Disclaimer kalau punya saya udah pasti jadi SasuNaru. Terus mereka punya anak cowok yang suka merebut perhatian 'Ibunya' ini saat lagi bermesraan ma Sasuke..Ahahaha.. Tapi impian tinggal impian….
Pairings disini SasuxNaru and SasuxRahasia!!! Ayo tebak-ayo tebak! Haha . pairings yang lain nyusul.
Warnings yaoi! And lemon lemon! Lemons in this chapter. Hope you like it?? XD
dan chapter ini terdiri dari bagian Naruto POV and Sasuke POV.
"Talk"
'Think'
xXx
Can You Love Me Again?
By CaLL me rEd-Ew
xXx
Naruto POV
from beginning I knowed that. He had changed.
"Ahhh.. terus Sasuke.. Ahhhhh", suara erangan dan desahanku membuatnya menjadi melupakan dunia. Ia membuka lebih lebar lagi kakiku dan meletakkan kakiku di pundaknya. Pemandangan yang sangat indah itu terlihat dengan jelas. Ia memegang pinggulku dengan kuat dan mendorong pinggulnya maju mundur dengan sangat cepat dan... kasar.
"Na-naruto…", ia mengerang memanggil namaku dan bibirnya menciumi leherku dengan ganas. Aku hanya memeluk erat tubuhnya. Sepertinya dia akan mencapai klimaks sebentar lagi.
"Akh… Sasuke aku.. tak kuat lagi..", aku mendesah nikmat dan dengan rasa sakit yang kutahan di belakangku.
"Naru…"
"Akhhhhhhhhhhhhhhnnnnnn!", suara teriakan tertahanku memenuhi kamar. Cairanku menyembur keluar dan mengenai perut sasuke dan perutku. Aku mencapai klimaks beberapa saat lebih cepat dari Sasuke.
"Grahhhhhhhhh……", suara erangan Sasuke, seraya ia mengeluarkan benihnya jauh didalamku hingga aku merasa perutku penuh olehnya. Ia langsung melepasnya dan jatuh berbaring tepat disampingku. Kami berdua kelelahan setelah lebih dari dua ronde kami jelani. Aku mengumpulkan tenaga untuk bisa meraihnya. Aku melingkarkan tanganku dipinggangnya, memposisikan kepalaku di dadanya dan berbisik I love you, dan menunggu Sasuke untuk memelukku kembali dan memberikan balasan atas pernyataan yang telah aku sampaikan. Tapi penantianku tak ada gunanya..
"…", diam adalah pilihannya.
"Aku mengantuk sekali Sasuke. Kau malam ini sangat menakjubkan.. Love you my husband", kataku tersenyum.
"Hn", hanyalah jawaban seperti biasa. Aku memejamkan mataku dan mempererat pelukanku.
Dimalam yang bersalju ini dengan berdekapan membuat badan menjadi hangat. Dengan perlahan-lahan aku menutup mataku. Aku sungguh menyayangi suamiku ini.
Pernikahan kami yang hanya di hadiri oleh sahabat-sahabat saja, tak ada keluarga yang datang baik dari pihakku maupun pihaknya. Karna ini merupakan pernikahan yang tak diinginkan oleh keluarga kedua belah pihak. Dengan meninggalkan keluarga dan harta kami melarikan diri, untuk bisa memperjuangkan cinta ini. Kami memulainya dari nol lagi untuk bisa hidup. Dan sekarang kami berhasil. Atas nama cinta akhirnya kami bisa bersatu, dengan berjanji di depan altar kami memasangkan cincin dijari manis kami berdua, dan berciuman dengan mesra. Pada saat itu kami berjanji akan saling mencintai seumur hidup dan akan selalu bersama. Pernikahan yang telah berjalan lima tahun ini, telah banyak rintangan yang kita lewati. Aku merasa sangat bahagia bisa bersanding dengannya.
