Jimin membuka pintu apartemennya dan terkejut melihat Taehyung yang wajahnya penuh luka, didampingi oleh Jungkook yang tubuhnya juga terluka.
"Astaga! Apa yang terjadi?" pekik Jimin panik sembari mengecek tubuh Taehyung.
"Bisakah kami menceritakannya di dalam?" jawab Jungkook, Taehyung hanya terdiam karena ia terlalu lemas untuk menjawab.
"Oh, ya, masuklah!" ucap Jimin sembari membantu Jungkook untuk membawa Taehyung masuk.
.
.
.
"Jadi, apa yang terjadi pada kalian?" tanya Jimin yang kini sedang mengobati luka Taehyung. Jungkook dan Taehyung hanya terdiam, dan Jimin pun menghela nafasnya, kesal. "Apa ini semua perbuatan Kim Namjoon?"
Jungkook menoleh ke arah Taehyung, dan sang target hanya terdiam, menundukkan kepalanya. Melihat Taehyung yang terlihat tidak akan menjawab pertanyaan Jimin, Jungkook pun menjawab untuknya. "Ya."
"Sudah kuduga," ucap Jimin, terdengar kemarahan pada nada bicaranya. "Orang itu memang sampah. Ia harus dimusnahkan."
"Jimin," Taehyung masih menundukkan kepalanya, pandangannya masih melekat pada lantai. "Jangan pernah berurusan dengan Namjoon hyung. Apapun yang dia lakukan padaku, berjanji lah bahwa kau tidak akan pernah menemuinya."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku tidak ingin kau terluka seperti aku saat ini," Mendengar hal ini, Jimin pun menghentikan kegiatannya, dan suasana menjadi hening. "Jimin," ucap Taehyung lagi, kini ia mengalihkan pandangannya ke Jimin. "Berjanjilah padaku."
"Jadi maksudmu, aku harus tetap diam melihatmu terluka seperti ini? Aku harus membiarkanmu terus seperti ini?" Tatapan Jimin pada Taehyung terlihat tajam.
"Jimin, dengarkan aku—"
"Kau yang harus mendengarkan aku, Kim Taehyung," Tatapan Jimin kini berubah sedih, membuat Taehyung kembali menundukkan kepalanya. "Kau selalu saja seperti ini, menyingkirkanku dari masalahmu. Kau tidak ingin aku terluka? Aku juga tidak ingin kau terluka," Satu tangan Jimin menggenggam tangan Taehyung, dan satu tangan lagi membelai lembut wajahnya. "Tidak bisakah kau percaya padaku? Aku tidak lemah, Taehyung. Aku bisa melindungi diriku sendiri."
"Maaf.." ucap Taehyung pelan, air matanya mulai menetes dan membasahi tangan Jimin. "Maafkan aku, Jimin. Tapi aku benar-benar takut jika Namjoon hyung melukaimu. Aku tidak ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Aku—"
Ucapan Taehyung terhenti oleh jari Jimin yang kini menempel di mulutnya. "Aku tahu perasaanmu. Aku sangat berterimakasih karena kau begitu mengkhawatirkanku. Tapi kau harus tahu bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama sepertimu. Maka dari itu, Taehyung, aku harap kau bisa mempercayaiku. Aku tidak akan tinggal diam, tapi aku juga tidak akan bertindak bodoh. Percayalah padaku."
Taehyung pun mendongak untuk menatap Jimin, ia kemudian mengangguk pelan sembari memberikan senyuman yang hangat untuk sang sahabat.
.
.
.
"Kau benar-benar terlalu baik," ucap Jungkook pada Taehyung, namun tatapan Jungkook berada pada langit-langit ruangan. Mereka kini sedang berada di kamar Jimin, karena Jimin menyuruh mereka untuk beristirahat.
Mendengar hal ini, Taehyung pun menoleh ke arah Jungkook. "Apa maksudmu?" tanyanya, terdengar suara tawa kecil pada nada bicaranya.
"Mendengar percakapanmu dengan Jimin tadi, kau sepertinya sangat peduli padanya. Kau benar-benar baik."
Kali ini Taehyung tertawa lepas. "Jimin adalah sahabatku, tentu saja aku peduli padanya."
"Lalu kenapa kau peduli padaku? Aku bukan siapa-siapamu," ucap Jungkook yang kini mengalihkan pandangannya ke Taehyung. Sang target tidak menjawab, dan Jungkook melanjutkan ucapannya. "Apa kau tidak takut padaku? Aku mungkin masih berencana untuk membunuhmu."
