.

.

.

"Terkadang apa yang kau cari malah tepat berada di dekatmu, hanya saja kau tidak pernah mengetahuinya. Seperti udara ... selalu ada di sekitarmu namun tidak pernah dianggap."

.

.


.

"Masa Kini, Masa Lalu, dan Masa Depanku"

.

Rate: T

.

Pairing(s): Gumiya x Gumi slight Gakupo x Gumi

.

Warning(s): Typo(s), Ejaan Yang Diragukan, kejanggalan-kejanggalan jika ada, diksi mepet, galau(?)

.


.

.

.

"Chapter 01: Masa Lalu ~Permulaan~"

.

.

.

"Hei, hei, itu dia."

"Eh? Eh? Siapa?"

"Itu tuh si penyihir aneh dari kelas sebelah,"

"Oh, dia? Aduh, kok betah sih kelasnya dia."

"Iya juga ya, kalau kelasku pasti sudah kena kucil."

"Kelasnya baik banget, masih mau nerima sampah kayak dia."

"Pasti karena ada Gakupo-sama, dia kan baik sama semua orang."

"Cih, aku heran kenapa Gakupo-sama perhatian sama anak itu."

"Iya, tapi kalau Gakupo-sama yang bilang mana ada yang bisa nolak?"

"Iya juga ya,"

—dan percakapan, atau lebih tepatnya gunjingan itu terus berlanjut tanpa menemui kata berakhir. Sedangkan yang digosipkan masih menunduk, menghindari tatapan merendahkan orang-orang di sekelilingnya.

Nakayama Megumi, atau lebih akrab dipanggil Gumi, adalah nama gadis yang sedari tadi digunjingkan. Kenapa? Oh, baiklah. Mari kita telusuri.

Rambut hijau lurus sepunggung, oke.

Pakaian seragam lengkap dan rapi, cek.

Tas selempang berisi buku pelajaran dan kacamata, sip.

Terus memangnya apa yang salah?

"Oh, Nakayama-san, ohayou." Sapa seseorang ketika Gumi memasuki kelasnya, kelas 9-2 Yoshimi Gakuen.

"A-a-o-ohayou," sapa balik sekuat tenaga dari Gumi, kelopak matanya tertutup erat dan ia membungkuk dalam-dalam.

Teman sekelasnya pun hanya menghela napas melihat respon berlebihan Gumi, walaupun sebenarnya hal itu selalu dilakukannya setiap hari.

Tidak mendengar respon lagi dari orang yang menyapanya, Gumi langsung melesat menuju bangkunya yang ada dipojokan ruangan. Ia meletakkan tas selempangnya disamping meja dan menghela napas. Matanya yang terpejam perlahan terbuka, menampakkan iris yang sewarna dengan daun-daun di musim panas. Ia membenarkan posisi kacamatanya dan mengeluarkan segebok kartu dalam tasnya.


~Gumi Point of View~


Aku mencoba tidak menghiraukan sekelilingku lagi dan berkonsentrasi pada kartu-kartu dalam genggamanku. Oh, iya. Perkenalkan, namaku Nakayama Megumi, panggil saja Gumi. Aku berstatus murid tingkat akhir Yoshimi Gakuen Chuugakkou. Aku sangat menggemari film horror dan sesuatu berbau mistis, satu-satunya kegemaranku dan bakatku adalah meramal dengan kartu tarot. Hasilnya? Oh, kalau aku sih yakin 100% dengan hasilnya. Namun banyak orang yang harapannya terlalu tinggi dan tidak menerima hasil ramalanku, lalu ketika sesuatu yang buruk sesuai ramalanku terjadi apa yang mereka katakan? Mereka memakiku dan menyebutku penyihir. Aku memiliki sifat tertutup, aku selalu gugup jika di depan orang banyak, apalagi sifat turunan mamaku yaitu pemalu. Lengkap sudah aku selalu bergetar ketakutan saat berbicara dengan orang.

"Ah, Megumi-chan, ohayou." Sapa seseorang dari sebelahku. Rambut ungunya berayun pelan dan senyum hangat tak lepas dari lekukan bibirnya.

