A/N : Halo minna~ maaf banget sebelumnya buat reader yang udah baca, terutama Chi-lin san. Padahal saya udah bilang mau mempercepat update tapi mau dikata apa, setelah omong besar itu ternyata saya baru menyadari banyaknya tugas yang menumpuk, hingga terpaksa ditunda. Ditambah lagi saya sedang mengalami stress berat akibat sesuatu. Jadi buat para reader sekalian maaf atas keterlambatannya dan semakin abalnya fic ini, maklum, saya sungguhan stress berat, walaupun sebenernya ni chapter dah selesai tapi tetep aja saya rombak ulang lagi makanya jadi lama. Jadi, maaf. TT^TT

Ah, dan sekali saya memohin MAAF karena reader sekalian harus membaca curhatan author, okay selamat membaca. Jangan lupa lihat A/N dibawah, penting! *bows*

Summary : kisah cinta Kise Ryota, dimana dia harus memilih antara cintanya di masa lalu atau orang baru yang mencintainya sepenuh hati. Summary nya memang berasa sinetron, tapi ceritanya dijamin aman. Pairing (kemungkinan) berubah setiap chapter. Dan pair disini adalah Aomine/Kise dan pair silahkan temukan jawabannya setelah membaca chapter ini. X3 *author kurang ajar* yang jelas bukan Aomine/Kagami. Bukan. Maaf untuk penggemar AoKaga.


Between Past and Present

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Pairing this chap : none, just a few hints

.


Chapter 2 – Our Meeting

.

Gym SMA Seirin penuh dengan para gadis-gadis dari kelas satu sampai kelas tiga, berteriak-teriak layaknya orang gila memanggil satu nama. Dan sangat jelas, nama itu bukan salah satu dari nama anggota klub basket SMA Seirin, sungguh menyedihkan memang.

"KISE-KUN! KYAAAA..."

"Kise-kun boleh minta tanda tangan."

"Kise-kun, ayo berfoto."

"Kise-kun, terimalah bekalku."

"Kise-kun nikahilah aku!" Setelah kalimat ini terucap gym yang tadinya ramai berubah sepi layaknya kuburan. Dan para gadis memandang sadiske arah sang pemilik suara.

Kise sweatdrop. "A-ano, bagaimana kalau sudah dulu, sekarang aku harus bicara dengan temanku, jadi acara tanda tangannya kapan-kapan lagi saja ya." Menanggapi aura membunuh milik fansnya Kise mencoba untuk menghilangkan aura tersebut dengan senyum kecil terpampang di wajah tampannya.

"TENTU SAJA KISE-KUN!" dan tentu saja cara itu berhasil, setidaknya para anggota basket Seirin juga sedikit merasa lega, mereka tidak mau kan kalo gym ini berubah jadi banjir darah hanya karena masalah nikahi-aku-artis-pujaan-hatiku.

"Lama tidak berjumpa Kise-kun." Kuroko menyapa teman lamanya itu dengan ekspresi datar seperti biasanya. Yang tentu saja tidak begitu dipedulikan Kise, begitu-begitu Kuroko adalah temannya yang paling pengertian.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Em, aku dengar lawan selanjutnya adalah Seirin, jadinya aku datang untuk berkunjung, lagipula ada Kurokocchi disini, temanku yang paling dekat diantara yang lain. Ne Kurokocchi." Ucap Kise dengan mata berbinar.

"Tidak juga." Dibalas dengan datar.

"Hidoi-ssu." Rengek Kise.

"Hei, kau benar-benar anggota Kiseki no Sedai? Tapi kau baru main selama 2 tahun kan, hebatnya." Kagum beberapa anggota Seirin basketball.

"Ahahaha... tidak juga, sebenarnya aku ini terlemah diantara anggota yang lain, makanya hanya aku dan Kurokocchi yang biasanya sering dijahili." Ucap Kise, kembali memberikan tatapan berbinar ke arah Kuroko.

"Tidak juga." Dan kembali dibalas dengan datar.

"EH?! jadi hanya aku? Hiks hiks, jahat-ssu."

