Matanya yang berwarna Emerald tetap melancarkan hujan nya dengan deras. Sesekali tangan itu menghapusnya. Namun tetap saja, air matanya merebak melewati pipi mulusnya yang sedikit tirus. Kakinya berlari melewati rumah-rumah penduduk yang sepi dan hanya menyisakan lampu-lampu yang terhubung diluar kediaman mereka.
Sesekali isak tangis meluncur dengan indahnya dari bibirnya yang tipis. Lalu kemudian tetesan-tetesan air mata itu kembali merebak. Sakura tetap menangis tanpa memperdulikan kakinya yang sudah kaku.
Tap
Gadis itu berhenti berlari. Dia berada di atas jembatan. Kedua tangan nya bertumpu pada kayu yang menjadi penyangga jembatan itu. Isak tangisnya kembali pecah. Bahunya terlihat bergetar. Gadis itu sedang dalam masa kecewanya.
...
"Hiks... hikss.." Suara tangisan itu tertalu menyakitkan. Sakura merutuk dalam hati kenapa pemuda Uchiha itu selalu menolaknya. Apa yang kurang darinya? Ia cukup cantik, ia mempunyai jutsu yang hebat, lalu kenapa Uchiha itu masih menolaknya?
"Kukira ada hantu yang menangis malam-malam begini." Suara itu membuat Sakura menoleh. Diseberang jembatan sana, ada seorang pemuda dengan rambut merah bata, mata Turqoise dan wajah datar yang mengingatkan nya akan Sasuke.
Kening gadis musim semi itu berkerut? Tangan nya dengan cepat menghapus jejak air mata yang menghalau di pipinya. Matanya berkedip, kemudian dalam detik berikutnya ia membelalak begitu melihat sosok itu semakin jelas di matanya.
Itu Kazekage Suna!
"..."
Sakura diam mematung begitu sang Kazekage sudah berada di depan nya dengan pasir yang tiba-tiba membentuk menjadi dirinya. Kazekage itu menyerahkan sapu tangan nya dengan wajahnya yang datar.
Gadis Haruno itu masih diam mematung. Matanya mengerjap. Sejak kapan ia menyadari kalau ia telah terhipnotis? Mata hijaunya yang pucat, dan rambut merahnya yang berkibar akibat tiupan angin. Tubuhnya yang kokoh terlihat begitu gagah di depan nya.
"Haruno."
Panggilan itu membuat Sakura mengerjapkan matanya. Sial! Pertemuan pertama tadi, dirinya sudah memalukan!
Sakura meringis. Sial! Dimana harga dirinya sebagai Haruno sekarang!? "Gomene, Kazekage-sama." Gumam Sakura dengan menundukan separuh tubuhnya –Ogiji-.
Kazekage itu mengangguk. "Hn." Lalu bergumam, setelah itu menarik kembali sapu tangan nya yang tidak direspon oleh gadis berambut pink itu.
Gadis itu menunduk dengan menggigit bibir bawahnya. Keningnya berkedut. Oh, god, apa yang akan dikatakan oleh Kazekage itu jika tau kalau ia bahkan tidak mengetahui keberadaan nya sejak awal. Oh, sial kau Sakura!
Kazekage dengan nama Sabaku Gaara itu tersenyum kecil. Membuat Sakura mengadah untuk melihat bagaimana proses terjadinya senyuman langka itu. Mulutnya menganga.
Gaara mengganti raut wajahnya kembali, membuat Sakura menampakan mimik kecewanya. "Kau unik. Aku suka itu." Dia lagi-lagi tersenyum. Membuat Sakura kembali cengo. "Menikahlah denganku, Haruno."
Dan Sakura yakin, sekarang rahangnya jatuh dengan tidak elitnya mendengar ucapan dari si bungsu Sabaku itu.
.
.
.
.
.
.
Disclamer : Masashi Kishimoto-sensei
Rate : T
Genre : Hurt/Comfort and Romance
Maaf kalau ada kesamaan dalam cerita ini. Sesungguhnya ini hanya fic abal buatan saya yang memang sayanya juga abal. Jangan menginjak Bom Typo ataupun melihat EYD saya yang acak-acakkan.
.
.
.
.
.
.
.
Kening Sasuke berkerut ketika melihat tatapan tidak nyaman Sakura yang diarahkan padanya. Bahkan sesekali tersenyum meringis. Ada apa sebenarnya dengan gadis berambut Pink itu?
