"Congratulation! !"
"Selamat, Mrs. Malfoy!"
Wanita-wanita selain dirinya tersenyum lega dengan sinar kebahagiaan yang hangat. Salah satu dari mereka bertepuk tangan dan sebagian menyeka air mata yang menggenang. Ada juga suara tangis yang begitu nyaring namun ada kesan imut dan manis di dalamnya.
Iris hazel itu memang menunjukkan kelelahan, namun pemiliknya masih menyempatkan diri untuk mengintip dari dua kelopak matanya yang memberat. Sorot matanya tidak sama dengan penyembuh-penyembuh yang membantu proses persalinannya. Proses kelahiran seorang anak ke dunia. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kebahagiaan, kecuali ketidakpedulian yang nyata.
"Anda mau menggendongnya, Mrs. Malfoy?" Salah seorang penyembuh yang menggendong buntalan selimut di lengannya mendekat dengan senyum ramah, "bayi Anda perempuan dan dia sangat manis."
Hermione hanya diam menatap.
BLAM!
Para penyembuh terlonjak kaget. Seseorang baru saja membanting pintu ruang persalinan seolah-olah ia berada di rumahnya sendiri.
"Granger!" Suara dengan nada melengking itu tidak membuat Hermione kaget. Ia sudah terlalu sering mendengarnya di estate. Pansy Parkinson menyerbu masuk dengan senyum bersemangat. "Bagaimana bayinya! ?"
"Miss," tegur seorang penyembuh dengan nada tidak senang, "keluarga pasien belum diizinkan masuk."
Pansy mengabaikannya.
"Parkinson!" Ginerva Potter dengan gusar menghampiri wanita itu, "apa yang sedang kau pikirkan? Masuk seperti orang barbar seperti ini. Ayo, pergi!"
Pansy mengelak. Dengan mudah melewati Ginny dan berdiri di samping penyembuh yang menggendong bayi merah di tangannya.
"Oh my goodness!" Pansy memandangnya takjub, sebelum akhirnya tersadar tujuan awalnya masuk tiba-tiba ke dalam ruangan itu. Iris hazel tidak menatapnya ketika wanita itu melihat ke arahnya.
"Well, Granger," Pansy berkata, senyum lebar saat melihat bayi itu masih terpampang di wajahnya, "Draco tidak bisa datang sekarang, tapi dia bilang akan segera datang kalau urusannya sudah selesai."
Hermione tidak memberikan respon, namun sinar matanya menggelap menjadi sesuatu yang lain. Pansy tidak melihatnya. Saat itu ia sudah berbalik memandangi bayi Malfoy untuk kedua kalinya. Ia berkali-kali mengeluarkan pekikan-pekikan senang yang membuat Ginny menghela nafas kalah. Wanita berambut merah itu kemudian berjalan mendekat, ingin melihat seberapa lucu bayi Hermione. Pastinya tidak lebih lucu dari bayi James-nya.
Ginny tersenyum lembut, tapi ia terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu dan memilih untuk menutup mulutnya. Kemudian, Pansy Parkinson mengatakan sesuatu tentang kopi dan keluar ruangan dengan tergesa-gesa. Ginny masih berdiri di samping ranjang Hermione, melihat prosesi ketika penyembuh dengan hati-hati memindahkan bayi itu ke tangan sang ibu.
Ginerva merasa nostalgia melihatnya. Akan tetapi, senyumnya berubah sedih. Hermione tidak memperlihatkan sedikitpun kebahagiaan. Sikapnya dingin dan acuh. Tidak ada kelembutan yang tersirat di kedua permata hazel itu. Bayi itu sudah berhenti menangis ketika berada di tangan ibunya. Apakah karena tatapan ibunya begitu dingin dan menuntut?
Setelah menatap cukup lama, Nyonya Malfoy tiba-tiba saja menyebutkan namanya. Ginny mendengarnya dengan seksama. Dengan jelas karena ruangan itu tiba-tiba saja terasa kosong dan sunyi. Tiga penyembuh yang membantu kelahiran si bayi mungkin sudah menyadari tentang sang ibu yang tidak memerlihatkan sedikitpun rasa sayang. Setelah itu, Hermione berkata, "Bawa dia."
