Seven Deadly Sins

PART ONE : GLUTTONY (KERAKUSAN)

Gangnam, Seoul. Maret 2016

"Terimakasih! Datang lagi, yaaa!"

Sapaan hangat para pelayan menyatu dengan harmoni di dalam satu restoran makanan cepat saji di seputaran Gangnam. Orang-orang memadati restoran itu, menanti untuk mengisi perut mereka.

KRING KRING

"Selamat datang!"

Seorang namja dengan mantel tebal, masuk. Seorang pelayan yeoja menyapa. Namja itu hanya diam, kemudian berjalan ke arah antrian. Ia mengantri di belakang seorang namja gembul yang sangat besar.

BUGH!

"Hey bung! Lihat-lihat!"

Namja bermantel itu hanya terdiam, ketika dirinya tidak sengaja menubruk namja gemuk besar itu. Namja misterius itu hanya sabar menunggu antrian.

"Selamat pagi, tuan! Mau pesan apa?"

Kini, giliran sang namja gemuk mendapat giliran. Namja misterius itu hanya menatap dalam diam namja gemuk itu, menunggu pesanannya.

"3 super meatburger, 4 cola ukuran large, 2 paket nasi ayam, dengan 2 mangkuk spaghetti."ucap sang namja gemuk.

"Baik, tunggu sebentar, pak. Pesanan atas nama siapa?"tanya sang pelayan seraya menekan-nekan kasirnya.

"Jung Youngnam."jawab namja itu, dengan suara yang agak berat dan nada yang bergetar karena gelambir di bawah dagunya bergerak mengikuti irama mulutnya.

Namja gendut itu bergeser, mempersilahkan sang namja setelahnya mengantri untuk memesan. Sang pelayan yeoja ramah menyapanya, dengan raut wajah agak terpukau–mungkin karena ketampanan namja itu.

"Selamat pagi, pak! Mau pesan apa?"tanya sang pelayan.

"1 cangkit coffee latte, dengan float dan sedikit campuran cola. Dan satu porsi waffle chocolate cream, dengan taburan meses."jawab sang namja.

"Jarang sekali pelanggan memesan waffle. Biasanya mereka pesan hidangan berat, bukan cemilan."ucap sang pelayan seraya memproses pesanan itu.

"Untuk menjaga tubuhku."jawab sang namja, lirih.

"Baik. Pesanan atas nama siapa?"tanya sang pelayan.

.

.

"Oh Sehun."

"Baik, Tuan Oh. Silahkan menunggu di samping."

-XOXO-

"Ini makanan anda. Selamat menikmati, Tuan Oh!"

Seorang pelayan mengantarkan pesanan Sehun. Sehun menerimanya, lantas mulai membaca doa sebelum makan dan mempersiapkan alat makannya.

KRIUK KRIUK

Suara makan itu terngiang-ngiang dalam pikiran Sehun. Sehun menatap ke sampingnya, beberapa bangku darinya. Tampak Youngnam yang sebelumnya, tengah makan dengan rakus dengan remah-remah ayam crispy yang meruak kemana-mana, membuat beberapa orang yang melihat mengernyit jijik. Sehun terdiam, kemudian menatap ke makanan di hadapannya.

"Nafsu makanku hilang."gumamnya, kepada diri sendiri.

BRAK!

Tiba-tiba, Sehun menggebrak meja, membuat orang-orang sekelilingnya menatapnya. Namja gembul itu juga menatapnya.

"Hey. Apa masalahmu, bung?"tanya Youngnam, dengan ayam setengah habis di tangannya.

Sehun hanya diam di balik coat panjang tebalnya dan topinya. Dia menoleh ke arah Youngnam, kemudian hanya diam freeze.

"Kau masalahnya."sahut Sehun, namun tidak terdengar siapapun saking lirihnya.

Sehun beranjak dari kursinya, kemudian mengantungi tangannya pada coat. Seorang pelayan mendekat ke arah meja Sehun, kemudian meraih makanannya.

"Dia sama sekali belum menyentuhnya."ucap sang pelayan, kepada pelayan yeoja yang sebelumnya melayani Sehun.

