Minna! Kali ini suki update cerita ini. Seharusnya sih Suki update I Will Protect You, eh malah yg ke update ini. Gomen... Oke, minna maksih yang udah review. maaf kalo gak ada yang ke bales, pokoknya makasih yang udah mau review. hehehhehe... Oke, minna yang masih bingung siapa yang nyatain cinta akan terjawab di chap ini. Happy Reading...
Disclaimer : Tite Kubo-sensei
Rated : T
Warning : Sho -ai, AU, OOC, Typo(s), and anything.
I DO NOT OWN BLEAC AND I'M WARNED YOU!
LOVE CONTRACT
Chapter 2
By : Sukikawai-chan
"Ya, aku menyukaimu..."
.
.
.
"I…chi…go…."
Rukia membelalak. Apa yang ada di hadapannya saat ini adalah hal yang sangat absurd baginya. Mulutnya menganga ketika kedua iris violetnya menangkap adegan seperti film action yang dilihat secara langsung. Tepat di depan matanya.
Berbeda dengan Grimmjow, laki-laki bermata azure itu malah mengeluarkan seringai khas-nya. Awalnya ia sempat terkejut begitu Ichigo melakukan hal yang tidak diduganya. Ia sempat berpikir pernyataan sukanya yang ia ucapkan tadi ditujukan untuk Rukia. Namun dugaannya begitu salah telak. Pernyataan itu ditujukan untuk laki-laki yang pernah Grimmjow lihat. Terlebih saat melihat laki-laki bertubuh mungil dan memilik rambut berwarna perak yang menjadi sasaran Ichigo saat ini. Grimmjow tahu orang itu. Orang yang ditemuinya saat dompetnya terjatuh. Dan harus Grimmjow akui, ada getaran aneh merayap naik ke hatinya saat ia melihat pemandangan di depannya.
Ketika Ichigo mencium Hitsugaya. Tepat di bibirnya.
"Ah! Kurosaki-sama mencium seseorang!"
Semuanya terjadi begitu cepat. Para tamu dan wartawan yang menangkap adegan seorang putra sulung dari pengusaha terkenal Kurosaki yang berteman baik dengan perusahaan Kuchiki dan Jaegerjaquez, sedang mencium seseorang. Dan lebih tepatnya, mencium seorang laki-laki. Kejadian yang langka bukan? Di kota Karakura, dimana semua orang tak ada yang dibedakan, berpacaran atau memiliki kekasih yang berjenis kelamin sama bukanlah masalah. Perempuan atau laki-laki, semuanya sama saja.
Cahaya-cahaya blitz bertebaran dimana-mana. Suara orang yang bertanya dan teriakan menjadi satu. Membuat suasana di sekitar menjadi sangat ribut dan ramai. Para wartawan berebut ingin mendapatkan foto Hitsugaya dan Ichigo dengan jelas. Karena saat ini, kedua tangan Ichigo merengkuh kepala laki-laki yang sedang diciumnya. Berusaha agar tidak tertangkap kamera. Sama halnya seperti para tamu yang ingin melihat mereka dari dekat. Karena tidak biasanya, Kurosaki Ichigo yang terkenal akan kedinginannya pada masalah cinta, bisa luluh oleh seseorang yang kini sedang diciumnya.
"Kurosaki-sama, siapa sebenarnya laki-laki ini?"
"Apakah dia kekasihmu? Kau bisa ceritakan lebih jelas lagi?"
"Hei, Tuan, kau bisa beritahu kami namamu dan hubunganmu dengan Kurosaki-sama?"
"Jaegerjaquez-sama dan Kuchiki-sama, apa kalian mengenal baik kekasihnya Kurosaki-sama?"
Demi menghalangi Hitsugaya dari sorotan kamera dan pertanyaan yang beruntun itu, Ichigo melepaskan ciumannya dan langsung memeluk Hitsugaya dengan kedua tangannya. Ia lakukan untuk menyembunyikan identitas Hitsugaya. Terutama karena warna rambutnya yang mencolok. Sambil berusaha menutupi Hitsugaya, Ichigo berusaha melepaskan jas tuksedo yang sedang dikenakannya. Namun tidak jadi dilakukan ketika seseorang telah menutupi sebagian kepala Hitsugaya dengan jas milik oleh orang lain. Ichigo mendongak, kedua bola matanya sempat membulat ketika melihat Grimmjow kini berada di sisi Hitaugaya. Memakaikan jas-nya untuk menutupi wajah Hitsugaya.
Tanpa sadar, Ichigo mengeratkan pelukannya.
