Disclaimer : Masashi Kishimoto
FF : Aries Fanfiction
Genre : Drama, Romance, Hurt/comfort, Family
Rate : T-M
Pairing : SasuNaru, GaaNaru
Warning
Lemon, Boys Love
cerita ini hanya fiktif dengan meminjam beberapa chara dalam anime/manga Naruto milik Masashi Kishimoto sensei. maaf jika tulisan ini masih acak-acakan karna saya bukanlah seorang penulis yang profesional tapi, ingin terus belajar untuk menjadi penulis prefesional. cerita ini khusus dipersembahkan untuk para fudanshi dan fujoshi. jika kalian bukan kategori tersebut, mohon jangan dilanjutkan untuk membaca cerita ini. sekian dan terimakasih.
Cerita sebelumnya:
"ada apa ini?! Apa yang kalian lakukan?!"
"cih, mengganggu kesenanganku saja" dengan kesal gaara melihat orang yang berjalan menghampiri mereka.
Ruang Kepala Sekolah
"jelaskan apa yang terjadi di atap sekolah tadi?" tanya sang kepala sekolah dengan papan nama bertuliskan hashirama senju di atas meja kebanggaannya
"tidak ada yang perlu di jelaskan" jawab gaara santai. Ketenangan di wajahnya benar-benar tak terpengaruh sedikitpun dengan aura gelap sang kepala sekolah yang sedang menahan emosinya.
Hashirama mendesah berat, merasa frustasi dengan sikap anak didiknya satu itu "aku akan mengirim surat panggilan kepada orang tua kali-"
"teman-temanku tidak ada kaitannya dengan pengeroyokan itu. aku yang memaksa mereka untuk melakukannya"
Sasori,nagato,deidara dan hidan tersentak mendengar perkataan gaara. Keempat pemuda itu menatap gaara bingung.
"benar begitu?" tanya hashirama meminta jawaban kepada empat pemuda tersebut. Tapi mereka hanya diam, tak mengerti apakah harus berkata jujur atau mengikuti skenario dadakan yang dibuat gaara
"anda menuduhku berbohong"
"baiklah" hashirama menyerah
"tapi bukan berarti mereka lolos dari hukuman. Kalian berempat akan kuhukum membersihkan gedung olah raga sepulang sekolah selama satu minggu. Dan kau gaara, aku akan mengirimkan surat panggilan orang tua kepada ayahmu. Kau juga akan kuberikan skorsing selama 3 hari. Kau mengerti?!"
"Hm" gaara segera bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu keluar tanpa mempedulikan teriakan kepala sekolah yang terus memanggil namanya
Diluar, beberapa meter dari ruang kepala sekolah, pemuda bersurai pirang sedang terlibat adu mulut dengan pria paruh baya bersurai raven.
"kenapa kau selalu membuat masalah naruto!" bentaknya pada pemuda yang dipanggilnya naruto
"tapi ini bukan karna kesalahanku tou-san. Mereka yang-"
PLAKKK
"kepala sekolah mu menelfonku karna kau terlibat perkelahian dengan para senpaimu, dan kini kau mencoba menyalahkan orang lain?! Kau membuatku kecewa naruto. Lebih baik memang hanya ada satu uchiha sebagai anakku" ucapnya dingin. tanpa menyadari kalau kata-katanya barusan telah menyakiti si bungsu uchiha, fugaku berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Menjumpai pimpinan sekolah elit itu memanglah tujuannya datang ke sekolah ini.
'Lebih baik memang hanya ada satu uchiha sebagai anakku'
'Lebih baik memang hanya ada satu uchiha sebagai anakku'
'Lebih baik memang hanya ada satu uchiha sebagai anakku'
Lunglai, disandarkannya tubuhnya ke dinding. Tubuh itu meluruh disana. Bahkan darah yang mengalir di sudut bibirnya tak ia pedulikan. Ucapan sang ayah yang menyakitkan terus terngiang di telinganya.
