Justice

Crossover :

Naruto X Akame Ga Kill

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Akame Ga Kill © Takahiro dan Tetsuya Tashiro

Justice © Ryuukira Sekai

Genre : Adventure, Fantasy and Humor (Very Garing)

Rating : M

Pairing : Naruto x ...?

Warning : Author Newbie, Typo Bertebaran, Maybe OC, OOC, Semi-Canon, AU, AR dan masih banyak lainnya

Summary :

Keadilan? Apa hal itu ada di dunia busuk ini? Kejahatan meraja lela, yang kuat menindas sedangkan yang lemah di tindas. Apa itu dapat di sebut keadilan? Aku membenci dunia yang seperti itu. Aku telah memutuskan, tak peduli apa yang menghalangiku, aku akan merubah Dunia ini dengan jalanku sendiri. (Bad Summary)


"Remember this, 'Don't Like, Don't Read'!"


...::: STORY START :::...


Chapter 02 : Blood In The Night

"Jelaskan, apa yang kau lakukan disini Menma-kun?" tanya gadis berambut Blonde dengan menatap Menma tajam. Menma meneguk ludahnya.

"Begitu juga kau!" gadis berambut Crimson memandang Pemuda yang belum di sebutkan namanya tajam. Pemuda yang di maksud meneguk ludahnya yang terasa berat. "Kau harus menjelaskan, kemana saja kau dari tadi? Dan tidak boleh ada kebohongan atau kau akan mendapatkan hukuman yang berkali-kali lipat dari sebelumnya..."

Kedua pasang mata gadis itu menatap Pemuda itu. "...Kau mengerti, Naruto-kun?"

Giliran Naruto yang meneguk ludah. 'Bahaya. Aku dalam bahaya' pikir Naruto gugup.

Menma mengangkat tangan dan membuat tiga orang remaja yang ada di sana memandangnya. "Aku kesini hanya untuk melihat-lihat senjata, tapi ada sedikit kecelakaan yang membuatku terkirim ketempat Nii-chan berlatih menggunakan Kunai Teleportation. Jadi Nii-chan menghentikan latihannya dan membawaku pulang" ucap Menma berbohong dengan sangat lancar.

'GOOD JOB, MENMA!' batin Naruto senang.

Kedua perempuan itu berjalan mendekati Naruto. Perempuan berambut Crimson bernama Kyuubi dan yang berambut Blonde adalah Naruko. Mereka berdua menatap Naruto dengan tatapan intimidasi. "Apa benar?" tanya Kyuubi. Naruto menjawabnya dengan anggukan cepat.

"Ne, Menma-kun. Sudah lewat waktu tidur. Kau tidak boleh bergadang, jadi cepat pergi ketempat tidurmu" ucap Naruko seraya memandang Menma dengan senyuman ramah di wajahnya. Entah itu hanya Menma, tapi dia merasa kalau arti dari senyum Naruko adalah hal buruk.

Menma mengangguk ragu lalu berjalan menuju pintu keluar. Dinding ruangan ini terbuat dari Besi begitu juga dengan pintunya. Setelah Menma menghilang dari pandangan, Naruko berjalan menuju Pintu dan menutup lalu menguncinya. Sekarang ruangan ini benar-benar menjadi ruangan yang terisolasi dan entah kenapa Naruto merasakan perasaan bahwa akan terjadi hal buruk padanya.

Naruko berjalan menuju Kyuubi dengan senyum tipis di wajahnya. Kyuubi membalas dengan senyum tipis dan dari pandangan Naruto mereka sedang berkirim kode, perasaan buruk semakin bertambah.

Naruko berdiri di samping Kyuubi dan memandang Naruto. "Sekarang aku mau bertanya sekali lagi, apa benar kau berlatih?" tanya Naruko. Naruto menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Sou~ka~" setelah mengucapkan itu, ekspresi mereka berdua dalam kecepatan cahaya berubah menjadi datar. Belum sempat Naruto bereaksi karena melihat ekspresi mereka yang sangat cepat berubah, masing-masing dari mereka sudah melancarkan tinju pada perut Naruto secara bersamaan.

'DHUAK!'

Naruto tidak dapat menghindar dan tinju mereka juga sangat kuat sehingga dia terpental sampai menabrak dinding besi di belakangnya dengan sangat keras. Naruto terbaring lemas sambil memegangi perutnya yang terasa mau pecah.

"K-kenapa?" tanya Naruto sambil mengerang sakit. "Di tubuhmu terdapat aroma parfum wanita. Masih mau mengelak?" ucap Kyuubi dingin.

Naruto memaksakan dirinya untuk berdiri sambil memegangi perut dengan tangan kiri. "Tunggu sebentar, beri aku waktu untuk menjelaskannya" ucap Naruto memohon.

"Ara? Penjelasannya nanti saja, kami mau menghajarmu dulu" ucap Naruko sambil memukulkan tinju kanannya pada telapak tangan kirinya. Kyuubi juga sudah bersiap-siap untuk memukuli Naruto.

'Gawat, aku akan mati' batin Naruto takut setengah mati. Keringat dingin memenuhi wajah Naruto. Naruko dan Kyuubi menyeringai keji dan berjalan mendekati Naruto. 'Seseorang, tolong buatkan surat warisan untukku' batin Naruto miris.


.

.

.

.

.


—Night Raid—

Di sebuah ruangan luas yang mirip dengan tempat pertemuan. Seluruh anggota Night Raid kecuali Sheele, telah berkumpul mengelilingi meja kayu yang berbentuk persegi panjang. Tujuan mereka berkumpul adalah untuk mengintrogasi, ralat, menanyai Mine mengenai kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.

Mari kita Absen orang-orang yang ada di ruangan ini.

Yang pertama, Mine sang pemegang Teigu tipe jarak jauh dan menengah. Roman Houdai (Roman Artillery) : Pumpkin.

Kedua, Akame si pembunuh yang terkenal dengan kekuatannya yang dapat membunuh korban dengan sekali tebasan. Ichizan Hissatsu (One Cut Killer) : Murasame.

Ketiga, Lubbock, pembunuh yang memiliki Teigu berbentuk kawat kaku dan tidak dapat di potong oleh apapun. Senpen Banka (Infinte Uses) : Cross Tail

Keempat, Leone, perempuan berambut Pirang yang memiliki Teigu berbentuk sabuk yang dapat membuat penggunanya menggunakan mode Binatang sekaligus meningkatkan kelima indra. Hyakujuu Ouka (Animal King Form) : Lionelle.

Kelima, Bulat, pria berubuh besar dan juga pengguna Teigu yang berbentuk Pedang, tapi dapat merubah wujud menjadi Armor dengan pertahan yang sangat Kuat. Akki Tenshin (Demon Armor) : Incursio

Keenam, Najenda, sang pemimpin dari Night Raid. Dulunya dia adalah pemimpin dari Imperial Army, sebelum akhirnya dia sadar apa yang seharusnya di lawan. Dulunya pernah menjadi pemilik Pumpkin, sebelum akhirnya di berikan pada Mine.

Ketujuh, Tatsumi, anggota Baru yang bergabung beberapa hari yang lalu. Dia dan dua temannya berasal dari desa miskin, tapi sekarang hanya tersisa dia sendiri karena salah satu sahabatnya telah pergi selamanya, sedangkan teman perempuannya menghilang tanpa kabar sedikutpun. Tatsumi sendiri tidak tau, apakah dia masih hidup atau sudah tewas. Tatsumi Masih belum memiliki Teigu, tapi potensinya cukup memadai untuk bertarung seimbang dengan pengguna Teigu.

Yang tidak hadir adalah Sheele. Karena dia masih harus banyak beristirahat dan memulihkan kondisi tubuhnya. Sang pemegang Teigu berbentuk gunting raksasa. Banbutsu Ryoudan (Cutter of Creation) : Extase.

Posisi duduk mereka adalah sebagai berikut. Mine berada di antara Akame dan Lubbock, berseberangan dengan mereka adalah Najenda yang berada di antara Tatsumi dan Leone. Sedangkan Bulat bersandar di dinding tepat di belakang Najenda.