Penyembuh yang paling dekat mengambil bayi Malfoy dari tangan ibunya dengan senyum kecil yang memberikan kesan iba dan simpati. Penyembuh lainnya tidak berkata apa-apa saat berkemas dan keluar dari ruangan itu.
"Hermione..." Ginny tidak mengalihkan matanya dari arah pintu. Memandangnya seolah-olah di situlah pusat perhatiannya berada. "...dia baru saja lahir. Dia tidak tahu apa-apa. Kenapa kau..." Ia memejamkan matanya dan mengambil nafas dalam-dalam. Iris birunya melirik Hermione yang memalingkan wajah ke arah lain. Ginny tersenyum kecut.
"Aku akan datang lagi. Selamat beristirahat, Hermione."
Namun, Hermione Malfoy tidak beristirahat seperti yang diharapkan. Ia memaksa diri untuk membuka kedua matanya dan menatap langit-langit kamar persalinan itu. Sebentar lagi matron akan datang dan memindahkannya ke kamar lain. Hermione mungkin akan menunggu sampai saat itu tiba.
Ia mendengar suara Pansy Parkinson di balik pintu dan sesuatu yang jatuh. Nada suara Ginny mendadak berubah panik.
Hermione memejamkan kedua matanya. Pansy Parkinson pasti sudah menanyakan nama yang diberikan pada bayi itu. Walaupun demikian, Hermione tetap berterima kasih padanya. Karena, jika bukan karena Pansy Parkinson yang selalu datang ke estate dan bercerita panjang lebar tentang bunga—
"How could you! How could you, Granger! !"
—Hermione mungkin tidak akan menemukan nama yang pantas untuk anak yang baru saja lahir dari rahimnya itu.
Hasil dari sebuah pernikahan politik dan ironi.
Dari pureblood dan muggle-born.
.
.
ATROPA MALFOY
[banquet for the bloody birdcage]
Rozen91
Harry Potter © J. K. Rowling
.
.
1st banquet
silence, hatred, heartlessness
.
.
"Dad! !"
"Aku sedang sibuk. Pergi dari sini."
"Dad!"
"Pergilah."
"Dad?"
Pergilah."
"Dad..."
"Aku tidak bisa meluangkan waktu untukmu. Kau tidak bisa mengerti itu?"
"Dad—"
"Apa yang kau lakukan di sini? Keluar."
"Father."
"Jangan mengganggu," pria itu berkata dingin, "Atropa."
"...Saya mengerti."
Pagi hari di bulan September itu lebih dingin dari biasanya. Anak itu terbangun dari mimpinya. Serta-merta kedua matanya terbuka, mendapati bahwa dirinya tidak berada di masa lalu dan mengulang kembali semua peristiwa tentang ketidakpedulian ayahnya. Seorang darah murni yang dibanggakan yang juga sekaligus dicela setelah kelahiran anak pertamanya.
Oh ya... apa kata ibunya tentang dirinya? Ah, "Hasil dari sebuah pernikahan politik dan ironi," anak perempuan berambut putih itu bergumam sembari menarik-narik pelan poninya. Tatapan matanya datar. Iris kelabu yang tidak akrab dan tampak kasar. Entah pada siapa ia tujukan semua itu.
Sepasang manik terang itu melirik ke ujung ruangan. Koper-koper dengan warna kesukaannya sudah menunggu dan siap untuk ditarik. Kelopak matanya merendah. Warna hitam memang sangat bagus untuk menggambarkan keberadaannya. Seharusnya ibunya juga menambahkan Black Rose di namanya.
Kaki remaja yang baru saja memasuki umur 11 tahun itu menyentuh lantai marmer yang dingin. Sebentar lagi pukul 10. Stasiun King's Cross seharusnya sudah penuh sekarang. Atropa melepas gaun tidurnya, meninggalkannya di lantai dan masuk ke kamar mandi. Kamar mandi di kamarnya terbilang cukup aneh dan ah, keseluruhan kamarnya memang aneh. Satu hal paling nyata dari kamar luas itu bahwa ia sudah membuang semua cermin dan tidak memperbolehkan siapapun untuk meletakkannya lagi di sana. Dia melakukannya saat masih berumur 9 tahun dan mulai mengonsumsi obat penenang dalam dosis rendah.
Atropa mencelupkan kepalanya ke dalam bathtub, memaksa diri untuk tidak mengingat masa-masa itu.