Yeoja ber-nametag Xi Luhan itu hanya terdiam, menatap waffle hangat di piring Sehun dengan minuman cola yang masih utuh. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Youngnam, namja gembul yang tadi sedang makan.

"Kurasa aku tahu kenapa."

-XOXO-

BRAK!

Sehun membanting pintu apartemennya, kemudian berjalan masuk. Apartemen itu rapi, dengan benda-benda aneh yang terpajang di dinding. Sehun duduk di satu sofa, kemudian mengeluarkan satu botol bir dari bawah meja nakas di sampingnya kemudian meminumnya.

Sial, aku jadi belum makan; batinnya.

Sehun membuka topinya, menampakkan wajahnya yang terbilang tampan. Namun, dengan satu mata yang ditutupi oleh penutup mata.

"Dia menjijikkan."gumam Sehun.

Sekelebat bayangan Youngnam muncul di pikirannya.

NGING!

Sehun membelalak. Dia mencengkram kepalanya, merasakan dengingan nyaring dalam kepalanya yang seakan hendak meledak. Dia menggeleng ke sana ke mari, merasakan bagaimana Youngnam makan.

"Hey bung! Lihat-lihat!"

"Hei. Apa masalahmu, bung?"

"ARRGHHHH! HENTIKAAAN!"

PRANG!

Sehun membanting botol bir di tangannya, kemudian diam. Sehun menatap pantulan wajahnya pada bir keunguan itu. Ia hanya diam memperhatikan.

Wajah yang dingin, dengan sorot menyeramkan.

"Dia menjijikkan."

"Kau harus melakukannya, Hun."

Terdengar suara di dalam kepalanya. Sehun menoleh ke segala arah, namun dia tidak mendapati apa-apa. Semuanya terdengar aneh, dan Sehun tiba-tiba merasa lelah. Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya kesana kemari, berusaha menghilangkan suara itu.

"Jangan sampai kau terbebani."

"APA LAGI SEKARANG!?"pekik Sehun, kemudian mengusap wajahnya kasar.

"Lakukan, Sehun! Lakukan! Lakukan pekerjaanmu! Kau dapat pekerjaan!"

"ARGH, HENTIKAAAN!"pekik Sehun.

"Lakukan! Kau tak boleh menderita! Lakukan!"

"BEDEBAH SIALAN! BERHENTIII!"

"LAKUKAAANN!"

BRAK!

Tiba-tiba saja, meja di hadapannya sudah terbalik tak berdaya, dengan Sehun yang bernafas terengah-engah. Setetes keringat dari kepala Sehun mengalir, menetes hingga ke atas genangan bir ungu Sehun.

Mengaburkan bayangan Sehun...

-XOXO-

KRING KRING

Seorang yeoja berjalan masuk, dengan keramaian yang tidak menyesakkan di gedung itu. Dia berjalan ke arah bagian customer service, kemudian menyodorkan satu nama.

"Selamat siang. Ada yang bisa kubantu?"tanya sang pelayan customer service.

"Siang. Aku mau mencari alamat warga Korea ini."ucap yeoja itu, kemudian menyodorkan satu nama yang ditulis di atas kertas.

Oh Sehun

"Baik. Tunggu sebentar."ucap sang pelayan, kemudian mulai mengoperasikan komputernya.

Yeoja cantik pelayan restoran sebelumnya–Xi Luhan–pun hanya diam patuh, menunggu proses pencarian alamat dari namja yang tadi pagi memesan ke restoran tempatnya bekerja–Oh Sehun. Luhan sedikit berpikir, dan satu momen berkelebat di pikirannya.

"Baik. Pesanan atas nama siapa?"

"Oh Sehun."

Jika itu benar dia, maka aku akan benar-benar bersyukur; batin Luhan.

"Maaf, nona."

Luhan menoleh, dan mendapati sang pelayan customer service seraya menyodorkan satu kertas print. Luhan menerimanya, kemudian membacanya.

"Oh Sehun itu warga yang nomaden, namun untuk saat ini, dia tercatat meninggali satu apartemen di Gangnam. Kau bisa lihat sendiri detail alamatnya."ucap sang pelayan.

"Oh. Terimakasih."ucap Luhan, kemudian segera berdiri dan mohon diri.

