.
ANYEONG YEOROBEUN
HOPE YOU ENJOY TO READ IT
NO FLAME | NO BASHING | PLEASE COMMENT
.
Title
Fifty Shades of Grey 2
Length
N - chapter
Rating
PG-18 (M)
Genre
ROMANCE, ANGST, SMUT, YAOI, BOYXBOY
(DON'T LIKE, DON'T READ)
Author
RUKA17
Main Cast
JUNG DAEHYUN, YOO YOUNGJAE
Disclaimer
THIS FANFICTION IS MINE!
Warning
A lot of typo *ngaks*. DIRTY TALK! Tidak patut dicontoh! Bukan bacaan untuk bocah. Ini serius! Under 18 must be not read it!
.
.
.
BACKSOUND : Crazy in Love - Beyonce (Fifty Shades of Grey Ver)
.
Aku, Kyungsoo, Jaebum dan beberapa temanku lainnya kini sedang menata sebuah ruangan untuk pengambilan gambar. Hanya butuh 2 jam saja untuk menatanya. Tidak terlalu sulit dan kini kami hanya tinggal menunggu kedatangan Jung Daehyun untuk segera melakukan sesi pemotretan.
CKLEK!
Terdengar suara pintu terbuka, menampilkan seorang pria yang sejak tadi ku tunggu. Aku menoleh kearah pintu masuk dan mendapati Daehyun berjalan kearahku. Apa kalian tahu? Dia terlihat begitu seksi dengan kemeja putih tipis, memperlihatkan otot-otot badannya dan skinny jeans hitam yang terlihat sedikit sobek dibagian paha dan lututnya, mempertontonkan kulit tan-nya yang tersembunyi. Oh Gosh! Bolehkah aku berteriak saat ini juga? Entah mengapa rasanya jantungku bergemuruh dan perutku mulai terasa mual. It's so freaking ass! Damn it!
"Youngjae-ah, kita bertemu lagi." Dia mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya. Perasaan hangat menjalar keseluruh tubuhku. Aku gugup. Aku sulit bernafas. Jantungku berdegup kencang. Sadarlah Yoo Youngjae, sadarlah!
"Ehem," sebuah suara menginterupsiku. Aku segera melepaskan genggaman tangannya dan menolehkan kepalaku kesamping. Kini kyungsoo berdiri disampingku dengan senyuman yang tidak kuketahui artinya.
"Ah, Daehyun hyung, ini temanku Do Kyungsoo." ujarku
"Tuan Do, senang bertemu denganmu. Bagaimana kabar anda? Apa anda sudah sehat kembali?" Daehyun tersenyum tulus membuat wajahnya terlihat sangat tampan.
"Aku baik-baik saja, Tuan Jung. Terima kasih." balas kyungsoo. "Maafkan aku karena aku tidak bisa menepati janjiku kemarin dan sebagai gantinya youngjae lah yang pergi menemui Anda."
"Tidak masalah bagiku. Aku malah senang bisa diwawancarai oleh Youngjae."
Aku menatap daehyun tidak percaya. Sudah bisa ku pastikan wajahku merona merah. Ugh, sial!
"Sekali lagi aku berterima kasih karena Anda sudah mau berbagi cerita dengan kami dan juga anda sudah meluangkan waktu anda untuk pemotretan kali ini, Tuan Jung." Kyungsoo melayangkan senyum profesionalnya.
"Dengan senang hati." ujar daehyun seraya kembali menatapku. Wajahku kembali memerah. Sial!
GREP
Aku terkejut. Sebuah tangan melingkar dipinggangku. Ini pasti kerjaan Jaebum. Dan benar saja, saat aku menoleh aku melihat Jaebum tersenyum menggoda seperti biasanya.
"Oh, Tuan Jung. Anda sudah datang," ujarnya seraya tersenyum
Daehyun melihat Jaebum dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menatap lama kearah tangan Jaebum yang memeluk erat pinggangku. Tatapan yang sangat tajam dan menusuk. Sepertinya dia sangat tidak suka melihatku dipeluk oleh Jaebum. Tunggu dulu. Eey, itu tidak mungkin. Siapa aku? Aku bukan siapa-siapa baginya.
"Ya, kau bisa lihat sendiri. Aku sudah datang." ujarnya dengan nada dingin.
"Ok. Kita mulai saja pemotretannya."
Kyungsoo pun mengantarkan daehyun ke ruang ganti sedangkan aku membantu yang lainnya untuk menyiapkan lighting. Butuh waktu sekitar 15 menit bagi daehyun untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih formal. Pintu ruang ganti terbuka dan memperlihatkan sosok daehyun dengan balutan jas biru gelap yang pas ditubuh atletisnya dan rambut yang terlihat sedikit berantakan, memberikan kesan santai namun elegan.
Daehyun pun berjalan kearah depan kamera. Ia membenahi posisinya dan mengikuti instruksi dari Jaebum selaku fotografer.
CLICK!
Mata hazelnya yang terlihat tajam, tertangkap oleh lensa kamera. Satu tangannya ia masukkan kedalam saku celananya sedangkan tangan lainnya terbebas. Bibirnya yang merah penuh menyunggingkan sebuah senyuman yang pasti bisa membuat jutaan wanita jatuh dalam pesonanya. Sial! Dia sangat tampan. Aku merasakan pipiku kembali merona dan nafasku tercekat. Hey, Yoo Youngjae, sadarlah!
"Cukup," ujar Jaebum seraya menyuruh temanku yang lainnya untuk mematikan lighting.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Tuan Jung." ujar Kyungsoo seraya menjabat tangan daehyun.
"Aku berharap bisa dengan segera membaca artikelmu, Tuan Do." ujar Daehyun dengan tersenyum lalu menoleh kepadaku yang berdiri dibelakang kamera.
Dia berjalan dengan anggunnya kearahku dan berhenti tepat dihadapanku.
"Maukah kau menemaniku berjalan, Youngjae?" tanyanya.
Aku melirik kearah kyungsoo dan dia menganggukkan kepalanya dengan bersemangat. "Tentu." Aku kembali melirik kyungsoo yang sedang tersenyum penuh arti kearahku sedangkan Jaebum menatapku dengan wajah masam. Apa Jaebum marah padaku?
