1

Red Night "You've Got Me From Hello" (Yuchan Version)

Cast :

Lee Haechan

Wong Yukhei

Lee Taeyong

Ten Chittapon Leechaiyapornkul

Han Chaejin (OC)

Summary:

Haechan, lelaki manis dengan hubungan yang rumit, seorang penulis yang mencari ketenangan dengan menghirup segelas anggur merah setiap malam, untuk mencerahkan hatinya yang kelam akibat kisah cintanya yang rumit.

Genre:

Romance, Hurt/Comfort

Rate: T

Warning:

BL, Yaoi, out karakter, mungkin kalian udah banyak tuhh nemu remake novel ini dari berbagai pairing. Cerita ini bukan asli punya aku, aku hanya meremakenya jadi versi YUCHAN, cerita asli punya Kak Santhy Agatha judul novelnya You've Got Me From Hello... Jadi kalo nemu crita yg sama dengan pair yg beda, itu wajar.. Harap maklum karna critanya emang bagus, jadi banyak yg meremakenya...

-OoO-

"Ucapan 'Halo' di saat pertama kali bertemu mungkin saja akan berubah menjadi ucapan 'aku cinta padamu' di saat berikutnya."

(..︣•_︣•..)(..•˜_˜•..)(..︡•_•︠..)kkkk

Apartemennya masih berantakan, dia belum sempat merapikan pakaian dan beberapa barang pribadi yang baru dibelinya, sebuah televisi dan dispenser kecil. Untunglah apartemen ini sudah menyediakan perabotan dasar seperti tempat tidur, sofa, dan dapur. Haechan memutar bola matanya ketika menatap dapur itu. Dia mungkin butuh berkunjung ke supermarket terdekat, mengisi bahan makanan di kulkas dan membeli beberapa peralatan memasak.

Tubuhnya lelah setelah perjalanan yang panjang dan dilanjutkan dengan mengurus surat-surat kontrak apartemennya, Chaejin, editornya yang kebetulan tinggal di kota ini sudah berbaik hati membantu mencarikan apartemen yang siap pakai untuknya. Ya, Haechan memang berangkat ke sini karena usul dari Chaejin. Selain sebagai editornya, Chaejin adalah sahabatnya, meskipun mereka kebanyakan berkorespondensi melalui email semata. Jadi, begitu Haechan menceritakan pengkhianatan Taeyong dan rasa sakitnya, Chaejin mengusulkan agar Haechan pindah sementara ke kotanya sampai hatinya tenang.

Dia hanya berpamitan kepada kedua orangtuanya, dan tidak mengatakan kepergiannya kepada siapapun. Tetapi lambat laun Taeyong pasti akan mengetahuinya juga. Haechan mendesah pahit. Sekarang ingatannya akan Taeyong dipenuhi rasa muak dan sakit hati.

Ah ya ampun. Lelaki tampan. Haechan tidak akan pernah percaya lagi kepada lelaki tampan. Mereka semua adalah mahluk lemah yang tidak tahan godaan.

Ponselnya berkedip-kedip dan Haechan mengernyit, dia mengangkatnya ketika melihat nama Chaejin tertera di layarnya.

"Halo?"

"Aku sudah sampai rumah dan baru teringat." Chaejin berkata, "Naskah bab tujuhmu sudah selesai dikoreksi. Ada beberapa catatan kecil di sana, mungkin kau ingin melihatnya."

"Aku akan melihatnya nanti." Gumam Haechan lemah. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa, "Saat ini aku lelah sekali."

"Istirahatlah dulu. Kau tidak akan bisa menyelesaikan tulisanmu kalau kau sakit."

"Kenapa kau memikirkan tulisanku? Bukan aku?" Haechan tersenyum.

"Karena sudah mendekati deadline dan kau baru sampai di bab tujuh, Haechan. Novelmu banyak ditunggu-tunggu oleh penggemarmu, penerbit sudah mengejarku untuk kepastian penyelesaian novelmu." Chaejin tergelak, "Tetapi bukan berarti aku tidak mempedulikanmu, sebagai sahabat aku mencemaskanmu. Jangan banyak pikiran ya. Lepaskan semuanya dan biarkan hatimu tenang."

