Disclaimer
Naruto ® Masashi Kishimoto
Story by UchiHaruno Misaki
WARNING : Miss Typo(s), OOC, EYD, etc.
M (for save)
SasuSaku and Sakura-centric
Chapter 2
Terik matahari terlihat menyinari beberapa kaca bus yang berhenti berbondong-bondong di parkiran sebuah bangunan hitam yang lebih dikenal dengan Kastil Okayama. Semua penumpang di dalamnya mulai menghambur keluar bus.
"Hahh ... akhirnya kita sampai juga! Tiga jam perjalanan menbuat tubuhku terasa remuk semua!" ujar seorang gadis blonde nyentrik yang baru saja turun dari angkutan bus itu, berjalan mengelilingi taman depan Kastil Okayama seraya merenggangkan otot-ototnya.
Haruno Sakura yang baru saja turun dari bus touring tersebut hanya tersenyum tipis melihat sahabatnya, "Hey, pig! Kau ini terlalu berlebihan, baru saja tiga jam sudah mengeluh seperti itu." Ino hanya tertawa ringan mendengar panturan dari sahabatnya, lalu pergi ke arah Kastil itu meninggalkan Sakura yang tengah menggelengkan kepalanya.
Sakura membenarkan letak ranselnya yang lumayan berat. Ya, touring ini akan memakan waktu sekitar satu minggu dan para dosen menginformasikan bahwa seluruh anggota touring tidak akan menginap di Hotel melainkan para anggota dianjurkan membuat tenda perkemahan di hutan berjarak 5oo meter dari Kastil itu.
Peraturan itu diterima dengan senang hati oleh para mahasiswa dan mahasiswi tersebut karena sepertinya ide mendirikan tenda terdengar sangat menantang adrenalin sekaligus menarik untuk dilaksanakan.
Sakura merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya, lalu menghirup udara dengan sebuah senyuman tipis terpeta di sudut bibirnya. 'Haaah ... segarnya,' batinnya rileks.
Teringat sesuatu Sakura segera membuka kedua matanya, lalu mengedarkan pandangannya pada tujuh buah bus berwarna merah di belakangnya. "Sasori-kun, Tobi-kun, Naruto!" Sakura berseru ketika melihat tiga sahabatnya yang tengah berkumpul di salah satu tugu dengan wajah serius—entah apa yang mereka bicarakan.
Sakura berlari kecil menghampiri ketiga sahabatnya. Dari gelagat para sahabatnya, Sakura yakin mereka tidak mendengar suara Sakura. Maka dengan jahil Sakura berencana mengejutkan mereka.
Sakura berjalan perlahan-lahan menghampiri ketiga sahabatnya.
"... tidak, bagaimana jika besok malam saja kita menemuinya? Jika malam ini, itu terlalu cepat. Kau tenang saja Tobi, aku yakin dia tahu bahwa gadis itu—"
"DOR! Hayo kalian lagi membicarakan apa sih? Sepertinya seru." Ketiga pemuda itu tersentak kaget ketika Sakura dengan polosnya menepuk pundak Naruto tiba-tiba.
"Ehem, Sakura-chan? Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Naruto sedikit gugup, Tobi pun terlihat canggung. Hanya Sasori yang terlihat tenang dan jujur saja tingkah mereka membuat Sakura memicingkan matanya curiga.
"Kalian ... apa yang kalian bicarakan? Dan kau Naruto," —gluk! Dengan susah payah pemuda pirang itu menelan salivanya sendiri ketika Sakura menunjuk keningnya, "kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Siapa yang kalian bicarakan, eh?"
Sasori meraba-raba sekitarnya dan —tap! Sasori berhasil menggenggam tangan kanan Sakura, "Apa yang kami bicarakan itu masalah para pria Sakura, apa kau yakin ingin tahu apa yang para pria bicarakan?" dan —blush! Wajah Sakura bersemu merah ketika ia menyadari apa yang sering para pria bicarakan, apalagi tadi ia mendengar Naruto menyebutkan 'gadis'.
