20 vs 50

Genre: Romace, Drama, Hurt/Comfort

Rating: T

Lenght: Chapter

Main Cast:

Lu Han

Se Hun

Pairing: Hunhan, Taoris, Chanbaek, Kaisoo, Sulay, slight Hunlay

Warning: Genderswitch,Ooc,Typos,geje,ect

Desclaimer:

Fanfic ini adalah karya asli saya, muncul dari otak saya berdasarkan pengalaman pribadi saya. Saya hanya meminjam nama member EXO dan beberapa karakter serta orang terdekat mereka. Sepenuhnya mereka adalah milik Tuhan YME.

NO BASH, NO FLAME, NO PLAGIAT

Summary:

Luhan yeoja cantik berusia 20 tahun jatuh cinta pada Oh Sehun yang usianya hanya 4 tahun lebih muda dari appanya. Mungkinkah cinta Luhan pada Sehun akan berbuah manis?

.

.

.

Previous Chapter

"Ah, eonni bogoshipeo" sapa Luhan pada yeoja mungil itu.

.

.

.

"Ne, aku akan coba cari pengganti" jawabnya sebelum sambungan telepon terputus.

.

.

.

HanPutri Present©

20 vs 50

Chapter 1

.

.

.

AUTHOR POV

"Ah, eonni bogoshipeo" sapa Luhan pada yeoja mungil itu.

"Nado" balasnya sambil memeluk Luhan. Mereka berpelukan untuk melepas rindu cukup lama sampai suara deheman mengintruksi kegiatan mereka.

"Ehem...sampai kapan kalian berpelukan seperti itu? Lu, kau hanya memeluk eonnimu saja. Mana pelukan untuk oppamu yang tampan ini?" rengek namja yang tak lain adalah kakak Luhan—Chanyeol.

Luhan melepas pelukkannya dengan sang eonni—Baekhyun, istri oppanya dan beralih memeluk Chanyeol.

"Oppa, apa kau juga merindukanku?" tanya Luhan dalam dekapan Chanyeol.

"Tentu saja. Aku sudah terlalu gatal untuk menggodamu chagi" jawab Chaneol enteng.

"Oppa~" rengek Luhan tak terima.

"Bukannya kau sudah punya eonni. Jadi tak perlu menggodaku. Goda saja Baek eonni" saran Luhan pada Chanyeol dan langsung mendapat death glare dari Baekhyun.

"Yak! Kenapa membawa-bawa diriku?" sahut Baekhyun tak terima.

"He he he...mian yeobo, kami hanya bercanda" jawab Chanyeol dengan cengiran khasnya.

"Oppa, eonni kajja kita pulang. Aku ingin segera melihat Hyunnie" ajak Luhan pada oppa dan eonninya.

"Baiklah. Kajja" balas Chanyeol.

.

.

.

AUTHOR POV

Gedung OH Corp

"Ne, aku akan coba cari pengganti" jawabnya sebelum sambungan telepon terputus.

"Ck...kenapa jadi serumit ini" keluh frustasi seorang namja tampan, meski telah atas mejanya terdapat papan nama bertuliskan "Presdir OH Corp".

Ya namja berumur 50 tahun itu tampak sangat frustasi. Entah masalah apa yang menimpanya. Ditengah kefrustasiannya, masuklah seorang namja berperawakan gemuk ke dalam ruangannya.

"Chogiyo Presdir Oh, anda memanggil saya?" tanya namja yang baru masuk tadi.

"Duduklah tuan Shin. Apa kau sudah menemukannya?" tanya balik Sehun dengan tatapan datar seolah tak ada beban.

"Sudah Sajangnim. Kami telah melakukan seleksi yang cukup ketat untuk ini" jawab tuan Shin sambil memberikan sebuah map berisi berkas pada Sehun.

"Bagus. Segera hubungi dia. Aku ingin secepatnya clear" titah Sehun.

"Ne, akan segera saya laksanakan" jawab tuan Shin sebelum keluar ruangan Sehun.

.

.

.

SEHUN POV

Setidaknya satu masalah teratasi. Ini benar-benar membuatku gila. Kupijit pelipisku aku melewatkan jam makan siang lagi.

Kulirik berkas yang diberikan tuan Shin tadi. Kelihatannya menarik.

"Kita lihat seberapa hebat kemampuanmu nak. Semoga kau bisa mengatasi masalah ini, bukan malah menimbulkan masalah baru. "

.

.

.