"Jadi bisa kau jelaskan sekarang, Mine?" tanya Najenda serius.

Mine mengangguk dan mulai menjelaskan semua hal yang terjadi, mulai dari pertarungan dengan Seryu sampai dirinya di temukan oleh Akame dan Lubbock. Tidak ada satu hal pun yang terlewatkan.

"Biar aku koreksi sedikit. Seseorang misterius yang memiliki kemampuan Teleportasi menyelamatkan kalian berdua. Orang itu juga memiliki kekuatan penyembuhan tingkat atas. Dan satu hal lagi, apa dia terlihat seperti ini ..."

Ucap Najenda sambil melemparkan selebaran ke atas meja. Semua orang yang berada di sana kecuali Najenda memperhatikan selebaran itu.

Pada selebaran yang merupakan poster buronan, terdapat sebuah sketsa kepala seseorang yang menggunakan tudung kepala dan wajahnya di tutupi oleh topeng Rubah. Di bawah sketsa itu terdapat sebuah nama. 'Kitsune', entah itu adalah nama aslinya atau mungkin hanya julukan yang di berikan pemerintah pada orang ini. Tapi di bawah nama itu, juga terdapat tulisan; 'Night Raid'

Di kolom bawahnya terdapat sebuah pernyataan yang berbunyi sebagai berikut. "Kepada siapa saja yang dapat menemukan dan menangkap orang ini lalu menyerahkannya pada kepolisian, maka akan mendapatkan jaminan perlindungan seumur hidup" — tertanda Perdana Mentri Honest.

"Tidak salah lagi, orang ini sangat cocok dengan ciri-ciri yang di sebutkan Mine" ucap Akame berkomentar.

"Jaminan perlindungan seumur hidup? Kerajaan ini sudah benar-benar penuh dengan kebohongan" ucap Leone sinis.

"Jadi orang kerajaan menganggap kalau orang ini merupakan bagian dari kita? Posisi kita malah menjadi rumit" gumam Lubbock.

Tatsumi memandang Najenda. "Boleh aku bertanya? Sebenarnya hal apa yang di lakukan orang ini sehingga dia menjadi buronan?" tanya Tatsumi.

"Kalau aku tidak salah ingat, sering terjadi kasus pencurian harta milik para penjabat dan beberapa saksi mengatakan kalau mereka melihat orang yang bertopeng dan mengenakan jubah di setiap TKP sebelum terjadinya pencurian. Kurasa mereka berpikir kalau orang inilah yang melakukannya" bukan Najenda, tapi Mine yang menjelaskan.

"Tapi menurut informasi dari seorang informan di kota, harta yang di curi di selalu muncul di tempat-tempat yang membutuhkan bantuan dana, seperti panti asuhan dan orang-orang fakir. Menurutku dia orang yang baik" komentar Najenda.

Mereka diam beberapa saat sampai akhirnya Lubbock memecah keheningan. "Oh iya, Najenda-san. Aku baru ingat, kemaren aku mendengar kabar, seorang Algojo gila yang berkeliaran dan membunuh penduduk di kota setiap malam, telah di temukan tewas di depan gerbang Istana kerajaan" ungkap Lubbock.

Mendengar pernyataan Lubbock, semua orang yang mendengarnya terkejut. "Maksudmu, Kubikir Zanku?" tanya Leone. "Siapa lagi Algojo gila yang kerjaannya memenggal kepala di kerajaan ini" ucap Lubbock setengah bercanda.

"Teigunya?" tanya Akame singkat. "Dia di temukan dengan dahi berlubang. Dan Teigunya di nyatakan Hilang" ucap Lubbock.

"Kemungkinan orang yang membunuhnya adalah orang ini, sedangkan Teigu-nya di ambil setelah membunuh Zanku" ucap Najenda memberi pendapat.

"Hal itu mungkin saja. Tapi kalau begitu, artinya kita tidak bisa langsung percaya begitu saja padanya. Kita masih belum tau identitas sebenarnya dari orang ini dan apa niatnya sebenarnya" ucap Mine.

"Mine-san, aku mau menyerahkan sebuah barang" ucap suara di belakang Mine sambil menyodorkan telapak tangannya yang di balut oleh sarung tangan kulit berwarna Hitam kedepan wajah Mine. "Ah, Arigato" ucap Mine tanpa menoleh kebelakang sambil mengambil benda sebesar telapak tangan berbentuk setengah lingkaran dan memperhatikan benda tersebut.

"Ano, Bos. Apa benda ini adalah Teigu?" tanya Mine polos sambil meletakkan benda setengah lingkaran itu di atas meja.

Mereka semua terdiam dengan wajah terkejut, bukan karena melihat benda yang di tunjukkan Mine tapi pada seseorang di belakang Mine.

Akame berdiri dan menodongkan Murasame pada seseorang di belakang Mine. Tatsumi sudah memposisikan pedangnya di depan tubuh. Lubbock juga sudah mempersiapkan Cross Tail miliknya. Leone memasang posisi siaga. Hanya Bulat dan Najenda yang tidak melakukan apa-apa.

Mine mengerjap bingung dengan reaksi mereka semua. Mine mengikuti arah pandangan mereka semua, yaitu kebelakangnya. Mine mengambil Pumpkin yang berada di samping kursinya lalu berdiri dan membidikkannya pada orang yang muncul secara tiba-tiba di belakangnya tadi.

Orang itu adalah orang yang sama dengan orang menyelamatkan dirinya dan Sheele beberapa jam yang lalu. Dengan pakaian yang sama persis seperti beberapa saat yang lalu; sebuah mantel bertudung dan sebuah topeng putih bermotif Rubah.

"K-kau! Bagaimana kau bisa ada di sini?!" tanya Mine sambil mempersiapkan dirinya untuk menarik pelatuk. Orang itu mengangkat kedua tangannya di atas kepala, isyarat menyerah. "Hey hey, aku baru saja hampir mati di bunuh beberapa saat yang lalu, sekarang kalian mau membunuhku juga? Sebenarnya kesalahan apa yang telah aku perbuat di masa lalu sehingga Kami-sama menghukum dengan kesialan seperti ini" gumam orang itu miris.

Mereka yang mendengar itu sama sekali tidak melepaskan kewaspadaan mereka dan tetap pada posisi menodongkan senjata mereka masing-masing. Orang itu dengan perlahan menurunkan tangan kanannya kebelakang tubuh.

Merasa pergerakan yang di buat orang itu agak mencurigakan, Akame bergerak dengan cepat mengikuti instingnya untuk melakukan serangan. Dalam gerakan Slow Motion, bersamaan dengan Akame yang melakukan tebasan, orang itu menarik sebuah Kunai yang di gantungkan di punggungnya lalu melemparnya keudara.

Saat Akame yakin serangannya pasti akan mengenai orang itu, tapi hal yang terjadi di pikirannya sangat berbeda dengan kenyataan, dimana tebasannya hanya mengenai udara kosong. Orang itu menghilang dalam waktu seperkian detik.

Semua orang di landa kebingungan dan mengedarkan pandangan mereka kesegala arah guna mencari orang yang baru saja menghilang. "Jadi benar kemampuannya adalah Teleportasi" ucap Tatsumi sambil tetap mencari kesegala arah.

Leone yang bahkan sudah masuk mode Animal King Form-nya tidak dapat melacak keberadaan orang tersebut. Sama sekali tidak ada bau ataupun hawa keberadaan di sekitar ini yang dapat di jadikan petunjuk untuk menemukan orang tersebut.

"Jadi, Kitsune-san. Apa kau yakin tujuanmu datang kesini hanya untuk menyerahkan Teigu ini pada kami?" tanya Najenda entah pada siapa sambil memperhatikan Teigu yang sekarang ini berada di genggaman tangan buatannya. Semua orang kecuali Bulat memandang bingung pada Najenda yang di anggap mereka berbicara sendiri.

"Seperti yang aku duga dari seorang mantan Jenderal di Imperial Army sepertimu, Najenda-san. Dan untuk pertanyaanmu, jawabannya 'Ya', aku tidak punya urusan lain di sini selain itu" ucap sebuah suara yang terdengar bergema dari berbagai arah.