"apa salahku tou-san. Sampai kapan kau akan terus membenciku seperti ini" suara itu nyaris selirih embusan angin.
Sepasang manik emerald milik pemuda bersurai merah memperhatikan naruto dalam diam. Bola matanya terus mengarah pada naruto yang kini terduduk dilantai dengan kepala menunduk dalam. Kedua lututnya yang terlipat menyangga kedua lengannya dengan kesepuluh jarinya bertaut erat.
"...ra, gaara?"
Gaara tersentak saat mendapati tangan deidara berada di bahunya. Seperti orang yang kebingungan, gaara memperhatikan temannya satu persatu. Entah sejak kapan keempat temannya itu sudah berdiri di belakangnya
"kau kenapa? Melamun hmm?"
"tidak. Kita pergi"
Keempat pemuda itu hanya saling pandang tak mengerti melihat sikap aneh gaara barusan.
"hey gaara, tunggu" suara cempreng deidara menggema di sepanjang koridor, lalu ia berlari mengejar gaara yang sudah jauh berada di depannya
"selamat datang tuan muda" iruka, sang kepala pelayan uchiha menundukkan kepalanya saat menyambut kepulangan sasuke
"Hn"
"saya akan segera menyuruh maid menyiapkan makan malam untuk anda"
"tidak usah, aku sudah makan diluar tadi"
"tuan besar-"
"ayah tidak pulang. Sehabis rapat tadi dia langsung terbang ke kyoto untuk urusan bisnis" potong sasuke seakan tau apa yang ingin ditanyakan oleh iruka yang sedari tadi berjalan mengikutinya dari belakang
Fugaku memang sering melibatkan sasuke dalam rapat-rapat penting perusahaan. Kejeniusan anak nya itu selalu membuat para rekan bisnisnya berdecak kagum dan berakhir dengan penandatangan kontrak untuk proyek besar yang sangat menguntungkan perusahaan
Langkah kaki pemuda raven itu terhenti saat mendapati naruto tidur di sofa panjang ruang keluarga dengan keadaan tv yang masih menyala "kenapa dia tidur disini?" sasuke melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam
"maafkan saya tuan muda. terakhir kali saya tinggalkan, tuan muda naruto masih asik menonton dvd"
Sasuke memperhatikan luka-luka di tubuh adiknya itu dengan seksama. Peristiwa perkelahian naruto dengan angota akatsuki telah ia dengar dari shikamaru, sahabatnya. Tapi ia tak menyangka kalau luka-luka yang di dapat oleh naruto akan separah ini.
"apa kau sudah memanggil kabuto untuk mengobati luka-lukanya?"
"sudah, tapi tuan muda naruto menolak untuk bertemu kabuto-san. saya sudah membujuknya agar mau diobati oleh kabuto-san. saat kabuto-san datang, tuan muda naru mengunci dirinya dikamar. kabuto-san hanya meninggalkan beberapa obat untuk diminum oleh tuan muda naruto"
Penjelasan iruka sama sekali tak membuat sasuke terkejut. Karna ia tau dari dulu naruto memang paling benci dengan hal-hal yang berhubungan dengan medis, baik itu dengan obat-dokter-rumah sakit atau ruangan serba putih yang menjadi ciri khas sebuah rumah sakit. Kebencian pemuda itu muncul karna peristiwa 7 tahun yang lalu
"aku akan membawanya ke kamar, kau bereskan semua ini"
"baik" iruka mulai membereskan ruang keluarga yang berantakan oleh beberapa kaset dvd, buku-buku pelajaran tuan mudanya itu, lalu beberapa bungkus kue kering dan cup ramen
"satu lagi, kau buang semua persedian ramen milik naruto. Aku tidak suka dia memakan makanan menjijikkan itu. kau paham iruka"
"ya, saya mengerti"
Sasuke berjalan mendekati sofa tempat naruto tidur. Satu tangan ia selipkan di bawah tengkuk leher adiknya itu, sementara tangan satunya lagi sudah berada di bawah lipatan siku kaki pemuda pirang itu. Dengan hati-hati, ia menggendong naruto yang masih tertidur menuju kamar adiknya yang terletak di lantai dua.