Mata Haechan berkaca-kaca. Menyadari bahwa hatinya sama sekali tidak tenang, "Terima kasih Chaejin." Gumamnya serak sebelum menutup pembicaraan.

Matanya nyalang menatap langit-langit kamar. Mencoba melupakan rasa yang menyesakkan dada. Dia tidak akan bisa tidur malam ini, sambil menghela napas panjang, Haechan meraih jaketnya dan melangkah keluar dari apartemennya.

-OoO-

Setelah berjalan tanpa tujuan di sekitar kompleks apartemennya yang cukup ramai karena terletak di area pusat perbelanjaan, Haechan begitu saja memasuki cafe itu. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi suasana tetap saja ramai.

Cafe itu terletak di pinggir jalan, di area yang dipadati pejalan kaki yang lalu lalang. Suasananya sangat sejuk dan menyenangkan, karena dipenuhi oleh tanaman hijau yang ditata dengan indahnya, dengan dinding-dinding dari kaca yang memantulkan lampu jalan. Cafe itu buka dua puluh empat jam. Dan Haechan langsung menemukan tempat yang cocok untuk duduk dan menulis. Dia duduk di sebuah sudut yang nyaman dan membuka buku menu yang ada di meja. Suasana cafe cukup ramai meskipun sudah malam, seakan-akan kehidupan terus berjalan di dalam sini.

Pada saat yang sama seorang pelayan, pria setengah baya mendekatinya dan tersenyum ramah kepadanya,

"Selamat malam, apakah anda ingin memesan sesuatu?"

Haechan mendongak menatap wajah yang ramah itu dan tersenyum, "Saya ingin steak yang ada di menu ini." Ditunjuknya gambar yang menggiurkan di buku menu itu, lalu mengernyit bingung ketika akan memesan minuman.

"Segelas anggur merah akan membuat tidur anda nyenyak." Pelayan itu memberi saran dengan ramah.

Haechan menatap pelayan itu ragu bertanya-tanya kenapa pelayan itu bisa mengetahui bahwa dia sudah tidur... Jangan-jangan matanya sudah seperti panda? Dengan malu Haechan menundukkan kepalanya dan kembali menekuni daftar menu, tergoda. Dia bukan peminum, meskipun di acara-acara pesta dia tidak menolak segelas champagne atau coctail manis sebagai bentuk kesopanan. Tetapi kata-kata pelayan itu tampak menggiurkan. Sudah beberapa hari sejak kejadian Taeyong, Haechan tidak bisa tidur, menghabiskan waktunya dengan menatap nyalang langit-langit kamar, dan diakhiri dengan menangis sesenggukan.

Dia butuh tidur, kalau tidak dia akan sakit.

"Baiklah, saya pesan itu juga." Jawab Haechan pelan, lalu menatap pelayan yang membungkukkan tubuhnya dengan sopan dan melangkah pergi.

Segelas anggur merah tidak akan membuatnya mabuk.

Haechan membuka laptopnya dan mulai menulis, tetapi baru beberapa detik dia mendesah. Novel yang ditulisnya adalah kisah romansa antara dua anak manusia yang saling mencintai. Haechan dulu sangat lancar menulis novel percintaan, kata-kata akan mengalir mudah dari jari-jarinya, membentuk rangkaian huruf yang membuaikan pembacanya. Tetapi sekarang, setiap dia akan menulis kisah cinta, hatinya mencemooh. Ingatan akan Taeyong menyerbunya, membuat jemarinya kaku dan tidak bisa mengetikkan kisah romantis apapun. Ternyata menulis itu dipengaruhi oleh hati. Ketika dia patah hati, jemarinya menolak untuk menuliskan kisah cinta yang menyentuh hati. Jiwanya tidak percaya akan keindahan romansa, semua terasa palsu baginya sejak pengkhianatan Taeyong kepadanya.

"Biasanya kalau aku susah mendapatkan inspirasi aku akan mendengarkan musik."