Eh, dia siapa? Err, etto, dia Kamui Gakupo-kun, orang terpopuler sekaligus anak kepala sekolah ini. Rambutnya berwarna ungu panjang yang diikat ponytail rendah, iris matanya pun senada dengan rambutnya. Memang sekilas Gakupo-kun memanglah cantik, bahkan aku sempat mengiranya perempuan waktu pertama kali kami bertemu. Eh? Kenapa kami menggunakan first-name basis? Oh, kalau yang itu permintaan Gakupo-kun. aku juga tidak mengerti kenapa, tapi karena semua orang di sekolah ini menurutinya aku juga menurutinya saja, daripada nanti timbul masalah yang tidak-tidak.

Aku segera menundukkan kepalaku dalam-dalam, "O-ohayou, Gakupo-kun." Balasku pelan, dan beruntung Gakupo-kun mendengarnya. Ia hanya tersenyum padaku dan segera duduk, mengingat bel masuk baru saja berbunyi.

Satu rahasia kecil di sini, umm, aku menyukai Gakupo-kun. Eh! Tapi tolong jangan katakan pada siapa-siapa, kalau timbul masalah kan aku juga yang tidak enak. Dia sudah sangat baik padaku... aku tidak mau membebaninya lebih dari ini.

Ups, aku lupa kalau bel sudah berbunyi. Aku segera membereskan kartu-kartu tarotku dan memasukannya kembali ke dalam tas saat melihat sensei memasuki kelas, setelah itu aku kembali merapikan dudukku dan segera mengeluarkan buku pelajaran yang diperlukan.


~xXx~


"Lihat dia,"

"Aduh, kenapa dia harus keluar kelas sih?"

"Iya, bikin sakit mata aja."

"Cewek kayak dia sih lebih baik lenyap saja."

Aku menunduk sepanjang jalanku. Kami-sama, memangnya apa salahku? Aku hanya ingin ke halaman belakang untuk makan siang dengan tenang. Kenapa mereka sangat kejam padaku?

Air mata mulai mengintip dari pelupuk mataku, mencari kesempatan untuk meluncur dan membasahi pipiku. Rasanya sangat sakit mendengar semua ucapan mereka. Namun apa boleh buat? Mereka sudah berkesan buruk padaku, aku juga tidak bisa mengubahnya. Mungkin cap 'penyihir' memang sudah sesuai untukku. Aku segera mengusap kedua mataku, menghalau air mata itu.

"Uwah, kau mendapatkan banyak kiriman bekal lagi ya?" tanya seorang berambut magenta kepada seorang pemuda berambut ungu.

Ah, itu Gakupo-kun dan Kasane-san. Eh? Iya, Kasane Ted-san, kalau tidak salah dia teman Gakupo-kun sejak kecil. Kasane-san juga memiliki nafsu makan yang banyak untuk pemuda seusianya dan sikapnya yang outgoing membuatnya populer di kalangan gadis-gadis. Yah, sedikit banyak juga karena pamor Gakupo-kun juga sih.

"Oh, ini? Kau mau memakannya?" tanya Gakupo-kun.

Eh? Kok begitu?

"Hee? Boleh nih? Kau tidak menyesal?" Kasane-san membalasnya dengan cepat dan gembira, Gakupo-kun menggeleng.

"Kau sudah tahu hanya ada satu kiriman bekal yang akan aku makan, bukan? Lagipula aku tidak akan bisa menghabiskan semua itu, aku tidak mempunyai nafsu makan sepertimu." Ucap Gakupo-kun.

Ehh? Eeeeh?

Pikiranku terus melayang memikirkan ucapan Gakupo-kun. Jadi Gakupo-kun sudah mempunyai orang yang dia sukai? Dan selama ini bekal kirimanku juga tidak dimakannya?

Rasa sakit hati perlahan mulai menguasai hatiku. Kecewa tentu saja, tapi apa boleh buat. Aku juga tidak punya hak untuk menuntutnya agar memakan bekal buatanku kan?

Eh? Ah, iya ya, aku belum memberitahumu ya? Aku selalu menaruh bekal dalam loker Gakupo-kun, tentu saja loker ruang ganti klubnya.

"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di atap." Pamit Kasane-san, ia berjalan dengan santai ke arah tangga menuju atap berada. Sedangkan Gakupo-kun berjalan santai menuju arah yang berlawanan. Mungkin untuk mengambil bekalnya di loker kelas?

