Save Me
.
.
Park Jimin x Min Yoongi
And others / Oc
BL
.
,
'Pegang aku erat, peluk aku
Bisakah kau percaya padaku?
Aku akan menjagamu, aku akan menyelamatkanmu
Tolong, raih dan peluk aku'
.
.
Pagi ini Min Yoongi datang kekampusnya seperti biasa. Dengan menggunakan kemeja kotak-kotak yang tak terkancing menampilkan tshirt putih didalamnya, dan memakai ripped jeans, serta sepatu puma rihanna black sole, tidak lupa pula baseball caps yang bertengger dikepalanya melengkapi busananya hari ini.
"Ahhhhh, aku masih mengantuk. Ini semua gara-gara Park Jimin sialan itu." Gumam Yoongi kesal. Ia hanya tidur 3 jam, hampir semalaman ia tak bisa melupakan wajah humor Jimin. Mengigat saat ia memeluk dan dipeluk oleh Jimin. Aroma itu? Aroma yang Yoongi sukai bahkan seperti mengelilingi hidungnya.
.
.
Ditempat lain diwaktu yang bersamaan Jimin memesan latte kesukaannya dicafe dekat kampusnya. Setelah selesai ia berjalan menuju kampus dan menemui orang yang ia bahkan tak yakin sedang merindukannya.
"O, itu' itu MIN YOONGI?" Ia berlari dengan semangat mendatangi Yoongi yang sedang berjalan dengan malas itu.
"Yoongii-yaaa" Jimin berteriak dan menggapai kedua bahu Yoongi, siapa saja pasti akan kaget jika diperlakukan seperti itu.
"Astaga. YAAKK! Kau ingin mati -"
Lalu Yoongi terdiam sejenak menatap wajah Jimin ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat kini. 'apa aku bermimpi, Tuhan, mengapa kau mempertemukan dia padaku lagi.' Gumam Yoongi dalam hati.
"Min Yoongi, Yoongi-aa kenapa diam? O' apa mungkin kau merindukanku? Apa kau bermimpi tentangku? Apa kau ingin memelukku? Kemarilah!" Sambil membuka tangannya dengan senyum mengambang manis diwajahnya.
"IN-YOUR-DREAM" Balas Yoongi dengan tekanan disetiap katanya.
Dan berjalan melewati Jimin, yang ada dihadapannya. Melihat itu Jimin mengulum senyumnya 'Ya Tuhan, lucunya.'. Tidak ingin tertinggal Jimin berjalan lagi pada Yoongi dan lucunya ia berjalan maju namun dengan tubuh yang terbalik mengiringi Yoongi.
"Yoongiii, Yoongii-aaa, Min Yoongiiiii." Suara yang Jimin keluarkan membuat Yoongi kesal, karna Jimin mengeluarkan ekspresi imut memohon saat mengatakannya.
"Kau terlihat tampan hari ini. Pakaianmu bahkan sangat cocok ditubuhmu." Lontar Jimin.
"HAH" Yoongi menghentikan langkahnya sambil menunjukan wajah bingung atas kata-kata Jimin.
"Kenapa? Haruskah aku menyebutmu Cantik?" jawab Jimin mendengar reaksi Yoongi tadi.
"Aaakkhh, Lupakan!" Yoongi kesal.
"Tunggu!" Jimin memasukkan kedua tangannya kesaku celananya, menundukkan wajahnya, mendekatkan hidungnya kearah mulut Yoongi.
Pemilik mulut pun sontak kaget atas apa yang dilakukan orang dihadapannya.
"Ya, Yoongi kau sangat tampan tapi, kenapa makan ramyeon dipagi hari. Kau harus mengkhawatirkan kesehatanmu." Jimin mulai mengubah posisinya seperti semula. Yoongi makin membuka matanya
"Akh, astaga. Seseorang tolonglah aku. YAAK! Apa kau sudah gila, yang harus ku khawatirkan sekarang bukan kesehatanku, tapi gerak-gerikmu yang, astaga." Yoongi sangat kesal ia hampir gila karna bertemu Park Jimin, yang ia sebut sialan itu.
"Yoongi-hyung." Tidak jauh dari tempat mereka berdiri seseorang terdengar memanggil Yoongi, sontak Yoongi melihat kesumber suara.
"Oh' Taehyung-aa." Balas Yoongi.
Yang disebut namanya itu pun berjalan menuju Yoongi,
"Hyung, sedang apa kau disini. O' Jimin-ah." Dengan muka bingung Jimin memandang Taehyung.