Suara yang maskulin itu mengejutkan Haechan dari lamunannya, dia mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan sosok tampan yang begitu mendominasi ruangan, dengan pakaian serba hitam dan wajah klasik yang misterius.

Haechan mengernyitkan keningnya, menoleh ke belakangnya, tidak ada orang lain di dekatnya. Jadi memang benar lelaki ini sedang menyapanya. Dia tidak mengenal lelaki ini, bagaimana lelaki ini bisa mengetahui bahwa dia sedang menulis?

"Para penulis biasanya datang ke cafe ini di malam hari, memenuhi setiap sudutnya dan berusaha mencari inspirasi." Lelaki itu tersenyum, "Maafkan aku tidak sopan menyapamu begitu saja." Dia mengulurkan tangannya, "Halo, Aku pemilik cafe ini, namaku Yukhei."

Haechan tetap ragu, meskipun begitu, demi kesopanan dia menyambut uluran tangan lelaki itu,

"Halo juga..." Haechan masih bingung harus berkata apa, "Aku Haechan. Lee Haechan." Gumamnya pelan. Masih terpukau atas senyum ramah dan ketampanan lelaki di depannya itu.

"Oke kalau begitu, aku harap kau tidak bosan berkunjung kemari." Lelaki itu menganggukkan kepalanya lalu melangkah pergi.

Haechan masih terdiam, mengamati kepergian lelaki itu. Mungkin sudah budaya di cafe ini untuk ramah kepada para pelanggannya, pikirnya dalam hati.

Lelaki itu tampak baik, ramah, dan sopan... tetapi kemudian ingatan akan Taeyong menyerangnya dan membuatnya merasa pahit. Semua laki-laki tampan sama di dunia ini, meskipun yang berpenampilan paling sempurna sekalipun.

Haechan mencoba memfokuskan diri kepada tulisannya, berusaha mengenyahkan pikiran tentang lelaki tampan itu dari benaknya ketika pelayan datang mengantarkan steak pesanannya. Piring berisi daging beraroma harum dan menggiurkan yang diletakkan di depannya.

"Dan ini anggurnya." Pelayan setengah baya itu tersenyum ramah, "Anda tahu, daging steak sangat cocok dinikmati dengan anggur merah."

Ketika pelayan itu pergi, Haechan menyentuh gelas anggurnya dengan ragu. Lalu setelah menghela napas panjang dia menghirup aromanya pelan. Aroma anggur yang manis menguar dari sana, menggoda Haechan untuk menyesap anggur itu, disesapnya anggur itu dan mendesah nikmat.

Ada manis yang kental bercampur rasa pekat alkhohol yang pas, tidak berlebih. Ini adalah jenis anggur yang bisa dinikmati di kala santai tanpa takut mabuk. Dan Haechan sungguh-sungguh berharap anggur ini benar-benar berkhasiat untuk membuatnya tidur. Dia sungguh butuh tidur nyenyak malam ini.

-OoO-

"Dan dia sangat tampan." Haechan bercerita kepada Chaejin sahabatnya, "Dia juga pemilik cafe yang indah itu."

Chaejin mencomot roti bakar di piring Haechan, mereka sedang menghabiskan minggu pagi di apartemen Haechan. Chaejin berkunjung untuk membantu Haechan merapikan tempat barunya.

"Cafe itu cukup terkenal di kota ini, sangat ramai karena menyediakan semua yang dibutuhkan. Di pagi hari kau bisa memesan menu sarapan yang lezat. Dan di malam hari, barnya dibuka sehingga semua orang yang ingin bersantai bisa duduk-duduk di sana selama mungkin dan menikmati minumannya. Tapi dari ceritamu, pemilik cafe itu sepertinya masih muda."

"Masih muda." Haechan merenung, masih muda dan sangat tampan batinnya.

"Apakah dia sudah menikah?" tanya Chaejin tiba-tiba.

Haechan tergelak, "Kenapa aku harus memperhatikan apakah dia sudah menikah atau belum?'

"Karena kau harus belajar melepaskan diri dari Taeyong." Chaejin mengedipkan sebelah matanya, "Pemilik cafe itu menyapamu, dan dia masih muda, siapa tahu dia juga tampan."