"Cepat bawa kekasihmu sebelum wartawan dan para tamu mencabik-cabiknya." Sahut Grimmjow dibarengi dengan seringainya.
Tanpa ucapan terima kasih. Tanpa merespon. Tanpa anggukan. Ichigo langsung menyeret Hitsugaya menerobos kerumunan wartawan. Sebelah tangannya merangkul bahu Hitsugaya lalu membawanya menjauh. Meninggalkan blitz-blitz tajamnya cahaya kamera.
Menyadari kalau Ichigo benar-benar melakukan hal yang sangat bodoh.
.
.
.
Plak!
Sebuah tamparan keras mengenai tepat pipi kiri seorang Ichigo Kurosaki. Ichigo heran, mengapa telapak tangan kecil yang menampar pipinya memiliki tenaga yang begitu kuat.
"Apa….yang…..sebenarnya….kau….LAKUKAN TADI?! BODOH!"
Hitsugaya menatap nanar sosok remaja berambut orange di depannya. Sebelah tangannya di simpan di depan bibirnya dengan punggung tangan yang menempel. Melakukannya membuat kejadian konyol tadi teringat kembali.
Setelah melarikan diri dari kejaran wartawan, akhirnya Ichigo memutuskan untuk membawa Hitsugaya ke tempat parkiran tepat di samping mobil sport merah milik Ichigo. Dan setidaknya tempat itu kosong.
"Maaf….aku…"
"Kau pikir itu lucu?! Menciumku di depan semua orang, terutama di depan seorang wanita! Kau pikir aku ini apa?! Seenaknya saja mencium orang yang tidak kau kenal! Dan apa kau tahu? Aku ini LAKI-LAKI!"
Ichigo tahu itu, ia sangat tahu fakta itu. Namun, yang Ichigo tidak ketahui adalah mengapa ia begitu mudahnya mencium laki-laki di depannya. Bahkan Ichigo sempat menikmati ciumannya. Ya Tuhan….ada apa dengan dirinya ini?!
"Maafkan aku, tadi itu….tidak sengaja."
"Tidak sengaja?" Hitsugaya tertawa sinis, "Kau bilang ciuman tadi tidak sengaja? Coba kau katakan hal itu pada semua wartawan dan semua orang yang melihat adegan kita tadi."
Ichigo terpaku di tempatnya. Mendengar Hitsugaya berkata seperti itu entah mengapa membuat wajah dan matanya terasa panas. Ichigo tidak tahu Hitsugaya melihat rona merah di wajahnya atau mendengar degup jantungnya. Ia berharap Hitsugaya tidak mendengarnya.
"Baiklah," Ichigo mengangkat kedua tangannya, "Aku benar-benar minta maaf, Chibi."
"Jangan panggil aku Chibi! Namaku Hitsugaya Toushiro," sela Hitsugaya kesal, sudah menciumnya masih saja memanggil dirinya chibi. Menyebalkan! "Ingat itu, kepala orange!"
"Hei, kau juga tidak perlu memanggilku kepala orange! Namaku…"
"Baiklah aku tahu, Kurosaki-sama yang menyebalkan."
Ichigo mengangkat sebelah alisnya, "Darimana kau tahu namaku?" jari telunjuk Ichigo menunjuk dirinya sendiri.
"Memang apa yang kau dengar dari para wartawan yang gila tadi? Mereka terus saja memanggil-manggil namamu. Dan lagi gadis tadi…"
Hitsugaya menghentikan ucapannya, diliriknya sekilas Ichigo lewat sudut matanya. Ekspresi Ichigo langsung berubah, ia tahu siapa yang sedang dibicarakannya saat ini.
"Memanggilmu dengan nama Ichigo, kan?"
Hening. Tiba-tiba saja suasana nya menjadi berbeda. Lebih menusuk.
"Katakan padanya kalau kita memang tidak memiliki hubungan apa-apa,"
Ichigo mengernyitkan dahinya lalu mendengus. "Untuk apa aku mengatakannya?"
"Karena sepertinya, kau menyukai gadis yang bernama Rukia tadi," begitu kata-kata itu meluncur dari mulutnya, Hitsugaya menyesalinya setengah mati. Bisa dipastikan aura yang dikeluarkan Ichigo benar-benar berbeda dari yang tadi. Ia merasa menjadi orang yang bodoh karena menanyakan privasi orang lain.
"Dengar, memangnya kau pikir siapa dirimu? Seenaknya saja menebak perasaan orang lain. Apa kau tidak tahu kalau itu benar-benar tidak sopan?"
Tidak sopan katanya? Siapa yang sebenarnya lebih tidak sopan?
