Pacarku seorang preman?

Author: Natsume Rokunami

Pair: GaafemPein {Gaara S. X female Pein R./Nagato}

Fict: Romance/Humor

Rated: T

Summary: Sabaku Gaara, siswa baik-baik di sekolahnya bertemu dengan gadis preman yang ber-pierching? Dan parahnya adalah Gaara malah cinta pada pandangan pertama sama tuh cewek! Oh hell no. Bagaimana kisah seorang Sabaku Gaara dalam menggaet hati cewek premannya itu? Check This Out!

.

.

Kyaaaa! Terima kasih karena sudah ada yang mereview! xD

Aku senang sekali! Padahal ada rasa gak PD lho nge-publishnya. Soalnya Pein jadi cewek. -_- tapi gak apa-apalah. Kan kalau macho mulu kan bosen, coba sesuatu yang baru dong. :3 oh ya, ini masih penuh dengan Gaara POV.

Saran dan kritik aku akan terima! Dan para Senpai yang sudah lama di FFn, mohon bantuannya! :D

Saatnya membalas reviewww! x3

Blackcattie nyaa nyaa: Halo, cattie-san! Terima kasih sudah membaca dan mereview! xD Aku senang sekali! Huehehehehe! *ketawa nista* #dezigh iya, Pein jadi cewek. :3 hehehe! Makasih sudah menerima ideku ini, Pein jadi cewek. :3 huush! Jangan panggil dia 'panda Gaara'! entar di Sabaku Kyuu-in lho. xD emm, gimana ya? Siapa ya yang negur Gaara? Apakah Pein atau bukan? :3 yap, benar. Si Pein disini jadi preman. Wokkeeeh! Kan ku update cepaaaattt!

Zoccshan: Haaaaiii, kakaaaak! Terima kasih sudah membaca dan mereview! :3 iya gak apa-apa, aku setia menunggumu. :3 *Yuri!* #tempelenged waah, kakak mau lulus? Asiiik! Kuliah dimana, kak? *kepo* makasiiiih, kaaaakk! Aku seneng bangetttt! xD eh? Tulisanku rapi? Hehehe! Makasih! :D dimana itu global jaya? #plakked ooh, maaf gaje. Ini TBC kok. Hehehe...Ok! aku akan keep writing! :D

Kanata yuu: Hai, Kanata-san! Terima kasih sudah membaca dan mereview! :3 terima kasih yaa! Makin PD deh Natsu.. :3 asal jangan kelewat PD kayak si Dei-dei yang PD tingkat jashin. :3 di chap ini si Pein muncul kok.. :3 okk! Akan kulanjutkan!

Kamui-chan: Hai, Kamui-san! Terima kasih sudah membaca dan mereview! :3 khukhukhu, iya kan? :3 kan bosen kalau macho mulu, cari suasana lain dong. Iyaa, fbku itu. Peinnya cantik kan? :3 (apaan? Penuh tindik gitu) #slapped iya, aku newbie. Mohon bantuannya. :3 hee? Pein chikusudou keenam? Tapi perasaan kok kayaknya yang keenam itu cowok deh? Atau...ah! tauk ah! Pusing! (tak mau berusaha mikir) tehee, benarkah? Anggap aja ini film. :3 (hah?) yak! Makasih sudah mau nunggu! :D

.

.

Baiklah, silahkan membaca! Dont like, dont read! Karena sudah diperingatkan, Natsu tak menerima flame!

.

.

Bah, lima hari kulewati dengan datar dan biasa saja. Dan selalu menikmati 'nyamannya' menerima 'sarapan pagi' yang bikin aku puas. Hah, dasar. Nih hidup gak ada yang spesial ya? Aku gak pernah ngalamin rasanya dijahatin orang. Hmm...bagaimana contohnya ya? Misalnya...mau dipalakin?

"Oi, sini lo!"

Yak, hokiku lagi bagus ya. Panjang umur tuh untuk si penjahat.

.

.

.

Aku menoleh. Ternyata yang memanggilku adalah dua preman muka pasaran dengan wajah afro dan kusut. Memakai baju sesangar-sangar mungkin supaya kelihatan PREMAN-nya.

"Apa." sahutku tanpa nada tanya.

