Dhuak! Dhoom!

Uchiha Sasuke terpental jauh. Tubuhnya menabrak pohon-pohon sampai pohon tersebut tumbang. Dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena tinju super gadis merah muda yang berdiri jauh di depannya. Dengan seringai meremehkan Sasuke berlari, siap menerjang gadis merah muda yang kini memasang ancang-ancang waspada. "Kenapa Sakura? kau sudah tidak menyukaiku lagi, heh?"

Dengan gerakan cepat Sakura mengambil kunai yang terselip di paha kirinya, bukankah seorang ninja harus selalu membawa senjata. Sakura menahan pedang Sasuke dengan kunai. Dia menatap Uchiha Sasuke yang menyeringai. "Jangan kira aku tidak tahu penipu!" Sakura mengelak saat pedang milik Uchiha Sasuke akan mengenainya. Dia melompat ke udara. "Kau! Bukan Uchiha Sasuke!" Tinju Sakura menganai tanah membuat lubang yang sangat besar. Pecahan tanah berterbangan di udara.

Seringai Sasuke hilang di gantikan wajah syok saat tinju Sakura akan mengenai wajahnya, gadis itu tidak memukulnya? Tapi kenapa? Terlalu syok dengan tinju Sakura yang mungkin bisa menghancurkan kepalanya sampai dia tidak menyadari tendangan Sakura.

Buak! Dhooom!

Dia kembali terpental. Saat Sakura kembali akan menyerangnya "Poton: boryuueki" tanah menjulang tinggi seperti perisai melindunginya yang sayangnya dapat Sakura hancurkan dengan mudah. Dia mendengus putus asa saat tinju Sakura tepat di samping kanan wajahnya, menembus lapisan tanah yang dia jadikan pelindung. "Aku menyerah Haruno-san. Kau memang kunoichi yang bisa di andalkan." Perlahan pria yang tadi seperti Uchiha Sasuke itu berubah menjadi sosok pria ,yang cukup tampan, bertubuh tinggi berambut hitam kecoklatan dengann model berantakan memakai seragam khas Shinobi Iwagakure, barpakaian merah—yang memiliki dua lengan—kerah yang terdapat di samping tanpa lengan dan jaket flat cokelat. Shinobi Iwagakure itu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Hehe... maaf ya. Emm... aku hanya—ingin mengajakmu, kau tahu apa maksudku." Ucapnya lagi dengan senyuman tidak enak. Siapa yang tidak tahu kisah percintaan kunoichi cantik konoha satu ini, yang mencintai seorang pria uchiha, jadi jangan salahkan dia bila menyamar menjadi seorang uchiha hanya untuk mangajak gadis ini kencan. Seiring dengan perubahan wujud pria itu tanah-tanah yang tadi menjulang tinggi perlahan menyusut, kembali seperti semula, begitu pula tanah yang Sakura hancurkan.

"Kau kira ini lucu." Dengus Sakura. Sejak awal Sakura sudah menduga kalau pria itu bukanlah Sasuke, karena bagaimana mungkin seorang Uchiha memberinya seikat bunga lili dan tersenyum terlalu manis. Sangat bukan Sasuke.

"Aku tidak punya cara lain. Habis Haruno-san selalu menolak ajakan kencanku sih."

Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, Uchiha Sasuke dengan kedua mata merah yang tajam berdiri di atas pohon dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Dia menyandarkan punggung ke pohon. Perlahan pria Uchiha itu menghilang seperti tertiup angin.

.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya. (Sesuai janji. Lanjut malam atau hari senin. #hihihi...)

.

.

.

.

"Byee... Sakura-chan. Sampai ketemu besok." Setelah insiden Sakura datang terlambat dan datang bersama Shinobi Iwagakure Naruto kekeh ingin mengantar Sakura pulang, Sai juga ikut-ikutan. Mereka bilang untuk berjaga-jaga kalau ada yang mengganggu Sakura lagi. Dari depan pintu apartemen Sakura melambai ke arah dua sahabatnya. Gadis itu tersenyum. "Terimakasih Naruto, Sai, sudah mengantar dan menelaktir ku."

Naruto tersenyum tiga jari sementara Sai tersenyum apa adanya. "Sama-sama Haruno-san." Ucap Sai dengan senyum.

"Kami pamit pulang Sakura-chan, Byee..."

OoO

Selesai mandi Sakura tidak lekas menyisir rambutnya, dia membiarkan rambut basahnya tergerai di bantal membuat bantal itu basah. Terdiam beberapa saat Sakura menghela nafas, tampak kecewa dengan kejadian sore tadi. "Kalau saja tadi itu Sasuke-kun." Dia memeluk guling erat kemudian bersenandung. Pikirannya melayang entah kemana, memikir Sasuke yang entah memikirnya juga atau tidak. Entah lelah dengan pikirannya atau tubuhnya perlahan Sakura memejamkan mata. Dengkuran halus mengiringi setiap nafas teratur yang dia keluarkan. Hari ini hari yang sangat melelah kan. Bersembunyi dari para shinobi alians yang dulu di obatinya dan bertarung dengan salah satu dari mereka.

