PLEASE, LOOK AT ME
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Other cast : find it by yourself
Genre : Married Life, Genderswitch, OOC, Angst/hurt *maybe a little bit
Rate : M (mungkin bisa dibilang semi M .-.)
.
.
.
.
.
.
Chanyeol membawa masuk kopernya kedalam kamar di apartemen miliknya. Apartemen ini diberikan oleh orangtuanya, mereka bilang ini sebagai hadiah pernikahan Chanyeol dengan Baekhyun. Sebenarnya, bukan hanya apartemen saja yang diberikan oleh kedua orang tua Chanyeol, mereka juga memberikan Chanyeol tiket pesawat untuk pergi berbulan madu ke Eropa. Dan untuk hal yang ini tentu saja ia menolaknya. Karena ia yakin Baekhyun tidak akan mau pergi.
Chanyeol memasukkan baju-baju yang dibawanya tadi kedalam lemari pakaian yang ada di kamarnya. Satu persatu baju-baju itu sudah berpindah tempat kedalam lemarinya. Koper itu nyaris kosong, namun ada satu hal yang membuat Chanyeol tertarik.
Sebuah bingkai foto.
Chanyeol mengambil bingkai foto yang ada didalam kopernya. Ia membalik bingkai itu dan tersenyum pahit melihat foto tersebut. Foto dirinya bersama seorang perempuan, masa lalunya. Chanyeol tak mengerti kenapa bingkai foto itu bisa masuk kedalam kopernya, entah karena ia tidak sadar saat memasukkannya, atau memang Chanyeol masih ingin mengingat perempuan itu.
Bukan sekedar perempuan di masa lalu Chanyeol, tapi juga perempuan yang membuatnya menikah dengan Byun Baekhyun.
Lagi-lagi, ingatannya terlempar pada waktu satu tahun yang lalu. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak. Chanyeol tidak boleh mengingat itu. Tak sedikitpun ia harus mengingat-ngingat hal yang menyakitkan itu. Ia tak boleh terjebak ke masa lalunya. Karena sekarang, ia sudah memiliki Baekhyun.
Chanyeol membawa bingkai foto itu dan memasukkannya kedalam laci meja. Biarlah bingkai itu tersimpan selamanya disana.
Semua pergerakan Chanyeol terhenti saat ia mendengar pintu kamarnya terbuka.
Baekhyun masuk kedalam kamar –kamarnya dan kamar Chanyeol dengan bathrobe yang menutupi tubuhnya dan sebuah handuk yang melilit dikepalanya. Baekhyun baru saja selesai membersihkan diri dan berniat untuk berganti pakaian.
Perempuan itu melenggang masuk ke kamar tanpa memperduilkan kehadiran Chanyeol. Bahkan, ia menganggap tidak ada Chanyeol disana.
"Eum, Baekhyun."
Baekhyun mengaduk-aduk isi kopernya, mencari baju atau apapun itu untuk mengganti pakaiannya. Ia tidak menggubris Chanyeol yang memanggilnya. Sialnya, yang ia temukan didalam kopernya hanya lingerie, dan pakaian-pakaian seksi lainnya. Tidak ada baju kaus, atau celana panjang. Ia mendengus, dia tahu pasti ini ulah Ibunya.
"Apa?" Baekhyun memutar tubuhnya dan memandang Chanyeol yang berdiri didekat meja rias.
Chanyeol terdiam. Ia bisa melihat raut wajah Baekhyun yang terlihat kesal. Chayeol melirik isi koper Baekhyun, dan ia tertawa dalam hati.
"Kau mau pinjam bajuku? Sepertinya tidak ada pakaian yang 'layak' untuk kau pakai." Tawar Chanyeol. Jujur, sebenarnya Chanyeol ingin melihat Baekhyun mengenakan pakaian seksi itu. Oh ayolah, Chanyeol juga seorang laki-laki. Ia punya hasrat.
Baekhyun berpikir keras. Kalau ia tidak mengganti bajunya, itu akan terkesan jorok. Kalau dia memakai baju Chanyeol, ia juga tak sudi. Dan kalau dia memakai lingerie itu...ah membayangkannya saja sudah malas.
"Tidak, terima kasih." Ucapnya. Final. Baekhyun memutuskan untuk memakai lingerie tersebut. Meskipun tak rela tubuhnya bisa dilihat dengan jelas oleh Chanyeol, tapi...biarkan saja lah. Chanyeol hanya mengangguk pelan dan membiarkan istrinya itu keluar kamar dengan membawa lingerie nya.
Laki-laki itu memutuskan untuk mengganti pakaiannya dengan piyama. Setelah itu, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ia merasa sangat lelah, entah kenapa padahal ia tidak banyak melakukan kegiatan selain berkemas di rumah lamanya.
Lima menit kemudian, Baekhyun kembali kekamar. Chanyeol yang baru saja akan menutupi tubuhnya dengan selimut, membulatkan matanya saat ia memandang tubuh Baekhyun.
Baekhyun mengenakan lingerie berwarna ungu dan itu membuatnya terlihat...seksi. Lingerie itu panjangnya hanya satu setengah jengkal diatas lutut Baekhyun, sangat pendek. Bahkan Chanyeol bisa melihat belahan dada Baekhyun. Oh, sial.
Baekhyun yang menyadari Chanyeol tengah menatapnya dengan tatapan yang aneh, mendengus dalam hati. Biarkan saja, toh hanya untuk malam ini. Ia berjalan menuju ranjang mereka, dan merebahkan tubuhnya disana.