Tapi ternyata dugaanku salah, dia berbelok ke kiri. Eh? Di sana kan ...?

.

.

.

.

.

.

Bingo! Loker ruang ganti klub! Eh? Aku jadi tidak sadar mengikutinya kan.

Gakupo-kun kemudian memasuki ruang tersebut ... dan tak lama kemudian dia keluar membawa sebuah tas berwarna ungu muda. Eh? Itu kan ...?


Gumi Point of View—END


~xXx~


~Gakupo Point of View~


Aku berjalan dengan wajah berseri setelah menemukan apa yang aku cari. Yup, aku sedang mencari bekal kiriman dari seseorang. Aku segera membawa tas bekal berwarna ungu muda itu menuju atap, tempat biasa aku makan siang dengan Ted.

Kau tanya dari siapa? Aku sendiri tidak tahu, pertama kai aku menemukannya adalah beberapa bulan yang lalu, saat aku sedang sangat lapar karena latihan neraka klub memanah. Aku menemukan bekal ini dalam lokerku, tadinya kukira ini milik seseorang ketinggalan, namun ternyata itu memang untukku. Lihat saja saat aku sampai di atap nanti.

Ah, tanpa sadar aku sudah sampai di depan pintu menuju atap. Aku segera membuka pintu kayu berwarna coklat tua itu.

"Oh, sudah kembali?" todong Ted ketika aku baru sampai di atap. Dasar anak itu...

"Memangnya kau kira aku yang ada di depanmu ini hantu? Tentu saja aku sudah kembali, kalau tidak memangnya apa aku bisa di sini?" Ucapku malas, aku segera duduk di dekatnya dan membuka tas bekal yang tadi.

"Uwah, aikawarazu sugoi na ... omae no bento," komentar Ted yang mengintip isi bekal yang kubawa. Yah, aku juga tidak bisa bilang aku tidak setuju dengan komentar Ted sih. Sungguh, bekal ini benar-benar terlihat enak. Isinya tiga buah onigiri, dua tempura, saus mayones dan saus tomat pedas, salad, dan satu buah jeruk. Aku jadi tidak sabar ingin memakannya.

Aku segera mengambil satu buah tempura dan mencolekkan tempura itu pada mayones dan saus tomat. Aku segera memakannya dengan raut gembira, sedngkan Ted hanya melihatku dengan muka pengen. Aku segera memberinya aura pembunuhku, enak saja. Aku tadi sudah memberinya banyak bekal tadi, cuman yang ini yang tidak mau kubagi dengannya.

"Cih, pelit sekali sih!" cibirnya. Aku segera menatapnya tajam.

"Aku tadi sudah memberimu banyak bekal, tidak akan kubiarkan kau mengambil yang ini juga." Balasku sengit, aku segera menghabiskan bekal yang baru kumakan tempuranya itu dengan cepat. Kalau tidak pasti Ted akan menatapku terus dengan muka pengen. Kulihat Ted memutar manik matanya kesal.

"Padahal aku hanya mau mencicipinya," dengusnya, pandangan mataku segera beralih dari kotak bekal itu ke Ted.

"Dan pada akhirnya kau akan merampasnya dan menghabiskannya jika makanan itu enak." Tanggapku. Dan untuk kesekian kalinya teman baikku, seorang Kasane Ted, mengerucutkan bibirnya seperti perempuan. Aku langsung menatapnya ngeri.

"Hentikan wajah mengerikan itu Ted! Kimochi warui!" sentakku padanya, setelahnya aku segera mengemasi kotak bekal yang kumakan tadi dan menaruhnya kembali dengan rapi di tas. Aku kembali berdiri dan pamit pada Ted untuk mengembalikan tas bekal itu ke loker.

.

.

.

.

.

Tidak butuh waktu lama, aku sudah meletakkan tas bekal berwarna ungu muda itu ke tempatnya semula dengan rapi. Aku tersenyum kecil saat memandangi tas bekal tersebut, aku segera mengambul secarik kertas yang ada di samping tas bekal itu. aku memang selalu mengambil kertas itu belakangan. Aku tidak ingin Ted mengetahuinya, karena jika dia tahu pasti aku akan disuruh berkeliling sekolah menyelidiki orang yang mengirimkan bekal ini dan memaksaku untuk menembaknya. Yah, bukan berarti aku keberatan sih. Tapi aku menyukai bekal ini karena rasa masakannya hampir sama dengan buatan seseorang.

