang.

.

.

Summer on August © darkestlake

Do Kyungsoo, Kim Jongin, Oh Sehun, OC, etc

Summer!AU, GS!Kyungsoo, OOC, Beware of typo(s)!

.

.

2/2

.

.

Jadi, Sehun terjebak dalam lingkaran ingat-mengingat Kyungsoo.

"Noona, tidak perlu terlalu dipikirkan."

Kyungsoo menangis. Imut, sih, tapi tetap jelek bagi Sehun karena pemuda baru puber tidak suka melihat wanita menangis. Ia tidak suka mendengar ada wanita menangis karena putus cinta. Ia tidak suka wanita menangis karena fobia serangga. Ia tidak suka wanita menangis karena gagal menonton drama kesayangannya. Ia tidak suka wanita menangis ketika melihat idolanya. Ia tidak suka wanita yang menangis karena terlalu memikirkan masa lalunya.

Merepotkan. Tapi, Kyungsoo pengecualian.

Sehun merasa kasihan. Alih-alih simpati.

"Noona, aku akan mengejar Jongin-hyung."

Sehun bersikeras. Kyungsoo menggeleng. Sehun benar-benar gagal paham. Jelas-jelas jika anak majikan Ayahnya itu sangat membutuhkan kakak sepupunya. Tapi, malah menolak mentah-mentah begini. Sehun gregetan. Tolong, akui saja perasaan kalian. Sial! Bocah semata wayang Oh mengumpat dalam hati.

"Sudah cukup, Sehun. Aku tahu."

Sehun terkejut ketika isakan Kyungsoo semakin terdengar. Mata bulatnya sedikit menyipit karena mulai bengkak. Wajah kusut karena belum mandi—Kyungsoo sakit jadi sejak semalam Bibi Oh melarangnya untuk mandi—rambut awut-awutan, untunglah aroma tubuh Kyungsoo tetap normal. Tapi, kondisi tampilan gadis itu lebih dari kacau sekarang.

"Jongin tidak ingin aku mengingatnya. Aku tahu itu."

Sehun menghela nafas. Meraba panas tubuh Kyungsoo di dahi kemudian bergumam tidak jelas.

"Suhu tubuh noona sepertinya sudah lebih baik daripada sebelumnya. Pantas noona banyak bicara dan berontak sekarang."

Sehun hanya ingin sekedar mengalihkan pikiran gadis yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu dengan caranya sendiri. Meskipun kelihatannya tidak berhasil.

Kyungsoo tetap menangis.

.

.

Jongin meraba luka di lengannya.

Luka itu timbul, tapi jika dilihat dari kejauhan, luka itu tidak akan terlihat. Warna kulit menyamarkannya. Kadang Jongin merasa beruntung karena memiliki kulit yang tidak terlalu cerah. Semua luka di kulit samar dengan warna kulit perunggu.

Ah. Tapi, tetap saja luka di hatinya terlihat jelas. Sehun contoh yang bisa melihatnya. Mungkin Jongin bahkan malu mengakuinya sendiri, tapi, nyatanya ia selalu curhat pada sepupu yang baru akil balig. Sehun tidak akan memberi saran karena kepribadian anak remaja itu memang datar dan polos—polos yang bikin nyelekit, polos yang bikin sebal. Seperti saat semalam saat Kyungsoo menggigil karena demam, Jongin berkata pada Sehun bahwa Kyungsoo mulai mengingatnya.

"Hyung, kau sudah hampir kepala dua. Memutuskan seharusnya sudah menjadi hal yang biasa kau lakukan. Sakit atau tidak itu tergantung nanti. Kalau hyung takut untuk mengatakannya dan membuat Kyungsoo-noona sakit, biar aku saja yang mengatakannya."

Anak itu memang bernyali untuk mengatakannya ternyata.

Dan itu pertama kalinya Sehun memberikan saran—yang nyelekit dan menyakiti harga diri Jongin sebagai lelaki yang lebih tua. Jongin bersumpah, meski sekarang Sehun hanya anak remaja laki-laki yang cupu dari desa, ketika ia melanjutkan pendidikan ke Universitas nanti dia pasti akan jadi semacam tipe cowok pedas, cool, tapi digandrungi banyak wanita. Bad tapi juga nice boy.

Kyungsoo masih menangis kah? Jongin hanya berani berkata seperti itu dalam hati. Menggigit bibir, rasanya kecut sekali ketika Jongin sadar bahwa ia lebih pengecut dibanding yang ia bayangkan.

Dia mengingat apa yang sudah terjadi lima tahun lalu.

Jongin tentu masih mengingat jelas festival matsuri saat itu. Kyungsoo sangat cantik dengan yukata biru muda dengan corak kupu-kupu. Nyonya Do mengijinkan mereka untuk pergi ke festival sendiri karena Jongin sepertinya sudah sangat sering ke Jepang untuk masalah liburan seperti ini—keluarga Kim pernah tinggal di Jepang hingga umur Jongin delapan tahun, bahasa Jepang anak itu fasih sehingga dengan percaya diri Jongin mengatakan bahwa dia lebih dari cukup untuk menjaga Kyungsoo.

Kyungsoo menyikut pinggangnya dengan keras. Wajah semerah apel matang.

.

.

Geta* yang dipakai Jongin menimbulkan bunyi berisik. Remaja berusia empat belas memakai hakama* tapi dengan bawahan celana kain selutut dengan corak yang sama dengan kimononya. Jongin sama sekali tidak terlihat terganggu dengan bunyi kedeplak-kedeplok sandal tradisional yang dipakai. Padahal itu dari kayu, apa kaki Jongin tidak sakit memakainya sambil melangkah cepat begini? Kyungsoo membatin kesal karena langkah Jongin benar-benar tidak bisa mengimbanginya yang memakai rok kimono sempit. Kyungsoo sempat berpikir untuk tinggal, tapi, genggaman tangan Jongin sama sekali tidak ingin ia lepaskan.