Ayah yang dingin.
Ibu yang juga sama dinginnya.
Kakek dan nenek yang tidak mengakuinya.
Keluarga tambahan yang ribut dan terlalu perhatian.
Atropa menggeretakkan giginya. Apa gunanya memikirkan orang-orang itu. Ia sudah cukup umur untuk masuk ke Hogwarts dan keluar dari manor Malfoy yang menyesakkan ini. Ia juga tidak perlu berkunjung setiap 3 bulan sekali untuk menghabiskan liburan di estate ibunya. Walaupun rasanya sayang karena ia tidak bisa bertemu lagi dengan adik kecilnya, tapi...tidak masalah, 'kan?
Di manor Malfoy yang menyesakkan ini, Scorpius tidak akan pernah kekurangan perhatian dan kasih sayang. Baik dari ayah dan ibu tirinya, maupun dari kakek neneknya. Hanya karena Atropa pergi, bukan berarti Scorpius akan bersedih karenanya.
"Jangan mengganggu, Atropa."
Sepasang iris kelabu itu mengeras dan berubah kosong.
...Sangat menjengkelkan.
o0o
Rambutnya basah dan airnya menetes di lantai. Atropa tidak memedulikannya. Ia baru saja keluar dari kamar mandi saat menyadari ada burung hantu yang hinggap di meja dekat jendela.
"Burung jelek," panggilnya, "bawa kemari suratnya."
Kirkwood, panggilan aneh untuk seekor burung hantu, melebarkan sayapnya dan hinggap di pundak anak itu. Ia tidak patuh karena mengira 'burung jelek' adalah bahasa lain untuk 'Kirkwood'. Tidak. Kirkwood tahu dari nada ucapan yang cuek dan penuh tuntutan itu, 'burung jelek' pasti bukan sesuatu yang enak didengar.
Kirkwood pernah memberontak saat pertama kali mendengarnya. Saat itu ia jauh-jauh terbang dari Bulgaria dan hinggap di salah satu ruang istirahat di manor Malfoy. Kirkwood sudah biasa melakukannya. Masternya sering mengirim surat ke manor itu di jam yang sama. Dan mungkin sudah menjadi kesepakatan antara masternya dan tujuan surat, Atropa Malfoy adalah orang yang selalu menerima suratnya. Anak perempuan itu selalu duduk di kursi berlengan sendirian sambil membaca buku di jam-jam saat Kirkwood datang. Awalnya, Atropa memanggilnya 'Kirkwood', namun tiba-tiba saja frasa 'burung jelek' keluar dari mulutnya.
"Bawa ke sini, burung jelek." Saat itu, tatapan matanya sangat kasar dan menghina. Kirkwood tidak terima. Ia berputar-putar dan menabrak barang seperti kesetanan. Ia tidak tahu siapa yang lebih kerasukan di antara ia dan anak manusia itu. Karena, tiba-tiba saja Atropa menyeringai dan melemparkan buku tebal ke arahnya hingga ia terjatuh dan nyaris mengalami patah sayap.
"Burung jelek," anak itu tertawa, "hewan kecil seperti kau seharusnya diam dan menurut!"
Tatapan anak itu lebih sinting dari apa yang pernah ia lihat pada manusia. Semenjak itu Kirkwood tidak pernah melawannya lagi.
"..."
Atropa mengancing kemeja putihnya dan mengikat pita hitam di kerahnya seraya berjalan ke meja belajarnya. Ia meluruskan bagian belakang rok hitam selututnya sebelum duduk di kursi dan mulai menulis surat balasan untuk aunt Pansy di Bulgaria.
Aunt Pansy tidak bisa datang untuk mengantarnya. Atropa tidak mempermasalahkannya selama kiriman surat tidak berhenti ketika ia sudah menetap di Hogwarts. Iris kelabunya melirik Kirkwood yang mulai menghabiskan sepotong biskuit madu di atas meja—yang memang disediakan untuk burung hantu yang datang ke kamarnya.
Atropa memukulkan tumpukan amplop di atas kepala manggisnya.
"Jangan kekenyangan, bodoh. Kau bisa jadi santapan hewan besar nantinya."
