Langsung saja…
DON'T LIKE?
DON'T READ!
Sebelumnya makasih buat Rey619 untuk g nambahin bny kalimat di tiap paragraf n Wi3nter yg ngingetin sama disclaimer kekekeke
Disclaimer : Masashi Kishimito sensei
Chapter 1 : Pertemuan
(Sakura)
Aku menatap jendela ruangan kantorku memperhatikan buliran –buliran air hujan yang membasahi jendela itu. Aku menarik nafas dalam –dalam bersiap untuk menghadapi setumpuk kertas berisi laporan –laporan pemasukan dan pengeluaran anggaran perusahaanku hari ini.
Aku membuka laptopku, perasaan cemas mendatangiku dengan tiba –tiba. Entah mengapa hari ini aku merasa tidak enak. Tak enak pada anakku Yuki, aku tak menemaninya di hari pertamanya memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas.
Anak itu sebenarnya memintaku untuk menemaninya, tapi karena aku adalah seorang yang tidak punya waktu luang aku menolak ajakan itu dengan alasan tugas kantor dan rapat penting. Tentu dia tak bisa berkata apa –apa lagi dan hanya masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke sekolah barunya.
Tok –tok –tok , seseorang mengetuk pintu kantorku, akupun langsung sadar dari lamunanku.
"Masuk," perintahku.
"Maaf Bu," hanya sekedar mengingatkan kalau setengah jam lagi ada pertemuan dengan direktur…
"Tunda pertemuannya sampai besok," aku menyela omongannya yang belum selesai.
"Ta- tapi."
"Aku bilang batalkan."
"Ba- baik," dia berbalik dengan raut muka takut dan menutup pintu ruang kantorku.
**()**
Aku mengendarai mobil Ferarry ku menuju suatu tempat yang ada dalam pikiranku, Tokyo High School sekolah baru anakku. Hujan sudah reda dan sisanya hanya genangan -genangan air di setiap sudut jalanan.
Aku turun dari mobil ku dan menuju gedung sekolah yang menjulang tinggi. Sepertinya saat ini adalah jam istirahat siswa sekolah itu. Ah, itu dia Yuki…
(Normal)
Yuri sedang duduk sendirian di bawah pohon rindang tepi halaman sekolah. Dari kejauhan ia dapat melihat seseorang yang sangat dikenalnya, ia menyipitkan matanya untuk mempertajam pandangannya. Wanita itu semakin lama semakin mendekatinya. Dan…
"Okaa-san?"
"Hm, Yuki kau sendirian?" Tanya Sakura.
"Kenapa Kaa-san bisa disini?" Tanya Yuki mengabaikan pertanyaan Sakura tadi.
"Kaa-san kebetulan lewat sini jadi sekalian mampir, istirahatmu berapa menit lagi?
"20 menit lagi memang kenapa?"
"Ayo kita makan di restoran depan , kelihatannya masakannya enak."
"Restoran depan sekolah?" Tanya Yuki memastikan.
" Ya, mau?"
"Tentu saja Kaa-san, dari tadi perutku terus mengomel."
**()**
"Hah… kenyang sekali Kaa-san," kata Yuki memecah keheningan.
"Tentu saja lah, kamu kan sudah menghabiskan bertumpuk –tumpuk piring makanan. Melum lagi kau menghabiskan stok tomat restoran itu," seru Sakura panjang lebar. Tomat, persis seperti dia, pikir Sakura.
"Kaa-san, Kaa-san kenapa? Kenapa menggeleng –gelengkan kepala?"
"Ah, oh tidak hanya kepikiran sesuatu yang tidak penting. Ya sudah kamu masuk kelas sana."
"Ya, aku masuk dulu ya Kaa-san," seru Yuki berteriak.
(Sakura)
Aku memandangi Yuki sedang berbincang dengan temannya di ambang pintu kelas itu. Entah apa yang dia bicarakan, tapi nampak raut wajah bingung dari teman Yuki yang entah siapa namanya. Aku yang tak ingin ikut campur dalam urusan remaja memilih untuk meninggalkan sekolah itu.
Gadis 15 tahun itu baru akan memulai kehidupannya di SMA yang kata orang penuh dengan kenangan, cinta dan persahabatan. Huh, pada saat aku seusianya aku sudah lulus SMA. Mugkin aku tidak menurunkan kejeniusanku ke anak itu.
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan tinggi, hingga mobil lain yang berada di depan mobilku berhenti mendadak karena lampu merah. Aku berusaha mengerem mobilku tapi kurasa semua terlambat.
Pemilik mobil BMW yang kutabrak itupun keluar dan mengetok jendela mobilku dengan muka garang.
"Hei, keluar kau," teriak pemuda itu. Aku segera keluar mobil dengan muka pasrah.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak sengaja. Dan segala kerugian Anda akan saya tanggung," kataku lembut.
Pemuda yang sebelumnya berwajah garang itu akhirnya melembut. Aku dapat melihat jelas ketampanan yang terukir di wajahnya.
"Sa-Sakura? Kau Haruno Sakura?" tanyanya memastikan.
"Iya, bagaimana kau tahu namaku?" tanyaku balik.
"Kau tidak ingat aku?" pemuda itu memaksaku untuk mengingatnya.
"Sebentar, e… tunggu rambut pirang, mata biru dan muka bodoh oh… ternyata kau Namikaze Naruto, benar kan?"
"Ya benar, kau jadi mengganti kerusakannya tidak?" tanyanya langsung.
"Tentu saja, aku kan wanita yang bertanggung jawab," seruku pamer.
"Wah mobilmu keren sekali Sakura," dia terkagum-kagum.
