はお姫様じゃない! I'm Not a Princess!

.

.

.

Aku bukan Tuan Putri!

.

.

A Vocaloid Fanficton,

All Character own by their owner ._.)v

.

.


menerima segala kritikan di review~~ happy reading.. :D


Thanks to.. (balesan review ^^)

Sae Hinata : Iya MikuKai x) aku suka pairing ini/wks/ beneran bagus kah? makasih banyakk ^^ ini updatenya udah kilat belum?belum ya? maaf hehe /u\

BlackLapiz : Iyaa Himedere x) aku mgkin nanti juga nambahin sifat tsundere ke Miku sih~~~ Pairingnya.. silahkan lihat saja nanti, ikuti terus yaa /promosi/dibakar/

Ryuuna Hideyoshi : Ehehe.. Miku Egois karena dia Himedere/eh/yah, itu sifatnya miku sih sebenernya :D , tapi...

YamiRei28 : ehehe maaf Mikunya terlalu Egois Maaf Mikuuu/Ditendang Miku/ oke oke.. makasih fave&follow nya~ :D

Nah, langsung aja~~ JEBRETTT! /oi


Aku berjinjit, mencoba menyelinap diantara puluhan siswa lainnya, Tapi yang bisa kubaca hanya tulisan, 'Nilai Ujian Tengah Semester Genap Yamaha High School' Huh, mungkin aku memang pendek, tapi seharusnya aku punya hak untuk melihatnya, kan?!

Aku memaksa diriku berjalan lebih dekat ke papan itu, dan—ah akhirnya—aku berhasil melihatnya, dan segera aku mencari namaku. Tak susah mencarinya, Namaku ada di urutan kedua peringkat UTS kali ini. Dan di bawahku tertera nama rivalku—mungkin?—tapi bukan sekedar rival sih, bisa di bilang dia orang yang dekat denganku. Semester lalu dia berada 1 peringkat di atasku—peringkat 2—dan aku dibawahnya, dengan selisih nilai tak banyak, hanya selisih 1 angka. Aku tersenyum puas, karena berhasil memperbaiki peringkatku. Lalu aku menyelinap lagi, untuk keluar dari segerombolan orang-orang penasaran itu.

"Miku-chan!" Aku mendengar suara yang familiar, sontak aku menoleh dan tersenyum,

"Hai Luka," Aku mengangkat tanganku, menandakan aku menyapanya halo

"Selamat, kali ini peringkatmu ada di atasku!" Ucapnya sambil menepukkan kedua tangannya.

Aku hanya mengangguk, "Mungkin karena aku jarang bolos di semester 2 ini.."

Dia adalah Megurine Luka, Rivalku—dalam hal nilai pelajaran—dan juga orang yang dekat denganku. Aku sering belajar kelompok bersamanya. Dan itu lebih menyenangkan, tugas-tugasku selesai 2 x lebih cepat, mungkin karena kami sama sama pintar, jadi seperti ada dua otak cemerlang yang menyelesaikan tugas.

"Lho, Miku-chan sering bolos?" Tanya Luka tak percaya

"Eh- Aku belum pernah bilang?" Aku berjalan, mencari tempat duduk terdekat—aku malas berdiri terus—

Luka mengikutiku, "Ah.. sepertinya belum pernah..", Lalu kami memutuskan duduk di bangku dekat perpustakaan, "Kenapa kau suka bolos?" Tanyanya

"Itu karena ada orang bodoh yang selalu memaksaku—ah, dia peringkat berapa ya?" Aku menjawab dengan berbicara mengenai kaito

"Orang bodoh? Siapa?" Luka Memang tidak sekelas denganku, jadi dia tidak tahu siapa yang kumaksud—mungkin—

"Dia, si Bakaito," Aku menjawab enteng sambil menghembuskan nafasku.

"Kaito—Shion Kaito? Oh, tetanggamu itu 'ya?" Tanya Luka, Belum sempat aku berbicara Luka angkat suara lagi, "Kalau dia, Kaito Shion itu, dia ranking 91…"

Aku sedikit kaget, Luka hafal sekali dengan ranking orang-orang, "Berarti ranking 10 dari bawah..? puh, menyedihkan sekali.."

"Haha, tapi dia sepertinya sudah berusaha semampunya deh.." Jawab Luka—Eh—Apa barusan? Luka membela Kaito? Huh, ada apa denganmu, Luka?