"Terima kasih semua untuk hari ini. Dan maaf aku harus meminjam Youngjae sebentar." pamit daehyun
Meminjam? Memang dia kira aku ini barang huh? Aku sedikit mengerucutkan bibirku dan daehyun sepertinya tersenyum puas melihatku.
Daehyun membuka pintu dan mempersilahkanku berjalan terlebih dahulu keluar dari ruangan tersebut. Dia benar-benar memperlakukanku seperti wanita. Aku sedikit sebal tapi aku menyukainya. Sial!
"Youngjae-ah, maukah kau menemaniku minum kopi?" aku menolehkan kepalaku kearahnya. Sudah pasti wajahku memerah karena jantungku memompa darah dengan cepat keseluruh tubuhku. Apa ini sebuah ajakan kencan?
"Tapi, bagaimana dengan mereka?"
"Tenang saja, Aku sudah menyuruh Mr. Kim untuk mengantar mereka. Jadi, kau tidak perlu khawatir," ujarnya seraya tersenyum lembut. Aku hanya mengangguk dan menundukkan kepalaku, berusaha menutupi rona merah diwajahku.
"Oke, mari kita minum kopi." ujar daehyun seraya menyeringai.
Aku berjalan terlebih dahulu menyusuri lorong menuju lift. Aku melirik kearahnya. Aku tidak tahu harus darimana kami memulai pembicaraan. Oh Tuhan, aku bisa gila. Kenapa dia hanya diam saja? Sesampainya di depan lift, dia menekan tombol dan tak lama kemudian pintu lift terbuka, menampilkan sepasang kekasih yang tengah berpelukan mesra. Aku dan Daehyun segera memasuki lift. Aku berjuang keras menjaga wajahku agar terlihat biasa. Aku menundukkan wajahku ke lantai. Ketika aku melihat Daehyun melalui sudut mataku, dia tampak tersenyum kecil. Ah, tidak, lebih tepat disebut seringai. Kami melakukan perjalanan didalam lift dengan keheningan, tidak ada satupun dari kami yang berbicara.
TING!
Pintu lift terbuka dan sebelum aku melangkahkan kakiku keluar, Daehyun meraih tanganku, menggenggamnya dengan jarinya yang panjang. Aku merasakan aliran darahku mengalir deras dan detak jantungku memacu dengan cepat. Aku merasakan ribuan kupu-kupu yang menari didalam perutku.
Sesampainya di coffee shop, Daehyun melepaskan tanganku, dan mengarahkanku menuju meja kosong yang berdekatan dengan dinding kaca.
"Aku akan memesan kopi, kau duduklah disini. Kau ingin kopi rasa apa?"
"Aku mau mint tea saja."
"Kau tidak ingin minum kopi?"
"Tidak, aku tidak begitu tertarik dengan kopi."
Aku bisa melihatnya mengerutkan kening, sebelum beranjak menjauh dariku menuju tempat memesan minuman. Aku diam-diam menatapnya, saat ia berdiri seraya memilih-milih menu yang terpajang diatas counter. Tubuhnya yang tegap, badannya yang berotot, dadanya yang bidang dan kakinya yang ramping. Sekali dua kali dia menggerakkan jari-jarinya yang panjang mengacak rambutnya yang halus dengan sangat elegan. Oh, aku ingin menyentuh rambut itu. Sial! Lagi-lagi pikiran aneh itu datang padaku, membuat pipiku memanas. Aku menggigit bibirku dan menundukkan wajahku.
"Sedang memikirkan sesuatu cantik?" Daehyun berdiri disampingku dan akupun terkejut.
Aku kembali merona. Aku kembali berpikir bagaimana rasanya mengeluskan jari-jariku ke rambutnya. Apakah akan terasa lembut ketika kusentuh? Aku menggelengkan kepalaku, merutuk fantasi liarku.
Dia menaruh secangkir mint tea dan segelas americano yang tercium sangat harum diatas meja. Dia juga memesan chocolate muffin untuknya. Dia duduk dihadapanku dengan menyilangkan kakinya yang panjang dan menaruh kedua sikunya dilengan kursi.
"Memikirkan apa?" tanyanya
"Tidak ada." Aku menyunggingkan senyuman kecil.
Aku tidak bisa percaya bahwa aku akan duduk berhadapan dengan Jung Daehyun, pemilik perusahaan besar Jung Corp disebuah coffee shop kecil dipinggiran jalan.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" ujarnya sebelum menyesap americano dari dalam gelas yang ada ditangannya.
"Apa sekarang kau sedang mewawancaraiku?" dia tertawa kecil seraya menaruh gelas diatas meja dengan anggunnya. "Kau ingin bertanya tentang apa?"
"Apa dia pacarmu?" tanyanya hati-hati.
"Siapa?"
"Teman kerjamu sekaligus fotograferku, Im Jaebum."
Aku mendongak ke arahnya. Mulutku menganga dan kembali menutup. Aku tertawa. Mengapa ia bisa berpikiran bahwa aku berpacaran dengan Jaebum?
"Tidak. Jaebum adalah sahabatku. Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"
"Caranya memperlakukanmu dan caranya menatapmu. Dia menatapmu seakan-akan kau adalah pusat dari kehidupannya."
Tatapan mata hazel itu menahanku. Dia begitu mempesona. Aku ingin berpaling, tapi aku tidak bisa, aku telah terperangkap.
Aku kembali tertawa. "Dia seperti itu karena dia menyayangiku sebagai sahabatnya," ujarku
Daehyun mengangguk sedikit. Aku masih melihat sedikit keraguan disana.
"Lalu, bagaimana denganku?" dia mendekatkan wajahnya kepadaku, membuatku menahan nafasku.
"Bagaimana apa hyung?" gumamku.
"Pendapatmu tentangku."
"Kau sangat..."
Tampan.
"...mengintimidasi."
Aku mendengar helaan nafas panjang dan berat.
"Aku pasti terlihat menakutkan di matamu." Dia tertawa. "Kau sangat jujur. Jangan menunduk terus. Aku ingin melihat wajah cantikmu Youngjae-ah."
Damn! Bisa dipastikan wajahku merona hebat.
"Aku tidak cantik hyung. Aku tampan." Aku mengerucutkan bibirku
Kami terdiam beberapa saat dan aku kembali melirik padanya. Dia memberiku senyuman tipis.
"Huft." Dia menghembuskan nafas berat. "Entah mengapa kau sangat misterius, Youngjae."