Chanyeol gelagapan, ia terlihat gusar. Namun Chanyeol berusaha untuk tenang.
Baekhyun tidur dengan membelakangi Chanyeol. Ia juga menarik selimutnya sampai batas leher, entah kenapa udaranya terasa dingin. Ini pasti karena Baekhyun memakai pakaian kurang bahan, atau karena selimutnya sangat tipis. Baekhyun merutuk dalam hati.
Chanyeol hanya mendesah pelan melihat perlakuan Baekhyun terhadapnya. Lelaki itu bisa melihat tubuh Baekhyun yang sedikit bergetar, dan Chanyeol baru menyadari kalau Baekhyun kedinginan. Suhu dari pendingin ruangan juga sangat dingin, ditambah Baekhyun yang berpakaian seperti itu.
Chanyeol bangkit dari ranjangnya, ia berjalan menuju lemari dan mengeluarkan sebuah selimut tebal. Ia mengembangkan selimut tebal itu dan menyelimuti tubuh Baekhyun.
Baekhyun membuka matanya saat ia menyadari tubuhnya tak lagi kedinginan. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Chanyeol menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Drrtt...drrrtttt...
Baekhyun membuang wajahnya saat menyadari ponselnya bergetar diatas nakas. Ia memicingkan matanya berusaha membaca nama yang tertera pada ponselnya yang berkedip itu. Wajahnya langsung berubah, tersenyum cerah begitu tau siapa yang meneleponnya malam-malam begini.
Chanyeol menghela nafasnya, dia tahu siapa yang menelepon Baekhyun malam-malam begini tanpa harus melihat ponsel milik istrinya. Lelaki itu tersenyum sedih, kemudian kembali berbaring diranjangnya.
Dia tidak mengerti, apa yang kurang dari seorang Park Chanyeol. Orang bilang ia memiliki wajah yang tampan, kekayaan yang berlimpah, dan lain-lain. Orang-orang menggambarkan Chanyeol sebagai makhluk yang nyaris sempurna.
Jadi, apa yang kurang dari Park Chanyeol untuk mendapatkan cinta seorang Byun Baekhyun?
Bahkan, pernikahan ini hanya berdasar atas kemauan Chanyeol sendiri dan kemauan kedua orang tua mereka. Baekhyun sendiri tidak menginginkannya, tapi terpaksa karena ini permintaan orang tuanya.
Chanyeol tahu...Baekhyun hanya mencintai seorang namja bernama...
"Yeoboseyo, Kris? Ada apa kau meneleponku malam-malam begini?"
Kris. Ya, orang yang dicintai Baekhyun adalah Kris. Seorang namja berdarah china-kanada. Memiliki wajah yang tak kalah tampan dari Chanyeol bahkan namja itu terlihat seperti orang barat jika dilihat sekilas.
Bahkan setelah pernikahan mereka, Baekhyun masih berani menyebut nama Kris di depan Chanyeol.
Dan jadilah malam itu Chanyeol tidur diiringi dengan suara Baekhyun yang dengan mesranya berbicara dengan Kris melalui telepon.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun menggeliat dalam tidurnya saat menyadari cahaya matahari menembus masuk kedalam kamarnya. Perempuan itu melirik jam dinding, sudah pukul tujuh pagi.
Ia mendudukkan tubuhnya, matanya masih terasa lengket. Saat Baekhyun menolehkan kepalanya ke samping, ia menyadari Chanyeol sudah tidak ada diranjangnya.
Baekhyun tak peduli, ia mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas. Baekhyun ingin mengirimi Kris pesan.
Baru dua menit setelah Baekhyun mengirimi Kris pesan, ponsel Baekhyun bergetar kembali. Kris meneleponnya.
"Selamat pagi, Kris." Kata Baekhyun dengan mesranya. Baekhyun bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju cermin besar yang ada dikamarnya, masih dengan ponsel yang menempel ditelinganya.
"Ya ya, aku tidur dengan nyenyak. Uh, Kris apa kau bisa menemaniku membeli pakaian nanti sore? Kau tau, Ibuku membawakanku pakaian-pakaian konyol." Baekhyun memandang pantulan tubuh seksinya di cermin, ia tersenyum menggoda.
"Baiklah, nanti sepulang kerja aku akan meneleponmu. Bye, darling."
Sementara itu, tanpa disadari Baekhyun, Chanyeol sudah berdiri diambang pintu. Wajah lelaki itu jelas terlihat sedih. Chanyeol mendengar percakapan Baekhyun dengan Kris tadi. Padahal, niatnya ia ingin membangunkan Baekhyun dan mengajaknya untuk sarapan bersama. Tapi, yang didapatnya malah seperti ini.
Baekhyun membalikkan tubuhnya dan sedikit terperanjat saat melihat Chanyeol didepan pintu.
'Sejak kapan dia berdiri disitu? Huh.' Batinnya dalam hati.
"Baekhyun, aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Aku juga sudah membawakan pakaianmu untuk bekerja nanti." Chanyeol membuka suaranya lebih dulu, meski hatinya terasa sesak.
Baekhyun hanya bergumam sebagai jawaban. Entah apa yang membuatnya tidak menyukai Chanyeol. Selama ini ia selalu bersikap cuek pada lelaki itu.
.
.
.