"Tae-ya. Hyung?" balas Jimin sambil menunjuk Yoongi.
"Emh, hyung, kenapa?"
"Kenapa kau memanggilnya dengan sebutan hyung?" Jimin masih bingung dengan kata-kata Taehyung,
"Dia setingkat lebih tinggi dariku, tepatnya dari kita." Jelas Taehyung.
"Benarkah, aku kira kita seumuran." Jimin sambil menunjuk Yoongi.
"Waaaah, berarti selama ini kau perperilaku tidak sopan terhadapku, ah- lupakan. Tae-ya bisakah kau menyelamatkan aku dari namja mesum ini." Yoongi dengan malas.
"Mesum? Yak! Apa yang kau lakukan pada hyungku."
Yoongi meninggalan mereka berdua 'Akhirnya aku bebas.'
.
.
"Jimin-aa, bagaimana bisa kau mengenal, Yoongi-hyung? Dia orang yang jarang akrab dengan orang lain." Tanya Taehyung penasaran.
"Wah berarti aku orang yang beruntung. Ceritanya panjang tapi jika kau ingin tau akan kupersingkat. Aku menabraknya-aku membawanya ke apartemenku-aku tidur dengannya. Selesai." Taehyung mencengkram kerah Jimin
"YA! Apa yang kau lakukan padanya?" Jimin tertawa mendengar reaksi Taehyung dan,
"Tenanglah aku tak berbuat lebih, aku hanya tidur sambil memeluknya."
"Uuuwwaahh, apa kau sudah tidak lurus setelah putus dengan Kim Nana?". Masih dengan senyum dibibirnya
"Aku sudah tidak lurus setelah bertemu seorang Min Yoongi. Tapi, bagaimana kau tau kalau aku putus dengan Nana?".
"Come on man! Satu gedung besar ini tau kau sudah putus dengannya. Kim Nana dan pacar barunya berjalan dengan berpegangan tangan, tidak mungkinkan ia melakukan itu disaat masih ada hubungan denganmu. Jadi semua menyimpulkan bahwa kau telah putus dengannya. Dan kau mau tau fakta lainnya yang hanya aku yang tau?" Jimin penasaran dengan pertanyaan Taehyung dan mengguk dengan semangat.
"Pacar baru Kim Nana adalah Jung Hoseok, tepatnya mantan pacar Yoongi hyung. Dan mungkin mereka putus berbarengan dengan putusnya kau dengan Kim Nana" Taehyung sambil berbisik.
Jimin membelakakan matanya tidak percaya.
"Jadii," ia memotong ucapannya,
"Jadi apa?" Tanya Taehyung.
"Lupakan."
.
.
Seakan Tuhan telah menyusun cerita mereka dengan baik, Jimin masih memikirkan kata- kata,
"- Ah, bahkan aku ingin berterima kasih padamu, karna telah menabrakku, sebenarnya saat itu perasaanku sedang tidak baik. Aku hanya ingin seseorang menabrakku."
"—Mantan pacarku, adalah seorang, nnamja-"
Jimin POV*
Kami bahkan bertemu didisaat sama-sama patah hati mungkin. Aku tersenyum dengan gumaman ku. Dari awal sampai akhir kelasku, aku hanya memikirkan Min Yoongi. Aku akui perasaanku padanya belum sepenuhnya kuyakini, aku takut aku bersikap seperti ini hanya karna menjadikan Min Yoongi sebagai pelampiasan atas Nana.
Kelas berakhir, aku raih ranselku dengan semangat. Mungkin kalian tau apa yang kurencanakan? Ya, aku ingin sekali bertemu dengan namja pucat dengan surai abu-abu itu. Aku menelpon Taehyung mencoba meminta nomor ponselnya
"Tae-ya, berikan aku nomor ponsel Min Yoongi, please!"
"Ah, malas itu privasi, minta lah padanya. Aku sedang ada urusan, kututup- "
"Taehyung-a tunggu, tunggu, satu pertanyaan saja, biasanya jam segini dia dimana?"
"Aiissh, kau menyebalkan. Biasanya jika kelasnya tlah selesai mungkin ia diruang musik, atau diperpustakaan carilah disana!"
"Ahhh, baik lah terima kasih Taehyung-aa, chu-chu-c, astaga ditutup."
Aku berjalan ketempat yang lebih dekat dengan ku dulu 'ruang musik', tapi aku tak menemukannya. Tidak akan menyerah aku mencarinya ketempat yang dikatakan Taehyung tadi, perpustakaan.