Memikirkan alasan itu sudah cukup membuat pipi Kyungsoo bersemu merah.

"Noona mau beli apa?"

Suara Jongin meyadarkan Kyungsoo. Gadis berusia tujuh belas baru sadar mereka sudah sampai di bagian stan-stan penjual—ada makanan, snack, minuman, mainan. Kyungsoo mengerjap sesaat kemudian matanya menangkap stan penjual permen kapas.

"Belikan aku takoyaki, Jongin."

Jongin dengan senang hati mengangguk, menarik tangan Kyungsoo yang masih ia genggam ke stan penjual takoyaki—ah, bahkan genggaman tangan mereka belum terlepas sama sekali sejak tadi.

Jongin berbicara dalam bahasa Jepang dengan si penjual—meski tidak tahu artinya, Kyungsoo yakin intinya Jongin meminta setusuk takoyaki dan menanyakan harga ketika makanan itu sudah ada di tangannya.

Jongin memberikan takoyaki pada Kyungsoo dengan senyum yang terkembang lebar.

"Noona, sebentar lagi festival kembang apinya dimulai. Kau mau melihat atau tidak?"

"Tentu saja untuk apa aku setuju untuk keluar denganmu jika tidak ingin melihatnya."

Jongin tertawa lepas. Kyungsoo tidak tahu bagian mananya yang lucu, tapi tetap saja ia merasa ditertawakan oleh Jongin. Kyungsoo kembali menyikut perut anak itu keras-keras. Tindakannya disambut pekikan sakit dari Jongin.

"Kalau begitu kita harus cepat sebelum tempat festival dipenuhi orang."

Terlambat. Tempat yang Jongin maksud sudah penuh dengan lautan manusia. Tingginya 171 senti, memang cukup tinggi bagi orang Jepang. Tapi, bagaimana dengan Kyungsoo? Tidak mungkin ia harus menggendong Kyungsoo di pundak seperti menggendong Sehun ketika melihat kembang api. Selain tidak kuat, Jongin yakin tulang rusuknya akan patah jika melakukan itu sekarang.

"Aku tidak bisa melihat langit, Jongin." Kyungsoo bicara dengan suara yang tenggelam dalam keributan. Beruntung Jongin masih bisa mendengarnya. Jongin tidak memberikan respon, melainkan menunjukkan mimik bahwa ia sedang berpikir.

"Noona mau mengikutiku? Aku pikir aku punya tempat yang cocok untuk melihat kembang api itu selain disini."

Kyungsoo mengerjap—mengunyah takoyaki. Jongin kembali menarik tangannya—membawanya berlari kecil. Kyungsoo kembali mengeluh mengenai sulitnya berlari dengan rok yang sempit dan satu tangan yang fokus memegang setusuk makanan.

"Kita sampai!"

Jongin menunjukkan sebuah cengiran lebar. Kyungsoo memandangi sekeliling dan kemudian menyadari bahwa mereka berada di dekat sebuah bukit kecil yang terdapat juga jalan raya di dekatnya. Kyungsoo ternganga—kagum.

"Ayo naik kesana, noona!"

Festival kembang api baru mulai lima belas menit lagi. Jongin dan Kyungsoo sepertinya sudah menemukan tempat yang tepat untuk melihat pertunjukan kembang api itu nantinya.

Takoyaki Kyungsoo sudah habis—Jongin yang memakan takoyaki terakhirnya. Serampangan mencomot. Kyungsoo mengomel tentang bibir Jongin yang belepotan sambil mengusapnya dengan sapu tangan. Jongin berhenti membalas omelan Kyungsoo dan tersenyum ke arah remaja perempuan yang lebih tua tiga tahun darinya.

"Noona, ternyata kalau dilihat dari dekat noona manis juga ya."

Jongin tidak pernah punya niat untuk melontarkan gombalan seperti pujangga bermulut manis—karena demi apapun, ia baru berusia empat belas tahun. Semua kalimatnya meluncur begitu saja. Kyungsoo yang agak terkejut dipuji seperti itu menundukkan kepalanya—wajahnya merona lagi.

"Sudahlah, jangan menggodaku terus Jongin."

Keduanya berpandangan. Jongin tersenyum kemudian tertawa kecil.

"Ah, aku tidak tahu kenapa, tapi aku sangat senang memikirkan bahwa aku akan melihat festival kembang api musim ini bersama noona."

Kalimat itu begitu tulus. Kyungsoo mau tidak mau tersenyum juga.

"Aku juga sangat senang."

Keduanya tertawa kecil. Menggenggam tangan satu sama lain tanpa sadar, kemudian saling berpandangan.

Entah mendapatkan keberanian darimana, Jongin mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo. Pada awalnya Jongin nyaris memundurkan wajahnya lagi—rasa takut ditolak membuatnya nyaris mengurungkan niat.

"Jongin?"

Kyungsoo berbisik lirih—seperti bertanya. Tidak menunjukkan penolakan, melainkan penasaran pada hal yang akan Jongin lakukan.

Kembang api pertama meluncur dan meledak dengan cahaya berwarna merah, ungu dan kuning.

Teriakan orang-orang yang menonton di lapangan bawah sana terdengar begitu berisik.

Jongin mengecup bibir Kyungsoo. Hanya satu kecupan kecil yang disusul kecupan lainnya.

