"Aku menunggumu besok, jam empat sore di cafe XOXO."
Baekhyun mengernyit. "Apa itu?"
"Aku sedang mengajakmu kencan."
"Tidak mau." Dalam hati Baekhyun bersyukur mereka berbicara melalui ponsel hingga Chanyeol tak mampu melihat Baekhyun yang tengah tersenyum saat ini.
"Apa?"
"Aku bilang aku tidak mauuuu~" ia sengaja mengeluarkan nada aegyo di akhir kaliamt.
"Yach, aku akan terus menerormu dengan teleponku kalau kau terus menolakku."
Baekhyun menyeringai. "Coba saja." Tantangnya.
.
.
.
.
...
Title :: Ooh... Tdu tdu tdu tdu... (Spesial; sequel)
Author :: Sayaka Dini
Disclaimer :: This story belong to me, but the character not be mine
Main Cast:: Baekhyun & Chanyeol.
Pairing :: Chanbaek / Baekyeol.
Setting :: AU
Warning :: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read.
Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publis, no plagiat, yes to like and comment.
...
Hope You Enjoy It~ ^_^
_o0o_
.
.
.
.
.
...
.
.
Sebenarnya, Baekhyun itu cukup populer di kampusnya. Hanya saja, pemuda mungil itu terlalu tidak peka untuk menyadari kepopulerannya sendiri.
Mungkin, karena kasusnya beda dengan Chanyeol.
Jika Chanyeol populer di kalangan mahasiswi, maka Baekhyun populer di kalangan mahasiswa –yang berstatus gay. Cara memuja fanboy gay itu berbeda dengan fangirl yang terang-terangan memuja idola mereka.
Fanboy gay itu tidak berteriak histeris atau berbisik terang-terangan saat idola mereka berada di sekitar mereka seperti yang dilakukan para fangirl biasanya. Seorang fanboy gay lebih cenderung memuja idolanya dalam diam. Apalagi jika status orientasi sexsual idola mereka itu belum bisa dipastikan, apa dia juga gay seperti fanboy-nya atau tidak.
Seorang Byun Baekhyun mulai menarik perhatian para fanboy saat dia tampil di festival kampus tahun lalu. Baekhyun menyumbangkan sebuah lagu indah dengan diiring piano yang ia bawakan sendiri saat itu. Saat ia tampil, semua penonton tersihir oleh suara dan penampilannya.
Dan, Chanyeol salah satunya...
Padahal saat itu Baekhyun hanya menggunakan tuxedo biru tua dengan dalaman kemeja putih tanpa dasi, dan jas yang tidak di kancing. Rambutnya saat itu berwarna coklat dan sedikit bergelombang dengan poni yang membuat wajahnya terlihat makin cantik dan sangat manis. Tapi pesonanya yang melantunkan suara merdu dan duduk di balik kursi piano itu sudah menyamai pesona malaikat pemetik harpa yang bertugas menghibur dewa di surga. Mungkin terlalu berlebihan bagi orang lain, tapi begitulah gambaran seorang Byun Baekhyun bagi para penggemarnya saat itu.
Apalagi saat Baekhyun mengakhiri penampilannya dengan senyuman merekah di bawah sinar lampu yang menyorot dirinya di atas panggung. Senyuman manis yang menampilkan sederet gigi putih kecil dan lengkungan mata sipit membentuk bulan sabit yang terlihat begitu cute, membuat sebagian orang merasakan kupu-kupu imajiner yang berterabangan di perut mereka.
Dan, Chanyeol salah satunya...
"Aku tidak percaya kau masih belum berani mendekatinya," Kris adalah sahabat dekat Chanyeol sekaligus teman yang selalu bahagia untuk mengejek dan menyindirnya. Dia orang pertama yang mengetahui rahasia (menjadi fanboy Baekhyun) kecil Chanyeol, sekaligus orang pertama yang mengolok-ngolok Chanyeol karena diam-diam memandangi Baekhyun dari jauh tanpa berani mendekatinya.