AUTHOR POV

"Hyunnie, jangan terus ngemut tangan eonni" ujar Luhan pada bayi imut berusia 9 bulan yang sibuk dengan tangan Luhan.

"Eonni, Hyunnie mungkin lapar. Lihatlah, dia ngemut tanganku terus" adu Luhan pada Baekhyun.

"Hyunnie lapar ya?" tanya Baekhyun pada sang aegya. Dan hanya kata "ma-ma-ma" yang terucap dari bibir mungil bayi itu.

"Oh, anak eomma lapar. Sini sama eomma chagi" Baekhyun mengambil Chanhyun dari gendongan Luhan.

Saat acara menyusui antara ibu dan anak itu terjadi, Chanyeol sang Appa baru saja keluar dari kamar. Nampak jelas kalau ia baru mandi. Penampilannya lebih fresh dan rambutnya masih basah. Dengan langkah percaya diri Chanyeol menghampiri mereka.

"Yak! Apa yang kau lakukan?!" teriak Baekhyun atas perlakuan Chanyeol yang tiba-tiba.

"Tak ada. Aku hanya mencium pipi istriku yang cantik ini" jawab Chanyeol dengan cengiran lebar sembil menaik turunkan alisnya.

"Hyunnie, cepatlah tumbuh besar ne. Jangan memonopoli eommamu. Sekali-sekali berbagilah dengan appamu ini" ucap Chanyeol sambil berekpresi sedih yang berlebihan ketika melihat Chanhyun menyusu. Baekhyun hanya memutar bola matanya malas dengan pernyataan sang suami.

"Singkirkan pikiran mesummu itu oppa. Chanhyun yang masih suci bisa terkontaminasi oleh mu" cibir Luhan.

"Eonni, Hyunnie kelihatannya sudah tidur" kata Luhan memainkan tangan Chanhyun dan tak ada reaksi

"Ne, aku tidurkan di kamar saja" Baekhyun berjalan ke kamar Chanhyun.

"Ehem" deheman Chanyeol membuat Luhan menoleh ke arahnya.

"Lu, apa kamu serius dengan yang kemarin?" tanya Chanyeol serius dan hanya mendapat anggukan dari Luhan.

.

FLASHBACK ON

"Yeoboseyo" sapa orang di seberang.

"Oppa. Aku pulang ke Korea besok" terdengar suara yeoja di seberang sana.

"MWO" teriak namja yang dipanggil oppa tadi.

"Wae? Bukankah kamu bilang masih betah di London. Kenapa tiba-tiba mau pulang?" terlihat bila sang namja begitu terkejut.

"Aku melamar pekerjaan di Korea oppa" suara sang yeoja terdengar lagi.

"Kamu melamar pekerjaan Lu? Eodisseo? Bukan di perusahaan kitakan?" tanya namja bernama Chanyeol itu.

"Bukan oppa. Besok saja kita bicarakan lagi ya. Tolong jemput aku di bandara." Belum sempat Chanyeol menjawab sambungan sudah putus.

FLASHBACK OFF

.

AUTHOR POV

"Jadi bagaimana?" Chanyeol bersuara lagi

"Tadi mereka menghubungiku oppa. Dan sesuai prediksiku aku lolos" kini Luhan membuka suara juga.

"Posisimu diperusahaan itu sebagai apa, Lu? Ini kan pengalaman pertamamu biasanya akan mulai dari bawah" Luhan hanya tersenyum simpul.

"Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi tak tahunya malah begini oppa" Luhan menyerahkan surat yang baru ia terima.

"WOW" mata Chanyeol tak percaya membaca tulisan di surat itu.

"Daebak! Itu baru saeng Wu Chanyeol" Chanyeol menatap Luhan bangga.

"Gomawo oppa" Luhan tersipu karena pujian oppanya.

"Kamu harus berusaha melakukan yang terbaik. Ini salah satu perusahaan ternama" nasehat Chanyeol pada saeng kasayangannya.

"Ne oppa" Luhan manggut-manggut mendengar wejangan dari Chanyeol.

"Aku akan memberitahu appa setelah ini" Chanyeol bangkit dari sofa.

"Andwae" cegah Luhan.

"Wae?" tanya Chanyeol bingung.

"Aku tidak yakin appa akan mengizinkan. Biar dia tahu sendiri saja. Kalau appa melarang maka harapanku untuk mengamalkan ilmu yang kupelajari sampai negeri orang akan sia-sia. Oppa tahu kan kemungkinan aku akan dijodohkan atau apa pun itu seperti anak-anak kolega bisnis appa. Kalau seperti itu akau akan jadi ibu rumah tangga saja dan tidak boleh bekerja" jelas Luhan panjang lebar ada Chanyeol dengan wajah memelas.