Dan orang itu adalah seseorang yang aku sukai dari saat kami duduk di bangku tahun dua dan sekelas. Ya, aku menyukai teman sekelasku. Anak paling pendiam, paling pemalu, paling tidak berdaya di kelas. Namun dimataku, dia orang yang sangat hebat dan mengagumkan. Ya, aku menyukai Nakayama Megumi, orang paling dikucilkan di sekolah. Aku tidk terlalu mengerti kenapa dia dikucilkan, tapi aku tidak peduli. Aku menyukainya, itu saja sudah merupakan alasan yang cukup bagiku untuk selalu membelanya dan membantunya.


To: Kamui Gakupo-kun

Bagaimana latihanmu? Pasti lelah ya? Hari ini aku menaruh jeruk dalam bekal ini, katanya vitamin C dari jeruk bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan membuang racun dalam tubuh. Jaga kesehatanmu dan jangan sampai sakit ya!

Orang yang selalu mengagumimu


Yup, sebuah kalimat singkat itu selalu bisa membangkitkan semangatku. Aku tidak mengerti kenapa, tapi kata-katanya seperti sihir bagiku. Suatu saat ... aku ingin bertemu dengannya, walaupun aku juga sedikit berharap kalau yang mengirimkan bekal ini adalah orang yang kusukai, secara rasa masakannya sama, tapi apa tujuannya? Tidak mungkin bukan?

Dan tanpa kusadari bel masuk sudah berbunyi, segera aku menggerakkan kakiku untuk kembali ke kelas. Begini-begini, aku juga murid teladan tahu, aku tidak mau tiba-tiba dicap sebagai murid buruk di akhir tahun seperti ini.


Gakupo Point of View—END


~xXx~


'Bruk! Bruk!'

'Sret! Sret! Sret!'

'Puk! Puk! Puk!'

Bingung suara apa itu? Yep, itu adalah suara dari Gumi yang sedang bertugas mengerjakan piket. Ia membalikkan meja-meja yang digunakan tadi dan menata ulang kertas-kertas di meja guru, selain itu ia juga menghapus papan. Namun kegiatan itu saja baru diselesaikannya pada pukul 05.10 sore. Padahal ia masih harus menyapu, mengelap jendela, dan mengisi daftar hadir serta jurnal.

"Aduh, bagaimana aku bisa belanja kalau begini caranya?" keluhnya, ia segera mengangkat meja-meja yang belum diangkatnya agar ia bisa segera menyapu.

'Sreek!'

Suara pintu yang digeser terbuka itu mengagetkan Gumi, ia segera menoleh ke arah pintu kelasnya dan menemukan sosok Gakupo yang tengah memandangnya heran dan bingung.

"Loh? Kenapa Megumi-chan masih ada di sini?" tanya Gakupo, Gumi berkedip beberapa kali dan segera terlonjak saat menyadari Gakupo mengayunkan tangan kirinya di depan wajahnya.

"A-ah, iya... hari ini aku kebagian tugas piket Gakupo-kun." Jawab Gumi sedikit terbata, Gakupo mengangkat sebelah alisnya heran.

"Kenapa yang lain tidak ada?" tanyanya, Gumi menggeleng dan tertawa garing.

"Aku selalu kalah dalam janken, jadi hari ini aku yang mengerjakan tugas piketnya." Jelas Gumi, Gakupo sedikit mendengus mendengarnya.

"Seharusnya mereka tahu kalau Megumi-chan kan lemot, tidak seharusnya mereka melimpahkan banyak tugas berat ini padamu sendirian." Komentar Gakupo, Gumi sedikit menggembungkan pipinya mendengar komentar Gakupo.

"Walaupun begitu aku hampir menyelesaikannya tahu," balas Gumi tak terima. Gakupo kemudian menunjuk lantai yang masih kotor, beberapa meja yang belum diangkat, jurnal yang belum diisi dan hal-hal lain yang belum dilakukan Gumi.