Apa boleh buat, pikir Chanyeol. Baekhyun itu orangnya tidak peka, sangat tidak peka.
Sudah banyak beberapa mahasiswa mencoba mendekatinya, tapi Baekhyun hanya menganggap perilaku mereka adalah wujud dari kebaikan sesama teman. Tak pernah sadar kalau mereka memberikan sinyal 'romantis', dan hanya menanggapinya dengan biasa. Baekhyun sendiri juga terlihat ramah dengan semua orang dan semua jenis, baik laki-laki maupun perempuan. Membuatnya tak bisa ditebak, apa dia straight, gay, atau bi.
Kabar tentang Baekhyun yang tak pernah pacaran pun sama sekali tak membantu menjelaskan orientasi seksualnya.
Dan juga sifat buruk Baekhyun yang tsundere. Lebih suka memakai kekerasan saat marah tanpa ingin mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Ilmu Hapkido yang ia miliki tak bisa dianggap remeh. Sudah terhitung lebih dari lima orang yang pernah ia banting di depan umum karena berani meremas pantatnya tiba-tiba.
Chanyeol jadi semakin ragu mendekati Baekhyun. Jika ternyata pemuda mungil nan cantik itu ternyata bukan gay.
Tapi...
"Dia gay." Kris menginformasikannya. "Jangan menatapku seperti itu. Aku tahu ini dari mulutnya sendiri." Akhir-akhir ini Kris memang dekat dengan Baekhyun karena proyek kelompok yang ditugaskan dari dosen mereka (dan serius, Chanyeol sangat cemburu saat mengetahui tentang proyek itu). "Yang tahu tentang ini hanya ketiga temannya yang juga gay, Chen, Suho, dan Xiumin, dan tambah dua orang lagi yang tahu, yaitu aku, dan sekarang kau," Kris menyeringai bangga.
Meski begitu, masih butuh waktu hampir satu bulan untuk Chanyeol bertindak berani dan menyusun rencana mendekati sang pujaan hati.
Yeah, walaupun itu adalah cara pendekatan yang norak –seperti kata Kris.
.
.
.
.
.
Ooh... Tdu tdu tdu tdu~
"Yopseyo?"
"Kau dimana? Aku sudah menunggumu~" Chanyeol merengek dengan suara husky-nya.
"Kau baru saja duduk semenit yang lalu di sana, dan sekarang kau sudah merengek?"
Alis Chanyeol tertaut. "Dari mana kau tahu aku baru tiba di cafe ini?"
Terdengar melodi tawa Baekhyun dari ponselnya. "Coba kau menoleh ke belakang, arah jam empat."
Chanyeol menurutinya. Baekhyun melambai kecil dari mejanya. Tapi Chanyeol cemberut. "Curang, kau membawa teman-temanmu."
Di sana, ada Xiumin, Chen, dan Suho yang juga duduk mengitari meja cafe bersama Baekhyun. Tapi tiga manusia pendek itu terlihat tidak menoleh ke arah Chanyeol, malah asik ngobrol dan tertawa dengan dunia mereka sendiri.
"Hanya untuk berjaga-jaga, siapa tahu kau benar-benar akan menculikku."
Chanyeol tidak dalam mood untuk bercanda, karena Baekhyun sudah mengacaukan rencana kencan mereka dengan membawa ketiga temannya itu. "Tapi aku hanya ingin berdua denganmu." Suara husky-nya terdengar tegas, sangat serius, tanpa melepaskan kontak mata dengan Baekhyun dari jauh.
"Pfft!" Baekhyun yang tengah menyedot minumannya, malah tersedak di meja sana. Pemuda mungil itu merona. Chanyeol jadi tersenyum melihat reaksi lucunya dari jauh. Sementara tiga teman Baekhyun memandang pemuda yang baru tersedak itu dengan khawatir.
