Saya lanjutin cerita ini… Silahkan….


Keesokan harinya, Kurapika sedang pergi ke hutan bersama kedua temannya yang imut – imut… Siapa lagi kalau bukan Gon dan Killua.

"Ne, ne, Kurapika…!" Gon menepuk – nepuk bahu Kurapika.

"Eh? Apa, Gon?" tanya Kurapika.

"Malam ini kau mau pergi 'kan?" Gon tanya balik.

"Ya… Aku akan pergi…." Kurapika berkata.

"Hai, minna…!" sapa Meiko.

"Meiko – chan…! Kau tidak bekerja hari ini?" Kurapika bertanya.

"Tidak… Aku sedang… malas…." Meiko menghela nafas.

"Eeeeeeh?!" Kurapika membuka mulutnya.

"Kalau begitu, ayo kita main… Aku bosan" ajak Killua.

"Baiklah… Kalau begitu, ayo kita bermain petak umpet…!" seru Gon dengan senyum kekanak – kanakkan.

(A/N : Sekilas info… Kurapika dkk. Semuanya sama umurnya, yaitu 15 tahun)

"Baiklah… Karena kau yang mengusulkan permainan ini, kau yang jaga" kata Killua.

"Baiklah…." Gon membalikkan tubuhnya ke pohon.

Gon mulai menghitung. Kurapika, Killua, dan Meiko mulai berpencar. Meiko bersembunyi di semak – semak, Killua memanjat ke atas pohon. Kurapika masih berlari entah ke mana. Tiba – tiba….

SRAAK!

Kurapika terjatuh di lubang yang besar dan sangat curam. Untung ia menggenggam akar – akar yang ada di dalam lubang itu.

"Toloooong! Tolong akuu.!" teriak Kurapika meminta tolong.

Tidak ada siapa – siapa. Dan… Tidak ada siapapun yang mendengar teriakan Kurapika. Kurapika menggenggam erat akar yang besar itu. Ia terus berteriak. Hingga beberapa kali ia berteriak, datanglah Kuroro, yang tanpa memakai topengnya.

"Jangan lihat ke bawah!" seru Kuroro memperingatkan. Ia mengulurkan tangannya.

Karena terlalu takut, Kurapika tidak dapat mengulurkan tangannya ke atas.

"T… Tidak bisa…."

"Berusahalah…! Kau pasti bisa…!" Kuroro berkata.

Kurapika berusaha meraih tangan Kuroro. Dan… Yak! Kurapika berhasil melakukannya. Perlahan – lahan, Kuroro menarik Kurapika. Dan… Tak lama kemudian, datanglah Gon, Killua, dan Meiko.

Akhirnya, Kurapika sampai di atas (jurang). Ketiga temannya memeluk erat Kurapika.

"Aduuh… Kurapika… Kau membuat kami khawatir… *hiks*" Meiko terisak.

"Maafkan aku, ya teman – teman…." Kurapika mendorong pelan mereka.

Kurapika menghampiri Kuroro. Ia pun berkata, "Ah… Ng… Terima kasih banyak" sambil membungkuk.

"Tidak masalah. Tapi, lain kali hati – hati, ya" Kuroro mengacak rambut Kurapika.

"Ah… Ng… Iya…." Kurapika membeku di tempat.

Sementara, Kuroro berjalan pergi entah ke mana (authornya aja gatau, reader apa lagi….). Wajah Kurapika merah merona. Belum pernah ia diperlakukan seperti itu oleh lelaki. Masih membeku di sana, teman – temannya menghampirinya.

"Kau kenapa, Kurapika?" tanya Killua.

"Kau kenal orang itu, Kurapika?" tanya Meiko.

"Kurapikaaaaa….?" Gon melambai - lambaikan tangannya di depan Kurapika.

"He? Ah? Apa?" Kurapika tersadar dari lamunannya.

"Kenapa? Kau melamun, ya?" tanya Meiko balik.