Setelah mandi dan berpakaian, Baekhyun duduk di kursi ruang makan. Dihadapannya sudah tersedia makanan untuk sarapannya. Ia memandang sekeliling, tidak ada Chanyeol. Mungkin Chanyeol sudah selesai sarapan.
Baekhyun mulai menyantap sarapannya dengan tenang. Masakan Chanyeol tidak buruk, padahal Baekhyun kira Chanyeol tidak bisa memasak. Lumayan juga.
Saat suapan ke empat, Chanyeol muncul di ruang makan. Lelaki itu sudah mengenakan pakaian kerjanya. Jas hitam, kemeja putih dengan dasi merah, kaki panjangnya terbungkus celana panjang berwarna hitam, senada dengan warna jasnya. Jujur saja, Baekhyun merasa Chanyeol terlihat gagah dan tampan saat berpakaian seperti itu. Tapi kenapa ia sama sekali tidak menaruh hati pada laki-laki itu?
"Apa kau menyukai masakanku, Baek?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun langsung menghentikan kegiatan makannya. Ia cepat-cepat meneguk segelas air putih sampai habis. Entah kenapa selera makannya menghilang.
"Lumayan."
Lalu Baekhyun berdiri, ia mengambil tas kerja nya dan bersiap untuk pergi. Tapi Chanyeol menahannya dengan memegang pergelangan tangan Baekhyun.
"Kita berangkat bersama. Aku tidak mau orang-orang di kantor curiga dengan kita." Kata Chanyeol. Sebenarnya ini bukan masalah orang-orang dikantor akan curiga pada mereka berdua, hanya saja...Chanyeol ingin berangkat bersama Baekhyun. Dia tidak ingin Baekhyun berangkat dengan Kris.
Baekhyun melepaskan cengkraman Chanyeol pada pergelangan tangannya. Ia mendengus.
"Baiklah."
.
.
.
.
.
.
Mobil porsche berwarna biru milik Chanyeol sudah berhenti didepan gedung Park Corporation. Chanyeol melepas seatbelt nya lalu membuka pintu mobil. Dengan sedikit berlari Chanyeol menghampiri Baekhyun dan membukakan pintu mobilnya.
Baekhyun sama sekali tidak tersanjung dengan perlakuan Chanyeol. Tentu saja karena ia sendiri juga tidak menginginkan hal ini.
Setelah memastikan mobilnya sudah terkunci, Chanyeol berjalan beriringan dengan Baekhyun masuk kedalam kantor.
Saat pasangan yang baru saja menikah itu masuk kedalam kantor, semua mata tertuju pada mereka. Mereka berbisik, betapa beruntungnya Baekhyun bisa memiliki Chanyeol.
Samar-samar Baekhyun bisa mendengar gerutu-gerutu dari karyawan perempuan saat Baekhyun melintas didepan mereka. Baekhyun tersenyum kecut.
Andai saja Baekhyun mencintai Chanyeol seperti ia mencintai Kris, pasti Baekhyun akan merasa beruntung sudah memiliki Chanyeol. Seperti yang dikatakan karyawan perempuan tadi.
"Yo, Chanyeol. Kau sudah masuk kerja? Apa kau tidak ingin berbulan madu lebih lama?"
Chanyeol dan Baekhyun menghentikan langkahnya saat seorang lelaki berkulit tan berdiri dihadapannya. Ia tersenyum lebar melihat Baekhyun.
"Selamat pagi, Park Baekhyun." Goda lelaki tadi –Kai.
Chanyeol menyadari Baekhyun mulai tidak nyaman dengan kehadiran Kai, mempersilahkan Baekhyun untuk pergi duluan ke ruangannya. "Kau duluan saja, Baek." Katanya.
Baekhyun melirik Kai dengan sinis sekilas, lalu pergi ke ruangannya.
"Masih tetap dingin. Seperti es." Kata Kai diiringi dengan gelak tawanya. "Ya Chanyeol, apa kau sudah melakukan 'itu' padanya? Bagaimana rasanya?" Kai berbisik di telinga Chanyeol.
Chanyeol menelan salivanya sendiri, jangankan melakukan 'itu' menyentuhnya saja Chanyeol tidak berani.
"Kau mau tau rasanya? Lebih baik kau lakukan itu pada si mata bulat kesayanganmu itu." Jawab Chanyeol sambil menunjuk seorang perempuan dengan dagunya. Kai mengikuti arah pandang Chanyeol dan mendapati Kyungsoo sedang berdiri menunggu lift.
"Kau benar! Kurasa aku akan mengajaknya malam ini." Kai memamerkan deretan giginya, lalu berlari meninggalkan Chanyeol sebelum lelaki itu mendapat jitakan keras dari Chanyeol karena pikirannya yang mesum.
.
.
.
.
Baekhyun terlihat fokus dengan laptop yang ada dihadapannya. Jemari lentiknya bergerak dengan lincah diatas keyboard. Baekhyun sedang membuat proposal untuk meeting minggu depan.
Sebenarnya Baekhyun bisa saja menyelesaikan proposal ini dalam waktu lima menit, tapi entah kenapa otaknya sulit diajak bekerja sama. Keahliannya sudah tidak perlu diragukan lagi, Baekhyun sudah empat tahun menjadi sekretaris Direktur Park Corporation. Tapi tetap saja, kali ini ia sedang tidak mood.
"Permisi, Baekhyun." Seorang lelaki berkulit pucat berdiri dihadapannya dengan setumpuk dokumen. "Apa kau bisa membawakan dokumen ini pada Tuan Chanyeol?"