"Tidak- tidak, dia santai-santai dan bolos terus, Luka.. dia tidak berusaha keras!"Kataku menegaskan

"Eh…? Miku-chan dekat dengan Shion Kaito ya.." Luka tersenyum, "Ah, kau pacaran dengan dia? Atau kau suka—"

"Tidak, Luka!" Aku menggembungkan pipiku, "Ada apa sih, kenapa kau salah sangka begitu.."

"Ma-Maaf Miku-chan! Habisnya.. kau seperti hafal sekali dengan Shion itu.." Luka menggelengkan kepalanya meminta maaf.

"Hn- Aku kenal dia sejak kelas 1 sd… Tapi itu bukan berarti aku pacarnya atau dia itu orang yang aku sukai! Tidak sama sekali!" Aku berkata dengan sedikit menggebu gebu, menegaskan—berusaha setegas-tegasnya—bahwa aku dan Kaito sebatas teman masa kecil. "Lagipula kau juga Luka, tadi kau hafal sekali waktu aku Tanya soal ranking Kaito kepadamu.."

Luka terlihat menahan nafasnya, "Ah—itu…" Luka menggigit bibirnya, wajahnya seperti merona tipis. Sangat tipis.

"Tunggu Luka, tadi kau juga membela Kaito.." Wajah Luka menandakan dia makin terpojok. Aku tersenyum mengerti, "Oh.. jadi kau suka Kaito ya?"

Hening.

Luka menahan nafasnya. Membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Lalu dengan cepat dia mengangguk, "sebenarnya memang iya.."

Gotcha! "Dugaanku ternyata benar.." Aku tersenyum—semoga ini terlihat manis—

"A-apa terlihat Miku? Terlihat kalau aku menyukainya?" Tanyanya

Aku menggeleng. "Tidak kok,"

Ah, lagi-lagi Kaito menggaet cewek. Apakah dia setampan itu, sampai-sampai Luka yang—menurutku—cantik, manis, baik, dan pintar ini menyukainya? Dan sepertinya Kaito tidak kenal Luka, deh..—ah, padahal dia tidak tahu kalau Kaito sebenarnya orang bodoh yang tidak serius? Aku berharap Luka punya tipe lain—"Luka," Panggilku

"Ada Apa Miku-chan?" Tanyanya, dihiasi senyuman khas Luka.

"Kamu… serius suka Kaito?" Tanyaku

Luka mengangguk, "Aku sudah menetapkannya, Miku. Lagipula… dia bukan pacarmu kan?"

Aku menggelang, "Tidak! Jangan katakan lagi Luka, itu mengganggu..!" Aku menaikkan nada suaraku lagi, "Sudahlah, maaf aku pakai nada tinggi.. tapi aku Cuma teman masa kecilnya kok,"

"Maaf Miku.." Luka menunduk, "Ah, Kalau begitu Miku,…" Luka diam, enggan melanjutkan sepertinya.

"Apa?" Tanyaku,

"Mau bantu aku?" Tanya Luka tiba-tiba

"Bantu..? Bantu apa?" Tanyaku

"Itu… Kaito.." Luka berkata dengan kata-kata yang tertahan

"Baiklah, sebisaku ya. Apa yang harus kulakukan?" Tanyaku dengan santai

Luka tersenyum, tampaknya dia senang mendapat 'akses' menuju Kaito. "Katakan.. Kalau Aku suka Kaito—" Aku menaikkan kepalaku. Jujur aku kaget. Secepat inikah?

Aku mengernyitkan dahiku, sambil melontarkan pandangan tak percaya, aku bertanya sekali lagi, "Apa.. Jadi aku harus apa…?"

Iris mata biruya mengerjap, setengah tersenyum, dia menjelaskan lagi "jadi, Cukup Katakan kalau aku suka Kaito!"

"Luka.. Apa kau serius?" Aku bertanya—untuk yang kedua kalinya—

"Miku, aku sudah memutuskannya dengan baik-baik. Jadi.." Luka tersenyum malu-malu, "..K-Kenalkan aku padanya deh. Ah, t-tapi caranya terserah kamu—"

Aku menghembuskan nafasku, "Aku mengerti. Serahkan buku catatanmu kepadaku, sini."

"Eh?Buat apa?" Tanya Luka yang masih heran

"Nanti Akan kuatur suasananya, dan kusuruh Kaito mengembalikannya kepadamu," Jelasku singkat, "Toh besok kan Free pelajaran, jadi pinjamkan padaku, Luka."

"Ah.. baiklah Miku.." Luka mengambil tas yang ia selempangkan di pundaknya, lalu menyerahkan sebuah buku warna hitam ke abu-abuan kepadaku, "ini.."