"Eh?! Tidak apa – apa…." Kurapika bergumam.

"Kalau begitu, ayo kita main lagi!" ajak Gon.

"Jangaaaan! Nanti ada yang celaka lagi bagaimana, he?!" Killua protes seraya menjitak kepala Gon.

"Main yang lain, bodoh!" teriak Gon marah.

Killua tidak hanya diam, dia langsung membalas Gon dengan kata – kata pedasnya.

"Le… Lebih baik kita tinggalkan saja mereka…." bisik Kurapika.

"Ya, itu lebih baik" ujar Meiko setengah berbisik.

Kurapika dan Meiko pun pergi meninggalkan Gon dan Killua dipertarungan mulut antara mulut mereka. Tanpa mereka sadari, Gon dan Killua hanya berdua dan di tengah – tengahnya setan mendukung pertarungan mereka berdua (?).


"Mereka itu… Yang ada – ada saja…." keluh Kurapika.

"Biarkan sajaa… Mereka 'kan sudah dekat dari kecil, kau ingat? Kau yang paling dekat dengan mereka. Lalu… Aku datang ke sini waktu kita berumur 10 tahun" kata Meiko.

Flashback

Ini adalah kisah singkat Kurapika waktu dia masih kecil. Kurapika, Gon dan Killua sedang bermain di sekitar rumah Kurapika. Pada saat itu, kereta kuda (gak mewah bentuknya, siih….) berhenti di sebuah rumah.

"Hei, lihat! Ada yang pindah ke sini…!" ujar Gon.

"Heeee?! Mana?! Mana?!" teriak Killua.

"Ituuuu!" Gon menunujuk ke arah kereta kuda dengan isi peralatan – peralatan rumah tangga di dekat sebuah rumah.

"Waaah… Mereka mempunyai anak perempuan sebaya dengankuuu…." kata Kurapika.

"Iya, kali ini kita akan punya teman baru!" seru Gon.

Kurapika mengangguk keras karena semangat. Ia tersnyum sambil menatap anak itu. Anak yang ditatap Kurapika itu hanya menatap Kurapika sekilas.

Malam harinya, di sela – sela waktu makan….

"Ayah, Ibu. Kalian sudah tahu tidak, orang yang baru pindah ke sini?" tanya Kurapika semangat.

"Iya, mereka keluarga Phoenix" jawab Ibu Kurapika.

"Kau sudah melihatnya 'kan? Anak perempuan itu. Namanya, Meiko Phoenix" ujar Sang Ayah.

"Waaaah…! Mamanya mahus! (Waaaah…! Namanya bagus!)" Kurapika berkata dengan penuh makanan di mulutnya.

"Telan dulu makananmu, sayang..." Sang Ibu tertawa geli.

Kurapika menelan makanan yang ada di mulutnya (Wajarlah, ya… Dia 'kan masih kecil….) lalu ia berkata, "Jadi aku akan mendapatkan teman baru, dong!"

"Hihihi… Iya, tentu saja, sayang…." Ibu Kurapika membelai rambut halus Kurapika.

Selesai makan, mereka melanjutkan cerita tentang keluarga Phoenix.

"Oh iya, ayah. Kenapa, ya… Keluarga mereka bernama 'Phoenix'?" tanya Kurapika.

"Itu karena semua warna mata keluarga Phoenix berwarna bulu Phoenix" jawab Sang Ayah.

Kurapika mencoba mengingat anak yang ia tatap tadi siang.

Iya, benar! Anak yang tadi matanya berwarna bulu burung Phoenix, burung yang ada di dunia mimpi…. kata Kurapika dalam hati.

"Oh… Begitu…."

Keesokan harinya….

"Kurapika! Ayo kita bermain…!" ajak Kuroro yang tiba – tiba datang ke rumah Kurapika.

"Iya, kita main kejar – kejaran, yuk!" saran Gon.

"Aku setuju!" seru Killua.