"Aku menyukaimu—tidak, aku mencintai noona. Mungkin aku memang lebih muda, tapi aku tidak pernah ragu dengan perasaanku meskipun aku sempat bingung."

Kyungsoo membiarkan Jongin mencium tangannya. Keterkejutannya hilang. Meski Kyungsoo merasa jantungnya meledak-ledak. Degupnya begitu keras dan Kyungsoo yang memiliki gengsi tinggi masih sempat berharap dalam hati agar Jongin tidak mendengar debarannya.

"Aku juga mencintaimu, Jongin. Awalnya aku tidak mau mengakuinya dan aku berpikir kau tidak akan sama lagi melihatku jika tahu hal ini. Tapi," Kyungsoo tersenyum, menangkup wajah Jongin, "Aku sekarang sudah menyadari bahwa aku sudah tidak meragukan perasaanku."

Ini hanya cinta monyet remaja. Kyungsoo masih sedikit memikirkan hal itu, tapi, saat melihat mata Jongin, ia tahu anak itu tidak ragu.

Kyungsoo tertawa lebih dulu sekarang. Ia dan Jongin hanyalah bocah yang memiliki rasa ketertarikan sejak kecil—awalnya sahabat, kenalan yang melibatkan keluarga, lalu semakin besar rupanya berubah jadi perasaan yang lebih dalam. Cinta.

Kenapa Kyungsoo berpikir semua ini sangat lucu? Ia dan Jongin sangat sering bertengkar karena hal-hal kecil. Bagaimana jadinya kalau mereka berpacaran dengan perasaan yang didasari cinta monyet.

Terserahlah, yang penting ia akan menjalaninya dulu. Naïf sekali.

Seakan tahu yang Kyungsoo pikirkan, Jongin juga ikut tertawa setelahnya.

"Aku mendadak haus, noona mau kubelikan minuman juga?"

Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum. Jongin lekas saja melepaskan genggaman tangan mereka dan berlari untuk mencari stan minuman yang paling dekat disana. Tempat itu cukup sepi, sangat jarang ada kendaraan lewat dan stan penjual minuman yang paling dekat ada sekitar lima puluh meter dari tempat mereka duduk tadi.

Kembang api meluncur dan meledak tanpa henti di angkasa. Sejenak, Kyungsoo memutuskan untuk menoleh pada Jongin—yang telah membawanya ke tempat yang bagus.

"Terima ka—"

Kyungsoo belum sempat mengucapkan.

Kyungsoo terbelalak ketika ada sebuah mobil sedan melaju lurus dan tanpa ampun menabrak tubuh Jongin yang saat itu tengah menyeberang jalan.

Jongin terpental—bahkan sebelum Kyungsoo mengedipkan mata.

Tanpa sadar Kyungsoo berdiri, berjalan mundur, tumitnya terpeleset dan tubuhnya terbanting—selanjutnya tubuh Kyungsoo bergulung-gulung menuruni bukit—Kyungsoo melihat ada sebuah tiang besi, kemudian tubuhnya yang terus bergerak ke arah tiang itu.

Kyungsoo merasakan benturan yang sangat keras di kepala belakangnya.

"AARGH!"

Jongin rupanya belum kehilangan kesadaran—lengannya sudah dipenuhi darah. Jemarinya yang kebas berusaha mencari-cari sumber suara Kyungsoo. Menggapai sia-sia karena tubuhnya sudah nyaris tidak dapat digerakkan. Nyeri mulai terasa dimana-mana.

"Noona!"

"Kyungsoo-noona!"

"Kyungsoo-noona!"

Terkesiap.

Mata Kyungsoo membuka lebar.

Sehun dan Bibi Oh sudah ada di sebelahnya. Bibi Oh menggenggam tangan Kyungsoo sambil tersenyum—senyum hangat yang terlihat khawatir.

"Sehun berusaha membangunkan Nona. Apa Nona bermimpi buruk?" tanyanya lembut, "Nona terlihat sangat gelisah dalam tidur."

Mimpi buruk?

Oh, benar. Tadi hanya mimpi. Mimpi buruk yang nyaris sama dengan mimpi yang ia alami sesaat sebelum ia berangkat ke cottage dan alasan ia menolak ajakan Ayah dan Ibunya untuk berlibur ke Jepang musim panas ini.

Kyungsoo berusaha duduk. Tubuhnya terasa lebih enak digerakkan, mungkin karena efek demam yang semakin turun.

"Sepertinya iya." Kyungsoo memijat pelipisnya. Ia menoleh ke arah Sehun, "Sehunna, dimana Jongin?"

Sehun sedikit terkejut ketika Kyungsoo menanyakannya, "Eh?"

"Aku bertanya dimana Jongin, Sehunna?"

Kyungsoo memang benar-benar bertanya. Bibi Oh yang melihat keseriusan putri majikan suaminya hanya tersenyum tipis.

"Tadi aku menyuruhnya untuk membersihkan kedai. Kami tutup lebih awal, Nona. Apa Nona ingin bertemu dengannya?"

Sehun semakin terkejut. Bukannya awalnya Ibunya tidak setuju jika Kyungsoo mengingat Jongin? Sehun tahu persis penyakit Kyungsoo akibat kecelakaan fatal waktu itu.

"Ibu—" kalimat Sehun terpotong ucapan Kyungsoo.

"Iya. Kupikir aku ingin bertemu dengannya—"

"—sebelum aku pulang ke Seoul besok."

.

.

Jongin antara enggan dan terpaksa datang ke pantai malam ini. Mencari-cari sosok Kyungsoo di bibir pantai dekat cottage milik keluarga gadis itu. Kyungsoo terlihat berdiri sendirian dengan kemeja putih dan celana jins selutut. Rambutnya yang terurai dikibar oleh angin yang cukup kencang.