Tut tut tut
Seketika itu juga panggilan diputus oleh Baekhyun yang sibuk membersihkan mulutnya dengan tissu.
Chanyeol mendesah. Menyimpan ponselnya, lalu membenturkan keningnya di atas meja cafe, membenamkan wajahnya di sana.
Mengapa untuk mengajak kencan Baekhyun saja terasa sulit? Pikir Chanyeol frustasi. Padahal mereka sudah melakukan phone sex tempo hari yang lalu.
Kriet
Chanyeol mendongak dari atas meja setelah mendengar bunyi derit kursi tersebut. Baekhyun duduk di depannya. Mata Baaekhyun melirik ke arah lain tanpa balas menatap Chanyeol, dengan suara pelan –cenderung malu– pemuda imut itu bergumam.
"Belum telat untuk menerima ajakan kencanmu, bukan?"
Chanyeol langsung tersenyum, sangat lebar.
.
.
.
.
.
Ooh... Tdu tdu tdu tdu~
Ponsel Baekhyun bergetar di atas meja cafe tersebut. Sang pemilik ponsel mengangkatnya sambil memincingkan mata pada Chanyeol yang jelas-jelas duduk di depannya.
"Kau bodoh yah?"
"Kenapa nomorku belum kau simpan?"
"Jadi kau menelepon-ku hanya untuk mengecek nomer ID mu di ponselku?"
"Baek~ simpan nomorku."
"Kau mau aku menulisnya apa, 'bodoh', 'idiot', atau 'yoda'."
"Romantislah sedikit, simpan nomorku dengan nama 'Chagiya', 'Yeobo', atau 'Honey'."
"Enak saja, memangnya kau kekasihku?"
"Makanya, jadilah kekasihku." Chanyeol nyengir.
Jdak!
"AKH!" Chanyeol meringis dan langsung mengusap kakinya di bawah meja.
Baekhyun baru saja menendangnya. "Kau itu yang sama sekali tidak romantis. Dasar bodoh!"
.
.
.
.
.
Ooh... Tdu tdu tdu tdu~
Baekhyun memutar bola matanya, tapi ia tetap mengangkat ponsel yang kini menampilkan nama ID 'Orang paling tampan di dunia' itu di layarnya. Yeah, terimakasih pada pemuda tinggi di depannya yang baru saja menyimpan nomor tersebut di ponselnya dengan nama aneh begitu.
"Kalau kau tidak bodoh, berarti kau sudah gila. Untuk apa kau menelponku lagi kalau aku sudah ada di depanmu?"
Chanyeol tersenyum. "Wae? Ini menyenangkan," pemuda tinggi itu menopang dagunya di atas telapak tangannya yang bertumpu di atas meja. Tanpa menghilangkan kontak mata dengan Baekhyun, dan pegangan pada ponsel di telinganya yang tersambung langsung dengan Baekhyun di depannya, juga senyuman tampannya, Chanyeol melanjutkan.
"Aku suka bicara denganmu melalui ponsel. Kau tahu, suara indahmu yang keluar dari ponsel ini membuatku senang, karena aku merasa seperti kau sedang berbisik di telinga ku."
Baekhyun sempat menganga. "I-idiot," desisnya pelan.
Tut tut tut.
Sambungan telepon diputus oleh Baekhyun.
Tapi itu tidak menghilangkan senyuman di wajah Chanyeol. Karena di depannya saat ini, ada Baekhyun yang tengah memalingkan wajahnya, dengan rona pink lucu yang muncul di pipinya.
Cute...
Baekhyun mencuri lirikan ke arah Chanyeol sekali, dan ia langsung menyesalinya karena mendapati tatapan pemuda tinggi itu yang tak lepas darinya, yang entah kenapa membuatnya meleleh.
"B-berhenti tersenyum seperti itu! Kau terlihat semakin bodoh!"
Tapi Chanyeol tak bisa menghentikan senyumannya.
.
.
.
.
.
"Jadi, kemana teman-teman-mu tadi itu?"
