Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Save Me From the Darkness © kazuki hiromeda

Warning : AU, OOC, Rate M utuk apapun yang masuk kedalam rate ini

Pair: sementara masih Sai Ino. Chapter depan baru muncul deh yang lain.

Summary: Ino selamat dari cengkeraman monster yang nyaris merenggut nyawanya. Siapakah pemuda yang menolangnya ?


Sebuah mobil Hummer hijau melaju kencang kearah Konoha Town.

Cahaya lampu yang terang membelah kegelapan di jalan dalamnya tampak pengemudi berusia muda tampan berambut putih pucat.

Di rompi hitamnya terdapat tulisan S.W.A.T Oto City.

Jari pria itu mengetuk-etuk kemudinya mengikuti alunan lagu blues yang terdengar dari Sound System.

Sai nama pria tampan itu.

Dia adalah anggota dari S.W.A.T kota ia hendak pulang kekampung halamannya di Konohagakure.

Ia cemas karena ia tidak bisa meghubungi keluarga dan temannya.

"apa yang terjadi di Konoha?" batinnya.

Sai mematikan CD yang ia putar ketika ia melihat papan jalan yang menjukan bahwa kota Konoha tinggal 2Km lagi jaraknya.

Sai memutuskan menyalakan radio

.

Namun ia heran karena tak ada siaran ON AIR tambah cemas ia pun segera menambah kecepatan mobilnya.

Sesampainya Sai memasuki Kota Konoha, mata Onyxnya terbelalak kaget melihat kondisi Kota Konoha yang porak poranda.

Semuanya berantakan, listrik padam, hanya cahaya dari bulan purnama yang dapat menyinari keadaan saat itu.

Sai memperlambat laju mobilnya sesekali menengok kanan-kiri berharap ia menjumpai seseorang.

Dalam benaknya terselimut tanda tanya.

Lama ia melaju di jalan hingga matanya menangkap beberapa orang sedang berjalan ditrotoar.

Sai lalu menepikan mobilnya.

Ia kemudian turun dari mobil hendak bertanya kepada orang-orang itu.

"maaf pak, ada apa dengan kota Konoha?" tanya Sai dari balik punggung seseorang lelaki.

Namun hanya suara erangan yang keluar dari mulut lelaki itu.

"aneh." pikir Sai.

Ia memperhatikan sekilas baju yang pria itu kenakan sudah compang-camping dan berlumuran darah. Begitu juga dengan orang-orang lain didepannya.

"maaf pak.. Ke"

belum sempat Sai melanjutkan pertannyaannya, pria itu membalikkan badannya.

Sai terkejut melihat wajah Pria didepannya.

Wajahnya hancur tak terbentuk. Belatung-belatungpun menggerogoti wajah itu.

Sai hendak mundur. Namun dicengkeram erat oleh kedua tangan pria itu.

Sai melihat dari balik punggung pria itu zombie-zombie lain sudah berjalan mengikutinya.

Duagh!

Sai menendang tubuh zombie yang Zombie Pria tadi terpental sedikit segera mengelurkan pistol dari sarungpistolnya.

"Berhenti kalian atau ku tembak!" gertak sai.

Namun mereka tetap maju kearahnya.

Dor!

Sai menembak kaki kanan zombie wanita yang nyaris Zombie itu terus menggunakan satu kaki ia terus mencoba mendekati Sai.

Dor!

Kembali Sai menembaknya.

Kali ini kaki kiri wanita itu yang Sai wanita itu kini merangkak dengan tangannya.

"apa?! Baiklah jika itu mau kalian! Aku tak akan segan membunuh kalian mahluk brengsek?!"

Dor! Dor!

Sai menghujamkan pelurunya ke tubuh zombie-zombie mereka masih bisa berjalan.

"Shit!" Sai mengumpat keras. Ia kewalahan menghadapi puluhan zombie yang entah darimana datangnya terus bertambah jumlahnya.

Ia memutuskan untuk mundur ke segera masuk ke Hummernya.

Baru saja ia hendak menyalakan mesin, sesosok zombie berkepala botak meraih lehernya dari arah jendela mobil.

"Mati kau buruk rupa!?"

Sai menodongkan pistolnya tepat di mata sibotak.