Maka dengan cepat Sakura menggelengkan kepalanya, "Ti—tidak! Aku tidak mau tahu! Tch, sudahlah cepat kita pergi menyusul Ino." Sakura dengan pelan mulai menuntun Sasori yang tengah terkekeh geli, lalu melangkah menghampiri Ino yang tengah berjongkok di depan kolam ikan kecil.
Naruto dan Tobi menghela napas lega ketika melihat Sakura berjalan mendahului mereka.
"Huuh, untung saja Sakura tak mendengar semuanya. Bukan begitu Kakek Madara?" ucap Naruto dengan nada datar, Tobi menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya di tugu batu itu seraya menatap punggung Sakura tajam dengan matanya yang berubah warna menjadi merah pekat.
"Hn, kau benar. Jangan memanggilku seperti itu di tempat ramai seperti ini, bocah." Ujar Tobi dengan nada berat.
"Terserah kau saja, Kakek tua!" Naruto hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli, lalu mulai berlari menghampiri Sakura dengan cengiran bodohnya —setidaknya menurut Tobi— meninggalkan Tobi yang tetap dengan gaya stay cool-nya.
'Hn, kau datang?'
Tobi menyeringai ketika mendengar suara yang tak asing lagi dipikirannya. "Ya, sesuai ramalan; bukan hanya aku yang datang, tapi ... —kami." Jawab Tobi dengan kemampuan telepatinya.
'Hn, aku tahu. Gunakanlah waktu satu minggu ini sebaik mungkin untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik Demon sejak ratusan tahun yang lalu.'
Tobi menutup kedua matanya, "Tentu."
'Hn. Aku percayakan tugas ini padamu, hanya padamu ... Kakek.'
Tidak ada lagi suara setelah gumaman dingin itu. Membuka matanya perlahan, Tobi menatap Kastil di hadapannya dengan tatapan tajam. Beranjak dari posisinya, pemuda berambut hitam spike itu mulai melangkah menghampiri keempat sahabatnya yang tengah berkumpul di salah satu pohon sakura dengan kedua tangan dimasukkan ke kantung celanannya setelah merubah iris matanya seperti sedia kala. Tentu saja.
Ya, mereka sedang bersantai karena kegiatan touring tidak akan dilaksanakan pada siang hari melainkan akan dilaksanakan tepat pada malam hari.
'Sesuai rencana.'
.
.
.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul setengah enam petang, cahaya matahari pun mulai menyurut dengan warna merah jingga di ufuk barat.
"Hey! Bawa talinya kemari Ino bukan di sana, kau ini bagaimana?!" Naruto terlihat sangat kesal ketika melihat Ino yang selalu saja salah menyematkan tali di setiap ujung tenda mereka.
Suasana hutan belantara itu terlihat gelap mencekam, tetapi tidak menyurutkan semangat para mahasiswa dalam aktivitasnya saat ini. Ya, para anggota tour kini tengah mendirikan tenda-tenda mereka termasuk Naruto dan Ino yang sedari tadi ribut.
"Dasar rubah bodoh! Jangan memarahiku terus bisa? Kau tahu sendiri bukan? Aku tidak tahu caranya mendirikan tenda seperti ini!" Karena kesal selalu dimarahi akhirnya dengan penuh amarah Ino melempar seutas tali di tangannya itu ke arah Naruto dan —Bletrak!
"Argh! Sakit bodoh!" Naruto mengusap kepalanya yang terasa sangat berdenyut ngilu akibat tali berujung besi lancip itu Ino lemparkan, untung saja Naruto selalu memakai pelindung kepala di keningnya sehingga besi tajam itu gagal menancap di kepalanya, jika tidak, —ah bahkan pemuda bertanda kelahiran di kedua pipinya itu tak dapat membayangkan bagaimana nasibnya kelak.
"Haha! Rasakan itu idiot!" tanpa memedulikan Naruto, Ino dengan santainya melangkahkan kakinya menuju pohon besar lalu tanpa aba-aba gadis itu memanjat pohon tersebut dan kini Ino telah duduk manis seraya mendengarkan musik melalui kedua headset-nya di salah satu dahan pohon yang menjuntai cukup tinggi dari permukaan tanah.
Sedangkan Naruto? Oh, lihatlah dengan perasaan kesal Naruto kembali mendirikan kedua tenda itu dan tak lama Tobi datang membantu Naruto.