Mereka yang mendengar itu kembali di buat kebingungan dari mana arah suaranya dan di mana orang yang berbicaranya. Bulat menghela nafas lelah melihat kekurang pekaan anggota Night Raid yang lain.

"Kalian belum sadar juga? Lihatlah ke atas!" ucap Bulat serius saat menatap mereka yang menatap Najenda dengan tatapan bingung.

Tanpa ada bantahan, mereka semua memandang ke atas kecuali Bulat dan Najenda yang sudah dari tadi menyadari keberadaan Kitsune.

Semua yang melihat apa yang ada di atas terperangah kaget dan tidak percaya. Di atas mereka, Kitsune berjongkok dengan tangan kanan yang menggenggam sebuah Kunai yang menancap di samping lampu gantung, anehnya, posisinya terbalik. Kitsune memandang kebawah.

Suasana menjadi senyap untuk beberapa saat karena mereka semua masih berada dalam rasa terkejut. Hingga akhirnya Lubbock berbicara.

"Hey, dia itu hantu atau apa sih? Hawa keberadaannya sama sekali tidak ada" ucap Lubbock entah pada siapa dengan perkataan konyol. "Tidak, terima kasih. Aku masih terlalu muda dan belum punya Istiri untuk jadi Almarhum" balas Kitsune dengan lelucon garing.

Lubbock membeku mendengar balasan Kitsune. Lubbock menundukkan kepalanya sehingga ekspresinya tidak dapat di tebak. "Ne, Najenda-san" panggil Lubbock. Nejenda menoleh pada Lubbock. "Ada apa?" tanyanya bingung.

Lubbock menoleh Najenda dengan gerakan slow motion. "Sepertinya aku telah menemukan rekan melawak yang pas untuk acara besok malam di Tr*ns TV" ucap Lubbock dengan nada dan wajah serius dan mengacungkan jempolnya. Semua orang yang mendengarnya sweetdrop seketika.

Tiba-tiba di layar muncul tulisan. "Saksikan, 'Melawak dengan abang Lombbok', hanya di Tr*ns TV"

'GUBRAK BERJAMAAH GAYA TENTARAAAA, GRAK!'

(Please, lupakan iklan gaje bin aneh tadi -_-')

.

.

.

"Hoy, kau! Jawab pertanyaanku, bagaimana kau bisa ada di sini?!" tanya Mine sambil menargetkan Kitsune dengan Pumpkin. "Kertas segelku yang ada di sakumu, bukan?" ucap Kitsune singkat.

Mine memerika sakunya dan mendapati sebuah gumpalan di dalam sana. Saat Mine mengeluarkannya dan membuka gulungan kertas itu, sebuah kertas persegi panjang dengan simbol serta tulisan rumit terlihat jelas di sana. Mine baru ingat, kertas yang dia temukan setelah orang itu menghilang untuk mengambil Extase dan Pumpkin dari tangan Imperial Army telah dia simpan di sakunya saat dipapah Lubbock ke Markas.

"Kau menyimpannya, jadi aku bisa kesini. Ada pertanyaan lagi?" tanya Kitsune santai. Leone baru saja ingin membuka suara, sayangnya~...

"Aku hanya menebak, jika Leone-san ingin bertanya kenapa kau tidak bisa merasakan hawa dan bau tubuhku. Jawabannya adalah jubah ini, perdiskripsiannya di tunda dulu. aku harus segera pulang, Jaa ne~" Leone terkejut, orang yang di atasnya itu Esper atau peramal? Pikirannya di baca dengan mudah, hebat!

'DOR!'

Sebuah tembakan kejut di lepaskan dari Pumpkin dengan target Kitsune, tapi tembakan itu tidak mengenai Kitsune karena orangnya sudah menghilang. Mine mendecih kesal. Merasa Kitsune sudah pergi, semua orang menurunkan kewaspadaan mereka.

"Tsk, dia kabur lagi. Kemapuan yang sangat menyebalkan" ucap Mine geram. Najenda menghela nafas dan berdiri. "Pertemuan kali ini selesai, aku akan menganalisis kemampuan Teigu ini. Kalian dapat kembali ke kamar kalian masing-masing" ucap Najenda sambil memandang Teigu yang berada di tangan mekaniknya.

Mine menggantung Pumpkin di bahunya dan berbalik. Tapi yang pertama kali dia lihat adalah Topeng Rubah putih yang berada di depan wajahnya. Mine berjengit kaget dan mencoba menjaga jarak. Tapi dia malah tersandung kaki kursi dan terjatuh dengan posisi duduk.

Semua orang yang awalnya sudah ingin kembali ke kamar masing-masing, kini kembali memasang sikap waspada, kecuali Bulat dan Najenda.

"Maaf mengagetkanmu, Mine-san" ucap Kitsune sambil membungkuk dan mengulurkan tangannya pada Mine. "Apa ada yang tertinggal?" tanya Najenda. Setelah Mine mengambil tangan Kitsune, Kitsune menarik tangan Mine membuat Mine berdiri.

Kitsune memandang Najenda lalu melepaskan pegangan tangannya dari Mine dan mengambil sesuatu di balik jubahnya. "Aku punya sebuah buku catatan mengenai kemampuan Teigu itu, jika berada di tanganku tidak akan ada gunanya, jadi kuberikan pada kalian saja" setelah mengatakan itu, Kitsune melemparkan sebuah buku tipis pada Nejanda.

Najenda menangkapnya dengan sebeleh tangan kemudian melihat judul. Di sana tertulis, "Goshi Bannou (Omnipotent Five Sights) : Spectator"

Najenda mengalihkan pandangannya pada Kitsune. "Apa kau yakin?" tanya Najenda. "Aku sama sekali tidak tertarik dengan Teigu. Jadi aku sangat yakin" ucap Kitsune.

"Jadi senjata itu bukan Teigu?" tanya Mine bingung, entah sadar atau tidak, dia sama sekali tidak waspada pada Kitsune yang ada di depannya. "Yang ini? Tentu saja bu—" ucapan Kitsune terpotong saat Kunai di genggamannya bercahaya redup. "Gawat, aku harus segera pergi" gumam Kitsune panik.

"Bisa tunggu sebentar, Kitsune-san?" ucap Najenda, menghentikan niat Kitsune yang ingin segera kabur. Kitsune memandang Najenda. "Aku mendengar dari Mine kalau tujuanmu sama dengan kami. Kalau begitu, apa kau ingin bergabung?" tanya Najenda.

Kitsune menghela nafas lelah. "Pertanyaan yang sama lagi? Apa kalian tidak punya pertanyaan yang lain selain itu?" tanya Kitsune.

Akame berjalan mendekati Kitsune lalu mencabut Murasame dari sarungnya. Akame berhenti berjalan dan menodongkan ujung katananya ke leher Kitsune. "Kalau begitu aku yang akan mengganti pertanyaannya,. Boleh aku membunuhmu?" tanya Akame dengan wajah datar.

Kitsune sweetdrop. "Oy, aku hanya bercanda... Astaga, apa Night Raid tidak punya selera humor?" gumam Kitsune.

"Aku punya!" ucap Lubbock, Tatsumi dan Leone secara bersamaan sambil mengangkat tangan keudara. Kitsune, Mine dan Najenda facepalm. Bulat entah sejak kapan, dia sudah menghilang dari tempat ini. Kembali ke kamarnya mungkin.

"Setelah mengetahui sifat kalian, aku malah berfikir kalau Night Raid bukan kelompok pembunuh, melainkan grup OVJ Next Generation" gumam Kitsune. "Hiraukan saja mereka. Kebodohan mereka sebelas dua belas dengan kebodohan Takahiro dan Tashiro" balas Mine yang sedikit menyinggung penciptanya sendiri.

Perempatan bermunculan di dahi orang yang di maksud Mine. 'Takahiro-sama, kumohon buat karakter Mine jadi sengsara di fict ini, amin' batin Tatsumi, berdoa pada penciptanya.

'Doa kami sama dengan Tatsumi, amin' batin Leone dan Lubbock bersamaan.

'Aku tidak berkuasa di fict ini, jadi terserah Author-nya saja. Aku tidak mau ikut campur, bye~' balas Takahiro yang mendengar doa mereka.