Belum selesai Kise merengek sebuah bola basket melayang ke arahnya secara tiba-tiba. Yang tentunya diambil dengan mudah oleh Kise.

"E-EH?!"

"Maaf mengganggu reuni mengharukan kalian, tapi kau datang kemari tidak hanya untuk berkunjung kan, bagaimana kalau kau bermain one on one denganku sebentar Ikemen-kun." Sesosok berambut merah menantang Kise dengan seringai bringas di wajah yang rasa-rasanya mengingatkan Kise pada seseorang yang sudah lama sekali ingin dia lupakan.

"Kagami!" Teriak beberapa anggota Seirin melihat tingkah tidak sopannya.

Kise yang sebenarnya masih kaget menatap Kagami penuh ketertarikan, setidaknya Kagami sudah menujukan hal bagus padanya, kenapa ia harus menolak, dan ia pun menyanggupinya. Kise mendribble bola lalu melakukan gerakan yang sama persis dengan gerakan yang tadi dipraktekan oleh Kagami, melewatinya dengan mudah dan melakukan dunk.

Semua mata memandang pada sosok Kise, terpana dengan gerakannya, gerakan itu terlalu mirip dengan gerakan Kagami. Jadi inilah Kise Ryota? salah satu member Kiseki no Sedai? Bahkan Kuroko yang melihatnya sedikit tercengang, tak menyangka bahwa teman cengeng nya ini bertambah hebat dibanding saat mereka masih SMP.

"Fuh... baiklah, tak perlu berbelit-belit, alasanku kemari memang bukan sekedar berkunjung. Jadi begini, tolong berikan padaku Kurokocchi. Datanglah ke sekolahku dan ayo kita main basket bersama-sama lagi Kurokocchi." Kembali ujar Kise dengan berbinar-binar.

"APA?!" Teriak seluruh anggota basket Seirin kaget dan tidak terima.

"Em, Kurokocchi, kau tahu kan kalau aku sangat menghormatimu, makanya aku ingin mengajakmu ke sekolahku. Disini bakatmu tidak akan terasah Kurokocchi."

Kuroko terdiam. "Maaf Kise-kun, tapi aku menolak. Lagipula, aku punya janji untuk mengalahkan Kiseki no Sedai."

"Eh? Tu- apa maksudmu Kurokocchi? Ini tidak sepertimu."

"Heh, apa kau ini tidak dengar apa yang dikatakannya." Kise mengernyit karena ucapan Kagami yang tiba-tiba ikutan masuk di pembicaraan mereka berdua.

"Lagipula, kalimat mengalahkan Kiseki no Sedai adalah kalimatku. Jangan seenaknya kau mencurinya Kuroko." Ucap Kagami pada Kuroko namun memberikan tatapan tajam ke arah Kise.

Kise yang medengarnya sedikit tercengang dengan deklarasi keduanya, sebelum menyunggingkan senyum kecil penuh pengertian.

"Baiklah, kalau begitu situasinya apa boleh buat. Aku tunggu besok di Kaijou." Kise mengangkat bahunya pasrah lalu pergi meninggalkan gym SMA Seirin.

"Kise-kun." Panggilan Kuroko menghentikan langkahnya.

"Ada apa Kurokocchi? Kau berubah pikiran?" Kise menyeringai senang dengan pemikiran tidak masuk akalnya.

"Tidak. Berhati-hatilah." Kuroko memandangnya dengan tatapan seolah mengetahui segalanya membuat Kise sedikit berjingkat tapi tetap terlihat tenang.

"Arigatou Kurokocchi." Kise tersenyum, lalu pergi meninggalkan Seirin.

.

\(PRESENT)/\(PRESENT)/\(PRESENT)/\(PRESENT)/

.

Kise terbaring di kasurnya dengan tatapan kosong melihat langit-langit kamarnya. Penolakan Kuroko sungguh membuatnya sakit hati.

"Hue... Kurokocchi..." Kise menangis di kamarnya, merasa terkhianati oleh teman baiknya.