Sasori yang sedari tadi duduk di rerumputan tak jauh dari lokasi kedua sahabat blonde-nya itu hanya tersenyum tipis. Ya, mata Sasori boleh saja gelap tanpa adanya penglihatan, akan tetapi jangan lupa instingnya kuat. Ia bahkan tahu ada segerombolan semut tengah berjalan berbondong-bondong di batu besar yang berjarak sepuluh meter dari posisinya sekarang dan Sakura yang tengah duduk di sisi timur tigapuluh meter darinya.
Sasori menghela napas pelan lalu mulai merebahkan dirinya di atas rumput itu, iris hazel kosongnya menatap langit malam. Pikirannya kembali melayang pada masalalunya yang kelam, oh jika dipikir-pikir sudah lebih dari lima ratus tahun lamanya sejak kejadian itu.
'Shion ...'
Sasori memejamkan matanya dan ketika itu terjadi tanpa bisa dicegah butiran liquid bening meluncur sempurna di kedua pipi putih bak pualamnya. Menangis. Ya, Sasori selalu seperti ini, menangis dalam penyesalan.
Sungguh ia sangat menyesal telah melakukan hal itu pada kekasihnya. Semua ini gara-gara batu nista itu, Sasori mengepalkan kepalan tangannya erat. Membuka kelopak matanya, terlihatlah pancaran tajam penuh luka di kedua mata hazel-nya yang kosong.
'Kau harus membayar semuanya!' batinnya murka.
.
.
oOo
.
.
Di sisi lain hutan itu, terlihat gadis berhelaian soft pink bergelombang indah menjuntai hingga pinggang tengah berbaring di batu besar seraya menekuni layar gadget-nya yang menampilkan beberapa gambar dan artikel.
"Hmm, Zeus? Bukankah dia dewa langit dari mitos Yunani? Ah, sepertinya ini menarik." Dengan semangat Sakura menekan link judul di layar datar itu.
ZEUS Sang Dewa Langit
Sebagai dewa langit Zeus memiliki akses intim yang mudah pada para perempuan cantik di seluruh dunia dan dia memang memanfaatkan hal itu. Selain itu, kekuasaannya sebagai dewa tertinggi menjadikannya sukar untuk ditolak perempuan.
Sebelum menikah dengan Hera, Zeus telah terlebih dahulu menikahi Metis, Themis, dan Mnemosine. Zeus juga berhubungan dengan Leto tidak lama setelah menikah dengan Hera. Beberapa perempuan yang pernah ditiduri oleh Zeus setelah menikah dengan Hera di antaranya adalah : Europe, Io, Semele, Ganimede, Kallisto, Leto, Aigina.
Sakura mengerenyitkan kedua alisnya bingung. "Apa ini? Dewa? Cih, apa dia yang suka meniduri banyak wanita berbeda pantas disebut dewa? Ia lebih pantas disebut Iblis!' gerutunya pada dirinya sendiri. Kendati merasa kesal, karena rasa penasaran yang merajalela dalam dirinya, akhirnya Sakura mulai membaca artikel itu satu persatu.
Beberapa saat kemudian Sakura melongo ketika otak cerdasnya mulai menyaring kalimat demi kalimat yang ia baca, "Oh astaga! Seorang dewa memperkosa? Bahkan ia memperkosa Hera Kakaknya sendiri? Dan apa ini? Ganimede 'kan laki-laki! Jangan bilang dewa juga bisa terkena penyakit bisexual? Aku yakin pasti dia benar-benar Iblis bukan dewa!" dengan malas Sakura mulai mematikan gadget-nya, lalu ia melihat jam yang ternyata telah menunjukkan pukul tujuh malam.
Gadis itu mengusap wajahnya lalu menatap langit hitam bertaburan bintang itu dengan dahi mengerenyit karena pikirannya kini penuh dengan isi artikel tadi. Beginilah jika menjadi seorang maniak kisah mitologi seperti nona Haruno Sakura ini. Sakura mengerucutkan bibirnya dan kembali memikirkan kisah tadi.