Pemuda itu mendengus. Lalu memakan dangonya kembali. "Kau kenapa sebenarnya?" Tanyanya dengan nada datar seperti biasa. Membuat siempu yang ditanya mengerutkan alisnya.
"Apa?"
Pemuda Uchiha itu mengadahkan kembali wajahnya kearah si gadis Haruno yang menatapnya dengan heran. Hah, sejak kapan pendengaran gadis musim semi itu berkurang?
Sasuke menghela nafas. "Hari ini kau aneh." Ucapnya mengubah kata yang ia lontarkan membuat si gadis hanya ber'Oh' ria. "Bahkan pandanganmu tidak berbentuk Love lagi." Tambah pemuda bersurai raven itu mengangkat satu alisnya membuat Sakura yang ditanyai seperti itu salah tingkah seketika.
Sakura menggeleng pelan. Kemudian menunduk. Memilin ujung roknya dengan gugup. "Aku akan menikah." Ucapnya pelan, sangat pelan malahan sampai bisa disebut lirih. Namun memberikan reaksi yang berbeda untuk si bungsu Uchiha itu yang kini tengah tersedak dan terbatuk dengan tidak elitnya di kedai dango.
"Uhuk... Uhukk... Uhuk.."
Sakura meringis. Lalu menyodorkan gelas berisi air putih kepada Sasuke yang memegangi dadanya. Pemuda itu langsung saja mengambil gelas air putih yang disodorkan Sakura dan langsung menegaknya hingga tandas.
"Hah." Helaan nafas terdengar begitu nyaman di telinga Sakura yang memandang pemuda itu khawatir. Mata Onyx Sasuke langsung beralih kearah gadis itu dengan tajam.
Ekspresi yang tadi datar berubah menjadi serius. "Kau benar-benar mau menikah?" Tanyanya to the poin membuat Sakura menelan ludahnya dengan gugup melihat ekspresi pemuda dihadapan nya.
Gadis Haruno itu mengangguk kaku. Kemudian menunduk. "Dengan Kazekage Suna." Gumamnya pelan dengan semburat merah dipipinya membuat Sasuke yang mendengarnya membelalak seketika.
Dahinya berkerut. Matanya menatap Sakura yang masih menunduk dengan tajam. "Bisa ulangi?"
Sakura menghela nafas. Lalu mengangkat kepalanya. Nyalinya ciut seketika melihat tatapan pemuda itu yang lebih sangar dibandingkan dengan Ibunya.
Matanya mengerjap. Kemudian senyum ringisan terbit di wajahnya yang cantik. "Kenapa kau menatapku seperti itu, Sasuke?" Cicitnya dengan menatap pemuda itu takut-takut. Tapi tunggu! Dimana kata –kun yang selalu tersemat di belakang nama pemuda itu?
Sasuke menghela nafas. Dia tidak ingin marah sekarang ini. "Sejak kapan kau dekat dengan nya?" Tanyanya dengan nada rendah. Matanya masih memandang tajam pada gadis yang kini sedang menatapnya dengan mata Emerald yang indah.
Sakura lalu tertawa. Tawa cangung yang terdengar di telinga rancu Sasuke. "Tadi malam." Jawab gadis itu singkat namun bereaksi besar terhadap pemuda Uchiha yang kini sedang membelalak.
Kemarin malam? Dan sekarang sudah mau menikah? Sasuke rasa ia harus membawa teman wanitanya ke Tsunade Senju sekarang untuk men-stabilkan otak teman nya yang mungkin sedang konslet ini. Oh, Kami-sama.
Sasuke menghela nafas lelah. Lalu menggelengkan kepalanya. "Aku yakin IQ-mu tidak menurun, Sakura." Ucapnya datar dengan pandangan tajam ke arah sahabat pinknya yang sedang memakan Mochi. Tampaknya gadis itu kini tidak perduli dengan apa yang diucapkan oleh sahabat raven yang pernah ia cintai atau sampai sekarang?
Sakura mengerjap-ngerjap. Lalu tersenyum dan menyodorkan Mochinya yang masih hangat kearah Sasuke yang menatapnya dengan datar. Gadis itu tampaknya sangat asik sampai-sampai tidak menyadari Sasuke yang menyeringai saat menatapnya.