"Lalu, mencium orang yang tidak kau kenal di depan semua orang dan merebut ciuman pertama orang lain apakah itu bisa disebut sopan?"
Ichigo menggigit bibir bagian bawahnya. Ia mati kutu. Sebenarnya, jika dipikirkan kembali, dirinya-lah yang telah bersikap tidak sopan. Tapi, begitu mendengar pernyataan Hitsugaya yang membuat rasa sakit hatinya terbuka lagi, benar-benar tidak bisa diterima olehnya begitu saja.
"Argh! Terserah kau saja Chibi! Aku tidak—tunggu!" Ichigo terdiam sejenak, menyadari satu hal yang mengganjal, "Kau tadi bilang apa? Ciuman pertamamu?"
Kali ini Hitsugaya yang mematung. Bisa ia rasakan wajahnya semerah kepiting rebus saat ini. Ya ampun! Mau di ke mana kan wajahnya saat ini? Membongkar pribadinya kepada si kepala jeruk yang menyebalkan ini.
"Anoo…"
"Hah! Sudah kuduga orang yang seenaknya menebak perasaan orang memang tidak pernah merasakan yang namanya cinta. Atau jangan-jangan kau ini tidak disukai?"
Twitch! Empat persimpangan berhasil menghiasi dahi Hitsugaya. Ia benar-benar benci laki-laki si kepala orange di depannya.
"Cinta? Orang sepertimu bisa mengenal cinta? Kau dengan santainya mengataiku seolah-olah aku ini makhluk yang tidak pernah diinginkan di dunia, tapi kau sendiri melampiaskan sakit hatimu pada orang lain? Kau pikir itu bisa disebut cinta?"
"Apa maksudmu?"
"Kuberitahu maksudnya pun kau tidak akan pernah mengerti. Lupakan saja kata-kata ku tadi." Malas berdebat dengan Ichigo, tanpa pamitan atau mengucapkan perpisahan, Hitsugaya berbalik lalu berjalan meninggalkan Ichigo.
"Hei!"
Tep! Hitsugaya menoleh, "Ada apa lagi?"
"Kau mau ke mana?"
"Tentu saja, pulang bodoh! Kejadian hari ini benar-benar membuatku lelah. Aku mau pulang, oh! Jangan lupa sampaikan terima kasihku pada temanmu yang berambut biru itu."
Ichigo tertegun. Ia mengerti benar maksud perkataan Hitsugaya adalah ditujukan untuk Grimmjow. Seharusnya Ichigo tidak perlu repot-repot merisaukan masalah Hitsugaya akan berterima kasih pada siapa, toh dia juga bukan siapa-siapa bagi Ichigo. Tapi, entah mengapa, ketika Hitsugaya berkata seperti itu dan ditujukan untuk Grimmjow, perasaan marah dan tidak suka bergemuruh di dalam dada Ichigo. Mengapa harus Grimmjow terus?
"Hei, Toushiro!" sekali lagi Hitsugaya menghentikan langkahnya, sudah 10 langkah ia berjalan. Ia sedikit terkejut ketika Ichigo langsung memanggil nama depannya.
"Kali ini apa lagi? Aku benar-benar ingin pulang," balas Toushiro keki, menatap tajam sosok jangkung yang tak jauh darinya. Mendengar nada ketus yang dikeluarkan Hitsugaya, membuat Ichigo mendengus keras. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan ke arah mobilnya lalu membuka pintunya.
"Masuklah! Akan kuantarkan pulang."
Hitsugaya melongo. Lagi-lagi hal yang tidak diduganya terjadi. Ternyata laki-laki yang bernama Ichigo Kurosaki ini benar-benar tipe orang yang penuh dengan kejutan. Tak heran para wartawan selalu mengejar-ngejar dirinya.
Hitsugaya memutar kedua bola matanya, "Tidak, terima kasih atas tawaranmu Kurosaki-sama. Aku bisa pulang sendiri," menekankan kata 'sama' dalam ucapannya, Hitsugaya membungkuk sedikit lalu berbalik pergi.
"Kau tidak takut kalau semua wartawan tadi menemukanmu dan mencabik-cabikmu? Kau tahu kan ganasnya wartawan ketika menemukan berita baru?"
