REMAKE NOVEL

"X"

By trnvtsr

WARNING! GS

Chapter 1

She's just a girl and she's on fire

Hotter than a fantasy, lonely like a highway

She's living in a world and it's on fire

Filled with castrophe, but she knows she can fly away-

GIRL ON FIRE, Alicia Keys

.

.

Tidak mudah mencari pekerjaan, lulusan sarjana sudah semakin banyak sementara perkembangan industri tidak mengikutinya. Well, mungkin para ekspatriat sebaiknya segera dideportasi dan digantikan oleh sumber daya manusia domestik. Perusahaan multinational yang membuka cabangnya di Indonesia kadang masih meremehkan lulusan Indonesia. Memandang sebelah mata kualitas lulusan domestik, hanya karena Indonesia merupakan negara dunia ketiga. Menyebalkan.

Di sinilah Baekhyun, berbaring di rumah kontrakannya yang berlantai ubin berwarna oranye. Menatap langit-langit rumahnya yang bocor selagi hujan mengguyur dengan derasnya di luar sana. Lantai begitu dingin merajam dari balik kaus tipis yang dikenakannya. Ponsel berada di tangan kanannya, kesehariannya selalu begitu. Ia harus siap sewaktu-waktu jika panggilan pekerjaan memanggilnya untuk psikotes atau interview.

Kruuuk, ia bisa mendengar perutnya bergemuruh seperti guntur di luar sana.

Baekhyun mengelus perutnya dan menghela napas.

"Sabar, ini masih jam dua. Tunggu satu jam lagi"

Nasi bungkus yang dibelinya dari warung Bu Uci masih tergeletak di atas meja kayu kecil. Dia belum membukanya sama sekali. Nasi bungkus seharga tujuh ribu rupiah itu harus dimakan pukul tiga. Jika kurang dari pukul tiga ia memakannya, ia tidak akan bisa bertahan sampai malam hari. Tidur dengan perut kosong itu menyakitkan. Ia harus mengatur jadwal makan satu hari sekalinya sebaik mungkin.

Baekhyun bermain-main dengan ujung benang di celana hot pant-nya. Sebenarnya itu bukan hot pant, itu adalah celana jeans panjang yang sudah lama dan sobek sana-sini. Baekhyun tidak bisa mengenakannya sewaktu ia masih berangkat ke kampus, jadi ia menggutingnya sangat pendek dan iagunakan ketika berada di kontrakan.

Trrrrt trrrrrtttt…

Sontak Baekhyun terbangun dan mengangkat telepon

"Halo, selamat siang? Saya Byun Baekhyun. Ada yang bisa saya bantu?"

"Halo, Ahjumma, bisa urutin bisul saya ga?"

"The hell…..," umpatnya "Ngapain nelepon pake nomor yang ga dikenal?"

"Gratisan nomor perdana, Baek, kemarin waktu pameran dapat dari marketing provider-nya lagi open booth" jawab suara diseberang sembari terkekeh. "Baek, ada panggilan apa, Baek, apa hasil jobfair kemarin?"

"Taik tuh jobfair! Tiket masuknya aja lima puluh ribu, isinya perusahaan taik semua!" umpatnya kasar

"Sabarlah, Baekhyunnie. Tuhan kasih kamu yang terbaik di akhir"

"Heh, ga usah bawa-bawa nama Tuhan di sini!"

"Aduh, Baek, marah-marah terus ntar wasirnya kumat lho!"

Baekhyun mendesis gemas. Sahabatnya yang satu ini, Lu Han, orangnya sangat fun dan menghibur sebenarnya. Hanya saja kalau dalam kondisi depresi, gurauannya jadi semacam ejekan. Baekhyun tahu itu, tapi ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak emosi.

"Baekhyun? Baekhyunnie? Gimana Baek, jadi ngurut bisul saya?"

"Bisul kepalamu!" gerutunya tanpa ada nada marah yang tersisa.

Diujung telepon, Lu Han terkekeh lega. Mungkin akhirnya senang gurauannya tidak lagi membuat Baekhyun darah tinggi.

"Baek,, di kantor aku ada lowongan legal advisor. Aku rekomendasiin kamu ke bos aku yang ganteng mempesona ityuu. Mau ga?"

Baekhyun seketika membelalakan matanya dengan antusias.

"Eh, beneran, Lu? Iya, aku mau! Aku mau! Katakana padanya I'll do everything to get a job!"

"Bahkan sampai menjual tubuhmu?"

"Bisa jadi"

"Gila kamu!"

"Memang!"

Baekhyun kembali berbaring di lantai dan bermain-main dengan ujung anak rambutnya.

"Eh, bos kamu namanya siapa?"

"Chanyeol"

"Ih namanya ga oke"

"Hah? Ga oke dari mana? Seksi tahu, kau coba saja desahkan namanya pas orgasme! Chanyeol…Chan..Yeol..hhh….!" Lu Han mulai menjerit-jerit seakan-akan ia sungguhan orgasme.

Baekyun mulai bergidik

"Diem ah! Namanya mirip X aku. Jijik dengernya!" gerutunya kesal

"Halah! Mana mungkin kamu punya mantan sekeren bos akyu. Impossible banget, Baekyunnie! Pacarmu tuh boleh gantung, otaknya seupil lalat!"