Entah mengapa dia telah berubah setahun ini, tak lagi memelukku setelah kami berhubungan badan, dan ia dengan secara perlahan-lahan mengurangi pengucapan kata I love you, aku mencintaimu, aishiteru, wo ai ni -atau apalah sebutannya- kepadaku. Aku tak tahu apa yang membuatnya berubah, apa mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya sekarang ini? Apa ia telah bosan denganku? Tidak, ia telah mengucapkan janji akan terus bersamaku apapun yang terjadi di hadapan tuhan lima tahun yang lalu, ia tak mungkin mengingkarinya kan? Karna ia telah meninggalkan kakaknya untuk bersamaku. Aku percaya akan semua yang ia ucapkan kepadaku.
Dan tanpa aku ketahui ternyata perasaannya telah berubah.
Sasuke POV
I am sorry, I lie to you…
Aku melirik jam yang berada di samping tempat tidur kami. Jam yang telah menunjukkan pukul 22.45 itu tak berhenti berdetak. Aku menunggu sosok yang aku cintai ini tertidur agar aku bisa pergi ketempatnya. Dia membutuhkanku lebih dari pada Naruto. Walaupun aku akan melukai Naruto karna telah membohonginya selama ini.
Dengan perlahan-lahan aku menyinkirkan tangannya dari pinggangku agar aku bisa memakai bajuku dan pergi ketempatnya. Aku berharap Naruto tak bangun dulu, karna aku tak tahu kebohongan apa lagi yang akan kuucapkankan kepadanya. Aku mengambil jaket dan kunci mobil yang tergantung di dekat pintu keluar rumah kami. Dengan sangat perlahan aku membuka dan menutupnya kembali agar ia tidak terbangun.
Aku berjalan menuju mobil Ford berwarna hitam keluaran terbaru itu dengan pelat nomor mobil 54 NA yang diambil dari namaku dan nama Naruto. Dan dengan cepat aku membawanya pergi kerumah orang yang sekarang sangat aku butuhkan dan ia membutuhkanku. Aku berharap dia belum tertidur dan masih menungguku. Karna aku telah berjanji pada diriku sendiri akan melamarnya malam ini ditempat yang sama dimana aku melamar Naruto lima tahun yang lalu.
Tanpa aku sadari, sepasang mata berwarna biru yang sedang menangis menatap kepergianku.
Naruto POV
I say nothing. I do nothing. I just stand and watch him disappear..
Dia telah pergi. Aku melihatnya dari jendela, ia telah pergi lagi. Aku tak tahu kemana dia akan pergi tapi yang aku tahu tempat yang ditujunya tak ada diriku. Selalu saja, setelah sesudah bercinta dia akan menunggu aku tertidur dan bersiap-siap pergi, semula aku kira dia dipanggil oleh pekerjaan kantornya, karna keesokan paginya saat aku terbangun dia akan berada di sampingku, tertidur. Tapi lama kelamaan ini menjadi sangat sering terjadi. Aku pernah memergokinya saat aku pulang dari kantor, aku melihatnya sedang bercakap dengan seseorang dengan sangat akrab di telephone, sesungguhnya percakapan yang cukup mesra tapi aku tak ingin mengakuinya. Saat Sasuke melihat kedatanganku ia langsung menyudahi percakapannya dan menyambutku dengan senyum yang ketahuan jika senyuman itu sangat dipaksakan..
Itu adalah kenangan setengah tahun yang lalu. Dan aku tak ingin membahasnya, karna aku tidak ingin kami bertengkar karena itu. Tapi alasan sebenarnya aku tak ingin ia meninggalkanku.
Aku berjalan dari jendela menuju kasur yang cukup berantakan itu dan masih tercium udara yang berbau seks itu. Aku menyelimuti tubuhku yang telanjang ini dengan selimut, berharap akan lebih hangat karna udara diluar sedang bersalju, walaupun aku tahu bahwa tidak akan sehangat saat dipeluk Sasuke.