Misterius? Aku? What is this? Kau lah yang misterius Tuan Jung.
"Tidak ada yang misterius tentangku."
Dia mengangkat bahunya. "Kau juga sangat pintar dan mandiri."
Aku mengerinyitkan dahiku bingung. Apa laki-laki dihadapanku ini sedang memujiku? Aku menatap matanya, berusaha mencari tau apa maksud dari perkataannya.
"Kecuali, saat kau tersipu malu. Kau sangat cantik untuk ukuran laki-laki. Aku jadi ingin mengetahui apa dan siapa yang membuatmu menjadi begitu cantik saat tersipu." Dia memasukkan sepotong kecil muffin ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya secara perlahan, tanpa melepas pandangannya dariku.
Oh Gosh. Apa dia sedang merayuku? Apa dia ingin membuatku mati terkena serangan jantung?
Aku tersipu malu, membuatnya tertawa riang seperti anak kecil yang mendapatkan mainan barunya.
"Dasar, apakah kau terbiasa merayu laki-laki?" tanyaku
"Hanya laki-laki sepertimu, Youngjae." dia mengedipkan matanya padaku, membuat pipiku kembali memanas.
"Kau juga suka bertindak sesuka hatimu."
"Apa?"
"Tindakanmu memerintah semua orang." Ujarku cemberut.
"Aaaa... sepertinya ada yang marah saat ku panggil cantik." Dia tertawa mengejek. "Lagipula aku terbiasa mendapatkan apa yang ku mau, Youngjae-ah." bisiknya. "Dalam segala hal."
"Sudah kuduga."
Aku menyeruput tehku dengan pelan sementara dia menghabiskan muffinnya.
"Apakah kau anak tunggal?" tanyanya padaku.
"Ya."
"Kalau begitu, ceritakan tentang keluargamu."
"Ibuku tinggal di Jepang bersama suaminya."
"Ayah kandungmu?"
"Bukan. Ia tinggal bersama ayah tiriku. Ayah kandungku telah meninggal saat aku berumur 5 tahun."
"Maaf." ujarnya dengan raut wajah menyesal.
"Tidak apa-apa." Balasku seraya tersenyum keci.
"dan ibumu menikah lagi?"
"Ya, begitulah."
Dia mendengus. "Kau tidak memberiku banyak info."
Aku tertawa. "Begitu juga denganmu, tuan Jung Daehyun."
Dia menyeringai. "Apa yang ingin kau ketahui tentangku lagi? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya di wawancara itu, termasuk orientasi seksualku."
Wajahku memerah mengingat wawancara memalukan tersebut. Aku menggigit bibirku dengan keras.
"Lalu, bagaimana dengan keluargamu? Apa pekerjaan mereka?"
"Ayahku juga memimpin sebuah perusaan besar sepertiku, sedangkan ibuku seorang dokter yang hebat."
"Saudaramu?"
"Adikku Jongin, dia bekerja di bidang konstruksi, sementara kakakku Yongguk, dia bekerja sebagai musisi di Amerika." Jelasnya. "Lalu, keluargamu sendiri, apa pekerjaan mereka?" tanyanya mengalihkan topik tentang keluarganya.
"Ibuku seorang ibu rumah tangga, dan suaminya bekerja di sebuah perusahaan teh di Jepang." aku tersenyum saat mengingat ibu dan ayah tiriku.
"Apa kau merindukan keduanya?"
"Sangat." Ujarku seraya menundukkan wajahku.
Aku tidak sengaja melihat jam yang melilit dipergelangan tanganku. Ternyata cukup lama aku berbincang dengannya
"Hyung, sepertinya aku harus pulang. Aku harus belajar."
"Untuk ujian?"
"Ya, minggu depan aku harus menghadapi ujian akhir semester."
"Kau membawa kendaraan?"
"Ne, wae?"
"Aku akan menemanimu sampai ke parkiran."
"Terima kasih, hyung."
Dia tersenyum kecil. "Sama-sama. Aku senang bisa menghabiskan waktu berdua denganmu, Youngjae-ah." Dia kembali menggenggam tanganku dan menarikku keluar. Aku hanya bingung dan pasrah mengikutinya keluar dari coffee shop.
Kami berjalan menuju ke parkiran mobil. Pikiranku berputar ketika aku mengetahui bahwa waktuku dengannya tidak banyak dan membuat hatiku terasa nyeri.
"Apa kau memiliki seorang kekasih?" Aku mendekap mulutku sendiri saat aku menyadari pertanyaan bodoh yang keluar dari bibirku.
Dia tersenyum dan menatapku. "Tidak, Youngjae. Aku tidak berpacaran. Aku tidak percaya dengan adanya komitmen." ujarnya lembut.
Sesaat aku begitu senang, tapi sesaat kemudian aku merasakan sesak di bagian dadaku. Why is it so hurt. Tidak, aku harus pergi. Aku mencoba mengatur jalan pikiranku, mencoba untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan bodoh. Aku harus menjauh darinya, aku melangkah pergi, dan tanpa ku sadari aku tersandung.
"Youngjae!" teriak Daehyun. Ia menggapai tanganku dan menariknya hingga tubuhku jatuh ke dalam pelukannya bertepatan dengan seorang pengendara mobil yang lewat dan hampir saja menabrakku.
Semua terjadi begitu cepat, aku berada dalam pelukannya. Dia memeluk tubuhku dengan erat, membuatku merasa nyaman dalam dekapannya. Aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang maskulin. Begitu memabukkan.
"Youngjae, kau baik-baik saja?" bisiknya tepat di depan wajahku. Aku bisa merasakan nafasnya yang memburu menerpa wajahku. Jari-jarinya berkeliaran memeriksa tubuh dan wajahku dengan lembut. Ibu jarinya menyapu bibir bawahku, menggeseknya perlahan. Dia menatap mataku dan aku menahan tatapan cemasnya. Tatapannya membakar seluruh tubuhku, membuatku menatap bola mata hazelnya yang teduh, hidungnya yang mancung, dan bibir yang- Oh, sial. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun hidupku, aku ingin mencium bibir seorang pria. Aku ingin merasakan bibirnya di bibirku. Sangat ingin, hingga rasanya aku tak bisa bernafas dengan baik. Aku merasa seperti lumpuh. Ada perasaan aneh yang menjalar disekujur tubuhku. Dia menatapku, matanya menyipit, tatapannya menggelap. Dia bernafas lebih keras dari biasanya, dia menutup matanya sejenak, menggelengkan kepalanya berkali-kali. Saat dia membuka mata kembali, dia menatapku tajam.