Baekhyun tertawa. Ia mengangkat kedua kakinya dan ia sandarkan ke dinding yang catnya berkelupas kena jamur

"Cari cowok ga usah pinter-pinter, ntar susah di porotin duitnya. Kaya si Sehun tuh, enak, dibawa ke mana-mana ga malu-maluin, tajir pula" sahut Baekhyun enteng.

"Iya, asal dia diem aja, ga ada yang tau kalau dia tulalit! Udahan ye, balik kerja lagi aku. Bye!"

Baekhyun mematikan sambungan teleponnya dan menjerit girang. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa ia bisa berkesempatan bekerja di perusahaan industri properti terbesar di Indonesia. Park Group, sudah beberapa kali ia mengikuti ujian masuk ke perusahaan tersebut, namun belum beruntung. Siapa sangka, temannya Lu Han, akan membuka jalan pintas untuknya? Lu Han, yang pamannya kebetulan memiliki beberapa persen saham perusahaan tersebut. Tidak terlalu besar, hanya 1.5%, tapi setidaknya itu mampu membuka jalan keberuntungannya.

Baekhyun menatap tampilannya di kaca toilet gedung Pak. Blouse biru yang ia kenakan jatuh dengan indah di tubuhnya. Biru adalah warna kemenangan ketika seorang perempuan berurusan dengan pria dalam masalah bisnis, ia sempat membaca sebuah artikel gaya hidup yang menyampaikan informasi tersebut. Ketika ia memilih warna biru tosca, Baekhyun mempersiapkan dirinya untuk menang dalam interview.

Well, kondisinya memang menang. Dia diterima kerja. Minus kondisi bahwa atasannya adalah mantan pacarnya. Dengan gemas, Baekhyun menggertakkan giginya. Bisa-bisanya ia mengalami hal memalukan seperti ini!

Ia tidak terima. Tak akan ia berikan Chanyeol tertawa menang. Ia tidak akan menundukkan kepala di hadapan pria brengsek itu!

Tidak akan! Sampai mati sekalipun!

Ketika ia keluar dari kamar mandi, Lu Han menyerbunya dengan senyum lebar khasnya.

"Baekhyun, gimana interview-nya sukses?"

"Biasa aja" jawab Baekhyun singkat, berusaha menghindari pembicaraan yang mendetail

"Eh, Baek gimana menurut kamu bos akyu? Ganteng, 'kan? Masih muda, seumuran sama kita. Cihui bisa digebet, dia single, Baek…!"

"Cihui kepalamu!"

"Aduh, Baek, dari kemarin emosi melulu deh! Nggak capek apa?" Lu Han merengut seketika. "Lagian barusan aku dikasih tau Chanyeol kalo kamu keterima kerja."

"Aku ngga mau ngobrolin soal interview barusan,oke?" tegas Baekhyun.

Lu Han menghempas rambut sebahunya dengan tangannya dan tersenyum.

"Terserah deh, Baek. Pokoknya aku seneng kamu bakalan sekantor sama aku. Akhirnya kamu kerja lagi! Yang penting kalo ada sale The Executive, aku punya partner hunting lagi" Lu Han mengedip-edipkan matanya dengan ceria.

Baekhyun menatap sahabatnya itu dengan mencelos. Lu Han jelas tidak tahu-menahu perihal apa yang terjadi antara dirinya dan Chanyeol di masa lalu. Lu Han di sini mungkin hanya dimanfaatkan Chanyeol. Entah dengan alasan apa.

.

.

Kaleng dengan pita merah kini telah berpindah ke pangkuannya. Sebelum kaleng persegi itu selalu teronggok di sudut lemari bajunya selama kurang lebih tujuh tahun lamanya. Baekhyun menyebutnya dengan sebutan kotak Pandora-dimana ia menyimpan kenangan masa lalunya. Kenangan yang memberinya pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah manapun.

Baekhyun meniup debu di atas kotak tersebut dan mengusap permukaannya sedikit dengan ujung pergelangan tangan sweater-nya. Ketika Baekhyun berusaha membuka penutup kalengnya, ujung-ujungnya sudah sedikit berkarat, dan itu membuatnya sedikit kesulitan.

Kotak itu terbuka, penutupnya terpental di lantai dengan suara nyaring. Baekhyun meringis mendengarnya, ia menemukan sebuh tulisan dengan dalam sticky note warna merah muda:

Love, it does exist, believe it.

Love, Chanyeol.

Baekhyun tertawa sinis. Betapa Chanyeol dulu bisa membuatnya melayang hanya dengan sebuah gombal sepeti itu. Betapa ia dulu membaca kalimat itu berulang kali sebelum matanya terpejam di setiap malam. Kemudian ia memimpikan Chanyeol dan senyumnya yang menyerupai malaikat.

Park Chanyeol. Kenapa ia sampai melupakan nama itu? Kenapa ia segera mendapatkan firasat ketika Lu Han menyebit nama itu? Apakah karena ia sudah memaafkannya? Tidak. Baekhyun tidak pernah memaafkan, ia hanya melupakan.

Tujuh tahun lalu….

Luka itu masih basah dan belum mongering sama sekali. Baekhyun tidak akan membiarkannya mongering. Luka itu, rasa sakit itu, ia harus mengenangnya sepanjang hidupnya. Ia tidak boleh lupa bahwa Chanyeol telah memberinya pelajaran terpahit dalam hidupnya.

.

.

To be continue...