"Sudah datang?"

Jongin memaksakan senyum, "Kata Bibi Noona akan pulang besok."

"Benar." Kyungsoo mendongakkan kepalanya, langit sebenarnya cukup mendung malam ini. Kyungsoo menghela nafasnya—niat yang sudah ia bulatkan sejak tadi siang untuk tidak melihat wajah Jongin ketika berbicara saat ini tidak bisa ia jalankan.

Ia gugup sebetulnya, tapi keinginan terselubung untuk memandang wajah Jongin tidak bisa ditahan. Ia hanya terlalu merindukan anak itu. Memandang—berusaha menjaga agar pipinya tidak bersemu merah.

"Karena itulah, aku ingin sekali bicara padamu."

Jongin berusaha menyimak, "Bicara apa?"

Kyungsoo menggigit bibirnya—sekali lagi memantapkan hatinya. Ia selalu ingin menanyakan hal ini sejak ia mendapatkan kembali ingatannya.

"Kenapa kau seperti menghindariku setelah aku mengingat semuanya?" Kyungsoo menahan keinginan untuk menggunakan nada yang tinggi dan bertanya lanjut—Kenapa kau seperti tidak ingin aku mengingatmu?

Jongin menarik nafas dalam-dalam.

"Aku punya banyak alasan." Ucapnya lirih—suaranya seperti tersapu angin begitu saja. Beruntung saja Kyungsoo masih bisa mendengarnya. Memilih untuk tetap diam saat dilihatnya Jongin memiliki gelagat untuk melanjutkan kalimatnya.

"Jika Noona mengira aku menghindar karena tidak mau melihatmu kesakitan, itu bukan alasan utamanya." Jongin tersenyum tipis, "Awalnya aku sangat ingin noona mengingatku. Karena itu aku sengaja mengatakan bahwa aku seperti pernah melihat noona di festival matsuri di Jepang."

Kyungsoo memang awalnya sedikit terganggu waktu itu, mengenai kenapa Jongin tiba-tiba menanyakan hal itu padanya. Sok kenal. Sok dekat. Tidak menyadari sama sekali bahwa itu adalah pancingan sampai ia mendapatkan kembali ingatannya.

"Lalu apa? Apa alasannya?"

"Aku tidak tahu apakah aku siap kembali diingat olehmu."

Angin berhembus semakin deras. Setetes air jatuh di pundak Kyungsoo, membuat gadis itu terkejut. Udara hangat tiba-tiba menurun drastis. Jongin tanpa pikir panjang menarik tangan Kyungsoo untuk kembali ke cottage sebelum hujan semakin deras.

Kyungsoo baru saja sembuh dari demam. Tidak mungkin Jongin membuatnya sakit lagi. Ia sudah kapok menerima omelan Bibinya.

.

.

"Ah, kalau begini mungkin hujan baru akan berhenti besok."

Kyungsoo menahan diri untuk tidak menunjukkan ekspresi terkejut berlebihan, "Be-benarkah?"

Jongin mengangguk mantap. "Aku akan meminta Sehun menjemputku ke sini, noona tidak usah khawatir."

Kyungsoo mengangguk, hatinya mendadak plong.

Jongin memainkan ponselnya sebentar hanya untuk menelepon nomor Sehun.

"Sehun-ah, bisa tidak kau bawakan paying ke cottage Kyungsoo-noona? Iya, aku disini sekarang."

Kyungsoo berusaha apatis. Duduk di sofa sambil meminum kopi yang tadi dibuatkan Jongin—meski keluarga Kyungsoo adalah pemilik cottage, Kyungsoo sangat jarang menggunakan peralatan di dapur. Jongin jauh lebih terampil, dan hal itu membuat Kyungsoo sedikit malu—sadar bahwa ia terlalu banyak dimanja orangtua.

"Eh, apa? Tidak bisa?!"

Jongin merapat ke dinding kaca cottage yang ditutup tirai, serta merta membuka tirai itu dan melihat kondisi cuaca yang memang terlalu ekstrim. Jongin lupa, hujan di daerah pantai seringkali sangat deras disertai tiupan angin kencang seperti badai.

Pemuda berumur sembilan belas menghela nafas, "Baiklah aku mengerti. Beritahu Bibi dan Paman aku menginap disini."

Telepon ditutup. Jongin menghela nafas lagi. Kyungsoo menyeruput kopi lagi.

Hening yang cukup lama.

"Jongin, kau anak dari keluarga yang cukup berada bukan?" Kyungsoo meletakkan cangkir kopinya dengan anggun. Pertanyaan itu akhirnya berhasil merubah minat Jongin yang sebelumnya hanya terarah pada badai di luar sana. Pemuda itu menoleh ke arah Kyungsoo.

"Kenapa Bibi bilang kalau kau anak petani?"

"Keluargaku memang punya usaha pertanian di Bucheon." Jongin menyahut enteng. "Ayah adalah orang botani dan Ibu sangat suka menanam tanaman buah dan sayur. Karena hobi itulah mereka memulai membuka lahan pertanian dan memberikan pekerjaan pada para petani disana." Jongin tersenyum simpul.

"Ooh, begitu."—jadi memang benar dia adalah anak petani, tapi dia adalah anak petani yang sukses, pikir Kyungsoo.

"Ya tidak heran sih, sudah lama pasti noona lupa dengan hal itu."

Kyungsoo memaksakan diri tersenyum—kalimat Jongin itu entah kenapa membuat sudut hatinya berdenyut nyeri, "Iya juga ya."