Perlahan, sasuke membaringkan tubuh naruto di atas tempat tidur, Menarik selimut tebal bermotif awan biru hingga menutupi dada naruto. Dalam diam, manik gelap pemuda raven itu terus mengamati sosok sang adik. Menatap dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan. Dengan ekspresi wajah yang juga tidak bisa dibaca.
"maafkan aku naruto" gumamnya lirih
Empat hari kemudian
Jika kebanyakan orang lebih memilih untuk berada di tempat yang teduh saat matahari di kota tokyo bersinar dengan sangat terik, maka sekolah konoha internasional akan membuat pengecualian untuh siang hari ini.
Mungkin kalian akan bertanya kenapa lapangan basket outdoor sekolah tersebut di padati oleh sejumlah siswa, dan kalian akan mendengar...
"kyaaaaa...sasuke-kun kerennnn"
"gaara-kun...daisuki"
"sasuke senpai..."
"gaara senpai..."
"cih, apa-apan teriakan mereka itu. merusak pendengaran ku saja" decak kesal seorang pemuda dengan tato segitiga terbalik di kedua pipinya
"hahahaha...bilang saja kau iri dengan kemampuan mereka kiba" komentar naruto tanpa melepas pandangannya dari para anak kelas tiga yang sedang bermain basket, mungkin lebih tepatnya pandangan pemuda blonde itu terus tertuju pada laki-laki bersurai raven yang kini sedang melakukan passing
"aku tidak tertarik dengan olah raga itu. jadi tak ada yang perlu aku irikan dengan kemampuan mereka" kiba memandang naruto yang berdiri disampingnya. melihat naruto yang terus tersenyum dengan pandangan terfokus ke tengah lapangan, ia pun mencoba melihat objek yang sedang menyita perhatian sahabat pirangnya itu.
Uchiha sasuke, harusnya kiba sudah bisa menebak orang itu dari awal. Uchiha naruto, bisakah sehari jasa kau tidak memperhatikan kakak laki-laki mu itu secara diam-diam.
"bisakah kau hentikan senyuman bodoh mu itu saat melihat sasuke senpai naruto? Bukankah kalian tinggal satu rumah. Apa kau tidak bosan melihat wajah orang itu setiap hari hah?"
"Ehh?" naruto menatap kiba bingung "apa maksudmu kiba?"
"bukan apa maksudku, tapi kapan kau akan jujur mengenai perasaanmu itu padaku naru. Apa kau masih menganggap aku ini sebagai sahabat hmm?"
'mungkinkah kiba tau kalau aku mencintai sasuke-nii?' tanya naruto dalam hati
"aku sudah tau, tapi hanya berpura-pura tidak tahu selama ini" sapphire milik naruto melotot sempurna mendengar ucapan kiba. Benar-benar tak menyangka perasaannya bisa dengan mudah diketahui oleh sahabatnya itu. pandangannya kemudian tertuju pada sasuke. Takut jika ternyata anikinya itu juga tau dengan perasaannya itu. karna kiba yang memiliki otak dibawah rata-rata saja bisa tau, apa lagi dengan sasuke yang memiliki otak super jenius.
Demi kami-sama. maka naruto terselamatkan untuk kecemasannya yang satu itu.
Tahukah kau naruto, bahwa seorang uchiha sasuke juga mempunya kekurangan? Dan kekurangan itu adalah ketidak pekaannya terhadap perasaan cinta yang kau punya untuknya. Karna pemuda raven itu juga mempunyai masalah yang sama denganmu.
BRUKKK
"aarrrgghh..." gaara jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya.