"Memangnya dengan sisa tugas segini banyak, kau mau pulang jam berapa?" tanya Gakupo, Gumi mengerucutkan bibirnya. Tak mendengar balasan, Gakupo segera membantu Gumi mengerjakan tugas piketnya, mulai dari mengangkati bangku yang tersisa sampai menyapu seluruh lantai kelas. Walau sebenarnya sudah dilarang oleh sang terbantu(?) karena ia tahu bahwa remaja laki-laki itu pasti lelah sehabis kegiatan klub. Namun Gakupo bersikeras membantunya sampai selesai.

Tak lama kemudian, semua tugas itu telah selesai dikerjakan. Jam sudah menunjukkan pukul 06.15 saat Gumi mengucapkan terimakasih pada Gakupo dan ijin unuk pulang. Gakupo sudah menawarkan untuk mengantarnya pulang. Namun ia masih harus ke supermarket untuk membeli bahan bekal besok. Karena ia belum siap jika Gakupo mengetahui bahwa bekal itu darinya, ia jadi menolak tawaran remaja berambut terong itu.

Dalam perjalanan pulang, Gumi segera membeli bahan-bahan yang diperlukannya untuk membuat bekal besok dan kertas-kertas lucu bergambar untuk menulis pesan singkatnya. Gumi melihat gambar lucu pada kertas itu sejenak.

"Malaikat ya? Apa mereka benar-benar ada?" gumam Gumi, ia kemudian mendongak menatap gelapnya langit malam yang ditaburi oleh kerlip bintang dan cahaya bulan. 'Nee, kalau malaikat benar-benar ada ... bisakah kau mengabulkan keinginanku? Aku sudah senang sih dia hanya mau memakan bekal dariku, tapi aku ingin lebih. Aku ingin lebih berani dan bisa menyatakan cintaku pada orang yang kusukai,' harap Gumi dalam hati.


~xXx~


"Hei..."

"Hei..."

Kedua kelopak mata Gumi bergetar ketika telinganya seakan mendengar sesuatu.

"Hei..."

"Hmm?" erang Gumi, ia berbalik badan dan menarik selimutnya ke atas untuk menutupi dirinya sepenuhnya.

Namun tiba-tiba ia merasakan tarikan kuat pada selimutnya yang menyebabkan bunyi 'gedebuk' dan rasa sakit yang amat sangat pada tubuh bagian bawahnya. Gumi segera membelalakkan matanya cepat, namun ia berkedip beberapa kali karena tidak mendapati warna putih pucat tembok kamarnya, melainkan ia malah mendapati dua manik mata berwarna zamrud yang sedang menatapnya tajam.

"Eh?" Gumi masih mencoba me-loading-kan pemandangan yang sekarang ada di depannya.

.

.

20%

.

.

50%

.

.

80%

.

.

100%

"UW-!" sebelum teriakan Gumi sempat lolos dari bibir kecilnya, pemilik bola mata sewarna dengan Gumi itu dengan cepat membungkam semua teriakan yang ingin diteriakkan oleh Gumi. Barulah saat Gumi tenang, pemuda itu melepaskan bungkamannya.

"Mattaku, bukannya kau yang memanggilku dan berharap padaku? Sekarang kenapa kau teriak-teriak saat melihatku?" komentarnya pedas. Gumi memiringkan kepalanya spontan tidak mengerti dengan ucapan laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya itu.

Barulah Gumi menyadari sesuatu yang janggal ketika ia mengamati laki-laki itu. Rambutnya berwarna hijau seperti miliknya, kedua bola mata berwarna zamrud yang dalam, dan posturnya yang seperti remaja lelaki kebanyakan, namun ada sesuatu yang aneh ... kenapa ia memakai sayap?

"Aku bukan memakai sayap, aku memang bersayap dan aku adalah seorang malaikat tahu!" balas lelaki itu geram, Gumi tersentak sedikit.

.

.

'Nee, kalau malaikat benar-benar ada ... bisakah kau mengabulkan keinginanku? Aku ingin lebih berani dan bisa menyatakan cintaku pada orang yang kusukai,'

.

.

Gumi akhirnya ingat tentang harapannya saat ia memandang langit kemarin, ia kemudian menatap remaja itu dengan takut-takut.

"Apa kau benar-benar malaikat?" tanya Gumi memastikan, remaja laki-laki itu memilih diam dan duduk di tepi kasur Gumi.