Sasuke POV
I didn't know love until I knew her…
Aku telah sampai dirumahnya, kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 23.00 kuharap ia belum tertidur.
Kugerakkan kakiku menuju pintu masuk rumahnya dan menekan bel itu satu kali. Aku menunggu akan adanya jawaban. Sesaat aku akan menekan belnya untuk kedua kali, aku melihat sosok yang aku cintai membuka pintu dengan senyuman yang lebih indah dari matahari yang biasa aku lihat. Aku membalas senyumannya.
"Kau telat setengah jam!", katanya
"Maaf, aku menunggu Naruto tertidur dulu", jelasku.
"Huuuh"
"Kau sudah siap?", tanpa aku tanyakan sebenarnya aku sudah mengetahui jawaban yang akan aku terima, karna didepanku telah berdiri wanita yang sangat cantik dengan gaun putihnya yang berkibar-kibar saat tertiup angin dan dengan sepatu high heelsnya yang berwarna putih membuatnya seperti malaikat yang turun dari langit.
"Kau sangat cantik malam ini", tambahku.
"Gombal… Tunggu aku ambil tas sebentar ya..", dia berjalan menuju meja diruang tengahnya dengan muka merah dan tersenyum tentunya.
"Aku siap! Ayo kita pergi.. Kita mau kemana sekarang?" tanyanya kepadaku, sambil melingkarkan tangannya di lenganku.
"Rahasia", kataku, sambil membukakan pintu mobil dan mempersilahkan dia untuk duduk. Aku memperlakukan dia seperti ratu, karna ia sebentar lagi akan menjadi ratuku satu-satunya dan untuk selamanya.
Aku mengendarai mobil dengan menyetel lagu bisa dibilang sangat romantis. Aku juga kaget, karena ini bukan seperti diriku saja. Tapi, apapun akan kulakukan demi senyuman di wajahnya itu. Aku sangat mencintainya. Selama perjalanan kami bercanda dan sesekali berpegangan tangan. Dan tak terasa tempat dimana aku akan melamarnya telah sampai.
Aku membukakan pintunya lagi, dan dengan gaya mempersilakan dia untuk lewat. Ia cukup terkejut saat melihat pemandangan kota jepang pada malam hari dari atas bukit dan ditambah seribu satu lilin yang mengelilingi meja makan itu. Tentunya tak lupa salju yang turun membuat suasana semakin romantis. Ini semua telah aku persiapkan dari jauh hari, dengan memesan makanan dari restoran Eropa yang sangat ia sukai itu dan menyiapkan pemain biola untuk mengiringi makan malam kami dengan lagu yang sesuai.
"Indahnya, Sasuke….", ia tak henti-hentinya tersenyum dan memelukku. Aku hanya tersenyum melihat sikapnya.
"Aku senang jika kamu menyukainya", kataku sambil tersenyum.
Kami menikmati makan malam dengan mendengar lagu yang mengalun pelan. Jam 00.00 saat waitress memberikan pancakes sebagai dessert untuk makan malam penutup kami, aku telah merencanakannya untuk meletakkan cincin berlian di dalam pancakes tersebut. Aku menunggu dengan sabar saat ia dengan perlahan-lahan menyantap pancakes tersebut.
"Apa ini..?", katanya sambil melihat sesuatu yang bersinar diantara lelehan coklat di pancakesnya. dia mengambilnya, dan menyadari bahwa itu adalah cincin.
"Would you marry me, please?", kataku sambil berlutut di hadapannya.
"Sasukeeee…", ia meneteskan air matanya yang indah itu. Ia menangis bahagia.
"Aku.. Aku mau Sasuke..", tambahnya sambil terisak-isak.
"Terima kasih…. Aku mencintaimu…", kataku memeluknya erat, ia hanya menangis didalam pelukanku. Pelukan yang membuat badan hangat di udara bersalju ini.