Kembali hening.

Kyungsoo mengepalkan tangan di pangkuannya. Saling diam seperti ini rasanya benar-benar buruk. Gadis itu memutar otak sedari tadi, mencari bahan pembicaraan yang mungkin saja bisa berlanjut cukup lama hingga menghapus ketegangan diantara mereka. Tapi, selalu berujung buntu.

Kyungsoo memukul pelan kepalanya sendiri. Gadis itu menatap Jongin yang masih setia mengamati hujan deras di balik dinding kaca.

Kyungsoo memberanikan diri mendekat. Gadis itu mengulurkan kedua tangannya dan mendekap tubuh Jongin dari belakang. Pemuda yang dipeluk sedikit berjengit kaget.

"Noona—"

"Aku bermimpi lagi tentang anak yang membawaku menonton pertunjukan kembang api di festival matsuri." Kyungsoo menempelkan dahinya ke punggung Jongin yang berlapis kemeja biru pudar. "Itu kau 'kan?"

Jongin menundukkan kepalanya, "Maafkan aku. Seandainya waktu itu aku tidak membawamu ke sana, semuanya… semuanya tidak akan terjadi. Noona, kau tahu? saat aku melihat kepalamu membentur keras tiang besi itu rasanya aku juga ingin melompat ke sana."

Kyungsoo mengeratkan pelukannya tanpa sadar. Suara Jongin begitu pedih di telinganya. Apa Jongin sebegitunya menyesal?

"Jangan…" Kyungsoo berbisik lirih, "Jangan dilanjutkan lagi."

Beberapa detik hening—Kyungsoo mati-matian menahan tangis. Tapi, Jongin yang merasakan punggungnya basah tahu persis bahwa Kyungsoo sudah mengeluarkan air mata.

"Kenapa kau menghindari aku? Bukannya kau ingin aku mengingatmu sebelumnya? Tidakkah kau bersyukur karena aku mengingatmu sekarang?"

Suara Kyungsoo parau. "Apa kau tidak siap mengingat pernyataan kita di bukit waktu itu?"

Jongin masih diam. Kyungsoo juga sama sekali tidak merasakan ketegangan di tubuh pemuda itu. Jongin benar-benar ingin diam. Tanpa bicara. Tanpa bergerak membalas pelukannya. Tidak berniat menggenggam tautan tangan Kyungsoo di perutnya.

Kyungsoo menggigit bibirnya setelah satu isakan lolos. Sakit—sakit sekali rasanya.

"Aku mencintaimu…" —itu bukan cinta monyet, "—aku mencintaimu, Jongin."

Bahkan masih belum ada pergerakan. Kyungsoo sudah tidak peduli isakannya terdengar sekarang. Pikiran yang daritadi disugesti untuk berpikiran positif mulai goyah. Kyungsoo mulai berpikir banyak hal—kemungkinan bahwa Jongin sebenarnya tidak mencintainya.

Memang benar. Pernyataan dari anak yang baru berusia empat belas tahun. Bagian mananya yang bisa dipercaya?

"Apa kau tidak mencintaiku, Jongin? Pernyataan waktu itu cuma perasaan anak kecil pada kakaknya? Konyol. Jangan buat aku seperti orang bodoh, Jongin." Kyungsoo tertawa setengah menangis. Memang benar adanya, hatinya sakit tapi juga sedikit geli—menertawakan dirinya yang seolah memohon sampai sejauh ini.

"Berhentilah berharap padaku, noona.."

"Kau memang kurang ajar, kenapa aku bisa masih menyukaimu hingga sekarang." —yang bahkan tidak memberiku pelukan atau ciuman perpisahan? "Sebenarnya apa maumu, Jongin? Aku tetap disini atau pergi darimu?"

"AKU TIDAK PANTAS UNTUKMU, DO KYUNGSOO!"

Jongin berbalik dengan cepat. Menahan tubuh dan tengkuk Kyungsoo sebelum dalam-dalam menyesap bibir gadis yang lebih tua.

Kyungsoo hanya mampu terkesiap. Ciuman itu berlangsung cukup lama dan Kyungsoo tidak merespon apapun yang dilakukan Jongin. Ketika Jongin melepaskan ciumannya, ia menatap Kyungsoo lekat-lekat dengan segaris senyum—yang Kyungsoo sendiri tidak tahu apa maksudnya. Memeluk pinggang Kyungsoo dan kembali mengecup bibir Kyungsoo dengan cepat.

"Melindungimu waktu itu saja aku tidak becus. Jadi apa kau punya alasan lain untuk mencintaiku hingga saat ini? Apa kau tidak berpikir selama lima tahun terakhir mungkin saja aku sudah punya gadis lain yang jadi pacarku?"

Getaran suaranya begitu miris. Jongin mengucapkannya dengan senyum yang dipaksakan.

"Jongin.." Kyungsoo menangkup satu pipi pemuda di depannya, "Kupikir, kau sedang meminta pendapatku apakah aku tetap percaya padamu atau tidak. Tapi, ternyata aku salah."

Kyungsoo mendorong keberaniannya untuk mengalungkan lengan di leher Jongin dan memberi satu kecupan kecil di bibir pemuda itu. Berharap Jongin akan mengerti maksudnya, bahwa ia lebih dari percaya kepada pemuda itu.

"Kau tidak mencari jawaban dariku, tapi mencari jawaban dari dirimu sendiri. Aku percaya padamu, tapi kau bahkan tidak percaya pada dirimu sendiri. Semuanya berbuah denial. Dan aku sama sekali tidak berpikir bahwa kau mencintai gadis lain meskipun kau berpacaran dengan mereka."