"Suho sedang pendekatan dengan seseorang. Xiumin dan Chen sedang pergi menonton film, mereka sebenarnya mengajakku, tapi aku menolak."
"Kau bilang apa dengan mereka? Kau ada kencan, begitu?"
"Tidak, bodoh. Aku hanya bilang kalau aku ada urusan penting."
"Ooh, jadi aku adalah urusan penting untukmu?" Chanyeol berniat menggodanya dengan cengirannya.
Baekhyun berdehem. "Iya," ia mengusap sisi gelas latte-nya dengan gugup. "Kau penting... untukku."
Senyuman Chanyeol menghilang, tak menyangka kalau godaannya tadi ditanggapi dengan nada serius oleh Baekhyun. Sekarang wajah Chanyeol ikut merona, lebih merona dari Baekhyun karena telinga besarnya ikut berubah warna jadi merah muda.
Baekhyun yang menyadari perubahan wajah dan telinga Chanyeol, tertawa kecil.
"Jangan dilihat," Chanyeol mengerang malu sambil menutup wajahnya dengan buku menu.
Baekhyun semakin tertawa geli.
.
.
.
.
.
Baekhyun meletakkan gelas berisi latte yang baru ia minum sebagian. Meninggalkan beberapa busa susu putih di atas bibir Baekhyun. Pemuda mungil yang menyadari itu pun menjilat bibir atasnya, tapi tanpa sadar masih meninggalkan setitik kecil busa susu putih yang tersisa di ujung atas bibirnya.
Chanyeol yang sejak tadi memperhatikan kegiatan bibir Baekhyun, mengulur tangannya di atas meja. Tapi tangannya berhenti di depan wajah Baekhyun tanpa sempat menyentuh bibirnya.
Mata Baekhyun melirik uluran tangan Chanyeol, lalu beralih pada sang pemilik tangan di depannya. Baekhyun menatap wajah Chanyeol yang terlihat ragu, pemuda mungil itu mengerjap dengan gerakan polos dan bibir yang sedikit terbuka.
Damn it, Chanyeol tak bisa menahannya lagi.
Uluran tangan besar Chanyeol berbelok untuk menangkup pipi Baekhyun, sementara wajahnya ikut maju melewati meja cafe di antara mereka. Dengan mata terpejam dan kepala sedikit miring, Chanyeol mengemut bibir atas Baekhyun dengan cepat, membersihkan noda busa susu putih di atas bibir tipis nan merah muda itu dengan tuntas.
Mata Baekhyun masih terbuka lebar saat Chanyeol sudah mundur dengan cepat dan duduk di tempatnya –takut kelepasan.
Chanyeol berdehem, canggung sendiri setelah melakukan tindakan tiba-tibanya itu. Jangan tanya kenapa, dia juga tidak menyangka akan melakukan hal senekat itu. Chanyeol melirik ke arah Baekhyun, yang masih menampilkan ekspresi blank-nya.
Detik berikutnya, Baekhyun yang tersadar langsung merona. Ia memandang permukaan meja sambil menjilat bibir atasnya. Jemarinya bergerak sebentar mengusap gelas latte yang ia pegang, lalu meminum cairan manis itu lagi, dan kembali menyisakan busa susu putih di atas bibir Baekhyun.
Tapi Baekhyun tidak menjilat bibir atasnya, membiarkan garis putih melengkung tak beraturan yang menodai bibir atasnya. Matanya lalu melirik ke depan, menatap Chanyeol yang juga sedang menatapnya intens.
"Wae?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Tapi Chanyeol dengan jelas bisa melihat pemuda mungil itu sedang menahan seringainya. "Kau tidak mau membantuku membersihkan ini lagi?"
Chanyeol mendengus sebentar mendengar nada tantangan dari suara Baekhyun. Matanya melihat suasana seekitar dulu, meyakinkan diri kalau tak ada pengunjung cafe lain yang memperhatikan mereka. Lalu dengan cepat ia kembali memajukan kepalanya melewati atas meja, dengan kedua tangan menangkup wajah Baekhyun, dan mengeliminasi jarak wajah di antara mereka.