"Aku tidak ingin mati, tentu saja aku takut jika kau masih ingin membunuhku," Taehyung pun bangkit dari duduknya, menghampiri Jungkook, dan kini ia berada tepat di depannya. "Tapi entah kenapa, aku merasa bahwa kau tidak akan membunuhku," ucap Taehyung sembari mengusap kepala Jungkook, membuat Jungkook mendongak untuk menatap Taehyung, dan ia dapat melihat senyuman indah menghiasi wajah Taehyung.
Jungkook hanya terdiam, ia memilih untuk membalas ucapan sang target dalam hati. Aku juga merasa bahwa aku tidak akan membunuhmu.
.
.
.
Jungkook terbangun setelah ia merasakan handphone-nya bergetar. Ia pun merogoh saku celananya dan meraih handphone-nya. Jungkook tertegun setelah melihat apa yang ada di layar. Client-nya, yang menginginkan Taehyung mati, mengirimkan pesan.
Kuberi kau waktu 3 hari. Jika lewat 3 hari kau tidak membawakan kepala Kim Taehyung, aku akan menyewa pembunuh bayaran lain untuk membunuhnya.
Hanya berselang beberapa detik, client-nya itu mengirim pesan lagi.
Oh, dan aku juga akan menyuruhnya untuk membunuhmu.
Setelah membaca pesan dari client-nya itu, Jungkook sontak menoleh ke sampingnya, ke arah tempat Taehyung tertidur. Tapi sang target tidak ada di sana, dan Jungkook pun mulai panik. Ia bergegas keluar dari kamar Jimin untuk mencari Taehyung. Dan saat Jungkook membuka pintu kamar, Taehyung sudah berada tepat di depannya, terlihat terkejut setelah melihat Jungkook.
"Aku baru saja akan membangunkanmu," ucapnya sembari memberikan Jungkook senyuman. Masih terdapat luka yang diberikan oleh Namjoon pada bibir Taehyung, namun senyumannya tetap terlihat indah.
Jungkook tidak tahu harus berkata apa untuk membalas ucapan Taehyung, ia hanya merasa lega sang target masih berada di sampingnya. Melihat Jungkook terdiam, senyuman Taehyung melebar dan ia langsung menarik tangan Jungkook, membuat Jungkook terperanjak.
Taehyung menariknya hingga ke ruang makan, dan di sana terdapat Jimin yang sedang menyiapkan sarapan. "Oh, kau sudah bangun?" tanya Jimin sembari memberikan isyarat untuk duduk. Jungkook menjawab pertanyaan Jimin dengan anggukan.
"Duduklah," Taehyung melepas genggamannya dan mempersilahkan Jungkook duduk. Senyuman indah masih menghiasi wajahnya.
Melihat senyuman Taehyung, Jungkook seketika teringat tentang pesan yang dikirimkan oleh client-nya. 3 hari. Ia memiliki waktu 3 hari untuk membunuh sang target. Jungkook baru menyadari bahwa sedari tadi ia terdiam dan hanya menatap lekat ke arah Taehyung, dan ia pun salah tingkah saat Taehyung membalas tatapannya.
"Ada apa?" tanya Taehyung sembari mengusap lembut pinggang Jungkook yang tertembak. "Apakah lukamu masih sakit?"
Jungkook dengan cepat menepis tangan Taehyung, membuat targetnya itu terkejut. "Tidak," Melihat wajah Taehyung yang terkejut pun membuat Jungkook merasa bersalah. "Ah.. sepertinya aku masih mengantuk."
Senyuman kembali menghiasai wajah Taehyung setelah sang target mendengar ucapan Jungkook, dan sang pembunuh bayaran pun membalas senyumannya.
3 hari.
.
.
.
Mengingat hidup Taehyung yang terancam—oleh Kim Namjoon dan pembunuh bayaran lain yaitu Min Yoongi— Jungkook dan Jimin memutuskan untuk melarang Taehyung keluar dari apartemen Jimin. Awalnya Taehyung, yang merupakan orang yang suka berinteraksi dengan orang-orang di luar dan tidak suka dengan kekangan, menolak keputusan ini, namun Jungkook berhasil membujuknya. Jimin pun meminta pada Jungkook untuk menjaga Taehyung di apartemennya selama ia pergi kuliah dan bekerja. Jungkook memenuhi permintaan Jimin, karena ia menganggap bahwa ini adalah kesempatannya untuk melindungi sang target agar tidak terbunuh oleh siapapun.
Setelah sarapan pagi, Jimin bergegas pergi ke kampusnya dan meninggalkan Taehyung dan Jungkook berdua di apartemennya.
"Hey, aku bosan," ucap Taehyung pada Jungkook. Sang pembunuh bayaran yang sedari tadi sibuk dengan handphone-nya pun mengalihkan pandangan ke Taehyung yang berbaring di sofa dan menggunakan paha Jungkook sebagai sandaran. Jungkook tidak menjawab, ia hanya terdiam sembari menatap Taehyung, membuat sang target mendongak untuk menatapnya. "Ayo lakukan sesuatu."