'Dasar pencipta kamvret' balas mereka bertiga bersamaan.

(Sorry, iklan lagi :v)

.

.

.

Najenda berdehem untuk menghentikan kejatuhan reputasi Night Raid di depan calon anggota baru, inginnya sih~.

"Saa, Kitsune-san, bagaimana dengan tawaranku tadi?" tanya Najenda sekali lagi. "Aku akan menjawabnya, tapi ..." Kitsune menjeda kalimatnya dan menoleh pada Akame. "...bisa kah kalian menjauhkan orang ini dulu? Rasanya leherku mau menangis kalau dia terus menodongkan katana-nya pada leherku" ucap Kitsune kembali ngawur.

Akame dari tadi tidak mengubah posisinya sedikitpun. Benar-benar gadis yang datar, kaku, tidak punya perasaan bagaikan robot. "Oh, aku lupa" gumam Najenda saat menyadari posisi Akame.

Najenda menjetikkan jarinya. Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja Bulat sudah ada di belakang Akame. Bulat langsung menggendong tubuh Akame ala karung beras dan membawanya meninggalkan ruangan ini.

Akame tidak bicara sama sekali, dia membiarkan tubuhnya di bawa tanpa protesan. Asalkan tidak di bawa kekamar untuk adegan 'iya-iya' saja. Jika itu terjadi, ingatkan dia untuk menyunat Bulat menggunakan Murasame. ...ah, dia lupa, ...hal itu tidak mungkin terjadi. Bulat'kan Homo dan hanya mencintai Tatsumi.

Sesaat setelah Akame dan Bulat hilang dari pandangan, Najenda menatap Kitsune meminta jawaban. "Aku tidak bisa" jawab Kitsune singkat sambil mengeratkan genggamannya pada gagang Kunainya.

Saat Kunai di tangan Kitsune mulai bercahaya, saat itu juga kawat dari Cross Tail membelit tubuhnya dengan kencang. "Kalau kau tidak bergabung, apa ada jaminan kau tidak akan membocorkan rahasia tentang markas kami pada Imperial Army?" tanya Lubbock.

"Aku tidak memihak kerajaan busuk ini. Apa itu cukup?" tanya Kitsune santai. Lubbock mendecih kesal dan kawat dari Cross Tail yang menjerat tubuh Kitsune kian mengencang. "Akh!" erang Kitsune pelan.

"Oy, Lubbock. Sudah cukup! Kau bisa membunuhnya!" teriak Tatsumi pada Lubbcok. Diam-diam, di balik topeng putih itu, Kitsune tersenyum tipis.

Pegangannya pada gagang Kunai kembali di eratkan dan pada detik berikutnya, Kitsune berhasil lepas dari jeratan Cross Tail tanpa halangan menggunakan Teleportasi dan muncul di belakang Mine.

"Begini saja, aku akan membuat sebuah perjanjian. Aku tidak mau bergabung, dan sebagai gantinya, aku akan membantu beberapa hal untuk kalian. Hanya beberapa hal, dan setelah itu aku tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Night Raid. Bagaimana?" ucap Kitsune langsung sesaat setelah berteleportasi.

Berkat gerakan tiba-tiba Kitsune; Leone, Tatsumi dan Lubbock kembali ke mode siaga mereka. Mine maju beberapa langkah kemudian berbalik dan menargetkan Pumpkin pada Kitsune.

"Bantuan seperti apa maksudmu?" tanya Najenda. "Aku tidak punya banyak waktu, jadi langsung saja" ucap Kitsune lalu menoleh pada Tatsumi. "Kau anggota baru, siapa namamu?" tanya Kitsune.

"Tatsumi" jawab Tatsumi tanpa menurunkan kewaspadaannya. "Kau belum memiliki Teigu, apa aku benar?" tanya Kitsune lagi dan hanya di jawab dengan anggukan pelan.

Kitsune menyeringai di balik topengnya. "Tidak perlu basa basi lagi" Kitsune melemparkan Kunainya kesamping kepala Tatsumi. Leone mulai bergerak, Mine menembakkan peluru kejut dan Lubbock menggunakan Cross Tail untuk menangkap Kitsune sebelum berteleportasi.

Berbeda dengan Tatsumi yang membulatkan matanya saat merasakan logam dingin yang menusuk bahu kirinya. Cross Tail gagal menjerat Kitsune, tembakan Pumpkin tidak mengenai apa-apa, begitu juga Leone yang hanya memukul udara kosong.

Kitsune sudah berada di belakang Tatsumi dan menusukkan Kunainya pada bahu Tatsumi. Kitsune menarik Kunainya kemudian memperhatikan ujung Kunainya di lumuri darah Tatsumi. Tatsumi sendiri jatuh berlutut sambil memegangi bahunya dengan tangan kanannnya.

"Sepertinya ini sudah cukup" setelah mengatakan itu, Kitsune menyimpan Kunai yang berlumuran darah itu ke balik jubahnya.

"Oy Rubah brengsek, aku tidak tau maksudmu menusuk Tatsumi, tapi kau sudah membuat posisi-mu di sini sebagai musuh kami" ucap Leone yang sekarang sudah menggunakan mode Animal Form-nya.

Kitsune menghela nafas pasrah dan melepaskan sarung tangan kanannya. Leone mendecih kesal dan bersiap untuk menerjang Kitsune. "Tunggu dulu, Leone!" ucap atau lebih tepatnya, teriak Mine.

Leone memandang Mine kesal. "Apa maksudmu, apa kau ingin melindungi musuh?" tanya Leone. "Lihatlah yang dia lakukan" ucap Mine sambil menunjuk ke arah Tatsumi.

"Hoo~, jadi ini kekuatan penyembuhan yang di katakan Mine?" mendengar gumaman Najenda, membuat Leone penasaran dan ikut memandang ke arah yang sama.

Kitsune, dengan telapak tangan yang di tempelkan pada bahu Tatsumi, kini berpendar aura kegelapan. Tatsumi mengerang sebentar, tapi selanjutnya, dia tidak lagi merasakan rasa sakit sedikitpun.

Kitsune memasang sarung tangannya. Tatsumi yang bingung karena rasa sakitnya tiba-tiba hilang, meraba-raba bahunya dan tidak menemukan bekas luka tusukan di sana. "Are? Lukaku mana?" gumam Tatsumi.

"Maaf karena aku tidak memberikan peringatan, hanya saja aku harus buru-buru pergi" ucap Kitsune kemudian mengeluarkan Kunai baru di balik jubahnya. "Dan, Najenda-san. Masalah poster buronan itu, aku sendiri yang akan mengklarifikasinya pada Imperial Army. Jadi jangan berharap menggunakan poster itu untuk menarikku bergabung"

Setelah mengatakan itu, Kitsune menghilang.

"Dia membaca pikiranku. Apa mungkin dia memiliki kemampuan yang sama dengan Teigu ini?" gumam Najenda sambil membaca buku pemberian Kitsune mengenai Teigu di tangannya.

"Siapapun dia, aku kurang menyukainya" gumam Lubbock lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan ini.

"Bos, biarkan aku yang melakukan pengintai malam ini. Aku punya firasat kalau dia akan bergerak malam ini" ucap Mine.

"Aku saja, kau harus istirahat. Dan juga, setelah pertarunganmu dengan Imperial Army, aku yakin mereka sudah mengeluarkan poster buronan untukmu. Hanya aku, Lubbock dan Tatsumi yang dapat bergerak bebas di kerajaan ini" ucap Leone.

"Tapi, Leone—"

"Yang di katakan Leone ada benarnya. Kau harus istirahat, biarkan Tatsumi dan Leone yang mengurus sisanya untuk malam ini" ucap Najenda memotong perkataan Mine. Mine mengangguk pasrah. "Baiklah"

"Pertemuan kali ini selesai, kalian dapat kembali ketugas kalian masing-masing"

Leone dan Tatsumu pergi untuk melakukan tugas mereka. Najenda dan Mine kembali keruangan mereka.


.

.

.

.

.