"Catetan Fisika, ya? Baiklah Luka. Kalau begitu aku mau pulang dulu," Aku berdiri, "Suasananya akan segera aku atur begitu bertemu Kaito. Kalau bisa secepatnya, akan aku usahakan."

"Baiklah Miku.. terimakasih banyak.." Luka tersenyum, "Sampai jumpa besok..". Aku mengangguk dan pergi, mencari Kaito—dengan semangat—

Tapi langkahku yang tadinya semangat, berangsur-angsur melamban sampai aku berhenti di tengah jalan. "Tunggu—" Aku menggumam, "Kenapa Aku tadi semangat begini? Untuk apa aku membantu fansnya Kaito?! Ini—ini menghabiskan waktuku 'kan?!" Aku mengutuk diriku yang entah kenapa bisa semangat membantu jalur percintaan Kaito.

"Tapi.. Aku yakin Luka berharap padaku.. tapi…" Aku mengeluarkan nafasku dengan sangat—sangaaat—kesal, "Hatsune Miku Bodoh!"

"Hei.. menyingkir dari tengah jalan, " Aku menoleh dengan sinis saat suara yang beberapa minggu lalu kudengar. Suara laki-laki yang sedikit ringan dan tidak berat.

"..Dan berhenti mengoceh sendiri," Ejek Kagamine Len

Aku membalikkan badanku, "Ada masalah dengan itu?!" Aku mendengus makin kesal, saat tiba-tiba ada anak-anak klub basket yang berlari di koridor dan memaksaku untuk menepi

"Ah, Kau tuan putri waktu itu—" Ejeknya saat ikut menepi,

"—Aku bukan Putri!" Aku mengepalkan tanganku dengan malu, "Oh iya—" Aku teringat sesuatu, lalu aku merogoh sakuku

"Apa?"

"Ini uang yang waktu itu," Kataku, "Kasihkan ke Ibu Kantin!"

"Ahahaha.. Kau masih mengingatnya, err—oh ya—Hatsune Miku!" Pemuda itu—Kagamine Len—tertawa, "Kau mau memberinya untuk makan siangku nanti?" Dia bersiap mengambil uang di tanganku

"Tidak! Hei! Aku ini orang yang punya tanggung jawab! Jadi sesuai keputusanku waktu itu, aku mengganti piringnya, bukan untuk makan siangmu!" Aku mencibirnya dengan kesal

"Tidak- tidak, sebenarnya setelah kau dibawa kabur pangeranmu—"

"—Bukan!" Aku menyela dengan kasar.

"—yaya, apalah dia untukmu itu. Aku juga meninggalkan piring pecah itu disana." Jawabnya santai

"huh, dasar tidak terpuji! ya sudah, akan aku bayar sendiri," Aku menyipitkan mataku dengan sinis

"Aku ragu, sepertinya Ibu Kantin sudah melupakan kejadian itu. Telat tahu, udah lewat 3 setengah minggu yang lalu, kau tahu?" CIbirnya balik

"Diamlah, berisik," Aku menggelengkan kepalaku dengan kesal, "Yasudah, aku tidak akan mengingatmu juga kalau begitu—"

"Kenapa?" Tanyanya dengan nada mengejek, mau ngajak berkelahi ya?
"Karena kau terlalu idiot untukku ingat. Cuma membuang memoriku sia-sia." Jawabku sambil bersiap angkat kaki.

"Hei, aku bukan idiot!" Protesnya, sepertinya dia marah?, "Memangnya kau peringkat berapa di UTS kali ini?!"

Aku tersenyum sinis, sepertinya urusan ini aku yang menang deh, "2. Kau akan menemukan namaku dengan mudah disana,"

"Hahaha! 2 Katamu? Aku menang kalau begitu!" Kagamine Len tertawa, jelas sekali mengejek

Tunggu—aku rangking dua, memangnya dia ranking berapa sampai sesombong itu mengalahkanku?

"Aku ini Yang pertama, lho!" Kagamine Len tersenyum sombong

"Sombong." Jawabku singkat, "Tapi.. Tunggu! Tidak mungkin! Orang sepertimu—"

"—Don't judge book from their cover," Selanya, "Kau tahu artinya kan?"

"Tentu saja! Aku bukan orang bodoh! Dan kuulangi, jangan menyela perkataan orang!"

"Yah yah, mungkin aku terkenal sebagai preman sekolah, tapi nilaiku bukan yang terburuk juga, lho." Jelasnya dengan—sangat—sombong, membuatku muak.