"Gue bilang, sini lo!" seru salah satu preman kekar dengan sangar. Ku memasang impassive face.

"Kemana?" tanyaku.

"Disini!" preman itu menunjukkan jari tengahnya ke arah gang gelap yang terlihat sepi. Gang itu ada di antara dua gedung apartement. Tentu di langit gangnya ada tali jemuran yang mencapai gedung apartement sebelah. Disana ada berbagai macam pakaian dijemur. Ada CD, kaus kutang, boxer, kaus kaki, bra berenda, G-string, dll. (Kok lo nyebut daleman semua sih, Gaar? Gak ada yang laen apa?)

"Hm." Aku masuk ke dalam gang dengan santai seperti di pantai. (cuih!) dua preman itu mengikutiku.

Siiiiiiiiiiinnnnnngggggg... (kepanjangan ye 'siiing' nya? -_-)

Suasana sepi menyelimuti gang lembap itu. Dua preman itu masang wajah evil face yang dimataku adalah mau boker face(?). Ada sebulat kertas remasan yang besar melintas dengan santainya di antara kami diiringi laju tiupan angin.

"Gif yor maniy or dai!" ancam salah satu preman dengan kalimat yang ancur seancur mukanya sendiri. Bah, belajar sonoh bahasa inggris! Belum bisa bahasa inggris malah sok-sokkan pakai bahasa inggris.

"Uang?" tanyaku.

"Ya iya dong, masa ya iyalah! Manggis aja dibedong, masa dibelah! Wong kecil begitu!" jawab preman itu sewot sesewot nenek-nenek kehilangan kutang. (Lo daleman-complex yah? Daleman dibawa-bawa, ke psikiater sana!)

"Mau uang? Tuh..." aku melempar beberapa lembar rupiah (Bukannya ryo?) ke arah duo preman garong itu. Dengan rakusnya mereka mengambil uang lemparanku.

"Emejing! 20 ribu!" halah, 20 ribu aja seneng. Coba kalau kukasih 100 perak, nangis lo. (Kok kebalik?)

"Kasih dompetmu! Semuanya!" seru preman itu. Yang satunya lagi cium-ciumin duit itu.

"Ogah." Jawabku watados.

"Kalau begitu kau harus mati!" dia ngeluarin pisau dapur dari sakunya. Hasil nyolong dari emak-emak ya? Jangan pisau, entar emak itu gak bisa masak. Celana aja yang dicuri. (Gaar, emak Karura nangis tuh. Lo nista banget)

"Ogah." Sahutku.

"Gue bunuh lo. Gue kuras duit lo. Gue kirim lo ke surgaaaa(?)!" teriak preman itu.

"Walaupun gue masuk surga, gue belum ada niat mau mati."

"Lo gak ada niat, gue ada niat! Sama aja lo bakalan mati!"

"Kalau gue masih hidup gimana?"

"Ya gue bunuh lagi! Beres!"

Rasanya aku ingin nge bogem nih orang.

"Pokoknya aku gak mau ngasih dompetku."

"Pokoknya kasih itu dompet! Kalau gak, mati aja lo! Titik koma jebret!"

Idih, apaan tuh? Titik koma jebret? Yang ada mah titik, koma, tanda tanya, tanda seru, titik dua, sama dengan, dan tanda baca lainnya. Mana ada jebret? Dasar duodooolll! (*Author masang muka aneh*)

"Ogah. Sana pergi lo. Ganggu aja lo. Udah sonoh!" kuusir mereka dengan tangan dikibas-kibaskan layaknya ngusir anjing. Mereka makin murka. Alah, sebodoh amat.

"Brengseeeeeeekkk! Gue hajar looooo!" Haha, mereka darah tinggi. Bodo amat gue bonyok, toh gue ngelakuin hal yang bener. Jadi gak ada beban.

"HEI, YOUUUUUU!" aku mendengar suara teriakan yang membuat gerakan dua preman itu terhenti. Di mulut gang, ada seseorang.