"Dia tampan." Gumam Haechan akhirnya.

"Nah! Mungkin dengan mencoba membuka lembaran baru kau bisa menyembuhkan lukamu."

"Tidak." Haechan mengernyitkan keningnya dengan pedih, "Semua lelaki tampan sama, Chaejin. Mereka selalu bilang bahwa mereka adalah pecinta sejati. Tetapi di sisi lain mereka mudah berpindah hati."

"Kau tidak bisa terus-terusan seperti itu, Haechan. Masih banyak lelaki di luar sana yang berjiwa baik dan setia." Chaejin menghela napas panjang, "Seperti pemilik cafe yang tampan itu. Dia tampaknya baik, dan dia menyapamu, berarti dia ada perhatian kepadamu."

"Tidak." Haechan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, "Mungkin itu memang sudah menjadi ciri khas cafe itu, bersahabat dengan pelanggannya, bahkan pelayannya pun ramah-ramah." Tatapan mata Haechan lalu berubah serius, "Aku tidak ingin membuka hatiku untuk lelaki manapun, Chaejin. Aku sudah dikecewakan dan bagiku semua lelaki itu sama, mereka adalah pengkhianat. Kecuali aku."

Haechan meyakini kata-katanya. Pengalamannya dengan Taeyong sudah membuktikan semuanya. Dia tidak akan pernah percaya kepada laki-laki lagi, apalagi lelaki yang luar biasa tampannya seperti pemilik cafe itu kemarin. Lelaki setampan itu pastilah pemain perempuan atau lelaki manis sepertinya. Karena dengan ketampanannya dia bisa mendapatkan banyak perempuan maupun lelaki manis yang dengan sukarela mau bertekuk lutut di bawah kakinya.

-OoO-

Tetapi malam itu Haechan tidak bisa tidur lagi, dia sudah mencoba berbaring tetapi hanya berguling bolak-balik di atas ranjang. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi kawasan tempat tinggalnya cukup aman dan ramai untuk keluar di malam hari.

Lagipula cafe itu terletak begitu dekat, hanya di seberang kompleks apartemennya...

Tanpa terasa Haechan sudah berjalan ke sana, memasuki cafe itu. Pelayan setengah baya yang sama yang menyambutnya,

"Segelas anggur lagi untuk teman makan malam?" Lelaki itu menyapa dengan ramah ketika Haechan duduk di pojok yang rindang dengan dekorasi taman yang menyejukkan.

Haechan tersenyum, "Tidak, malam ini aku ingin kopi."

"Apakah anda akan begadang untuk menyelesaikan pekerjaan anda?" pelayan itu melirik ke arah laptop yang diletakkan Haechan di mejanya.

Haechan terkekeh, "Aku seorang penulis dan aku dikejar deadline."

"Penulis?" Pelayan itu tampak tertarik, "Penulis novel?"

Haechan menganggukkan kepalanya, "Ya. Novel percintaan."

"Ah." Pelayan itu tersenyum penuh arti, "Saya sudah menduganya, itu sesuai dengan penampilan anda yang lembut."

"Terima kasih atas pujiannya." Gumam Haechan sambil tertawa. Ia mulai membuka laptopnya di atas meja itu, "Mungkin aku akan di sini sampai pagi."

"Anda tidak tidur?"

"Pekerjaanku kan penulis, aku bisa begadang semalaman dan tidur besok pagi." Haechan tergelak, "Semoga di sini diperbolehkan duduk sampai malam."

"Tentu saja." Pelayan itu mengedipkan sebelah matanya, "Asal anda terus mengisi cangkir kopi anda setiap dua jam, anda boleh duduk di sini selamanya." Candanya sambil tertawa, "Saya akan mengambilkan pesanan anda. Dan karena sepertinya anda akan menjadi pelanggan kami, anda boleh memanggil saya Leeteuk."

Haechan tersenyum menanggapi keramahan pelayan itu, "Terima kasih, Leeteuk ahjussi." Gumamnya lembut.