Hitsugaya kembali menghentikan langkahnya, namun kali ini ia tidak berbalik. Pikirannya saat ini sedang membatin. Memang benar apa yang dikatakan Ichigo? Bagaimana kalau wartawan-wartawan mengerikan tadi menemukan dirinya? Bagaimana jika ia terus-terusan dicercoki oleh pertanyaan ini dan itu? Apalagi wartawan tidak selalu menuliskan berita atau gossip sesuai fakta yang ada, mereka semua selalu melebih-lebihkan. Tapi jika dipikirkan kembali, keadaannya akan bertambah parah ketika wartawan-wartawan ganas itu menemukan dirinya sedang bersama Ichigo di dalam mobil. Bisa-bisa mereka menulis bertita yang aneh-aneh dan menjadi skandal besar. Memikirkannya saja membuat Hitsugaya merinding.
"Cepat masuk, Chibi!" kesal karena Hitsugaya diam saja, Ichigo menutup pintu mobilnya kembali lalu berjalan mendekati Hitsugaya. Hitsugaya yang menyadari Ichigo mendekat ke arahnya langsung menyahut setengah berteriak,
"Ah! Tidak perlu repot-repot mengantarku! Terima kasih!"
"Apa—Hei Chibi! Mau pergi kemana kau?!"
Ichigo bermaksud mengejarnya namun diurungkan niatnya ketika kaki-kaki kecil Hitsugaya sudah melesat dan berlari dengan cepat. Sama sekali tidak mempedulikan seruannya.
"Dasar si bodoh itu! Tidak tahu kalau sekarang sudah begitu malam!" umpat Ichigo sambil menendang ban mobil milik orang lain, lalu kembali berjalan menuju mobilnya. Tidak tahu mengapa, sebagian hatinya merasa tidak tenang.
.
.
.
"Sial!"
Hitsugaya menendang batu di depannya. Hari ini rentetan kejadian yang tidak diduganya terus-menerus menghampirinya. Dan semua kejadian itu selalu berhubungan dengan si kepala orange yang telah menjatuhkan jus watermelon-nya. Jika saja Hitsugaya tidak bertemu dengan orang itu, maka hari ini ia tidak akan marasa teramat sangat lelah. Sudah di foto oleh para wartawan, direbut ciuman pertamanya pula. Benar-benar hari yang sial!
Dan kali ini, Hitsugaya terpaksa berdiam berjam-jam lamanya menunggu bus yang akan lewat. Ia sengaja tidak pulang bersama Matsumoto kerena ia takut perempuan aneh itu akan menghujamnya dengan berbagai pertanyaan yang menyangkut ciuman tadi. Hitsugaya tidak tahu Matsumoto sudah mengetahui masalah ciuman tadi atau belum, tapi akan lebih baik jika ia menghindar sebelum Matsumoto mencegatnya. Karena tidak pulang bersama Matsumoto, akhirnya Hitsugaya terpaksa harus terjebak sendirian di halte bus pada malam yang dingin. Ketika jam menunjukan tepat pukul 10 malam.
Angin berhembus kencang menerpa wajah Hitsugaya. Tanpa sadar ia merapatkan jas tuksedonya dan memeluk dirinya sendiri. Tahu bakal sendiri seperti ini, Hitsugaya lebih memilih pulang bersama Ichigo.
"Kenapa bus-nya belum datang-datang?!" Hitsugaya mengumpat kesal, ditolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Nihil. Semuanya gelap dan hening. Tidak ada satu kendaraan pun yang melewat. Sial!
BRUUK! PRANG!
"Sial!"
Perhatian Hitsugaya teralihkan. Dari sudut matanya, tidak jauh dari halte bus tempat dirinya berpijak saat ini, kedua iris emeraldnya bisa melihat sesuatu bergerak-gerak tak tentu arah. Bukan, lebih tepatnya seseorang yang berjalan dengan terhuyung-huyung sehingga ia menabrak tong sampah di dekatnya. Hitsugaya membelalak, satu pemikiran mengerikan terlintas di benaknya. Orang mabuk!
Oh, Kami-sama, kali ini kejadian apa lagi yang akan menimpanya?
Hitsugaya berusaha bersikap tidak mempedulikan. Berusaha tidak menatap orang mabuk yang semakin mendekati dirinya. Ia berusaha sembunyi di balik tiang tempat duduk halte bus. Berdoa orang itu membelokan arah jalannya atau berhenti di tempat lain yang tidak dekat dengannya. Namun, mungkin saat ini dewi fortuna belum memihaknya.
"Hei, manis, sedang apa kau di sini?"
Celaka! Orang itu melihatnya! Tanpa disadari Hitsugaya, kini orang mabuk itu sudah berada di dekatnya, bisa ia lihat botol minuman keras digenggam oleh tangan kanannya. Hitsugaya mundur beberapa langkah dari orang itu. Rambut hitam dan jabriknya dan tato angka 69 yang menghiasi wajahnya bisa ditebak Hitsugaya kalau orang itu bukanlah laki-laki yang baik.