Tap!

Seperti bunga kapas Sasuke mendarat dengan ringan di bingkai jendela kamar Sakura yang tak tertutup. Mata hitam pria itu menatap intens Sakura yang tidur memeluk guling. Perlahan, matanya yang hitam berubah menjadi merah.

.

.

.

.

OoO

.

.

.

.

Sakura menatap takjub hamparan perkebunan obat yang sangat luas di depan matanya. Dengan kedua mata berbinar gadis berrambut merah muda itu berlari di antara tanaman obat. Dia tersenyum dengan kedua tangan membentang menyentuh bunga-bunga kecil tanaman obat tersebut. Sakura memutar tubuhnya, menghirup udara lalu mengeluarkannya perlahan, seumur hidup dia tidak pernah melihat perkebunan obat seluas ini, lalu tertawa. "Kyahhh... ini benar-benar menakjubkan." Ucapnya senang. Sakura memeluk kedua tangannya, "Shishou harus melihat ini." Ucapnya lalu bergegas berlari melewati tumbuh-tumbuhan obat itu. Seiringin dengan berlarinya yang semakin di percepat Sakura melihat pohon-pohon tinggi yang di hiasi tanaman rambat cantik di samping kiri-kanannya dan orang-orang berpakaian rapih menatapnya seraya tersenyum. Sakura berhenti berlari lalu menggaruk tengkuknya bingung. tadi dia berada di perkebunan obat kan? Di kelilingi tanaman-tanaman obat yang langka, tapi kenapa sekarang dia ada di sini? Bola mata hijaunya membulat kaget saat tanpa sengaja melihat ke bawah. Sejak kapan dia memakai yukata? Seperti orang yang mau menikah saja. Dan kenapa Yukatanya cantik sekali! Sakura kembali terkejut saat seseorang memeluk pinggangnya dari samping kemudian datang seorang gadis kecil cantik memberinya seikat bunga. "Eh? Apa ini?" Ucapnya bingung dan kikuk.

Gadis kecil itu tersenyum. "Seikat bunga. Bukankah sangat wajar mempelai wanita membawa bunga ke altar." Ucap gadis kecil itu sebelum berlari meninggalkan Sakura yang kebingungan.

"Apa?!" Pekik Sakura. Dia amat sangat tidak mengerti dengan situasi saat ini.

"Hn. Terimakasih." Gimam seseorang di sampingnya. Gadis itu membalas dengan senyuman.

"Ha?!" Dengan wajah oon Sakura menoleh ke asal suara. Sasuke! Sasuke berjalan berdampingan dengannya dan merangkul pinggangnya. "Sasuke?"

"Kun." Tambah Sasuke. Pria itu semakin merapatkan tubuh Sakura dengan tubuhnya, menggiring gadis yang menatapnya heran tanpa berkedip ke altar.

Sakura kembali di buat terkejut saat melihat pendeta berdiri di hadapannya. "Apa-apaan in—"

"Uchiha Sasuke kau boleh mencium wanitamu."

Terlalu cepat dan tiba-tiba. Sakura kembali membulatkan mata tak percaya saat tiba-tiba Sasuke mencium bibirnya.

"Ayo jidat. Cepat lempar bunganya."

Setelah Sasuke melepaskan ciumannya Sakura menoleh ke asal suara. Di bawah sana Yamanaka Ino berdiri bersama teman-temannya yang lain. Berteriak memintanya cepat melempar bunga. Tapi sejak kapan mereka ada di sana?

"Sakura-chan, lempar ke sini." Naruto berteriak tak kalah heboh.

Sakura bingung, dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Semuanya terasa begitu nyata.

Meremas rambutnya yang tersanggul rapih Sakura menatap sekeliling. Ada ayah dan ibu yang menangis haru, Tsunade, Shizune, Kakashi dan yang lain. Sakura menoleh ke arah Sasuke yang berdiri tenang di sampingnya. Apa benar ini.. ini... pernikahannya? Atau hanya mimpi, khayalan atau bahkan Genjutsu?

Ini terlalu indah untuk jadi kenyataan dan tidak pernah mungkin menjadi nyata. Menatap sekeliling haru Sakura merapal segel tangan, seperti yang di lakukannya dulu saat Kakashi Meng Genjutsu nya bersama Naruto saat latihan. Dia senang memakai Yukata ini, dia senang saat Sasuke mencium bibirnya, dia juga senang berdiri berdampingan bersama Sasuke di altar di depan pendeta dan teman-temannya tapi dia harus mengakhiri ini, karena ini hanya khyalan hati kecilnya.

.

.

.