[Time Stop]

Oh, kami-sama. Siapakah orang itu? sosoknya bermandikan cahaya, rambutnya yang oranye pendek tetapi terlihat halus, mata berwarna anggur, kulit yang putih susu, hidung yang mancung, dan wajahnya yang can...THE..WHAT THE FUUUCCKK?! Wajah ber-pierching? J-jangan-jangan dia preman juga lagi?! Eh, dia cewek kan? Eh, tunggu. Hah! dia beneran cewek?! BENERAN?! Cewek ber-pierching? Apa kata dunia nanti? (lebay lo!)

[Time play]

Dua preman itu menoleh ke arah cewek itu. Mereka langsung kaku melihatnya. Hah? mereka takut sama cewek? Dasar banci.

.

Di suatu tempat...

"HACHIIIIIHHH!" Deidara bersin.

"Lo tutup dong mulut lo. Nyebar virus tau." Omel Sasori. Deidara ngelap ingus pakai tisu.

"Hehe, maaf deh. Tapi kayaknya gue bersin gegara ada seseorang yang ngomongin gue deh, un. Jangan-jangan cewek, un?" Deidara kenarsisan.

"PD banget lo. Cewek-cewek mah pada lari kalau ketemu teroris kayak lo."

"Masa suka main petasan aku dibilangin teroris sih, un?!"

"Sama aja, bodoh. Kan sama-sama meledak."

"Beda!"

"Sama."

"Beda!"

"Sama!"

Balik ke Gaara moments..

.

"Lo-lo pada ngapain disini, hah!?" bentak cewek pierching itu.

Lutut duo preman itu pada 'haha hihi'. Maksudnya, lutut mereka udah pada ketawa-ketawa gegara ada cewek itu.

"Lo-lo pada malakkin tuh orang ya!?" bentak cewek itu, lagi.

"E-E-E-E-Enggaaaaakk...t-t-tadi itu..."

"PEMBOHONG TINGKAT BANGKOTAN LO-LO PADA! PERGI GAK LO! ATAU GUE PITINGIN KALIAN DAN GUE GANTUNG KALIAN DI TALI JEMURAN OROCHIMARU!" ancam si cewek, sangar, tanpa ngedenger penjelasan preman-preman itu.

Duo preman itu nurut barengan layaknya paskibra. Mereka diem layaknya Hachiko nunggu makanan. Mereka dengan teratur berjalan tertib keluar gang.

"AWAS KALIAN KALAU NGELAKUIN ITU LAGI! HABIS LO-LO DI TANGAN GUE!" bentak si cewek. Duo preman itu langsung lari dengan meninggalkan asap ngebul-ngebul.

Wow, dia keren banget. Tuh cewek menarik banget ya.

Si cewek menoleh ke arahku. Dia berjalan ke arahku. Dia mengenakan t-shirt putih polos dan memakai celana hitam selutut. Jaket berwarna hitamnya itu diikatkan ke pinggangnya.

Aku meneguk ludah. Dadaku bergemuruh. Semakin mendekat, dia semakin terlihat cantik di mataku. Kuakui, walau dia memakai tindikan, tetapi tidak menutupi kecantikannya. Bahkan di mataku, tindikan itu menjadi daya tarik tersendiri.

Aah, bulu matanya lentik. Wajahnya mungil. Manis sekali.

"Lo gak kenapa-napa kan?" tanya cewek itu setelah tiba tepat di depanku. Aku berusaha stay cool di depannya.

"Ya." Jawabku.

"Lo ngasih mereka uang atau apa gitu yang berharga gak?"

"Cuma 20 ribu."

"Gue kasih tau ya, lo jangan semudah itu ngasih uang ke preman kacrut kayak mereka. Gede badan doang, tapi nyali sekecil semut rangrang. Ok? Lo lawan aja mereka." Dia menasehatiku.

Sebenarnya aku benci dinasehatin, tapi kalau dia yang nasehatin, kok aku fine fine aja ya?

"Ok."

"Kayak gue tadi aja, teriakin aja mereka. Ancem mereka. Preman-preman disini mah otaknya pada bego."

"Lo sendiri preman bukan?"

"Ya, gue preman. Tetapi lebih berkelas daripada kacrut-kacrut tadi. Gue ini leader dari organisasi preman yang berkelas! Keren kagak?" dia menepuk bahuku.

"Ya." Lebih baik daripada jawab 'gak', kan? Aku gak mau dia marah.

