.
.
.
Disclaimer: EXO Punya SM dan Kai lagi diusahakan menjadi milik saya(?)
Ishida Sui
Sehun Luhan Baekhyun!Girl
KaiHun
Recommented Song – Namae No Nai Kaibutsu – EGOIST (biarfeeldapet;plok)
.
.
.
Jongin kini sedang terduduk diranjangnya sembari menunduk dan memijat pelipisnya yang lagi – lagi terasa pusing. Jongin mengucek sebelah matanya saat matanya mulai terasa berat.
Sebuah televisi menyala dihadapanya yang menampilkan pembicaraan tentang Wolf. Jongin sedari tadi terus mendengarkanya, tak berniatmemindahkan channelnya sedikitpun.
'Para Wolf tidak perlu banyak makan dalam waktu yang lama— satu mayat atau dua bisa membuat mereka bertahan hingga dua bulan lamanya.
Dan juga Wolf hanya bisa memperoleh gizi dari tubuh manusia yang mereka makan, belum lagi lidah mereka yang tidak berfungsi saat mengonsumsi makanan manusia.
Terasa menjijikan dilidahku. Jongin tercekat dengan jantung yang terus berpacu dengan cepat.
Lidah mereka berbeda dengan lidah kita, para manusia. Saat mereka memakan makanan manusia akan terasa sangat menjijikan.
"A-apa—" Jongin melirik televisi yang kini menampilkan seorang Laki – laki tua yang sedang menjelaskan tentang Wolf. Tatapan mata sang laki – laki tua tersebut terasa mengejek dirinya sekarang. Benar – benar memuakkan, hingga membuatnya ingin menonjok layar televisi tersebut yang mungkin bisa berdampak pada laki – laki tua disana.
Benar – benar menjijikan—'
Srett! Tap!
Dengan itu Jongin berlari kearah dapur, mulai membuka pintu lemari es dan mengeluarkan seluruh makanan yang terdapat disana. Ia benar – benar ingin membuktikanya sekarang!
Tanganya bergetar saat akan mengambil sebuah makanan ringan disana, meneguk ludah dengan susah payah sembari menatapnya dengan tatapan ketakutan.
Srett!
Jongin membuka bungkus makanan tersebut masih dengan tangan yang bergetar, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Aku harus mencobanya. Aku harus membuktikanya.
Jongin lagi – lagi meneguk ludahnya dengan kasar dan dengan perlahan mulai membawa makanan tersebut ke dalam mulutnya. Ia bersumpah bila makanan tersebut membuatnya mual, ia akan benar – benar bunuh diri sekarang. Kau tidak akan mati Kim Jongin.
Matanya memejam merasakan makanan tersebut kini sudah mulai memasuki mulutnya. Ia terdiam sebentar sebelum matanya membelalak lebar saat merasa perutnya mual ketika makanan tersebut sudah terasa di indra perasanya. Rasanya seperti memakan seorang mayat yang benar – benar menjijikan!
Jongin membuang makanan yang tadi dimakanya dengan kasar sembari memegangi perutnya, ia berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan makanan tadi. Makanan tersebut terasa menggelitik mulutnya.
"Uhuk! Huekk.."
"Ugh..t-tidak mungkin!" Jongin memuntahkan semuanya diwastafel, meraba lidahnya yang terasa aneh saat makanan tersebut memasuki mulutnya.
Jongin benar – benar tidak percaya sekarang,
Jongin berlari lagi kearah dapur dan mulai menyuapkan satu persatu makanan yang berada disana dengan cepat, namun lagi – lagi semuanya ia muntahkan. Perutnya benar – benar tidak bisa mencernanya, rasanya sangat menjijikan.
"Agh!" kotak susu yang baru diminumnya ia jatuhkan dilantai begitu saja, hingga isinya tumpah dan mengotori lantai dapur tersebut. Ia sudah tidak peduli lagi sekarang.
"Uhuk.. huekk!"
"Apa yang terjadi denganku.." gumamnya dengan nada yang pelan, tidak percaya akan semua ini.
kakinya mulai melangkah dengan pelan ke arah dapur. Matanya sudah memerah sekarang, ia..tidak mungin seorang Wolf kan?
aku membawakan kimchi kesukaanmu disana, dimakan ya!