"I love you too…", jawabnya. Aku sangat bahagia hingga aku melupakan sosok seseorang yang mungkin menangis di malam yang dingin ini karena kesepian.
Naruto POV
Can you tell me what happened last night?
Sinar matahari membangunkanku, aku melihat meja disamping tempat tidur yang menunjukkan pukul 09.00. kulihat seseorang membuka pintu kamar mandi dan sosok seseorang yang aku cintai keluar.
"Selamat pagi, Sasuke", sapaku dan aku memberikan senyumanku yang terbaik pagi itu.
"Pagi..", jawabnya pelan.
Aku melihat tanda kissmark di daerah leher sebelah kanan, aku tak ingat telah memberikannya kissmark di leher sebelah kanan, yang ku tahu aku memberikannya disebelah kiri. Aku ingin menanyakannya, tapi ia telah keluar kamar dan menuju dapur untuk sarapan.
Aku bangkit dan secepat mungkin aku mandi dan memakai pakaian untuk ke kantor. Setelah selesai aku menuju ke dapur dimana Sasuke sedang sarapan dengan roti selai kacang kesukaannya disana. Aku menghampirinya dan memberikan sebuah kecupan di pipinya.
"Aku pulang terlambat nanti", kata Sasuke kepadaku. Aku hanya mengangguk saja tanda aku mengerti.
"Sasuke tapi jangan lupa nanti malam kita ada janji dengan Kakashi dan Iruka untuk makan malam dirumahnya.", pintaku.
"Maaf, Naruto. Keliatannya malam ini tak bisa, bagaimana malam besok saja", jelasnya.
"Tapi kemarin tak bisa, kemarinnya lagi tak bisa, aku tak enak membatalkan janji terus dengan mereka Sasuke. Kau tahukan aku telah menganggap mereka orang tuaku."
"Kamu masih mempunyai orang tua asli Naruto."
"Aku tahu, tapi bagiku mereka tetap seperti orang tuaku, karna aku telah meninggalkan orang tua asliku dulu demi kamu Sasuke..", jelasku dengan menatap lurus matanya. Memang benar aku meninggalkan ayahku dan ibuku karna mereka melarangku menikah dengan orang yang aku cintai dengan alasan jika cinta ini cinta terlarang dan tidak diterima oleh masyarakat. Iapun juga sama sepertiku meninggalkan kakaknya demi aku. Dan Kakashi dan Irukalah yang memperlakukan aku dan Sasuke seperti anak mereka sendiri.
"Kalau begitu kamu kembali saja ke orang tuamu Naruto", katanya dingin, aku memandangnya seakan aku tak percaya apa yang telah ia katakan. Tapi belum sempat aku menbalas perkataannya ia telah pergi keluar dengan membawa tas kantornya menuju mobil Ford kesayangannya itu.
Aku hanya mendesah melihat sikapnya yang semakin lama semakin dingin kepadaku. Aku tak tahu apa lagi yang aku harus perbuat untuk mendapatkan perhatiannya kembali. Aku bingung apa yang telah membuatnya berubah, aku tak tahu penyebabnya.
Aku mengambil telephone genggamku di kamar dan menelepon ke kantor untuk meminta ijin cuti sehari dengan alasan aku sakit. Untungnya bosku, Jiraiya, sangat baik kepadaku. Aku sudah menganggapnya seperti kakekku sendiri. Ia memberikan ijin kepadaku untuk cuti. Aku bergegas menuju mobil BMW berwarna putih itu. Aku menuju ke kantor Sasuke yang cukup jauh dari rumah itu. Aku mengira jika aku membuat kejutan kepadanya dan berharap dengan kejutan yang manis ini aku bisa mendapatkan kembali perhatiannya. Sesampainya di kantor aku langsung saja menuju ruang direktur dimana itu adalah ruangan suamiku. Saat aku akan masuk ke dalam aku bertemu dengan Ten-Ten, sekretaris suamiku.