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Gulat?" usul Taehyung sembari mengepalkan kedua tangannya di depan dada, membuat gerakan seakan siap untuk bertarung.
"Apa kau ingin bergulat dengan luka seperti ini?" Jungkook menekan kata terakhirnya sembari memegang pinggang Taehyung yang terluka akibat injakan Namjoon.
"Ow, ow," Taehyung sontak menepis tangan Jungkook dan mengusap pinggangnya yang sakit. Jungkook tertawa kecil melihat reaksi Taehyung, membuat Taehyung memanyunkan bibirnya sebal. "Tapi aku ingin belajar melindungi diriku sendiri!"
Jungkook terdiam sejenak, dan kemudian menghela nafas panjang sembari membangunkan Taehyung yang sedari tadi berbaring sembari menyandarkan kepalanya di paha Jungkook. "Aku tidak akan bergulat denganmu. Aku hanya akan mengajarimu cara untuk melindungi dirimu sendiri."
Taehyung pun tersenyum lebar mendengar ucapan Jungkook, dan sang pembunuh bayaran, tanpa sadar, ikut tersenyum.
.
.
.
"Bagaimana? Apa kau sudah mengerti?" tanya Jungkook setelah ia selesai mengajari Taehyung ilmu bela diri.
"Aku masih belum mengerti bagian ini," ucap Taehyung sembari memperagakan gerakan yang Jungkook ajarkan.
"Oh, bagian untuk menampik lawan?"
Jungkook pun berjalan ke arah Taehyung untuk membenarkan posisi Taehyung yang salah. Namun, saat Jungkook akan menyentuh tangan Taehyung, sang target dengan lihai mempraktekkan ilmu bela diri yang baru saja ia pelajari, dan membuat Jungkook ambruk dengan posisi tubuh Taehyung berada di atasnya.
"Bagaimana? Aku sudah ahli, kan?" ucap Taehyung sembari tersenyum licik dan mengangkat satu alisnya.
Jungkook menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. "Dasar kau."
Saat Jungkook akan bangkit dari posisinya, Taehyung menekan kedua tangannya yang berada di dada Jungkook, membuat Jungkook kembali berbaring.
"Ada apa?" tanya Jungkook sembari menatap lekat sang target. Taehyung terdiam, matanya tertuju pada jemarinya yang ia mainkan layaknya bermain piano di dada Jungkook. Melihat Taehyung yang tidak akan menjawabnya, Jungkook pun menggenggam kedua tangan Taehyung. "Hey."
Taehyung kini menatap Jungkook, senyuman menghiasi wajahnya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas tubuh Jungkook, menyandarkan kepalanya pada tangan Jungkook yang sedang menggenggam kedua tangannya.
"Terimakasih, Jungkook."
Mendengar ucapan ini, Jungkook pun terperanjak. Untuk pertama kalinya, sang target memanggilnya dengan nama aslinya.
"Untuk apa?" tanya Jungkook, suaranya terdengar parau.
Taehyung pun bangkit dan tersenyum pada Jungkook. "Untuk semuanya."
Senyuman Taehyung mengingatkan Jungkook pada foto yang diberikan oleh client-nya, membuatnya teringat akan misinya.
3 hari.
.
.
.
"Aku melihat Kim Namjoon di kampus," ucap Jimin, membuat Taehyung dan Jungkook yang sedang menikmati makan malam menghentikan kegiatan mereka dan fokus pada Jimin. "Dia mencarimu, Taehyung."
"K-kau berbicara dengannya?"
Jungkook dapat merasakan ketakutan pada suara Taehyung, dan ia teringat akan pembicaraan pada malam itu, tentang Taehyung yang melarang Jimin untuk berinteraksi dengan Namjoon.
"Ya, dia sempat menanyakan tentangmu padaku. Dia sepertinya menanyakan tentangmu pada seluruh anak kampus," jawab Jimin sembari menggenggam tangan Taehyung dan menatap sahabatnya itu lekat. "Tapi tenang saja, dia tidak tahu siapa aku, dan aku tidak sebodoh itu untuk memberitahunya tentangku."
"Tunggu, Namjoon tidak mengenalmu?" tanya Jungkook sembari menatap Jimin dengan mengernyitkan dahinya, bingung.
"Aku tahu semua tentang Namjoon karena Taehyung menceritakannya padaku. Tapi Namjoon tidak tahu tentangku karena Taehyung tidak menceritakan apapun pada Namjoon. Dan Taehyung melarangku untuk berinteraksi dengan Namjoon jadi aku tidak bisa mengenalkan diriku pada si brengsek itu."