Tanpa menunggu lama Jongin meraih kantung plastik yang berisi kimchi, itu pemberian Taemin tadi. Ia dengan segera memasaknya dan menunggunya hingga matang.
"Taemin, membelikanya untukku," gumam Jongin.
Beberapa menit kemudian kimchi tersebut sudah matang, Jongin membawanya ke meja makan sederhana miliknya disana. Tanganya bergetar saat memegang sendok tersebut.
Keadaan Jongin benar – benar buruk sekarang, rambut hitamnya berantakan dan pakaianya yang sudah tidak tertata rapi lagi. Terlihat seperti orang frustasi, matanya sudah memerah sekarang.
Sesendok kimchi kini mulai Jongin suapkan ke dalam mulutnya, ia mengunyahnya dengan perlahan. Jongin terdiam dan tertawa pelan, terlihat menyedihkan. Setetes air mata kini mengalir dipelupuk mata miliknya, melewati pipinya dengan perlahan.
Tes
Tes
"Ini tidak mungkin.."
Ia tidak mau menjadi pembunuh.
Drtt Drtt
Ponsel milik Jongin bergetar, ia sedang tengkurap ditempat tidurnya sekarang. Jejak – jejak air mata terlihat dipipinya, Jongin tidak menghapusnya sampai sekarang.
Tanganya mulai beralih pada ponsel berwarna hitam tersebut.
Taemin,
Jongin? Bagaimana kabarmu? Kau sudah pulang? Ku dengar Kim Kibum melakukan penandatanganan buku, jadi..kupikir kau harus kesana. Ohiya setelah kau baikan, segera telepon aku! Aku akan menunggumu Kkamjong!
Jongin bangkit dari tidurnya, ia segera berjalan ke arah lemari untuk mengambil jaketnya. Ia harus segera pergi ke toko buku itu sekarang.
Tak lama Jongin sudah sampai didepan toko buku, ia menghela nafas pelan saat melihat sebuah papan memberitahukan bahwa Penandatanganan buku sudah selesai.
Jongin berbalik pergi, sedikit kecewa sebenarnya. Langkah kakinya terasa berat, ia melangkah dengan hati – hati.
Jongin berjalan disebuah trotoar jalanan Seoul, hari sudah mulai malam sekarang. Banyak orang – orang yang berlalu lalang, membuat kepalanya menjadi pusing saja.
Ia memakan Hoodie jaketnya hingga menutupi kepalanya, kedua tanganya ia masukan ke dalam saku jaket tersebut.
Dengan tiba – tiba Jongin berhenti ditengah – tengah kerumunan orang yang berlalu lalang, terdengar suara aneh dari perutnya. Ia lapar sekarang. Tetapi..ia harus memakan apa?
Tangan kananya beralih memegang perutnya sekarang, suara – suara orang berlalu lalang membuatnya hampir gila.
Deg!
Jantungnya mulai berdetak degan cepat, ia mulai mencium bau makananya sekarang!
Mata Jongin membelalak dan mulai mengendus sesuatu sembari menggumam dengan suara yang sangat rendah dan penuh penekanan.
"Manusia.. manusia.." gumamnya cepat dengan suara yang rendah dan penuh penekanan.
"Manusia..manusia.." Jongin meggumam lagi, lebih seperti geraman sekarang, matanya melirik kesana kemari dengan cepat, tanganya mengepal.
"Manusia..anak – anak.."
"Gadis kecil—" Matanya melirik gadis kecil yang sedang tertawa bersama kedua orang tuanya disana, Jongin menyeringai dan menatap gadis kecil tersebut dengan tajam.
"Daging.. manusia..gadis.." Jongin kembali menggumam, jantungnya berpacu dengan cepat. Tatapan matanya menjadi sangat tajam sekarang.
"Daging..daging..daging!" Jongin berteriak diakhir kata dengan penuh penekanan dan cepat.