"Youngjae, kau harus menghindariku. Aku bukan laki-laki yang tepat untukmu." bisiknya.
Aku mengerutkan keningku. Nafasku tercekat dan aku merasakan sakit yang teramat dibagian dada kiriku akibat penolakannya.
"Youngjae, kau tidak apa-apa? Apa kau baik-baik saja?" ujarnya dengan lembut dan mendorongku menjauh. "Pergilah."
Jiwaku ingin memberontak teriak saat ia menarik dirinya dari tubuhku. Membuatku kehilangan sesuatu. Dan yang bisa kulakukan hanya menjauh darinya sejauh mungkin. Dia tidak menginginkan aku. Aku benar-benar telah menghancurkan diriku sendiri dengan fantasiku tentangnya.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir denganku, Tuan Jung. Terima kasih. Selamat tinggal." ujarku dingin. Dia tampak terkejut tapi aku tidak perduli.
Aku perlahan mejauhkan diriku darinya. Aku memeluk diriku sendiri, berjalan melintasi jalan raya dan berjalan cepat menuju parkiran, aku tidak mengijinkan tubuhku untuk berbalik dan menatapnya. Setelah berada di dalam mobil, aku memerosotkan tubuhku dikursi kemudi dan air mata yang sedari tadi ku tahan kini jatuh dengan derasnya. Aku marah atas diriku sendiri. Harapanku atas dirinya hancur seketika. Aku memeluk kedua lenganku dengan erat. Ingin rasanya aku memeluk seseorang.
Aku tidak sepintar kyungsoo, aku ceroboh, aku pemalu, dan sederet daftar panjang kesalahanku yang tidak memungkinkan untuk menjadi pendamping Daehyun. Stop! Berhenti menangis sekarang juga! Yang perlu kau lakukan adalah pulang dan belajar. Jangan memikirkan pria itu lagi. Kau bukan laki-laki yang lemah Yoo Youngjae. Aku menghapus kasar air mataku dan mulai mengendarai mobilku.
.
.
.
Ujian akhir telah usai. Aku mengembangkan senyum puasku. Aku juga berdoa semoga hasilnya memuaskan karena aku yakin aku telah mengerjakannya dengan baik. Kini pikiranku kembali pada setumpuk kegiatan yang sudah kurencanakan untuk menghabiskan liburan panjangku bersama teman-temanku dan juga keluargaku. Aku dan kyungsoo merencanakan untuk merayakan awal liburan kami dengan mengadakan party bersama teman-teman lainnya malam ini.
"Youngjae-ah, ada bunga untukmu dan juga sebuah paket." Ujar kyungsoo saat ia tengah membuka pintu apartemen kami. Dia berjalan kearahku dengan menenteng sebuah kotak hitam dan seikat bunga mawar merah.
Aku bingung. Aku merasa tidak memesan apapun? Lalu bunga? Siapa yang mengirimnya? Apa Jaebum yang mengirimkannya untukku? Aku melihat bunga mawar yang kini berada ditanganku, tapi aku tidak menemukan siapa pengirimnya.
"Mungkin dari Jaebum. Bukalah." kyungsoo kelihatan sangat penasaran dengan isi kotak hitam itu, begitu pula denganku.
Aku pun membuka kotak itu. Didalamnya berisi beberapa buku dan sebuah kartu ucapan.
"Hai, Youngjae. Aku tidak sengaja mengetahui bahwa kau pengagum Jane Austen. Aku tau ini edisi lama, tapi ku harap kau menyukainya."
Aku melihat buku itu dengan teliti dan aku melebarkan mata tak percaya. Novel karya Jane Austen "Pride and Prejudice" yang diterbitkan ulang dan juga beberapa karyanya yang lain.
"Bagaimana bisa?"
"Jung Daehyun." Ujar kyungsoo.
"Apa maksud dari ini semua?"
"Dia benar-benar menyukaimu."
Aku menatap kyungsoo tajam. "Tidak. Kurasa dia hanya bersikap baik padaku."
"Yah, Youngjae-ah. Apa kau belum sadar juga? Dia sangat menyukaimu."
Apakah yang dikatakannya benar? Ah, tidak. Daehyun tidak menyukaiku. Aku kembali mengingat saat terakhir aku bersama dengannya dan dia menolakku dengan tegas. Membuatku kembali merasakan nyeri yang tidak ingin kurasakan lagi.
"Hey, kurasa kita harus segera bergegas. Kau tidak ingin Jaebum menunggumu kan?" ujar kyungsoo seraya mengambil kunci mobil dan melemparkannya kearahku.
Aku menangkap kunci mobil dan menyambar jaket kulitku. "Let's go to the party."
.
.
.
Aku dan kyungsoo memasuki area bar terbuka. Suara dentuman music terdengar sangat bising. Bar ini dipenuhi oleh mahasiswa yang sedang menikmati awal liburan mereka, melampiaskan kepenatan mereka dengan berdansa dan menegak minuman berwarna-warni yang memabukkan itu. Aku kini menjelajahi tempat itu dan menemukan Jaebum yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Dia menoleh kearahku dan menebarkan senyumannya seperti biasa.
"Hai, princess." sapanya. Ia memeluk pinggangku dan memberikan sebuah kecupan singkat dipipiku.
"Yak, Jangan merusak moodku, Im Jaebum." Dia hanya tertawa melihat reaksiku yang sudah dikenalnya.
"Yougjae-ah, apa kau jadi pindah ke Gangnam?" tanyanya
Aku menganggukkan kepalaku pelan. "Orang tuaku dan kyungsoo telah membeli sebuah rumah kecil untuk kami tinggali. Bagaimana denganmu?"
"Aku akan menyusulmu, mungkin aku akan jadi tetanggamu," bisiknya ditelingaku. Aku hanya tersenyum senang.
"Ah iya, aku dan teman-temanku akan melakukan sebuah pameran. Apa kau ingin melihatnya sayang?"
Aku menatapnya dan mengusap lembut wajah tampannya.
"Tentu saja aku akan datang, Jaebum-ah." Dia tersenyum dan membawaku lebih dekat ke dalam pelukannya.