"Kalau begitu, Kurapika yang jaga!" Kuroro menunujuk ke Kurapika.

"Baiklah…." Kurapika pasang tampang cemberutnya (iiih… Makin imut, deh!).

Kuroro, Gon dan Killua mulai berpencar. Karena… Masih kecil, mereka hanya boleh main di dekat rumah saja. Kurapika hamper saja menyenggol Kuroro. Tapi… Ia tidak berhasil.

"Ayolah, Kurapika. Kejar kami…!" teriak Killua.

Anak 'Phoenix' itu, Meiko hanya menatap mereka saja. Mungkin… Dia ingin bermin juga. Saat di depan rumah Meiko, Kurapika berhenti mengejar mereka dan menoleh ke Meiko.

"Teman – teman! Kemarilaaaah!" panggil Kurapika.

Kuroro, Gon, dan juga Killua menghampiri Kurapika.

"Ada apa?" tanya Gon.

"Kau ingin berhenti main?" tanya Killua.

"Bukan, lhoooo! Ayo kita ajak Meiko!" bisik Kurapika.

"Aaah…! Sou ta neee! Mari kita ajak dia!" ujar Gon.

Kurapika dkk. menghampiri Meiko yang sedang duduk di teras rumahnya.

"Hei, ayo main sama kami…!" ajak Kurapika seraya mengulurkan tangannya.

"E, Eh?" wajah anak itu merah padam.

"Kenapa? Ayo, kita main bersama! Apa kau tidak bosan duduk diam di sini?"

Anak itu tersenyum menatap Kurapika seraya bertanya, "Siapa namamu?".

"Aku Kurapika, ini Gon, ini Killua dan ini Kuroro…! Salam kenal, ya!" Kurapika memperkenalkan dirinya sekaligus memperkenalkan teman – temannya.

"Oh… Kalau begitu, ayo kita main…!" sepertinya Meiko sudah mulai dekat dengan mereka.

Nah, pada saat itulah mereka berkenalan. Meiko sangat mudah diajak dekat.

End of Flashback

"Jadi ingat masa lalu, deh…." kata Kurapika.

"Iya, benar. Waktu kita berkenalan sampai selalu bermain bersama… Tapi… Pada saat itu juga… Kuroro pergi…." Meiko berkata dengan pelan.

"Iya, dia pergi setelah dia memainkan biolanya. Maka saat itulah, aku suka biola…!" kata Kurapika.

"Jadi hanya karena ituuuu?!" teriak Meiko.

"Iya" jawab Kurapika dengan polos. "Oh iya. Kau diudang ke pesta idak? Ini sudah sore lho….".

"Aku diudang sih… Tapi… Aku… Tidak memiliki teman untuk ke sana" ujar Meiko.

"Bagaimana bersama denganku saja?" tanya Kurapika.

"Boleh juga…."


Malam harinya, Kurapika sudah selesai. Bajunya sangat indah. Dengan renda – renda hijau di bagian pergelangannya, di sekeliling baju – bajunya, sedikit manik – manik dan ada pita hijau di pinggangnya. Ia juga memakai sarung tangan kuning sampai di bawah siku – sikunya. Yaaa… Bajunya mirip Belle Princess Disney sih… Tapi gak terlalu megah seperti itu. Rambutnya diikat ke belakang (sedikit aja. Rambutnya banyak yang terurai).Ia memegangi sebuah topeng emas yang indah dengan hiasan bulu merak di bagian atas kanannya. Ia juga memakai kalung mutiara dari almarhumah ibunya.

"Nah, sekarang aku akan menjemput Meiko!" Kurapika berkata sendiri.

Kurapika berjalan menuju rumah Meiko. Meiko baru saja keluar dan ia menatap Kurapika yang sedang menuju ke rumahnya. Meiko pun menghampiri Kurapika.

"Wah… Kau cantik…." puji Kurapika.

"Hee? Benarkah?" Meiko berputar satu kali.