"Huh? Kenapa dengan Oppa itu?" tanya seorang Gadis kecil pada ibunya saat tiba – tiba Jongin berteriak dengan sangat keras.
Sang ibu hanya menggelengkan kepalanya dengan menarik anaknya pergi, nafasnya berpacu dengan cepat sekarang. Jongin membulatkan matanya dan tanganya sekarang mengepal.
Air liurnya menetes, membasahi rahangnya yang tegas. Jongin terdiam disana sambil menatap semuanya dengan pandangan kosong.
Dengan cepat Jongin menggigit jari telunjuknya dengan keras, giginya bergemeretak. Sebelah matanya sudah berubah menjadi warna hitam dengan pupil berwarna merah sekarang.
Ia berlari dengan sangat cepat ke arah rumahnya hingga menabrak beberapa orang yang berlalu lalang. Jongin tidak meminta maaf sedikitpun, ia dengan terus menerus berlari hingga kini kakinya sudah menapak dihadapan rumahnya.
Jongin membuka pintu dengan kasar dan membuka sepatu yang dipakainya. Ia berlari ke arah kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin yang kini benar – benar berbeda.
Brak!
"Hh.."
"A-apa i-ini—"
Deg!
Jongin melihat mata sebelah kirinya yang berbeda, pupilnya berwarna merah darah sekarang.
"K-kenapa..dengan mataku?" Jongin bergumam dan memegang matanya yang benar – benar berbeda. Setitik air mata kini sudah mengalir disana, Jongin menangis.
Ia tidak mungkin Wolf kan?
Jongin membenci ini semua!
"Wolf—"
"Kau memang seorang Wolf Jongin – ssi~" gumaman seorang wanita memotong nya, suaranya begitu lembut di indra pendengaran miliknya. Mata milik Jongin membelalak lebar saat bayangan Luhan lewat dibelakangnya, mengenakan sebuah mini dress berwarna putih dan rambutnya yang berwarna coklat digerai begitu saja.
Ia benar – benar muak sekarang, dengan amarah Jongin memukul cermin dihadapanya dengan satu kepalan kuat. Cermin yang dipukulnya kini sudah hancur berkeping – keping namun entah kenapa tanganya tidak terluka sama sekali.
"Aku tahu penyebabnya apa sekarang—" desis Jongin dengan nada yang benar – benar tajam, Jongin berlari ke arah dapur dan mulai mengobrak abrik isi laci disana. Jongin mencari pisau.
Cepat pindahkan organ miliknya!
Perkataantersebut terus menggema dipikiranya, Jongin memejamkan matanya menahan sesuatu cairan bening yang sebentar lagi mengalir disana.
Para wolf tidak akan terluka oleh benda – benda tajam seperti pisau dan pedang sekalipun—
Jongin menggigit bajunya dengan sangat keras, Jika itu memang benar terjadi padanya Jongin akan benar – benar menyesali hidupnya sekarang. Tanganya kini sudah memegang sebuah pisau dapur yang sangat tajam. Matanya memejam dengan erat, Jongin menghela nafas dengan kasar dan dengan itu Jongin mulai menghunuskan pisau dapur pada perutnya yang rata.
Krek! Prang!
Tidak terjadi apa – apa pada dirinya, cairan bening tersebut kini sudah mengalir dari ke dua matanya. Pisau dapur yang tadi begitu tajam kini patah begitu saja hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring, potonganya terjatuh pada lantai keramik disana.
"Hiks—"
"Sialan! Argh!" teriaknya menggema di rumah sederhana tersebut, tanganya mengepal.
"Sehun, bekerja dengan benar—"
"Aku berkerja dengan benar, ahjussi," Sehun berkata dengan dingin pada seorang Laki – laki tua dihadapanya yang kini hanya tersenyum, Lee Sooman sudah bisa memaklumi sikap Sehun yang cuek dan dingin.
Sehun sudah berkerja di Kedainya selama tiga tahun lamanya, Sehun mulai berkerja disana sejak kelas 3 SMP hingga sekarang. Sehun adalah anak yatim piatu disini, jadi karena Sooman merasa iba, Sooman membiarkan Sehun untuk berkerja di kedainya hingga sekarang.
