Desclaimer Masashi Kishimoto
Genre : Romance, sedikit banget fantasy(?)
Rated : T+
Pairing : Sakura x Sasuke
Warning : OOC, typo mewabah, absurd, dll
Don't like don't read
Selamat membaca xD
.
.
Mataku terbelalak ketika mengetahui siapa yang memencet bel apartemenku di pagi buta seperti ini—dua kakak sepupuku, Karin dan Sasori. Sasori dengan wajah ala baby face-nya yang masih sama seperti 10 tahun yang lalu aku terakhir melihatnya, dan Karin masih dengan tatapan sinisnya menatapku seperti 10 tahun yang lalu, tetapi dengan penampilan fisik yang agak berbeda—rambutnya lebih panjang dan wajahnya tambah cantik dan dewasa. Aku hanya bisa tersenyum kikuk membalas senyuman manis Sasori. Tanpa diberitahu pun, aku sudah tahu apa tujuan mereka menemuiku jauh-jauh hingga ke Berlin. Pasti tentang keluargaku, Karin dan Sasori mendapatkan perintah dari ayahku selaku ketua klan Haruno untuk membawaku pulang kembali ke kastil. Tentu saja aku tak bisa menolak ajakan mereka, ini sama saja seperti pencuri yang kabur dan kini tertangkap basah oleh polisi. Tapi aku bukan pencuri tentunya.
Perjalanan dari Berlin menuju pulau Konoha di mana kastil keluargaku berada memakan waktu puluhan jam. Konoha memang bukannya pulau yang cukup besar, tapi cukup untuk membangun dan mengembangkan kota yang maju. Aku tercengang ketika melihat aktivitas di tengah kota kecil di pulau Konoha. Banyaknya kendaraan yang hilir-mudik dan banyaknya warga yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Perjalanan kami dari kota menuju kastil memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan mengendarai mobil. Kastil di mana aku dilahirkan terletak di ujung paling timur pulau ini, jadi jangan heran jika kami harus melewati hutan belantara dulu untuk menuju kastil karena memang kastil terletak cukup jauh dari pemukiman warga yang padat.
Mengenai kastil, kastil keluarga kami memang sudah tua. Desain dan tampaknya benar-benar jadul—hal tersebut dikarenakan kastil ini memang pertama kali dibuat oleh nenek moyangku pada berabad-abad lalu. Tetapi perabotan di dalam kastil selalu berubah-ubah sesuai dengan pergantian zaman dari generasi ke generasi. Keluargaku hanya memiliki dua orang terpercaya untuk mengurusi tetek-bengek keperluan dan kebersihan kastil yang dibilang tidak kecil ini. Kebun bunga dan buah dengan indah mengelilingi dan menghias di halaman sekitar kastil—ibuku sendiri yang memiliki hobi merawat kebun.
.
.
Ibu langsung menyambutku dengan pelukan ketika ia melihatku baru memasuki kastil. Kudengar tangis haru Ibu yang membuatku menyesal mengapa aku meninggalkan Ibu dan betapa aku merindukannya selama ini, "Maafkan aku, Bu." ucapku di tengah isakan Ibu.
Ibu menepuk pundakku berkali-kali, melalui pundak Ibu aku melihat Ayah yang berdiri dan menatapku intens dan ada sebersit kekecewaan di matanya. Hal ini membuatku sedikit tak enak hati. Setelah 10 tahun aku meninggalkan kastil tanpa izin sekarang aku datang kembali dengan suasana kastil yang membuat dadaku semakin sesak. Karin masih menatapku sinis dan tak suka ketika aku melewatinya dan berjalan menuju Ayah. Betapa terkejutnya aku ketika Ayah tiba-tiba memelukku, aku semakin merasa menyesal dan sangat rindu yang baru kurasakan dan membuatku ingin menangis.
"Syukurlah kau tidak apa-apa putriku. Aku sangat merindukanmu."
Aku sudah tidak tahan lagi untuk membendung air mata, tanpa diaba-aba air mataku menetes dengan deras ketika mendengarkan ungkapan Ayah. "Aku juga sangat merindukan Ayah, Ibu. Semuanya. Aku merindukan kalian. Maafkan aku." isakku di pelukan Ayah.
.
.
.
Setelah cukup lama untuk melepas rindu disusul dengan acara makan malam bersama setelah 10 tahun terakhir—badanku baru terasa sangat lelah karena perjalanan yang memakan banyak waktu. Aku hendak menghempaskan tubuhku di atas ranjang yang sudah lama tidak kujamah harus tertunda sejenak karena Sasori mengetuk pintu kamarku. Aku menghela napas berat dan dengan malas membuka pintu kamar. Sebelum aku bertanya ada apa Sasori mengetuk pintu—Sasori mengatakan lebih dulu, "Ayahmu ingin membicarakan sesuatu yang penting, sekarang kau ditunggu di ruang tengah."
Rasa kantukku tergantikan dengan rasa harap-harap cemas, berharap Ayah tidak membahas persoalan perjodohan konyol itu. Aku melangkahkan kaki dengan ragu-ragu menuju ruang tengah. Ayah, Ibu, Sasori, dan Karin yang sedang duduk terdiam—menoleh ke arahku yang berjalan dan duduk di sebelah Ibu.