Dor!

Kepala si zombie botak kental merah kehitaman mengenai wajah Sai.

"geez" Sai mengelap wajahnya dengan sarung tangan yang ia kenakan.

Puluhan zombie telah mengepung Mobil lalu memundurkan mobilnya mengambil zombie dibelakang mobil Hummer hijau itu tertabrak.

Lalu. .

Bruuum!

Sai segera memasukkan gear saja beberapa Zombie yang berada didepannya terlindas.

Sai bisa merasakan tubuh mereka ketika terlindas ban mobil.

"pergilah kalian semua ke Neraka..!" Sai menambah gear.

Semua zombie yang menghalangi jalannya ia tabrak.

Brak!

Itu Zombie akhir yang ia gilas.

Darah-darah para zombie menempel dikaca saja ia bersihkan dengan sweeper.

Lewat kaca spion, Sai dapat melihat beberapa Zombie yang masih hidup berusaha mengejar Sai. Namun percuma.

Sai terus memacu Hummernya dengan kecepatan tinggi.

Dalam benak pemuda berpawakan langsing itu terus dihantui rasa penasaran.

Hingga akhirnya ia tersadar ketika hendak menabrak sebuah mobil di tengah perempatan.

Dengan cahaya lampu ia juga sempat sekilas melihat sesosok tubuh tergeletak disana.

"shit!" Sai mengumpat dalam-dalam sambil membanting stear kearah kiri guna menghindari itu.

Suara decitan rem terdengar keras. Sai juga mendengar suara seseorang milik wanita menjerit.

Sai terus menekan pedal pasrah akan terjadi benturan.

Namun ia terkejut ketika sesosok mahluk besar berwarna merah jambu tepat didepannya.

Bruaak!

Benturanpun tak dapat dihindari lagi.


Mobil itu berbelok menghindari Ino.

Ino mengamati mobil itu ketika mobil Hummer hijau itu menabrak Monster besar yang hendak membunuhnya itu terpental jauh dan menghantam bangunan hingga berlubang. Batu yang tadi ia genggam entah melayang kemana.

Ino lega namun cemas terhadap kondisi tenaga ia mencoba bangkit dan berhasil.

Namun sebelum ia menghampiri mobil itu, pintu mobil terbuka.

Seseorang keluar dari bisa melihat tubuh pemuda yang langsing itu mengenakan rompi hitam.

Pemuda itu lalu menatap Ino.

"ah wajah itu?" batin Ino.

Pemuda itu kemudian menghampiri Ino.

"maaf. Kau tak apa-apa?" tanya pemuda itu.

"Yeah. Kau sendiri Sai?" Ino balik bertanya.

"eh? Darimana kau tahu namaku? Ha? Kau Ino? Yamanaka Ino?" Sai baru menyadari sosok didepannya itu adalah Ino. Teman lamanya.

"Dasar kau ini! Kenapa tak menyadari gadis cantik macam aku?" Canda Ino sambil menjitak kepala Sai pelan.

"ah. Maaf Nona Cantik"

Semburat merah muncul dikedua pipi Ino.

"masih seperti dulu" batin Ino.

"Sedang apa kau disini Ino? Dan mahluk apa tadi?" lanjut Sai.

"ah. Akan kujelaskan nanti. Tapi kita harus mencari tempat persembunyian yang aman dulu dari mahluk jelek itu" Ino menunjuk Monster besar yang tadi ditabrak Sai sadar kembali.

"Uhm. Cepat masuk ke Mobilku" ajak Sai.

"Hn. Aduh!" Ino mengaduh saat ia hendak berjalan. Ia memegang lututnya yang terluka.

Tanpa perintah, Sai segera menggendong dan memasukkan Ino kedalam mobil.

Wajah Ino semakin memerah.

Sai menyusul masuk dan menutup mobil.

"graaagh!" Monster itu meraung.

"cepat sai!" Ino mulai panik ketika Monster itu melempari mobil Sai dengan batu besar.

Bruum!

Sai berhasil menghidupkan memasukkan gear dan menancap gas.

Ia melihat dari kaca spion Monster itu mengejar mereka.

"Darn! Mahluk apa itu? Ino tolong ambil alih kemudi" pinta Sai.