Distrik merah adalah sebuah tempat dimana tidak terdapat kebaikan sedikitpun. Tempat ini adalah tempat pusat dari segala transaksi narkoba, pelacuran, perbudakan, dan lain-lain.

Naruto atau yang sekarang ini berada dalam identitasnya yang lain sebagai Kitsune, kini sedang berlari di atap bangunan. Melompat dari satu atap ke atap yang lain dengan sangat cepat. Setelah puluhan bangunan yang di lompati, Naruto akhirnya berhenti di ujung atap yang menghadap pada sebuah bangunan besar mirip Kastil.

Bangunan itu adalah milik pejabat kurop yang akhir-akhir ini sering sekali menghambur-hamburkan harta negara untuk kepuasan diri sendiri. Di dalam bangunan ini, setidaknya terdapat hampir seratus pelacur dan terus bertambah setiap harinya. Para pelacur sebagian besar adalah gadis dari kota atau desa yang kekurangan uang, ada juga yang di culik.

Bukan hanya masalah pelacuran, di bangunan ini juga merupakan tempat jual beli manusia, atau dapat di katakan sebagai budak.

Naruto memperhatikan sekeliling bangunan itu, disana sekitar 10 orang penjaga berada di sekitar pintu masuk. Naruto mengeluarkan sebuah Kunai dari balik jubahnya dan kembali berlari lurus ke bangunan mirip kastil tadi yang merupakan targetnya.

Seorang penjaga melihatnya dan memberitahukannya pada penjaga yang lain. Kini semua orang itu berbaris dan bersiap di depan gerbang dengan tombak, pedang dan perisai sebagai persenjataan. Naruto terus berlari tanpa ragu sedikitpun.

Naruto melemparkan Kunainya ke atas kepala salah seorang penjaga yang berada di tengah barisan. Para penjaga sama sekali tidak peduli dengan sebuah Kunai yang mereka yakini tidak ada gunanya dan hanya fokus pada Naruto.

Saat jarak mereka tinggal beberapa meter lagi, Naruto tiba-tiba menghilang.

'JDUAK!'

Seorang penjaga tumbang setelah menerima tendangan di belakang kepala oleh Kitsune. Para penjaga tidak punya waktu untuk bingung bagaimana orang yang tadinya berada di depan mereka malah muncul di belakang mereka. Mereka semua secara bersamaan mulai melancarkan serangan pada Naruto.

Naruto mendarat dengan masing-masing tangannya memegang sebuah Kunai. Naruto berbalik dan menangkis sebuah serangan pedang dengan salah satu Kunai di tangan kanannya. Sedangkan Kunai di tangan kirinya dia lemparkan ke dada penjaga di depannya.

Kunai yang di lempar Naruto menancap tepat di jantung penjaga itu. Naruto mendorong Kunai di tangan kanannya dan memberikan tendangan telak di kepala Penjaga yang menyerangnya tadi sehingga penjaga itu pingsan.

Para penjaga yang kini tinggal 7 orang mulai mundur perlahan-lahan, menjaga jarak sejauh mungkin dari Naruto. Salah satu dari mereka memperlihatkan wajah terkejut. "K-Kitsune"

"Maksudmu Kitsune yang ada di poster buronan itu?"

"Ini gawat, seseorang segera panggil bala bantuan. Sedangkan yang lainnya coba'lah menahan orang ini!" intruksi seorang penjaga yang sepertinya adalah pemimpin dari regu penjaga ini.

Salah seorang penjaga berbalik dan berlari secepat yang ia bisa menuju Ibu Kota untuk meminta bantuan pada Imperial Army.

Enam orang yang tersisa kembali bersiaga penuh. Naruto berjalan pelan menuju mayat yang terdapat Kunai di dadanya. Naruto mencabut Kunai itu dan memegangnya secara terbalik.

"Aku tidak tau kalian ini berani atau bodoh. Kalian berniat menghadapiku, bukannya lari. Harus aku akui keberanian kalian, tapi hidup kalian cukup sampai disini" ucap Naruto dengan mengangkat kepalanya memandang para penjaga yang tersisa.

Para penjaga menegang seakan tidak dapat bergerak saat mereka melihat cahaya ungu gelap dari lubang pada bagian mata topeng Rubah yang di gunakan Naruto. "Jangan gentar! Kalau kita bekerjasama, kita pasti dapat mengalahkannya!" teriak pemimpin dari para penjaga dengan sangat lantang.

Mereka semua mengeratkan pegangan mereka pada senjata mereka masing-masing, walau hasilnya tangan mereka gemetaran. "Sudahku bilang, hidup kalian cukup sampai di sini" setelah mengatakan itu, Naruto berlari menuju kumpulan para penjaga itu.

"AAARRRGGGG!"


.

.

.

.

.


Naruto berjalan melewati lorong mewah yang di penuhi dengan barang-barang bernilai tinggi. Di belakang Naruto terdapat puluhan penjaga yang tewas dengan kondisi yang sangat tragis.

Semakin Naruto masuk lebih dalam, semakin banyak penjaga yang menghadangnya. Tapi semua itu selalu memiliki akhir yang sama. Tidak lebih dari 5 menit, semuanya sudah terkapar dengan nyawa yang sudah meninggalkan raga.

Sampai akhirnya Naruto berdiri di depan pintu besar. Dua orang penjaga yang menjaga pintu ini sudah tewas beberapa detik yang lalu dan sekarang ini tergantung di gantungan lampu yang berada di dinding.

Naruto mendorong pintu besar itu dan masuk kedalam tanpa suara.

"Oh, Gilbert! Apa kau sudah mendapatkan gadis yang aku inginkan?"

Baru saja melewati pintu, Naruto sudah mendengar suara lantang targetnya. Mungkin targetnya berpikir kalau dia adalah orang dari tempat ini.

Ruangan yang Naruto masuki ini adalah sebuah ruangan luas yang mirip seperti aula, padahal nyata tempat ini adalah kamar tidur.

Tidak ada banyak cahaya di ruangan ini, kecuali di ujung ruangan yang terdapat sebuah ranjang ukuran King Size. Di sana terdapat seorang laki-laki tua yang berumur sekitar 50 tahun sedang menikmati menyodokkan kemaluan menjijikkannya pada lubang seorang gadis belia cantik berambut Hitam lurus.

Gadis itu telanjang bulat dengan posisi menungging sehingga laki-laki bejat ini dapat menikmati tubuh bawahnya. Sama sekali tidak ada erangan nikmat dari pihak sang gadis yang baru saja kehilangan keperawanannya beberapa saat yang lalu, yang ada hanyalah air mata yang terus keluar dari kelopak matanya serta isakan yang terus menurus terdengar.

Kakek bejat berambut putih yang hanya mengenakan sebuah mantel bulu putih itu terus menyodokkan kejantanannya yang entah sudah berapa kali ejakulasi di lubang sang gadis. Orang ini bernama Orisaka Taggart, pejabat tua yang merupakan salah satu sahabat perdana mentri Honest.

"Oy, Gilbert! Cepat bawa gadis itu ke sini! Dan aku akan membiarkanmu mencicipi lubang gadis koleksiku nanti" teriak kakek tua itu tidak sabar.

Saat kakek itu hampir mencapai klimaks-nya yang entah keberapa, seseorang memegang pundak mantel sang kakek dari belakang, sedikit mengagetkan kakek tua itu sehingga klimaksnya tertunda. Kakek itu mendecih dan menoleh kebelakang.

"Berani sekali kau menggangguku, keluargamu akan sangat menderi—" sumpah serapah yang ingin di keluarkan Taggart harus di telan bulat-bulat saat sebuah Kunai berdarah di todongkan di depan matanya.

"Sayang sekali, Taggart-san, tapi dalam kondisi ini, akulah yang akan membuatmu menderita sampai kau lebih memilih neraka daripada siksaan dariku" ucap sang pelaku alias Naruto dengan nada dingin dan aura intimidasi yang kuat.

"Kuberi kau waktu 5 detik untuk menyelamatkan diri, atau aku akan membunuhmu" ucap Naruto sambil menurunkan Kunainya ke samping tubuh.

Taggart yang sudah benar-benar ketakutan setengah mati, langsung merangkak turun dari ranjang lalu berlari tunggang langgang menuju pintu keluar yang berjarak sekitar 15 meter.