"apa masalah mu uchiha!" bentaknya marah karna ia yakin tadi sasuke dengan sengaja melempar bola basket itu ke arahnya
"tanganku tadi licin, jadi passing ku sedikit meleset dan mengenai kepalamu
Uchiha sasuke seorang pembohong besar. Semua orang juga tau kalau posisi gaara tadi bukan berada dalam area untuk memberikan passing pada teman setim pemuda raven tersebut. Jelas-jelas mereka semua melihat di dekat gaara tidak ada teman-teman setim sasuke yang berdiri di sana. Melakukan passing pada gaara yang jelas-jelas tim lawan? jangan konyol. Sasuke memang sengaja mengarahkan bola itu pada gaara, dan itulah kenyataan yang sebenarnya
Gara segera berdiri setelah dibantu oleh nagato "brengsek! Kau sengajakan membuatku celaka! Dasar uchiha sialan"
BUKKK
"kyaaaa..." teriak beberapa siswi panik saat melihat darah mengalir di wajah pemuda berambut pirang
Entah sejak kapan pemuda itu berdiri di depan sasuke dan mengorbankan wajahnya untuk menerima pukulan dari gaara.
"k-kau" gaara tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat mendapati pelipis sebelah kanan pemuda itu mengeluarkan darah akibat pukulan kerasnya barusan.
Tak jauh berbeda dengan ekspresi gaara, sasuke juga tertegun saat mendapati tubuh adiknya sudah tergeletak di lapangan basket dengan darah yang terus mengalir di wajahnya
"naruto!" teriak kiba di pinggir lapangan, kemudian berlari menghampiri sahabatnya
"apa yang kau lakukan bodoh" dengan hati-hati, kiba membantu naruto duduk
"a-aku baik-baik saja kiba, aarggh..."
"aku akan membawamu ke ruang kesehatan. Lukamu harus segera di obati"
"aku tidak suka pergi keruangan itu" tolak naruto.
"jangan keras kepala, darah mu itu harus segera di hentikan"
"aku tidak mau kiba, argghh..." rintihan kesakitan itu kembali keluar saat sebuah tangan mencengkram lengannya, memaksa tubuhnya untuk segera berdiri
"senpai" kiba menatap taajam sasuke yang kini menarik paksa tubuh naruto
"aku yang akan membawanya ke ruang pengobatan" tandas sasuke
"aku tidak mau nii-san. Aku benci tempat seperti itu" tolak naruto yang masih bersikeras tak ingin pergi keruang kesehatan. Namun sasuke tak peduli, ia tetap menarik paksa naruto meski pemuda itu terus meronta
"nii-san!" dengan kasar, ia melepaskan tangannya dari cengkraman sasuke. "aku tidak mau. Tidak mau. Tidak mau" kalimat penolakan itu terus ia ucapkan.
"NARUTO!" teriak sasuke marah. Sasuke menatap naruto dengan bara kemarahan yang berkilat di kedua matanya.
Semua orang yang berada disana nyaris tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Untuk pertama kalinya dengan mata kepala mereka sendiri, seorang uchiha sasuke bisa mempunyai ekspresi layaknya manusia normal lainnya. Ohh ingatkan para maniak fans pemuda raven itu untuk berterima kasih kepada uchiha naruto yang telah membuat si pangeran es sekolah mengeluarkan ekspresi yang begitu...KEREN!
Mereka saling berhadapan. Naruto menatap diam. Pada seseorang yang berdiri sangat dekat di hadapannya, uchiha sasuke.
"nii-san..."
"terserah..." ucap sasuke kemudian. "apapun yang ingin kau lakukan. Apapun yang terjadi. aku tidak akan peduli lagi" sasuke berbalik, meninggallkan lapangan basket tanpa pernah lagi melihat kebelakang.
Naruto terguncang. Ada permohonan yang menggila dalam diam. Agar sasuke menoleh, sesaat saja. agar ada alasan untuk menahan langkah pemuda raven tersebut. Bahkan kalau perlu ia akan mengikuti semua perintah sasuke. Ia akan bersedia pergi dengan sasuke ke ruang kesehatan untuk mengobati lukanya, atau bila perlu kerumah sakit sekalian.