Chanyeol sempat tersenyum di depan bibir Baekhyun yang juga membentuk sebuah senyuman, sebelum akhirnya kedua bibir itu bertemu dalam sebuah ciuman yang membuat perut mereka sama-sam dipenuhi kupu-kupu indah imajiner, dan diiringi debaran jantung dari masing-masing pihak.
.
.
.
.
.
.
Satu bulan kemudian...
"Kenapa kemarin kau bolos kuliah?"
Baekhyun sedikit mendongak ke atas untuk memandang lawan bicaranya. Itu Park Minwoo, mahasiswa berwajah flower boy dengan tubuh tinggi propesional yang akhir-akhir ini sering mendekatinya. Baekhyun tak tahu harus menjawab apa pertanyaan ringan tersebut. Tidak mungkin ia menjawab jujur kalau kemarin dia sangat lelah dan tak ingin dipandang aneh oleh mahasiswa lain jika ia berjalan sedikit pincang di kampusnya.
Ughh... salahkan si tinggi idiot dan segala hasrat tenaganya di atas ranjang.
Baekhyun mendadak merona sendiri.
Minwoo mengernyit heran dengan perubahan wajah Baekhyun, tapi dia langsung tersenyum geli mendapati kalau wajah merona Baekhyun saat ini terlihat lucu.
"Kemarin Profesor Lee memberikan kita tugas," kata Minwoo kemudian. "Bagaimana kalau nanti malam kita ke rumahku mengerjakannya bersama?"
Baekhyun tersenyum bersemangat. Baru saja ia ingin menerima ajakan tersebut dengan landasan pikirannya yang sama sekali tidak peka dengan maksud tujuan Minwoo yang 'sebenarnya', ponselnya mendadak berbunyi.
Ooh... Tdu tdu tdu tdu~
Nomor dengan ID 'Orang paling tampan di dunia' sedang menelpon.
"Aku lapar~" suara husky di sana menyahut duluan sebelum Baekhyun sempat bersuara.
Baekhyun tersenyum mendengar nada rengekan tersebut. "Kau dimana sekarang?"
"Di hatimu~"
Senyuman Baekhyun menghilang. "Aku serius Yeol. Kau ada dimana sekarang?"
"Aku juga serius, Baek. Aku selalu ada di hatimu~"
Baekhyun memutar matanya. "Kau bilang kau lapar, makanya aku bertanya kau ada di mana sekarang, dasar bodoh."
Chanyeol malah terkekeh di ujung sana. Membuat Baekhyun makin kesal. Kenapa orang ini suka sekali membuatnya kesal?
"Jangan cemberut begitu Baek, atau aku akan menciummu di depan temanmu itu."
"Cih, seperti kau bisa melihatku saja."
"Aku memang bisa melihatmu."
Baekhyun tersentak saat sebuah tangan tiba-tiba merangkul bahunya dari belakang. Ia menoleh dan mendongak, mendapati cengiran Chanyeol di sampingnya. Tanpa segan ia segera menyikut perut Chanyeol. "Berhenti mengagetkan aku, bodoh." Ia mematikan sambungan telepon dan menyimpan ponselnya kembali.
Chanyeol meringis sebentar dengan pukulan Baekhyun, ia lalu membalas, mencekik main-main leher Baekhyun di antara lipatan lengannya sambil mengacak rambut hitam pemuda yang lebih pendek itu.
Baekhyun mengerang protes sampai Chanyeol melepaskannya. Baekhyun menendang kaki Chanyeol sebagai balasan balik. Chanyeol mengaduh, tapi ia kembali nyengir.
Baekhyun mengerutu sambil membenarkan tatanan rambutnya.