Baekhyun mendengus, apa laki-laki ini tidak bisa membawanya sendiri?
Seolah mengerti dengan sikap Baekhyun, lelaki itu kembali membuka suaranya. "Aku sedang banyak pekerjaan, jadi...yah, kurasa kau bisa membantuku."
"Aku juga sedang banyak pekerjaan, Tuan Oh Sehun." Katanya ketus, tapi akhirnya dokumen itu sudah berpindah tangan ke Baekhyun. "Kamsahamnida, Baekhyun." Lelaki bernama Sehun itu membungkukkan badannya, lalu berjalan meninggalkan Baekhyun.
Baekhyun bangkit dari kursi kerjanya, ia berjalan menuju ruangan Chanyeol yang tidak jauh dari tempatnya. Tentu saja, karena sekarang ia menjadi sekretaris Chanyeol.
Baekhyun mengetuk pintu tiga kali, setelah mendapatkan izin untuk masuk ia membuka pintu tersebut.
Chanyeol sedikit terkejut melihat Baekhyun masuk ke ruangannya. Ia pikir Baekhyun hanya ingin melihatnya, atau apa. Tapi ternyata Baekhyun hanya mengantarkan setumpuk dokumen yang harus Chanyeol tanda tangani.
"Silahkan tanda tangani ini." Baekhyun menyerahkan dokumen-dokumen itu pada Chanyeol.
Chanyeol mengambil dokumen itu, pandangannya tak lepas dari Baekhyun yang berdiri disampingnya.
"Aku menunggumu, Tuan Chanyeol." Ujar Baekhyun dengan dingin, karena sedari tadi Chanyeol hanya memandanginya sama sekali tidak menggubris dokumen tadi.
Chanyeol mulai menandatangani dokumen-dokumen tadi. Tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya. Setelah selesai, ia menyerahkan kembali dokumen tadi pada Baekhyun.
"Terima kasih." Kata Baekhyun singkat, lalu ia berjalan meninggalkan Chanyeol.
Tapi dengan cepat Chanyeol menarik tangan Baekhyun sampai perempuan itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh terduduk diatas pangkuan Chanyeol.
Baekhyun terkesiap, ia berusaha melepaskan dirinya saat tangan Chanyeol mulai melingkari pinggulnya. Tapi Baekhyun seolah tidak memiliki tenaga, dan Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya.
"Chanyeol, aku sedang banyak pekerjaan." Lirih Baekhyun, masih berusaha melepaskan tangan Chanyeol.
Chanyeol memejamkan matanya, dengan jarak sedekat ini laki-laki itu bisa merasakan tubuh Baekhyun yang harum. Dan ia menyukainya.
Sadar Chanyeol tak berkutik sama sekali, Baekhyun mulai kesal. "Tuan Park Chanyeol, tolong lepaskan." Katanya penuh penekanan. Mungkin terdengar sedikit ketus.
Chanyeol yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya. Ia memandang istrinya lalu tersenyum. "Pergilah. Kau sedang banyak pekerjaan bukan?" Ucapnya lembut.
Baekhyun berjalan meninggalkan ruangan Chanyeol tanpa sepatah katapun.
Chanyeol meringis pelan saat mendengar debaman pintu yang ditutup kasar oleh Baekhyun. Mungkin Baekhyun kesal –pikirnya. Pandangan Chanyeol beralih pada foto pernikahan mereka yang terpampang di ruang kerjanya.
Betapa laki-laki itu memuji kecantikan perempuan yang berdiri di sebelahnya. Berdiri dengan menggenggam buket bunga mawar, lalu tersenyum manis.
Tapi Chanyeol sadar, senyuman Baekhyun itu bukan senyuman yang tulus. Bukan senyuman seperti yang Chanyeol lakukan. Itu...hanya senyum palsu.
Senyuman palsu, dan pernikahan...palsu?
Chanyeol menghempaskan tubuhnya pada senderan kursi kerjanya. Ia memijit pelipisnya pelan, memikirkan pernikahannya dengan Baekhyun bisa membuatnya stress.
.
.
.
.
.
.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Itu tandanya jam kerjanya sudah selesai. Baekhyun membereskan mejanya yang bertumpuk dokumen.
Drrtt...drrtttt...
Ponsel milik Baekhyun bergetar diatas meja, dan berkedip-kedip. Baekhyun mengambilnya, dan tersenyum begitu tahu Kris meneleponnya.
"Yeoboseyo? Ada apa Kris?"
"Kau sudah menjemputku? Apa kau sudah berada dibawah?"
"Arra, sebentar lagi aku turun. Tunggu aku."
Baekhyun mengakhiri percakapan singkatnya dengan Kris. Perempuan itu mengambil bedak dari dalam tasnya, dan memakainya. Dan tak lupa ia memoleskan sedikit eyeliner pada mata indahnya. Ia harus tampil cantik.
Bersamaan dengan itu, Chanyeol keluar dari ruangannya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Baekhyun sedang berdandan.
"Ayo kita pulang Baek." Ajak Chanyeol.
Baekhyun melirik Chanyeol sekilas. Ia memasukkan peralatannya tadi kedalam tas, lalu menutupnya.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku mau pergi sebentar." Jawabnya.
Belum sempat Chanyeol membuka mulutnya kembali, Baekhyun sudah pergi meninggalkannya sendirian. Laki-laki itu hanya bisa menghela nafasnya melihat perlakuan istrinya yang seperti itu.