"Aku tidak akan menjawab pertanyaan konyolmu, tapi ingatlah aku akan membantumu." Ucapnya. Gumi hanya menatapnya heran, laki-laki itu kemudian mencabut satu buah bulu sayapnya dan menyelipkan bulu berwarna putih bersih itu ke kedua tangan Gumi. "Berharaplah, maka aku akan membantumu sebisaku." Ucapnya dengan nada lembut, ia menelungkupkan kedua tangannya pada tangan Gumi yang sedang menggenggam bulu itu. Raut kaget sangat tergambar di wajah Gumi, namun rona merah juga kentara sekali mewarnai kedua pipi putihnya.


~xXx~


"Gumi! Cepat bangun, apa kau tidak mau membuat bekal sendiri hari ini?" teriak ibu Gumi dari lantai bawah.

"Hmm?" erang Gumi, ia perlahan membuka kedua kelopak matanya dan mengerjap beberapa kali. "Ah, sudah pagi ya?" gumamnya, ia kemudian bangkit untuk duduk dan mengucek kedua matanya pelan.

Setelah matanya terbuka sempurna dan kesadarannya sudah terkumpul, ia kembali mengamati keadaan kamarnya, lebih tepatnya mencari sosok yang dilihatnya kemarin. Nmun nihil, tidak ada tanda-tanda kehadiran makhluk lain di dalam kamarnya. Gumi pun menghela napas pelan. "Jadi kemarin mimpi ya?" tanyanya pada dirinya sendiri. Mencoba meninggalkan pertanyaan yang menurutnya retoris tersebut, Gumi pun bangkit dari posisi duduknya dan bersiap untuk membuat bekal dan berangkat sekolah seperti biasanya. Melanjutkan kegiatan sehari-harinya seperti hari-hari yang lain, seperti tidak terjadi apa-apa.


~xXx~


"Nah, anak-anak. Kali ini bapak akan memperkenalkan murid pertukaran pelajar yang akan bersekolah di sekolah kita selama tiga bulan. Nah, silahkan masuk." Sensei kemudian menoleh ke arah pintu kelas dn memberi isyarat kepada siapapun yang berdiri di sana untuk segera masuk.

"Perkenalkan, namaku Nakajima Gumiya. Mohon bantuannya untuk tiga bulan ke depan, semoga bisa kita bisa berteman baik." Salam laki-laki berambut hijau di depan kelas. Gumi langsung membatu. Ia mengenalinya ... laki-laki seusianya berambut hijau seperti dirinya, kedua manik zamrud yang tajam itu, suaranya yang maskulin, agak sengit namun menenangkan itu ... Gumi mengenalinya.

Remaja laki-laki itu sama seperti malaikat yang dilihatnya kemarin dalam mimpi!

Ketika pandangan dari kedua insan berambut daun itu bertubrukkan, Gumi langsung merasa tubuhnya menegang. Ada sedikit perasaan menggelitik di dadanya ketika manik hijau itu menatapnya. Gumi langsung menunduk, menyembunyikan rona merah yang mulai menjalari pipinya dan menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. Sedangkan sang lawan dalam adu tatapan tersebut masih menatapnya, walau kini pandangannya berganti dengan tatapan sedikit heran.

Dan kedua insan itu perlahan tenggelam dalam pikirannya masing-masing, tanpa mengetahui bahwa sepasang mata amethys menangkap kejanggalan yang ada dan bergantian menatap dua objek yang kini menjadi pusat perhatiannya.


To Be Continue


A/N:

Uwaah, Minna-san doumo~

Kabar baik semua kan?~

Ini dia chapter lanjutan dari MKMLMD! (singkatannya-aneh-bener, =_=')#plak

Yep, kali ini kita bakal bahas masa lalunya Gumi, pasti semuanya pada tau deh masa lalunya Gumi kayak apa kalo udah baca RBY! ^w^

Eh? Belom tau? Yooosh~

Baca RBY a.k.a Right Beside You dulu yah kalo penasaran~#dor(promote-mulu-lu)

Oke dari pada banyak omong, mending stay tune sambil review dulu yah~ :* #dicemplungin

Otanishimi ni~~


REVIEW PLEASE~~