Sasuke memasang ekspresi datarnya kembali. Lalu berdehem. "Sakura." Ucapnya pelan menatap kearah gadis itu dengan pandangan seperti biasa.
Sakura mengangkat kepalanya. Lalu tersenyum. "Ya?"
Senyuman miring terbit di bibir pemuda raven itu melihat begitu 'polosnya' sahabat pinknya tersebut. "Mau ke Onsen?" Tawarnya masih dengan senyuman miring yang kini membuat mata Sakura membentuk Love.
Sakura tersenyum dengan blink-blink di matanya. "Tentu saja! Kapan!?" Tanyanya semangat dengan mengepalkan kedua tangan nya di depan dada. Membuat Sasuke yang melihatnya makin melebarkan senyuman indahnya.
"Sekarang."
.
.
.
.
Sakura menelan ludahnya dengan gugup. Sekarang, ia hanya disini sendiri. Ralat, hanya berdua dengan Uchiha Sasuke. Hanya berdua. Apakah aku harus mem-bold kata Hanya Berdua?
Ok, gadis pink itu kira mereka akan ke Onsen dengan Rookie 12, tapi ternyata hanya mereka berdua. Apa lagi di Onsen khusus pasangan! Sial!
...
Pemuda itu menyeringai dengan Poci Ocha di atas nampan di tangan nya. Kakinya lalu berjalan dengan langkah santai. Ia sudah menyewa Onsen ini untuk satu jam kedepan. Hah, jika tidak mendapat balasan dari gadis itu atas usahanya ini, ia jamin rambut pink kesayangan gadis itu akan ia gimbal. Hahaha, memikirkan nya saja pemuda raven itu terlihat gila.
Keningnya mengernyit melihat gadis pink itu hanya diam di tangga Onsen dengan handuk yang melilit tubuhnya. "Sakura, kenapa tidak masuk?" Tanya pemuda itu santai dan meletakkan poci hangat berisi Ocha dan cemilan itu di atas meja.
Mata Emerald itu memandang mata Onyx Sasuke yang berkilat dengan pandangan takut-takut. "Anou... Sasuke-kun..." Ucapnya gugup dengan kedua pipi yang memerah sempurna. Tangan nya mencengram erat handuknya yang berwarna putih.
Bibir Sasuke menyeringai. Sudah ia duga. Rencananya pasti berhasil. Ok, hanya satu, yaitu kata –kun yang kembali.
Pemuda itu berdehem. "Kenapa memerah?" Tanya Sasuke memancing. "... Ingat, kau ini calon pengantin orang lain, lho." Ada rasa tidak rela saat pemuda itu mengucapkan nya. Seperti nada yang tertahan di tenggorokan.
Sakura kembali menelan ludahnya dengan susah payah. Oh, god, tidakkah Sasuke menyadari kalau Haruno itu sedang memperhatikan dada bidangmu yang sekseh? Lalu apakah kau tidak menyadari kalau gadis pink itu sedang membayangkan apa yang menggantung diantara kedua pahamu saat kau membuka handuk putihmu itu?
Ada perasaan tidak enak yang mengganjal di hati Sasuke saat melihat teman mantan se-timnya memandangnnya sayu dengan senyum misterius. "Sakura." Ucapnya pelan saat melihat gadis itu yang memilin rambutnya dengan sesuatu kilatan di matanya yang cantik.
"Ya, sayang?"
Sasuke membelalak mendengarnya. Kali ini ludahnya yang susah ditelan. Apa yang terjadi pada sahabat gadisnya!? Kazekage Sabaku itu mempengaruhinya hingga gila seperti ini!
Uchiha tunggal itu menghembuskan nafasnya. Untuk menetralkan detak jantungnya yang menggila. "Kita minum Ochanya saja dulu, ya." Lalu kakinya yang jenjang melangkah menuju meja kecil tidak jauh darinya itu.
Si Pinky mendesah kecewa. Lalu melangkah dengan tidak rela menuju Sasuke.
Pemuda Raven itu menuangkan Ocha yang berada di poci ke dalam gelas kayu. Lalu memberikan nya dengan senyum tipis kearah Sakura yang menatapnya dengan pipi memerah dan mata berbentuk Love.
"Ini untukmu." Ucap Sasuke pendek dengan menyerahkan gelas itu.