"Yo, lah. Gue cabut dulu ya. Gue ada urusan tentang organisasi gue. Yah, kata formalnya itu sih, rapat. Haha.." dia tertawa kecil. Aku tersenyum kecil.

Ok, ini adalah senyuman pertama...pertama ya, PERTAMA! Untuk cewek. Aku gak pernah ngasih senyuman ataupun seringaian ke mereka, yah, terkecuali dia sih.

Setelah menepuk pundakku lagi, dia berbalik pergi meninggalkanku.

Aku gak mau seperti ini. Aku belum tahu namanya. Aku harus tanya!

"Oi." Dia noleh ke belakang, walau badannya gak berbalik. Dia berhenti berjalan.

"Nama lo siapa?" tanyaku. Aargh! Kok aku begini sih? Padahal aku ini terkenal cuek sama cewek, tapi kalau ke dia? Kok berubah? Mungkin aku jatuh cinta?

Dia tersenyum santai. "Panggil gue Pein Rikudou."

"Itu nama asli lo?"

"Nggak sih. Cuma nama panggilan aja. Ok? Gue cabut dulu." Dia tersenyum. Oh, senyumannya terlihat menawan di mataku.

Aah, dia benar-benar cewek seksi. Bukan di tubuhnya yang seksi, auranya yang seksi.

Dia pergi meninggalkanku. Sosoknya hilang dari pandanganku setelah dia berbelok ke kanan.

Aku tersenyum. Pein Rikudou? Nama panggilan ya? Baru dia doang yang ngasih nama palsunya ke aku. Cewek-cewek lain mah pada langsung semangat ngasih nama aslinya kepadaku. Atau lebih tepatnya memberi tanpa diminta.

"Kita akan bertemu lagi, Pein. Suatu saat nanti.." aku menyeringai. Kalau FG-ku ngeliat, pada pingsan tuh semuanya.

Aku pergi meninggalkan gang itu. Kemana? Tentu saja ke rumahku. Masa ke tempat laundry. (Si Gaara ini beneran tertarik sama yang berbau daleman?)

.

.

.

.

.

Sialaaaan, aku gak pernah lagi bertemu dia selama seminggu. Padahal aku ingin bertemu. Bodoh banget aku ini, harusnya saat itu aku tanya dimana rumahnya atau sekolahnya. Yah, gengsi juga sih nanya.

Aku sekarang berada di kelas yang berisik, ribut, dan banyak remasan kertas melayang ke setiap penjuru kelas ini. Sekarang jam pelajaran. Tapi kenapa kelas ini pada ribut? Jawabannya adalah Iruka-sensei, guru tata negara kami sedang sakit gigi dan tak bisa mengajar. Hah, makanya, rajin gosok gigi! Contoh si Lee! Contoh si Guy-sensei!

"Gaar!" panggil rubah –ditinju- ralat, Naruto.

"Apa?" sahutku.

"Mau keluar gak? Gue bosen di kelas. Hehe."

Naru, lo gak liat nih kelas ribut banget? Kok lo bosen? Biasanya lo hura-hura banget kalau suasananya begini.

"Tumben bosen di kelas yang keadaannya begini." Ucapku.

"Hehe. Sumpek aja sih. Gue mau cari udara. Lo mau ikut kagak?"

"Sasuke sama Kiba lo ajak gak?"

"Kagak. Si Sasuke lagi asik main truth or dare bareng Kiba sama yang lain."

"Lo kagak ikut?"

"Ogah deh gue. Gue mangsa empuk kalau main itu kali, Gaar!"

Ah ya, hokimu memang buruk, Naru.

"Udah yuk, pake banyak bacot lagi. Ayooo!" Naruto menarik tanganku.

Yaah, bolehlah. Aku juga sumpek gegara banyak kertas dilempar kesana-sini.

"Ok. Tapi lepas tarikan lo. Gue bisa jalan sendiri." Ucapku.

"Oh, ok." Naruto melepas tarikannya. Kami berjalan beriringan dengan love song dinyanyikan(?) menuju pintu kelas. Yah, jidat kami menjadi korban ganas dari lemparan kertas itu saat kami berjalan keluar kelas.

.

.

.

"Kita kemana ya?" tanya Naruto.

Makanya Naru, ajak tuh pikir dulu mau kemana. Sekarang jadi jalan tanpa tujuan kan?

