"Kau tidak apa-apa, nona?"
"Tidak mungkin!" pikir Echo panik.
"Seharusnya gadis sepertimu tidak berjalan-jalan sendirian di malam hari!"
Oz Vesallius.
Apakah ini kebetulan?
Atau… takdir?
Bullet for Prisoner
.
Based on a Vocaloid song, Bullet for Prisoner, sung by Luka Megurine
.
Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
Vocaloid ©Yamaha corp.
Bullet for Prisoner ©I don't know who made the song, but credit for him/her.
This fic © Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, death charas
Enjoy!
Chapter 2
"Errr, aku hanya pulang terlalu larut." gumam Echo.
"Kalau begitu, boleh kuantar?" tawar pemuda itu.
Dengan cepat Echo menolak tawaran Oz. Bisa berbahaya kalau calon korban mengetahui rumah calon pembunuhnya. "Aku bisa pulang sendiri." tolaknya sehalus mungkin.
Tapi Oz tetap memaksa, dia mengulurkan tangannya kepada Echo. "Tidak baik bagi gadis manis sepertimu untuk berkeliaran malam-malam. Bisa-bisa kau diculik."
"Memangnya baik bagi pemuda sepertimu jalan-jalan pada malam hari?" Echo memprotes dalam hati. Lagi pula kalau ada yang mau menculiknya, Echo tinggal membunuhnya. Tapi Echo menyerah, dia menerima uluran tangan Oz.
"Sepertinya tidak ada ruginya." pikir Echo. "Mungkin aku bisa mengenalnya lebih jauh."
"Dimana rumahmu?" tanya Oz. Echo memberitahukan arah rumahnya kepada Oz. Oz mengangguk dan mereka berdua berjalan ke rumah Echo.
Bullet for Prisoner
"Rumahmu nyaman ya?" Oz memandang apartemen Echo dengan kagum. Apartemen Echo berukuran sedang, tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil.
"Apartemenku tidak seberapa besar." gumam Echo sambil memasukkan kunci ke pintu apartemennya
"Tapi kau bisa tinggal sendiri, kan? Tidak seperti rumahku." suara Oz melemah. Echo membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Oz masuk.
"Sebentar, Echo ambilkan minum dulu. Silahkan kau duduk dulu." Echo segera pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman.
"Jadi namanya Echo? Rasanya aku pernah dengar.." Oz mengerutkan dahinya, berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah mendengar nama itu. "Ah, sudahlah.." Oz menepis pikiran itu.
Beberapa saat kemudian, Echo sudah kembali dengan dua gelas teh manis dan sepiring kue. Echo mempersilahkan Oz untuk menikmati kudapan ala kadarnya itu.
"Jadi, namamu Echo,ya?" tanya Oz untuk membuka pembicaraan. Echo mengangguk, tidak mengatakan apa-apa.
"Namaku Oz, Oz Vesallius." Oz memperkenalkan diri.
"Aku sudah tahu." pikir Echo.
"Echo, apa pekerjaanmu sampai kau pulang selarut ini?" Oz terus bertanya. Untung saja Echo sudah memiliki jawaban untuk pertanyaan seperti itu.
"Sekretaris." jawab Echo pendek. Oz menghela nafas, sepertinya dia harus banyak-banyak sabar untuk menghadapi gadis di depannya itu.
"Kau sendiri kenapa pulang begitu larut?" akhirnya Echo bertanya juga.
"Kelab malam." kini giliran Oz yang menjawab pendek. Echo nyaris menyemburkan minumannya karena kaget.
"Kelab malam?" tanyanya untuk memastikan. Oz mengangguk.
"Tapi, apa orangtuamu tidak marah? Lagipula, kau kan keluarga Vesallius?' tanpa Echo sadari, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Oz tidak menjawab. Echo menundukkan kepalanya, "Maaf.." bisiknya.
"Tidak apa-apa, Echo." Oz menghela nafas. "Ibuku sudah tidak ada, ayahku tidak peduli padaku. Aku bahkan ragu dia akan datang ke pemakamanku kalau aku mati. Saudara-saudaraku tidak akan melaporkanku, itu sudah pasti. Lagipula, aku stress. Hanya karena kau seorang anak bangsawan, kehidupanmu serba diatur. Kau sama sekali tidak diberi waktu bebas. Jadi wajar saja kalau aku melampiaskan kekesalanku, kan?"
"Jadi itu rasanya menjadi bangsawan." batin Echo. Tapi Echo hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi keluh kesah Oz.
Oz melirik jendela, "Sekarang sudah malam. Sebaiknya aku pulang." Oz meletakkan gelasnya.