Luhan keluar kantor itu, menatap kertas di hadapannya. Dia mengangguk yakin, kemudian mengantungi alamat itu.

"Taksi!"

-XOXO-

BUGH!

Sehun membuka tas besarnya, kemudian mengeluarkan beberapa isinya. Palu, tali tambang, kait, pistol dengan pelurunya, sebuah pisau daging, dan beberapa hal lain. Dia meraih sebuah batu, kemudian mengasah pisau daging di tangannya. Pisau daging itu agak berkerak, namun masih ada sisa ketajamannya.

"Kotor bekas kemarin. Ugh."gumamnya.

Sehun mengeluarkan satu buku dari dalam tasnya. Buku itu disampul kulit, dengan kancing yang mengunci. Sehun membuka kuncian itu, kemudian membuka bukunya. Sampul buku itu sudah hilang–digantikan oleh kulit–namun dengan daftar isi yang masih lengkap. Sehun membaca daftar isi tersebut, kemudian menemukan satu tulisan.

5. Gluttony...78

Sehun membuka sesuai dengan tuntunan yang ada di buku tersebut, kemudian mencari halamannya. Setelah menemukan halaman tersebut, Sehun pun membacanya.

Gluttony – excess in eating and drinking : "for drunkards and gluttons become poor, and drowsiness clothes them in rags." (Proverbs 23:21)

Gluttony is an inordinate desire to consume more than that which one requires. It is considered one of the seven deadly sins. Each sin is associated with a 'devil' and gluttony's is Beelzebub.

Tampak satu orang gendut, dengan makanan tersebar di sekitarnya. Orang itu bahkan tak bisa berdiri, dan hanya makan dan terus makan. Sehun mengernyit jijik.

"How disgusting."gumamnya.

TOK TOK TOK

Terdengar suara ketukan pintu. Sehun menatap waspada ke arah pintu depan apartemennya. Dia meraih pistolnya, kemudian mengecek pelurunya dan berjalan ke pintu depan.

TOK TOK TOK

"Oh Sehun, aku perlu bicara denganmu."

Sehun terdiam. Dia agak mengenali suara lembut itu. Sehun masih diam di balik pintu, dengan pistol yang siap sedia di tangannya.

"Aku tahu kau ada di balik pintu ini. Kau tidak ingin ada orang asing yang menolong atau menemanimu. Aku tahu, tetapi yang perlu kau ketahui adalah hentikan semua ini! Aku menyadari siapa kamu, dan aku tidak ingin mengenal lebih lanjut. Aku hanya ingin kau memikirkan apa yang selama ini kau pelajari. Kau belajar untuk menjadi seorang pendeta yang bijak! Bukan seperti ini! Hentikan, Sehun! Kau berubah.."

Sehun terdiam. Siapa yeoja ini? Kenapa dia tahu semuanya? Sehun menekan kenop pintu, kemudian membukanya perlahan. Dia menangkap sepasang kaki yang indah, menapaki lantai depan rumahnya.

Dengan seorang yeoja cantik yang berpakaian semi-formal di hadapannya.

"Hai. Apa kau masih ingat denganku?"

Sehun mengerjap. Wajah cantik itu.. tampak tidak asing baginya. Yeoja itu memamerkan senyumnya, membuat Sehun semakin yakin siapa sosok yang ada di hadapannya ini.

"Aku kawan satu panti asuhanmu."ucap yeoja itu.

"Lu-Luhan?"gumam Sehun.

Yeoja yang dipanggil Luhan itu pun hanya terkekeh, kemudian mendekap Sehun erat. Luhan menyadari adanya pistol pada tangan Sehun, namun dia yakin Sehun tidak akan menyakitinya.

"Aku merindukanmu! Kaget rasanya saat kau menapaki restoran tempatku bekerja dan memesan makanan, tanpa menyadari bahwa akulah yang ada di balik kasir itu!"pekik Luhan.

Sehun bisa merasakan pundaknya yang basah.

"Sedang apa kau di sini?"tanya Sehun, lirih.