Sakura memandang pemuda itu dengan cinta sementara pikiran nya mempertanyakan kenapa pemuda itu bersikap aneh padanya hari ini.
"Terima kasih." Ucapnya cepat dengan menerima gelas itu dan langsung meneguknya hingga tandas tidak tersisa.
Brak
Suara gebrakan itu membuat duo S menoleh keasal suara. Menemukan sipemilik Onsen dengan rambut hitam memandang horor pada Sakura. Bukan, lebih tepatnya pada gelas yang dipegang gadis itu.
"Gomene Uchiha-sama!" Teriaknya langsung dengan menundukkan separuh tubuhnya.
Sasuke mengerutkan keningnya mendengar ucapan yang dilontarkan oleh sipemilik Onsen.
"Saya tidak sengaja menukarkan obat tidur bubuk anda dengan obat perangsang!" Teriaknya lagi membuat Sasuke membelalak untuk kesekian kalinya.
Ludahnya susah diteguk. Matanya memandang gugup.
"Sayang." Desah sang Haruno dengan memeluk lengan kekarnya.
"Tidakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!"
.
.
.
Wanita berambut pirang berdada besar itu menghela nafas dan langsung berbalik. Memandang si Uchiha tunggal di depan nya dengan tajam.
"Kenapa kau memberinya obat itu?" Tudingnya dengan mata menyipit. Membuat tersangka menghela nafas lelah mendengarnya.
"Itu keteledoran si pemilik Onsen yang salah mencampurkan obatnya." Jawab Sasuke ogah-ogahan. Hei, harusnya ia sebagai korban yang harus dibela karena telah dilecehkan oleh wanita. Bukan malah sebagai tersangka yang kini dituding oleh si Hokage tua Tsunade Senju. Tch, harusnya nenek tua itu tau kalau tubuhnya hampir sama di rape-rape oleh gadis Pinky yang kini sedang berbaring dengan nyaman di ranjang rumah sakit itu, tapi itu rasanya lebih baik dibanding harus merasakan cekalan tangan itu di dadanya.
Tatapan mata Tsunade makin tajam. Membuat Sasuke mendecih tidak suka karena diintimidasi. "Apa maksudmu dengan memberinya obat tidur kalau begitu?"
Satu alis Sasuke terangkat. Pemuda itu lalu terkekeh. "Kukira murid tersayangmu itu hampir gila karena sikapnya hari ini aneh sekali." Jawab Sasuke sarkatis dan memutar bola matanya bosan. "... dan tadi dia bilang padaku bahwa dia akan menikah dengan Kazekage Suna."
Dan itu cukup membuat Tsunade membelalak, serta Shizune yang menutup kupingnya karena teriakan makian yang berasal dari mulut mungil Godaime Hokage Konoha itu.
...
Mata Emerald itu terbuka separuh. Bayang-bayangnya masih samar. Sesekali kemudian mengerjapkan matanya. Samar-samar matanya menangkap gambaran pemuda berambut merah yang tengah duduk disampingnya. Ah, ini tidur yang indah.
"Sakura, kau sudah bangun,"
Mata Sakura kembali mengerjap. Apa?
"Kazekage-sama!" Pekik Sakura yang langsung bangun dari tidurnya dengan menatap pemuda berambut merah nyang tengah menatap gadis itu dengan pandangan aneh.
Kazekage itu menghela nafasnya pelan. "Ada apa?" Tanyanya lembut meski masih menatap gadis Pink itu dengan datar.
"Maaf Kazekage-sama, anda dititah ke ruangan Hokage sekarang."
Ucapan tiba-tiba itu membuat sang Kazekage Suna menggeram. Tubuhnya lalu berbalik. Menemukan pemuda berambut biru dongker sedang berdiri di depan pintu dengan pandangan datarnya yang menghujam Kazekage itu dengan tidak suka.
Mata Turqoise Kazekage dengan nama Gaara itu langsung terarah pada Sakura yang menatap pemuda berambut merah itu dengan polos. Tangan nya yang putih menyentuh puncak rambut Sakura dengan lembut. Membuat siempunya merona seketika.
"Aku pergi dulu, ne." Ucapan itu mengalun dengan lembutnya di telinga Sakura. Membuat Sasuke yang mendengarnya merasa panas. "... aku akan mencoba meminta izin Hokage untuk surat pindahmu ke Suna." Dan kembali, Sasuke melotot mendengarnya.