"Terima kasih atas tehnya, Echo. Aku pulang dulu, ya?" Echo mengantar Oz sampai pintu depan.
"Hati-hati di jalan, Oz." Echo berkata pelan. Oz mengangguk, "Dah Echo!" Oz melangkah pergi menuju mansion Vesallius.
"Laki-laki aneh." pikir Echo. Dia pun kembali masuk ke apartemennya.
Bullet for Prisoner
Tepat ketika Echo akan menghempaskan diri ke atas kasurnya, telepon rumahnya berdering. Echo memutar bola matanya, siapa sih yang menelepon tengah malam begini.
Echo terpaksa membatalkan niatnya untuk tidur. Dia kembali ke ruang tamu yang merangkap ruang duduk dan mengangkat telepon yang berada di sana.
"Noise?" Echo mengenali suara itu.
"Master, ada apa?" jawab Echo.
"Beberapa saat lalu ada seorang klien yang datang. Namanya Lotti Baskerville, kakak Alice dan Alyss Baskerville. Kau pasti masih ingat." Echo mengangguk.
"Targetnya?"
"Adiknya kandungnya sendiri, Lily Baskerville. Umur 12 tahun."
"Dua belas?"
"Ya, sepertinya dia iri kepada adiknya itu."
"Berarti nanti hanya akan tersisa dua pewaris keluarga Baskerville?"
"Ya, aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan keluarga itu. Tapi itu bukan urusan kita." Echo kembali mengangguk.
"Kapan aku harus membunuhnya?"
"Dia meminta agar kau membunuhnya besok malam. Dia tahu bahwa kau yang membunuh Alice, jadi kau pasti sudah mengetahui tentang keamanan Baskerville manor."
"Ya, aku tahu."
"Baiklah, Echo. Semoga beruntung."
"Baik, master."
Bullet for Prisoner
Echo menatap dinding tinggi yang berada di depannya. Di balik dinding itu terdapat Baskerville Manor, tempat tinggal keluarga bangsawan terkaya di kota Leveiyu.
Echo melihat ke langit, malam ini cerah, sama sekali tidak ada awan. Bulan bersinar terang di langit, tapi itu sama sekali bukan masalah bagi Echo. Dari posisi bulan, Echo dapat mengetahui jam berapa sekarang. Pukul sepuluh, sepertinya semua orang sudah tertidur.
Dengan ringan, Echo meloncat ke atas dinding yang tingginya dua kali lipat tubuhnya. Dinding itu tebalnya kurang dari sejengkal tangan, tapi Echo berdiri dengan keseimbangan menakjubkan di atas sana. Tubuhnya sama sekali tidak bergoyang.
Dari atas situ, Echo dapat melihat keseluruhan halaman. Mata abu-abunya menelusuri halaman itu, mencari-cari tanda keberadaan anjing penjaga, kamera pengawas, atau alat keamanan lainnya. Mungkin keamanan manor itu sudah diubah karena terbunuhnya Alice.
Sayang sekali, sistem keamanan manor itu sama sekali tidak diubah. Bahkan anjing penjaga yang Echo bunuh dua hari lalu tidak diganti. Echo mendesah kecewa, "Teledor sekali mereka. Tantangannya kurang." bisiknya pelan.
Tanpa menimbulkan suara, Echo melompat ke halaman dan mendarat di atas rerumputan yang terawat rapi. Echo kembali memandang sekelilingnya, memastikan tidak ada penjaga yang berkeliaran.
Setelah yakin kalau dirinya aman, Echo melangkah menuju pintu samping manor itu, yang Echo ketahui hanya diamankan dengan sebuah gembok. Benar saja, gembok itu masih ada di situ.
Echo mengeluarkan alat pembuka kunci yang dia simpan di saku bajunya. Karena baju biasanya masih kotor, Echo sekarang memakai pakaian hitam, seperti pembunuh-pembunuh lainnya. Pisau kesayangannya tersembunyi di lengan bajunya.
Echo memasukkan alat pembuka itu ke lubang kunci gembok. Dalam waktu kurang dari dua detik,Echo berhasil membuka gembok itu dan melangkah memasuki manor itu.
Echo sudah hafal denah Baskerville Manor yang diberikan kepadanya ketika dia diperintahkan membunuh Alice. Denah itu lengkap, setiap ruangan tercantum disana berikut nama anggota keluarga Baskerville yang menghuninya. Jadi, Echo tidak kesulitan untuk mencari kamar Lily.
Echo menaiki tangga, kemudian berjalan di lorong. Lorong itu sepi, Echo bisa melangkah dengan bebas tanpa ketahuan. Tapi di lorong itu, ada sebuah pintu yang terbuka sedikit. Echo mengambil resiko dengan mengintipnya.