Naruto mengambil selimut yang berada di samping ranjang lalu membungkuk menyelimuti tubuh polos penuh keringat dan cairan putih menjijikkan milik orang bejat yang menculiknya. "2,,,,,,,,1,,,,,," gumam Naruto pelan.

Naruto berdiri dan memandang ke arah pintu. Naruto melemparkan sebuah Kunai. Tinggal sebentar lagi Taggart berhasil mencapai pintu, tapi saat sebuah Kunai menancap tepat di gagang pintu itu, Taggart benar-benar sudah kehilangan harapan untuk hidup.

Naruto muncul di depan Taggart sedangkan si kakek tua terduduk dengan keringat dingin yang terus mengalir di seluruh tubuhnya.

Naruto melepaskan topengnya rubahnya, memperlihatkan ekspresi dingin. "Time Off. nyawa-mu sudah berakhir, babi menyedihkan" ucap Naruto datar. Pria lansia yang sebentar lagi bertemu kubur itu bersujud di depan Naruto meminta pengampunan.

"Ampuni aku, aku akan berikan semua yang kau mau, jadi biarkan aku hidup. Kumohon. Kumohon" ucap kakek itu terus menerus dengan nada memprihatinkan.

"Dimana kau menyimpan semua hartamu?" tanya Naruto datar. "Eh?" beo Taggart sambil mengadahkan kepalanya memandang wajah Naruto. Naruto dengan gerakan cepat, mencabut Kunai yang menancap di gagang pintu dan menodongkan dengan jarak kurang dari 5 cm dari mata Taggart.

Naruto berjongkok. "Tunjukan padaku. Dimana kau menyimpan semua hartamu atau kau mati sekarang" ucap Naruto. "Baiklah, akan aku lakukan!" balas Taggart cepat.

Naruto berdiri dan menyimpan Kunainya di balik jubahnya. "Ingatlah, jika kau berani menipuku. Detik itu juga nyawamu akan melayang" ucap Naruto datar.

"Ha'i, aku mengerti!" ucap Taggart cepat bercampur gugup. "Sekarang cepat tunjukan!" perintah Naruto tegas.

Taggart tanpa menunggu lagi, berbalik dan berlari secepat yang dia bisa menuju sebuah lorong yang ada di sisi barat ruangan ini. Naruto mengikuti Taggart dengan santai.

Tidak berselang lama, Naruto dan Taggart berhenti di depan sebuah pintu besi berukuran sedang. Pintu besi ini adalah jenis brankas yang menggunakan sandi keamanan. "Cepat buka" perintah Naruto.

Taggart pada sebuah keyboard kecil yang ada di samping pintu. Pintu terbuka dengan sendirinya menandakan kalau Taggart sudah selesai memasukkan sandinya. Naruto masuk kedalam brankas.

Tanpa Naruto sadari, Taggart menyeringai. Naruto akhirnya menyadari sesuatu yang aneh dengan ruangan ini. Mata Ruby Naruto berubah menjadi Ungu gelap dengan simbol Pentagram.

Puluhan panah melesat dari segala arah di ruangan kecil ini. Sebelum menyentuh Naruto, panah-panah itu melebur menjadi pasir saat menyentuh sebuah dinding tipis kasat mata.

Setelah beberapa detik di hujani panah, akhirnya serangan itu berhenti berdatangan. Naruto berbalik dan menemukan Taggart yang berdiri dengan wajah ketakutan di depan pintu. Naruto berjalan pelan menuju Taggart.

Taggart yang sudah sangat ketakutan, langsung berbalik dan berlari menjauh. Naruto menatap Taggart yang semakin menjauh dengan datar. Sebuah Kunai di ambil dan di lempar pada Taggart.

'JRRAASSHH!'

Kunai itu menancap pergelangan kaki Taggart sehingga si pemilik tubuh terjerembab. Taggart mencoba kabur meski dengan merangkak perlahan-lahan.

Naruto yang sudah berada di belakang Taggart, tanpa berkata apa-apa, menginjak gagang Kunai yang ada di pergelangan kaki Taggart sampai menghancurkan tulang yang menghalangi jalannya dan menembus di sisi yang lainnya.

"ARRRGGG!"

Taggart meraung kesakitan. Naruto berjongkok di depan Taggart dan mencengkram kuat leher Taggart. "Seperti yang aku katakan sebelumnya, kau berani menipuku, maka nyawamu berakhir sekarang" ucap Naruto. Dari bola mata kiri Naruto muncul kobaran api berwarna gelap. Mata Taggart mulai mengosong bersamaan dengan nyawanya yang meninggalkan raga.

Naruto berdiri dan menutup matanya. Saat Naruto membuka matanya, bola mata itu sudah kembali normal seperti semula; bola mata Ruby yang indah.

Naruto memasuki brankas tua bangka yang baru saja di bunuhnya. Di dalam sana, terdapat beberapa tumpukan uang yang di susun rapi berbentuk persegi dan satu tumpukan besar benda-benda yang terbuat dari emas. Naruto mengambil beberapa Kunai di balik jubahnya dan menancapkannya pada masing-masing satu tumpukan uang.

Semua tumpukan uang itu menghilang entah kemana. Pandangan Naruto tertuju pada tumpukan emas di depannya. Naruto mengambil empat Kunai lagi dari balik jubahnya. Naruto melemparkan Kunainya satu persatu pada lantai. Saat semua Kunai sudah menancap pada posisi masing-masing, setiap Kunai bercahaya gelap dan garis-garis hitam mengisi lantai di bawah tumpukan emas tersebut.

Semua garis sudah terhubung membentuk persegi dengan simbol rumit. Garis-garis itu bercahaya terang dan ...,,,,,semua harta itu lenyap dari ruangan ini.

Naruto berbalik dan menghampiri mayat Taggart lalu melakukan sesuatu pada mayat si tua bangka.


.

.

.

.

.


Naruto berjalan santai menuju ranjang King Size dengan sebuah Kimono berwarna Pink sederhana yang entah dia dapat darimana. Naruto duduk di samping ranjang sambil memperhatikan wajah damai sang gadis atau lebih tepatnya, wanita yang baru saja mendapatkan pengalaman mengerikan untuk seusianya.

Naruto menggoyang-goyangkan bahu gadis itu dengan pelan. Mata gadis itu terbuka perlahan-lahan memperlihatkan iris mata yang senada dengan rambutnya.

Saat arah pandangan gadis itu bertemu dengan iris Ruby Naruto, ekspresi ketakutan terlihat dengan jelas di wajahnya. Gadis itu merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk lalu mencoba menjauh dari Naruto.

Naruto berdiri. "Tenanglah, aku tidak ada niat untuk menyakitimu. Aku di sini untuk menyelamatkanmu dan yang lainnya" ucap Naruto mencoba untuk menenangkan gadis yang sepertinya mengalami trauma karena kejadian beberapa saat yang lalu.

"Etto~, tenanglah, aku benar-benar bukan orang jahat. Etto~, kau bisa memanggilku Kitsune. Namamu?" tanya Naruto kikuk, dia sama sekali tidak mempunyai pengalaman untuk menenangkan seseorang yang mengalami trauma.

Tubuh gadis itu masih bergetar, tapi dia tetap menjawabnya dengan pelan. "Haku" ucapnya sangat pelan bahkan tidak dapat di dengar oleh Naruto.

"Eh? Kau bilang sesuatu?" tanya Naruto. Perempuan itu mengeratkan genggamannya pada selimut yang membungkus tubuh polosnya. "Namaku Haku" ucapnya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

"Haku? Nama yang bagus" ucap Naruto spontan. Wajah gadis itu sedikit memerah. "T-terima kasih" ucapnya.

"Ano, Haku-san. Apa kau tau dimana yang lainnya? Aku harus mengeluarkan kalian sesegera mungkin, sebelum Imperial Army menyerbu tempat ini" tanya Naruto.

Haku mengangguk pelan dan merangkak perlahan menuju Naruto. "Aku bisa menunjukkan tempatnya" ucap Haku sambil berdiri di depan Naruto.