Chanyeol masih berpikir. Menimbang keputusan yang dia seorang CEO jadi harus memikirkan keputusan yang tepat.

"Oppa~" rayu Luhan dengan jurus deer eyes andalannya. Dan benar saja Chanyeol tak kuasa menolak.

"Arraseo" Ucap Chanyeol final. Mendengar itu Luhan langsung bersorak ria dan menghadiahi Chanyeol kecupan singkat di pipi.

"Ck...dasar Xiao Lu" Chanyeol terkejut tapi ia tersenyum bahagia setelahnya.

.

.

.

AUTHOR POV

Malam harinya Luhan mempersiapkan segala keperluan untuk besok, hari pertamanya masuk kerja. Lumayan capek karena selain mempersiapkan keperluan kerja, ia juga membongkar isi koper. Dan di sinilah rusa kecil kita, berbaring diatas kasur empuknya mencoba pergi ke dreamland.

LUHAN POV

Ah, capek sekali rasanya. Ku coba meregangkan otot-ototku yang kaku. Tapi syukurlah semua sudah beres. Sudah larut ternyata, pukul 23.35. Saatnya menjelajahi dunia mimpi. Oh, kasur ini empuk sekali, rasanya seperti tidur di atas awan. Baru beberapa menit memejamkan mata terdengar suara mengerikan yang membuat mataku kembali melebar dan bulu kuduku berdiri.

"Euungghhhh...Yeollie"

"Appo... Yeollie"

"AKH! Lubangmu sempit sekali Baekkie"

" Ahhhh... ahhhh... ahhhh..."

"Yeoliiiii mmm...mooree... ahhh... mmmppptttt..."

" AKH! Yeoli pelannnn eunghhhh... ahhhhh... Yeoliiiii..."

YA TUHAN! Apa yang dilakukan dua makhluk-MU itu malam-malam begini?

"Oeeekk! Ooeekk!"

Aku mendengar satu suara lagi selain suara mengerikan itu dan aku yakin ini suara tangis Chanhyun. Aku bergegas menghampiri kamar Chanhyun. Ke dua orang tuanya pasti tak akan peduli dengan tangisan Chanhyun mengingat mereka sedang sibuk dengan urusan this and that.

"Hyunnie chagi, uljima ne" rayuku pada Chanhyun. Ku gendong dia dan mencoba menina bobo kannya. Tapi ia tetap saja menangis. Ku cek popoknya ternya basah. Akhirnya setelah ku ganti popoknya, tangisan itupun reda. Lalu aku kembali ke kamar dan memejamkan mata. Ku lirik ternyata sudah jam 2.00 am.

.

AUTHOR POV

"MWO" teriakan Luhan memecah ketenagan pagi ini mana kala ia melihat jam menunjukkan pukul 07.00 am. Jam kerja dimulai pukul 08.30.

Luhan buru-buru masuk kamar mandi. Sekitar 15 menit ia keluar kamar mandi, lalu berganti baju serta berdandan.

Luhan mengamati penampilanya dari pantulan cermin. Baju kerja berwarna beige, tas yang senada dengan baju yang ia kenakan, high heels putih 10 senti dan mantel ivory. Wajahnya dipoles dengan makeup tipis. Rambut diikat rapi. Sempurna untuk hari pertama kerja.

Pukul 07.30 am ia keluar kamar dan mendapati dua makhluk yang patut disalahakan atas kekacauan pagi ini baru saja keluar kamar dengan penampilan yang berantakan.

"Pagi Lulu" sapa mereka bersamaan.

"Wah sudah siap ternyata. Mau berangkat sekarang?" tanya Chanyeol sambil melirik jam.

"Ne" jawab Luhan singkat

"Aku berangkat dulu" pamitnya dan mendapat anggukan dari Chanyeol dan Baekhyun.

.

LUHAN POV

Aish...pagi ini jadi kacau karena kegiatan oppa dan eonni semalam. Aduh, kantung mataku menghitam karena kurang tidur. Tapi untunglah tidak parah.

Dan di sinilah aku sekarang. Menunggu bus di halte yang berjarak 300 m dari rumah. Apa kalian ingin bertanya kenapa aku tidak memakai mobil mewah yang berjajar di garasi? Alasan pertama karena sejak kecil memang sudah dilatuh untuk tidak hidup mewah meski ada fasilitas.