"Gak tau."

Kami berjalan menyusuri koridor yang sepi banget kayak kuburan inggris(?). Ya iyalah, kelas lain sekarang lagi belajar kan?

Saat kami melewati ruang masak, Naruto berhenti tepat di depan pintu ruang masak. Aku juga berhenti.

"Ngapain berhenti disini? Lo mau belajar jadi suami yang baik kalau nanti lo nikah ya?" tanyaku. Langsung dihadiahi jitakan mesra dari Naruto.

"Apaan? Bukan itu! Gue mau masak ramen! Gue laper!" Ehh, gila dah. Dasar si Naruto.

"Mana ada ramen? Lo mesti beli dulu, bodoh."

"Di lemarinya ada ramen cup! Jadi gue tinggal masak air aja."

"Lo tau darimana ada ramen disana?"

"Kan gue sering makan ramen diem-diem disini."

Haha! Gotcha! Kuaduin nanti ke Kurenai-sensei kalau ramen di ruang klubnya dimakan Naruto diem-diem.

"lo mau makan juga?" tawar Naruto.

Oh, sori Nar. Aku gak mau ambil resiko kena detensi dari Kurenai-sensei. Aku anak teladan. (Lo sekarang lagi bolos kan? Apa teladan kah?)

"Gue gak laper." Jawabku.

"Nemenin gue?"

"Males. Gue mau keliling-keliling aja."

"Yasud. Gue masuk dulu ya."

"Ho'oh."

Naruto masuk ke ruang masak dan menutup pintunya. Oh jangan khawatir Naru, walau pintu itu ditutup, Kurenai-sensei akan tetap tahu tindakanmu. Haha! (iih, Gaara kejam!)

.

.

.

Aku berjalan keliling-keliling sekolah. Bagaimana dengan rencana pengaduanku kepada Kurenai-sensei? Oh tenang saja, aku akan mengadukannya nanti. Kurenai-sensei lagi ngajar. Gak mungkin kan aku gangguin?

Aku sampai di aula olahraga. Disana sepi banget dan lapang. Gak ada siapa-siapa. Tempat yang bagus untuk menghabiskan waktu di jam yang kosong seperti ini.

Aku mau tidur di atas pohon belakang aula. Aku berjalan menuju pintu belakang aula ini. Pasti aku tenang tidur disana.

Snif...snif..

Hidungku ini memang penciumannya tidak setajam penciuman Kiba, tetapi aku bisa mencium bau aneh saat aku baru saja tiba di depan pintu itu. Kutajamkan penciumanku. Heh? Ini kan bau nikotin? Ada yang ngerokok di belakang aula? Di jam pelajaran kayak gini?

Sebagai anak teladan, aku harus buka ini pintu dan negur tuh orang yang ngerokok. Harus! Dengan begini aku akan di cap sebagai murid paling baik di sekolah ini. (Halah)

Kriiieekk...

Saat kubuka, tercium asap rokok. Kulihat, ada seseorang berambut oranye pendek sedang duduk bersandarkan dinding aula. Dia sedang merokok ria.

Tapi rasanya aku familliar dengan orang itu.

Kutajamkan penglihatanku. Postur tubuhnya mungil. Cewek kali ya? Tapi kok kayaknya aku pernah ketemu.

1 menit...

2 menit...

3 menit...

HAAAAAHHH?! Dia kan cewek yang waktu itu?! Si Pein? J-Jadi dia sekolah di sekolahku? Dan dia memakai jaket...AAAHHH! Jaket Akatsuki! Jadi dia ini Akatsuki?! Saat itu dia bilang kalau dia itu leader di suatu...AAAHH! Jadi dia leader Akatsuki?! HAAAAAHHH?! (*Author speechless*)

Kutampar pipiku berkali-kali, kucubit pipiku berkali-kali, kutarik rambutku berkali-kali. Sakit. Jadi ini bukan MIMPI?! (Lebay!)

Ehm, apa kuhampiri aja ya? Hah, dia lagi ngerokok?

Sebagai seorang gentle, aku harus menghentikannya. Itu tak baik untuk janin!

Aku berjalan menuju ke arahnya. Agak deg-degan sih, tapi yaaah...pokoknya harus kutemui!