Ternyata itu adalah ruang keluarga. Beberapa sofa empuk diatur mengelilingi sebuah meja. Diatas meja itu terdapat sebuah figura foto. Figura foto itu diberdirikan membelakangi Echo, jadi Echo tidak bisa melihat foto siapa yang berada di figura itu. Tapi Echo bisa menebak siapa yang berada di foto itu.
Di atas sofa-sofa itu, duduk beberapa orang. Echo memperkirakan kalau seluruh anggota keluarga Baskerville berada di situ. Dia bisa melihat Alyss Baskerville, Lotti Baskerville, dan Lily Baskerville. Selain itu kedua orangtua mereka, Glen dan Lacie Baskerville juga berada di situ.
"Bagus, lebih baik aku menunggu di kamar korban saja." pikir Echo. Dia kembali melangkah tanpa suara menyusuri lorong, menuju kamar Lily.
Tak seberapa lama kemudian, Echo sudah ada di depan kamar Lily. Dengan perlahan, Echo membuka pintu kamar. Kamar itu gelap, Echo melangkah masuk.
Dengan langkah ringan, Echo melangkah di atas karpet kamar itu, yang berwarna kuning lembut. Dia melihat berkeliling, mencari tempat untuk bersembunyi. Tanpa sengaja, kaki Echo menginjak sesuatu. Terdengar sebuah geraman lembut. Echo menolehkan kepala ke arah geraman itu. Rupanya seekor anjing.
"Anjing di kamar anak kecil?" pikir Echo heran. Echo merutuki kecerobohannya, seharusnya dia tahu kalau di kamar itu ada anjing.
Echo tidak punya pilihan lain. Dia membungkuk di atas anjing itu, anjing itu kembali mengeram. Echo mengeluarkan pisaunya dengan cepat. Dan sebelum anjing itu senpat melolong, Echo sudah menusuk perut anjing itu dengan pisaunya dan merobeknya ke atas.
Isi perut anjing itu langsung menghambur keluar, mengotori karpet dan sepatu Echo. Tapi Echo sama sekali tidak mengernyit, dia malah tersenyum. Bagian yang mengasyikkan baru saja dimulai.
Echo membiarkan tubuh anjing itu begitu saja. Dia kembali melangkah di atas karpet. Sepatunya meninggalkan jejak darah, menodai karpet itu dengan warna merah.
Echo melangkah menuju tempat tidur. Tempat tidur itu berukuran King Size dilapisi dengan seprei berwarna biru. Echo melepaskan sepatunya dan duduk di kasur itu. Untung saja bajunya tidak terkena darah.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Echo mempersiapkan pisaunya. Dengan bertelanjang kaki, Echo meloncat ke karpet, kemudian berdiri menunggu.
Seorang anak berumur 12 tahun berambut pirang keoranyean melangkah masuk. Mata birunya terbelalak kaget ketika dia melihat Echo dengan pisaunya yang berlumuran darah. Kemudian pandangannya beralih ke karpet, dia menjerit ketika melihat tubuh anjingnya tergeletak begitu saja dengan perut terbuka. Untung saja kamar itu kedap suara, tapi Echo tahu dia tidak punya banyak waktu.
Lily memandang Echo dengan marah. "Apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan kepada Bandersnatch?" teriaknya. Dia tampak berani, tapi Echo tahu kalau Lily sebenarnya ketakutan setengah mati.
Dalam sekejap, Echo sudah berada di belakang Lily dan membekap mulut gadis kecil itu. Lily berusaha menggigit tangan Echo, membuat Echo sedikit mengernyit.
"Tenang, Lily. Aku hanya membawanya ke suatu tempat." Echo tersenyum, "Dan kau akan menyusul anjingmu yang tersayang."
Lily memberontak, tapi Echo lebih kuat. Dia memiting Lily ke atas karpet, pisaunya siap ditusukkan ke jantung gadis itu. Tapi Echo memutuskan untuk bermain-main sebentar dengannya.
"Lily, kau tahu siapa yang menyuruhku membunuhmu?" Echo bertanya. Echo memiringkan kepalanya di atas mulut Lily yang masih dibekapnya, berpura-pura mendengar jawaban Lily. Beberapa saat kemudian, Echo kembali mengangkat kepalanya.
"Tidak tahu, ya? Kalau begitu biar kuberitahu." Echo berhenti sejenak untuk memberikan efek dramatis.