Tiba-tiba ia menenggelamkan wajahnya ke ceruk leherku dan menggesekkan hidungnya ke leher jenjangku, mengecup ringan leher dan bahuku. Aku tersentak kaget, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Perlakuannya padaku membuatku nyaman dan aku membiarkannya melakukan apa yang dia mau.
"Kau sangat cantik dan juga seksi malam ini Sayang." Gumamnya
Nafasnya yang hangat dan berat menerpa kulitku, membuat bulu kudukku merinding dan tak sengaja aku mengeluarkan eranganku saat ia mengecup ringan belakang telingaku.
"Jaebum-ah," erangku.
"Kau sangat harum Sayang. Aku bisa gila berada di dekatmu."
Aku memukul pelan lengannya dan menatap kedua obsidian hitam itu. Jaebum terlihat berbeda dihadapanku sekarang. Entah mengapa aku merasa gugup ditatap oleh tatapannya yang tajam dan mengintimidasi itu. Aku mencoba mengedarkan pandanganku ke segala arah untuk menghindari tatapannya. Saat aku melirik ke arah lantai dansa, aku terkejut dan seluruh tubuhku serasa seperti di sengat jutaan volt listrik. Aku melihat Daehyun berjalan menembus keramaian manusia menuju ke arahku. Apa yang sedang ia lakukan disini? Apa aku tengah berhalusinasi? Jaebum menyentuh ujung daguku dan mengarahkanku untuk kembali menatapnya. Jaebum mengecup pipi dan keningku secara tiba-tiba.
"Aku menyayangimu, Youngjae-ah." Ujarnya lembut
"Aku juga." Bisikku sangat pelan.
Aku mendongak kembali menatap mata gelapnya.
"Jaebum aku-"
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, aku merasakan bibirnya berada diatas bibirku. Tubuhku seketika membeku. Aku mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
BUGH!
Semua terjadi dengan sangat cepat. Aku kini telah berada di dalam pelukan seorang Jung Daehyun. Dia memelukku dengan erat seakan aku adalah barang miliknya yang paling berharga yang hendak dicuri oleh orang lain. Aku bisa melihat tangannya mengepal kuat. Ia menggeram dengan suara tertahan.
"Jangan pernah mencoba untuk menyentuh apa yang bukan milikmu, Im Jaebum."
Aku merasakan tanganku digengam erat olehnya dan dipaksa keluar dari tempat itu tanpa sempat melihat wajah Jaebum yang mengeras. Setelah kami berada di luar, aku berusaha memberontak padanya. Aku menarik tanganku darinya, tapi dia semakin mengeratkan genggamannya dipergelangan tanganku. Aku berusaha memukul lengan serta tubuhnya yang dapat ku jangkau dengan pukulanku, tapi dia tetap tidak bergeming dan pasrah menerima pukulanku.
"Lepaskan aku Jung Daehyun," teriakku memberontak
Aku sudah sangat lelah untuk memberontak dan ia mengetahuinya. Ia melepaskan genggamannya dan menggendong tubuhku menuju mobilnya. Sesampainya di mobil, ia menyandarkan badanku dipundaknya.
"Aku akan mengantarmu pulang." Ujarnya pelan.
"Aku harus memberitahu keadaanku pada kyungsoo." Gumamku. Sial! Aku merasa kepalaku ingin pecah. Kurasa aku terlalu banyak meminum minuman laknat itu.
"Tenang saja, aku sudah menyuruh Jongin untuk mengurusnya."
"Bagaimana kau bisa berada disini?"
"Aku melacak ponselmu. Aku mengkhawatirkan dirimu."
"Kenapa kau mengkhawatirkanku?"
"Entahlah."
Pikiranku saling bertabrakan, emosiku bercampur aduk, rasanya duniaku berputar cepat dan pandanganku berubah gelap. Aku memejamkan mataku sebelum aku mendengar teriakan cemas Daehyun.
"Youngjae."
.
.
.
Aku bisa merasakan udara yang segar, tidak ada kebisingan, tidak ada cahaya yang menyilaukan mata, ranjang yang empuk dan selimut yang hangat. Aku membuka mataku yang tertutup. Untuk sesaat aku mengedarkan pandanganku kesegala penjuru arah. Ruangan ini yang terlihat asing dimataku. Aku tidak tahu dimana aku berada sekarang. Kamar ini terlihat besar dan mewah dengan design interior bergaya eropa klasik yang dipadukan dengan pernak pernik modern.
Dimana aku sekarang? Kenapa aku bisa berada ditempat ini? Aku berusaha mengingat kejadian semalam. Tapi kepalaku terasa amat sakit seperti terhantam oleh tembok besar. Wajahku memucat ketika aku mengingat samar-samar kejadian tempo hari. Aku mengingat dengan jelas saat aku berada didalam bar bersama kyungsoo dan disaat aku bertemu dengan Jaebum. Aku meminum minuman laknat itu bersama beberapa temanku dan aku bisa mengingat dengan jelas saat Jaebum mengutarakan isi hatinya padaku. Dan tentu saja aku juga mengingat ciuman yang Jaebum berikan padaku. Shit! Lihat saja, aku akan menghajarnya nanti.
Aku menjerit tertahan ketika otakku mengingat kejadian disaat daehyun tiba-tiba datang dan memukul telak rahang Jaebum. Aku panik dan membungkam mulutku kuat-kuat. Aku baru sadar bahwa aku mungkin sedang berada dikamar daehyun. Tunggu dulu. Aku membuka sedikit selimutku. Aku kembali terkejut dengan mulut menganga lebar. Oh shit! Bagaimana bisa aku tidur tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhku. Yeah, tidak seluruhnya. Paling tidak aku masih memaki boxerku. Tapi bagaimana bisa? Apa dia yang melakukannya? Aku menggelengkan kepalaku frustasi. Wajahku kembali merona dan jantungku berdegup kencang. Tidak, tidak, tidak ada bekas ciuman, tidak ada bau aneh disekitar tubuhku dan pantatku tidak terasa sakit. Lalu bagaimana bisa aku tertidur dalam keadaan setengah naked? Aku masih belum bisa menemukan jawabannya.
