Disclaimer: Peach-pit sensei, sensei, Ikuto buat saya yaa *dziigh. Warning: lbh ke OOC sh, OC jg bs, gajede, gajebo, alaylo, he2.


Amu memelas, dia kebingungan bagaimana mengahadapi atasannya nanti tentang jas itu. Dia akhirnya pulang dan pasrah.

"Aku pulaang..."

"Eh kak sudah pulang", Ami sedang menonton tv. (Ami disini anak SMP ^^)

"Iyaa..."

"Kenapa kak? Kok lemes begitu?", tanya Ami bingung.

"Ada kejadian super menyebalkan hari ini, kakak ketemu orang paling belagu seumur hidup kakak..!" Amu masih sebal.

"Siapa?"

Tiba-tiba Ikuto muncul di acara tv yang ditonton Ami, "ituu! Itu dia orangnya!", Amu langsung menunjuk.

"Hah Ikuto Tsukiyomi? Kakak bertemu Ikuto Tsukiyomi? Kok bisa?" Ami tersentak.

"Di acara pernikahan, kok semuanya pada seneng ama dia sih? Artis belagu begitu."

"Ikuto itu masuk top ten wannabe boyfriend seJepang kak, dia sangat ngetop kak," Ami jadi mulai histeris.

"Cih, cuma karena tampangnya saja," teteup Amu gak suka.

"Permainan biolanya sangat keren lho kak, dia sering menang penghargaan dan manggung bersama artis-artis terkenal dalam dan luar negeri..!" Ami jadi merasa ingin membela idolanya.

"Aah! Bodo amat soal itu, dia tetap menyebalkan bagi kakak," Amu melihat Ikuto diwawancara dengan tampang sebal, "ah sudah ah aku mau masuk kamar"

"Yee, kak kak! Memangya kenapa bisa sebal ama dia? Aneh," Ami lalu menonton wawancara Ikuto.

.

Di studio tv tempat Ikuto diwawancara.

"Wah wah Ikuto kun semakin hari semakin keren saja ya...! benar tidak penonton? Ha ha, hari ini sepertinya ada yang berbeda dengan penampilanmu, setelan jasmu terlihat sangat cocok untukmu, sangat memancarkan auramu, apa ada acara spesial hari ini?", tanya si host bapak bapak..

"Ah tidak aku hanya ingin berpenampilan terbaik saja, bagi seluruh pemirsa dan penggemarku", jawab Ikuto dengan coolnya dan disertai senyum yang membuat penonton di studio squeal~kyaa...

"Wah hebat hebat! Nah kita ke pertanyaan selanjutnya...tentang karir, luar biasa prestasi yang telah dicapai olehmu akhir akhir ini, kau bisa keliling dunia, perform di mana-mana, bagaimana perasaanmu?"

"Yah... itu semua anugerah terindah dalam hidupku, aku tidak pernah berhenti mengucap syukur, dan berterima kasih pada dukungan orang-orang terdekatku terutama keluarga dan fans," Ikuto tersenyum lagi, kali ini ke penonton.

"Kyaa! Ikuto! Ikuto!" Fans jerit-jerit.

"Luar biasa! Mari kita beri tepuk tangan untuk Ikuto!" Tepuk tangan riuh dari penonton di studio yang kebanyakan fans Ikuto. Dia sangat diidolai.

.

.

Keesokan harinya Amu kembali bekerja seperti biasanya tapi dengan perasaan yang berbeda. Dan benar saja Bu Sanjo langsung memanggil Amu.

"Amu apa yang terjadi kemarin..? Kenapa bisa kamu seceroboh itu? Bukan seperti kamu yang biasanya"

"Iya bu...maaf...", Amu agak berkaca-kaca.

"Hhh ya sudah ku harap tidak akan terjadi lagi, ingat itu. Lagian aku juga cukup puas dengan acara kemarin selain kejadian itu tentunya. Lalu bagaimana? apa kau jadi membayar biaya laundry Ikuto?", tanya Bu Sanjo penasaran.

Amu menelan ludah, "ya itu... sebenarnya bu..."

"Ada apa?"

Amu menceritakan semuanya.

"Apa? jadi dia mengambil salah satu jas klien kita katamu?", langsung mau marah.

"Aku sudah memaksanya untuk mengembalikannya tapi dia tidak mau... aku bisa dituntut katanya... aku benar-benar minta maaf...bu...", Amu merasa bersalah dan mulai panik.

Bu Sanjo diam saja. "Bagaimana bu...? Kumohon jangan pecat aku..."

"Hhh ini sungguh tak terduga... baiklah kalau begitu kau tidak akan kupecat, tapi sebagai gantinya gajimu aku potong demi membayar jas yang diambilnya itu," kata Bu Sanjo tegas.

"Tidaak... ", Amu pikir ya sudahlah toh ini memang salahnya.

"Yah mau bagaimana lagi... sudah sana kembali bekerja" Amu kembali ke mejanya

Ran, Miki, Su menuju ke Amu, "Amu, Amu bagaimana...?", tanya tiga sekawan langsung mencegat Amu. ^^

"Gajiku dipotong... hhh..."

"Yaah... tetep semangat y Amu."

"Sial ini gara dia...! Hhh!"