"Kau kedinginan? Bagaimana kalau aku menghangatkanmu?"
Tiba-tiba saja, tanpa Hitsugaya duga, sebelah tangan orang itu merangkul bahunya dan memeluknya erat. Bisa Hitsugaya rasakan hembusan napas orang itu yang berbau alcohol.
"APA YANG KAU LAKUKAN!? LEPASKAN AKU!"
Panik. Kata itu yang menggambarkan keadaan Hitsugaya saat ini. Ia meronta berusaha melepaskan diri dari orang yang kini sudah mulai meremas-remas pantatnya, tapi semakin ia meronta, semakin kuat pelukan orang itu.
"Hei…hei, Hime tidak perlu berteriak seperti itu. Tenang saja, tidak akan ada orang yang mendengarmu di saat malam-malam seperti ini. Malam ini kita akan bersenang-senang,"
Kepanikan Hitsugaya semakin bertambah ketika beberapa orang—yang diduganya teman dari orang yang memeluknya—mulai berdatangan dan menghampiri dirinya. Oh tidak…
"LEPASKAN!Tolong! Siapa saja tolong aku!"
BRAK!
Suara mengerikan itu membuat tubuh Hitsugaya menegang. Terlebih saat tubuhnya dihempaskan dengan keras ke atas tempat duduk halte, dengan kedua tangannya di tahan di sisi kanan dan kirinya oleh orang mabuk tadi. Dengan tubuh orang itu di atas tubuhnya.
"Hei Hisagi! Kau mendapatkan makanan lagi hari ini?" suara laki-laki lain menyahut, terdengar suara tawa yang memekakan telinga Hitsugaya. Sekuat tenaga Hitsugaya meronta, tapi tubuh kecilnya tidak bisa diajak kompromi saat ini.
"Hahaha, Kaien, santapan malam ini benar-benar membuatku gila!" orang yang bernama Hisagi itu terkekeh lalu kembali memusatkan perhatiannya ke arah Hitsugaya, "Nah, manis, mari kita lanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi."
"Jangan…." Butir-butir air mulai keluar di sudut mata Hitsugaya, "Kumohon…"
"Tenang saja, aku akan bermain lembut malam ini. Kau tidak perlu takut, tidak akan terasa sakit kok," laki-laki itu menjilat bibir bagian bawahnya, membuat Hitsugaya muak melihatnya.
"Hisagi! Setelah giliranmu, aku yang akan melakukannya!" teriak salah satu yang lainnya,
"Jangan melakukannya dengan kasar! Aku tidak ingin dia pingsan sebelum aku melakukannya," laki-laki lain menyahut dan menghampiri Hitsugaya, ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena terhalang oleh air mata.
"JANGAN! Aku mohon,…. Lepaskan!"
"Sudah kubilang tidak akan ada yang mendengarmu," bersamaan dengan kata-kata itu, Hitsugaya bisa merasakan sesuatu yang basah dan kenyal menjelajahi lehernya. Sensasi tergelitik dan dingin menyentuh kulitnya. Sebelah tangan Hisagi yang menganggur berusaha melepaskan kancing-kancing baju Hitsugaya.
"HENTIKAN!" Hitsugaya memberontak, namun cekalan tangannya begitu kuat. Suara tawa di sekeliling Hitsugaya semakin keras, ditambah suara orang yang bersiul.
Siapa saja, tolong aku!
"KUROSAKI!"
CKIITT!
Semua orang minus Hitsugaya, menoleh bersamaan ketika mendengar suara decitan ban mobil dan sinar yang menyilaukan kedua lensa mata mereka. Hisagi mendongak, terpaksa menghentikan kegiatannya. Dan suara yang terdengar berikutnya adalah…
BUGH!
BUUUKK!
BRAKK!
"Dasar brengsek!"
Semuanya terjadi seperti kaset rekaman. Cekalan di kedua tangan Hitsugaya mengendur dan akhirnya terlepas begitu orang yang menindih tubuhnya ditarik dan langsung dihadiahi dengan pukulan telak di wajahnya. Hitsugaya cepat merangkak jauh dan meringkuk di sudut, dengan tangannya yang gemetar ia berusaha merapihkan pakainnya yang berantakan sambil terisak keras di luar kendali. Pandangan matanya tampak tidak terlalu jelas, yang bisa ia lihat hanyalah sekumpulan orang yang mengganggunya tadi tersungkur jatuh dan berusaha untuk kabur, sebagian ada yang sudah kabur dan sebagian ada yang jatuh di tanah. Lalu, orang yang menyelamatkannya…..