-OoO-

Hampir pukul tiga pagi dan Haechan masih menulis di sudut yang sama, dia sedang menulis adegan sedih, perpisahan antara kedua tokohnya karena kesalahpahaman. Dan itu sesuai dengan perasaannya sekarang, karena itulah jemarinya mengalir lancar.

Tiba-tiba ponselnya berkedip-kedip, membuatnya mengernyitkan kening.

Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini?

Diambilnya ponselnya dan wajahnya memucat ketika melihat nama yang tertera di sana.

Taeyong...

Haechan meletakkan ponsel itu di meja dan membiarkannya. Tetapi ponsel itu terus bergetar tanpa henti, begitu mengganggunya. Haechan mendesah kesal, mood menulisnya langsung hilang begitu saja melihat nama Taeyong di layar itu.

Dan meskipun dia sudah berusaha mengabaikannya, ponsel itu terus menerus bergetar tak tahu malu. Seolah Taeyong tidak akan menyerah sebelum dia mengangkatnya.

Akhirnya setelah menghela napas panjang, Haechan mengangkat ponsel itu.

"Ada apa Taeyong hyung?" gumamnya kesal.

"Haechan, akhirnya." Suara Taeyong terdengar lega di seberang sana, "Aku datang ke rumahmu dan orangtuamu bilang bahwa kau pergi keluar kota. Kau kemana?"

"Sudah bukan urusanmu lagi kan?" jawab Haechan dingin.

"Astaga Haechan. Sebegitu kejamnyakah kau padaku? Apakah kau pergi meninggalkan kota ini gara-gara aku?"

Kenapa pula Taeyong harus bertanya? Tentu saja Haechan melakukannya karena Taeyong. Dia sudah muak bahkan untuk mengetahui bahwa dia menghirup udara yang sama dengan laki-laki itu, karena itulah dia pindah.

"Aku rasa apapun alasanku adalah urusanku." Haechan bergumam, "Dan aku harap kau tidak menggangguku lagi."

"Haechan... sayang... dengarkan aku... kau pindah kemana sayang? Orangtuamu tidak mau memberitahukan kepadaku, dan aku mencemaskanmu."

"Aku baik-baik saja." Haechan menguatkan hatinya, merasakan matanya berkaca-kaca, lalu langsung mematikan ponselnya.

Dia terpekur cukup lama di depan laptopnya, menatap hampa kepada tulisannya yang masih setengah jadi. Saat ini yang dia lakukan adalah membuat kisah tragedi, dengan akhir yang tragis dan memilukan untuk tokoh-tokohnya, kisah menyedihkan yang sama seperti yang sekarang dia alami.

-OoO-

Yukhei memperhatikan Haechan dari dalam ruang kerjanya. Tentu saja Haechan tidak menyadarinya, ruang kerja Yukhei terletak di lantai dua, di atas tangga dengan kaca yang gelap yang didesain satu arah. Di mana Yukhei bisa dengan leluasa mengawasi seluruh bagian cafe miliknya dan orang dari luar tidak akan bisa melihat menembus ke dalam.

Yukhei tidak pernah merasakan ketertarikan seperti ini pada lelaki manis manapun. Tetapi semalam, ketika kebetulan dia sedang berdiri di tempat ini, tempat yang sama, mengawasi cafenya, dia melihat lelaki manis itu masuk. Ia menatap keraguan lelaki manis itu, dan entah kenapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk mendekati lelaki manis itu.

Padahal penampilan lelaki itu sederhana, dia mengenakan celana panjang dan kemeja warna polos yang membungkus tubuhnya yang mungil. Tidak ada yang istimewa dan heboh dari penampilannya, rambutnya diwarna merah gelap, bahkan wajahnya polos tanpa make up. Tetapi Yukhei tetap saja tidak bisa melepaskan pandangannya dari lelaki manis itu.