Biar saja Kyungsoo berpikir kelewat percaya diri sekarang.

Jongin terdiam beberapa menit. Kyungsoo tahu bahwa pemuda itu tengah berpikir. Memang benar yang Kyungsoo ucapkan, bahwa meski ia berpacaran dengan gadis lain, ia tetap memikirkan Kyungsoo—setengah karena cinta, seperempat karena perasaan bersalah, seperempat karena ingin kembali diingat.

Lalu, jika cintanya lebih besar, kenapa ia harus ragu lagi? Kyungsoo yang judes dan gengsinya tinggi saat mereka pertama bertemu sejak lima tahun lalu mau saja memeluknya lebih dulu dan meyakinkannya—meyakinkan Jongin bahwa gadis itu masih percaya padanya. Gadis itu masih mencintainya setelah melupakannya selama lima tahun.

"Aku terlalu pengecut kah?" Jongin menunduk dan berucap sangat lirih, "Maafkan aku, noona."

Kyungsoo tersenyum senang. Ia mengecup dagu Jongin sebelum bibir mereka bertemu kembali dalam sebuah ciuman manis yang menghanyutkan.

"Aku senang melihat ekspresimu ketika meminta maaf, Jongin." Kyungsoo berucap sambil merematrambut Jongin yang tengah menciumi lehernya, "Kau memang pengecut. Tapi, kenapa kau selalu membuatku jatuh cinta?"

Jongin tersenyum tipis, mendekap Kyungsoo erat dan menjerat mata gadis itu hanya untuk melihat padanya. Kyungsoo yang terlalu fokus bahkan tidak sadar lagi bahwa pakaiannya tanggal satu per satu.

"Buat aku berhenti, Kyungsoo. Sial." Jongin menahan diri untuk tidak berbuat lebih jauh saat akal sehatnya kembali. Bibirnya sudah menciumi bahu Kyungsoo yang telanjang dan terus turun.

Kyungsoo tidak melakukan apapun untuk menghentikannya.

"Lakukan saja semaumu, Kim Jongin."

Maka sudah tidak ada alasan bagi Jongin untuk tidak meneruskannya. Sedikit konyol karena setelah pertemuan mereka—pertengkaran—pernyataan masing-masing, mereka malah berakhir saling memagut dan meraba. Kyungsoo tidak terlalu aktif, namun juga tidak pasif—dan itu membuat Jongin sadar kalau gadis itu memang menyerahkan dirinya untuk dikuasai.

Setelah beberapa cumbuan di bibir, leher, dada, Kyungsoo mengerang pelan—sudah terlalu lemas untuk berdiri dan Jongin dengan senang hati membawa gadis itu menuju tempat tidurnya yang jauh lebih nyaman untuk alas tubuh ketika mereka semakin masuk dalam kegiatan mereka.

"Ugh.."

Kyungsoo berjengit ketika merasakan sesuatu yang aneh mencoba masuk ke ceruk wanita. Satu saja jari Jongin membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Kemudian ditambah dua, tiga—Kyungsoo malah membuat suara-suara tinggi dengan timbre bergetar disertai deru nafas tidak beraturan.

Jongin mencium dahinya. Seluruh syaraf Kyungsoo yang tadinya siap meledak mendadak meleleh karena rasa hangat. Tapi, Kyungsoo menggigit bibirnya kuat-kuat ketika pemuda diatasnya benar-benar mengetuk masuk. Kalimat penenang Jongin sangat tidak berguna dan Kyungsoo merasa seperti terbelah untuk pertama kalinya.

Bibir Kyungsoo terus merapal nama Jongin seperti benang yang dirajut menjadi kain. Melarikan kedua lengannya untuk memeluk leher pemuda tersayangnya yang dibalas Jongin dengan sebuah ciuman manis. Kyungsoo terengah ketika ciuman mereka lepas dan gadis itu semakin tidak bisa menguasai diri. Jemari kakinya menekuk keras, rematannya pada rambut Jongin menguat, suaranya mendesah semakin tinggi dan Kyungsoo merasakan gelenyar dalam dirinya untuk segera mengejang.

"Uh—hah! Jongin!"

Kyungsoo datang lebih dulu. Dinding Kyungsoo yang mengetat mendadak membuat pembuluh Jongin berdenyut nyeri.

Pandangan Kyungsoo menggelap. Seks pertama mungkin terlalu melelahkan baginya.

.

.

Kyungsoo bangun dengan sedikit tersentak di pagi hari.

Gadis itu langsung duduk dan menoleh ke samping. Jongin sudah tidak ada.

Kyungsoo berjalan dengan lemas untuk meraih bathrobe kemudian memasuki kamar mandi. Gadis itu menemukan pantulan dirinya yang lusuh di cermin wastafel dan mengusap sebuah cupang di pangkal lehernya.

Eh, apa?

Wajah Kyungsoo memerah. Ingatannya memutar lagi kejadian semalam dan itu sama sekali tidak membantunya untuk bersikap lebih tenang. Gadis itu takut-takut menyentuh bagian kewanitaannya dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara saat ia menggali ceruk itu pelan-pelan. Menatap tangannya yang hanya dilumuri cairan bening.

Kyungsoo menghela nafas lega. Sepertinya Jongin masih sadar bahwa ia tidak boleh menghamili wanita yang bukan—belum jadi istrinya meski telah menidurinya.

Ketika Kyungsoo selesai mandi dan berganti pakaian, Jongin muncul di bingkai pintu dengan wajah yang kelihatannya juga sudah mandi. Membantu Kyungsoo memunguti pakaian mereka dan melipat selimut bersama.