Memang cantik Si Meiko kali ini. Ia memakai lipstick merah. Bajunya berwarna merah tua dengan renda – renda merah tua juga, di tengah – tengah bagian bawah lehernya, terdapat permata berwarna kuning. Ia juga memakai sarung tangan yang sama dengan Kurapika (panjangnya sama) berwarna merah tua.

"Iya, cantik! Kalau begitu, ayo kita ke istana"


Mereka akhirnya sampai di istana. Mereka mulai melekatkan topeng mereka ke wajah. Yah, semua itu karena ada sebuah tongkat di sisi topeng itu. Mereka mulai masuk di ballroom istana. Sangat ramai dengan tamu – tamu yang datang.

Mungkin… Raja juga mengundang beberapa orang dari kerajaan tetangga…. pikir Kurapika.

Muncullah Gon dan Killua menyapa mereka. Gon dan Killua membuka topengnya masing – masing.

"Yo…!" sapa Killua.

"Waaah…! Kalian cantik sekali…!" puji Gon.

"Terima kasih…." ucap Kurapika dan Meiko.

Muncullah orang berambut lurus, warna rambutnya coklat, dan rambutnya digerai begitu saja. Pita putih bertengger di rambutnya. Kulitnya seputih susu. Memakai gaun cream dengan sedikit renda kuning pucat di sekitar gaunnya, memakai sarung tangan putih, dan topeng putih. Memakai lipstick berwarna merah tua.

Ia menghampiri mereka (Kurapika, Gon, Killua, dan Meiko) lalu melepas topengnya. Ia tersenyum kepada keempatya.

"Minna – san…." ucapnya lembut.

"Rin…!" seru Kurapika memeluk Rin. "Kapan kau pulang?" tanya Kurapika seraya melepas pelukannya.

"Tadi, menjelang malam aku sudah sampai. Lalu, ibu menyuruh ke sini" Rin menjelaskan.

"Ooooh…." keempatnya membuka mulut dengan serempak dan bulat.

Rin hanya tersenyum. Rin sudah lama tidak di rumah. Kenapa? Karena dia berlatih di tempat yang jauh dari. Baik, kita gausah bahas Rin dulu… Kita bahas cerita ini.

"Rin… Sudah lama kita tidak berjumpa, ya… Hmm…." Gon memeluk Rin.

Yah, sudah lama… Lamaaaaa sekali… Gon dengan Rin sudah berpacaran, lhoooo… Killua dan Meiko juga begitu… Hanya saja… Kurapika yang belum mendapatkannya. Orang yang dicintainya.

Secara tiba – tiba saja, seseorang menarik lengan Kurapika. Bukannya menolong, tapi teman – teman Kurapika malah bersorak.

"Berjuanglah, Kurapika!" sorak Meiko

"Ayo, Kurapika!" seru Gon

"Good luck!" sorak Killua.

"Ganbatte neee~!" Rin bersorak juga seraya melambaikan tangan kanannya.

"Wu… Wuaaah! Tolong pelan – pelan, tuan!" teriak Kurapika.

"Aku hanya ingin mengajakmu berdansa… Boleh?"

Pipi Kurapika merah mendengarnya.

"B… Boleh…." ucap Kurapika gugup. Matanya mirip orang tadi siang….

Alunan musik dimulai.

Cantarella?! Alunan Kuroro dan aku?! Kurapika tersentak mendengar alunan itu.

"Mari…." orang itu (Kuroro) mengulurkan tangannya.

Kurapika menerima ajakan Kuroro, tanpa mengetahui identitas orang yang sekarang di depannya. Tangan kanan Kurapika menggenggam tangan kiri Kuroro dan tangan kirinya menyentuh pinggang Kuroro. Mereka melangkah ke depan, belakang, ke samping dan berputar.

"Kau mengetahui alunan ini?" tanya Kurapika di acara dansanya dengan Kuroro.

"Ya, tentu saja…." jawab Kuroro singkat.