"Tuan Naruto, apa kabar? Ada yang bisa saya bantu?", sapanya ramah kepadaku.
"Saya ingin bertemu dengan Sasuke. Dia ada di dalam?", tanyaku.
"Loch? Bukannya ia minta cuti hari ini? Apakah ia tak memberi tahu anda Tuan Naruto?", Tanyanya lagi. Aku cukup kaget dengan pernyataan Ten-Ten.
"Oh iya! Saya lupa kalau dia cuti hari ini mau kerumah keluarganya, hahaha. Ya sudah saya pulang dulu yah!", kataku cepat, aku tak ingin orang lain tahu keadaan keluargaku saat ini. Tapi perasaanku telah terluka terlalu dalam. Sejak kapan ia mulai membohongiku? Kenapa ia membohongiku segala? Kenapa ia mengambil cuti? Untuk apa? Dan banyak pertanyaan lagi yang terngiang di dalam kepalaku.
Aku segera pulang berharap ia ada dirumah. Tapi aku belum menemukan mobil Sasuke di garasi. Aku mendengar bunyi telephone berbunyi saat aku berjalan masuk ke kamar.
"Hallo, kediaman keluarga Uchiha", kataku.
"Selamat siang, saya dari toko bunga Dream, ingin menanyakan jam berapa saya akan mengirim bunga mawar sebanyak 1001 ini?", tanyanya. Mataku terbelangkak, '1001 bunga mawar? Ya ampun, Sasuke aku tak menyangka kau sangat romantis. Aku salah menduga selama ini terhadapmu, maafkan aku Sasuke' pikirku sambil tersenyum dan ingatanku saat Sasuke melamarku dulu teringat kembali. Ia juga membawakan bunga mawar sebanyak seribu satu buah. Aku tersenyum mengingat itu semua.
"Tuan? Anda masih disana? Jam berapa saya mengantar kerumahnya? jam 18.00 atau 20.00?", tanyanya lagi. Aku melihat jam untuk mengetahui jam berapa sekarang, ternyata jam 17.00.
'Rumahnya? Kenapa rumahnya? Kenapa tak memakai kata 'rumah anda'?',pikirku merasa ini mulai aneh.
"Maaf, bunga itu ditujukan kepada siapa?", aku mencoba berfikir positif, bahwa bunga itu untukku.
"Untuk 'Nona yang akan menjadi istriku'", katanya. 'ISTRI???! Istri apa?' aku mencoba tenang.
"Maaf, alamat bunga akan dikirim kemana?", tanyaku dengan suara yang agak tertahan.
" Ke alamat Jl. Konoha No. XXX"
'Itu bukan alamat rumahku!' aku langsung mencatat alamat tersebut.
" Kirim saja jam 18.00 ke alamat tersebut", kataku dan langsung menutup telephonenya. Aku benar-benar tak mengira Sasuke akan mengkhianatiku. Tidak, ia tak akan mengkhianatiku setelah apa yang terjadi selama ini. Tak mungkin kan? Aku tak ingin mempercayainya.
Aku segera berangkat dengan alamat yang kutulis di secarik kertas itu. Aku mengengamnya dengan erat. Tak lama kemudian aku menemukan rumahnya. Aku melihatnya dalam mobilku, di depan garasi rumah tersebut telah terparkir mobil yang sangat aku ketahui siapa pemiliknya.