Beruntungnya aku saat aku menuju perpustakaan, ia keluar dari ruang itu. Aku berlari mendekatinya. Ia memasang wajah kesal, saat melihatku, tapi wajah itu tetap lucu bagiku.
"Yoongi-hyung." Ia menatapku dengan wajah lebih lucu dan mungkin terlihat imut, aku sangat menyukainya.
"Ayolah, jangan sok akrab denganku. Karna aku sunbaemu, panggil aku sunbae saja dan menjauhlah aku ingin sendiri."
Aku kecewa disaat Taehyung dengan bangga memanggilnya dengan sebutan 'hyung' aku tak ingin kalah dan memanggilnya 'sunbae'. "Kau memang akrab denganku, kau bahkan memelukku. Apa kau tak ingat?"
"Emh, aku tak ingat. Menjauhlah jangan menghalangi jalanku."
"Baiklah, jika kau tak mengingatnya. Atau' mau kuingatkan?"
Tanpa menunggu jawabannya, aku memeluknya dengan erat, ia meronta tapi aku tetap memeluknya. Merasa tenagaku lebih kuat darinya, Yoongi-hyung menginjak kakiku, yeah itu sakit aku meringis,
"Akkkk, sakit hyung."
"Apa peduliku, siapa suruh memelukku. Dan, Yakk! Ini tempat umum." Aku serusaha sangat keras untuk menyimpan tawaku, astaga ia sangat lucu.
"HAH, tanpa hyung sadari, kata-kata tadi seperti menyuruhku memelukmu ditempat yang sunyi."
"Lupakan, aku malas berdebat dengan namja mesum sepertimu."
Aku sebenarnya adalah namja yang serius, serius dalam artian malas untuk bercanda. Tapi entah kenapa setelah dihadapan Yoongi-hyung aku selalu ingin menggodanya dengan candaanku.
.
.
Author POV*
Mereka berjalan beriringan, dengan Jimin yang setia memandang Yoongi. Yoongi yang dipandangi pun tidak menghiraukan orang disebelahnya, ia malas melakukan apapun dan memilih untuh diam,
"O' kenapa berhenti hyung?" Jimin menyadari ekspresi wajah Yoongi berubah, baginya tak ada kesan lucu lagi diwajahnya.
Jimin menghadap kearah dimana manik Yoongi memandang dan, dihadapannya, ada pasangan yang saling berpegangan erat.
"Hyung?"
"Jimin-aa?"
Jimin mematap Nana, Yoongi menatap Hoseok. Tiba-tiba saja Yoongi memegang erat lengan Jimin,
"Jimin-ahh, soal rencana kita tadi bisakah kita, bicarakan sekarang?" Jimin bingung atas kata-kata Yoongi namun, ia mencoba mengerti dan peka,
"Oh' oh, baik lah!"
Yoongi memindahkan tangannya yang tadinya berada dilengan Jimin kini beralih ketangan Jimin dan menariknya dengan kuat, pemilik tangan hanya menurut dan mengikuti kemanapun Yoongi berjalan. Jimin meringis tanpa suara, ia melihat kearah tangannya. Yoongi mencengkram tangannya dengan sangat kuat. Namun, Jimin hanya menahannya, ia yakin tahan dengan cengkraman kuat yang memutihkan telapak tangannya kini.
Mereka memasuki lift, kampus ini memang terkenal bagus, bahkan memiliki lift didalamnya, tidak mungkin gedung bertingkat ini hanya memiliki tangga bukan? Oke lupakan tentang lift, Yoongi dengan ragu memencet nomor lantai paling atas, Jimin ingin bicara tapi ia tahan dan hanya mencoba memanggil Yoongi singkat,
"Hyung?",
"Diam!"
Tidak nyaring memang, tapi itu adalah kata-kata singkat yang mampu membisukan seorang Park Jimin, bukan hanya kata 'diam' itu tapi juga karna, suara Yoongi tidak seperti suara yang biasa Jimin dengar.
Lift terbuka, ruangan yang tidak terlalu terang terlihat dari dalam lift, Yoongi berjalan menuju pintu yang akan membawa mereka keatap gedung besar ini. Masih dengan tangan yang mencengkram tangan Jimin, dan tangan yang lainnya menggapai knop pintu. Dengan penuh harap Yoongi membukanya dan berjalan keluar.
Yoongi menghentikan langkahnya, posisinya beralih menghadap Jimin, dilepasnya tangan yang mencengkram tangan lawannya.
'Hyung, kenapa kau lepas? Aku lebih suka kau menarik tanganku dengan kasar seperti tadi dari pada hanya diam didepanku, berbicaralah hyung, kumohon!' gumam Jimin dalam diam, ia ingin sekali benar-benar mengucapkannya.