Naruto tersenyum tipis. "Terima kasih, Haku-san. Tapi sebelum itu, gunakan ini" ucap Naruto sambil menyerahkan Kimono berwarna Pink di tangannya pada Haku. Haku memandang Kimono yang di sodorkan padanya dengan pandangan bingung.

"Kau tidak akan dapat bergerak bebas jika menggunakan selimut untuk menutupi tubuhmu, karena itu gunakanlah ini" jelas Naruto.

Haku mengambil Kimono itu dengan wajah sedikit memerah. Naruto berbalik memunggungi Haku. "Jangan khawatir, aku tidak akan mengintip" ucap Naruto.

Beberapa menit berlalu. "Kitsune-san, aku sudah selesai" sebuah suara lembut menyapa indra pendengaran Naruto. Naruto berbalik menghadap Haku.

Naruto memperhatikan Haku sebentar lalu tersenyum simpul. "Terlihat cocok" ucap Naruto jujur. "T-terima kasih" ucap Haku malu-malu dengan wajah sedikit memerah.

"Bisa kita pergi sekarang?" tanya Naruto setelah keheningan sesaat. Haku mengangguk dan berlari menuju pintu keluar. Naruto dapat melihat sesuatu yang janggal dari cara Haku berlari. Ah iya, kenapa dia bisa lupa, Haku baru saja di perkosa secara kasar beberapa saat yang lalu.

"Tunggu dulu, Haku-san!" teriak Naruto. Haku berhenti berlari dan menoleh kebelakang. Naruto mengenakan topengnya lalu menyusul Haku. Naruto berjongkok di depan Haku. Haku memandang Naruto bingung.

"Naiklah. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk berlari dengan kondisimu yang sekarang" jelas Naruto. Haku dengan ragu naik ke gendongan Naruto dan melingkarkan tangannya di leher Naruto.

"Maaf merepotkanmu, Kitsune-san" ucap Haku tidak enak hati merepotkan orang yang menyelamatkannya. Naruto berdiri dan berjalan keluar pintu. "Tidak perlu khawatir. Jadi ke arah mana?" tanya Naruto saat mereka sudah ada di luar ruangan tadi.

"Kekiri" ucap Haku. Naruto mengangguk dan berjalan menuju jalan yang di tunjukkan Haku. Naruto tiba-tiba saja berhenti berjalan saat indra pendengarannya menangkap suara langkah kaki yang cukup banyak sedang menuju ke arahnya.

"Sial, mereka sudah ada di sini. Haku-san, katakan jalan mana yang harus aku ambil?" tanya Naruto. "Jalan saja terus kedepan, saat ada persimpangan belok kanan dan disana akan ada pintu berwarna merah. Di sanalah mereka di tahan" ucap Haku.

"Baiklah, pegangan yang kuat" ucap Naruto sambil tersenyum semangat. "Eh?" Haku mengerjap bingung dengan perintah cepat Naruto. Naruto mengambil ancang-ancang dan melesat kedepan dengan kecepatan tinggi.

Haku hampir saja terjatuh karena terkejut. Karena tidak ingin terjatuh, Haku mengeratkan pelukannya pada leher Naruto.

Naruto berhenti berlari tepat di depan pintu merah yang di maksud Haku.

"Mereka di sana!"

"Kepung mereka, jangan biarkan mereka lolos!"

Naruto tanpa pikir panjang menendang pintu di depannya sampai terlepas dari engselnya. Naruto yang ingin berlari lurus, harus berhenti mendadak karena tidak ingin jatuh. Di balik pintu itu, terdapat ruangan berbentuk silinder dengan tangga kayu menurun dengan susunan melingkar.

"Ano, Kitsune-san..."

"Pegangan yang kuat, aku akan mengambil jalan pintas" ucap Naruto. Haku yang tidak ingin terjatuh semakin mengeratkan pelukannya sekuat yang ia bisa.

Naruto melompat ketengah ruangan dan meluncur kebawah. Haku memejamkan matanya takut. Naruto mendarat di permukaan dengan badan yang sedikit membungkuk. Lantai ruangan bawah tanah tempat Naruto mendarat hancur dengan retakan berukuran sedang akibat tekanan saat jatuh.

Dua orang penjaga yang menjaga ruangan ini berlari menghampiri Naruto dengan pedang dan tameng di masing-masing tangan mereka. Naruto memberi isyarat agar Haku turun dari gendongannya.

Setelah Haku turun, Naruto langsung melesat menuju dua penjaga itu dengan berbekal sebilah Kunai di tangan kanannya yang di pegang terbalik.

Naruto tanpa mengurangi kecepatannya melakukan sabetan pada leher salah satu penjaga yang ada di sisi kanannya. Leher itu terpotong dan kepala penjaga itu jatuh kelantai.

Naruto mengerem mendadak seraya berbalik lalu melempar Kunainya pada kepala penjaga satunya. Penjaga itu melindungi dirinya dengan tameng sehingga Kunai Naruto menancap di sana. Saat dia berpikir kalau dia sudah selamat, sebuah tendangan menyamping mengenai belakang kepalanya dan membuatnya pingsan.

"Haku-san, ayo kita pergi" ucap Naruto. Haku berlari menghampiri Naruto. "Oh ya, apa kau sudah tidak apa-apa?" tanya Naruto memastikan keadaan Haku.

"Sudah agak mendingan, aku rasa aku sudah bisa berlari. Aku tidak mau merepotkan, Kitsune-san" ucap Haku. Naruto tersenyum dari balik topengnya. "Begitu, baiklah. Tolong pimpin jalannya, Haku-san" ucap Naruto.

Haku mengangguk. "Ikuti aku, Kitsune-san" Haku mulai berlari menyusuri lorong gelap yang hanya di terangi beberapa obor.

Naruto dan Haku sampai di depan sebuah penjara besar yang di dalamnya terdapat puluhan perempuan dari berbagai umur dengan pakaian yang tidak layak pakai. "Nee-san!" teriak Haku saat berdiri di sisi penjara.

Seorang perempuan yang mirip seperti Haku, hanya saja terlihat lebih dewasa sedang duduk di sisi penjara menoleh ke arah Haku. "Haku, kau tidak apa-apa?" tanya perempuan itu. "Aku tidak apa-apa, Nee-san. Bagaimana dengan Kaa-san?" tanya Haku balik.

Perempuan itu tiba-tiba menunduk sedih, menimbulkan perasaan buruk di hati Haku. "Nee-san?" gumam Haku. "Para penjaga membawanya dan melakukan hal 'itu' pada Kaa-san hingga Kaa-san tewas" ucap perempuan itu sedih.

Mata Haku melebar dan lututnya seperti kehilangan kekuatan untuk menumpu berat tubuhnya sehingga dia terduduk bersimpuh. "T-tidak mungkin, itu bohongkan, Nee-san? Kau hanya bercanda kan?" tanya Haku tidak percaya.

"Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungi Kaa-san. Aku anak yang tidak berguna, hiks" perempuan itu mulai menangis. Begitu juga dengan Haku yang pelupuk matanya mulai di genangi air mata.

"Maaf, bisa kau minggir sebentar" ucap Naruto yang ada di samping Haku dengan Kunai di tangannya. Perempuan yang merupakan kakak Haku terkejut dan memundurkan tubuhnya kebelakang menjauhi Naruto.

Naruto tanpa berkata apa-apa, memotong jeruji besi yang ada di depannya dengan tebasan cepat. Perempuan yang ada di dalam penjara mulai ketakutan dan menjaga jarak sejauh mungkin dari Naruto.

Haku mengusap air matanya dan berdiri lalu melangkah masuk dari jalan yang di buat Naruto. "Minna tenanglah. Orang ini, Kitsune-san, berusaha menyelamatkan kita semua" ucap Haku berusaha menenangkan semua orang di penjara ini.

Naruto ingin mengeluarkan Kunai lagi untuk meneleportasikan para tahanan, tapi dia tidak menemukan Kunai lagi di balik jubahnya, senjata yang tersisa hanya satu yaitu yang ada di tangannya sekarang ini.