"Makanlah dulu, noona. Aku sudah memanggang croissant dan memasak telur."

Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum. Setelah memasukkan pakaian ke mesin cuci, gadis itu menyusul Jongin ke dapur.

"Hujannya belum reda juga?"

Jongin menggigit rotinya dan mengikuti arah pandangan Kyungsoo ke luar jendela. Hujan masih cukup deras meski tidak sederas kemarin dan tidak disertai angin kencang.

"Iya." Jongin menjawab singkat. Meraih gelas susu dan menghabiskan separuh isinya dalam beberapa kali tegukan. "Kudengar noona ingin pulang ke Seoul hari ini."

"Eh?" Kyungsoo membulatkan matanya. Ia sendiri baru ingat bahwa ia memang berniat pulang ke Seoul hari ini. Niat awalnya memang karena ingin menghindari Jongin.

"Tadi Bibi memintaku menanyakannya. Sepertinya Bibi ingin meminta noona menginap lagi sampai cuaca benar-benar baik." Jongin berdeham, "Aku juga sependapat dengan Bibi."

Kyungsoo tertawa kecil. Memasukkan potongan terakhir telur mata sapi dan meneguk susunya dengan santai. "Aku juga berpikir begitu. Jangan khawatir. Sepertinya aku akan disini sampai akhir Agustus."

Mata Jongin berbinar, "Benarkah?! Eh, maksudku kalau noona mau, aku bisa mengantarkanmu melihat festival kembang api berikutnya." Jongin tersenyum senang kemudian tertawa. Kyungsoo kemudian beranjak untuk mengambil piringnya dan piring milik Jongin untuk dibawa ke wastafel. Jongin menahan tangannya ketika Kyungsoo hendak menarik piring miliknya lalu menyeringai tipis.

"Aku mencintaimu, Do Kyungsoo." Ucapnya tepat di bibir Kyungsoo sebelum bibir mereka bertemu dalam satu kecupan singkat.

Kyungsoo tersenyum, "Aku juga mencintaimu."

Kedua piring diletakkan kembali. Kyungsoo menunda membawa piring ke wastafel untuk sebuah sesi ciuman panjang bersama Kim Jongin.

.

.

Hidung Sehun kembang kempis bergerak.

"Aku mencurigai sesuatu disini."

Remaja baru puber menatap dua orang yang lebih tua darinya sedang menyendok es serut dengan santai di kedai. "Noona, semalam kau tidak diperkosa oleh Jongin-hyung kan?"

Kyungsoo tersedak seketika. Jongin nyaris menumpahkan mangkok yang masih penuh oleh es.

"Bicara apa kau, Oh Sehun?" urat Jongin bermunculan. Kesal. Sepupunya yang baru masuk SMA seolah memberikan skakmat baginya. Kyungsoo mencoba lebih tenang dengan berlari ke belakang mencari air putih—padahal aslinya ia ingin menghindar dari Sehun yang kalau sudah kepo, kritisnya parah sekali.

"Malam kemarin lusa, hujan semalaman dan kalian terjebak berdua di cottage. Kemarin siang, kalian kembali ke kedai berdua dan terlihat saling malu-malu. Hari ini, kalian masih tidak terpisah. Tentu saja aku heran karena dua hari lalu kalian masih bertengkar hebat hingga tidak mau menatap satu sama lain." Sehun berucap datar. Menyendok sundae-nya dan merasakan es itu meleleh di lidah—sepenuhnya lupa bahwa ia telah mengajukan pertanyaan yang membuat kakak sepupunya berkeringat dingin.

"Kyungsoo-noona juga mendadak ingin disini sampai akhir Agustus nanti. Padahal kemarin ia bersikeras ingin pulang setelah sakitnya sembuh."

"Kalau masalah itu jangan kau tanyakan padaku, Sehun. Tanyakan saja sendiri pada Kyungsoo-noona." Kali ini Jongin menjawab cuek.

Kyungsoo kembali tidak lama kemudian. Jongin tidak menyangka bahwa Sehun ternyata benar-benar menanyakan perihal kepulangannya yang ditunda. Kyungsoo tersenyum lebar lalu merangkul bahu Sehun setelah mengerling pada Jongin.

"Ayah dan Ibuku berniat pulang cepat karena sakitku kemarin, mereka memutuskan untuk menemaniku berlibur disini."

Kali ini Jongin yang berlari mencari air putih ke belakang karena tersedak.

.

.

-Summer on August; end

.

.

[omake]

Sehun membenarkan letak kacamatanya, matanya menyorot satu per satu kata dalam naskah yang ia ketik. Menghela nafas kemudian menegakkan duduknya ketika Ibunya mengetuk daun pintu kamarnya yang terbuka.

"Ada apa, Bu?" Tanya Sehun.

"Jangan terlalu serius mengerjakan skripsimu, Sehunnah. Ini waktu liburan kan? Bermainlah ke pantai atau kedai. Ibu sedikit sedih jika kau sudah pulang tapi hanya mengurung diri di kamar untuk mengerjakan tugasmu."

Sehun terdiam sesaat. Berpikir bahwa ibunya mungkin memang benar. Tiga liburan yang lalu setelah ia masuk Universitas masih bisa ia lalui dengan bermain di pantai—entah itu bermain voli pantai bersama pemuda-pemuda dan beberapa turis asing. Terkadang dia memilih surfing. Jika ia sedang malas berpanas-panasan, Sehun cukup bediam di kedai sambil menyendok es krim sundae. Itu pun sudah cukup membuat kedai milik keluarganya ramai oleh gadis-gadis yang datang berkunjung hanya untuk mencuri pandang padanya.