Kirkwood mengepak-ngepakkan sayapnya dan mengeluarkan pekikan protes. Atropa mengacuhkannya dan langsung memasukkan suratnya ke paruh Kirkwood yang terbuka. "Cepat pergi sana."
Kirkwood tidak menunggu dua kali untuk diperintah.
Atropa kembali berjalan ke lemarinya, melihat-lihat potongan-potongan mantel dengan model dan warna yang sama digantung di dalamnya. Entah yang mana akan ia pilih karena semuanya terlihat sama dan tidak ada bedanya baik dalam segi ukuran maupun kualitas. Ia juga tidak lupa memakai stocking hitam tebal dan sepatu bot tinggi yang mencapai bawah lututnya.
Atropa termenung saat memakai sebelah sepatunya yang terakhir. Sudah lama ia tidak melihat kerapian penampilannya—ia selalu memastikan bahwa pakaiannya dan rambut panjangnya tersisir rapi. Lagipula, selama ia masih yakin dengan kerapiannya, ia tidak butuh cermin.
Sama sekali tidak membutuhkannya. Untuk melihat wajah yang sama dengan ayahnya dan mengingat bagaimana kebencian ibunya terhadap wajah anaknya sendiri? Tidak ada gunanya. Bibir merahnya mengulas senyum masam. Ah, Atropa benci kebiasaan ini. Terdiam dan mengingat posisinya sebagai anak pertama yang tidak diakui oleh kakek dan neneknya.
Ia lantas mengambil baret putihnya dan memakainya di kepala. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian hanya karena titik salju di topi baretnya—jika ia memilih warna hitam. Ia sudah cukup hanya dengan kumpulan salju di bahu mantelnya yang berwarna hitam.
Ia berhenti melangkah di depan pintu. Teringat sesuatu. Atropa lantas membalikkan badan seraya memasang sarung tangannya.
"Kamar konyol," ucapnya dengan nada tinggi, "aku tidak yakin akan membutuhkanmu lagi." Setelah itu, anak perempuan itu memutar tumit dan membuka dua daun pintu kamarnya dengan dua tangan. "Goodbye, ugly."
Ayahnya, Astoria (Atropa tidak memanggilnya 'ibu'), dan Scorpius sudah ada di ruang tamu saat Atropa menuruni tangga. Iris kelabunya memandang datar keluarga Malfoy sempurna yang tengah duduk dan bercengkerama dalam kedamaian keluarga. Ayahnya memang bersikap seperti biasa, membaca koran dan sebagainya. Akan tetapi, Atropa bisa melihat bagaimana eskpresi ayahnya melunak dan tenang jika tidak ada Atropa di antara mereka.
"Selamat pagi, Father, Astoria, Scorpius," sapanya singkat dan sopan. Atropa tersenyum masam dalam hati ketika melihat ekspresi ayahnya berubah dingin dan datar.
"Big sis!" Scorpius menerjangnya dengan pelukan. Kepalanya hanya sampai sepantaran dada kakaknya, jadi anak berumur 9 tahun itu mendongak dengan wajah riang. "Aku akan menyusulmu 2 tahun lagi. Aku akan belajar giat dan jadi Prefect! Lalu, kau bisa mengajariku pelajaran atau mantra yang tidak kumengerti."
Atropa tersenyum kecil, menyipitkan kedua matanya agar orang-orang tidak bisa melihat topengnya. "Tentu saja. Saya akan membantumu, adik kecil."
Sopan dan berbicara seperti orang asing.
"Aku akan merindukanmu, big sis!"
Atropa tertawa kecil, "well, bersabarlah sampai 2 tahun lagi, adik kecil. Banyak hal yang masih ingin saya bicarakan denganmu, sayangnya, dear Scorpius, waktu saya tidak banyak."
Untuk itulah aku keluar di waktu-waktu terjepit seperti ini.
"Kalau begitu, aku akan memegang tanganmu sampai di mobil."
Atropa tertegun. Ia menatap adik tirinya sejenak sebelum menundukkan wajah dan mengecup keningnya. "Saya akan senang sekali kalau kau melakukannya."
"Atropa," Astoria Malfoy memanggilnya sambil tersenyum, "Score sangat ingin mengantarmu sampai stasiun."