"Yang menyuruhku melakukan ini adalah Lotti, kakakmu sendiri." Echo tersenyum senang ketika melihat ekspresi terkejut Lily. Ini adalah kebiasaanya. Sebelum dia membunuh korbannya, dia selalu memberitahu siapa yang menyuruhnya membunuh korban itu. Dia menikmati ekspresi terkejut yang dipancarkan oleh korban-korbannya begitu mengetahui bahwa teman mereka, atau keluarga mereka,yang menyuruhnya membunuhnya.
"Kau sudah tau, kan? Aku hanya menjalankan tugas. Sekarang aku harus membunuhmu. Maaf ya, Lily." Echo menempelkan ujung pisaunya di dada kanan Lily, tepat diatas jantungnya, tapi dia belum menekannya.
"Omong-omong, namaku Noise, kalau kau mau tahu. Sekarang, selamat tinggal. Semoga kau bahagia di sana.". Lily berusaha memberontak untuk yang terakhir kalinya, tapi Echo menusukkan pisaunya dengan cepat.
Darah menyembur dari tubuh Lily, membasahi kedua tangan Echo. Beberapa tetes darah juga mengenai wajah dan rambut putih kebiruan Echo. Tapi Echo tidak mempedulikannya, dia malah senang ketika darah itu menciprati tubuhnya.
Pada saat ini, dia bukan Echo. Dia adalah Noise.
Echo tidak memiliki kepribadian ganda. Dia hanya memiliki satu kepribadian. Biasanya, dia hanya seorang gadis biasa berwajah tanpa ekspresi, membuat orang-orang sulit untuk memahami dirinya.
Tapi, setiap kali dia membunuh, dia merasa seakan-akan tubuhnya diambil alih, tapi Echo menikmatinya. Dia menikmati saat-saat terakhir hidup seseorang. Dia menikmati darah yang selalu terciprat begitu dia membunuh orang itu. Dia menikmati rasa yang dia nikmati ketika kedua tangannya membunuh. Echo menamai perasaan itu Noise, seperti nama sandinya.
Echo menyeringai ketika dia melihat tubuh kecil Lily yang sudah tidak bernyawa. Pisaunya masih tertancap di dada gadis kecil itu. Darah menghiasi piama putih yang dikenali Lily.
Echo mencabut pisaunya dari dada Lily. Tanpa membersihkannya, Echo kembali menyelipkan pisau itu di lengan bajunya. Kemudian dia meneliti tubuh Lily, mencari sesuatu yang bisa dibawanya. Echo selalu mengambil satu benda milik korbannya, sekadar untuk kenang-kenangan.
Pandangan iris abu-abunya tertumbuk ke arah benda yang melingkari leher Lily. Benda itu adalah sebuah kalung, dengan liontin berbentuk kepala Teddy Bear. Echo mengulurkan tangannya dan merengut kalung itu dari leher Lily. Dia memasukkan kalung itu ke saku bajunya.
Dia membuang sepatunya ke perapian yang berada di kamar itu, yang untungnya sedang berkobar, untuk menghilangkan bukti. Kemudian dia membuka jendela dan melompat keluar.
Telapak kaki telanjang Echo sama sekali tidak menimbulkan suara ketika mendarat di rerumputan lembut yang melapisi halaman Baskerville manor. Dia berdiri sejenak, menatap halaman itu. Dia bertaruh sebentar lagi halaman indah ini akan dipenuhi polisi.
Sekarang hanya tinggal ada dua pewaris keluarga Baskerville. Echo menduga mereka akan saling membunuh kembali untuk dapat menjadi satu-satunya pewaris keluarga itu.
Mungkin mereka akan menyewa Echo lagi untuk membunuh saudaranya.
Tapi Echo tidak peduli. Selama Echo bisa membunuh dan kliennya dapat membayarnya, Echo akan melakukannya, tidak peduli siapa kliennya.
"Misi selesai." bisik Echo. Dia kembali melompati dinding pembatas, kembali ke gang-gang gelap di luar. Tubuhnya segera menghilang ditelan kegelapan gang-gang itu.
TBC
A/N:
Kayaknya Echo makin OOC, ya? *ngebaca ulang*
Anyway, gimana menurut readers tentang chapter ini? Maaf ya kalau feel pas ngebunuhnya kurang kerasa. Aoife kena wb lagi T.T
Dan ada satu pengumuman, fic ini akan HIATUS sampe lebaran beres! Kenapa? Karena di draft di kepala Aoife bakalan ada adegan *piiip* nya, walaupun gak terlalu keliatan. Tapi daripada puasa Aoife dan readers batal, mendingan Aoife tunda. Gomen, ya! (/\)
The last but the most important, REVIEW PLEASE! XD