.

.

OoO

Sakura menggeliat di atas tempat tidur lalu mengucek mata malas. Gadis itu menguap sebentar, ke dua mata sayunya mengerjap beberapa kali saat melihat ada orang lain duduk bibir ranjangnya.

"Kau sudah bangun."

Suara ini... Uchiha Sasuke kah? Manik virdian Sakura yang sebelumnya sayu membelalak kaget melihat Sasuke duduk di ranjang yang sama dengannya. "Sasuke?" Yang membuat Sakura sangat terkejut adalah Sasuke tidak memakai baju, bertelanjang dada. "Apa yang kau lakukan di kamar ku."

"Kun." Sasuke menambahkan. Pria Uchiha berwajah datar itu menoleh ke arah Sakura, memperhatikan wajah syok Sakura dengan ekspresi datar. "Kamar mu" tambahnya dengan nada tajam. "Kamar kita."

"Apa!?" Dengan bibir mengerucut Sakura memperhatikan sekitarnya. "Di mana aku?" Tempat ini tidak seperti kamarnya.

"Kau tidak ingat? Kita di desa Oto."

"Eh? bagaimana bisa?" Sakura menatap Sasuke bingung, seolah meminta penjelasan.

"Kau lupa."

"Lupa?" Sakura membeo, tidak mengerti arah pembicaraan Sasuke.

"Setelah kita menikah aku membawamu ke Oto dan kau bersedia." Sasuke tetap tenang mengatakan semua ke bohongannya.

Sakura sibuk dengan pikirannya. Apa iya? Jadi yang tadi itu bukan mimpi, tapi bagaimana bisa. Dengan telunjuk di depan dagu dan bibir mengembung seperti sedang berpikir keras Sakura menatap langit-langit kamar, sangat menggemaskan di mata Author dan sangat menggoda di mata Sasuke.

Sasuke diam memperhatikan Sakura. Ini memang salah tapi apa boleh buat. Setidaknya dia tidak benar-benar berbohong, mereka memang sudah menikah di kuil yang di lewati saat menuju desa. Yah walaupun Sakura dalam ke adaan tak sadar waktu itu, karena Sasuke menggenjutsu Sakura. Tapi Sasuke tidak peduli, setidaknya Sakura aman bersamanya, tidak akan ada lagi laki-laki yang menggoda Sakura, mengirim surat cinta, memberi coklat mengajak kencan dan menipu gadis itu dengan menyamar menjadi dirinya. Yang lebih penting dari itu... Sakura miliknya, hanya miliknya. Dengan Sakura, hanya dengan gadis merah muda itu dia akan membangkit kan kembali clan Uchiha. Membuat Uchiha-Uchiha kecil menggemaskan yang sangat banyak.

Sasuke menyeringai. Perlahan, di dekatinya Sakura yang tampak sedang berpikir.

"Eh? Sasuke? Ada apa?" Tanya Sakura saat melihat Sasuke merayap mendekatinya.

"Kun."

Sakura meringis melihat tatapan tajam Sasuke untuknya. "Sasuke-kun." Cicitnya ngeri.

"Hn."

Sakura terbengong melihat senyuman setipis kertas Sasuke. Tipis gitu kok bisa bikin pipi panas ya. Sakura menggaruk pipinya grogi, Sasuke natapnya gitu banget sih. "Sasuke-kun mau apa?!"

"Minta jatah malam pertama."

"Eh?!"

Setelahnya terdengar jeritan dan pekikan Sakura saat Sasuke dengan seenak udel menarik bajunya paksa.

"Tuh kan. Baju ku robek." Sakura cemberut. Bibirnya memanjang menyaingi hidung petruk yang kelewat mancung.

"Nanti aku belikan yang baru." Sasuke menidurkan Sakura paksa. Menindih tubuh gadis itu lalu melumat bibir manis Sakura yang sejak tadi menggoda bibirnya, minta di cium. Dia meremas setiap lekuk tubuh Sakura dan menciumi leher jenjang gadis itu. Kedua tangannya merayap ke punggung. Dengan gerakan tak sabar Sasuke melepas pengait bra Sakura tanpa melepas cumbuannya di leher dan belakang telinga Sakura yang mengerang keras.

OoO

Dengan nafas berat Sasuke menatap Sakura yang memakai pakaian compang camping dengan tatapan berkabut gairah tanpa berkedip. "Sakura"

"Ya"

"Ayo kita buat Uchiha yang banyak."

Fin (seperti biasa ending dengan sangat gajenya.)

Saya lagi males buat Lime atau lemon. Tolong jangan timpuk saya. Tuh cara penulisannya aja semakin kacau dan gaje, sayanya lagi gak mood. #mojok.

Maaf ya. Minta gantinya boleh deh. Mau yang kaya mana? Tulis aja. #di timpuk. Mau nyogok ya. #makin di pelototin.