Sementara itu, Sehun sedang menatap datar seorang namja dihadapanya, rambutnya berwarna pirang. Perawakan tubuhnya benar – benar tinggi, mungkin bila dilihat kembali namja didepanya cocok dengan tokoh Anime.
"Kau diam saja, idiot!" pekik Sehun kesal saat melihat Kris terus menggodanya dengan mengedipkan matanya.
"Kau masih saja kasar Sehun –ssi," sahut Kris santai, ia mencolek dagu Sehun sekarang. Sehun yang benar – benar muak hanya memberikan deathglare pada Kris.
"Pergi saja kau idiot," dengan itu Sehun berjalan meninggalkan Kris yang kini sedang terduduk pada salah satu kursi disana. Kris terkekeh pelan saat melihat Sehun yang benar – benar tidak berubah.
Sehun berbalik dan berjalan ke hadapan Kris lagi, "Dan tuan, bisa kau pergi? Kedai akan ditutup sebentar lagi," Sehun berkata dengan dingin dan sorotan mata yang tajam, sebelah matanya yang tertutupi rambut menyipit.
Dan dengan itu Kris berjalan keluar dari sana dengan bersiul pelan sambil terus merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan. Menuruti perintah Sehun untuk keluar dari sana.
Tak lama setelah Kris keluar dari kedai Coffee, Sehun mulai membuang sampah sisa sisa Coffee tadi siang hingga malam ini. Angin berhembus dengan kencang yang membuat rambutnya tertiup angin malam, mata tajam milik Sehun menatap seseorang yang sedang berlari dengan cepat kearah utara disana.
Xxowlf
Malam ini begitu dingin, jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Jongin berjalan keluar rumahnya dengan langkah yang berat, ia benar – benar lapar. Namun ia sekarang bingung harus mengkonsumsi apa untuk mengisi perutnya yang keroncongan minta di isi.
Hatinya masih merasa sakit sekarang, ia benar – benar tidak mau menjadi mahkluk seperti Wolf! Ia membencinya, ia tidak mau menjadi pembunuh! Ia benar – benar menyesal akan hidupnya yang seperti ini, takdirnya benar – benar menyedihkan.
Dan Bukan 'kah ia seorang Wolf sekarang? Jadi ia bisa memakan manusia lainya.
Tapi ia benar – benar tidak mau menjadi pembunuh menjijikan seperti mereka, meskipun takdirnya kini sudah berubah.
Jongin bukan lagi manusia. Tetapi ia juga bukan Wolf.
Ia berjalan dengan langkah lunglai pada tempat yang cukup sepi, ia ingat tempat ini.
Distrik 20, tempat terakhir kalinya ia terkapar dengan bersimbah darah.
"Apa yang harus kulakukan?" gumamnya. Kakinya terus melangkah entah kemana, ia berjalan seperti orang yang mabuk sekarang. Perutnya benar – benar merengek minta untuk di isi.
Jongin dengan tiba – tiba berhenti begitu saja disana, hidungnya mulai mengendus bau yang membuatnya merasa akan sangat lapar.
Ini bau makananya, ini benar – benar bau seperti masakan ibunya saat ia waktu kecil dahulu.
Jongin menyeringai pada saat itu juga, kedua tanganya mengepal. Mata kirinya kembali berubah menjadi warna hitam dengan pupil merah, seperti biasa.
Drap!
Drap!
Jongin berlari dengan sangat cepat dan brutal, menabrak beberapa tong sampah yang menghalanginya. Kakinya terus melaju dengan cepat kearah sebuah gang sempit tanpa adanya penerangan sedikitpun.
Jongin semakin melebarkan seringainya saat bau makananya semakin tercium. Dengan langkah yang lebar, Jongin mulai mendobrak sebuah pintu kawat yang terdapat disana.
Namun dengan tiba – tiba langkahnya berhenti saat melihat Seseorang yang sedang memakan sebuah mayat laki – laki dengan rakus.
Jongin terpaku, ia terdiam. Seringaianya luntur seketika, pandanganya menjadi kosong. Ini.. gila.