Mobil pengantar bunga toko Dream tak lama itu tiba dan mengetuk pintu rumah tersebut. Sasuke keluar dari balik pintu itu dengan merangkul seorang wanita yang memakai penutup mata. Aku tak sanggup melihat ini semua. Kenapa pria yang aku cintai memeluk orang lain dan tersenyum kepadanya? Kenapa ia sekarang sangat jarang tersenyum kepadaku? Apakah aku telah tidak ada arti lagi dikehidupannya? Apakah ia masih ingat jika ada seseorang yang menunggu kedatangannya pulang dan menunggu pelukannya? Aku tak sanggup melihat ini semua. Aku ingin memejamkan mataku. Kenapa mataku tetap tak bisa tertutup? kenapa aku terpaku melihat Sasuke dan wanita itu? Kenapa mereka berciuman sekarang? Apa yang Sasuke bisikkan kepadanya? Apa yang terjadi disana? Kenapa aku merasa jika sosok pria di depan itu bukan Sasuke? Ya, aku yakin itu bukanlah Sasuke. Itu cuma orang lain yang mirip dengannya… kan?
Sasuke POV
Can we marry now?
"I love you..", bisikku kepadanya. Kami kembali berciuman.
"Sasuke, terima kasih. Aku sangat bahagia.", tuturnya.
"Aku ingin kita menikah secepat mungkin. Aku yang akan mempersiapkan semuanya. Lagi pula bayi diperutmu ini akan segera lahir kan?", wanita itu hanya menganggukkan wajahnya, aku kembali memeluknya dan tersenyum. Dia hanya menangis tak henti-hentinya. Saat aku merasakan hangatnya pelukan ini, aku tak memperhatikan mobil BMW putih lewat disamping kami. Dan aku tak memperhatikan pengemudi di dalamnya sedang menangis.
Naruto POV
He is not him..
Aku membanting pintu mobilku. Dan berlari masuk rumah. Ia bukan Sasuke. Sasuke sekarang sedang bekerja. Ten-Ten hanya berbohong kepadaku. Ini semua hanya kebohongan. Jika aku tertidur besok pagi akan kembali seperti semula. Sasuke akan ada disampingku lagi. Ya, aku hanya perlu tidur saja. Ini akan kembali normal.
Sasuke POV
Forgive me my love..
Saat aku pulang, aku mendapatkan Naruto telah tertidur. Aku tak ingin membuatnya terbangun. Dengan perlahan-lahan aku naik ke tempat tidur. Aku melingkarkan tanganku dan memeluk tubuhnya yang mungil itu. Aku merasa ia semakin kurus saja. Tapi tubuhnya selalu hangat setiap kali kudekap.
"Forgive me my love.. I am sorry", bisikku kepadanya, aku tak tahu apa ia bisa mendengarkan kata maafku di dalam mimpinya atau tidak.
Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kesalahanku ini? Ya, aku tau. Besok aku akan bersamanya terus dan aku akan melakukan apa yang ia minta. Hanya besok saja. Setelah itu aku akan menceraikan Naruto. Dan aku bisa menikah dengannya.
Naruto POV
Don't leave me alone…
Aku terbangun oleh cerahnya matahari yang mengintip masuk dari jendela. Aku merasakan seseorang sedang memelukku dari belakang. Aku menoleh dan mendapatkan Sasuke sedang tersenyum kepadaku.
"Sudah bangun?", tanyanya.
Aku hanya mengangguk pelan, ternyata kemarin itu hanyalah mimpi. Aku memberikan ia senyuman kebanggaanku itu dan ia mengecup keningku. Sudah sangat lama tidak kurasakan saat-saat seperti ini.
"Hari ini, aku ingin mengajakmu kemanapun yang kamu mau.", katanya. Ada apa ini? Kenapa ia begitu baik?
"Aku hari ingin selalu bersamamu", tambahnya.
"Aku ingin kita dirumah saja, aku ingin bersantai..", pintaku.
"Terserah kamu sayang, apapun kemauanmu aku turuti.", ia berkata sambil tersenyum.