Pertama tentang dewa Zeus yang mencintai Hera Kakaknya sendiri, Hera yang tak merespon rasa cinta dewa Zeus atau Adiknya itu membuat dewa Zeus melakukan tipu muslihat dengan menyamar jadi burung tekukur. Ketika Hera melihat burung tersebut hinggap di jendela kamarnya, tanpa menaruh curiga sedikit pun Hera mendekat menghampiri burung tersebut. Tanpa diduga burung itu terbang dan hinggap di payudaranya, saat itulah Zeus berubah pada wujudnya kembali dan memperkosa Hera saat itu juga.
Karena Hera memiliki harga diri yang tinggi maka untuk menutupi rasa malunya, Hera pun terpaksa menikahi Zeus.
Bajingan!
Kedua, Zeus yang selalu mudah jatuh cinta ketika melihat seorang gadis cantik dan akan langsung menyetubuhinya saat itu juga. Bahkan Zeus dengan sengaja menodai seorang gadis yang telah bersumpah kepada sahabatnya Arthemis —yang ternyata puteri Zeus sendiri— bahwa ia akan menjaga keperawanannya, ya Zeus menyamar jadi Arthemis puterinya untuk mendekati gadis itu dan langsung menyetubuhi gadis suci tersebut.
Akibatnya sang Artemis marah, kecewa dan sedih, lalu gadis bernama Kallisto itu dibenci oleh Arthemis dan diusir dari kelompoknya.
Brengsek!
Terakhir, Zeus yang mencintai seorang pemuda yang notabenenya seorang pangeran berparas rupawan sehingga membuat dewa Zeus tertarik dan menjadikan pemuda itu sebagai kekasih yang kesekian kalinya. Walau berakhir dengan dikirimnya pemuda itu ke langit untuk di jadikan salah satu lambang rasi bintang.
Iblis!
"Aneh, dewa macam apa yang berbuat hal keji dan licik seperti itu kepada Kakaknya sendiri? Memperkosa para gadis dan menjadikan sesama jenis sebagai kekasihnya. Che, benar-benar Iblis berwujud dewa. Jika saja ada Iblis sepertinya ada di hadapanku saat ini maka tanpa pikir panjang akan kuhajar dengan sekuat tenaga dan—Ah! Apa yang kaubicarakan Sakura baka? Ia 'kan dewa pasti belum apa-apa kau sudah mati terbakar," Sakura terkekeh dengan gumamannya sendiri, tanpa ingin ambil pusing tentang kisah mitos itu Sakura menghela napas dan tanpa sengaja tangan kanan Sakura menyentuh sesuatu yang dingin di area lehernya.
Aa, sebuah kalung sederhana dengan sebuah liontin kristal hijau. Pandangan mata Sakura berubah sendu, gadis itu menggenggam kalung tersebut lalu menatap langit dengan tatapan kosong tanpa arti, hatinya merasa tercubit ketika mengingat latar belakang hidupnya sendiri.
'Tuhan ... apa arti diriku dilahirkan jika ibuku saja tega meninggalkan aku sendirian yang bahkan baru melihat dunia ini?' batinnya getir, tersenyum masam Sakura mulai menutup matanya seraya memeluk kalung dan gadget-nya sekaligus.
Suara para mahasiswa di tengah-tengah api unggun yang baru saja dinyalakan terdengar jelas di kedua telinga Sakura. Sakura bahkan tidak menyadari sepasang mata merah tengah menatapnya dari atas Kastil tersebut sedari tadi dengan seringaian ganjil di sudut bibir seseorang itu.
Posisi Sakura saat ini sebenarnya sungguh rentan akan bahaya, kenapa? Oh ayolah seorang gadis tengah berbaring di batu besar dekat hutan rimbun sendirian. Ya, sendirian! Kendatipun jarak tenda hanya limapuluh meter darinya, tetap saja wilayah yang Sakura tempati terlihat gelap tanpa cahaya. Tanpa memedulikan posisinya, dengan nyaman Sakura terus saja menutup kedua matanya. Sayup-sayup Sakura dapat mendengar obrolan para anggota touring dan itu membuat Sakura tersenyum tipis.
'Ahahaaa dasar bodoh kau Matsuri!'