"Wolf—"
"Kenapa aku bisa..tertarik kesini?" gumamnya pelan, matanya masih menatap seseorang disana yang masih asyik dengan makananya. Cipratan darah berada dimana – mana, cakar yang panjang dan sebuah ekor berwarna coklat bercampur kuning tua terlihat disana.
"O-oh halo kawan," seseorang tersebut tersenyum ke arah Jongin, taring - taring panjang miliknya terlihat mengkilat disana, terdapat noda darah yang terlihat menjijikan yang seketika membuat Jongin mual namun tidak sepenuhnya. Jongin terdiam, matanya masih menatap mayat tersebut, usus yang terbuai keluar, kepala yang terpisah dari tubuhnya dan tangan kanan yang sedang digigit oleh seorang wolf disana.
"Ha-ha kau mau? Aku sudah tidak makan dari kemarin," seseorang tersebut menawarkan makanannya pada Jongin yang masih berdiri dan terdiam disana.
"Kau.. seorang Wolf 'kan?" tanyanya pelan, kedua mata merahnya menatap Jongin yang kini sudah jatuh terduduk disana dengan pandangan kosong.
"Kau tidak apa – apa? Namaku Taeyong,"
"Kau lapar—" Taeyong hendak bertanya namun ucapanya terpotong begitu saja saat suara seseorang memotongnya dan menendang kepalanya keras hingga Taeyong terjungkal kedepan dengan kepalanya menghantam lantai marmer yang kasar disana.
Brugh!
Cipratan darah milik Taeyong yang berasal dari kepalanya kini mengenai sebagian wajah milik Jongin yang masih duduk terdiam disana dengan dengkul sebagai tumpuanya. Taeyong tergolek lemah dengan bagian depan kepala yang hancur, tendangan seseorang tersebut benar – benar kuat ternyata.
"—Makanlah, brengsek!" desisnya tajam, Jongin terpaku pada kejadian dihadapanya.
"Berani sekali berkeliaran diwilayahku," tambahnya.
"Aku.. belum pernah melihatmu sebelumnya," gumam seseorang tersebut, tatapan matanya begitu tajam hingga membuat Jongin meringsut mundur kebelakang. Tubuhnya yang jangkung dan suaranya yang berat benar – benar membuat nyali Jongin ciut seketika.
"Kenapa kau hanya memiliki satu mata yang berwarna merah?" tanyanya sambil berjalan mendekat.
Sret brugh!
Seseorang yang diketahui sebagai namja itu kini mulai menarik kerah jaket yang dikenakan Jongin dan mencekiknya. Punggung Jongin terasa dingin saat menempel dengan dinding dibelakangnya.
"U-ugh.."
Ia benar – benar kuat hingga bisa mengangkat tubuhnya, yang terbilang tidak cukup kecil ini.
"Apa yang kau lakukan disini, bocah?" tanyanya dengan nada yang tajam, kedua matanya sudah berubah menjadi warna hitam dan merah. Tubuh Jongin bergetar sekarang, ia benar – benar takut pada namja dihadapanya.
"Kau merampok diwilayahku?" tanyanya lagi – lagi dengan nada yang benar – benar tajam dan penuh penekanan.
"A-aku tidak tahu a-apa – apa!" Jongin berkata dengan susah payah, dadanya terasa sesak sekarang, matanya menutup sebelah karena cekikan yang benar- benar membuatnya merasa hampir mati.
"Cih, katakan sekali lagi dan aku akan benar – benar memotong kepalamu disini!" pekiknya kemudian melemparkan tubuh Jongin kelantai marmer disana, Jongin membulatkan matanya saat merasa punggungnya terasa retak saat itu juga.
Namja dihadapanya menendang tubuhnya hingga ia terpental sejauh tiga meter dari sana, Jongin memuntahkan darah berwarna merah pekat disana. Namja tersebut menyeringai senang.
"Kau lemah sekali," katanya sinis dan menarik rambut hitam milik Jongin.
"Kau dengar? Ini wilayahku—"
Tap!
Suara derap langkah seseorang terdengar disana.