Benarkah ini bukan mimpi lagi? Kalaupun ini mimpi aku tak ingin bangun. Saat aku berpikir bibir Sasuke telah mendekat, dan mencium bibirku. Aku menerima bibirnya dengan membuka mulutku sedikit demi sedikit. Sasuke tak menghilangkan kesempatan itu, ia langsung menyelipkan lidahnya masuk. Dan ku rasakan lidahnya bergerak ke arah di setiap sudut mulutku. Lidah kami bertautan dan bertarung kecil untung menentukan pemenangnya. Ia menyelipkan tangannya diantara bajuku. Dan tangan yang satu lagi menekan kepalaku untuk ciuman yang lebih dalam. Saat tangannya sampai di dadaku, ia bermain dan membuatku geli. Ia langsung mengambil kesempatan itu untuk memenangkan babak ciuman itu. Ciuman itupun menjadi sangat ganas. Tak lama kemudian kami berpisah sejenak untuk mengambil udara. Aku menatap matanya, aku bisa melihat matanya itu penuh dengan cinta. Itulah yang kulihat. Setelah mengumpulkan udara yang cukup, Sasuke kembali melancarkan serangannya. Sekarang ia menyerang leherku. Ia menghisap leherku dan kadang-kadang menggigit kecil di daerah yang telah ia ketahui dengan baik, jika daerah itu akan membuatku mengerang kencang. Ia membuka bajuku dengan perlahan-lahan, sambil ciumannya turun hingga ke dadaku. Semakin turun ciumannya, celanaku semakin terlepas dibuatnya. Kini aku telah telanjang dibuatnya. Dan ia masih memakai baju dengan lengkap. Tak adil, pikirku. Aku mencoba membantunya untuk membuka baju dan celananya. Dan tak lama kemudian kita telah sama-sama tidak memakai pakaian sehelai benangpun. Sasuke kembali menciumi leherku dan tangannya sekrang bermain di daerah sekitar dada, ia meremasnya dan membuatku mendesah nikmat. Tangannya makin turun dan mengenggamku dengan tanggan yang besar dan lembut itu. Setelah gerakan sedikit ke atas dan ke bawah itu, ia beranjak dari tempat tidur untuk mengambil body lotion di atas meja, ia mengoleskannya ditubuhnya dibagian yang paling sensitive itu, dan ia juga mengoleskannya dianus ku, didaerah yang bisa memberikan Sasuke kenikmatan dunia itu. Ia mengangkat kakiku dan meletakkannya di dadaku. Ia memposisikan dirinya tepat di depan anusku. Ia mendorong secara perlahan-lahan, aku mengerang kesakitan. Ia berhenti dan bergerak lagi setelah kuberi tanda anggukan. Ia memasukkan secara pelan hingga masuk seutuhnya. Aku mengambil nafas dan memintanya untuk bergerak. Setelah ia mendengar kataku, ia langsung bergerak maju mundur sama seperti gerakan mempompa. Lama kelamaan, gerakan itu semakin cepat.
"Akhh.. Sasuke..", kataku sambil mendesah. Dia memegang pinggulku dengan kuat.
"Lebih.. cepat lagi Sasu.. Lebih kasar lagi…", pintaku. Ia langsung mengerjakan seperti yang aku minta.
"Kamu…. Sempit sekali… Naruto… Tak pernah berubah…", erangnya dengan tidak mengurangi kecepatannya itu.
"Akhhh, yes! Hit that again…Akhhh.. Sudah hampir sampai Sasu…Lebih cepat lagi".
"Aku juga Naru…", ia semakin cepat dan cepat setiap gerakannya maju mundur itu. Dan tak perlu lama lagi aku langsung mencapai klimaks. Itu membuat otot anusku mengencang dan membuat ruang yang sudah sempit itu menjadi sangat sempit. Dan juga membuat Sasuke ikut mencapai klimaksnya. Kami berdua berpelukan dengan erat. Ia menciumi bibirku. Dan aku membalas ciumannya. Tangan kami saling menggenggam kuat.
"I love you", bisik Sasuke kepadaku. Kali ini aku tak perlu menjadi orang pertama yang mengatakanya.
"Love you too, my honey".
