Chapter 2 –Looking For You

Because this is

All that I can do

For you~

.

.

.

Love Comes to You

With Taekook

.

.

.

Tubuh Taehyung langsung menegang, di depannya terdengar suara meja yang di gebrak dengan kuat. Seketika lampu yang berada di ruang tengah pun menyala. Menampakkan makhluk kurang ajar yang telah menyiapkan kejutan ulang tahun untuk laki-laki yang masih terdiam di depan mereka. Jangan lupa dengan kue ulang tahun dengan angka 2 dan 5 di atasnya.

Iya Taehyung sedang berulang tahun. Pasti ia tidak ingat hari ini tepat tanggal 30 desember dan umurnya menjadi 25. Semakin bertambah umur menampakkan sosok Taehyung yang semakin dewasa.

"Hyung!" Jungkook tersenyum dan berlari kecil mendekati sosok hyung tercintanya "Hyung, selamat ulang tahun ya hehe."

CUP

Ia harus sedikit berjinjit untuk mencapai Taehyung dan sebuah kecupan manis Jungkook hadiahkan di pipi hyungnya. Itu berhasil menyadarkan Taehyung dari keterkejutan. Matanya tidak tahan untuk tidak meneliti tubuh Jungkooknya dari atas ke bawah, ia bernapas lega Jungkook tidak kenapa-kenapa. Anak ini berhasil membuat ia khawatir. Meninggalkan segala tugas yang sedang ia kerjakan di kantor.

Ia melihat Jungkook dengan kesal dan marah, yang ditatap hanya bisa tersenyum manis. Lalu Taehyung menatap dua orang di belakang Jungkook dengan tidak suka.

"Apa kalian tidak memiliki cara yang lebih buruk lagi?"

"Dengan cara ini saja hyung sudah ketakutan! Hahaha." Jimin tertawa sambil memegang perutnya. Oh, ingatkan Taehyung untuk membalas Jimin suatu hari nanti.

"Hyung, maafkan kami. Aku tau hyung akhir-akhir ini sibuk dan selalu pulang larut malam. Ini sudah tiga hari kita belum bertemu." Terselip kata rindu di dalamnya. Ia merindukan Taehyung. Ralat sangat merindukan Taehyung. Apabila Taehyung sibuk ia hanya bisa melepas rindu dengan video call atau menukar pesan saja. Jungkook juga harus bersabar karena tidak bisa ke kedai es krim favorit nya dengan Taehyung.

"Dan aku memikirkan hal gila ini agar hyung cepat datang ke apartemen ku. Maaf, aku yang salah dan aku menyesal."

Jungkook benar-benar merasa menyesal, maklum saja laki-laki ini masih duduk dibangku SMA pikirannya masih dipenuhi dengan hal gila dan tidak dewasa. Bagaimana Taehyung harus marah kalau Jungkook sudah berkata demikian, tapi ini tidak boleh terjadi lagi. Sangat berbahaya apabila bercanda dengan hal yang tidak baik seperti ini.

"Baiklah, tapi hyung sangat khawatir hingga rasanya ingin mati saat mendengar sesuatu terjadi dengan mu. Tolong jangan lakukan lagi, Jeon."

Ugh, Taehyung memanggilnya dengan nama marganya. Jungkook menundukkan kepalanya. Taehyung mengecup kening Jungkook lembut dan mengelus rambutnya. Jungkook membalas dengan anggukan pasti. Jimin melihat adegan itu dibuat jengah.

"Ayolah aku sudah tidak tahan ingin menyantap kue ini!" Teriaknya sambil mencolek cream putih itu. Mereka pun bergabung dengan Jimin dan Yoongi.

"Ah, tidak kusangka kau ikutan juga dalam hal seperti ini Yoongi hyung."

"Bocah ini yang menyeretku, dan selamat ulang tahun Tae."

Jimin mendelik tajam ke arah Yoongi namun tidak lama dan sekarang ia melanjutkan makannya bersama Jungkook. Saling menyuapi dan tertawa bersama. Memakan kue ulang tahun itu berdua tanpa berkeinginan membagi kepada Taehyung maupun Yoongi, seakan ini adalah acara ulang tahun mereka berdua.

"Jimin bocah yang nakal, aku takut dia memberi pengaruh buruk pada adik Jin hyung ini."

Taehyung melirik Jungkook yang sedang asik menyantap kue ulang tahun nya dengan sangat belepotan di pipinya. Sungguh menggemaskan. Taehyung menahan diri untuk tidak memakan pipi Jungkook.

"Aku tau dia sangat nakal, makanya akan ku hukum nanti. Kau tenang saja Taehyung."

Taehyung tertawa keras saat melihat Yoongi dicubit oleh Jimin yang telah merona seperti kepiting rebus. Tapi ia jadi ingat akan sesuatu. "Ngomong-ngomong bau amis apa di depan pintu tadi?"

.


Pagi-pagi Taehyung sudah berangkat ke kantor. Sebelum berangkat ia kembali melihat jadwalnya di hari Sabtu. Dia tersenyum saat mengetahui sore ini bisa pulang lebih awal. Ini pertanda baik karena ia bisa pergi berkencan dengan kekasihnya.

Jungkook mengirim pesan bahwa ia telah sampai disekolah dan tidak lupa mengatakan semangat bekerja kepada nya. Ia tidak bisa untuk tidak tersenyum membaca deretan pesan dari Jungkook. Kegiatan rutin mereka setiap saat apabila ada waktu luang, saling mengabari dan memberi semangat. Setelah memastikan telah membalas pesan Jungkook, ia kembali memfokuskan diri pada pekerjaan nya.