'Kau menyebalkan Kankouro! Kembalikan novelku!'
'Ambil saja sendiri!'
'Hey ini air hangatnya ayo cepat bikin kopi, suasananya mulai mendingin.'
'Iya sebentar aku buatkan untukmu Zuki-kun'
'Key mana gitarku? Aku ingin memainkannya, bukankah sangat cocok bermain gitar dalam suasana seperti ini?'
'Kau benar Toru, sebentar aku ambilkan di tenda,'
'Hm, cepatlah!'
'Oke.'
'Hey Ino cepat turun dari sana! Sudah malam dan tolong panggilkan Sakura-chan di sana,'
'Iya Ino ini sudah jam tujuh malam, bahaya jika Sakura tetap di sana. Cepatlah bawa Sakura ke sini.'
'Haah baiklah Naruto, Sasori aku panggilkan Sakura. Kalian cerewet sekali dan kau Tobi jangan menatapku seperti itu!'
'Haha Tobi bilang cepatlah nona cerewet jangan banyak bicara, bawa Sakura sekarang!'
'Huh! Kau menyebalkan Naruto baka!'
'Cih, kau lebih menyebalkan!'
'Kau!'
'Kau!'
'Ka—'
'Sudahlah Naruto, Ino! Cepat panggil Sakura!'
'Baiklah ...'
'Sakura!'
'Hey Sakura!'
'SAKU—'
Wushhhhhhhhh!
.
.
.
.
.
Hening ...
Sakura yang tengah menikmati hembusan angin malam itu tersadar ketika suara Ino yang memanggilnya lenyap dan suasana di sekitarnya berubah hening tanpa suara para anggota tour, maka dengan cepat Sakura membuka kedua kelopak matanya dan langsung bangkit duduk.
Deg! Deg! Deg!
Mata Sakura terbelalak lebar dan jantungnya berdetak cepat ketika melihat sekitarnya yang sangat gelap gulita, tanpa ada api unggun ... tenda-tenda ... anggota touring ... para sahabatnya dan, —Ino.
Perlahan Sakura turun dari batu itu dan menatap was-was pada sekitarnya, "Ino? Sasori? Tobi? Naruto? Kalian di mana? HALLO?!" Sakura terus berteriak seraya melangkahkan kakinya perlahan ke depan.
"..." Hanya keheningan yang menjawab teriakan gadis itu, peluh mulai membanjiri tubuh Sakura seiring dengan langkah demi langkah yang Sakura susuri.
Srek!
"Grrrrrrrrr!" tiba-tiba saja terdengar suara geraman rendah tepat dibelakang tubuh Sakura, demi Tuhan Sakura tidak berani menoleh ke belakang. Maka dengan tubuh gemetar hebat Sakura berlari sekuat tenaganya.
Wussh!
"GRRRRRRR!"
"Hikss, Ino ... Sasori ... Naruto ... Tobi, tolong aku!" Sakura semakin mempercepat laju larinya, tanpa terasa Sakura mulai mengisak. Takut. Sungguh Sakura sangat takut saat ini. Suasananya begitu mencekam, angin dingin terus berhembus, rimbunnya pohon itu membuat Sakura semakin sesak karena takut.
'Di mana ini Tuhan? Ino, Sasori, Naruto, Tobi ... kalian dimana?' batinnya terus berteriak pilu. Sungguh apa yang terjadi sebenarnya? Sakura yakin tadi ia berada di tempat perkemahan tapi, mengapa ia ada di tengah-tengah hutan seperti ini? Dan lagi mengapa cahaya bulan berwarna merah? Dengan perlahan Sakura mendongkakan wajahnya ke langit dan —DEG!
"A-apa ini? Ke-kenapa bulan itu berwarna merah?!" gumamnya lirih, Sakura kembali berlari tanpa memikirkan semua keganjilan disekitarnya itu.
"Grrrrrrr!"
Kkaak ... kkaak ... kkaak!
Kkaak ... kkaak ... kkaak!
Kkaak ... kkaak ... kkaak!
"Kyaaaaaaaaaaaaaa!" Sakura berteriak histeris ketika suara itu terdengar semakin jelas apalagi suara ratusan burung gagak hitam yang seakan meneriakan kedua telinganya, tanpa sengaja Sakura tersandung sebuah akar melingkar di depannya dan—
Bruk!