"UAS lalu peringkatmu berapa?" Tanyaku

"1… UTS semester lalu juga 1… aku yang pertama kubilang—" Ia tersenyum mengejek lagi, "Dan, buku siapa itu yang kau bawa?... Megurine Luka? Ah, Yang rankingnya disekitaranmu itu ya?"

"Iya aku tahu kau pintar! Sudahlah diam, ini memang punya Luka—" Itu mengingatkanku, aku harus mencari Kaito lalu cepat menyelesaikan urusan Luka dan Kaito, "—sudahlah, aku tidak ada waktu denganmu!"

"Mau kau apakan? Menyalin catatan?" Kagamine Len bertanya sesuatu yang bukan urusannya. Dan itu tidak penting!

"Mau aku apakan juga bukan urusanmu!" Aku menjawab dengan ketus, "Tidak penting—" Aku bersiap berjalan, melangkahkan kakiku untuk mencari Kaito,

"Oh ya, soal Megurine Luka…" Tidak, Cowok sialan itu menahanku dengan kata-katanya, aku terpaksa berhenti untuk menjawab rasa penasaranku,

"Dia suka dengan pangeranmu itu lho—yang rambutnya biru," Kata Kagamine Len.

"Oh, aku sudah tahu." Jawabku singkat, lagi-lagi tidak penting..!

"..oh ya, kau cemburu 'ya?" Kata-Kata Kagamine Len menahanku—lagi—

"Tidak, jangan ngawur!" Aku menggeleng, "Dan dari mana kau tahu Luka suka Kaito?"

"Wah, bahkan kalian memanggil dengan nama kecil, so sweet sekali. Megurine itu anak kelasku," Kagamine Len menjawab dengan cepat. "..Kau pacarnya Cowok berambut biru itu?"

"Bukan! Sungguh Bukan!" Aku benar-benar ingin ngamuk di sini, "Kenapa semua Tanya begitu sih?! Aku bukan Pacarnya! Suka aja enggak! Aku dan dia teman masa kecil! Tetangga! Kau sudah puas?!" Aku meluapkan sebagian amarahku di sini.

"Oh.. yaya, mengerti.." Kagamine Len mengangguk, "Dan namamu..?"

"Hatsune Miku!" Aku menjawab dengan ketus, "Sudah, aku buru-buru—"

"Hatsune, panggil aku Len, ya!" Tiba Tiba Kagamine Len—Len—menepuk pundakku dengan santainya, ini jelas menahanku. Aku memperhatikan mata birunya yang bertatapan langsung denganku, tinggi badannya hampir sama denganku, yah, lebih tinggi dikit sih,

Ah—Tanpa sadar kami saling memandangi mata satu-sama-lain dengan tangannya di pundakku, aku jadi ngeri. Buru-buru kututup mataku, dan bergerak—melepaskan tangannya dari pundakku—"Yaya, mengerti, Aku mengerti. Tapi demi Apa?!" Aku mundur beberapa langkah

"Aku lebih suka dipanggil seperti itu." Jawabnya

"Memangnya aku peduli dengan kesukaanmu?!" Aku mendengus, "Kagamine saja!"

"…" Kagamine terdiam, "…yah, baiklah," Lalu dia mengangguk

Aku melangkah, bersiap pergi. Dan saat itu juga, aku melihat seorang cewek yang perangainya seperti Kagamine—berambut pirang, dengan mata biru khas Kagamine—berlari ke.. arahku? Ah, tapi aku salah, dia berlari ke arah Kagamine.

"Len..!" Panggilnya dengan senyuman manis, "Hei, peringkatku naik lho! Aku peringkat 36, Len!" Wajahnya terlihat bergembira sekali.

"Rin.. kalau begitu kau masih kalah dengan gadis twintail itu.." Tunjuk Kagamine kepadaku, Aku hanya tersenyum saat gadis yang menghampiri Kagamine tadi tersenyum kepadaku.

"Siapa?" Tanya gadis itu.

"Tanya Sendiri," Kagamine menjawab enteng, Gadis itu melangkah mendekatiku,

"Namaku Kagamine Rin!" Dia tersenyum mengenalkan, tangannya menjabat tanganku "Aku kembarannya Len! Salam Kenal..!" Dia tersenyum lagi, ditambah suaranya yang imut dan merdu, aku jadi tertarik mengenalnya. Setidaknya memperbaiki mood-ku.

"Salam kenal juga. Namaku Hatsune Miku," Aku menjabatkan tanganku juga.