Amu kembali ke mejanya untuk bekerja, dia mencoba melupakan sederetan kejadian buruk karena Ikuto selama lamanya. Walau pasti tidak mudah. Tiba-tiba Ran memanggil.

"Amu ada telepon untukmu"

"Dari siapa?"

"Katanya dari orang yang ada perlu penting denganmu"

"Ha?", Amu menjawab teleponnya

"Siapa, siapa?", tanya Miki, Su kepo.

"Entahlah, ayo kita kerja," ujar Ran.

"Ya halo? Ini siapa y?"

"Ini aku nya!"

"Ha? siapa?"

"Yoruu"

"Hah? Kenapa kau bisa menelpon kemari?" Amu kaget plus bingung.

"Aku ada perlu denganmu, keperluan penting, sebenarnya menyangkut Ikuto."

"Hah? Apa lagi? Tidak tidak aku tidak mau disangkut pautkan lagi dengannya, sudah cukup," hendak menutup telepon.

"Tunggu nya! kau mau jasnya dikembalikan kan?"

"Eh? ...ten tentu saja!"

"Baiklah datang kemari ke Easter Company, kau akan dapatkan jasmu see u!" (tutup)

"Halo? Halo? Apa-apaan."

.

Amu pun tidak punya pilihan pergi ke Easter Company. Easter Company adalah salah satu manajemen artis terbesar di Jepang. Ikuto adalah artis bentukan manajemen itu.

"Waah gedungnya besar..." Amu langsung masuk dan ke resepsionis, "maaf aku ingin bertemu dengan Yoru"

"Yoru? Manajer Ikuto? Oh kau Amu Hinamori y?"

"Eh i iya..."

"Silakan langsung ke lantai 19, pakai lift di sebelah kiri."

"Oh baiklah... cepat sekali aku langsung bisa ketemu," pikir Amu, menuju ke lift.

Amu naik lift, dan sampai di lantai 19, ruangan yang didominasi warna putih dengan desain minimalis kontemporer. Amu memandangi seluruh ruangan. Tiba-tiba, syuut~

"Halo Amuu," Yoru muncul, entah dari mana.

"Kaget aku"

"Ayo ikut aku," Yoru mengajak Amu ke ruangan yang ternyata di dalamnya, ada Ikuto.

"Baiklah langsung saja, Yoru," Ikuto ngomong sama Yoru.

"Oke begini...ehem..." Yoru mau memulai pembicaraan.

"Tunggu, mana jasnya, kan tinggal serahkan jasnya saja, kenapa aku mesti ketemu dia?" Amu menunjuk ke Ikuto.

"Sebentar dulu nya, aku kan baru mau ngomong, jasnya ada di meja itu (menunjuk) tapi... sebelum kamu ambil dengarkanku dulu, jadi tujuan kami memanggilmu kemari bukan hanya soal jas."

"?" Amu bingung.

"Yak kami punya kebijakan lain untukmu, kami sudah memikirkan matang-matang bahwa, kamuu akan... ehem menjadi asisten pribadi Ikuto."

"APA?" (author sadar Amu kebanyakan 'apa?', cerita ini kan penuh kejutan he2)

"Maksudnya bagaimana? Aku jadi asisten dia? Ga deh! Terima kasih"

"Kau sudah dapatkan jasmu, berarti sekarang kau tetap harus bayar ganti ruginya, kau bilang tidak bisa membayarnya, jadi caramu membayar ya dengan bekerja padaku," Ikuto bicara dengan gaya santainya.

"Selain ituu, sebenernya Ikuto cukup terkesan dengan selera fashionmu, kemarin dia menuai pujian atas jas yang kamu pilih lhoo saat wawancara, makanya itu juga jadi pertimbangan kami untuk menjadikanmu asisten."

"Ya, Yoru juga suka kewalahan mengatur jadwalku yang padat, dia bekerja sendiri dan dia sangat peduli padaku, kamu hebat Yoru..." mengancungi jempol pada Yoru, si Yoru jadi mesem-mesem.

"Terima kasih Ikutoo, itu karena aku mengagumimu juga... he he. Dan Amu, kamu harus bersedia, karena ini juga sebagai ganti rugi, nya."

"Kenapa kau tidak ambil saja jasnya? Bukannya tadi begitu? Aku juga sudah pasrah, biarlah gajiku dipotong karena jas itu asal masalah denganmu selesai!"

"Tuh kan bukannya jadi sangat tidak enak bagimu? Kalau kau bekerja untukku kau tidak kehilangan sepeser pun bahkan kau bisa menambah penghasilanmu," kata Ikuto.

"Betul nya! sudahlahh terima saja, kapan lagi bisa kerja dengan artis sengetop Ikuto." Omongan terakhir Ikuto dan Yoru, membuat Amu berpikir lagi, benar juga sih.

"... Ck, sepertinya aku tidak bisa menolak, iya kan? Kerjaku jadi dobel!"

Ikuto, Yoru, mengangguk-ngangguk. "Hmm..."

"Hhh...! Ada2 saja! Baiklah! Aku bersedia! Kau puas?" Amu kepaksa banget.

Mulailah hari-hari dimana Amu menjadi asisten pribadi Ikuto selain sebagai wedding planner, membuat Amu sangat kewalahan tapi mau tidak mau dia harus melakukannya...


Bersambung... XD, thx yg udh bca, repiu jg yak, thxx! ;)