"Hentikan ini, Sehun! Kau pernah berjanji padaku akan menjadi pendeta yang baik! Kau sudah berjanji padaku! Aku tahu benar siapa dirimu, Hun! Apa yang kau lakukan ini berbeda dari pikiranku!"ucap Luhan, lirih.

"Maaf. Aku selalu merasa terpanggil untuk melakukan ini."ucap Sehun, lirih.

"Jangan lakukan ini."gumam Luhan.

Sehun hanya diam. Luhan menunduk, dengan beberapa titik airmata yang terus menetes. Sehun melempar pistolnya ke belakang, kemudian merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya.

"Kembalilah jadi Sehun yang dulu! Aku tahu kau mengalami trauma masa lalu, tapi bukan begini caranya kau membalaskan dendam!"ucap Luhan, teredam karena dekapan Sehun.

Sehun tidak menyangkal, tidak juga menyetujui. Ia hanya mengusap pelan rambut gelombang itu, memberi rasa aman padanya. Luhan tidak mengerti. Dia tahu benar siapa itu Sehun, tetapi ia tidak bisa menjauh dari namja itu. Justru ia ingin terus berada di dekatnya.

"Masuklah. Jangan komentar apa-apa."gumam Sehun, lirih.

Luhan masuk ke dalam apartemen Sehun. Sehun meraih pistolnya, kemudian memasukkannya ke dalam saku. Luhan menatap ke sekitar Sehun. Rapi dan bersih, namun berkesan muram.

"Akan kubuatkan teh."ucap Sehun.

-XOXO-

Malam datang. Sehun menatap pintu apartemennya, lantas melihat ke arah kamarnya dimana sahabat kecilnya–Luhan–tertidur. Sehun memakai hoodie-nya, kemudian membuka pintu apartemennya.

CKLEK

Sehun mengunci pintu itu. Ia berjalan menjauhi apartemennya.

PIP PIP

"Aku butuh taksi, segera."

-XOXO-

"35 dolar."

Sehun menyerahkan segenggam uang, kemudian berjalan keluar taksi. Hoodie menutupi wajahnya, membuatnya menjadi tidak terlihat. Sehun mengeluarkan sepasang sarung tangan, kemudian memakainya. Ia mengantungi tangannya, berjalan memasuki jalanan kecil itu.

Ia berjalan, mengikuti alur. Sehun menatap sekelilingnya, merasakan keheningan sekaligus kemuraman gang kecil itu. Walaupun Seoul adalah kota yang modern, tetapi adakalanya kota modern itu memiliki sisi-sisi kota yang kelam dan jarang dimasuki.

Sehun berjalan, kemudian berhenti di sebuah pintu. Pintu itu reot, dengan lumut-lumut yang merambatinya. Sehun menyentuh pintu itu, kemudian membukanya.

KRIET

Suara deritnya begitu menyesakkan, dan terdengar menyeramkan. Sehun memasuki rumah kumuh itu, dengan masker yang sudah ia pakai.

Untung saja ia memakai masker, karena bau ruangan itu sungguh menyengat.

Sehun berjalan perlahan, mata elangnya menyusuri setiap sudut ruangan itu. Ruangan yang sungguh menjijikkan, kotor, dan benar-benar tidak layak untuk ditempati. Dalam diam, dia menyusuri setiap ruangan.

KRIET

"Grook.. grookk.."

Suara seseorang sedang mendengkur terdengar menjijikkan di telinga Sehun. Sehun menyingkirkan satu tirai robek di hadapannya, memasuki kamar yang keadannya tidak jauh beda dari ruangan yang ia masuki sebelumnya. Sehun terdiam, mendapati pemandangan di hadapannya.

Seorang namja gembul besar, dengan kasur yang sudah patah di segala sisinya, tertidur nyenyak dalam keadaan menjijikkan.

Sehun membuka kancing jaketnya, kemudian mengambil sesuatu dari jaketnya.

"Hey."

DING!

Sehun memukul salah satu pipa besi karatan di situ, membuat namja itu terbangun. Namja itu menatap Sehun, kemudian terkaget setengah mati.

"Si-siapa kau!?"kagetnya.

Sehun hanya diam. Dia meraba bagian dalam jaketnya, kemudian mengeluarkan sesuatu yang terlihat mengkilat di ruangan remang-remang itu.