.
.
.
.
Sesampainya di basement, Baekhyun tersenyum saat melihat laki-laki yang dicintainya sedang menunggunya sambil bersandar di mobil sedannya. Baekhyun mempercepat langkahnya.
"Kris, apa kau sudah lama menungguku?" Kata Baekhyun sambil bergelayut manja di lengan besar Kris. Baekhyun bersyukur keadaan disekitarnya lumayan sepi, tidak ada yang melihatnya dengan Kris.
Laki-laki blasteran itu tersenyum, ia mengacak rambut Baekhyun dengan gemas. "Tidak, aku baru sampai lima menit yang lalu Baek." Tiba tiba pandangan Kris beralih pada seseorang yang menatap kemesraan mereka berdua dari kejauhan. Kris bisa mengenali laki-laki bertubuh tinggi itu menatapnya dengan intens. Chanyeol. Sebuah ide terlintas begitu saja di pikirannya. Kris menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian.
Kris mengangkat wajah cantik Baekhyun dengan tangannya. Sekali lagi, ia melirik Chanyeol dan menyeringai kearahnya.
CUP..
Kris mendaratkan bibirnya pada bibir merah Baekhyun yang terlihat menggoda. Tidak puas hanya dengan mengecupnya saja, Kris mulai melumat bibir Baekhyun. Perempuan mungil itu awalnya tersentak, tapi akhirnya ia mengalungkan tangannya pada leher Kris dan balas melumat bibir Kris juga.
Kejadian itu bisa dilihat dengan jelas oleh kedua mata Park Chanyeol. Bagaimana laki-laki lain dengan beraninya mencium istrinya sendiri didepan matanya. Itu pasti bukan sebuah hal yang kebetulan, itu disengaja. Pasti.
Chanyeol mendecih, bukannya ia tak peduli dengan Kris dan Baekhyun. Pemandangan seperti itu sudah biasa baginya. Mungkin bisa dibilang, perlakuan Kris itu sudah tidak mempan untuknya. Chanyeol memilih berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan dua orang yang masih larut dalam kegiatannya itu.
Kris baru melepaskan pagutannya pada bibir Baekhyun begitu menyadari Chanyeol sudah tak ada disana. Baekhyun baru saja ingin membuka mulutnya, hendak protes karena Kris melepaskan ciumannya begitu saja. Tapi tiba-tiba telinga Baekhyun menangkap suara deru mobil yang tak asing baginya. Ia bisa melihat mobil milik Chanyeol baru saja melintas melewatinya dan Kris. Baekhyun tersenyum kecut.
"Dia melihatnya?"
Kris mengangguk sebagai jawaban 'iya' dari pertanyaan Baekhyun. Baekhyun memutar tubuhnya dan mendapati mobil Chanyeol sudah hilang dari pandangannya. Entah kenapa, jauh didalam hatinya ia merasakan perasaan aneh. Baekhyun juga tidak mengerti perasaan aneh apa itu. Mungkinkah ia merasa bersalah pada Chanyeol? Entahlah.
'Mianhae, Chanyeol.' Lirih Baekhyun.
"Baek, ayo kita pergi." Kris menarik tangan Baekhyun membuat perempuan itu tersentak dari lamunannya. Ia hanya bisa menurut saat tangan Kris menariknya masuk kedalam mobil.
.
.
.
.
.
Chanyeol mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia seakan menulikan pendengarannya saat klakson mobil-mobil dijalanan itu berbunyi silih berganti karena aksi gilanya itu. Ia tak peduli.
Lelaki itu meremas stir mobilnya kuat-kuat saat bayangan Kris dan Baekhyun sedang berciuman tadi menari di pikirannya. Dia yakin Baekhyun menyadari kehadirannya disana, dan bagaimana bisa perempuan yang berstatus sebagai istri nya itu melakukan hal seperti itu dihadapannya.
Oh ya, tentu saja jawabannya karena sebenarnya Baekhyun tak mencintai Chanyeol. Tapi...benarkah karena hal itu?
Chanyeol menggeram saat mendengar ponselnya berbunyi diatas dashboard. Ia terpaksa memperlambat laju mobilnya lalu mengambil ponselnya. Ibunya meneleponnya.
"Yeoboseyo?" Chanyeol menempelkan ponselnya ditelinga lebarnya dengan mata yang tetap fokus pada jalanan dihadapannya.
"Chanyeol? Apa kau baik-baik saja? Kau sedang dimana, sayang?"
"Aku baik-baik saja Eomma. Ah, aku sedang dijalan. Memangnya ada apa Eomma?"
"Tidak apa-apa. Eomma hanya ingin mengajakmu makan malam dirumah, apa kau mau? Oh iya, bawalah Baekhyun bersamamu. Eomma sudah memasak banyak untuk kalian."
Chanyeol terdiam sesaat. Pasalnya, Baekhyun sedang tidak bersamanya sekarang. Apa yang harus ia katakan? Mana mungkin ia bilang pada Ibunya kalau Baekhyun sedang bersama laki-laki lain.
"Aku bisa Eomma. Tapi aku tak bisa membawa Baekhyun karena Baekhyun sedang pergi bersama teman-teman kantornya." Bohong Chanyeol. Chanyeol bisa menangkap desahan kecewa dari Ibunya diseberang sana.
"Ya sudah. Tidak apa-apa Chanyeol. Eomma tunggu kedatanganmu. Hati-hati dijalan."