"Kalian akrab sekali," komentar Minwoo sambil mengerutkan kening tak suka, yang sejak tadi berdiri di depan mereka.
"Siapa yang akrab? Aku tidak mengenalnya," Baekhyun menjawab dengan tak acuh, terlalu kesal dengan Chanyeol.
"Baek, aku sudah memperingatimu," balas Chanyeol di sampingnya.
"Apa?" Baekhyun menoleh dengan nada sengitnya.
"Jangan cemberut begitu atau aku akan–" Chanyeol langsung merendahkan wajahnya, mencium bibir Baekhyun.
Ada suara pekikan mahasiswi di sekitar mereka. Membuat seluruh orang yang berada di sepanjang koridor kampus itu menoleh dan langsung menaruh perhatian pada objek yang ditunjuk mahasiswi yang memekik tadi, yaitu sosok tinggi Chanyeol yang sedang berdiri sambil mencium Baekhyun di depan kelas.
Chanyeol menarik diri, nyengir sambil menyisir poni Baekhyun. "Aku lapar, tapi aku masih ada kelas kuliah sekarang. Tunggu aku sampai selesai, arra?'
"Kau–" Baekhyun malah mendesis, dengan wajah memerah padam menahan malu karena kini menjadi pusat perhatian semua orang.
"Aku akan menelponmu nanti," Chanyeol pun melangkah pergi dengan riang, seolah tak ada apapun yang baru saja terjadi. Tapi ia berhenti di tengah koridor.
Seperti belum cukup membuat kehebohan, Chanyeol berbalik dan berseru dengan suara kencang. "Hey Kau!" ia menunjuk Minwoo yang masih terpaku dan berdiri di depan Baekhyun. "Aku tidak tahu siapa kau dan siapa namamu. Tapi jangan dekati Baby-ku lagi. Karena Byun Baekhyun itu milikku! Dia hanya milik Park Chanyeol seorang! Kau dengar itu!"
"DIAM KAU IDIOT!" balas Baekhyun tak tahan lagi menahan rasa malunya.
Tapi Chanyeol di ujung koridor sana malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah memerah Baekhyun.
"Aissh..." Baekhyun menepuk wajahnya frustasi, mendapati semua orang tengah melihatnya sambil tersenyum ataupun berbisik satu sama lain.
"A-apa itu benar?" Minwoo bertanya dengan suara terkejut.
Baekhyun yang masih menutup wajah merahnya dengan kedua tangan lentiknya itu, tak bisa menahan senyuman yang muncul di wajahnya.
"Eumm... yeah... aku miliknya," akunya dengan suara malu.
.
.
.
.
Ooh... Tdu tdu tdu tdu~
"Baek, aku lapar~"
"Kelasmu terlalu lama, jadi aku pulang duluan."
"Jahat!"
"Kau yang memulai duluan, bodoh. Gara-gara pengumumanmu tadi, semua orang terus menatapku di kampus. Aku maluuu."
Chanyeol terkekeh. "Tapi aku puas."
Baekhyun memutar bola matanya. "Sudahlah. Kau langsung ke apartement-ku saja, aku akan menyiapkan makanan untukmu."
"Ouh, aku tahu kau calon istri yang baik. Kenapa kita tidak tinggal serumah saja?"
"Istri apanya? Aku juga laki-laki, bodoh. Dan apa itu? Tinggal bersama? Kau pikir kita sudah menikah?"
"Bagaimana kalau minggu depan?"
"Huh? Apanya?"
"Kita menikah. Aku sedang melamarmu sekarang."
Gubrak!
Chanyeol mengernyit saat mendengar suatu benda terjatuh dan suara ringisan Baekhyun dari teleponnya. "Yopseyo? Baekhyunnie? Kau baik-baik saja?"
"Enggh... aissh... bodoh, idiot, tolol," makinya. "Kau itu... akh! Aku terpleset di depan kamar mandi gara-gara kau. Pantatku sakit. Sialan. Mengapa aku punya kekasih bodoh seperti itu? Dan lamaran macam apa itu? Sama sekali tidak ada romantisnya!"