"A-apa yang kau lakukan!? Hey!?"pekik namja gendut itu, yang tak lain adalah Jung Youngnam.

"Kau tak tahu dosa apa yang telah kau perbuat."ucap Sehun, teredam oleh maskernya.

"Do-dosa apa?"

Sehun mengeluarkan satu buku dari balik jaketnya yang lain, kemudian membukanya.

"These six things doth the LORD hate: yea, seven are an abomination unto him. Proverbs 6 : 16-19."

"I-itu.."gumam Youngnam, dengan nada gemetar.

"Ya."

.

.

"Ini adalah seven deadly sins. Termasuk dosa apakah dirimu?"

-XOXO-

Luhan terdiam, menatap ke samping dirinya yang kosong tanpa ada pemiliknya. Luhan menghela nafas, kemudian bangkit dan mengeratkan selimut itu pada dirinya.

Ya, tubuhnya naked.

"Dimana dia?"gumamnya.

Luhan menarik selimut itu, kemudian membawanya berjalan keluar dari ruangan tersebut. Luhan merasa kepalanya agak berputar, dan semua terasa buram.

"Sehun?"

Luhan memanggil nama itu, namun tak ada sahutan. Apartemen itu terasa sepi, dan tidak ada tanda-tanda pemiliknya dimanapun.

Seketika Luhan gemetar.

"A-apa jangan-jangan.."

Seketika, selimut itu kusut karena genggaman tangan Luhan yang terlalu erat.

-XOXO-

CRING!

BYUR!

Air membasuhi kedua sarungtangan itu, dengan warna kemerahan yang mulai mengalir bersama. Sebuah pisau daging tampak di sampingnya, berlumurkan darah. Darahnya masih segar, dengan beberapa cercahan daging di sana.

"Sial. Menjijikkan sekali."

Sehun mengibaskan tangannya yang berbalut sarungtangan, kemudian meraih pisau daging itu dan menggosoknya sebersih mungkin. Sehun bisa merasakan betapa tajam dan mengkilatnya benda kesayangannya itu.

Ia pun membalikkan badannya.

Sehun berjalan melintas genangan darah yang melimpah ruah di sana. Ia menatap ruangan itu, hanya memasang tampang dingin tanpa rasa bersalah dan ketakutan sama sekali.

Ruangan itu benar-benar berdarah.

Sehun berjalan ke sebuah plastik besar berisi di atas kasur, berbalut selimut. Sehun mengikat plastik itu, kemudian mengangkatnya dengan kedua tangan kekarnya. Ia sedikit mengeluhkan rasa kesalnya terhadap isi plastik itu.

KRIET

Sehun membuka satu kulkas di sana, kemudian memasukkan plastik itu. Dia sedikit memaksakannya, kemudian menutup pintu kulkas tersebut dan memasang rantai pada kulkas itu.

KLEK!

Dia pun menggemboknya.

Sehun berjalan ke arah kamar itu lagi, kemudian berjalan ke genangan kemerahan yang terkumpul di satu lubang di lantai di sana. Sehun mengeluarkan sesuatu. Sebuah botol cat piloks. Sehun membuka tutup botol itu.

Dan memasukkan cairan itu ke dalam botol piloks-nya.

Sehun menutup tutup botol itu, kemudian mengocok botol itu beberapa kali. Sehun merasakan cairan di dalamnya terkocok mengikuti kocokan botolnya, kemudian menyemprotkannya sembarang.

"Hmm, not bad."gumamnya.

Sehun meraih sebuah pulpen, kemudian meraih satu sticky note dari dalam jaketnya. Ia kemudian menuliskan satu hal di sana.

"When there is darkness, dare to be the first to shine a light." –Steve Maraboli; Life, The Truth, and Being Free

Sehun ber-smirk ria, kemudian menyemprotkan sedikit warna merah lewat cat piloks-nya, kemudian meniupnya pelan agar kering. Sehun menempelkan sticky notes tersebut pada bagian pintu kamar itu, kemudian menutup pintunya.

"Semoga saja aku bisa selera makan setelah ini."gumamnya.