Chanyeol memutuskan sambungan telepon dengan Ibunya saat ia menjawab 'ya' dan menyimpan kembali ponselnya diatas dashboard. Laki-laki itu langsung memutar arah jalannya menuju rumah Ibunya, tanpa Baekhyun.
.
.
.
.
.
.
.
Mobil Kris berhenti didepan sebuah klub malam. Setelah satu jam menemani perempuan yang ada disampingnya pergi belanja, ia memutuskan untuk mengajak Baekhyun pergi ke klub. Hitung-hitung untuk menghilangkan penat sehabis bekerja –Kata Kris.
Baekhyun menyimpan beberapa kantung belanjanya di jok belakang mobil Kris. Kris membukakan pintu mobilnya untuk Baekhyun dan menyambut tangan perempuan mungil itu bagai seorang ratu yang akan turun dari kereta kencananya. Perlakuan Kris membuat Baekhyun tersanjung, persis seperti perlakuan Chanyeol tadi pagi. Bedanya, ia tak merasakan apapun saat Chanyeol melakukan itu.
Baekhyun menggandeng tangan Kris dengan mesra sambil berjalan masuk kedalam klub malam tersebut. Sesampainya didalam, Baekhyun langsung disambut dengan dentuman musik yang membuat dadanya berdegup kencang. Kris menarik tangan Baekhyun dan mengajaknya untuk duduk disalah satu sofa yang kosong, jauh dari keramaian.
"Kau pesan apa Baby?" Kata Kris sambil mengusap kepala Baekhyun dengan sayang.
"Aku mau Vodka Kris."
"Wow, apa kau ingin pulang dalam keadaan mabuk Baek? Bagaimana kalau Chanyeol curiga?"
Baekhyun mendengus saat mendengar nama Chanyeol keluar dari bibir Kris. "Sudahlah biarkan saja."
Kris hanya bisa mengangguk lalu memanggil salah satu pelayan yang lewat dihadapannya. Setelah menyebutkan pesanannya pada pelayan tersebut, ia melirik Baekhyun yang memejamkan matanya. Sepertinya Baekhyun lelah. Tapi bukan itu yang ada dipikiran Kris. Mata Kris tertuju pada bibir merah Baekhyun yang seksi, yang selalu membuat Kris tergoda dan ingin melumat bibir itu sepuasnya.
Baekhyun sontak membuka kedua matanya saat ia merasakan tangan Kris mengelus pahanya dari balik rok hitam yang ia kenakan. Ia tersenyum tipis dan membiarkan laki-laki itu berbuat semaunya.
Elusan tangan Kris pada paha Baekhyun perlahan berubah menjadi sebuah remasan pelan. Kris memandang penuh nafsu pada Baekhyun yang masih saja memejamkan matanya. Masih tak ada respon, tangannya semakin berani naik untuk mengelus perut rata Baekhyun dari luar kemejanya. Usaha Kris untuk menggoda Baekhyun sepertinya sia-sia. Perempuan mungil itu hanya membuka matanya sekilas lalu kembali memejamkannya. Baekhyun sengaja melakukan hal itu, ingin tahu sampai mana Kris berani bertingkah padanya.
Merasa dipermainkan, Kris langsung saja mendaratkan bibirnya pada bibir merah Baekhyun yang menggoda. Lagi-lagi Baekhyun melancarkan aksi 'diam'nya pada Kris. Karna itu, Kris langsung melumat bibir Baekhyun dengan sedikit kasar. Baekhyun sendiri hanya diam saja, tidak membalas.
Kris mulai bosan karena hanya dia sendiri yang mendominasi permainannya. Ia melepaskan lumatannya pada bibir Baekhyun dan kembali menyender pada sofa.
Baekhyun terkikik saat membuka matanya. Ia tersenyum miring melihat wajah kesal Kris. Langsung saja Baekhyun menarik dasi yang digunakan Kris hingga tubuh Kris ikut tertarik dan wajah mereka kini berhadapan. Baekhyun mendekatkan bibir seksinya pada bibir tebal Kris. Ia mengeluarkan lidahnya dan menjilat bibir Kris sekilas. Kemudian ia melonggarkan tarikannya pada dasi Kris, dan mengedipkan sebelah matanya.
Kris mendecih. Ia tahu saat ini Baekhyun sedang menggodanya, sebagai balasannya Kris meraih pinggul Baekhyun dan menariknya hingga perempuan itu kini duduk dipangkuannya dengan wajah yang berhadapan. Ia langsung menekan tengkuk Baekhyun dan meraih bibirnya. Kris melumatnya sedikit kasar, entah kenapa mungkin karena nafsu dan tempat yang sangat mendukung.
Baekhyun mengalungkan tangannya pada leher Kris dan mulai membalas lumatan yang diberikan Kris. Perempuan itu sedikit tidak nyaman dengan posisinya karena rok span yang ia pakai membuatnya susah untuk duduk. Baekhyun melenguh saat tangan Kris mulai menjelajahi setiap inchi tubuhnya. Kris tidak menyia-nyiakan hal itu,ia langsung melesakkan lidahnya masuk kedalam rongga mulut Baekhyun. Lidahnya mengabsen satu persatu gigi Baekhyun. Mereka berdua terbuai dengan ciuman panas yang mereka lakukan. Sampai Kris dengan beraninya mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang Baekhyun pakai. Beruntunglah suasana klub ini gelap, tidak akan ada yang melihat Baekhyun dengan pakaian yang terbuka.