Entahlah, yang Hitsugaya ketahui hanya rambut yang berwarna biru.
Tidak ada waktu sama sekali untuk menyadari siapa orang itu.
.
.
.
Ichigo menghentikan laju mobilnya. Tiba-tiba saja sensor otaknya menyuruhnya untuk menghentikan mobilnya. Apa ini? Perasaan Ichigo sangat tidak enak. Serasa ada yang mengganjal jauh di dalam lubuk hatinya. Perasaan apa ini?!
Tanpa komando apa-apa, Ichigo memutar kemudinya. Ia tidak tahu pergi kamana, ia tidak tahu membawa mobilnya ke arah jalan yang mana. Yang jelas, arahnya berlawanan dengan arah jalan rumahnya diamana. Entah mengapa, ia hanya mengikuti insting-nya saat ini. Sebenarnya, ada apa dengan dirinya ini?
Tidak membutuhkan waktu yang lama, pertanyaan Ichigo terjawab begitu melihat pemandangan di depannya. Tepat di dekat halte bus. Orang-orang yang terusngkur ke tanah, lampu sorot mobil, dan….. seseorang yang terlihat sedang memukul. Ichigo mengerutkan keningnya, ada apa ini?
Terpaksa Ichigo menghentikan mobilnya. Dibukanya pintu mobilnya lalu berjalan ke luar. Mendekat…mendekat…..mendekat…..dan semuanya terlihat dengan jelas.
Saat itu juga kedua matanya membelalak.
Pertama yang Ichigo sadari adalah lampu sorot yang berasal dari sebuah mobil yang dikenalnya. Mobil porsch biru dongker yang begitu dikenalnya. Dan plat mobilnya! Ichigo benar-benar yakin mobil itu milik orang yang dikenalnya.
Lalu semuanya begitu jelas ketika mata Ichigo beralih pada orang-orang yang tersungkur di tanah, bukan…bukan itu yang membuat Ichigo terkejut. Tapi orang yang membuat mereka babak belur. Orang itu sangat sangat sangat dikenal Ichigo.
Grimmjow Jaegerjaquez
Sebenarnya ada apa ini?!
Semuanya kejadian ini membuat Ichigo mematung di tempat.
"Hei, Strawberry, daripada kau diam berdiri seperti itu, cepat kau tenangkan pacarmu itu?! Apa kau sama sekali tidak memiliki tanggung jawab hah?!"
Awalnya Ichigo tidak mengerti, sebelum akhirnya Grimmjow memberikan pukulan terakhir dan membuat orang-orang yang dihajarnya lari terpontang-panting. Melihat kedua sudut mata Grimmjow menyuruhnya untuk melihat ke sampingnya, tepat dimana halte bus berada, kedua bola mata Ichigo benar-benar membulat. Ia membeliak. Antara terkejut, tercengang, dan membuat saraf-saraf di tubuhnya membeku seketika.
Di sana, tepat di sudut halte bus, seseorang sedang meringkuk sambil memeluk tubuhnya sendiri. Tampak berantakan, wajahnya yang terlihat ketakutan dan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya. Terutama sepasang iris emeraldnya memancarkan binar ketakutan.
Shit! Mengapa ia tidak menyadarinya sejak awal?!
"Toushiro!" Ichigo berlari mendekati tubuh yang meringkuk itu, dilewatinya Grimmjow tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Perasaan panik dan terkejut langsung merayapi semua jengal saraf di tubuhnya. Kini ia menyadari perasaan tenang yang mengganggu hatinya.
"Toushiro?" begitu sampai di depan Hitsugaya langkah Ichigo sengaja dipelankan. Sebagian kecil otaknya yang masih berfungsi memberitahunya bahwa Toushiro pasti sangat ketakutan saat ini dan Ichigo tidak boleh menambah ketakutannya.
Ichigo membungkukan badannya sedikit, sebelah tangannya terulur hendak menyentuh bahu Hitsugaya. Namun terhenti kembali saat iris emerald Hitsugaya menatap dirinya dengan ketakutan yang begitu nyata. Hitsugaya tidak mengenali Ichigo. Astaga! Sebenarnya apa yang terjadi sekarang ini?
Perasaan aneh datang lagi. Perasaan yang tidak bisa Ichigo jelaskan saat menatap tatapan mata itu. Ichigo tidak tahu apa, tapi rasanya begitu….menyakitkan kah?
"Ini aku," bisik Ichigo pelan, "Toushiro, ini aku. Ichigo."