Sebuah suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunanku. Aku melompat kaget dan tubuhku membeku. Aku melirik kearah pintu dan mendapati daehyun membuka lebar pintu tersebut lalu berjalan menghampiriku. Dia melirik sekilas tubuh bagian atasku dan bisa kupastikan ia mempertontonkan seringaiannya, membuat wajahku merona dan tubuhku bergetar hebat dibawah tatapannya. Aku pun segera menaikkan selimutku sampai batas dada.
Aku menatap dirinya. Ia memakai kaos tanpa lengan dan training hitam yang terlihat basah seperti orang yang habis berolah raga. Badannya terekspos jelas membentuk otot-otot yang terlihat besar dan kuat. Nafasku tercekat. Dia terlihat sangat sexy dalam balutan baju olah raganya. Rasanya aku ingin berlari dan terjun dari atas jendela saat itu juga. Bagaimana bisa sekarang dengan mudahnya aku terpesona kembali padanya saat dia dengan jelas tidak menginginkanku? Aku menampik semua fantasi bodohku. Aku menarik nafas panjang dan memejamkan mataku. Berusaha menghilangkan seluruh perasaanku padanya.
"Good morning, Youngjae-ah. Bagaimana keadaamu?" tanyanya dengan suara lembut
Buruk. Sangat buruk!
"Aku baik-baik saja."gumamku.
Aku melirik ke arahnya. Dia menatapku tajam dengan mata coklat jernihnya. Seperti biasa, aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Diamenyembunyikan pikiran dan perasaannya dengan sangat baik.
"Bagaimana aku bisa berada disini?" cicitku
Dia mendudukkan dirinya di sampingku. Dia sangat dekat untuk bisa kusentuh. Aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan. Aku ingin menggapai dan memeluknya, tapi sekali lagi harga diriku tidak mengizinkan aku melakukan hal bodoh.
"Kau pingsan semalam. Apartemenmu terlalu jauh dari sini, jadi aku membawamu ke hotelku."
"Apa aku tidur di ranjang?" tanyaku hati-hati.
"Tentu saja. " ujarnya dengan wajah tanpa ekspresi.
Aku menelan kasar salivaku dan memberanikan diriku untuk menatapnya.
"Apa kau yang menanggalkan pakaianku?"
Matanya menatap tajam kearahku dan aku buru-buru menundukkan wajahku.
"Tentu saja. Siapa lagi yang melakukannya? Aku tidak bisa membiarkan orang lain menyentuhmu." jelasnya
Aku menggigit bibirku keras. Wajahku sudah pasti merah padam.
"Apa kita-" aku melirik perlahan menatapnya.
"Tidak, Youngjae. Aku bukan gay. Kalaupun aku gay, aku adalah orang yang tidak akan
melakukan sex saat partnerku sedang tertidur atau tidak sadarkan diri." jelasnya yang kembali mengiris dalam hatiku. Membawa kembali luka yang ia torehkan padaku.
"Mianhae," aku menundukkan kepalaku dan menggigit bibirku sesaat lalu kembali menatap tajam ke arahnya. Entah menapa aku merasa sangat marah padanya.
"Kenapa kau bisa ada disana tadi malam? Kuasa aku tidak memintamu untuk datang menjemputku, tuan Jung. Kau juga tidak perlu melacakku dengan alat canggihmu itu." suaraku sedikit meninggi dan ia terkejut. Apa aku salah melihat? Aku melihat matanya yang memancarkan kekhawatiran.
"Pertama, kau harus tahu bahwa perusahaanku tidak berinvestasi terhadap alat-alat canggih seperti yang kau maksud. Kedua, untuk melacak seseorang kau hanya perlu mengaktifkan gps lewat ponselmu. Ketiga, kalau kau tidak ku jemput malam itu, sekarang kau pasti terbaring di ranjang si fotografer itu." ujarnya dengan suara yang tak kalah keras.
Aku kembali menggigit bibirku dan melirik kearahnya. Aku tidak bisa melawan kata-katanya.
"Kelihatannya aku seperti ksatria berkuda putih yang telah menyelamatkan tuan putri dari terkaman singa buas. Bukankah seperti itu?"
Ekspresinya kembali melembut dan aku bisa melihat jejak senyum dibibirnya.
"Kau lebih terlihat seperti pangeran kegelapan." ujarku dingin dan dia kembali tertawa
"Apa kau sudah makan?"
Aku menggelengkan kepalaku, membuat dia terlihat marah. "Kau harus makan. Itu sebabnya wajahmu terlihat pucat." Dia menghela nafas frustasi.
Memangnya kenapa kalau aku belum makan? Kenapa dia yang marah?
"Apakah kau akan terus memarahiku sepanjang hari?" cicitku.
"Apakah aku begitu?"
Aku menganggukkan kepalaku.
"Kau beruntung aku hanya memarahimu."
"Apa maksudmu?" Aku mengerutkan dahiku.
"Jika kau adalah milikku, aku akan membuatmu tidak bisa berjalan selama seminggu." Dia menutup matanya dan kembali menghela nafas beratnya. "Aku benci hal yang buruk terjadi padamu."
Tunggu dulu. Apa yang barusan dikatakannya? Jika aku miliknya maka dia akan membuatku tidak bisa berjalan selamanya? WTF! Lalu apa maksud dari perkataanya bahwa ia sangat takut jika hal buruk terjadi padaku?
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Ada kyungsoo di sampingku."
"Lalu, bagaimana dengan si fotografer itu?"
"Namanya Im Jaebum."
"Aku tidak peduli dengan namanya." ujarnya dingin
Aku mengerutkan dahiku. Ada apa dengannya?
Aku menatapnya tajam. "Well, kurasa dia tidak berniat melakukan hal seperti yang kau pikirkan. Dia hanya sedang mabuk." ujarku santai
Dia menatapku dengan tatapan yg terlihat berbahaya. Sesaat aku berpikir bahwa dia akan berteriak padaku.
"Kalau begitu harus ada yang memberinya pelajaran saat dia melangkah terlalu jauh."
"Kau sangat disiplin."
Dia menggeram. "Yak Yoo Youngjae, tidakkah kau merasa kalau aku tidak menyelamatkanmu, dia pasti telah memasukkan miliknya kedalam milikmu."
"Apa yang dia dimasukan kedalam milikku?" tanyaku dengan wajah bingung.
Dia mengacak rambutnya frustasi. "Lupakan! Intinya, jika aku tidak menyelamatkanmu, maka sekarang kau berakhir diatas ranjangnya."