"Apa yang akan kau laku.."

"Cepatlah!" Sai menyela.

Ino segera berpindah ke belakang kemudi.

Sedangkan Sai berpindah ke bagian belakang mengambil senjata dari kotak senjata yang ia bawa.

Kemudian ia membuka kap bagian atas mobil itu.

Angin kencang meniup rambut hitamnya.

Ia bisa melihat Monster itu sedang berlari mengejarnya.

Sai segera membidik kepala Monster tersebut dengan Shotgun yang ia ambil tadi.

Sai bersiul dan berkata "Rasakan ini Pinky!"

duar!

Dengan sekali tembakan 3 buah peluru langsung meluncur mengenai kepala Monster.

Monster itu terpental.

"Tahu rasa kau Pinky!" teriaknya.

Sementara itu dibelakang kemudi, Ino terkikik geli mendengar julukan baru untuk monster itu.

"Dasar kau ini. Ada-ada saja. Hey lihat dia bangun lagi!" Ino melihat dari kaca spion.

"What the hell?! Kau benar-benar keras kepala Pinky!" teriak Sai geram.

Sai segera masuk kembali kedalam mengambil sebuah Flash Bang.

Ia kembali ke atas kap mobil dan melemparkan Flash Bang itu kearah si monster.

Bang!

Cahaya terang membutakan mata monster itu. Ia berhenti mengejar Sai dan Ino.

"kau berhasil Sai!" puji Ino yang membelokkan stearnya kearah kanan persimpangan.

"Yeah! Sebaiknya kita kemana?" tanya Sai.

"Lebih baik kita mencari gun shop Sai. Kita membutuhkan senjata dan amunisi. Setelah itu kita ketempat pembangkit listrik agar dapat meminta bantuan"

"as your wish my princess" Sai mulai merayu.

Dan kini wajah Ino memerah untuk kesekian kalinya.

Setelah mereka kembali keposisi semula (Sai dibelakang kemudi dan Ino sebagai penunjuk jalan tentunya) merekapun mulai mencari gun shop yang cukup aman dari kejaran zombie.

"bisa kau jelaskan angin apa yang membuatmu pulang ke Konoha. Sai?" tanya Ino.

Mata onyx Sai sedikit melirik ke arah Ino lalu kembali berkonsentrasi kepada jalan di depannya.

"yeah. Aku pulang karena aku khawatir sekali dengan kakekku di Konoha. Akhir-akhir ini mereka sangat sulit kuhubungi lewat telepon ataupun e-mail. Dan yang kukhawatirkan benar-benar terjadi. Kota Konoha menjadi seperti ini. Entah apa yang terjadi juga kepada kakek. Kau tahu kan bahwa dialah satu-satunya keluarga yang kupunya?" jelas Sai.

Semenjak kecil, Sai memang dirawat oleh kakeknya. Orang tua Sai meninggal ketika Sai masih balita.

"huh. Memang jaringan komunikasi disini terputus. Bersabarlah Sai ku harap kakekmu tidak apa-apa" hibur Ino.

"Atau barangkali kau ingin melihat rumahmu sejenak? Memastikan kondisi kakekmu?" lanjutnya.

"Oh. Ide yang bagus. Mungkin stelah kita mengambil peralatan senjata, kita akan kerumahku sebentar. Er.. Bagaimana dengan kedua Orangtuamu Ino?" kata Sai.

Ino sedikit terkejut. Ia membuang membuang wajahnya kesamping. Kejalan tepatnya.

"Aku terkejut Sai ketika markas S.W.A.T diserang oleh ratusan Zombie. Diantara kami banyak sekali korban berjatuhan. Hanya sedikit yang berhasil kabur selamat dari tempat itu. Lalu ketika aku berlari pulang kerumah, aku melihat kedua orang tuaku.." Ino mulai terisak

"mereka telah berubah jadi zombie" tangis Ino tak terbendung lagi.

"maaf Ino.." kata Sai.

Ia pun menarik kepala Ino ke Dada bidangnya.

Di biarkannya ia menangis disitu.

"apa kau juga mengkhawatirkan teman-temanmu Sai?" tanya Ino setelah tangisnya mereda.

"ah. Tentu saja. Terutama kau nona manis" Sai mengacak -acak rambut pirang Ino.