"Haku-san, kita harus cepat, para penjaga akan kesini sebentar lagi. Bisa kau suruh semuanya berpegangan tangan, aku akan mengeluarkan kalian semua sekaligus" ucap Naruto.

Haku mengangguk paham. "Minna, kita akan segera keluar dari sini! Jadi aku ingin kalian saling berpegangan tangan!" ucap Haku lantang.

Mendengar kata 'keluar dari sini', semua orang berdiri dan saling menautkan tangan mereka satu sama lain. "Kau juga, Haku-san" ucap Naruto karena Haku hanya memberikan intruksi dan tidak melakukan hal yang sama.

Haku mengikuti perintah Naruto dan berpegangan tangan dengan kakaknya. "Apa ada di antara kalian yang bisa bertarung?" tanya Naruto. Tidak ada yang menjawab.

"Aku bisa, hanya jika menggunakan Katana" kakak Haku yang membuka suara. "Baguslah" Naruto mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Sesuatu yang di ambilnya adalah selembar kertas bergambar dua Katana yang bersilangan.

Naruto melempar kertas itu ke udara, lalu menusuknya dengan Kunai. Kunai dan kertas itu bercahaya bersamaan sebelum akhirnya menghilang dan memperlihatkan dua buah Katana biasa yang beserta sarungnya.

Naruto menyerahkan salah satu Katana itu pada kakak Haku sedangkan dia menyimpan yang satunya. Kakak Haku menggantungkan Katana pemberian Naruto di pinggangnya. "Aku akan mengirim kalian kehutan yang ada di balik pegunungan bagian timur kerajaan. Di sana, kalian carilah sebuah gua untuk berlindung sementara. Aku akan segera menyusul dan mengantar kalian ke desa terdekat setelah urusanku di sini selesai" jelas Naruto.

Naruto menyodorkan Kunainya pada Haku dan di langsung di terima. Naruto memandang Haku dan kakaknya bergantian. "Mohon bantuannya, Haku-san. Dan ...etto~"

"Mikoto. Namaku Mikoto" ucap kakak Haku.

Naruto tersenyum dari balik topengnya. "Tolong lindungi mereka semua untuk sementara, Mikoto-san" ucap Naruto. Mikoto mengangguk dengan wajah serius.

"Baiklah, aku akan mengirim kalian sekarang. Jangan sampai pegangan tangan kalian terlepas jika kalian belum sampai di sana" ucap Naruto. Mereka semua mengangguk patuh dan mengeratkan genggaman mereka satu sama lain.

Kunai di tangan Haku bercahaya terang dan dalam sekejap mereka menghilang. "Tinggal mengklarifikasikan masalah poster buronan itu lalu mengantarkan mereka kedesa itu, lalu aku bisa pulang dan tidur sepuasku" gumam Naruto.

Naruto berbalik dan mencabut Katana dari sarungnya. Setelah beberapa langkah Naruto berjalan, terdengar langkah belasan langkah kaki yang bersahutan mengisi sepanjang lorong gelap ini.

"Mari kita akhirnya secepatnya" gumam Naruto sebelum melesat kesumber suara.

'JRRASSHH' 'SRIINGG' "ARRGGHHH"

Melodi kematian yang terdengar merdu memenuhi seluruh ruangan bawah tanah.


.

.

.

.

.


Naruto berjalan dengan santai sambil menenteng Katana yang berlumuran darah di tangan kanannya. Hal yang pertama Naruto lihat saat membuka pintu masuk utama adalah puluhan pasukan Imperial Army yang mengepungnya.

"Imperial Army, aku punya sebuah hadiah untuk perdana menteri Honest-teme!" Naruto mengambil sebuah bungkusan sebesar bola sepak dari balik jubahnya lalu melemparkannya kepada Imperial Army di depannya.

Seseorang menangkapnya dan membuka bungkusan itu. Ekspresi bingung langsung berubah menjadi ekspresi ketakutan dan mual saat melihat yang ada di dalamnya. Orang itu melepaskan bungkusan itu sehingga bungkusan tersebut jatuh ketanah dan isinya menggelinding keluar dari bungkusan.

Sebuah kepala yang di potong pada bagian leher dan wajahnya yang terlihat sangat mengenaskan, serta di mulutnya di sumpal oleh 'batangan' miliknya sendiri.

Para Imperial Army yang melihatnya hampir saja memuntahkan isi perut mereka jika tidak berusaha mereka tahan. "Katakan pada Honest-teme, 'lakukan tugasmu sebagaimana seharusnya seorang perdana menteri, jika kau tidak melakukannya atau malah sebaliknya, aku sendiri yang akan mendatangimu dan melakukan hal yang padamu seperti yang aku lakukan pada orang ini'." ucap Naruto dengan suara lantang.

"Satu hal lagi, ini mengenai poster buronanku. Aku tidak masalah menjadi buronan, tapi jangan sekali-kali kalian menganggapku bagian dari Night Raid. Jika besok aku masih melihat posterku sebagai anggota Night Raid, aku tidak akan segan-segan menghancurkan markas Imperial Army dan membantai kalian semua. Kalian mengerti?" Kobaran Api gelap berkobar di lubang mata kiri pada topeng rubahnya.

Imperial Army berjengit ngeri. Naruto melompat ke atap bangunan terdekat lalu melarikan diri secepat yang dia bisa. Para Imperial Army ada yang mengejarnya, tapi semuanya dengan cepat kehilangan jejak karena pergerakan Naruto yang sangat cepat.


.

.

.

.

.


Di atap rumah yang berada sekitar 20 meter dari bangunan yang Naruto datangi tadi, terdapat dua orang yang sedang mengintai. Dua orang itu adalah Tatsumi dan Leone.

"Orang itu, benar-benar tidak bisa di remehkan. Kurasa lebih baik kita tidak berurusan dengannya untuk keselamatan kita sendiri" komentar Tatsumi.

"Aku akui dia memang kuat. Tapi jika suatu saat, jalan yang dia pilih berlawanan dengan kita, kita tidak punya pilihan selain menganggapnya sebagai musuh dan bertarung dengannya" ucap Leone.

"Aku mengerti" ucap Tatsumi. "Ayo kita kembali dan melaporkan hal ini pada Bos" ucap Leone sambil berbalik. Tatsumi ikut berbalik dan mengikuti Leone yang sudah lebih dulu lari melompati genteng rumah-rumah.


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


...::: To Be Countinued :::...


.

.

.

.

.

.

.

Saya tidak mau membuat alasan mengenai keterlambatan saya atas Fict ini. Di bilang sibuk tidak sih, dibilang banyak waktu luang, malah terlalu banyak tapi tidak pernah di gunakan. Jadi seperti inilah jadinya, Fictnya jadi kelupaan.

Fict ini langsung di Update setelah selesai di ketik, jadi jika ada kesalahan seperti Typo atau yang lainnya mohon maklum.

Mengenai chapter kemaren, banyak yang menanyakan kekuatan Naruto. Saya tidak bisa menjawab dengan pasti, tapi yang jelas bukan kekuatan Shinobi ataupun Teigu.

Ada juga yang menanyakan pair. Saya harap tidak ada yang berharap banyak, karena Fict ini tidak berfokus pada genre Romance, jadi Pair itu adalah hal yang tidak tentu. Biarkanlah semuanya berjalan sebagimana mestinya laksana air yang tenang.

Satu hal lagi, ada yang bertanya lewat PM mengenai jadwal rilis. Saya mengupdate Fict sesuai urutan. Setelah ini saya akan mengupdate STAR lalu Dragon Element baru selanjutnya Justice lagi, semuanya akan terus berjalan sesuai urutannya.

Saya ada pertanyaan untuk seorang Reader bernama DAMARWULAN, maksud review anda itu apa ya?

Mohon dukungannya agar Fict ini dapat terus lanjut, semakin banyak dukungan semakin saya bersemangat untuk mengetik. Mumpung bulan puasa, gak ada kerjaan jadi saya bisa ngetik jika ada waktu luang, tehe~

Sampai jumpa di chapter berikutnya, saya Ryuukira Sekai pamit undur diri, salam Fanfiction ^_^

.

.

.

.

.

.

.

.

Ryuukira Sekai. Log Out. Harasho~ ^_^