—Sakura menabrak sesuatu, setelah itu penglihatannya terasa berkunang-kunang dan semuanya gelap. Ya, Sakura pingsan di dalam rengkuhan makhluk yang ia tabrak.
.
.
.
.
.
Setelah semua aktivitasnya selesai Naruto beranjak menghampiri pohon yang Ino tempati dan berkacak pinggang di bawah pohon besar dihadapannya itu, "Oi! Ino cepat turun dari sana! Sudah malam dan tolong panggilkan Sakura-chan di sana," ujarnya dengan nada memerintah. Ino menoleh ke bawah dan —hup! Ino dengan sukses mendarat di permukaan tanah lalu berjalan ke arah tenda meninggalkan Naruto tanpa menjawabnya.
Naruto menatap Ino sebal lalu berjalan di belakangnya, sedangkan Sasori yang menyadari langkah kaki yang menghampirinya tersenyum tipis, "Iya Ino ini sudah jam tujuh malam, bahaya jika Sakura tetap di sana. Cepatlah bawa Sakura ke sini," ujarnya dengan tenang.
Ino menghela napas, "Haah ... baiklah Naruto, Sasori aku panggilkan Sakura. Kalian cerewet sekali dan kau Tobi jangan menatapku seperti itu!" ujarnya sedikit jengkel.
Tobi mengedikkan kedua bahunya tak peduli lalu menulis sesuatu dan memberikannya pada Naruto, "Haha! Tobi bilang cepatlah nona cerewet jangan banyak bicara, bawa Sakura sekarang!" ujar Naruto ketika selesai membaca note dari pemuda spike hitam itu dengan seringaian kemenangannya.
Ino mendengus lalu menunjuk Naruto garang, "Huh! Kau menyebalkan Naruto baka!"
"Cih, kau lebih menyebalkan!" Sahut Naruto berdecih remeh. Ino dan Naruto saling melempar tatapan tajam, bahkan sebuah kilatan petir menjadi penghubung diantara keduanya tanda bahwa tak ada satu pun dari mereka yang ingin mengalah.
"Kau!"
"Kau!"
"Ka—"
Tobi hanya diam memandang kedua sahabat blonde-nya itu dengan tatapan polos, —ah lebih tepatnya berpura-pura polos. Sedangkan Sasori menghela napas, "Sudahlah Naruto, Ino! Cepat panggil Sakura!" ujarnya dengan nada datar, Naruto langsung diam dan Ino —lagi, menghela napas.
"Iya-iya!"
Dengan langkah santai Ino berjalan menghampiri Sakura jauh di depan sana, menghela napas Ino mulai membuka mulutnya dan— "Sakura!" ia berteriak memanggil Sakura yamg tengah memejamkan matanya.
"..." Sakura tidak menyahut dan itu membuat Ino jengkel juga, "Hey Sakura!" teriaknya sekali lagi dan lagi Sakura hanya diam. Maka dengan langkah sedikit dipercepat Ino kembali berteriak, "SAKU—"
Wusshhh!
Angin tiba-tiba berhembus kencang sehingga membuat Ino menutup matanya dan—
Siiiiing!
Dengan cepat Ino membuka matanya ketika mendengar suara berdengung dan matanya sukses terbelalak lebar ketika melihat sesuatu di dada Sakura bersinar terang, seketika itu pula tubuh Sakura lenyap tertelan cahaya itu.
Tubuh Ino kaku, "SAKURA?!" Ino berlari ke arah batu itu dan tetap saja Sakura tidak ada di sana. Sasori, Naruto dan Tobi yang mendengar suara teriakan tersebut langsung bergegas menghampiri Ino dengan wajah heran.
"Ada apa Ino dan di mana Sakura-chan?" tanya Naruto heran sekaligus khawatir. Ya, ia yakin pasti terjadi sesuatu. Ino menatap ketiga pemuda itu dengan wajah pucat pasi.
"Black pearl itu telah menelan Sakura ... a—aku tak menyangka akan secepat ini. Kita harus bagaimana sekarang?!" ujarnya panik, Naruto membelalakan kedua matanya.