Atropa tertawa kecil, "Astoria," ayahnya tidak suka jika ia memanggil ibu tirinya dengan namanya. Lalu, Atropa harus memanggilnya apa? Mrs. Malfoy? Sangat aneh. Atropa sudah mengatakannya dari dulu bahwa ia hanya mempunyai satu ibu dan tidak berniat menambah satu lagi. "Mother akan menunggu saya di stasiun. Saya tidak ingin membuat beliau tidak nyaman."
"Begitu, ya," gumam Astoria. Atropa melihat tangan ayahnya memegang lengan ibu tirinya. Dan di saat-saat seperti inilah sesuatu yang terdefiniskan akan berkilat di kedua mata anak itu.
"Kita bisa mengantarnya sampai di depan pintu." Nada dingin sangat familiar di telinganya, namun ayahnya tidak menggunakannya jika berbicara dengan wanita berambut hitam di depannya. Atropa mempertahankan senyum kecil dan lengkungan matanya saat menarik pelan tangan Scorpius bersamanya.
Ayahnya tidak punya satu kata pun untuk dibagi padanya. Dan Atropa akan menyelamatkannya dari kewajiban itu.
Dua orang dewasa itu berhenti di atas tangga teras. Scorpius tak sempat mengantarnya sampai mobil ketika ayahnya memanggil namanya sampai 2 kali. Saat itu Atropa menurunkan kelopak matanya dengan senyum miris di bibirnya. Ia melepaskan tangan Scorpius yang akhirnya dengan bahu kalah berjalan lambat ke arah ayah dan ibunya. Atropa sampai di bawah tangga teras dan ia pun membalikkan badan. Berdiri tegak dengan senyum kecil permanen di bibirnya.
"Father, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga nama baik keluarga Malfoy."
Berbicara tentang ironi—kelahiran anak itu adalah noda hitam di atas kertas putih. Tidak ada yang tidak mengetahuinya, kecuali Scorpius yang masih belum mengerti maknanya.
"Very well," ia tersenyum dengan mata melengkung, "goodbye, Father."
Ayahnya menatapnya dengan dagu terangkat tinggi. Tanpa ekspresi.
"Selamat tinggal, Atropa."
Atropa menjaga senyumnya dan berbalik tajam ke arah mobil. Rambut perak sepinggang itu berkibar di udara. Rambut depannya yang di belah samping itu tidak menutupi apa yang kini terlihat di wajahnya.
Tatapan yang keras dan tajam.
Jangan pikir bahwa
Atropa Malfoy berniat kembali ke Manor atau ke estate ibunya jika kastil Hogwarts bersedia menampungnya sampai tujuh tahun ke depan.
Salam perpisahan itu menyampaikan pesan yang benar-benar jelas.
xxx
Edward Lupin melambaikan tangan saat melihat sepupunya keluar dari mobil mewah khas keluarganya. Atropa hanya meliriknya sekilas sebelum kedua matanya tanpa sengaja menangkap sosok seseorang di kaca mobil. Ia terdiam cukup lama. Sopirnya sudah mengeluarkan dan meletakkan koper dan tas-nya ke lantai, namun Atropa tidak juga beranjak.
Rambut Edward mendadak berubah warna. Kakinya lantas berlari menghampiri anak itu sebelum...
PRAANG!
Sial. Atropa sudah menghancurkan kaca mobil dengan kepalan tangannya.
"Nona muda!"
Atropa menghiraukan sopirnya. Iris kelabu dingin itu hanya melihat sisa dari kaca yang sudah hancur berkeping di dalam mobil.
Mulutnya terbuka. "Tugasmu sudah selesai. Pergi dari sini."
Sopir itu lebih tahu untuk tidak membantah. "Ba-baik!"
Edward menghela nafas seraya memijit pangkal hidungnya. Untunglah ia sudah belajar untuk tidak membuat janji di tempat yang ramai. Mereka bisa menarik perhatian dan terlebih mengingat status Atropa di masyarakat sihir, kejadian seperti ini tidak akan lepas dari pergunjingan.
"Atropa, biar kusembuhkan tanganmu," katanya dengan nada lelah sambil mengeluarkan tongkat sihirnya. Edward tidak berbicara lagi setelah menggumamkan mantra 'Episkey'. Atropa yang berdiri menyamping di depannya itu juga tidak menatapnya. Iris kelabunya datar memandang pintu-pintu toko yang tertutup dan kucing yang menjilati bulu di bangku toko itu.