Terduduk? Yoongi terduduk dihadapan Jimin. Ia menangis layaknya seorang anak yang tersesat ditempat yang ramai.
"Hyung, kau kenapa hyung, apa ada yang sakit, oh' hyuuuung?" Jimin panik, ia tak tau harus berbuat apa melihat Yoongi yang semakin meninggikan tangisannya.
Jimin POV*
"Hyung, kau kenapa hyung, apa ada yang sakit, oh' hyuuuung?"
aku tak tau harus apa, ia menangis dihadapanku, aku pernah melihat Nana menangis tapi aku tau harus apa, aku akan meninggalkannya karna ia ingin sendiri, tapi lain dengan orang dihadapanku ini, aku tak mungkin meninggalkannya.
Sesak, ada apa ini mengapa hatiku lebih sesak melihatnya dari pada saat Nana meninggalkanku, 'Oh Tuhan ada apa denganku?'. Yoongi-hyung membuka mulutnya aku hanya berharap ia mengatakan sesuatu,
"Jimin-aa, sakit Jimin-aa, aku harus bagaimana, aku masih menyayangi Hoseok, aku tak tahan melihatnya dengan ceria bersama yeoja disampingnya. Jimin-aa tolong selamatkan aku." Ia berbicara nyaring, sambil meneteskan air mata yang tidak sedikit.
Aku memalingkan wajahku kesegala arah, aku ingin marah, perkataannya membuatku sakit, sakit karna ia masih menyukai Jung Hoseok sialan itu. Aku kira aku akan mudah mendekatinya tapi, ternyata ia. Akkhhh, aku ingin sekali meneriakinya, lupakan hoseok, sekarang pikirkanlah aku.
'Pegang aku erat, peluk aku
Bisakah kau percaya padaku?
Aku akan menjagamu, aku akan menyelamatkanmu
Tolong, raih dan peluk aku'
"Berdiri, hyung!" aku menunduk dan meraih bahunya, aku senang ia menurut perkataanku.
Aku mengusap pipi yang basah akan air mata itu, ia hanya memejamkan matanya, namun isakan tangis masih terdengar. Kutangkup kedua pipinya,
"Hyung, buka matamu, lihat aku, hyung. Hyung apa kau tau, orang yang ada disebelah mantan pacarmu adalah mantanku, hyung. Aku sama sepertimu, sakit memang tapi aku bisa apa, aku senang melihatnya bahagia walau itu bukan denganku. Jangan menangis hanya karnanya, padahal kau sudah siap bukan. Jika melihatnya, aku tau didalam hatimu berteriak 'kau kuat Min Yoongi' apa aku betul? Jadi, berhentilah menangis, kau memintaku menyelamatkanku? Oke, aku siap kapan pun kau mau. Aku akan membunuhmu, jika menangis karna namja itu didepanku lagi, aku akan memaafkanmu kali ini. Jadi kemarilah!"
.
.
Author POV*
Jimin menghambur pelukannya pada Yoongi. Yoongi hanya diam menanggapinya namun, ia menangis lagi. Ia raih leher Jimin melingkarkan tangannya disana, dan menengelamkan wajahnya. Menghirup serakah aroma yang keluar ditubuh Jimin, karna Yoongi yakin aroma tubuh Jimin yang nyaman mampu menenangkannya.
.
.
Tbc
Akhirnya selesai ch2nya,
Sebenarnya ada yang bikin aku baper di ch ini, aku yang nulis tapi aku juga yang baper hihi. Dibagian Yoongi nangis pas lagi ngebayangin, dilaptop malah keluar lagu Love Is Not Over, astaga perpaduan yang pas pikirku. Ngebayangin Yoongi yang punya sifat yang kita semua tau, tiba-tiba nangis gitu.
Btw, makasih yang udah baca, yang ngereview, ngefollow, ngefavs ch sebelumnya, dan bagi yang baca diam-diam, juga.
Buat:
Jimsnonaa: emh, gemesnya sama Jimin, apalagi ngebaca doi pas mulai belok, sambil nginget wajahnya pas lagi ketawa, sama senyum wahh, cocok banget menurutku. Thank for review, jadi semangat nulisnya.
07: hihi. Thank for review.
GithaCallie: udah tuh, ikutin terus yakkk. Thank for review.
Reniependi07: kita sependapat, hihi. Thank for review.
Phylindan: Min Yoongi, pembawa virusnya, hihi. Thank for review dan udah nyemangatin.