Aku dan dia tertidur masih dalam posisi seperti itu. Tak lama kemudian kami mendengar bunyi telephone berdering. Dan Sasuke yang mengangkatnya. Dengan malas aku berpakaian. Aku masih lelah dengan aktifitas yang baru saja kami lakukan. Tapi sayup-sayup aku mendengarnya jika Sasuke akan pergi ke tempat orang yang menelphone itu secepat mungkin. Dan aku akan ditinggalkan sendirian lagi. Ia telah berjanji akan bersamaku seharian ini kan?
Sasuke POV
Wait me, I come to you..
Suara telephone itu berdering, aku melepaskan pelukanku dan berjalan menuju telephone dengan malas.
"Halo, kediaman keluarga Uchiha.."
"Sasuke…", suara yang sangat aku kenal ini terdengar sangat kesakitan. Aku mncoba melihat ke arah Naruto berharap ia tak bisa mendengar percakapan ini.
"Ada apa? Apa yang terjadi…?", tanyaku khawatir.
"Aku terjatuh… Bayi ini.. Bayi kita….", aku mendengar ia mulai menangis. Aku tak bisa berpikir lagi. Aku harus ketempatnya.
"Kamu sudah panggil ambulans? Aku akan segera kesana..", kataku cemas.
"Cepat Sasuke… Cepat..", pintanya.
"Baiklah..", aku menutup telephone dan berlari ke kamar untuk memakai pakaianku. Dengan cepat aku memakainya dan ingin beranjak menuju tempatnya. Saat aku keluar. Tangan Naruto menahanku.
"Mau kemana Sasuke..?",tanyanya. Apa yang harus aku jawab?
"Aku.. Aku ada urusan..", jawabku terbata-bata. Tidak ada waktu lagi. Aku melepaskan tangan Naruto yang menahan ku dengan sedikit paksaan. Ia terdiam. Aku harus segera pergi ketempatnya, ia membutuhkanku. Saat aku membuka pintu ia mengucapkan kata yang tak kuduga.
"Urusan dengan perempuan itu lagi…?", tanyanya. Aku hanya menatapnya. Dari mana dia tahu? Aku tak punya waktu untuk bertanya. Nyawa orang yang aku cintai dan anakku dalam bahaya. Aku meninggalkannya dan berlari menuju mobilku dengan diiringi suara Naruto yang memanggil-manggil namaku untuk kembali..
xXx
Author's secret:
Apa ada yang menyadari banyak spell yang salah di prolog?? Hahaha. Yang berlalu biarlah berlalu…
Pada saat nulis lemon diatas, di tengah pengetikan tiba-tiba… Ya Ampun apa yang saia tulis?! 0.o Kan yang baca panpik ini mungkin juga ada anak yang belum cukup umur… (Contohnya… saia ). Langsung yang tadinya semangat nulis lemon, tiba-tiba jadi blank.. ya jadinya, seperti inilah lemonnya.. apa yang diatas ini termasuk lime ya?? Tak tahulah…
Apakah ada yang bisa menebak 'wanita' yang dimaksud siapa?? Hahaha. Temukan jawabannya di chapter selanjutnya!
Pada saat mau nulis summary ma judul memerlukan waktu setengah jam di depan komputer, bengong.. Bingung mw nulis apa, belum kepikiran. =]
And the last, saat baca prolog kemarin, saia membaca suatu kata yang sangat FATAL kesalahannya…. Seharusnya saya tulis tulang belakang malah ditulus tulang rusuk!! Maaff!! Saya benar-benar minta maaf. Mohon dimaklumi ya..
Saia Cuma mau ngomong,, itu,, mmm… ituloh… mm,,, (dengan gaya seperti hinata menempelkan jarinya).. mm……. Makasih dah baca cerita yang jauuuuhhhhh dari sempurna ini!!!! Saya sangat terharu (menyeka air mata)... Review?
HAPPY NEW YEAR….! \\^_^//