"Ingat, Atropa. Usiamu masih 11 tahun. Tulang-tulangmu masih dalam masa pertumbuhan. Kalau kau keliru, bisa jadi bukan kaca itu yang hancur, tapi tanganmu ini," nasihat Teddy yang dari nadanya terkesan bahwa ia sudah sering mengucapkannya. Atropa mengabaikannya. Tanpa banyak bicara menarik kembali tangannya dan berjalan ke peron 9¾. Edward hanya menghela nafas dan warna rambutnya berubah coklat. Ia meraih troli koper dan tas Atropa, mendorongnya ke arah sang pemilik yang berdiri diam di depan peron. Menunggunya.
Atropa Malfoy tidak bisa berpergian sendiri tanpa companion. Statusnya cukup tinggi dan persentase pandangan warga sihir padanya sangat berpengaruh terhadap nama baik keluarganya. Nama baik ayah dan ibunya.
"Aku akan masuk duluan, Atropa." Edward mendorong troli masuk ke dalam dinding batu. Atropa tidak menunggu lama untuk segera menyusul masuk. Keputusan yang bagus. Sangat tidak baik jika ia harus berdiri sendirian di stasiun tanpa pendamping biarpun hanya sedetik.
Ujung-ujung rambut Edward menampakkan semburat-semburat biru. Satu tangannya ia taruh di punggung Atropa, menuntunnya agar tidak terpisah dan dicegat oleh beberapa orang yang tertarik dengan anak itu.
"Lihat! Dia datang!"
"Barry! Ambil fotonya sebanyak-banyaknya!"
"Manis dan anggun seperti biasanya."
Atropa memasang senyum sopan di bibirnya sambil terus berjalan dalam tempo Edward yang terbilang cukup cepat. Mereka harus cepat sebelum ada wartawan yang memberanikan diri untuk mempertanyakan keanehan saat itu.
"Pemuda itu...ah, sepupunya, bukan?"
"Edward Lupin, putra dari pahlawan perang dan auror."
"Half were-wolf? Quarter lebih tepat, bukan?"
Terdengar dengusan tawa yang tidak enak didengar. "Anak itu tidak diantar orangtuanya, eh?"
"Tidak ada Malfoy yang terlihat selain dia. Selain itu, Hermione Malf—ah, maksudku Granger juga tidak kelihatan."
"Hari pertama bukankah sangat penting? Menggelikan."
"Ini berita yang menarik. Anak Perdamaian tidak diantar oleh keluarga besarnya, melainkan sepupunya seorang."
"Interesting news, indeed."
Edward berharap agar orang-orang bermulut ember itu diam sebelum Atropa kehilangan kesabaran dan menggila di tengah-tengah orang banyak. Sinar mukanya langsung cerah saat menangkap sosok Harry Potter berjalan ke arah mereka. Edward bersyukur dengan inisiasi pamannya yang melihat mereka dalam kondisi pelik.
Harry tersenyum saat menjabat tangan dan memeluk pemuda Lupin yang berbisik cepat di telinganya. Harry mengangguk. Edward berterima kasih padanya dan buru-buru memotong kumpulan wartawan yang hendak melingkari dua orang itu, melihat kesempatan bagus untuk mewawancarai Harry Potter dan Atropa Malfoy.
Edward, yang mendorong troli koper dan tas sepupunya, hanya bisa menyapa keluarga Potter-Weasley dengan anggukan sebelum masuk ke gerbong dan mencari kompartemennya. Edward tahu bahwa hanya jika diwawancarai bersama Harry Potter-lah Atropa bisa bersandiwara dan berbohong dengan sempurna. Karena, semua senyum, sandiwara, dan kebohongan itu diajarkan oleh Harry Potter sendiri. Berada di samping "mentor"-nya akan membuatnya lebih stabil.
Atropa membuka mulut dengan ekspresi penuh percaya diri. "Pagi ini ada acara keluarga mendadak yang tidak bisa ditunda, ayah sangat sedih karena tidak bisa mengantar sampai stasiun. Padahal beliau sangat ingin menyapa Mr. Potter. dan keluarganya."
'Terus tersenyum.' UncleHarry selalu mengingatkannya.