"uh" Ino pura-pura cemberut. Lalu tertawa renyah.

"nah. Sekarang bisa kau jelaskan padaku dari mana zombie-zombie itu?" tanya Sai.

"Ini berawal oleh experiment dari seorang ilmuwan di Akatsuki Corp."

"apa yang dilakukan oleh ilmuwan itu?" sela Sai.

"dia ingin menciptakan manusia kuat agar bisa dimanfaatkan. Disuntikannya virus ciptaannya ke seseorang yang menjadi kelinci percobaan. Namun, experimentnya gagal. Orang itu berubah menjadi monster yang mengerikan seperti apa yang tadi kau lihat"

"ooh.. Si Pinky maksudmu?" tanya Sai.

Ino mengangguk "yeah. Er.. Si Pinky" Ia tertawa geli.

"lalu?" sambung Sai sembari matanya terus tajam memperhatikan jalan didepannya.

"Lalu monster itu mengamuk. Ia memporak porandakan Akatsuki corp. Semua orang disana dibunuhnya. Dan lebih parahnya semua orang menjadi mayat hidup"

"kenapa bisa?" Sai heran.

"kau tahu? Gigitan dari monster itu bisa menyebabkan korbannya beberapa saat kmudian tewas dan hidup lagi dengan kondisi yang tak wajar. Zombie!"

"zombie-zombie juga dapat menularkan virusnya seperti yang dilakukan siPinky" Ino menjelaskan panjang lebar.

"dan ternyata zombie itu memang benar-benar ada ya? Aku pikir hanya dongeng isapan jempol belaka" kata Sai polos.

"yah ku pikir juga begitu. Belok kiri Sai" perintah Ino ketika mereka melewati pertigaan. Disepanjang jalan terdapat distrik-distrik yang sangat sepi.

"di depan situ ada gun shop. Berhentilah" pinta Ino.

Sai menghentikan laju kendaraannya tepat di depan Gun Shop mengambil senter dari bawah jok.

Ia lantas turun dari mobil memastikan keadaan disekitarnya benar-benar aman.

Setelah dirasa cukup aman, Ia lalu menghampiri pintu Ino.

"hey. Kau mau disini saja atau ikut masuk?" tanya Sai.

"tentu saja aku masuk" jawab Ino.

"uhm baiklah"

Saipun membantu Ino gadis itu.

Sai berhenti melangkah ketika ia melihat papan reklame toko itu yang nyaris roboh.

Disorotinya dengan senter.

NARUTO'S GUN SHOP.

Sai mengernyitkan lantas memandang Ino dengan tatapan bertanya.

"Ini toko milik Naruto. Masih ingatkah kau tentang dia?" kata Ino.

"yeah. Tentu saja aku ingat dengan si Idiot yang satu itu" jawab Sai asal.

Ino menyikut dada Sai yang kontan membuat Sai mengaduh.

"hey. Bagaimanapun juga dia temanmu kan?"

"ups.. sori."

mereka kembali melangkah.

"Setelah lulus SMA, Naruto membuka Gun Shop pemberian Ayahnya ini. Ah.. Ntah bagaimana keadaan Naruto sekarang. Ku harap mereka baik-baik saja" jelas Ino.

Sai berusaha membuka pintu namun ia tak berhasil.

Pintu terkunci.

Sai hendak mendobraknya dengan kaki namun niatnya dihalangi Ino.

"hey tuan. Tidak semua masalah diselesaikan dengan cara kasar. Lihat aku" kata Ino.

Dengan bantuan jepit rambut yang dipakainya, Ino mulai mengotak-atik lubang kunci.

Cklek!

Usahanya membuahkan hasil.

"kau lihat Sai?" Ino tersenyum penuh kemenangan.

"yeah. Dan kau punya bakat alami sebagai maling. Haha. ." canda Sai.

"haha.. Terimakasih atas pujianmu tuan" Ino cemberut.

Baru saja mereka mereka membuka pintu. Seseorang telah menodongkan moncong pistol dipelipis Sai.

Sai bisa merasakan dinginnya besi itu saat menyentuh kulitnya.

"satu langkah lagi maka kau akan mati!" terdengar suara pemilik senjata itu.