Sehun melepas kacamata. Mematikan laptop kemudian tersenyum pada Ibunya.

"Baiklah, Ibu memang benar. Aku akan ke kedai lima belas menit lagi."

Bibi Oh tersenyum. Wajahnya yang mulai keriput dimakan usia tetap bisa memancarkan aura cantik keibuan. Wajah yang sebagian besar diwariskan pada putra semata wayangnya.

"Oh iya, Sehunnah."

"Ya?"

"Mereka bilang akan ke sini tahun ini."

Sehun tersenyum, melipat tangkai kacamatanya.

"Sejak menikah, mereka belum pernah kemari."

.

.

Sehun hanya menggunakan setelan celana selutut dan kemeja berlengan pendek yang sengaja tidak dikancingkan—gerah alasannya. Tapi, ia tidak sadar bahwa ia juga secara tidak sengaja membuat 'gerah' para wanita di sana.

"Bu, aku akan membantu di kedai saja ya?" Sehun menjulurkan kepalanya ke meja kasir. Mendadak terkejut ketika ia melihat seorang gadis disana.

"Eh, siapa?" gumam Sehun tanpa sadar.

Sadar bahwa pemuda di depannya belum mengenalnya, gadis itu membungkuk sopan, "Na-namaku Luhan."

Luhan? Nama Cina? Sejak kapan Ibunya memperkerjakan gadis Cina ini?

"Oh, Sehunnah. Kau sudah bertemu Luhan?" Bibi Oh muncul dari dapur. "Ibu baru memperkerjakan dia tahun ini. Dia bekerja sambilan di musim panas untuk memenuhi biaya praktik kuliahnya nanti."

Sehun mengangguk acuh, melihat Luhan sekali lagi lalu mengulurkan tangannya, "Namaku Oh Sehun."

Wajah Luhan bersemu ketika membalas uluran tangan putra pemilik kedai. Bibi Oh yang sepertinya mulai sibuk memanggil Sehun untuk membantunya membawakan pesanan orang. Luhan? Pekerjaannya cukup di balik meja kasir.

Klining.

Lonceng yang dipasang di pintu kedai berbunyi pertanda pintu terbuka. Sehun melongok untuk memberi ucapan selamat datang. Tapi, suaranya tertinggal di kerongkongan.

"Sehunnah!"

Sehun terjerembab ke belakang ketika Kyungsoo menerjangnya—memeluk pemuda yang sudah ia anggap adik sendiri itu dan tertawa lepas. Jongin muncul di belakang Kyungsoo dan berdecak begitu melihat istrinya sudah memeluk Sehun.

"Eh, selamat datang, noona, hyung. Tolong menyingkir dariku, noona." Sehun beringsut, sempat melirik Luhan yang menonton dari balik meja kasir.

"Astaga! Benar kan kataku, Jongin? Dia benar-benar jadi cowok hot." Kyungsoo menggandeng lengan Jongin begitu sadar kalau pria itu diam sedari tadi, "Aih, jangan merajuk seperti itu."

"Aku tidak merajuk, Kyungsoo. Tapi, bagaimana kalau anak kita dalam perutmu itu tergencet?"

Kyungsoo menggembungkan pipinya, "Ya maaf."

Sehun terperangah, "Noo—noona hamil?"

Kyungsoo tersipu, "Ya, itu.. sebenarnya sudah jalan tujuh bulan."

"Kyungsoo, kenapa kau tersipu begitu?" Sehun berpikir bahwa Jongin benar-benar jadi tipe pencemburu sekarang.

Sehun hanya mendengar bahwa Kyungsoo melanjutkan pendidikannya sebagai psikiater—sementara Jongin—yang akhirnya memilih jurusan manajemen mengambil alih usaha milik mertuanya—orangtua Kyungsoo. Usaha orangtuanya di desa akhirnya dihibahkan pada para petani di desa secara sukarela. Jongin masih sering mengunjungi orangtuanya yang sepertinya terlihat senang karena bisa menghirup udara segar di masa tuanya.

Sehun sempat terdiam sesaat, kemudian sekali lagi tersenyum. Merangkul kedua 'kakak'nya dengan erat lalu berucap.

"Selamat datang kembali di musim panas bulan Agustus, noona, hyung."

.

.

-fin

.

.

*geta: sandal tradisional jepang yang terbuat dari kayu. Kalau yang sering nonton naruto pasti tau sandal yang dipake jiraiya, nah itu namanya geta.

*hakama: sejenis kimono, tapi sering digunakan oleh laki-laki.

A/N: akhirnya bisa juga namatin fic ini. Dan karena bulan puasa saya bikin lemonnya implisit (bilang aja gak bisa bikin lemon) /slap/

Makasih banyak buat semuanya yang udah review di chapter sebelumnya; kyungchu, kaisoo, ludeerhan, kysmppprt, Guest [1], Guest [2], Kaisoo32, anonymous, hanachoco, steffifebri, Guest [3], Kyle, yixingcom, dodyoleu, doremifaseul, 1two4, reenee12, mufidz, kkamdonat, Rly. C. Jaekyu, Kwa's Orange Sky, Mr. Black9493, Lovesoo, DoD. Orange review kalian bikin aku semangat nulis ini ditengah writer's block yang mendera tanpa henti /?

Para followers dan yang udah fave fic ini.

Silent reader yang udah nyempetin waktu buat baca karya saya.

Pokoknya makasih banyak dan maafin saya karena publish fanfic m-rated di bulan ramadhan. Doakan saya lolos dari writer's block dan bisa lancar nulis two different lagi. Semoga saya bisa namatin fic itu. Amiin.

Tamban, 1 Juli 2015

darkestlake