Perlahan, binar di kedua mata Hitsugaya mulai tergantikan. Bukan lagi ketakutan yang dlihat Ichigo. Hitsugaya sudah mengenali dirinya.
"Tidak apa-apa," bisik Ichigo lagi. Suaranya terdengar serak karena berbagai emosi yang mencekat tenggorokannya, "Semuanya sudah aman. Aku berjanji,"
Hitsugaya mengerjap-ngerjapkan matanya, sekali, dua kali, kesadaran mulai meresapi dirinya. Dan hal yang pertama ia katakan, "Ku—Kurosaki?"
Ichigo tersenyum lembut, "Ya, ini aku. Kurosaki Ichigo," perlahan Ichigo beringsut duduk di samping Hitsugaya, lalu merangkulnya. Tubuh Hitsugaya terasa kaku, namun Ichigo tetap mendekapnya. Sekejap kemudian, tangis Hitsugaya pun pecah. Ia bersandar di pundak Ichigo dan menangis tersedu-sedu.
"Tidak apa-apa, semuanya sudah terkendali sekarang. Kau aman," Ichigo menempelkan dagunya di puncak kepala Hitsugaya. Entah apa yang merasukinya, semua yang dilakukannya saat ini sangatlah tidak diduganya. Berawal dari ia mencuri ciuman pertama Hitsugaya sampai memeluknya dan menanangkan tubuh yang kecil dan rapuh darinya saat ini. Semua itu Ichigo lakukan tanpa ia pikirkan sebelumnya. Mengapa hal yang tidak diduganya selalu terjadi ketika ia berada dekat dengan Hitsugaya Toushiro?
Menyadari ia melupakan sesuatu, Ichigo mengalihkan pandangannya. Di depannya saat ini Grimmjow tengah menatapnya dengan kedua tangannya terlipat di depan dada. Entah apa ekspresi Grimmjow saat ini, Ichigo tidak bisa menebaknya.
"Arigatou, Grimmjow." Ucap Ichigo datar, "Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi, dan melihat orang yang kau hajar tadi, sepertinya terlah terjadi sesuatu."
Membalas ucapan terima kasih dengan dengusan, Grimmjow berjalan mendekati Ichigo dan Hitsugaya yang mulai berhenti menangis.
"Lain kali, jaga kekasihmu dengan baik," Grimmjow berdiri di samping tiang tepat sebelah Hitsugaya duduk, kedua lengannya terlipat kembali di depan dada. "Karena sifat dasar manusia, ada saatnya mereka menunjukan sisi lemahnya."
Ichigo menanggapinya dalam diam. Ia hampir saja berkata, 'Dia ini bukan kekasihku!' dengan lantang jika Ichigo tidak mengingat kalau semua ini terjadi karena olehnya.
"Kau tidak apa-apa?" kali ini pertanyaan itu ditujukan untuk Hitsugaya, Ichigo tertegun ketika tiba-tiba Grimmjow berlutut di hadapan Hitsugaya. Menatap langsung iris teal milik Hitsugaya. Tanpa sadar, Ichigo mengeratkan rangkulannya.
Histugaya mengangguk lesu, "Ya, terima kasih atas bantuanmu. Tu—"
"Grimmjow," sela Grimmjow cepat, "Kau bisa memanggilku Grimmjow. Tidak perlu khawatir, ini balas budiku karena kau telah mengembalikan dompetku waktu itu."
Hitsugaya terdiam sejenak, lalu tersenyum.
Sedangkan Ichigo hanya bisa mengerutkan kening tidak mengerti. Mengapa mereka mudah sekali akrab? Dan apa maksudnya dengan dompet?
"Sebaiknya cepat kau bawa pulang. Hari sudah semakin malam," usul Grimmjow sambil bangkit berdiri, "Kali ini bertanggung jawablah pada kekasihmu ini, Orange! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika aku tidak datang menolongnya," Grimmjow menunjuk Ichigo dengan jari telunjuknya sambil menatapnya dengan sengit. Ichigo membalasnya hanya dengan anggukan datar.
"Kau bisa berdiri?" Tanya Ichigo sambil berdiri di depan Hitsugaya.
"Ya, tenang saja, Kurosaki." Sambil sebelah tanggannya menopang pada tiang halte bus, Hitsugaya merusaha berdiri. Kedua kakinya masih terlihat gemetar.
"Biar aku—"
Kimi wa kimi dakeshita, inai yo….