"Hiks... Kurokocchi jahat-ssu. Apalagi dengan temannya berambut merah itu, apa-apaan dia, memonopoli Kurokocchi seenaknya." Ia kembali merengek memikirkan hal-hal aneh yang kemungkinan dilakukan Kuroko dan Kagami, yang tentu saja sangat jelas itu tidak mungkin terjadi dan tidak ada benarnya sama sekali.

"Hua... Kurokocchi." Kembali Kise merengek, kali ini sekeras-kerasnya membuat ibunya yang sebenarnya sudah terlelap marah-marah dan menyuruhnya untuk cepat tidur, dan tentu saja Kise langsung terdiam dan menurut karena bagaimanapun juga Ibunya itu sosok paling mengerikan sepanjang sejarah, yang diketahui Kise tentunya.

"Tapi, Kagami?" Kise mengeratkan pelukannya ke arah guling bergambar Tweety miliknya, kali ini memikirkan remaja berambut merah yang tadi di temuinya dan menantangnya tanpa takut yang notabene memiliki title Kiseki no Sedai.

"Semangatnya mirip Aominecchi dulu." Ia berujar lirih, kembali hatinya perih, matanya terlihat sembab hendak menangis kalau saja ia tidak menahannya.

"Hiks hiks... HUA... KUROKOCCHI!" Kembali Kise merengek, namun tidak diketahui juga kenapa malah nama Kuroko yang disebutkan, padahal jelas-jelas dia sedang mimikirkan Kagami atau Aomine, yah, absurd memang, mau bagaimana lagi, Ingat, Kise itu idiot. Dan karena keidiotannya itulah sang Ibu kembali berteriak.

"RYOTA!" Lebih menggelegar dari rengekan sang anak, memang benar inilah yang dinamakan like mother like son. Dan dengan secepat kilat Kise pun tertidur, takut-takut kalau kali ini ibunya akan menghampiri kamarnya dengan sebilah pisau dapur.

.

\(PRESENT)/\(PRESENT)/\(PRESENT)/\(PRESENT)/

.

"Kita... kalah?" Air mata menggantung di sudut mata Kise, pertandingan latihan lawan Seirin baru saja selesai dan mereka kalah dengan skor tipis, 100-98. Ini pertama kalinya dalam hidup Kise bermain basket merasakan yang namanya kalah, simpan bagian Aomine. Ia kembali merengek sebelum seniornya menedangnya sekeras mungkin membuat yang ditendang terjungkal.

"Kasamatsu senpai." Ia memandang senpainya itu dengan mata masih berair.

"Dasar bodoh, untuk apa kau menangis?! Simpan tangisanmu dan tulis balas dendam di kamusmu. Kita akan mengalahkan mereka nanti." Kasamatsu menyeringai, berharap kohainya dapat bersemangat kembali.

_(TIME_SKIP)_

Kise membasuh wajahnya dengan perasaan masih campur aduk, ini adalah kekalahannya yang pertama kali selain melawan Aomine dan ini membuatnya terpuruk, sedikit pun ia tidak mampu mencapai Aomine. Ia terlihat lemah, bahkan di depan Kuroko, ditambah lagi ia kalah dari si rambut merah Kagami Taiga, membuatnya semakin sebal.

"Bintangmu adalah Gemini, itu sebabnya kau kalah, ini bukan hari keberuntunganmu." Sebuah suara yang tidak asing mengalihkan perhatiannya. Sesosok makhluk hijau, maksud saya berambut hijau, Midorima Shintaro ada di hadapannya. Bagus, untuk apa orang ini berada disini, bukankah Kise masuk dalam list tertinggi untuk orang yang ingin dihindari, dasar tsundere. Benar katanya, ini bukan hari keberuntungan Kise.

"Kita sudah lama tidak bertemu dan ini kalimat pertama yang kau ucapkan kepadaku, ne Midorimacchi." Kise menyeringai ke arah temannya, teman yang sungguh paling tidak bisa ia mengerti, dari SMP sampai SMA orang inilah yang paling susah diajak bicara menurut Kise.

"Sepertinya kau berharap untuk membalas dendam atas kekalahanmu melawan Kuroko." Membetulkan kacamatanya Midorima mengambil sesuatu dari kantong seragamnya.