Aku memutar malas kedua bola mataku. "Hey, Tuan Jung Daehyun yang terhormat, aku juga berada di atas ranjangmu sekarang. Bahkan nyaris tanpa benang sehelai pun."
Wajahnya memerah. Ia seperti hendak membentakku tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Daehyun hyung, aku mau mandi."
Aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan berjalan santai ke kamar mandi hanya memakai boxer hitamku seakan aku melupakan keberadaan Daehyun. Dia tampak melebarkan matanya terkejut dan menatap tubuhku dari atas hingga ke bawah. Rahangnya mengeras dan matanya berubah menjadi gelap.
"Youngjae." daehyun menggeram.
"Waegeuraeyo hyung? Kau tidak masalah kan? Ku rasa kau tadi mengatakan bahwa kau bukan gay." ujarku seraya menyeringai.
Aku membuka pintu kamar mandi dan dengan segera masuk kedalam ruangan tersebut. Aku bersandar pada pintu kamar mandi, memegang dadaku yang berdebar kencang, nafasku tercekat dan tubuhku bergetar hebat. Wajahku memerah. Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Oh Gosh! Apa yang telah kau lakukan Yoo Youngjae?
Aku dengan cepat masuk ke dalam shower, membilas seluruh tubuhku dengan aliran air yang deras. Aku mengangkat wajahku ke atas menerima air pancuran yang hangat. Pikiranku kacau. Aku sangat menginginkannya, tapi dia menolakku, dan aku harus melupakannya. Tapi bagaimana bisa aku melupakannya, bila dia selalu memberiku perhatian?
"Sarapan telah tiba." Daehyun mengetuk pintu kamar mandi, membuatku berjengit kaget.
"Ne, sebentar lagi aku selesai." teriakku
Aku keluar dari shower dan mengambil dua handuk. Satu untuk mengeringkan rambutku dan yang satunya lagi aku lilitkan di pinggangku.
"Aku telah membelikanmu pakaian baru, kau harus memakainya. Aku tidak terima penolakan." teriaknya dari luar.
"Baiklah." Ujarku malas.
Aku segera berpakaian cepat. Dia membelikanku kemeja putih polos tipis yang mengekspos bentuk tubuhku dan celana jeans hitam yang sangat pas dikakiku yang ramping. Setelah itu aku keluar dan duduk ditepi ranjang. Aku melirik ke arah Daehyun yang sedang menatapku dengan tatapan aneh.
"Sekarang giliranku untuk mandi." ujarnya gugup
"Ya, silahkan."
Daehyun pun berjalan masuk ke kamar mandi. Sejenak aku menatap punggungnya yang menjauh lalu tiba-tiba aku teringat dengan kyungsoo. Aku panik dan dengan segera mencari ponselku. Tapi aku sama sekali tidak menemukannya. Dimana dia menaruh tas dan ponselku? Aku mengacak kasar rambutku lalu mengetuk pintu kamar mandi dengan membabi buta.
"Yak, Daehyun hyung. Dimana kau menaruh ponselku?" teriakku. "Dae-"
Ucapanku terhenti ketika Daehyun membuka pintu kamar mandi dan menampilkan dirinya yang tengah bertelanjang dada dengan handuk yang melilit dipinggangnya yang ramping, mengekspos dengan jelas chocolate creamy sixpack-nya.
"Waegeurae?" tanyanya dengan suaranya yang berat dan sexy.
GLUP
Aku menelan kasar salivaku. Nafasku kembali tercekat. Bernafaslah Younjae, benafas!
"Kau mencari ponselmu? Apa kau sedang mengkhawatirkan temanmu kyungsoo? Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia sedang bersama dengan adikku Jongin." ujarnya seraya berlalu melewatiku yang terdiam dengan mulut menganga lebar. Aku bisa mencium parfum beraroma maskulin yang sangat memabukan. Sial! Tubuhku memanas. Pipiku kembali merona hebat.
"Duduklah." Dia memerintahku sambil menunjuk kursi disampingnya. Kini ia telah berpakaian lengkap dengan kemeja putih yang mirip dengan yang kupakai sekarang serta celana jeans selutut.
Aku berjalan menghampirinya dan duduk seperti yang ia perintahkan. Kini dihadapanku tersaji banyak makanan yang menggugah selera.
"Aku tidak tau apa yang kau suka, jadi aku memilihkan semua menu sarapan di hotel ini."
"Kau sangat boros." gumamku.
Aku bingung mana yang akan akan ku makan terlebih dahulu. Aku memilih pancake dengan sirup maple dan susu hangat. Aku melirik sesaat kearahnya. Ia terlihat mencoba menyembunyikan senyumnya saat aku melahap semua makanan.
"Rambutmu basah." ujarnya dengan tangan meraih rambutku yang masih setengah basah.
Aku menggigit bibirku dan melirik kearahnya. "Aku sudah mengeringkannya, tapi masih saja basah." gumamku
Dia tidak mengatakan apapun dan kembali menyantap sarapannya.
"Terima kasih telah membelikanku pakaian."
Daehyun tersenyum. "Pakaian itu sangat cocok dan pas ditubuhmu. Tapi, kau hanya boleh memakainya saat bertemu denganku."
Aku mengerutkan keningku. "Wae? Ini hanya sebuah pakaian, tuan Jung Daehyun."
Dia berdecak. "Coba kau ingat bagaimana pakaianmu yang terlalu mengekspos tubuhmu itu membuat hampir semua pria maupun wanita di bar kemarin menatapmu dengan tatapan lapar."
Aku menyerah dan dia tersenyum puas kepadaku. "Baiklah."
"Hyung, soal buku itu. Aku ingin mengembalikannya."
Matanya menyipit dan terlihat tersinggung. "Aniya."
"Kau sudah menghabiskan banyak uang untukku. Biarkan aku membayar bukunya."
"Itu hadiah dariku untukmu."
"Hyung..."
"Aku adalah Jung Daehyun, Youngjae-ah. Itu hanya hadiah kecil dariku."
"Hanya karena kau bisa membelikannya untukku bukan berarti kau harus memberikannya padaku."
"Aku bisa melakukan sesuka hati atas uangku, Youngjae-ah." ujarnya dengan angkuh.
"Kenapa kau membelikanku hadiah?"