"Wah! kau yang ranking 2 ya? Salam kenal Miku-san! Panggil saja Aku Rin!" Dia melepaskan jabatan tangan kami, lalu membentuk peace dengan tangannya

"Salam kenal.. Rin-san," Aku mengangguk,

"Oh iya Miku-san, caranya—" Mataku tertuju pada seseorang berambut biru yang melintas di koridor depan, "—Ah," Aku menaikkan kepalaku

"ada Apa?" Tanya Rin,

"Aku ingat ada urusan, maaf ya, aku duluan!" Kataku sambil berlari mengejar Kaito, tidak—aku tidak mungkin berteriak memanggil namanya, aku hanya akan berlari dan menyapanya dengan elit.

"Kaito!" Panggilku dengan nada yang biasanya, dia menoleh dan tersenyum

"Ah, Miku. Peringkatmu naik ya? Selamat.." Aku hanya mengangguk, aku berjalan menyamai jalannya, "Hei Kaito, Aku mengalahkan rivalku lho," Aku mencari pembicaraan mengenai Luka

"Oh, yang waktu itu rank. 2 ya?" Tanyanya, "Hei Miku, ayo kita pulang,"

"Iya.. yang namanya Megurine Luka itu, lho.." Aku mulai mempromosikan Luka.

"Oh ya Miku, tadi kau terlihat asik sekali mengobrol dengan Kagamine Len," Kaito sial, dia memulai pembicaraan baru.

"Lalu kenapa?" Jawabku dengan sedikit ketus

"Kau jatuh cinta padanya ya..?" Tanya Kaito dengan nada—sedikit—menggoda

"Tidak! Sama sekali!" Aku memukul lengan Kaito,

"Ahaha iya iya.. tapi Miku, kalau kau suka seseorang katakan padaku, ya?" Kaito tersenyum mengaduh-aduh

"…."Aku terdiam, "S-sebenarnya aku tidak berminat.. tapi… kalau kau, tidak apa.." Aku menjawab dengan kalimat yang kupotong-potong, "Hei, tapi jangan berharap kau yang kusukai! Buang harapan itu jauh-jauh! L-la-lagipula aku tidak suka siapa-siapa kok! sungguh!"

Kaito tertawa, "Iya, aku mengerti Miku, tapi kalau ada katakan ya!"

Aku mengangguk. Kaito bisa dipercaya, kan?

"Oh iya Miku.. Sepertinya Kagamine Len punya rasa ke—" Kaito membuka bungkus es-krimnya

"Ti-Tidak Kaito! Jangan berspekulasi yang aneh-aneh!" Aku menarik nafasku, "Tidak mungkin dia…"

"Aku punya insting, Miku" Kaito mulai melahap es krimnya

"Instingmu itu tidak akurat!" Aku mengibas-ibaskan tanganku, "—lagipula Kaito,.."

"Lagipula..?"

"Kalaupun dia suka, jangan ganggu hubunganku dengan orang lain," Aku berbicara dengan—sedikit—lirih, aku merasakan pipiku memana—ah, apa tadi? Tidak! Tidak! Tidak boleh! Kagamine itu.. aku tidak suka padanya!

"Hoo, jadi kalian langsung pacaran?" Kaito berbicara padaku dengan santai, tak menyadari aku siap mengamuk, untunglah kita sudah di luar sekolah

"BA-KA-I-TO! TOLONG GUNAKAN INSTINGMU DENGAN BAIK! AKU TIDAK—" Aku sengaja menahan omonganku dan membiarkan Kaito menyela omonganku

"—iya Miku—Ah, maaf aku menyela omonganmu," Kaito meminta maaf dengan wajah tidak serius, ah tapi biarlah, aku memang ingin kau menyela omonganku.

"Huh, Baka-da!" Aku menggembungkan pipiku, "Oh iya Kaito, Soal Megurine Luka.."

"Ada apa? Kau tiba-tiba tertarik membahasnya?" Kaito memandangiku dengan aneh, aku menggeleng.

"Begini, dia itu.." Aku menarik nafas untuk omonganku berikutnya


Yosh chapter 2 selesai _ Kalian ngeship siapa buat pairing? Kalau auth sih….. *ehehehe sudah ada pokoknya* Maaf kalau ceritanya makin aneh/ngelantur :'v terus kalau OOC/Typo juga maaf ya~~ Author juga manuiaa.. /plek/diemluauth/ okee…. ada yang minat RnR? :DD /berharap/

See you next chapter~!


*next chapter preview*

"Len.. kau adalah Milikku,"

"..Aku akan pergi dengan Luka—"

"…Sakit.."


はお姫様じゃない!