Yang kedua rasanya tidak wajar kalau ada pegawai yang baru masuk kerja diantar dengan Lamborghini.

"Aduh, kenapa busnya belum datang" gumamku mulai panik. Kalau tidak segera datang akau bisa terlambat.

"Ppali...ppali...ppali" mulutku berkomat-kamit membaca mantra agar bus itu cepat datang.

Setelah menunggu, bus itupun datang. Ternyata aku tidak mendapat tempat duduk jadinya ya berdiri selama 30 menit.

Begitu turun dari bus aku mencari tempat duduk untuk memijit kakiku. Rasanya berdiri selama 30 menit dengan high heels 10 senti itu benar-benar menyiksa.

Karena masih ada waktu 15 menit ku putuskan untuk mampir di coffee bean yang tidak jauh dari gedung perusahaan tempatku bekerja. Satu cup cappuccino kurasa tidak terlalu buruk.

Aku mulai mengantri dan antriannya ternyata panjang. Penantian itu sebanding dengan hangatnya cappuccino nikmat di tanganku untuk mengawali pagi ini.

Kebahagiaanku sirna ketika jam tanganku menunjukkan pukul 8.30 itu berarti aku terlambat.

Aku langsung bergegas menyeberangi jalan dan berbelok ke kanan. Butuh waktu 10 menit untuk sampai tempat kerja.

Begitu masuk gedung banyak pasang mata yang melihat kagum ke arahku. Tapi tak kupedulikan. Langsung saja aku menuju lift dan menekan angka 7. Tujuanku adalah menemui tuan Ahn.

Ketika pintu lift terbuka aku tidak menyadari kalau ada orang di depanku karena terlalu panik dan tidak fokus, yah jadilah cappuccino hangatku tumpah di baju orang itu.

Aku membungkuk meminta maaf pada orang yang ku tabrak.

"Joesonghamnida. Saya tidak sengaja" karena tidak ada tanggapan aku mendongak dan mendapati sepasang iris yang menatap tajam ke arahku seakan mau menelanku hidup-hidup.

Aku menelan ludahku susah payah dan hendak bersuara. Tapi belum sempat suaraku keluar, orang itu malah pergi begitu saja.

"Ah, sudahlah" aku hanya mengedikkan bahu tak ambil pusing.

Begitu bertemu dengan tuan Ahn, aku langsung diantar menuju ruangan Presdir.

.

AUTHOR POV

"Presdir itu termasuk orang yang keinginannya sulit dituruti. Sudah banyak orang yang pernah menempati posisi itu. Tapi dalam waktu satu minggu saja mereka mundur. Yang paling lama menjadi sekretaris Presdir itu nona Lee. Tapi ia sedang cuti melahirkan. Karena itu, anda kami pilih untuk menggantikannya" Penjelasan tuan Ahn berakhir ketika mereka sampai didepan ruangan Presdir.

Tuan Ahn mengetuk pintu dan dipersilakan masuk.

"Presdir, ini nona Wu yang akan menjadi sekretaris anda" tuan Ahn memperkenalkan Luhan pada sang Presdir.

"Baik. Tolong tinggalkan kami berdua" jawab Presdir tanpa berpaling dari dokumen didepannya.

.

LUHAN POV

"Baik. Tolong tinggalkan kami berdua" mendengar itu tuan Ahn permisi keluar. Dan tinggallah kami berdua. Aku hanya menunduk dan merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang ada.

Wajah Presdir itu tak terlihat karena ia tetap berkutat dengan dokumen di hadapannya.

"Jadi nona Wu Luhan..." aku mendongak karena namaku disebut. Dan begitu mata kami bertemu

.

.

.

"MWO"

TBC

Annyeong~

Saya hadir lagi dengan chapter 1...

Sebelumnya terimakasih banyak buat para reader yang udah review ff ini, jaga para reader yang udah baca tapi belum review.

Saya berterimakasih karena ada yang mau baca ff saya ini. Untuk chapter 1 ini masih awal, jadi agak membosankan kalo menurut saya. Tapi meski begitu saya berharap ada yang baca. Hehe...

Buat reader yang penasaran sama wajah tua sehun bisa berknjung ke wp saya (tapi sekarang masih belum fix). Saya udah ngedit fotonya sehun dan ternyata dia tetep ganteng. Ya 11 12 lah kalo sama Tom Cruise.

Buat chapter selanjutnya tolong review ya... bagi yang belum review, mohon reviewnya ^_^

Gamsahamnida