Taehyung yang menyadari nada bicara Jimin meninggi pun langsung menggenggam tangan Jimin, seolah dapat merasakan emosi Jimin dan mengatakan pada sahabatnya itu untuk menahan emosinya. Jungkook, yang juga sadar akan emosi Jimin, mengangguk mendengar jawaban sahabat Taehyung itu. Ia tidak ingin bertanya lebih lanjut karena ia tahu bahwa pertanyaan tentang Namjoon akan memperbesar emosi Jimin.
"Jika bukan karena permintaanmu itu, aku pasti sudah menghajarnya," ucap Jimin sembari menghela nafasnya panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Taehyung tersenyum lembut mendengar ucapan Jimin. "Terimakasih, Jimin," Dan Jimin pun membalas senyuman Taehyung.
.
.
.
Getaran dari handphone-nya kembali membuat Jungkook terbangun. Sebuah pesan dari client-nya.
Waktumu tinggal 2 hari lagi.
Jungkook sontak menoleh ke arah Taehyung yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Ditatapnya lekat sang target yang terlihat damai dalam tidurnya itu. 2 hari. Jungkook memiliki waktu 2 hari untuk membunuh Taehyung. Entah mengapa, bayangan tentang ia membunuh Taehyung membuat dadanya terasa sakit. Jungkook tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, ia juga tidak pernah menunda pekerjaan seperti ini, ia benar-benar bingung apa yang membuatnya begitu susah untuk membunuh Taehyung.
"Jungkook?"
Jungkook terperanjak mendengar namanya keluar dari mulut sang target, ia benar-benar masih belum terbiasa dengan suara Taehyung yang memanggil namanya. Taehyung pun tersenyum melihat Jungkook yang terkejut dan langsung memegangi tangan Jungkook yang ada di kepalanya. Jungkook merasa bodoh, ia baru menyadari bahwa sedari tadi ia mengusap kepala Taehyung.
"Maaf, apa aku membangunkanmu?"
Taehyung menjawab Jungkook dengan gelengan kepala sembari mengusap tangan Jungkook yang masih berada di kepalanya. "Jungkook."
"Ada apa?"
"Aku senang," ucap Taehyung sembari menatap Jungkook dengan senyuman indah menghiasi wajahnya. "Aku senang kau selalu berada di sisiku."
Taehyung memang orang yang penuh dengan kejutan, yang suka mengucapkan hal-hal di luar dugaan, membuat Jungkook bingung harus membalas apa. Sang pembunuh bayaran pun akhirnya memilih untuk membalas ucapan Taehyung dengan senyuman.
"Jungkook," ucap Taehyung lagi sembari memainkan jemarinya di tangan Jungkook.
Terdapat jeda yang cukup lama setelah ini, dan Jungkook pun kembali berbaring di sebelah Taehyung, menatap lekat wajah sang target, menunggunya untuk melanjutkan ucapannya. Taehyung berhenti memainkan jemarinya dan memindahkan tangannya ke wajah Jungkook, memegang kedua sisi pipi Jungkook. Diusapnya lembut pipi sang pembunuh bayaran, dan kemudian ia mendekatkan wajahnya. Jungkook membelalakkan matanya saat ia merasakan bibir Taehyung menempel di bibirnya. Taehyung, sang target, mengecupnya.
"Aku menyukaimu, Jungkook."
Jungkook dapat merasakan tangan Taehyung yang gemetar, dan walaupun Taehyung kini sedang menyembunyikan wajahnya, Jungkook dapat melihat wajah sang target memerah. Entah mengapa, semua ini membuat dada Jungkook terasa sesak, dan ia dapat merasakan jantungnya berdegup kencang. Jungkook pun mengusap tangan Taehyung yang masih berada di pipinya, membuat sang target semakin menyembunyikan wajahnya. Entah apa yang merasuki Jungkook, ia langsung memeluk Taehyung setelah melihat reaksinya.
"Jungkook?"
"Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Aku—"
Ucapan Jungkook terpotong oleh Taehyung yang kini juga memeluknya. Tubuh Taehyung gemetar dan terasa hangat, membuat Jungkook dengan sontak memeluk Taehyung lebih erat.
Jungkook berharap waktu dapat dihentikan sehingga ia dapat terus berdua bersama Taehyung seperti ini, tanpa memikirkan waktu yang terus mengejarnya.
2 hari.
A/N:
AAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH nangos
ayayayy buat yang pada tanya "ini masih ada lanjutannya kan ya?" jawabannya adalah ya, this is chaptered fic. so tenang aja, fic ini bakal masih lanjut kok selama misteri belum terpecahkan wkwk
and oh, ini kayaknya kategori buat chapter 2 lebih ke romance;hurt/comfort yah daripada drama/crime hmmm
ANYWAY aku berharap banget kalian habis baca kasih review gitu buat motivasi eheuheheuh
ya, udah, gitu aja. see you next chapter!