Bahkan kemudian dia tidak bisa menahan diri untuk menyapa lelaki manis ini, ingin melihat lebih dekat. Yukhei tidak pernah menampakkan dirinya di depan pelanggan. Dia selalu bersembunyi di balik dinding kaca gelap yang misterius, hanya Leeteuklah yang dipercayanya sebagai tangan kanannya. Yukhei memiliki jaringan cafe dan hotel di seluruh kota ini, tetapi Garden Cafe adalah favoritnya. Tempat inilah satu-satunya dari seluruh tempat yang dimilikinya yang membuatnya merasa nyaman.

Dan kemudian dia menemukan lelaki ini, lelaki manis yang langsung merenggut hatinya. Ketika berucap "halo" dan menyambut uluran tangannya, lalu mengatakan namanya. Haechan... Yukhei mencatat nama itu dengan penuh rahasia, jauh di dalam hatinya yang kelam.

-OoO-

.

.

TBC

Chap 1 up…

Aku datang bawa projek remake Novel Series Colorful of Love punya kak Santhy Agatha, pasti tahu dong novelnya…

1. [Brown Afternoon] "Perjanjian Hati" Markmin (Mark Lee x Na Jaemin) Version,

2. [Grey Morning] "Sweet Enemy" Noren (Lee Jeno x Huang Renjun) Version,

3. [Red Night] "You've Got Me From Hello" Yuchan (Wong Yuk hei x Lee Haechan) Version,

4. [Green Daylight] "Pembunuh Cahaya" Markren (Mark Lee x Huang Renjun) Version.

Mau sih no. 4 SungChen (Jisung x Chenle) tapi karena mereka masih terlalu kecil untuk cerita pernikahan jadi deh aku ganti Markren pairnya sekalian melestarikan ff Markren.. hehehe

Sebenernya Novel2 di atas ituhh cerita saling berkaitan, karena café yang mereka kunjungi sama, dan beruntung banget tuh Haechan ketemu ma pemilik cafenya, karena Jaemin dan Renjun Cuma bertemu Leeteuk aja.. tapi karena no.4 pemainnya sama, jadi beda dehh gg ada kaitannya lagii…

Btw, aku ganti yukhei aja, lebih biasa yukhei, dan aku gg mau pembaca salahpaham LuChan dikira Luhan x Haechan lagi..

Balesan Review di Prolog kemarin:

Fredy Park: lucas itu emang yukhei.. tapi aku ganti yukhei aja. Hehehe

nrlyukkeuri96: iyaa dong kak, aku kasian haechan gg ada pasangannya mangkanya aku pasangin ma yukhei. Aku suka sih markhyuck/markchan tpi di atas mark ama jaemin, renjun. Yaa udah deh ku pasangin ma yukhei, sama2 gantengnya.

mieayambaso: iyaa inih ku lanjut.. btw, baca penname mu aku jadi lapar.. hehehe

BooSeungkwan: yukhei itu seme-able tauuuu, dia ituhhh tampan banget tipe2 wajah seme masaakk siihh dia diukein haechan, aku tidakkkk bisa bayangggiiiinnnn….

Dindch22: makasih udah suka ff inii.. dah aku lanjutkan… dibaca yaa, sekalian di review.. hehehe

Minge-ni: uke2, aku pahamm.. nanti deh kapan2 aku buatin MarkHyuck.. so, ditunggu yee…

Yuniar509: Umm, mark udah jadi pemeran utama di ff no. 1 & 4, dia katanya gag mau jadi pemeran pembantu, sorry.. jangan marah yaa…

wakaTaeyu: bisa, ini dah dilanjut…

Yuta Noona: inii dahhh aku lanjut Noona..

cheon yi: kamu bayangin aja wajahnya mereka, sorry kalo gg dapet feelnya..

Rimm: ini dahhh aku lanjuttt

Pika warben: kalo haechan umurnya dibawah 20 dia gag boleh mimum wine, mangkanya umurnya 25 th, anggep aja haechan wajahnya baby face, jadi masih awet muda meski 25 th umurnya…

ti. tokk. 7: Mark katanya gg mau jadi pemeran pembantu, dia sombong mentang2 dapet dua peran sebagai pemeran utama di no 1 & 4.. salahkan Mark jangan nyalahin aku yaa.. hehehe

terakhir

review juuuseeyyoooo

Sign

Minnie