"—Wilayahmu?" suara dingin dan menusuk dari seorang yeoja terdengar disana, memotong ucapan namja tersebut.
"Sehun," namja tersebut menyeringai dan melepaskan tarikanya pada Jongin yang kini menatap keadaan didepanya dengan samar. Pandanganya benar – benar buram sekarang.
Namja tersebut berbalik pada yeoja dihadapanya yang tadi ia panggil dengan sebutan Sehun. Ia melebarkan seringainya saat Yeoja dengan tinggi semampainya tersebut menatapnya dengan tajam.
"Ini bukan wilayahmu, Tuan Park yang bodoh," perkataan Sehun menusuk ulu hati namja tersebut, Chanyeol namja tinggi yang tadi hampir membuat Jongin mati itu kini mulai menampakan ekor panjang berwarna coklatnya dan cakar cakar berwarna hitam miliknya.
"Kau mengejekku, Noona Oh?" tanya Chanyeol dengan sinis, rambut hitam cepaknya kini membuat dirinya terlihat tampan. Seketika mata Sehun yangtadi berwarna coklat kini sudah berubah dengan warna hitam dan pupil berwarna merah.
"Kau merasa kuejek heh?"
"Kau akan benar – benar mati setelah ini!" desis Chanyeol tajam dan mulai melesat ke arah Sehun yang masih berdiri disana dengan santai, Sehun menyeringai dan ia pun mulai berlari ke arah Chanyeol dengan kecepatan yang tidak bisa dihitung, terlalu cepat. Sekumpulan angin kini mulai menyelimuti tubuh Sehun.
Srett! Greb! Brugh!
Suara seseorang yang jatuh kini terdengar disana, Sehun menyeringai saat melihat Chanyeol terjatuh sembari memegang sebelah lenganya yang terasa perih.
"Kau harus memotong lebih dalam lagi, bocah!" teriak Chanyeol murka, matanya menjadi semakin tajam saat melihat Sehun yang masih menyeringai.
Srett!
Sreett!
Suara sesuatu yang robek kini terdengar, Chanyeol memejamkan matanya saat merasa luka ditubuhnya semakin bertambah dengan tiba - tiba. Sial! Seharusnya ia tidak menantang Sehun tadi.
"Aghh!" pekik Chanyeol keras dan tertahan saat merasa lukanya bertambah banyak dan perih.
"Aku sudah memotong lebih dalam," Sehun berkata dengan santai, matanya sekilas melirik Jongin yang sudah mulai berdiri disudut tempat tersebut. Jongin terlihat sedang meringis nyeri dan memegang kepalanya yang sedang berputar.
Chanyeol hanya tersenyum sinis kemudian melesat pergi dengan cepat menapaki dan melompati gedung – gedung tua disana, Sehun menatapnya dengan dingin. Matanya kini sudah beralih pada Jongin yang berdiri sambil menatapnya dengan tatapan tidak percaya sekaligus takut.
Nafas Jongin berburu dengan cepat saat melihat tubuh mayat yang sudah hancur tersebut, perutnya benar – benar merasa lapar sekarang.
Tanganya miliknya mengulur hendak mengambil sepotong daging mayat tersebut.
Sehun mengambil salah satu tangan mayat yang sudah putus disana, dan mengulurkanya pada Jongin.
"Kau mau?" tanyanya, Jongin meneguk ludahnya kasar.
Sehun berjalan mendekat pada Jongin, rambut hitam milik Jongin sudah berantakan sekarang, lebam – lebam terlihat diwajah miliknya yang tampan. Sehun menatapnya dengan dingin.
"Kau tidak memakanya?" tanya Sehun lagi pada Jongin yang kini sedang menunduk dalam dengan nafas memburu, bahunya bergetar.
Sehun menatapnya dengan sinis, "Kenapa hanya satu matamu yang berbeda?" gumamnya sambil menatap Jongin dengan tajam, perkataan Sehun benar – benar tajam dan penuh penekanan sekarang. Membuat Jongin hanya diam sembari mengatur nafasnya.