Ayah berdehem dan memulai pembicaraan, "Beberapa hari yang lalu Uchiha Fugaku si ketua yakuza datang kemari beserta putra bungsunya," aku menelan ludah, "Dan membahas mengenai pertunanganmu—"
"Bagaimana jika aku menolak?" kataku memotong pembicaraan Ayah. Karin sudah menatapku tajam sedangkan Ibu menatapku cemas.
"Dengarkan ayahmu ketika berbicara Sakura!" suara Ayah sedikit meninggi dan penuh penekanan. Aku hanya bisa menciut takut dan merasa tak berdaya. Sepertinya dengan cara apapun aku harus menerima perjodohan konyol semacam ini, dan ini semua demi keselamatan keluargaku juga.
"Tiga hari lagi mereka akan datang kemari untuk menemuimu." kata Ayah dengan suara lebih lembut.
"Kami tahu jika kau tidak suka berada di keluarga ini, Sakura. Mungkin sangat berat bagimu untuk menerima takdir bahwa kau adalah putri generasi ke-99 klan Haruno." ibu mengelus puncak kepalaku. Karin masih menatapku tajam dan tiba-tiba ia berdiri—lalu meninggalkan ruangan. Sudah sangat terlihat jelas jika Karin benar-benar kesal kepadaku. Sejak kami masih kecil, Karin tak pernah bersikap ramah kepadaku hingga sekarang di mana umur kami sudah mencapai kedewasaan.
"Jika posisimu bisa ditukar, aku rela berada di posisimu Sakura. Karena inilah bukan kesalahanmu tapi kau malah yang menanggungnya sendirian. Lagipula hidup bersama pangeran-iblis-dari-keluarga-yakuza bukanlah hal yang bisa dianggap remeh." tambah Sasori.
Aku tersenyum kecut mendengar pernyataan Sasori. Sedari dulu Sasori-lah sepupuku yang paling perhatian dan baik kepadaku, aku merasa beruntung memiliki anggota keluarga sepertinya karena aku sedikit terhibur dengan apa yang dikatakannya—meskipun terkadang tidak bisa menghapus masalah.
.
.
.
Aku membanting tubuhku ke atas ranjang. Aku memandang langit-langit kamar dan memiikirkan apa yang dikatakan Ayah, Ibu, dan Sasori kepadaku. Aku kembali memutar memori kehidupan yang telah kulewati. Benar. Sejak kecil aku sudah merasa aku tak suka dilahirkan di dalam keluarga bangsawan—yang terlalu dihormati dan dibanggakan. Masa kecilku pun aku tak punya teman bermain. Ketika aku ingin bermain bersama mereka, anak-anak itu lari menjauhiku karena aku adalah anak bangsawan—dan mereka menganggap diri mereka tak sepadan untuk bermain bersamaku. Aku selalu merasa sedih dan iri ketika melihat banyak anak bermain sedangkan aku hanya bisa duduk sendirian dan dikawal oleh dua orang pengawal kastil. Meskipun Karin seumuran denganku, tetapi dia tak pernah ramah dan selalu membuatku merasa jauh darinya. Sedangkan Sasori tujuh tahun lebih tua dari umurku, jadi terkadang apa yang kami mainkan kontras sehingga lagi-lagi membuatku merasa benar-benar tak memiliki teman. Aku ingin dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja—tidak memiliki gelar yang tinggi tapi dapat mencukupi kehidupan dan hidup berbahagia. Selama 10 tahun aku kabur dari kastil aku dapat merasakan hal itu. Memiliki seorang sahabat, dapat bermain bersama dan berbagi cerita. Mencari uang dengan bekerja dan dapat memanfaatkan uang hasil kerja itu sendiri. Benar-benar damai dan membuatku hidupku bahagia.
Kembali ke kastil dan kembali ke tempat di mana asalku benar-benar merupakan tamparan yang keras buatku. Kembali untuk menanggung beban yang sudah menjadi kodratku dengan menikahi seorang pria bernama Uchiha Sasuke yang sama sekali belum kuketahui semua hal yang berkaitan dengannya.
.
.
-TO BE CONTINUED-
.
.
CATATAN AUTHOR :
Hueee nanggung ya ceritanya? Padahal pengennya aku cantumkan cerita tentang pertemuan awal Sakura dengan pria bernama Saisuke. Tapi apa daya mata ini sudah benar-benar mengantuk *lihat udah jam 2 pagi hiks* padahal ada kuliah jam 7 pagi #curhat. Sebelumnya saya sangaaaat minta maaf karena nggak bisa update kilat, tapi makasih banyak yang udah baca, ngereview, ngefollow, dan ngefavorit xD Alhamdulillah banget karyaku masih ada yang mau baca *terharu*. Sampai ketemu di chapter berikutnya, aku bener-bener berterima kasih jika ada mau berbaik hati untuk mereview, ngefollow, dan ngefavorit *cium satu-satu*
Balasan review untuk yang tidak log in :
Cherryl Sasa : ini sudah lanjut xD
Guest : lanjutannya sudah dikabulkan :)