.

Aku sampai disampingnya tanpa diketahuinya. Dia sedang asik ngeliat langit sambil ngerokok. Atau lebih tepatnya tuh lagi melamun ya? Melamunin apaan ya? Melamunin aku kali ya? (Idih! Sejak kapan lo PD banget?!)

Aku duduk di sampingnya. Dia masih gak nyadar juga. Kupandangi wajahnya yang penuh tindikan itu. Mungkin banyak yang mengatakan bila aku berpacaran dengan Pein, pasti akan dikatakan tidak cocok karena tindikan di wajahnya. Tetapi menurutku itu menarik. Tindikannya lah yang menjadi daya tariknya. Dan siapa bilang cewek pierching ini wajahnya jelek? Wajahnya manis dan matanya tajam. Benar-benar menarik.

"Tak baik merokok untuk cewek sepertimu." Tegurku. Dia tersentak. Dia langsung menoleh ke arahku.

Aku tersenyum se-cool mungkin di depannya. "Hai, kita bertemu lagi."

Dia mengernyit bingung. Hei, apa-apaan dengan ekspresinya itu?

"Lo siapa?" tanyanya. Oh shit, dia lupa padaku.

"Eh, tunggu. Rasanya gue pernah ngeliat lo di suatu tempat." Matanya mengarah ke atas, lagi nginget-nginget. Haaah, wajah ganteng gini dia malah lupa. Haaaah... (-_- *ekspresi Author*)

"Emmh, di gang...kalau gak salah..."

Kita emang ketemu disanaaa!

"Gue teriak-teriak..."

Kamu emang teriak-teriak disanaaa!

"Ada preman..."

Kamu emang ketemu preman disanaaa!

"Aha! Lo cowok rambut merah yang gue tolongin waktu itu kan?" akhirnya dia baru inget.

Aku mengangguk.

"Waah, sori ya gue lupa sama lo. Kabar lo baik?" tanyanya.

"Baik." Baik banget malahan. Karena bisa ketemu bidadari pierching.

"Lo gak dimacam-macamin kan sama kacrut-kacrut itu?"

"Kagak."

"Haah, baguslah. Oh ya, nama lo siapa?"

"Sabaku Gaara."

"Sabaku Gaara? Ooh! Lo si selebritis sekolah kita ya!" dia menjawabnya dengan ceria. Hei, selebritis? Aku tak ingin jadi seleb. Bah!

"Yah, mungkin."

"Wah, gak nyangka gue bisa ketemu seleb!"

"Haha."

"Kita satu sekolah ya. Lo kelas berapa?"

"Kelas 1."

"Oh, gue kelas 2."

"Hei, nama lo siapa sih sebenarnya? Kok disembunyiin?" tanyaku.

"Nama gue? Oh, gue gak nyembunyiin kok. Kemarin cuma iseng aja ngasih tau panggilan gue di organisasi. Nama asli gue Nagami Uzumaki. Salam kenal ya!" Hah? Uzumaki? Bukannya itu marga si Naruto?

"Uzumaki? Lo saudaranya Naruto?"

"Ooh, dia sepupu gue!"

"Ooh.."

Kami terdiam sejenak.

"Oi." Panggilku.

"Hm?" sahutnya.

Seet...

Kubuang rokok yang bertengger di bibirnya. Kuinjak-injak sampai mampus(?). Mumpung kotak rokok sama pematik apinya ada di antara kami, kuambil dan kusita.

"Oi! Lo kenapa sih?! Gue lagi asik tadi!" protes Nagami.

"Cewek gak boleh ngerokok. Janinmu bisa rusak." Ujarku. Dia mendecih sebal. Dia memandang ke arah lain.

"Hoi." Panggilku.

"Apa?!" sahutnya kesal.

"Gue mau jadi temen lo. Lo mau?"

Dia langsung noleh ke arahku. Mandangin kedua mataku. Kami saling terdiam.

"Apa?"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Agak aneh juga sih nama Nagato diganti jadi Nagami. Soalnya kan gak enak cewek namanya Nagato. Tapi kayaknya nama Nagami itu gak cocok ya. Yaa, terlanjur. Pas nulis, yang kepikiran cuma itu. -_-

R&R, minna?