Setelah itu hanya ada Gaara yang berubah dirinya menjadi butiran pasir dan menghilang terbawa angin.
Sasuke berdecih melihatnya. Lalu menatap Sakura yang masih merona dan memajang senyumnya. Entah kenapa hatinya merasa sakit, lalu ada rasa tak enak yang hinggap di hatinya saat melihat perlakuan Kazekage itu untuk teman se-timnya.
"Kau terlihat begitu akrab dengan Kazekage itu." Cibir Sasuke begitu Sakura mengalihkan pandang kearahnya.
Alis gadis itu menukik mendengarnya. "Kau terlihat panas Sasuke." Ucapnya dengan sindiran yang begitu ketara membuat Sasuke lagi-lagi membelalakan matanya. Ada yang aneh disini, sejak kapan gadis di depan nya ini menyindirnya?
"Kau aneh sejak pagi tadi." Balas pemuda itu acuh tak acuh membuat alis Sakura menukik.
Gadis itu menggeleng. Meski hatinya masih diliputi penasaran. Apa yang sebenarnya dikatakan oleh pemuda dengan marga Uchiha itu?
"Maksudmu?"
Sasuke mendengus. Lalu memutar bola matanya bosan. "Keanehanmu pasti karena Kazekage itu." Tuding Sasuke dengan dingin nya, namun membuat hati Sakura yang mendengarnya panas seketika.
"Kau bilang apa!?"
"Kau aneh karena Kazekage itu." Jawab Sasuke dengan nada tenangnya, mengacuhkan Sakura yang sudah naik pitam.
"Aku aneh karena kau selalu menolakku sedari dulu! Sejak Akademi! Bahkan aku menunggumu selama ini! tapi apa!? Kau masih saja menolakku! Ketika aku dekat dengan Gaara-kun, kau bilang kalau aku aneh! Sebenarnya apa maumu Uchiha!?" Teriak Sakura kalap dengan mata menatap garang kearah Sasuke. Deru nafasnya tidak beraturan karena amarah.
Mata Sasuke berkedip. Apa yang ia lakukan selama ini sampai-sampai ia menyakiti hati wanita sebaik gadis itu?
"Maaf." Ucap pemuda itu pelan dan langsung berbalik. Meninggalkan Sakura yang kini mulai meneteskan kembali air matanya.
.
.
.
Gadis musim semi itu menghela nafas menatap pintu yang tertutup di depan nya. Tatapan matanya kosong. Tidak terlintas dari sorot matanya apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Dia mungkin cukup sedih mengingat kejadian sebelumnya yang terjadi di kamar ini.
Hah.
Senyum miris terpajang di bibir Sakura yang ranum. Mata Emeraldnya menerawang jauh.
Salahkah ia menunggu pemuda itu selama ini? Lalu, salahkah ia bila melupakan pemuda itu dengan keberadaan seseorang lain yang kini akan terus bersama dengan nya? Orang yang jelas-jelas menampakkan ketertarikan yang lebih padanya jika dibandingkan dengan pemuda itu? lalu, salahkah ia akan semuanya?
Mata Emerald itu berkaca-kaca. Entah bagaimana caranya ia menjadi cengeng seperti sekarang. Seperti gadis yang seolah tidak memiliki semangat hidup lagi.
Tch, lucu. Sangat lucu, Sakura.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri. Wajahnya kemudian tertunduk. Anak rambutnya yang berwarna unik menjuntai. Kedua tangan gadis itu mengepal.
Tes
Ia benci dirinya yang sekarang menjadi cengeng.
Tes
Ia benci dirinya yang masih mengharapkan pemuda itu.
Tes
Ia benci tidak dapat melawan kehendak hatinya yang seolah mengkhianatinya.
Tes
Dan ia paling benci ketika ia bodoh kalau selama ini ia selalu mencintai pemuda itu.
Tes Tes Tes
Dari akademi hingga sekarang ia hampir berpangkat menjadi Jounin, ia dengan bodohnya tidak dapat melupakan perasaan ini. Padahal ia tau, perasaan pemuda itu tidak akan tersampai ke hatinya. Ia tau itu.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Isakan memilukan gadis itu pecah. Membuat suasana disekitar menjadi terasa sendu.