"Permisi, ini pesanan anda."
Kris mendecak kesal saat melihat seorang pria berdiri didepannya sambil membawakan dua botol vodka serta dua buah gelas. Dengan sangat terpaksa ia kembali merapihkan baju Baekhyun dan menyuruh perempuan itu kembali ketempat duduknya. Kris menyeka saliva yang tercecer disekitar bibirnya, lalu membayar semua pesanannya.
Baekhyun sedikit kesal karena acaranya sempat terganggu. Ia mendengus, lalu mulai menuangkan vodka nya kedalam gelas.
Dan tanpa disadari mereka berdua, seseorang melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan tadi. Sosok itu duduk tak jauh dari meja Baekhyun dan menutupi dirinya dengan buku menu. Ia menyeringai puas dibalik buku menu itu.
'Kau ketahuan Baekhyun. Lihat pembalasanku.'
.
.
.
.
Dan disinilah Chanyeol sekarang. Duduk diatas kursi dan menikmati hidangan yang dimasak oleh Ibunya. Ia hanya mengaduk-aduk isi piringnya dengan sendok. Tidak, bukan karena masakan Ibunya tidak enak. Hanya saja selera makannya hilang, dan pikirannya melayang pada Baekhyun.
Apa yang sedang Baekhyun dan Kris lakukan sekarang?
"Chanyeol, kenapa dari tadi kau hanya mengaduk-aduk makananmu huh?"
Chanyeol mengangkat wajahnya dan melihat Ibunya yang memasang tatapan khawatir padanya. Sejak kedatangan Chanyeol kemari, anak itu sama sekali tidak memasang wajah yang menunjukkan 'aku baik-baik saja' dan itu membuat Ibunya heran.
Chanyeol hanya menggeleng pelan. Ia terpaksa menyendokkan makanannya kedalam mulutnya agar Ibunya tak lagi bertanya-tanya.
"Apa Baekhyun masih bersikap tak baik padamu, nak?"
Nyonya Park bukanlah Ibu yang bodoh yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada anaknya sendiri. Meskipun Chanyeol mengatakan ia tidak apa-apa, tapi ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada anaknya itu.
Chanyeol menelan makanannya dengan susah payah. Setelah makanan itu sukses melewati tenggorokannya, ia tersenyum tipis. "Tidak, Eomma. Hubungan kami baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir."
"Apa dia masih menganggapmu menikahinya karena terpaksa?"
"Entahlah, Eomma. Dia benar-benar tidak mengerti kalau aku ini sungguh-sungguh mencintainya. Dan menikahinya bukan karena terpaksa atau tuntutan..."
Nyonya Park hanya diam. Ia menyendokkan makanannya kedalam mulutnya. Pikirannya berkecamuk. Ia juga sedih karena kehidupan percintaan anaknya tak seperti orang-orang lain.
"Dia berbeda dengan Baekhye." Katanya, lagi.
Chanyeol menatap Ibunya lurus-lurus. Lagi-lagi nama itu keluar dari bibir Ibunya. Tak bisakah Ibunya hanya diam dan tidak mengungkit-ungkit Baekhye –
─Saudara kembar Baekhyun?
.
.
.
.
.
.
Baekhyun berjalan masuk kedalam gedung apartemennya dengan langkah yang terseok. Ia mabuk berat dan tidak membiarkan Kris mengantarnya kedalam karena tak ingin Chanyeol menghajarnya. Perempuan itu tak memperdulikan tatapan tajam dari orang-orang yang ada disekitarnya. Bagaimana tidak, kondisinya dalam keadaan mabuk serta pakaian yang acak-acakan. Bahkan Baekhyun sempat mengumpat orang-orang yang menatapnya seperti itu dan menatapnya balik dengan tajam.
Dengan susah payah akhirnya ia sampai di lantai dua puluh lima, tempat dimana apartemennya berada. Tangannya meraih handle pintu, dan sialnya pintu itu terkunci. Baekhyun lupa kalau apartemennya memiliki password, dan bodohnya ia tidak mengetahui apa passwordnya. Dan hanya Chanyeol yang tahu.
"Cih, apa dia belum pulang." Baekhyun menggerutu tidak jelas dan mengumpat-umpat Chanyeol. Pasalnya kepalanya sudah terasa sangat pusing, ia ingin tidur.
Tubuhnya ambruk begitu saja didepan pintu apartemennya karena tak kuat lagi menahan pusing.
.
.
.
.
Chanyeol sudah sampai di basement gedung apartemennya. Setelah memarkirkan mobilnya, Chanyeol melirik jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia sampai lupa waktu karena terlalu asik bercerita dengan Ibunya. Chanyeol sangat mengkhawatirkan Baekhyun, pasalnya sejak tadi Chanyeol berusaha menelepon Baekhyun untuk menanyakan dimana keberadaannya. Tapi ponsel Baekhyun tidak aktif.
Ia berjalan menuju lift dan menekan tombol dua puluh lima untuk sampai di apartemen miliknya. Sambil menunggu,ia mengambil kembali ponselnya dan berusaha kembali menghubungi Baekhyun.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..."
Ia mendecak kesal dan memasukkan kembali ponselnya saat pintu lift sudah terbuka. Chanyeol keluar dari dalam lift dan berjalan menuju apartemennya.
Matanya membulat sempurna saat menyadari ada tubuh yang tergeletak didepan pintu apartemennya. Dari jauh ia bisa mengenali siapa itu. Byun Baekhyun.