"Draco sudah mengabariku tentang situasinya. Well, seperti yang kalian lihat, kamilah yang akan mengantarnya."
'Katakan kebohongan yang paling logis, yang tidak menarik kecurigaan dan perhatian.'
"Bagaimana dengan Ms. Granger?"
Sang Malfoy melengkungkan kedua matanya, "Mother tiba-tiba saja mendapat panggilan dari Kementrian Sihir saat kami sedang dalam perjalanan. Saya tidak pernah melihat ibu saya murka, tapi Mr. Potter banyak bercerita dan waktu itu saya untuk pertama kalinya menyaksikannya sendiri."
Kalimat itu memancing tawa orang-orang di sekitarnya. Harry juga ikut tertawa. "Aku tahu ibumu seperti apa. Dia pasti tidak ingin melewatkan hari pertamamu ke Hogwarts. Kuharap mereka memberikan sedikit waktu luang."
"Anda benar. Saya juga berharap agar tidak ada yang terluka di Kantor Kementrian saat ini."
Mereka tertawa lagi.
'Teruslah berakting seolah-olah kalian adalah keluarga broken-home yang bahagia. Atropa, jangan berikan sedikit pun celah pada orang-orang untuk menjatuhkanmu.'
'Aku mengerti, uncle.'
Headline besok pagi pasti akan sangat menarik perhatian. Atropa bahkan bisa mencium bau semangat orang-orang untuk mendengar berita pagi nanti. Tentu saja Atropa tidak terlalu berharap banyak, apalagi melihat Rita Skeeter dengan wajah sinisnya berada di kumpulan wartawan itu.
'Anak Perdamaian', katanya?
Atropa mengulas senyum culas di dalam hati.
'Hasil dari pernikahan politik dan ironi.' Ibunya memang lebih pandai merangkai kata daripada perempuan tua itu.
Ayo, mulai.
Debut sekolah sihir perdana dari half-blood pertama dalam sejarah keturunan keluarga pureblood tertua.
Atropa Fumaria Hortensia Malfoy.
.
.
_bersambung_
Author corner!
Alhamdulillah,, :3 akhirnya chapter ini rampung,,,
Kalian mungkin bertanya-tanya, 'Aneh, nih. Biarpun Atropa bicara bohong, tapi kalau wartawan coba selidiki kebenarannya gimana?' ahahaha, simpel aja,, nanti juga kalian sendiri tahu kenapa,,
Atropa bagi saya adalah karakter yang spesial, karena dia beda dari karakter lainnya. OC heroin saya biasanya karakternya tuh sama. Einen Kleird dan Kira Izumi adalah contoh heroin dengan karakteristik yang nyaris serupa—cold and emotionless. Atropa sedikit berbeda dalam sikap luar maupun dalam. Saya membuat Einen Kleird, Gensira Albatross, dan Kira Izumi sebagai karakter anti-sifat perusak dan karakter yang punya moral dan prinsip. Tapi, dengan Atropa, saya membayangkan karakter ini sebagai wujud dari kemarahan dan iri yang terus bertambah setiap tahun. Oleh karena itu, saya buat karakter ini jadi kasar dan juga punya gangguan mental yang tidak kentara—dengan mempertimbangkan kondisi psikologis anak di masa remaja.
Kata yang tepat untuk Atropa adalah wrath. Kemarahan, kemurkaan, etc. Btw, kayaknya karakter agak mirip sam Jack Vessalius di fic Four Souls. Sebenarnya sudah coba saya berikan perbedaan. Jadi, perbedaannya cuman stabil vs tidak stabil. Jack punya banyak pengalaman, jadi dia lebih bisa mengendalikan diri. Kalau Atropa sih kalau lagi marah langsung ketahuan. Oh, iya, dua-duanya sebenarnya sadistik. hahaha!
Oh iya, makasih atas review-nya: Liuruna, yuuaja, scorpryena, NabilahAnanda, Guest!
Yoshhaaa! untuk readers-sama, silahkan membaca ATROPA-the dissappearance of magic untuk menyiapkan hati terhadap apa yang akan ada di akhir cerita. Gak dibaca juga gak apa sih,, hahahaha,, satu lagi, arti dari nama asli Atropa bisa dilihat di judul,,
Yosh!
Thanks for reading! :3
Best regards,
Rozen91
_Another Laurant in the mist—