"Iya lah, ini semua berkat kerja kerasku. Eh, bagaimana kalau besok kamu kerumahku, sudah lama kan kamu tidak ke rumahku. Sekalian aku kasih uang ganti ruginya. Ini alamatnya," aku menyerahkan kertas berisi alamat rumahku.
"Baiklah, mungkin setelah aku bekerja aku akan kerumahmu."
"Baik aku akan menunggumu besok."
**()**
Ini sudah lewat tengah malam dan aku belum juga terlelap. Entah apa yang menghinggapi pikiranku, aku terus saja memikirkan tabrakan tadi siang.
Namikaze Naruto, tak kusangka aku bertemu dia lagi. Waktu kecil aku sering bermain dengannya. Dia juga adik kelasku sewaktu SD. Naruto yang dulu berwajah bodoh dan menyebalkan, kini berubah menjadi sosok yang tampan.
"Sakura?"
"Oh, Kaa-san mengagetkanku," keluhku pada Kaa-san.
"Kenapa kau duduk melamun di meja makan?" tanyanya khawatir.
"Ah, aku tidak melamun kok. Aku hanya sedang memikirkan urusan kantor," kataku berdusta.
"Urusan kantor dipikirkan besok saja, ini sudah malam cepatlah tidur," perintah Kaa-san.
"Baik Kaa-san, aku akan tidur."
**()**
Aku menuruni setiap anak tangga menuju meja makan. Disana aku melihat Kaa-san yang berpakaian rapi dan Yuki yang sudah mengenakan seragam sekolahnya.
"Kaa-san mau kemana kenapa rapi sekali?" tanyaku seraya duduk di kursi meja makan itu.
"Kaa-san ingin bertemu teman lama sekalian bakti sosial di panti asuhan."
"Kalau begitu Yuki ke sekolah denganku saja, biar Kaa-san diantar supir," ucapku.
Aku beralih pandangan melihat Yuki dan, "Astaga rok mu itu pendek sekali Yuki, ganti rok yang kemarin," ucapku dengan suara keras.
"Ah, Kaa-san temanku bahkan rok nya lebih pendek dari ini, kenapa aku tidak boleh?" gerutunya.
"Itu urusan temanmu! Mungkin temanmu ingin digoda laki-laki hidung belang."
"Baik Kaa-san akan aku ganti sekarang."
"Sekalian saja belikan rok yang panjangnya sampai menutupi kaki putrimu," sindir Kaa-san
"Aku memang berencana untuk membelikannya kok," ucapku santai.
"Apa?" teriak Kaa-san frustasi.
"Ya sudah Kaa-san aku pergi duluan," pamitku setelah melihat Yuki keluar kamarnya dengan rok lima senti diatas lutut.
"Nenek, aku berangkat dulu ya," pamit Yuki.
"Iya, hati-hati ya kalian."
Aku mengendarai mobilku hati-hati hingga sampai di depan gedung sekolah Yuki. Yuki keluar dari mobilku dan berpamitan denganku. Aku hanya tersenyum sambil berucap 'ya' dan langsung mengegas mobil menuju kantor.
**()**
Aku membuka pintu ruangan kantorku. Disana sudah terdapat banyak berkas- berkas yang harus kukerjakan. Aku melangkah malas menuju berkas-berkas itu dan mulai membolak-balik dengan pandangan lesu. Ini akan jadi hari yang melelahkan, pikirku.
Aku mulai meneliti laporan dan berkas-berkas disana. Mungkin sebagian dari direktur akan langsung tanda tangan sana-sini. Naman bagiku tidak, berkas dan laporan itu harus kubaca sebelum aku memberi tanda perseujuan dengan goresan tinta hitam.
"Tok tok tok"
"Masuk," perintahku. Sekretaris itu pun langsung menampakkan dirinya di hadapannku.
"Maaf mengganggu hari ini ada pertemuan dengan direktur perusahaan… e… perusahaan," pikir sekretaris itu dengan membolak-balik notesnya.
"Dimana tempatnya?" tanyaku langsung karena tidak sabar.
"Eh, di Restoran Akimichi."
(Di restoran)
Aku masuk ke dalam restoran mewah itu dan sekretarisku mengikutiku dari belakang.
" Itu, disana," seru sekretarisku menunjuk seseorang yang duduk dengan gugup, mungkin ia gugup karena akan bertemu denganku, mungkin. Aku dan manusia ini langsung menuju tempat yang ditunjuk tadi.
"E… Tuan Namikaze," sapa sekretarisku sesopan mungkin. Pemuda itu sontak menoleh.
"Kau?" seruku lantang.
"Hah, Sakura?" jawab Naruto
TE BE CE
Oh….. maafkan Rien karena otak Rien dah mentok, sebenernya Rien dah mikir endingnya bakal kaya gimana, tapi Rien binggung dengan pertengahan ceritanya mau dibuat apa… sekali lagi maaf.
Mau nanya bahasa jepangnya nenek, bibi, paman itu apa ya? Arigatou sblmnya
Terimakasih banyak buat yang udah baca fic yang kemaren:
Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura
mungkin akn jd penyelamatnya *author o'on ngasih jwbn g pasti wkwkwk
Tp aku rencana bkn sad ending
Makasih buat reviewnya ^^
Rey619
Makasih atas sarannya skrg sdh agak dikit kan, makasih buat review n dh bca.. ^^
Namikaze Hitsugaya
yap, makasih senpai.., bakal lnjut k
Diana
iya lah wkwkwk,
naruto lover
hehehe gpp kok, gmn critanya skrg? makasih
NaruSaku SakuNaru
Makasih banyak… terus review ya *maksa
Wi3nter
Makasih smbutannya senpai,, arigatou ^^
