Yosh! chapter 2 update, gomen lama. Oh ya mulai dari sini POV dipegang author ya.
Happy reading~ ^^
Disclaimer:
Magi © Shinobu Ohtaka
Baby and Me © AkaKuro815
Rate: K+
Character :
Sinbad x Judal x Jafar
Warning:
OOC, AU dan Typo bertebaran menghiasi FF ini dengan indahnya seperti bintang di langit (?).
Don't like don't read.
"Baiklah Judal, mulai hari ini kau akan menghabiskan waktumu di tempat ini. Jangan nakal dan jadilah anak baik. Aku akan menjemputmu nanti." Ucap Sinbad sambil menepuk pelan kepala bocah berambut hitam panjang itu.
"Mohon bantuannya." Ucap Sinbad sambil tersenyum kepada seorang wanita yang merupakan orang yang akan menjadi pembimbing Judal.
"Hai!" ucap wanita cantik berambut seperti warna lautan itu.
"Arigatou." – "Kalau begitu saya permisi dulu. Jaa!" Ucap Sinbad seraya menghampiri mobilnya dan segera pergi.
"Nah Judal-kun, ayo ikut bu guru Yamu ya." ucap wanita tersebut sambil tersenyum ke arah Judal.
RnR
Seperti biasa Sinbad sibuk bergelut dengan laporan-laporan yang tergeletak dengan indah diatas meja kerjanya. Nampak pula asisten setianya Jafar juga tengah sibuk dengan tumpukan kertas yang hampir memblokade dirinya.
"Ne Sin." Panggil Jafar.
"Hum?" jawab Sinbad yang matanya tidak berhenti terlepas dari layar komputernya.
"Tentang Judal ..."
Sinbad yang sedari tadi fokus pada aktivitasnya mulai mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah si pria berambut silver tersebut, "Tenanglah, mulai hari ini ia sudah memulai aktivitas barunya di taman kanak-kanak."
"Sou..ka," – "Semoga saja ia tidak membuat kekacauan." Gumam Jafar.
"Barusan kau mengatakan sesuatu?" tanya Sinbad.
"A-ah, iie."
"Sou."
"Ne Sin," – panggil Jafar lagi. kali ini Sinbad tidak menjawab dan tetap fokus pada pekerjaannya. – "Aku sedikit khawatir Judal melakukan hal buruk disana." Lanjutnya.
Sinbad kembali meninggalkan aktivitasnya dan kembali menatap ke arah Jafar. "Maksudmu?"
"Ya ... kau tahu sendiri kan Judal itu anak yang cukup aneh. Bisa saja dia.. " –
– "Cukup Jafar!" potong Sinbad dengan nada sedikit meninggi.
Mendengar atasannya menggunakan nada seperti itu Jafar pun terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mendesah pelan. "Wakatta Sin, Wakatta. Aku akan diam."
'Tch! Tidak perlu membentak juga kali, Sin.' Batin Jafar sewot dan hampir saja ia merobek beberapa kertas penting yang ia sedang pegang.
RnR
"Ne Judal-kun, asobou." Ajak seorang anak laki-laki berambut biru panjang dikepang dengan wajah imutnya.
Si anak berambut hitam panjang itu hanya melirik sebentar ke anak tersebut, ia tidak terlalu meperdulikan ajakan ramah teman barunya itu.
Merasa diabaikan anak berambut biru itu pun kembali mengajak Judal bermain sambil menarik-narik lengan seragamnya. "Judal-kun, asobou."
Merasa terganggu akhirnya Judal kehabisan kesabarannya dan mendorong tubuh mungil anak berambut biru tersebut hingga jatuh ke lantai. "Shitakunai!" ucapnya sambil menatap sinis ke arah anak tersebut.
"Go.. gomenasai." Ucap anak bersurai biru itu yang masih berada di lantai.
"Hey apa yang kau lakukan pada Aladdin!" teriak salah seorang bocah bersurai emas yang kini tengah berlari menghampiri mereka berdua. Ia kemudian berdiri membelakangi anak bernama Aladdin itu sambil membentangkan tangannya, seperti berkata 'Jangan sakiti dia atau ku pukul kau nanti.'
"Tch! Menyebalkan." Ucap Judal yang kemudian beranjak pergi meninggalkan kedua bocah tersebut.
"Tunggu mau kemana kau?!" teriak anak bersura emas itu sambil menarik rambut Judal yang terikat rapi. "cepat minta maaf pada Aladdin!"
Saat itu juga Judal berdiam diri di tempat dengan wajah tertunduk. "Hanase." Ucapnya pelan.
"Jangan diam saja, cepat minta maaf." Ucap si anak bersurai emas tersebut yang masih belum sadar orang yang sedang ia tarik rambutnya itu siap menerkamnya kapan saja.
"Ne Alibaba-kun sudahlah, aku baik-baik saja." Ucap Aladdin sambil tersenyum.
"Tidak bisa, dia sudah jahat padamu, jadi dia harus minta maaf." Ucap anak bersurai emas itu dengan nada penuh keadilan.
PLAK!
Tanpa diduga dan disangka tangan mungil milik Judal kini mendarat di pipi chubby bocah bernama Alibaba tersebut. Bola mata keemasan milik Alibaba membelalak kaget, begitu pula dengan Aladdin yang menyaksikan. Tangan mungil Alibaba kini meraih pipinya yang memerah dan mulai terasa panas. Kemudian dengan tatapan yang sangat geram ia memandang ke arah Judal.
"Nani?" – "Sou, apa kau mau membalas memukulku?" ucap Judal dengan tatapan mengintimidasinya.
"Kau!" ucap Alibaba seraya mengarahkan kepalan tangannya ke wajah Judal.