Perusahaan nya sedang menjalankan kerja sama dengan perusahaan asing dan proyek inilah yang mengharuskan ia bekerja ekstra dari pagi hingga malam. Demi berbakti kepada orang tua dan janjinya untuk mengembangkan perusahaan milik ayahnya agar lebih maju, menjadi landasan agar ia selalu bekerja keras.

Ketukan pintu menghentikan sejenak pekerjaan Taehyung. Ia memperbaiki letak kaca matanya.

"Masuk."

Seorang wanita cantik dengan senyuman manis masuk dan berdiri di samping Taehyung. Melihat apa yang sedang di kerjakan oleh pria di depannya.

"Aigoo, Tuan. Anda terlalu bersamangat sekali bekerja. Ayo kita keluar untuk makan siang."

Taehyung menatap Solbin di sampingnya, "Ini juga untuk dirimu yang suka menghabiskan uangku. Baiklah kita makan siang, tuan putri."

"Keahlian ku yang sangat aku banggakan, menghabiskan uang mu." Candanya.

Ia pun merapikan jasnya dan mengenggam tangan Solbin erat. Namun saat melangkah Solbin menarik kerah Taehyung. Ia mengecup bibir Taehyung, hanya mengecup kalau ia melumat sedikit Taehyung bakal… marah.

"Hadian ulang tahun mu Tuan, Ayo!" Solbin tertawa melihat reaksi Taehyung dan melangkah pergi duluan, meninggalkan Taehyung yang memandangnya tidak percaya.

"Solbin, awas kau."

.


Jungkook dan Jimin sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Jimin sedang menunggu Jungkook yang menelpon dengan Taehyung. Ia juga menunggu Ibunya datang menjemput.

"Oh hyung akan pergi dengan Solbin nuna?"

"G-gwenchana," Padahal aku ingin mengajak mu makan es krim, batin Jungkook sedih, "Baiklah… aku tau."

"Hyung aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah besar, yasudah pergi sana! Selamat bersenang-senang."

Jungkook mematikan panggilan telepon itu dengan kesal. Segala ucapan serapah ia ucapkan namun tidak terlalu jelas untuk di dengar oleh Jimin. Iseng Jimin menyenggol tangannya, "Kenapa? Tae hyung menjemput mu kan?"

"Tidak, ia sedang bersama Solbin nuna!"

"Kenapa kesal? Hahaha makanya cepat cari pacar biar ada yang menjemput mu saat pulang sekolah. Jangan merepoti tae hyung terus, kookie."

"Aku nggak merepotkan Hyungie kok, kalau dia tidak mau menjemput tidak apa-apa!"

"Awas saja akan ku tunjukkan ke kalian semua aku akan mendapatkan pacar yang sangaaat perhatian dengan ku. Akan ku buat kau dan Tae hyungie cemburu!"

Mood Jungkook jadi buruk, ah dia kesal. Tidak mau meladeni lagi, Jimin melihat mobil Ibunya berhenti di depan mereka. Nyonya Park mengajak Jungkook untuk pulang bersama tapi Jungkook menolak karena alasan ingin mampir ke toko sepatu. Dengan bujukan Jimin bilang akan mengantarkan ke toko sepatu, namun ia tetap menolak untuk diantar. Akhrinya Jimin mengalah dan pulang. Dan Jungkook menaiki bus kota.

.


Semalam ia tidak mendapat pesan apapun dari Taehyung. Sudah sepuluh kali ia mengecek inbox di hpnya. Jungkook membanting telepon itu ke kasur. Apa sebegitu menyenangkan jalan bersama Solbin nuna? Dan kenapa juga dia harus memikirkannya?! Sepertinya ia harus merendam kepalanya dengan air dingin. Jungkook pun melangkah masuk ke kamar mandi.

Ia keluar dengan tubuh yang lebih segar lalu memasang kaos putih besar dan nyaman yang menutupi sebagian pahanya dan tidak memakai bawahan, tidak apa-apa mengingat ia sendiri di apartmennya. Berhubung ini hari Minggu dan tidak akan kemana-mana, ia putuskan untuk menonton film di ruang tv.

Apa yang harus ia tonton? Drama atau Horror? Setelah lama memilih, pilihannya jatuh kepada film berjudul Scream 5. Jungkook mengambil kripik kentangnya, menutupi gorden dan mematikan lampu. Baiklah ini akan menyenangkan. Pantatnya ia jatuhkan ke sofa sambil memeluk sebuah bantal.

Sudah lebih dari setengah jam ia menonton dan Jungkook tidak sadar seseorang sudah masuk ke apartemennya. Lampu yang menyala membuat Jungkook berteriak kaget.

"HYUNG!"

"Kapan hyung masuk?" Untung saja itu Taehyung bukan sosok yang lain. Ia kembali menetralkan jantungnya.

"Kenapa gelap-gelapan kook? Kasihan mata mu…"

"Aku sedang menonton film, jangan di ganggu!" Jungkook berdiri berjalan mematikan lampu kembali. Taehyung bersiul melihat tubuh Jungkook. Lebih tepat paha nya yang putih itu.

"Hentikan hyung. Aku sedang asik menonton."

"Jeon, kau nakal sekali dengan tidak memakai bawahan." Taehyung menaikan sedikit koas yang menutupi paha Jungkook.

"Hyunng, jangan mesum!" Jungkook menepis tangan Taehyung di pahanya. Ayolah dia jadi tidak bisa berkosentrasi ke film.

Taehyung mendorong tubuh Jungkook hingga ia tertidur di sofa. Si pelaku hanya tersenyum melihat tatapan marah Jungkook. "Jeon, sangat susah untuk tidak mesum di dekat mu." Ia dekatkan wajahnya ke wajah Jungkook.

"Lepassh, hyu–."

.

.

.

TBC

Sampai situ dulu udah engga kuat ngelanjutinnya :v

Oh ya jangan lupa RnR ya

See you~