Mereka melanjutkan dansa. Tanpa mereka sadari, alunan musik hampir selesai. Mereka melepas pegangan dan berputar ke depan (misalnya Kuroro ke Kurapika, dan sebaliknya). Akhir dansa Kurapika dan Kuroro, mereka saling membuka topeng masing – masing.

"Kau…." Kurapika terbelalak.

"Ya, aku" kata Kuroro tersenyum.

"Se… Sekali lagi… Terima kasih banyak tentang yang tadi siang…." kata Kurapika gugup.

"Tidak masalah. Ayo" Kuroro menarik lengan Kurapika.

Kuroro mengajak Kurapika ke balkon. Di langit, tampak ribuan bahkan jutaan bintang di sana.

"Waaah…." Kurapika terpukau melihatnya.

Kuroro tersenyum melihat Kurapika. Kurapika menoleh ke Kuroro.

"Euhm… Kenapa kau memperlihatkan ini denganku…?" tanya Kurapika seraya memiringkan kepalanya.

"Kau suka?" Kuroro bertanya balik.

"Ya…." jawab Kurapika.

"Nah, sekarang… Ini saatnya kau pulang!" Kuroro mendorong Kurapika ke bawah.

"Kyaaaaaaaaaa!" Kurapika teriak sekencang – kencangnya.

Kuroro melompat ke bawah, menangkap Kurapika dan mendarat dengan mulus. Kurapika menarik nafas lalu membuang nafas secara berulang.

"Aaaaah…! Aku sangat takut…!" tanpa sadar Kurapika memeluk Kuroro. Ia pun menangis.

"Maafkan aku… Tapi, untung kau selamat 'kan?" Kuroro membelai rambut Kurapika.

"Iya…." Kurapika melepas pelukannya dan berhenti menangis. "Siapa namamu?" sekarang, Kurapika bertanya.

"Nanti kau juga akan mengetahuinya…." Kuroro berjalan menjauhi Kuroro.

"Tu… Tunggu!" Kurapika berlari mengejarnya.

"Kurapika!" panggil teman – temannya yang baru keluar dari istana.

Kurapika berhenti berlari dan menghampiri teman – temannya.

"Ayo, kita pulang…! Aku ngantuk nih… Huaaamm…!" Gon menguap.

"Iya, ayo pulang… Hik!" Meiko jegukan.

"Apa yang terjadi dengan Meiko?" bisik Kurapika dengan Rin.

"Dia diajak Killua untuk minum anggur…." balas Rin.

"Hhhh… Menyenangkan sekali…." gumam Meiko. Sepertinya… Ia sudah terjatuh ke dalam khayalannya.

Killua sama sekali tidak mabuk. Ia menggendong Meiko ala bridal style. Maklum, Meiko tidak pernah mencoba minuman beralkohol. Dan… Dia sama sekali tidak pernah melihatnya. Mungkin semuanya gara – gara Killua. Atau… Karena warna minuman itu menarik? Reader bisa menentukannya sendiri.

"Ayo, kita pulang!" ajak Killua.

"Iya, ayo…."


"Hahaha… Killua ada – ada saja… Mengajak Meiko minum anggur… Hahaha!" Kurapika masih memikir itu sesampai di rumah. "Ah, Ng…. Sebaiknya aku tidur…." gumamnya.


TBC


Akhirnya… Selesai….

Readers : "Apaan nih?! Norak banget deh!"

Ah… Gomen nasai… Gomen nasai… Saya terlalu capek, jadi maafkan saya… Sekali lagi maafkan saya….

Oh iya… Ini balas review dari :

Shina Kuruta : Arigatou gozaimasu… Maaf, ya… Ceritanya pendek, norak lagi…. :( Makasih review-nya, ya…. :D

Bila ada sesuatu yang tidak menyenangkan bagi para Readers, mohon pelampiaskan saja… Seperti… Ceritanya terlalu pendek atau sebagainya. Terima kasih.