Terlambat!
Sasuke berbelok dan akhirnya...menghilang!
Kiba menatap naruto dengan pandangan nelangsa, kemudian dihampirinya sosok rapuh naruto "kita pergi naruto"
Naruto mengangguk lemah. Menerima rangkulan kiba di bahunya tanpa perlawanan. Cowok pirang itu telah menemukan kembali ketenangannya. Ketenangan palsu yang berhasil menipu semua mata, Karna rangkulan sahabat baiknya itu telah mengaburkan KETERJATUHAN naruto dengan sangat sempurna.
Tapi, ada yang dilihat gaara namun tidak dilihat orang lain. Kembalinya reaksi tenang naruto yang tiba-tiba adalah luka serius yang tersamarkan.
Lain halnya dengan naruto yang selalu bisa menyembunyikan rasa sakit yang bersarang dihatinya hanya dengan sebuah senyuman, maka sasuke tak akan pernah bisa melakukan hal yang sama. cowok itu butuh pelampiasan setelah ia merasakan rasa sakit itu kembali berdenyut dalam hatinya, agar ia bisa mendapatkan kembali ketenangan sempurna milik uchiha. Dan dalam sebuah ruangan bertuliskan "ruang penyimpanan alat" tergantung di atas pintu, sasuke mengamuk seperti orang kesetanan.
"brengsek!"
PRANGGGG
Sebuah cermin besar yang bersandar di dinding tak lagi berbentuk saat sasuke meluapkan kemarahannya dengan meninju cermin tersebut tanpa ragu. Tak dihiraukannya cairan merah kental yang perlahan jatuh di atas lantai.
"lupain apa yang kau ucapkan tadi dan minta maaf padanya" ucap shikamaru yang telah bersandar di ambang pintu
"Tck, jangan bercanda" sasuke berdecak kesal mendengar ucapan shikamaru yang terdengar seperti sedang mengguruinya
"kalau gitu maafkan dia" kali ini sai angkat bicara "tapi kalau kau ngak mau ngelakuin ke duanya, lepasin dia. Jangan begini. Maafin ngak mau, ngelepasin juga ngak mau. Menyengsarakan diri sendiri saja"
Sasuke menatap tajam ke arah sai yang berdiri disamping shikamaru. Pemuda itu membalas tatapan sasuke dengan senyuman kaku yang menjadi ciri khas pemuda itu "jangan ikut campur"
"jangan bersikap kekanak-kanakan sasuke. Sikapmu tadi terlalu berlebihan. Harusnya kau sudah tau apa alasan naruto bersikeras tak mau mengobati lukanya di ruang kesehatan. kau lebih tau tentangnya dari siapaun bukan"
Sasuke tak mengubris perkataan shikamaru. Pemuda raven itu hanya berjalan keluar dan melewati kedua temannya begitu saja
"dasar kerasa kepala" shikamaru menghela nafas, benar-benar putus asa menghadapi sasuke dan sifat tsunderenya itu.
Dalam sebuah apartemen dengan desain mewah serta dipenuhi perabotan dan alat-alat elektronik mahal, seorang pemuda dengan sebuah telfon yang bertengger di telinga sebelah kanannya, berdiri menghadap kaca trasparan yang menyuguhkan indahnya pemandangan kota tokyo di malam hari dari lantai 29.
"aku ingin kau menyelidiki seseorang untukku" ucap pemuda tersebut pada seseorang yang bera di ujung telfon sana
[...]
"namanya uchiha naruto. Aku ingin laporan tentang pemuda itu secepatnya"
KLIKK
Sambungan telfon keduanyapun terputus
arigatou minna buat semua reviews, favorite dan buat yang udah follow. awalnya sempat pesimis buat upload cerita sasunaru dengan alur kayak gini, tapi karna responnya positif, aku punya alasan buat ngelanjutinnya.
review please.