"Itu permintaan maafku. Kau ingat, saat kau hampir tertabrak, kau jatuh kedalam pelukanku, dan matamu berkata - sentuh aku." ujarnya. "Well, aku merasa bersalah."
Oh, Tuhan. Kenapa dia harus membahas peristiwa yang sangat ingin kulupakan seumur hidupku.
"Kalau begitu, kau tidak perlu merasa bersalah." ujarku dingin.
"Aku tidak bisa. Saat aku memerintahkan otakku untuk menjauh darimu, hatiku tidak mengizinkannya. Ada sesuatu dari dirimu yang menarikku."
"Kalau begitu, jangan."
Oh gosh. Apa yang telah diucapkan oleh mulut bodohku ini?
"Kau tidak mengerti aku, Youngjae-ah. Aku berbahaya untukmu."
"Kau memang berbahaya bagi kesehatan jantungku." gumamku
Dia tersentak. "Apa?"
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun."
"Jadi?" Dia menyeringai ke arahku. "Kalau begitu, apa rencanamu untuk beberapa hari kedepan?"
"Aku harus berberes. Aku dan kyungsoo akan pindah di daerah Gangnam akhir minggu ini."
"Kau sudah punya tempat disana?"
Aku mengangguk kecil. "Hmm..."
"Dimana?"
"Aku lupa dimana tepatnya. Kurasa disekitar daerah Cheongdam-dong."
"Benarkah? Kalau begitu, tidak jauh dariku." Bibirnya mengulum senyum gembira. "Jadi, kau akan magang dimana?
"Aku sudah mengajukan beberapa lamaran didaerah dekatapartmentku yang baru. Tinggal menunggu panggilan."
"Kenapa kau tidak mengajukan lamaran di perusahaanku saja?"
"Tidak."
Dia cemberut dan melipat tangannya di dada. "Apa ada yang salah dengan perusahaanku?"
Bukan perusahaanmu yang salah. Tapi kau yang salah.
"Hanya tidak cocok untukku." ujarku seraya menggigit bibirku.
Dia menatapku intens. "Aku ingin menggigit bibir itu." bisiknya seraya menatap kearah bibir yang ku gigit.
Aku terkesiap. Dia ingin apa tadi? Aku kembali menundukkan kepalaku lagi tidak berani menatapnya. Aku tidak ingin terlalu banyak berharap dan aku tidak ingin dia membuatku jatuh dalam pesonanya untuk kedua kalinya.
Dia berdehem keras, berusaha mengendalikan keadaan yang canggung.
"Oke, jam berapa kau selesai berberes diapartemenmu yang baru esok hari?"
"Aku tidak tahu. Ku rasa aku bisa menyelesaikannya hingga malam. Wae?"
"Aku akan menjemputmu besok. Aku mengundangmu makan malam di tempatku dan aku akan menjelaskan semuanya tentang kita."
Aku menatap tajam kearahnya. "Kenapa tidak sekarang?" suaraku merajuk.
"Aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita sekarang."
"Baiklah."
Dia tersenyum senang atas keputusanku. Ia mengambil ponselnya dan bergegas menghubungi seseorang.
"Himchan-ah, aku perlu Angel."
Angel? Nuguya?
"Aku ingin Charlie sudah siap sebelum petang dan aku yang akan menjadi pilotnya."
Pilot? Apa masudnya? Daehyun langsung menutup telepon tanpa mengucapkan terima kasih.
"Apa mereka akan menuruti semua perintahmu?"
"Tentu saja. Jika mereka ingin mempertahankan pekerjaannya." ujarnya santai.
"Dan jika mereka tidak bekerja untukmu?"
Dia mengedikkan bahunya. "Tergantung. Kau harus menghabiskan sarapanmu. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang. Besok aku akan menjemputmu dan membawamu terbang ketempatku."
Aku berkedip cepat. Tunggu dulu. Terbang?
"Kenapa kau menatapku seperti itu." Daehyun nenaikkan alisnya.
"Terbang?."
Dia menganggukkan kepalanya. "Aku punya helikopter."
"Jadi, kita akan pergi naik helicopter?" mukaku terlihat seperti orang bodoh.
"Ya." Ucapnya tegas. "Nah, sekarang, selesaikan sarapanmu!"
Bagaimana aku bisa makan sekarang? Aku pergi dengan Daehyun menggunakan helicopter miliknya? Rasanya perutku mual hanya dengan memikirkannya.
"Youngjae, aku punya masalah dengan seseorang yang tidak menghargai makanan, jadi
habiskan."
"Aku tidak bisa memakan semua ini hyung. Aku kenyang." aku mengerucutkan bibirku.
"Youngjae." nadanya memperingati. Dia tampak marah.
"Oke, oke, aku akan menghabiskannya." bibirku kembali mengerucut sebal.
Dia mengusak pelan rambutku.
"Setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Jangan lupa mengeringkan rambutmu, aku tak ingin kau sakit."
"Berisik." desisku
"Youngjae, aku mendengarmu." gumamnya.
"Aishhh..." Aku mengerang frustasi dan itu membuatnya tertawa senang. Dasar tukang perintah!
Aku menghabiskan makananku lalu kembali melirik kearahnya sebelum sebuah pemikiran kembali terlintas diotakku.
"Hyung..." panggilku pelan
"Hmm.. ada apa?" dia duduk di sofa sambil membolak balik koran ditangannya.
"Kau tidur dimana semalam?"
"Di ranjangku." Dia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada benda berbentuk persegi panjang itu.
Tunggu dulu. Suite room hotel ini hanya memiliki satu tempat tidur. Jadi...
Aku membungkam erat mulutku. 'Tidak mungkin!' jeritku dalam hati.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Jreng,,jreng,,jreng,,akhirnya selesai juga chapter 2. Kamsahabnida yeorobeun *bow* Author senang sekali bisa membaca komen dari readers yang rata-rata panjang seperti kereta api kkkkk~ Sekali lagi terima kasih atas review, kritik dan sarannya. Author juga mau minta maaf kalau banyak sekali typo di chapter sebelumnya dan author juga minta maaf karena author tidak bisa membalas satu per satu komen dari readers *nyengir*. Oh ya, kalau readers mau lebih banyak ngobrol dengan author silahkan PM saja :D
.
.
.
At last, Mind to review again?
.
.
.
Semakin banyak review, semakin cepat author melanjutkan kkkkk~
.
Annyeong~