Sehun mengecat pintu itu dengan piloks-nya, membentuk satu kata yang membuatnya semakin lebar tersenyum. Senyum yang–entah kenapa–terasa berbeda dan lebih kelam.

GLUTTONY

Sehun berjalan menjauh, dengan senyum mengiringi wajahnya. Masih terngiang jelas dalam ingatannya, benar-benar terasa seperti baru dia rasakan, dan sensasi itu masih membara dalam diri Sehun.

"What a beautiful life."gumamnya, dengan senyuman.

.

"A-aku akan diet! Aku akan menuruti segala keinginanmu! Tolonglah!"

"Memohonlah, dasar brengsek. Memohonlah dengan menjijikkan."

CRASH! CRASH!

.

-XOXO-

HEADLINE NEWS

MALAIKAT MAUT DI AREA SUBURBAN SEOUL

Seorang pria ditemukan tewas di kamarnya secara sadis dan tidak berperikemanusiaan, di pemukiman kumuh pada bagian Seoul Suburban. Pria yang diidentifikasi bernama Jung Youngnam, seorang pengangguran dan tidak mengenal keluarganya. Youngnam ditemukan tewas di dalam kulkas di rumahnya, dengan kondisi tubuh sudah tidak lagi utuh dan hanya tersisa daging yang telah diiris dengan sangat rapi oleh pelaku. Tubuhnya disayat dengan berbagai pola pemotongan daging yang biasa digunakan oleh para pemotong daging, dan sudah dikuliti dan kulitnya berada di plastik terpisah. Polisi menduga bahwa pelaku adalah seseorang yang mahir memotong dan sangat terlatih. Polisi pada awalnya mengira bahwa daging tersebut adalah daging babi saking rapinya potongan, namun kemudian ditemukan potongan kepala Youngnam di balik tumpukan daging beku pada plastik tersebut, dalam keadaan bersih tanpa darah, seakan sudah dicuci terlebih dahulu. Polisi masih berusaha mencari pelaku, dan dengan tidak ditemukannya sidik jari atau apapun identitas pelaku akan menyulitkan polisi. Tertulis sketsa kasar bertuliskan GLUTTONY, yang merupakan salah satu dari tujuh dosa mematikan, pada bagian pintu dan menggunakan cat, dengan ruangan yang berlumurkan darah merah yang sudah mengering dan membusuk. Ditemukan satu catatan di bagian pintu kamar. Tak ada saksi mata dan indikasi senjata tajam di TKP.

THE END

Note :

Halo lagi!

Well, satu lagi FF absurds dari author!

Oiya, buat ngingetin aja, setiap parts pada FF Seven Deadly Sins tidaklah bersambung, alias satu part selesai. Karena Seven Deadly Sins membahas 7 Dosa Mematikan, maka author akan buat at least 7 chapter utama yang membahas masing-masing sin!

Gluttony finish yeay!

Sorry kalo kurang greget ya, soalnya author menyesuaikan dengan kemampuan author dan (tentunya) dari feeling author terhadap karakter! Hiks, Sehun gak sejahat itu kokk...

Luhan dan Sehun kok bisa saling kenal? Hahaha, nanti bakal ada plot twist kok, tapi gak tau di chapter yang mana. Bakal author infoin kok kalo ada chapter yang saling berhubungan. Namanya juga Seven Deadly Sins. Satu dosa berhubungan pada dosa lain hihihi (direkomendasikan baca semua chapter sih, karena PASTI akan ada hubungan antarchapter, walaupun baca satu chapter aja juga gak masalah karena konflik yang berbeda)

FF INI SANGAT BERGANTUNG PADA KETERANGAN WAKTU YANG SELALU DIINFOKAN PADA AWAL FF BERJALAN (contoh: Seoul, 2015). Untuk membaca FF ini secara keseluruhan, mohon untuk selalu MEMPERHATIKAN KETERANGAN WAKTU, karena PLOT YANG BERPUTAR-PUTAR dan cukup memusingkan untuk beberapa readers.

So, keep favourite and review ya! Makin banyak reviews, makin rajin author update, dan author makin mengasah kemampuan author dalam hal thriller dan tragedy!

So, stay tune!

HUANG AND WU