"Huh? Apa maksudmu Midorimacchi?" Kise menatap tangan sang shooter nomor wahid dari Teiko yang berniat mengambil sebuah barang entah apa, sedikit membuat Kise penasaran. Dan seekor kodok pun keluar, kodok mainan lebih tepatnya. Alis Kise menaik, bertaruh bahwa benda laknat yang baru saja keluar dari kantongnya itu adalah lucky item pemuda berkacamata.

"Maksudku, kau tidak akan bisa melawan mereka kembali. Karena Shutoku pasti akan menang. Dengan lucky item yang kumiliki seluruh tembakanku tidak akan meleset, dan ini semua karena aku mendengarkan ramalan Oha Asa." Kalau saja bagian lucky item dan Oha Asa dihilangkan Kise mungkin akan menatap temannya ini dengan pandangan kagum seraya berbinar-binar. Tapi karena dua kata itu, ia justru semakin tidak mengerti dengan tingkah Midorima ini.

"Haah... Aku mengerti Midorimacchi, tapi Kurokocchi tidak lemah, apalagi," jeda sejenak. "Kurokocchi sudah... punya cahaya baru." Kise meneruskan dengan senyum agak dipaksakan. Midorima yang mengetahui hal ini hanya bisa menaikkan kacamatanya.

"Hey, Shin-chan, jahat sekali kau meninggalkanku. Aku malu tahu harus bawa-bawa gerobak ini." Suara seorang pria pembawa gerobak-yang jelas bukan tukang sampah ataupun penjual asongan-mengalihkan keduanya dari pemikiran masing-masing.

"Pokoknya, lupakan dendammu itu, karena presentase kami kalah adalah tidak mungkin. Aku pergi Kise." Dan Kise pun tak bisa membalas, bukan karena tidak mau, tapi tidak sanggup, ia takut jika ia menjawab Midorima ia akan berakhir tertawa di tempat sekeras-kerasnya. Bagaimana tidak tertawa, pemandangan didepannya sungguhlah absurd untuk didefinisikan dengan kata-kata. Midorima duduk di dalam gerobak miliknya, Kise kembali bertaruh bahwa itu miliknya, cuma ramalan Oha Asa yang dapat membuat Midorima membawa benda-benda aneh kemanapun juga, lalu dengan teman baiknya yang mengayuh sepeda di depan terlihat sangat kelelahan. Tunggu, apa dia datang jauh-jauh dari Tokyo ke Kanagawa menggunakan benda itu? Dan kembali Kise merasa sendu, menatap iba pada pemuda berambut hitam yang mengayuh, ia pasti menyesal berteman dengan Midorima Shintaro.

Sore menjelang dan Kise harus pulang, Ia bergegas mengganti pakaian basketnya dengan seragam sekolah dan pergi berjalan mengikuti instingnya, bukannya ia mau keluyuran, tapi dia merasa harus memberitahu Kuroko akan sesuatu hal yang penting, itu sebabnya ia pergi ke arah dimana Klub basket Seirin pergi. Kalau ditanya bagaimana caranya, jawabannya mudah, ia mengendus, title Dog yang didapatnya bukanlah sekedar kiasan pada dasarnya. *bunuh author*

.

\(PRESENT)/\(PRESENT)/\(PRESENT)/\(PRESENT)/

.

Berbicara dengan Kuroko ternyata gampang-gampang susah, gampangnya, ia menjawab pertanyaan Kise dengan serius dan tidak bercanda, Kise tahu kalo temannya bukan tipe senang bercanda tapi kadang Kuroko juga termasuk salah satu teman yang senang menjahilinya, makanya Kise sangat bersyukur temannya itu serius menjawabnya. Sayangnya, susahnya ini, Kise sama sekali tidak mengerti apa yang Kuroko katakan, bukan, bukan karena dia bodoh, itu fakta, tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya terletak pada kalimat Kuroko tentang mengalahkan Kiseki no Sedai dan kemenangan bukanlah segalanya, itu cukup membuat Kise... terperangah.

"Kuroko sialan, pergi menghilang begitu saja." Kagami Taiga tiba-tiba muncul dibelakang Kuroko dan menyentaknya. Lalu tatapannya beralih pada Kise.