"Kau orang yang bersama Luhan heh?" mata Sehun dengan tiba – tiba membelalak lebar. Tangan milik Jongin mulai menggapai sepotong lengan yang masih dipegang oleh Sehun.
"K-kumohonn..hh tolong a-aku!" gumam Jongin susah payah, matanya yang berwarna merah menyipit sebelah. Nafasnya terasa sesak saat rasa lapar terus menderanya.
"Aku ingin m-memakanya,"
"Lagipula a-aku manusia," lidahnya terasa kelu saat mengucapkan perkataan tersebut.
"T-api bila aku m-memakanya, aku b-bukan lagi manusia!" pekik Jongin dengan penekanan diakhir perkataanya, cairan bening kini lagi – lagi menetes dari matanya.
Sehun memiringkan kepalanya sembari menatap Jongin dengan tatapan yang lagi – lagi dingin. Ia terlihat cantik saat terkena sinar bulan yang mengintip dibalik celah celah gedung tersebut.
"Lebih baik, kau memakanya," kata Sehun pelan dan mengulurkan tanganya yang memegang sepotong lengan mayat tadi.
Jongin mulai mengulurkan lenganya dengan perlahan dan susah payah.
Srett!
Dengan cepat kini potongan lengan tersebut sudah berpindah tangan pada Jongin, namun Jongin tidak memakanya, ia memegangnya dengan kuat.
Giginya bergemeretak sekarang.
"Tidak mau!" teriak Jongin kemudian melemparkan sepotong lengan tersebut, ia menunduk dalam dan meremas rambut hitamnya frustasi.
Ia benar – benar tidak mau memakan sepotong lengan menjijikan tersebut!
"Aku tidak mau—"
"Kau mati saja, Jongin –ssi," gumam Sehun tajam, Jongin terdiam. Ia terus mengguman kata 'tidak mau' dan menunduk dalam.
"Aku tidak ada gunanya menjadi Wolf!" pekik Jongin disana dengan suara bergetar.
"Membunuh satu sama lain! Aku tidak menginginkanya!"
"Sungguh konyol, kenapa tidak menyerah saja?" Sehun bertanya sambil menatap Jongin yang kini seperti sedang berlutut dikakinya,terlihat Sehun berbalik dan mendekati kedua mayat—ada mayat Taeyong disana—tersebut.
Tanganya mulai menarik salah satu dalaman mayat tersebut hingga darahnya memuncrat dan mengenai wajah cantik Sehun, kedua matanya sudah berubah warna sekarang.
"Kalau kau tidak mau memakanya, biarkan aku menolongmu!" perkataan Sehun membuat Jongin terdiam sekarang, matanya membelalak lebar pada Sehun yang tiba – tiba melesat cepat kearahnya dengan sekumpulan angin yang menyelimuti tubuhnya.
.
.
.
To Be Continued
A/N : Hai! aku update cepet hwhw, lagi gak ada kerjaan jadi lebih baik update aja haha. Ohya ini emang dari Anime tokyo Ghoul ya~ jadi yang merasa ada persamaan/mirip jangan heran.
Dan astagfirullah, Siders-nya banyak GEWLA! hwhw -_- ga nyangka -_-
Ini maaf kalau mengecewakan, aneh gaje dan BANYAK TYPO!
sama minta Kritik yaaa~
Terus ada yang nanya
A : Sehun jadi Kirishima? iyupp jadi Kirishima Toka! Jongin jadi Kaneki wkwk~
Ayo direview biar update kilat! xd
Ohya sekalian ini Fanfict lebih baik disimpan di rated T atau M? bingung sumpah, pengenya disimpen di rated T tapi kan adegan semacam kekerasanya..
Satu lagi BIGHTHANKS buat yang udah REVIEW! ^^
chan-wifey;mrblackJ; ; ;urikaihun;shinshin99SM;Youngchanbiased;daddykaimommysehun; ;LKCTJ94;Lulu Auren;Su Hoo;sayakanoicinoe; ;Nagisa Kitagawa;sherry dark jewel;awexome;kaineki ken;byzelove;Istrinya Sehun Bininya Kai
Maaf kalau ada yang ga tercantum /bow