Laki-laki itu mempercepat langkahnya mendekati Baekhyun.
"Baek, bangun Baek." Chanyeol menepuk pipi Baekhyun dengan pelan, berusaha membangunkannya. Hidung Chanyeol bisa merasakan bau alkohol yang melekat pada Baekhyun. Chanyeol menggelengkan kepalanya. Baekhyun mabuk.
Chanyeol menekan beberapa angka pada papan yang ada disamping pintunya. Setelah pintu apartemennya terbuka, ia mengangkat tubuh Baekhyun dan menggendongnya masuk kedalam.
Laki-laki itu membawa Baekhyun masuk kedalam kamar dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Lagi-lagi Chanyeol menggelengkan kepalanya. Lihatlah, istrinya mabuk dan pakaiannya acak-acakan. Hati Chanyeol memanas, berbagai pikiran buruk singgah diotaknya.
"Pria macam apa yang mengajakmu mabuk sampai seperti ini. Bodoh!" Ia mengacak rambutnya frustasi, lalu menghempaskan bokongnya dan duduk diatas ranjang.
Chanyeol memandang lekat-lekat wajah Baekhyun yang sedang tertidur. Tangannya bergerak untuk menyeka peluh yang mengalir pada dahi Baekhyun, kemudian berlanjut mengelus kepala Baekhyun dengan lembut.
Ia tak habis pikir kenapa Baekhyun masih saja seperti ini. Chanyeol menjauhkan dirinya dari Baekhyun dan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti untuk Baekhyun.
Awalnya ia sedikit canggung saat ia akan membuka kancing kemeja Baekhyun. Ia membuka satu persatu kancing kemeja Baekhyun dan lagi-lagi ia membulatkan matanya saat melihat bercak-bercak merah disekitar leher istrinya sampai di dadanya.
Chanyeol merasa ingin meledak sekarang. Bagaimana bisa laki-laki kurang ajar itu melakukan hal seperti ini pada istrinya. Apa saja yang sudah dilakukannya dengan Baekhyun, hah? Bahkan ia sendiri belum pernah menyentuh Baekhyun.
"Dia berbeda dengan Baekhye.."
Kata-kata Ibunya tadi terngiang begitu saja ditelinga Chanyeol. Laki-laki itu tertawa miris. Ibunya benar, Baekhyun memang berbeda dengan Baekhye.
Chanyeol cepat-cepat memakaikan baju pada Baekhyun. Lalu menyelimuti tubuh Baekhyun dengan selimut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Chanyeol berjalan keluar menuju balkon dan membuka jendelanya. Angin berhembus dengan kencang saat Chanyeol membuka jendelanya. Ia membiarkan angin itu membelai-belai pipinya yang terasa dingin.
Chanyeol mendongak, menatap langit malam dengan taburan bintang diatasnya. Ia tak tau kenapa tiba-tiba saja ia mengingat permohonan terakhir orang yang ia cintai sebelum orang itu pergi meninggalkannya.
"Chanyeol, menikahlah dengan Baekhyun. Kau tahu aku tidak bisa berada disisi mu untuk selamanya. Jadi...menikahlah dengan Baekhyun, saudara kembarku."
.
.
.
.
.
TBC
Author's Note : tbc dengan tidak elitnya alias ngegantung. Wkwk. terimakasih untuk review nya di prolog kemarin. Gak nyangka ternyata pada penasaran sama ceritanya hoho. Mian karena updatenya lama, sebenarnya waktu itu udah siap di publish tapi tiba-tiba aja aku pengen ubah alur ceritanya lagi /plin plan/ dan sekarang baru selesai ^^
Aku tau pasti kalian bingung sama ceritanya /? *plak* ikutin aja udah, nanti juga ngerti wkwk xD mungkin ini konfliknya berat bgt yah?._. btw, kocak gak sih kalau disini chanyeol yang tersiksa?-_- wkwk maafkan aku oppa TT maaf ya kalau karakter chanyeol disini agak menye-menye gitu.
Dan maaf banget buat NC atau saudara2nya aku baru bisa bikin kayak gitu huhu dan terlebih lagi itu nc an nya sama kris. Author jd bingung sendiri sebenernya ini ff chanbaek atau krisbaek?wkwkwk nanti ada jatahnya kok nc chanbaek /plak/ author sempet syok pas baca review ada yg minta BDSM ebuseeet belom mampu bikin kaya gitu chingu mianhae TT
Jadi...ada yang udah ngerti gmn ceritanya? Kalau blm yagapapa sih nanti diperjelas di chapter selanjutnya.
So jgn lupa review lagi hehe xD
Thanks to
Love ChanBaek | ChanBaekLuv | Cucu200293 | alfianisheila | chocoabaek | PCYpunyaBBH | HanByYoon-Ae | ParkByun | septhaca | chanyurrr | TrinCloudSparkyu | ShinJiWoo920202 | ade sekarini 52 | SyiSehun | baki | princepink | Baeklinerbyun | Frozen Peony | Namu Hwang | Baby Kim | KarlinaAmelia | sayakanoicinoe | Guest | exindira | Iyou | 9394loves | mpiet lee | shallow lin | parklili | joan | welcumbaek | devie chaniago 9 | Syifa Nurqolbiah | Gigi onta | devrina | saengieddww1122
.
Ada yang belom kesebut? Hoho makasih banyak all buat reviewnya.
Saranghae, chu~