"Yo." Kagami berucap dengan sedikit seringai, mengagetkan Kise dan membuatnya entah kenapa menjadi... berdebar? Kise menelan ludah, mana mungkin ia berdebar.

"Kau menguping huh?"

"Kau sendiri yang tiba-tiba menculik Kuroko."

"Aku kan hanya meminjamnya sebentar." Cibir Kise.

"Bodoh, kami jadi tidak bisa pulang tau." Geram Kagami.

"Hei-hei apa-apaan kalian bocah, menyingkir sana." Tiba-tiba terlihat beberapa berandalan menyiksa anak-anak yang sedang bermain basket, mereka memukul dan menendangi mereka hingga babak belur tanpa ampun. Kagami dan Kise yang melihatnya mengernyitkan alis mereka, rasa-rasanya ada yang aneh pada pemandangan para berandalan yang sedang menyiksa tersebut, dan dugaan mereka benar,

"Bagaimanapun juga apa yang kau lakukan sangatlah tidak adil." Kuroko berujar tepat didepan wajah salah seorang berandalan, menantang tanpa takut seraya memainkan bola basket di tangan.

Kuroko(cchi) teriak Kise dan Kagami bersamaan. Pemandangan aneh itu adalah munculnya sosok Kuroko secara mengejutkan-entah trik apa yang dia gunakan-di depan para berandalan tersebut untuk menantang mereka main basket, merasa kasihan membiarkan teman mereka bermain sendirian, Kise dan Kagami memutuskan untuk berpartisipasi. Jika ada yang ingin melihat seperti apa pertandingan basket mereka silahkan lihat manga chapter 11. Gak begitu penting kok. (OI!)

"Haah... Kurokocchi itu benar-benar ya."

"Maaf, habis mereka keterlaluan sih." Balas Kuroko sambil menggaruk kecil pipinya. Kise hanya tersenyum, Kuroko memang selalu begini, dan Kise tahu itu.

"Baiklah, aku pulang dulu ya. Lagipula hari ini aku senang sekali. Habis akhirnya aku bisa main dengan Kurokocchi lagi sih." Kise kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. Kuroko terdiam, entah mengapa melihat Kise tersenyum begini membuat dirinya sedikit merasa lega.

"Dan jangan lupa balas dendam itu Kagamicchi. Jangan sampai kalah di pertandingan awal." Kise mengedipkan matanya kepada Kagami yang dibalas dengan wajah memerah oleh si empunya. Kise yang menyadari tingkah genitnya itu ikut memerah dan langsung mengalihkan pandangan kemudian berlari sekencang mungkin, tidak mendengar teriakan entah malu atau frustrasi Kagami tentang namanya yang berubah jadi Kagamicchi.

"Sepertinya Kise-kun menyukai Kagami-kun ya."

"Ha-HAH? Apa maksudmu Kuroko?! Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh bodoh. A-ayo cepat kita kembali." Wajah Kagami kembali memerah, dan Kuroko hanya bisa tersenyum kecil melihatnya.

.

Our Meeting end.


A/N : saya pikir reader sekalian pasti bingung sama chapter yang tiba-tiba gak nyambung sama chapter pertama. Jadi gini, saya bikin 2 cerita, cerita pertama berkisar sekilas masa lalu Kise bersama Kisedai saat masih SMP, sedangkan cerita kedua berkisar kehidupan Kise sekarang saat udah SMA. Tapi walaupun dua cerita sebenernya punya 1 alur yang sama. Jadi selama beberapa chapter, ceritanya akan dibagi dua, yaitu Teikou Days dan masa sekarang pas Kise udah di Kaijou. Tapi itu cuma SEMENTARA, setelah Teikou Days end alur cerita akan di fokuskan ke masa SMA Kise. Semoga penjelasan ini dapat dimengerti reader sekalian, dan tolong jangan protes dengan penyampaiannya yang aneh, ini sudah saya putuskan sejak ide ini muncul. Kalo kurang jelas tanyakan saja di review, saya akan dengan senang hati menjelaskan. :) Terima kasih.

Peluk cium,

Higitsune.