"APA?!" Naruto menjambak rambutnya frustasi, matanya mulai berubah warna menjadi orange dengan garis vertikal sebagai pupilnya. "Sial! Seharusnya bukan hari ini! Seharusnya ketika bulan mera— tunggu! Tanggal berapa sekarang?"
Sasori tersenyum menyeringai, "Hm, tanggal 31 Oktober dan malam ini bulan merah akan muncul Naruto. Aku yakin di Nakitama bulan itu sudah berubah." Ino, Naruto dan Tobi menatap Sasori dengan tatapan berbeda-beda.
Naruto menghela napas berat, "Haah baiklah kita susul Sakura jam sembilan nanti. Ino pastikan waktu antara Tokyo dan Nakitama tidak berubah, Sasori kau cuci semua otak manusia itu dari ingatan tentang kita dan kau Tobi siapkan mentalmu untuk membuka portal menuju Nakitama!" ujar Naruto datar, Ino, Sasori dan Tobi mengangguk mengerti.
Setelah itu mereka kembali pada perkemahan untuk memulai tugas mereka. Berbeda dengan Tobi yang kini masih berdiri kaku di sana, memejamkam matanya Tobi mulai bertelepati kembali dengan tuannya.
"Bocah, apa kau yang merencanakan ini semua?"
'Hn, kita harus mempercepatnya, Kakek.'
"Tapi, bukankah ini terlalu terburu-buru?"
'Aku tahu, tapi para tetua brengsek itu mulai bergerak berencana menghianati kita, Kekek. Lakukan sekarang atau tidak sama sekali! Ini demi Demon!"
"Baiklah, lalu bagaimana dengan gadis itu?"
'Gadis itu akan aman dalam pengawasanku saat ini.'
"Baiklah aku mengerti."
Tobi menghembuskan napasnya pasrah lalu mulai mempersiapkan mental untuk melaksanakan tugasnya. Sasori menatap Tobi yang memunggunginya dengan tatapan tajam, lalu tersenyum menyeringai.
'Hm, kita lihat siapa yang akan mendapatkan batu nista itu, Uchiha!'
To be continue
A/N : Holla minna! Maaf baru update fanfic ini :3 jujur saja saya masih kurang menguasai cerita bertema seperti ini. Tapi, saya akan berusaha tetap melanjutkan fanfic ini walau mungkin akan lama update. Semoga suka, terima kasih. /Lari riang bareng Neji/
Balasan review
arisu sashura : Iya, ini udah update.
Cherry-nyan : Makasih.
heni lusiana 39 : Oke, makasih.
tomaceri7810 : Haha, Siti Sa'adah XiuHan yang bener. Ini udah update, maaf lama. Ah ya buat jeruk pasti ada dong! Explicit mungkin.
Coretan Hikari : Makasih buat masukannya.
rei hanna : Makasih.
Miss. M : Ini udah update.
cherryl sasa : Yosh.
Hilaeira : Makasih semangatnya.
Guest (1) : Ini udah dilanjut.
natalyredcherry : Iya semua pertanyaanmu benar, tapi tenang saja alurnya akan berbeda ko.
rainy de : Siapa yaaa? Ayo tebak!
Eysha CherryBlossom : Hehe maaf ya udah buat kamu kecewa. Iya ini terinspirasi dari Inuyasha, ini udah update.
Guest (2) : Maaf jika bahasanya ancur, ini sudah saya perbaiki semoga bisa membuat anda nyaman saat membaca.
Uchiha Riri : Ini udah update.
Namikaze's Dark : Iya boleh, ini udah update maaf lama.
Hikari : Ini udah lanjut.
ichachan21 : Waah makasih, ini udah update.
Uchiha Salsa Dila : Hai pertanyaan kamu udah dijawab lewat PM ya.
hanazono yuri : Senpai nanya pair kan? Tentu saja SasuSaku selalu senpai Ini udah update.
yu : Makasih atas masukannya, ngga saya ngga kesinggung ko. Justru saya berterimakasih banyak karena kamu udah mau nyempetin ngoreksi fanfic pertamaku ini, ini udah update maaf ya updatenya lama.