Baru saja kedua tangan Ichigo bermaksud untuk mengangkat Hitsugaya, tiba-tiba suara dering di handphone-nya terdengar nyaring. Sementara Ichigo mencari handphone di aku celananya, tanpa izin Grimmjow langsung mengambil alih keadaan. Ia mengangkat tubuh Hitsugaya dengan gaya bridal style.
"Ah! Tunggu, apa yang—"
"Hei, Grimm! Apa yang kau lakukan?!"
Kata-kata Hitsugaya terpotong dengan suara protes Ichigo. Sementara dering ponsel masih terdengar, Ichigo malah menatap dengan Grimmjow dengan tajam. Tanpa mempedulikan protes Ichigo, Grimmjow berjalan sambil membawa Hitsugaya ke arah dimana mobil Ichigo terparkir.
"Angkat saja terleponnya! Aku akan mengantarkan kekasihmu ini ke dalam mobilmu,"
Sahut Grimmjow masih terus berjalan. Hitsugaya yang berada dalam pangkuannya, hanya bisa diam kerena tiba-tiba saja kedua pipinya terasa panas.
Membiarkan Ichigo berbicara dengan seseorang di ponselnya, Grimmjow membuka pintu mobil, menunduk sedikit, dan mendudukan Hitsugaya di kursi samping penumpang.
"Arigatou, Grimmjow." Ucap Hitsugaya dengan senyum yang terlihat lelah, kedua matanya terlihat membengkak. Grimmjow balas tersenyum lalu mengacak-acak rambut Hitsugaya.
"Sama-sama. Kalau tidak salah tadi Ichigo memanggilmu Toushiro kan?" Tanya Grimmjow memastikan,
"Ya, Hitsugaya Toushiro."
"Nama yang bagus. Baiklah kalau begitu kau isitirahatlah, coba lupakan kejadian yang tadi." Grimmjow sedikit menyesali perkataannya ketika ia melihat raut wajah Toushiro berubah kembali. Ketakutan akan kejadian yang menimpanya. Namun, secepat kilat juga Hitsugaya memaksakan seulas senyum lalu mengagguk pelan.
Sekali lagi Grimmjow mengelus puncak kepala Hitsugaya sebelum akhirnya ia menutup pintu mobil dan berjalan ke arah tempat mobilnya berada. Ia memakirkannya ke sembarang tempat. Sesaat ia berpapasan dengan Ichigo yang selesai menelepon dan melihat si kepala orange itu mengumpat kesal.
"Jangan ceroboh untuk lain kali, Ichigo." Sahut Grimmjow ketika Ichigo bermaksud kembali ke mobilnya,
"Aku tahu. Tadi aku salah meninggalkannya sendirian, sekali lagi terima kasih. Grimmjow,"
Membalasnya dengan anggukan, Ichigo dan Grimmjow berpisah di jalur yang berbeda. Ia tidak menyadari kalau sebenarnya Grimmjow masih berdiam di tempatnya. Tampak berpikir.
"Sebenarnya, ada apa dengan diriku ini?" sebelah tangan Grimmjow terangkat dan menempelkan telapak tangannya di depan dada. Grimmjow tidak tahu mengapa, namun ada sebagain dari dirinya merasakan rasa yang tidak pas bagi Grimmjow. Perasaan yang aneh.
"Sudahlah," malas memikirkannya, Grimmjow berjalan menuju mobilnya. Dilihatnya kembali mobil Ichigo, yang kini sedang memasuki mobilnya. Tatapannya lebih terfokus pada laki-laki satunya. Entah mengapa ada getaran aneh yang Grimmjow rasakan saat melihat Hitsugaya akan pulang bersama Ichigo.
.
.
.
Ichigo berlar-lari kecil menuju mobilnya. Ia harus cepat-cepat mengantarkan Hitsugaya karena malam kian larut. Ketika ia membuka pintu mobil, Ichigo terkekeh geli saat kedua matanya menangkap sosok Hitsugaya saat ini. Terlelap dengan tenang.
Duduk di belakang kemudi, setelah memasang sabuk pengaman dan memasangkan sabuk pengaman di Hitsugaya, Ichigo mulai menjalankan mesin mobil. Benar-benar seperti sepasang kekasih.
"Tunggu dulu," Ichigo terdiam sejenak ketika ia mengingat sesuatu, diliriknya wajah Hitsugaya yang tertidur, lalu tersenyum. "Aku kan bukan kekasihnya, bagaimana bisa aku mengantarnya pulang sementara aku tidak tahu letak rumahnya dimana?"
To Be Continued
Jaaaa...Minna...
Masih ada kah penghuni di sini?
Oke, Krtik, saran, dan terutama review selalu di tunggu... ^_^