Wajahnya masih menunduk. Menyembunyikan raut pilunya pada dunia. "Aku tau ini semua percuma..." Gumamnya lirih dengan nada sendu. Bahkan seolah berbisik pada ia dan tuhan yang tau. "Aku memang bodoh." Gumamnya dengan mengangkat kepalanya yang dibanjiri dengan air mata pilu. Bibirnya masih bergetar.
"Kau memang bodoh Sakura!" Teriaknya dengan nada marah.
Matanya masih mengeluarkan tangisan. Entah sampai kapan Emerald indah itu akan berhenti mengeluarkan kesedihan nya. Kepiluan nya dalam menghadapi kisah cintanya yang tidak pernah terasa membahagiakan untuknya.
Tanpa ada yang menyadari, sosok Uchiha Sasuke, melihat dengan jelas sejak awal tangisan gadis itu berlangsung dengan sharingan nya. dan tentunya dengan menyembunyikan chakranya.
.
.
.
.
.
.
~Cinta memang memikat, namun pada akhirnya cinta akan susah untuk dilepas meski kau tau kalau hatinya tidak akan pernah terjerat pada pesonamu meski kau berharap.~
-Flower's Yellow Tulip-
.
.
.
.
.
Thanks banget yang udah Review, meski cerita saya sungguh-sungguh dan sungguh membosankan seperti ini. Saya benar-benar berterima kasih banyak To : Aoyama Sonata: Thanks buat Review sama Favenya. Aduh, nggak nyangka ada juga yang suka... Makasih ya ^_^. senayuki-chan: Hehehe ^_^ Makasih atas pujian nya, senpai ^_^ Fic saya belum sebanding sama Author-author lain nya, jadi saya masih ngerasa abal T_T... Btw, makasih buat Reviewnya ya, Senpai ^_^. Ravenpink: Etoo... Ini multi chap, senpai.. Drabel? Kayaknya ide bagus, saya buat aja nanti... Makasih atas ide dan Reviewnya ya senpai ^_^. Yuhi: Ini udah lanjut, thanks udah Review ^_^. Minami Bleach: Huaaaa... Sasu Ayam jangan ditonjok, nanti gantengnya ilang T_T Makasih atas Reviewnya ya Senpai ^_^. De Chan: Anooo... jangan nangis, senpai. Kalo senpai nangis nanti rumahnya kebanjiran lho T_T. Saveria: Anooo... saya nggak ada niat sama sekali kok buat nambahin ke Hina sama Sasu... kalo dipikir-pikir, Ino pingsan kayaknya nggak lucu, jadi maaf kalo fic ini buat senpai kecewa. Hontouni Gomenesai. Akira Fly: Sebelumnya maaf kalo udah bikin senpai kecewa, tapi kalo saya masukin Angst, saya kira itu cuma buat cinta yang nggak kesampean aja. Karena disini insya allah mereka bakalan bersatu. Moooo: Thanks atas Review sama saran nya senpai ^_^. Asakura: Etoo... sebelumnya maaf senpai. Kalo soal bikin SasuSaku, saya emang udah niat, bukan cuma modus belaka. Sebelumnya maaf karena senpai udah kecewa ke fic ini. Guest: Etooo... ini SasuSaku kok, cuma disini belum menuju ke inti cerita. Ada beberapa chap lagi sebelum bener-bener masuk ke dalam tahap yang emang bener-bener SasuSakunya. UchihaHaruno Citra: Etoo... ini emang SasuSaku, senpai. Tapi bagian chap 1 cuma prolog, tahap intinya mungkin chap depan. Ai: Ettoo... yang kemaren cuma prolognya aja... sedangkan romance aslinya mungkin chap depan. Winter Cherry: Makasih atas Reviewnya senpai... Mulberry Redblack: Thanks atas Reviewnya senpai, chap depan kalau ada yang salah mungkin senpai bisa kasih saran buat author pemula ini ^_^. Yoshikuni Ayumu: Ini emang SasuSaku, maaf ngebuat senpai bingung. Romance sebenernya mungkin ada di chap depan ^_^ makasih atas Reviewnya ^_^ Uchiha Hazuna no Hazu-chan: Nooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo... Sasu suka Hinata? Saya buat SasuSaku, bukan SasuHina senpai! Maaf udah ngebingungin... Baca juga yang Guilt ya, biar tau posisi perasaan Sasu ^_^...