Chanyeol malah tersenyum lebar seperti orang bodoh. "Maaf," ucapnya meski tak ada nada menyesal dari suaranya. "Kau tidak perlu menyiapkan makanan untukku. Pantatmu jauh lebih penting dari perutku. Aku akan sampai di apartement-mu dalam waktu sepuluh menit. Jangan melakukan apapun, tunggu saja aku datang dan akan segera memijat pantatmu yang sakit itu. Percayalah, pijatan dariku akan membuat bentuk pantatmu terlihat makin seksi."
"Mesum!" Baekhyun berteriak.
Terdengar suara tawa Chanyeol yang terbahak, sebelum akhirnya Baekhyun memutuskan panggilan itu dengan kesal.
Ooh... Tdu tdu tdu tdu~
Seberapa kesal atau marahnya Baekhyun, dia tetap saja mengangkat telepon dari Chanyeol.
"Apa lagi seka–"
"Saranghae."
Baekhyun bungkam. Tak ada nada main-main maupun nada menggoda dari suara berat khas Chanyeol seperti beberapa detik yang lalu. Dan dia tak tahu mengapa satu kata yang sering diucapkan Chanyeol dengan nada serius itu selalu membuatnya meleleh.
"Nado..." Baekhyun membalas dengan sama pelannya. Diam-diam menikmati tiap desiran yang selalu bermain di dadanya kalau mereka sudah berbicara dari hati ke hati seperti ini.
"Tidak usah masak. Aku akan singgah beli makanan China, tunggu aku sebentar lagi, ne?"
"Hm," Baekhyun tersenyum tulus mendengar nada lembut itu. "Aku menunggumu."
"Jangan lupa, siapkan pantatmu juga."
Dan senyuman Baekhyun menghilang. "YACH!"
Chanyeol tertawa.
.
.
.
.
.
Ooh... Tdu tdu tdu tdu~
.
.
.
.
.
–EnD–
.
.
.
.
A/N ::
Saya pilih Park Minwoo yang ada di Roommate itu, gara-gara ingat saat Baekhyun berkunjung di Roommate Seaseon satu. Waktu itu, pupil mata Baek malah melebar dan berbinar saat ngelihat Minwoo, padahal saat ia ngelihat Nana / Park Boom / Gayoon dan nuuna lainnya di Roommate tersebut, mata Baekhyun gak bersinar begitu.
Astaga, kelihatan banget radar Gay-nya bereaksi (ngakak #plaak). Apalagi setelah itu Chanyeol benar-benar menjaga Baek untuk tidak dekat-dekat dengan Minwoo. (ngakak sambil berhalusinasi yang tidak-tidak #plaak# *otak makin error*)
Sebenarnya, Aya gak pernah kepikiran untuk membuat sekuel dari oneshoot kemarin itu, sungguh. Ini datang begitu saja setelah baca review dan reaksi dari reader di kotak review... terima kasih banyak *bow*
Dan... well, lagi-lagi saya menunda mengetik lanjutan L3Y dan malam ngetik ini dalam waktu beberapa jam... (jedukin kepala ke meja).
Mungkin karena yang ini lebih ringan, jadi rasanya santai banget ngetiknya... :P
Untuk status fanfic lain, rencananya::
Peramal Itu Bilang Kau Adalah Suami Masa Depanku. :: Update hari jum'at besok.
L3Y :: Update hari minggu atau Senin besok (kalau sudah selesai)
S3 :: Maaf, belum berencanakan melanjutkan.
Sequel Its Overdoses :: ini juga baru separuh jalan. Tidak jelas. Sebaiknya tidak usah ditunggu.
Dan itu target saya minggu ini, jika tak ada halangan, mudah-mudahan bisa terwujud...
Eumm... Review?
P.S:: jangan paksa aku buat sequel NC-nya, karena aku takut...