BUAGH!
Judal jatuh tersungkur ke lantai. "Kau mengajak berkelahi ya?!" ucap Judal sangat marah.
"Aku tidak takut!" jawab Alibaba dengan beraninya.
Akhirnya pertengkaran dua makhluk chibi itu pun tak terelakkan. Mereka mulai saling memukul, menendang, menggigit dan menjambak satu sama lain.
"Omae yamette yo!" teriak Aladdin sambil berusaha memisahkan mereka berdua.
BUAGH!
Tubuh mungil Aladdin sedikit terpental dan kini jatuh dengan mulus membentur lantai, pingsan. Melihat aladdin seperti itu Alibaba segera menghentikan perkelahiannya dengan mata yang kembali terbelalak.
"Aladdiiiiiiin!" teriaknya.
Sedangkan Judal malah membuang muka tak peduli.
"Bu guru itu mereka yang berkelahi!" ucap seorang gadis mungil bersurai merah dengan satu kunciran di salah satu sisi kepalanya sambil menarik seorang wanita yang di klaim adalah guru mereka.
Wajah wanita tersbut terlihat kaget ketika melihat salah seorang murid tercintanya tergeletak pingsan dan kedua lainnya terlihat sangat kacau dengan beberapa sobekan pada pakaian mereka.
"Coba jelaskan pada ibu apa maksud dari semua ini!" ucapnya dengan nada cukup tinggi.
RnR
" ne, moshi-moshi," ucap Sinbad ketika mengangkat pangggilan masuk pada ponselnya.
"..."
"APA?!" teriak Sinbad cukup keras.
Jafar yang kaget pun segera mengalihkan pandangannya pada Sinbad. "Ada apa Sin?" tanyanya, namun diabaikan.
"Hai, wakarimashitta!" ucap Sinbad masih pada ponselnya seraya memutuskan panggilan tersebut.
Sinbad kini terdiam di meja kerjanya, kedua tangannya memegang kepalanya frustasi. Jafar tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
"Ne Sin, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Jafar khawatir.
"Judal." Hanya nama itu lah yang keluar dari bibir pria bersurai ungu tersebut.
"Judal?" – "Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Sudahlah, aku jelaskan nanti. Aku akan keluar. Tolong selesaikan sisanya." Ucap Sinbad mengabaikan pertanyaan Jafar dan segera keluar ruangannya dengan tergesah-gesah membuat Jafar semakin bertanya-tanya.
RnR
Sinbad membawa masuk Judal ke dalam mobilnya dalam diam, keadaan tersebut terus berlanjut hingga mereka sampai di rumah. Ketika mereka sudah ada di dalam rumah Sinbad mengangkat tubuh mungil Judal dan mendudukkannya diatas sofa, sedangkan dia berlutut dilantai mendepani bocah tersebut.
"Ne Judal, sekarang ceritakan padaku apa alasanmu melakukan hal tidak baik tersebut?" ucap Sinbad dengan sangat hati-hati. Namun Judal malah mengabaikannya dan membuang muka dari Sinbad.
Sinbad mendesah frustasi dengan tingkah bocah di hadapannya itu sambil memijat-mijat keninggnya. "Baiklah jika kau tidak mau bicara, aku tidak akan memaksamu. Tapi aku beri tahu, tidak baik menjahati seseorang, apa lagi jika sampai melukai orang tersebut. Besok kau harus minta maaf pada Aladdin-kun, ne?"
"Shitakunai." Ucap Judal sambil menggembungkan pipinya.
Mendengarnya Sinbad kembali mendesah frustasi. "Aku tidak ingin mendengar ucapan seperti itu. Pokoknya kau harus minta maaf pada Aladdin dan Alibaba besok. Kalau tidak.. " –
– " Kalau tidak apa kau akan membuangku?" potong Judal. – "Lakukan saja kalau begitu."
Sinbad menarik nafas panjang, mencoba untuk lebih sabar menghadapi makhluk di hadapannya itu. "Jangan pernah berkata hal seperti itu lagi. Mana mungkin aku akan melakukannya. Tapi bukan berarti aku akan diam saja jika kau melakukan kesalahan. Lain kali aku akan menghukummu, kali ini kau ku maafkan. Aku hanya tak ingin kau menjadi anak yang nakal Judal."
Anak bersurai hitam itu terdiam.
"Baiklah, yang jelas besok kau harus minta maaf pada kedua temanmu itu, wakatta?" ucap Sinbad kembali. Lagi-lagi ucapannya ditanggapi dalam bisu oleh anak tersebut. "Maa, ku anggap itu sebagai jawaban setuju darimu. Sekarang gantilah pakaianmu."
Anak bersurai hitam itu pun perlahan turun dari atas sofa dan berlari menuju kamarnya. Sedangkan Sinbad kini menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sambil merebahkan kepalanya. Lelah bercampur stres itu lah yang ia rasakan.
Teeeeet~
Saat Sinbad hendak memejamkan mata tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi. Sebenarnya ia sangat enggan untuk beranjak dari posis nyamannya saat ini, tapi apa boleh buat, ia tidak dapat mengabaikan seorang tamu. Dengan langkah gontai Sinbad berjalan ke arah pintu untuk membukakannya.
Teeeeet~
"Hai, hai, chotto matte." Ucapnya.
~TBC~
Yak! Chapter 2 selesai. ^^
Gimana? Membosankan? Saya pikir juga begitu. == /mojok
Yosh! Arigatou buat yang sudah sempet-sempetin baca dan sudah bersedia untuk mereview. *smile*
Penasaran sama siapa tamunya?
kalau begitu review biar saya semangat ngelanjutinnya. XD
